• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Rombongan Belajar (Rombel) dan Class Size Antar SD Negeri

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Kondisi Siswa SD Negeri di Kecamatan Ciledug

2. Kondisi Rombongan Belajar (Rombel) dan Class Size Antar SD Negeri

a) Kondisi Rombongan Belajar (Rombel) per-Kelas (Tingkat)

Sekolah SD yang ada di Kecamatan Ciledug memiliki 2 tipe jumlah rombel yaitu rombel dengan jumlah 6 dan rombel lebih dari 6. Sekolah dengan rombel yang berjumlah 6 yaitu kelas tanpa paralel, sedangkan sekolah dengan rombel yang jumlahnya lebih dari 6 disebut kelas paralel. Dari total 21 SD negeri yang ada di Kecamatan Ciledug, sebagian besar merupakan sekolah dengan kelas tanpa paralel, dan hanya 9 sekolah yang memiliki kelas paralel lebih 6 rombel. Untuk lebih mengetahui sekolah mana saja yang termasuk dalam kategori sekolah dengan kelas tanpa paralel dan sekolah dengan kelas paralel, berikut data dan penjelasannya:

1) Kelas tanpa Paralel

Kelas tanpa paralel merupakan suatu rombongan belajar yang tidak dibagi dua atau lebih dan jumlahnya hanya 1 pada tiap kelas dari kelas 1 sampai kelas 6. Sekolah dengan kelas tanpa paralel, rombel harus berjumlah 6 karena harus sesuai dengan tingkatan kelas yang ada di sekolah dasar. Untuk mengetahui sekolah-sekolah mana saja yang memiliki kelas tanpa paralel, berikut data dan penjelasannya:

Tabel 9. Sekolah Tanpa Kelas Paralel

No Nama Sekolah Rombel

Ruang Kelas 1 SDN 1 Bojongnegara 6 5 2 SDN 2 Bojongnegara 6 5 3 SDN 1 Ciledug Lor 6 5 4 SDN 2 Ciledug Lor 6 5 5 SDN 3 Ciledug Lor 6 6 6 SDN 2 Ciledug Wetan 6 6 7 SDN 2 Jatiseeng Kidul 6 5 8 SDN 3 Jatiseeng Kidul 6 5 9 SDN 1 Leuweunggajah 6 5 10 SDN 1 Tenjomaya 6 5 11 SDN 2 Tenjomaya 6 6 12 SDN 3 Tenjomaya 6 5

Berdasarkan tabel di atas, dari 21 sekolah SD yang ada di Kecamatan Ciledug 13 diantaranya merupakan sekolah dengan kelas tanpa paralel. Terlihat bahwa sekolah-sekolah yang ada pada tabel di atas memiliki 1 rombel pada masing-masing tingkatan kelas. Hal tersebut sudah memenuhi criteria untuk melakukan kegiatan pendidikan terumata pengajaran pada tiap tingkatan kelas di sekolah dasar. Pada tabel tersebut, terdapat pula kolom ruang kelas yaitu dimaksudkan untuk melihat apakah ruang kelas memenuhi untuk rombel yang ada pada tiap sekolah.

Menurut Permen No.24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan, disebutkan bahwa jumlah minimum ruang kelas sama dengan banyaknya rombongan belajar. Apabila melihat data pada tabel di atas, hanya ada 3 sekolah yang memiliki 6 ruang kelas untuk kelas 1 sampai kelas 6. Tersedianya ruang kelas pada tiap tingkatan kelas menandakan bahwa sekolah-sekolah tersebut melaksanakan pembelajaran dalam satu waktu yang sama yaitu dari pagi sampai siang. Beda halnya dengan sekolah lainnya yang memiliki 5 ruang kelas, salah satu kelas akan bergantian memakai ruangan karena ruang kelas kurang. Pergantian pemakaian ruang kelas tersebut biasanya disebut shift.

Kelas shift pada sekolah-sekolah tersebut biasanya diperuntukan untuk kelas 1 dan kelas 2. Biasanya ruang kelas dipakai terlebih dahulu untuk kelas 1, setelah selesai ruang kelas digunakan bergantian dengan kelas 2. Untuk kelas 3 sampai kelas 6 karena jam belajar sudah berbeda yaitu full dari pagi sampai siang jadi sudah memiliki ruang kelas yang tetap. Dari pemaparan tersbut, sekolah yang memiliki ruang kelas kurang dari 6 memang belum sesuai apabila dibandingkan dengan peraturan, akan tetapi bisa menjadi sesuai jika sasaran kelas shift

diperuntukan bagi kelas 1 dan kelas 2 karena jam belajar lebih sedikit. Sedangkan untuk kelas 3, 4, 5 dan 6 sudah tepat memiliki ruang kelas sendiri.

2) Kelas Paralel

Kelas paralel merupakan suatu kelas/tingkat yang memiliki rombongan belajar lebih dari 1. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh banyaknya jumlah siswa dalam satu kelas sehingga dibagi kedalam beberapa rombel. Untuk mengetahui sekolah mana saja yang memiliki kelas paralel, berikut data dan penjelasannya;

Tabel 10. Sekolah Dengan Kelas Paralel

No Nama Sekolah Rombel

Ruang Kelas 1 SDN 2 Ciledug Tengah 9 5 2 SDN 1 Ciledug Wetan 7 5 3 SDN 1 Jatiseeng Kidul 7 6 4 SDN 1 Ciledug Kulon 12 7 5 SDN 1 Ciledug Tengah 12 10 6 SDN 1 Damarguna 7 6 7 SDN 2 Damarguna 12 6 8 SDN 1 Jatiseeng 14 10 9 SDN 2 Leuweunggajah 12 6

Berdasarkan tabel di atas, sekolah dengan kelas paralel jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan sekolah dengan kelas tanpa paralel. Terlihat bahwa beberapa sekolah memiliki jumlah rombel 2 kali lipat dari rombel tanpa paralel. Kondisi rombongan belajar yang mengalami pembagian atau diparalelkan disebabkan oleh banyaknya siswa dalam suatu tingkatan kelas di suatu sekolah.

Seperti pada SDN 1 Ciledug Kulon di kelas 1 total siswa berjumlah 72, apabila hanya dijadikan 1 rombongan belajar tentu sangat tidak wajar karena jumlahnya terlalu banyak untuk berada dalam 1 rombel, maka dari itu dari 72 siswa dibagi kedalam 2 rombel yang masing-masing rombelnya berisi 36 siswa. Begitu pula dengan kelas 2 sampai 6, tiap kelas dibagi kedalam 2 rombongan belajar yang sering kita sebut dengan kelas A dan kelas B. Akan tetapi ruang kelas pada sekolah ini hanya berjumlah 7, yang artinya beberapa ruang kelas

digunakan bergantian. Perbandingan jumlah rombel dengan jumlah ruang kelas sangat jauh. Apabila melihat Permen No 24 tahun 2007 jumlah ruang kelas harus disesuaikan dengan jumlah rombel, berarti setidaknya sekolah tersebut harus memiliki 12 ruang kelas untuk 12 rombel. Kurangnya ruang kelas tentu dapat menghambat kegiatan belajar mengajar. Apabila sistem shift digunakan untuk semua kelas/tingkat, maka waktu belajar siswa dan jam mengajar untuk guru tidak bisa terpenuhi.

Beda halnya dengan SDN 1 Jatiseeng, di sekolah ini rombel keseluruhan berjumlah 14 rombel. Kepadatan siswa berasal dari kelas 1, 2 dan 3. Kelas 1 berjumlah 87 siswa dibagi kedalam dua rombel, kelas 2 berjumlah 83 siswa dibagi kedalam tiga rombel, dan kelas 3 berjumlah 112 siswa dibagi kedalam tiga rombel. Dari tabel tersebut juga terlihat sekolah ini hanya memiliki 10 ruang kelas. Berdasarkan hal tersebut pihak sekolah menggunakan sistem kelas shift

yaitu waktu belajar dibagi kedalam 2 waktu yaitu pagi dan siang, seperti yang terjadi pada kelas 1,2, dan 3. Alasan menggunakan kelas shift yaitu jumlah ruang kelas yang kurang sehingga ruangan digunakan bergantian. Pada dasarnya kepadatan siswa tersebut disebabkan oleh animo masyarakat yang tinggi terhadap SD tersebut yang notabene merupakan salah satu sekolah favorit.

b) Kondisi Class size Antar SD Negeri di Kecamatan Ciledug

Menurut Permen No.23 Tahun 2013 tentang standar pelayanan minimal pendidikan menerangkan bahwa jumlah siswa dalam dalam satu rombel tidak melebihi 32 orang dan minimal 20 orang. Berdasarkan peraturan tersebut penulis

membagi ke dalam 3 kelompok yaitu, class size sedang 20-32 siswa, class size

kecil di bawah 20 anak, dan class size besar lebih dari 32 anak. 1) Class size Sedang (20 s/d 32)

Untuk mengetahui sekolah mana saja yang memiliki class size sesuai, berikut data dan penjelasannya;

Tabel 11. Sekolah Dengan Class size Sedang (20 s/d 32)

No Nama Sekolah Jml Siswa Rombel Class size

1 SDN 1 Bojongnegara 144 6 24 2 SDN 1 Ciledug Lor 130 6 22 3 SDN 3 Ciledug Lor 152 6 25 4 SDN 1 Ciledug Tengah 365 12 30 5 SDN 2 Ciedug Tengah 257 9 29 6 SDN 1 Ciledug Wetan 180 7 26 7 SDN 2 Jatiseeng Kidul 184 6 31 8 SDN 3 Jatiseeng Kidul 150 6 25 9 SDN 1 Leuweunggajah 148 6 25 10 SDN 2 Leuweunggajah 255 12 21 11 SDN 1 Tenjomaya 141 6 24 12 SDN 2 Tenjomaya 171 6 29

Berdasarkan tabel di atas, class size yang dikatakan sesuai yaitu antara 20 sampai 32 anak para tiap rombel. Hal tersebut tercantum pada Permen No.23 Tahun 2013 tentang standar pelayanan minimal pendidikan menerangkan bahwa jumlah siswa dalam dalam satu rombel tidak melebihi 32 orang dan minimal 20 orang. Dari 21 SD yang ada di Kecamatan Ciledug, 12 SD diantaranya sudah memiliki class size yang sesuai.

Seperti terlihat pada tabel, class size pada 12 sekolah tersebut berkisar dari 21 sampai 31 anak tiap rombelnya. Hal tersebut tentu sangat baik dan bagus untuk diterapkan.Kondisi class size yang sesuai dapat menciptakan suasana kegiatan

belajar mengajar menjadi efektif. Guru dapat memperhatikan dengan seksama perkembangan belajar peserta didik serta dapat mengawasi dengan baik jalannya proses kegiatan belajar mengajar.

2) Class size Kecil ( 20)

Untuk mengetahui sekolah mana saja yang memiliki class size kurang dari 20 siswa dalam tiap rombelnya, berikut data dan penjelasannya;

Tabel 12. Sekolah Dengan Class size Kecil (<20)

No Nama Sekolah Jml Siswa Rombel Class size

1 SDN 2 Ciledug Lor 90 6 15

2 SDN 2 Ciledug Wetan 105 6 18

3 SDN 3 Tenjomaya 112 6 19

Dari tabel di atas hanya ada 3 sekolah yang memiliki class size kurang. Ketiga sekolah tersebut merupakan sekolah yang kekurangan siswa. Kondisi class size

yang kecil bisa saja menjadi hal yang baik bagi proses kegiatan belajar mengajar. Dengan siswa yang sedikit, guru bisa lebih memperhatiakan perkembangan tiap-tiap siswanya. Suasana di dalam kelas pun lebih private sehingga interaksi yang terjalin antara guru dengan siswa ataupun siswa satu dengan siswa lainnya lebih dekat dan akrab. Akan tetapi apabila melihat dari peraturan yang ada tentu saja

class size ketiga sekolah ini belum sesuai. Untuk itu perlu adanya pemerataan pendidikan dalam hal ini khususnya persebaran siswa terhadap sekolah-sekolah yang kekurangan peserta didik.

3) Class size Besar ( 32)

Untuk mengetahui sekolah mana saja yang memiliki class size

Tabel 13. Sekolah Dengan Class size Besar (>32)

No Nama Sekolah Jml Siswa Rombel Class size

1 SDN 2 Bojongnegara 210 6 35 2 SDN 1 Ciledug Kulon 494 12 41 3 SDN 1 Damarguna 230 7 33 4 SDN 2 Damarguna 421 12 35 5 SDN 1 Jatiseeng 540 14 39 6 SDN 1 Jatiseeng Kidul 231 7 33

Berdasarkan tabel di atas, class size dari 6 sekolah melebihi batas maksimum dari 32. Apabila dilihat, sekolah-sekolah dalam tabel tersebut ada yang merupakan sekolah favorit, dan ada pula sekolah dengan kondisi siswanya memang banyak. Seperti pada SDN 1 Ciledug Kulon dan SDN 1 Jatiseeng, class size nya berada pada 2 tingkatan paling gemuk yaitu class size 41 dan 39. Hal tersebut berlasan karena kedua sekolah tersebut notabene adalah sekolah favorit dari segi prestasi siswa ataupun sekolah, sarpras yang memadai, tenaga pendidik yang berkualitas, sehingga animo masyarakat terhadap kedua sekolah tersebut tinggi dan tidak segan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tersebut. Sedangkan 4 sekolah lainnya yang memiliki class size gemuk dikarenakan oleh letak desa yang menyendiri sehingga warga desa tersebut lebih memilih untuk bersekolah di dalam desa daripada sekolah ke luar desa.

Rombongan belajar dengan class size lebih dari 32 tetapi kurang dari 40 akan dibiarkan menjadi rombel gemuk dan tidak boleh dibagi dua, karena apabila dibagi 2 salah satu rombel nantinya akan berisi siswa yang kurang dari 20. Sedangkan apabila class size di atas 40 siswa hendaknya dibagi menjadi 2, sebab demi menghindari ketidakefektifan dalam kegiatan KBM karena siswa terlalu

banyak. Akan tetapi dari berbagai penjelasan class size gemuk atau lebih dari 32 tetap tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dengan kondisi suatu rombel yang gemuk, otomatis suasana kelas menjadi ramai dan penuh sehingga kegiatan belajar mengajar bisa terganggu. Hal tersebut tentu berdampak pada kualitas belajar siswa yang seharusnya menyerap pelajaran dengan baik, tetapi karena kondisi belajar tidak efekitf kualitas belajar menjadi menurun.

Dokumen terkait