• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi perikanan tangkap PPN Palabuhanratu 1)Nelayan

3) Armada penangkapan ikan

4.2.2 Kondisi perikanan tangkap PPN Palabuhanratu 1)Nelayan

Jumlah nelayan di Palabuhanratu menurun dari tahun 2007 sebanyak 5.994 orang menjadi 4.569 orang pada tahun 2011. Terjadi penurunan sebesar 4,53%. Pada tahun 2011 terjadi peningkatan sebesar 2,12% dari tahun sebelumnya. Perkembangan nelayan yang berada di PPN Palabuhanratu secara rinci dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Perkembangan jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2007-2011

No Tahun Jumlah (orang) Perubahan

1 2007 5994 0.00%

2 2008 3900 -34.93%

3 2009 4453 14.18%

4 2010 4474 0.47%

5 2011 4569 2.12%

Sumber: Statistik PPN Palabuhanratu 2011

2) Alat tangkap

Ada 11 jenis alat penangkapan ikan yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPN Palabuhanratu. Jumlah yang terbanyak adalah alat tangkap pancing tonda, sebanyak 156 unit. Alat tangkap payang berjumlah 47 unit atau 11,69% dari total. Hampir semua alat penangkapan ikan mengalami penurunan jumlah, kecuali pancing tonda. Perkembangan alat tangkap di PPN Palabuhanratu tahun 2007-2011 secara rinci dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Perkembangan alat penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2007-2011

Tahun Alat penangkapan ikan (unit)

PYG PU PL PT JK JR TN GN BGN RW PS LL GN & RW 2007 159 414 29 101 33 135 267 27 9 155 2008 45 254 40 35 30 50 200 7 3 110 2009 121 170 65 110 25 38 23 8 33 2010 54 129 112 34 22 22 65 2 4 47 2011 47 95 156 23 12 8 11 1 4 40 5

Sumber: Statistik PPN Palabuhanratu 2011

Ket: PYG = Payang, PU = Pancing Ulur, PL = Pancing Layur, PT = Pancing Tonda, JK = Jaring Klitik, JR =

Jaring Rampus, TN = Trammelnet, GN = Gillnet, BGN = Bagan, RW = Rawai, PS = Purse Seine, LL = Long

3) Armada penangkapan ikan

Armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu mengalami perubahan jumlah setiap tahunnya. Pada tahun 2011, armada penangkapan ikan di Palabuhanratu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dengan jumlah 1.090 unit atau 30,23%. Perkembangan armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu secara rinci dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Perkembangan armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2007-2011

No Tahun Perahu motor tempel (unit) Kapal motor (unit) Jumlah (unit)

1 2007 531 321 852

2 2008 416 230 646

3 2009 364 394 758

4 2010 346 491 837

5 2011 461 629 1090

Sumber: Statistik PPN Palabuhanratu 2011

4) Volume dan nilai produksi

Volume produksi yang dihasilkan oleh PPN Palabuhanratu mengalami perubahan jumlah setiap tahun nya. Volume produksi terbesar terjadi pada tahun 2011 yaitu 13.814.120 kg. Volume produksi terkecil pada tahun 2009 yaitu 8.716.777 kg. Nilai produksi secara umum terus meningkat. Hal ini berbanding terbalik dengan volume produksi ikan yang setiap tahun nya menurun. Perkembangan volume dan nilai produksi di PPN Palabuhanratu secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Perkembangan volume dan nilai produksi ikan di PPN Palabuhanratu pada tahun 2007-2011

Tahun

Ikan yang didaratkan di PPNP Ikan yang masuk ke PPNP Jumlah

Produksi (Kg) Nilai (Rp) Produksi (Kg) Nilai (Rp) Produksi (Kg) Nilai (Rp) 2007 6.056.256 38.695.760.654 7.490.428 49.924.052.000 13.546.684 88.619.812.654 2008 4.580.683 42.562.536.675 4.256.260 35.589.270.000 8.836.943 78.151.806.675 2009 3.950.267 56.735.939.610 4.766.510 52.919.225.000 8.716.777 109.655.164.610 2010 6.744.292 144.701.150.000 5.153.256 54.023.045.500 11.897.548 198.724.195.500 2011 6.539.133 120.339.550.319 7.274.987 92.499.370.500 13.814.120 212.838.920.819 Sumber: Statistik PPN Palabuhanratu 2011

5.1 Aspek Teknik

5.1.1 Unit penangkapan payang

Unit penangkapan payang merupakan kesatuan dari tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Ketiga unsur tersebut adalah alat penangkapan ikan, kapal dan nelayan yang mengoperasikan. Berikut merupakan penjelasan lebih rinci mengenai unit penangkapan payang di Palabuhanratu. 1) Alat penangkapan ikan

Alat tangkap payang termasuk dalam klasifikasi pukat kantong lingkar (Subani dan Barus 1989). Payang terdiri atas jaring, tali ris, tali selambar, pelampung dan pemberat. Jaring payang terdiri atas sayap, badan dan kantong. Bahan yang digunakan yaitu nilon atau Polyamide (PA) multifilamen. Konstruksi payang di Palabuhanratu secara rinci dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Konstruksi payang di Palabuhanratu

Panjang total payang sekitar 202,5 m, terdiri atas panjang sayap sekitar 148,5 m, panjang badan sekitar 34 m dan panjang kantong sekitar 20 m. Ukuran bukaan mata jaring antara sayap, badan dan kantong berbeda satu sama lain.

Semakin ke arah bagian kantong maka ukurannya semakin kecil. Pada bagian sayap, ukuran mata jaring mencapai 33-34,5 cm. Badan jaring memiliki ukuran mata berkisar antara 18,8-30 cm, sedangkan bagian kantong berkisar 1,1-17,8 cm.

Tali ris terdiri atas tali ris atas dan tali ris bawah. Bahan yang digunakan yaitu Polyethylene (PE) multifilamen. Tali ris atas mempunyai diameter 3-4 mm dan tali ris bawah berdiameter 5-6 mm. Panjang tali ris atas sekitar 200 m dan tali ris bawah sekitar 175 m. Tali selambar terbuat dari bahan Polyethylene (PE) multifilamen panjang 300 m dengan diameter 15-16 mm. Tali selambar berfungsi sebagai tali penarik payang ke atas kapal.

Pelampung terbuat dari potongan bambu sepanjang 1 m atau 2 ruas bambu dengan diameter 8-12 cm. Pelampung bambu yang digunakan berjumlah 30 buah pada satu unit payang. Selain itu, terdapat pelampung busa berukuran 49,5 m3 atau derigen berukuran 5 liter sebanyak 4 buah. Pelampung ini diletakkan berdekatan dengan pelampung jerigen 30 liter. Pelampung jerigen 30 liter diletakkan di tengah bibir jaring bagian atas. Pada ujung tali selambar terdapat pelampung tanda berbentuk bola dari plastik berdiameter sekitar 30-50 cm. Pelampung tanda ini digunakan saat tali selambar pertama kali diturunkan.

Pemberat yang digunakan terbuat dari bahan timah berjumlah 26-30 buah dengan bobot 2 kg. Pemasangan pemberat bersilangan dengan pelampung untuk menentukan bukaan mulut jaring saat dioperasikan. Selain itu terdapat 1 buah batu cakel dengan bobot 2 kg di tengah bibir jaring bagian bawah.

2) Kapal

Kapal yang digunakan dalam operasi penangkapan ikan terbuat dari material kayu dan fiber. Jenis kayu yang digunakan biasanya kayu bungur dan meranti. Kapal payang mempunyai kekhususan yaitu adanya kakapa. Kakapa terbuat dari beberapa batang bambu. Fungsi kakapa sebagai tempat fishing master untuk mencari gerombolan ikan. Kapal payang yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 4.

Kapal bermaterial kayu Kapal bermaterial fiber Gambar 4 Kapal payang di Palabuhanratu

Dimensi kapal dengan material kayu biasanya memiliki panjang 10,4-12 m, lebar 2,65-3 m dan tinggi 1-1,2 m. Dimensi kapal dengan material fiber umumnya lebih kecil, memiliki panjang 11-11,5 m, lebar 1,5-1,6 m dan tinggi 0,7-1,8 m. Kapal payang material fiber memiliki cadik di sebelah kiri dan kanan badan kapal. Kapal payang tidak memiliki palkah untuk tempat hasil tangkapan, hasil tangkapan langsung dimasukkan ke dalam blong. Kapal payang menggunakan mesin tempel (outboard engine) berkekuatan 15 PK, 25 PK dan 40 PK sebagai tenaga penggerak. Bahan bakar yang digunakan yaitu bensin. Perlengkapan lain yang ada di perahu adalah box untuk es dan ban sebagai peralatan dalam tugas juru batu.

3) Nelayan

Jumlah nelayan untuk kapal payang material kayu berbeda dengan kapal payang material fiber. Jumlah nelayan kapal payang material kayu berkisar antara 13-23 orang, sedangkan jumlah nelayan kapal payang material fiber biasanya 8-15 orang. Anak buah kapal payang memiliki peran dan tugas masing-masing yaitu: 1) Juru mudi, bertugas memegang kemudi kapal, baik saat menuju maupun

kembali dari fishing ground;

2) Juru batu, bertugas untuk melabuhkan kapal serta bertanggung jawab jaring payang terbuka sempurna di dalam perairan;

3) Pengawas, bertugas mencari gerombolan ikan serta menentukan arah operasi penangkapan ikan;

4) Petawuran, bertugas untuk menurunkan jaring; dan

5) Anak payang, bertugas berenang untuk menakut-nakuti ikan serta menggiring ikan ke arah mulut jaring.

Selain peran dan tugas yang disebutkan di atas, kadang-kadang ada anak payang yang bertugas sebagai asisten juru mudi. Pada saat proses penarikan jaring, semua anak buah kapal saling membantu dalam proses hauling kecuali juru mudi.

5.1.2 Metode pengoperasian payang

Operasional payang biasanya dimulai pukul 05.15 WIB untuk persiapan perbekalan, mesin, es dan anak buah kapal. Unit penangkapan payang beroperasi setiap hari, kecuali hari Jumat. Pada saat musim barat, sumberdaya ikan dilaut banyak, tetapi cuaca dilaut tidak mendukung untuk operasi penangkapan ikan, sehingga nelayan tidak melaut.

Kapal meninggalkan fishing base sekitar pukul 06.15 WIB. Kegiatan operasi penangkapan ikan dimulai dengan pencarian gerombolan ikan. Kegiatan ini dilakukan oleh fishing master serta ABK lainnya dengan melihat tanda-tanda keberadaan ikan. Tanda-tanda tersebut antara lain lompatan ikan di permukaan air, adanya buih-buih di permukaan air, banyaknya ikan berukuran kecil di permukaan air, sehingga banyak burung-burung laut yang menukik ke permukaan air, dan warna perairan terlihat keruh. Setelah terlihat ada gerombolan ikan, kemudian setting dilakukan.

Setting diawali dengan pelemparan pelampung tanda, jaring, pelampung dan pemberat. Kemudian pembentukan lingkaran jaring untuk mengitari gerombolan ikan dengan kecepatan kapal. Proses ini memerlukan waktu sekitar 15 menit atau bergantung pada kecepatan gerombolan ikan yang mempengaruhi kecepatan kapal, kemudian beberapa anak payang berenang ke dalam lingkaran jaring dengan menggunakan bambu untuk menakut-nakuti gerombolan ikan dan menggiringnya ke arah mulut jaring.

Setelah ikan terkurung, selanjutnya dilakukan proses hauling atau penarikan jaring ke atas kapal. Penarikan dilakukan oleh sejumlah ABK tanpa menggunakan alat bantu. Dalam proses hauling, mesin kapal dimatikan. Penarikan jaring dimulai dari tali selambar dan selanjutnya kedua sayap, proses ini dilakukan secara serempak dan cepat. Pada bibir jaring bagian bawah, batu cakel diangkat terlebih dahulu, sehingga bentuk jaring mengerucut ke arah kantong untuk menghindari lolosnya ikan. Setelah proses hauling selesai, hasil

tangkapan dikeluarkan dari jaring dan disortir berdasarkan jenisnya. Kegiatan setting-hauling dilakukan di lambung kiri kapal. Pada satu trip penangkapan ikan, biasanya dilakukan 10-12 kali setting dan hauling, bergantung pada jumlah hasil tangkapan yang diperoleh serta bahan bakar yang tersedia. Kapal kembali ke fishing base sekitar pukul 17.21 WIB. Lebih rinci mengenai alokasi waktu pengoperasian payang, mulai menuju ke fishing ground hingga kembali ke fishing base,dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Alokasi waktu keberangkatan pengoperasian payang, mulai menuju fishing ground hingga kembali ke fishing base

No Kegiatan Durasi (menit) Pukul (WIB)

1 Keberangkatan ke fishing ground 169 06.15-09.04 2 Setting-hauling 328 09.04-14.32 3 Kembali ke fishing base 169 14.32-17.21 Sumber : Diolah dari data primer

5.1.3 Hasil tangkapan payang

Ikan yang menjadi tangkapan utama yaitu tongkol (Auxis thazard). Jenis ikan lainnya yang tertangkap adalah cakalang (Katsuwonus pelamis), kantong semar (Mene maculata), layur (Lepthuracanthus savala), teri (Stolephorus sp), pepetek (Leioghnatus lineolatus), tenggiri (Scomberomorus commersonii) dan madidihang (Thunnus albacares). Hasil tangkapan payang didominasi oleh jenis ikan pepetek dengan jumlah 21.678 kg atau 60,07% dari total hasil tangkapan yang diperoleh. Jumlah hasil tangkapan rata-rata alat tangkap payang dapat dilihat pada Tabel 12 dan komposisi hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 5. Tabel 12 Jumlah hasil tangkapan rata-rata alat tangkap payang per unit Tahun

2011

No Jenis Ikan Jumlah (kg per unit per tahun)

1 Tongkol (Auxis thazard) 5.333

2 Kantong semar (Mene maculata) 4.367 3 Cakalang (Katsuwonus pelamis) 2.800

4 Layur (Lepthuracanthus savala) 115

5 Teri (Stolephorus sp) 667

6 Pepetek (Leioghnatus lineolatus) 21.678 7 Tenggiri (Scomberomorus commersonii) 90 8 Madidihang (Thunnus albacares) 1.033

Jumlah 36.083

Gambar 5 Komposisi hasil tangkapan unit penangkapan payang 5.1.4 Daerah dan musim pengoperasian payang

Payang dioperasikan di kedalaman sekitar 40-200 m dalam keadaan perairan yang tenang. Pada saat gelombang besar, payang tertarik gelombang sehingga dioperasikan pada kedalaman sekitar 30-170 m. Daerah pengoperasian payang di Palabuhanratu yaitu di Perairan Teluk Palabuhanratu bagian dalam (Lampiran 1). Daerah pengoperasian payang lebih dekat ke arah pantai sekitar 3-4 mil dari pantai.

Musim penangkapan ikan dibagi menjadi dua musim, yaitu musim ikan dan tidak musim ikan. Berdasarkan wawancara dengan nelayan payang, musim ikan terjadi sekitar Bulan Agustus–November dan tidak musim ikan terjadi sekitar Bulan Desember–Juli. Namun, musim-musim tersebut tidak sama sepanjang tahun, bergantung perubahan cuaca.

5.1.5 Produktivitas

Produktivitas adalah kemampuan suatu alat tangkap untuk memperoleh hasil tangkapan. Produktivitas per alat tangkap sebanyak 36.083 kg per unit dalam setahun, produktivitas per trip sebanyak 424,51 kg per trip, produktivitas per nelayan sebanyak 28,30 kg per orang, produktivitas per setting sebanyak 38,59 kg per setting. Produktivitas unit penangkapan payang disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Produktivitas alat tangkap payang

No Produktivitas Jumlah

1 Per alat tangkap (kg/unit/tahun) 36.083

2 Per trip (kg/trip) 424,51

3 Per nelayan (kg/orang) 28,30

4 Per setting (kg/setting) 38,59 Sumber: Diolah dari data primer

5.2 Karakteristik Nelayan Responden

Rumah tangga yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah rumah tangga nelayan pemilik dan nelayan buruh alat tangkap payang yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPN Palabuhanratu. Berikut merupakan penjelasan lebih rinci mengenai karakteristik nelayan responden.

5.2.1 Umur

Data umur nelayan responden dikelompokkan menjadi lima kelompok umur, yaitu kelompok umur kurang dari 30 tahun, 30-34 tahun, 35-39 tahun, 40-44 tahun dan di atas 45 tahun. Persentase umur tertinggi kelompok nelayan buruh ada pada kelompok umur di atas 45 tahun (Tabel 13). Menurut BPS, umur produktif manusia adalah umur 15-64 tahun. Berdasarkan Lampiran 2 dan 3, umur produktif nelayan buruh sebanyak 90% dan nelayan pemilik sebanyak 100%. Umur tertua responden nelayan pemilik yaitu 53 tahun, sedangkan umur termuda yaitu 38 tahun. Umur tertua responden nelayan buruh yaitu 66 tahun, sedangkan umur termuda yaitu 40 tahun. Pengalaman melaut nelayan buruh lebih lama daripada nelayan pemilik. Sebaran responden nelayan berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Sebaran umur nelayan responden Kelompok umur

(tahun)

Nelayan pemilik Nelayan buruh Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persenrtase (%) <30 - - - - 30-34 - - - - 35-39 1 20,00 - - 40-44 2 40,00 3 30,00 >45 2 40,00 7 70,00 Jumlah Total 5 100,00 10 100,00

5.2.2 Tingkat pendidikan

Sebagian besar tingkat pendidikan nelayan pemilik adalah tamat SMP, yaitu 60%. Tingkat pendidikan nelayan buruh sebagian besar adalah tamat SD, sebanyak 7 orang atau 70%. Tingkat pendidikan nelayan payang selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Tingkat pendidikan nelayan responden Tingkat pendidikan

Nelayan pemilik Nelayan buruh

Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)

Tidak tamat SD - - 1 10,00

Tamat SD 2 40,00 7 70,00

Tidak tamat SMP - - - -

Tamat SMP 3 60,00 - -

Tidak tamat SMA - - - -

Tamat SMA - - 2 20,00

Jumlah 5 100,00 10 100,00

Sumber: Diolah dari data primer 5.2.3 Tanggungan keluarga

Tanggungan keluarga nelayan pemilik berkisar antara 3-7 orang, sedangkan nelayan buruh berkisar antara 1-6 orang. Tanggungan keluarga nelayan pemilik paling banyak adalah berkisar antara 3-4 orang, sebanyak 60%. Tanggungan keluarga nelayan buruh paling banyak berkisar antara 1-2 orang, yaitu sebanyak 50%. Secara lengkap mengenai tanggungan keluarga nelayan payang dapat dilihat pada Tabel 16, Lampiran 2 dan 3.

Tabel 16 Jumlah tanggungan rumah tangga nelayan responden Jumlah tanggungan

(orang)

Nelayan pemilik Nelayan buruh Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 0 - - - - 1-2 - - 5 50,00 3-4 3 60,00 3 30,00 5-6 1 20,00 2 20,00 >6 1 20,00 - - Jumlah 5 100,00 10 100,00

5.2.4 Pendapatan total

Pendapatan rumah tangga terdiri atas pendapatan perikanan dan non perikanan dari seluruh anggota rumah tangga. Total pendapatan nelayan pemilik sebesar Rp 104.160.000,00 per tahun, sedangkan total pendapatan nelayan buruh sebesar Rp 18.136.800,00 per tahun. Total pendapatan rumah tangga nelayan responden dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17 Total pendapatan rumah tangga nelayan responden

No Kategori nelayan Total pendapatan (Rp per tahun)

1 Pemilik 104.160.000,00

2 Buruh 18.136.800,00

Sumber: Diolah dari data primer

5.3 Deskripsi Alokasi Waktu Kerja

Alokasi waktu kerja terdiri atas waktu kerja melaut dan non melaut pada musim ikan dan tidak musim ikan. Pada saat musim ikan waktu kerja nelayan buruh (96%) lebih banyak dari pada nelayan pemilik (28%), sedangkan pada saat tidak musim ikan waktu kerja nelayan buruh adalah sebaliknya. Total alokasi waktu kerja nelayan buruh pada saat musim ikan sebesar 341,13 jam per bulan, sedangkan alokasi waktu kerja nelayan pemilik sebesar 251,75 jam per bulan. Total alokasi waktu kerja nelayan buruh pada saat tidak musim ikan sebesar 115,78 jam per bulan, sedangkan alokasi waktu kerja nelayan pemilik sebesar 202,57 jam per bulan. Alokasi waktu kerja rata-rata per bulan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18 Alokasi waktu kerja nelayan responden

Kegiatan nelayan Musim ikan Tidak musim ikan Pemilik Buruh Pemilik Buruh Dalam jam :

Kerja melaut 70,88 329,88 21,6 100,53

Kerja non melaut 180,97 15,25 180,97 15,25 Total kerja 251,75 341,13 202,57 115,78 Dalam persen :

Kerja melaut 28,00 96,00 11,00 87,00

Kerja non melaut 72,00 4,00 89,00 13,00 Total kerja 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Diolah dari data primer

Total alokasi waktu pada saat melaut dalam satu hari adalah 731 menit, sedangkan total alokasi waktu pada saat non melaut dalam satu hari adalah 679 menit. Sebagian besar kegiatan melaut dalam satu hari digunakan untuk hauling (19%), sedangkan sebagian besar kegiatan non melaut dalam satu hari digunakan untuk tidur (25%). Kegiatan nelayan responden dalam satu hari untuk melaut dan non melaut dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19 Kegiatan nelayan responden dalam satu hari untuk melaut dan non melaut

Melaut Non melaut

Kegiatan Waktu (menit) Persentase (%) Kegiatan Waktu (menit) Persentase (%) Persiapan 46 3 Ibadah 30 2 Perjalanan menuju fishing ground 169 12 Makan 25 2 Setting 55 4 Istirahat 20 1 Hauling 273 19 Nonton TV 119 8 Perjalanan menuju fishing base 169 12 Tidur 365 25

Bongkar Muat 49 3 Perjalanan

rumah-fishing base 35 2

- - - Persiapan melaut 45 3

- - - Lain-lain 40 3

Jumlah 761 43 Jumlah 679 57

Sumber : Diolah dari data primer

Sebagian besar kegiatan nelayan responden di luar penangkapan ikan dalam satu hari digunakan untuk tidur sebesar 35,61% dan menonton TV sebesar 18,15%. Kegiatan nelayan responden apabila tidak melaut dalam satu hari dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Kegiatan nelayan responden dalam satu hari apabila tidak melaut

Kegiatan Ibadah Tidur Makan

Melihat perbaikan jarring Perbaikan jaring Istirahat Perjalanan TPI-rumah Nonton TV Kerja bakti Bertani Lain-lain Jumlah Waktu (menit) 57 513 58 15 49 68 5 261 33 106 275 1440 Persentase (%) 3,98 35,61 4,01 1,01 3,41 4,73 0,35 18,15 2,27 7,39 19,13 100

Sumber : Diolah dari data primer

5.4 Indikator Tingkat Kesejahteraan Keluarga

Penjelasan mengenai 11 indikator tingkat kesejahteraan keluarga nelayan responden seperti diuraikan lebih lanjut.

5.4.1 Pendapatan rumah tangga nelayan responden

Rata-rata total pendapatan dihitung dengan menjumlahkan seluruh pendapatan kemudian dibagi dengan jumlah responden. Rata-rata pendapatan perikanan nelayan pemilik lebih besar dari pada rata-rata pendapatan non perikanan. Rata-rata pendapatan perikanan nelayan pemilik sebesar Rp87.120.000,00 per tahun, sedangkan rata-rata pendapatan non perikanan sebesar Rp17.040.000,00 per tahun. Rata-rata pendapatan non perikanan nelayan buruh lebih besar dari pada rata-rata pendapatan perikanan. Rata-rata pendapatan non perikanan nelayan buruh sebesar Rp11.820.000,00 per tahun, sedangkan rata-rata pendapatan perikanan sebesar Rp6.316.800,00 per tahun. Rata-rata-rata total pendapatan rumah tangga nelayan responden dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21 Rata-rata total pendapatan rumah tangga nelayan responden Kategori

nelayan

Rata-rata

Pendapatan (Rp per tahun) Rata-rata total pendapatan

(Rp per tahun)

Perikanan Non perikanan

Pemilik 87.120.000,00 17.040.000,00 104.160.000,00

Buruh 6.316.800,00 11.820.000,00 18.136.800,00

Sumber: Diolah dari data primer

Rata-rata pendapatan per kapita nelayan pemilik sebesar Rp19.824.000,00 per tahun, sedangkan rata-rata pendapatan per kapita nelayan buruh sebesar Rp5.218.850,00 per tahun. Rata-rata pendapatan per kapita nelayan responden dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22 Rata-rata pendapatan per kapita nelayan responden Kategori

nelayan

Rata-rata total pendapatan (Rp per tahun) Rata-rata Jumlah anggota keluarga (orang) Rata-rata pendapatan per kapita (Rp per tahun) Pemilik 104.160.000,00 5 19.824.000,00 Buruh 18.136.800,00 3 5.218.850,00

Sumber: Diolah dari data primer

Konsep kemiskinan Sajogyo memberikan gambaran hubungan antar tingkat pendapatan dengan tingkat kemiskinan. Hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat kemiskinan berbanding terbalik. Harga beras rata-rata yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rp 9.375,00 per kilogram, yaitu pada

bulan Maret 2012 saat penelitian berlangsung. Harga beras tersebut dihubungkan dengan sejumlah beras yang dikonsumsi masyarakat perkotaan berdasarkan konsep Sajogyo dan disetarakan dengan pendapatan per kapita keluarga nelayan. Daerah Palabuhanratu merupakan daerah perkotaan. Seluruh responden nelayan pemilik termasuk dalam golongan tidak miskin, 5 responden nelayan buruh termasuk golongan tidak miskin, 3 responden nelayan buruh termasuk golongan miskin, 1 responden nelayan buruh termasuk golongan miskin sekali dan 1 responden nelayan buruh lainnya termasuk golongan paling miskin. Penjelasan lebih rinci mengenai indikator pendapatan rumah tangga nelayan responden menurut kriteria kemiskinan Sajogyo dapat dilihat pada Tabel 23 dan kriteria kemiskinan nelayan responden menurut kriteria kemiskinan Sajogyo dapat dilihat pada Gambar 6.

Tabel 23 Indikator pendapatan rumah tangga nelayan responden menurut kriteria kemiskinan Sajogyo

Kriteria Skor

Nelayan pemilik Nelayan buruh Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Tidak miskin 4 5 100,00 5 50,00 Miskin 3 - - 3 30,00 Miskin sekali 2 - - 1 10,00 Paling miskin 1 - - 1 10,00 Jumlah 5 100,00 10 100,00

Sumber: Diolah dari data primer

Gambar 6 kriteria kemiskinan nelayan responden menurut kriteria kemiskinan Sajogyo

5.4.2 Pengeluaran rumah tangga nelayan responden

Pengeluaran rumah tangga terdiri atas pengeluaran untuk pangan dan non pangan. Pengeluaran untuk pangan merupakan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan keluarga. Pengeluaran pangan nelayan payang lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk non pangan. Pengeluaran pangan dan non pangan nelayan pemilik lebih besar dibandingkan nelayan buruh. Pengeluaran secara rinci dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24 Rata-rata total pengeluaran rumah tangga nelayan responden Kategori

nelayan

Pangan (Rp per tahun)

Non pangan (Rp per tahun) Rata-rata total

pengeluaran (Rp per tahun)

Sandang Papan Lain-lain

Pemilik 37.094.400,00 360.000,00 3.878.400,00 19.613.300,00 60.946.000,00

Buruh 14.534.400,00 - 1.008.600,00 5.392.600,00 20.935.600,00

Sumber: Diolah dari data primer

Tabunganmerupakan nilai selisih antara rata-rata total pendapatan dengan rata-rata total pengeluaran. Tabungan per kapita nelayan pemilik sebesar Rp7.191.734,00 per tahun, sedangkan nelayan buruh memiliki hutang per kapita sebesar Rp898.252,00 per tahun. Lebih rinci mengenai tabungan disajikan pada Tabel 25 dan Gambar 7.

Tabel 25 Selisih pendapatan dengan pengeluaran rumah tangga nelayan responden

Kategori nelayan Rata-rata total pendapatan (Rp per tahun) Rata-rata pendapatan per kapita (Rp per tahun) Rata-rata total pengeluaran (Rp per tahun) Rata-rata pengeluaran Per kapita (Rp per tahun) Tabungan (Rp per tahun) Tabungan per kapita (Rp per tahun) Pemilik 104.160.000,00 19.824.000,00 60.946.000,00 12.714.800,00 43.213.920,00 7.191.734,00 Buruh 18.136.800,00 5.218.850,00 20.935.600,00 6.116.800,00 -2.798.760,00 -898.252,00 Sumber: Diolah dari data primer

Standar kebutuhan hidup tersebut dibandingkan dengan pengeluaran per kapita per tahun. Besarnya standar kebutuhan hidup per tahun per kapita di Palabuhanratu berdasarkan harga Sembilan bahan pokok adalah Rp2.116.500,00. Rincian kebutuhan hidup tersebut dapat dilihat pada Tabel 26.

Tabel 26 Harga sembilan bahan pokok berdasarkan harga di Palabuhanratu

No Satuan Harga Ketentuan Total

1 Beras Kg 9.375 100 937.500

2 Ikan asin Kg 18.000 15 270.000

3 Minyak goring Kg 11.000 6 66.000

4 Minyak tanah Liter 11.000 60 660.000

5 Gula pasir Kg 11.000 6 66.000

6 Garam Kg 3000 9 27.000

7 Sabun cuci Batang 1000 20 20.000

8 Batik kasar Meter 15.000 2 30.000

9 Kain kasar Meter 10.000 4 40.000

Jumlah 2.116.500

Sumber: Diolah dari data primer

Pengeluaran per kapita merupakan total pengeluaran dibagi dengan banyaknya anggota keluarga dalam rumah tangga. Rata-rata pengeluaran per kapita nelayan pemilik sebesar Rp12.714.800,00 per tahun, sedangkan rata-rata pengeluaran per kapita nelayan buruh sebesar Rp6.116.800,00 per tahun. Pengeluaran per kapita secara rinci dapat dilihat pada Tabel 27.

Tabel 27 Rata-rata pengeluaran per kapita rumah tangga nelayan responden

Kategori nelayan Rata-rata total pengeluaran (Rp per tahun) Jumlah anggota keluarga (orang) Rata-rata pengeluaran per kapita

Dokumen terkait