FAKTOR EKSTERNAL
KONDISI SEKTOR RIIL Usaha Kecil dan Menengah
Belum pulihnya sektor riil sesuai harapan menjadi salah satu kendala utama dalam proses restrukturisasi kredit perbankan. Kondisi ini berpotensi menekan sistem keuangan.
Setelah direkapitalisasi, perbankan Indonesia tidak menghadapi kesulitan sumber dana dalam melakukan pembiayaan kredit. Hal tersebut ditandai dengan peningkatan likuiditas yang tercermin dari dari peningkatan jumlah primary reserve (kas, giro wajib minimum dan SBI), secondary reserve (obligasi perdagangan, antar bank), serta tertiary reserve (obligasi investasi).
Namun demikian, dalam kenyataannya Bank masih enggan menyalurkan kredit.
Hal ini disebabkan Bank masih menghadapi masalah tingginya NPL, tingginya risiko kredit di sektor riil khususnya sektor korporasi yang dicerminkan rasio hutang terhadap modal perusahaan yang tinggi, dan terbatasnya informasi mengenai debitur yang potensial.
Selain itu, preferensi bank dalam menempatkan dananya juga berubah. Bank lebih tertarik menempatkan dananya pada SBI dan obligasi negara serta pasar uang antar bank yang berisiko rendah.
Kredit UKM Kredit Non UKM
Triliun Rp
Trw II 2002 Trw III 2002 Bank Persero Bank Swasta
Disamping itu, rendahnya tingkat pemberian kredit baru disebabkan sebagian besar perusahaan besar (korporasi) masih dalam proses restrukturisasi di BPPN.
Hal ini tercermin dari Rp369,5 triliun kredit yang dialihkan ke BPPN per Agustus 2002, baru sebagian kecil yakni Rp19,9 triliun yang sudah memasuki tahap implementasi restrukturisasi, sedangkan Rp17,1 triliun terbayar penuh7.
Peningkatan pemberian kredit baru secara signifikan dapat dilakukan setelah proses restrukturisasi
perusahaan korporasi selesai. Padahal restrukturisasi dimaksud berjalan kurang lancar dan memakan waktu karena adanya berbagai kendala, terutama kepastian usaha dan proses hukum.
Sebagian besar portofolio perbankan masih didominasi kredit korporasi. Dengan lambannya pemulihan sektor riil khususnya korporasi menyebabkan lambannya pemulihan kinerja sektor perbankan. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mempercepat pemulihan ekonomi di masa datang dan untuk memperbaiki portofolio kredit perbankan adalah melalui peningkatan kredit kepada sektor UKM.
dicermati karena penyaluran kredit UKM khusus untuk kredit mikro, memerlukan bantuan teknis kepada nasabah di bidang manajemen dan pemasaran yang tidak dimiliki oleh semua bank.
NPL kredit UKM saat ini relatif rendah yaitu 4,5%.
Dari jenis penggunaan, saat ini kredit UKM didominasi untuk tujuan konsumsi yang dapat memicu permintaan barang dan jasa baik dari pasar domestik maupun pasar internasional. Di satu sisi, peningkatan permintaan tersebut berpotensi untuk mendorong meningkatnya aliran barang dan jasa dari pasar internasional yang apabila berlebihan akan memberatkan neraca perdagangan. Namun di sisi lain, peningkatan permintaan itu merupakan potensi pasar yang memberikan kesempatan bagi pengusaha untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaannya.
Industri Pulp dan Paper
Akibat krisis tahun 1997 sumbangan sektor non pertanian & pertambangan terhadap GDP menurun walaupun secara persentase sumbangan sektor tersebut masih lebih besar dari sumbangan sektor Graph 3.14
Kredit UKM Menurut Jenis Penggunaan
Namun, perlu disadari bahwa strategi tersebut selain akan memakan waktu relatif lama juga mengandung risiko bagi bank yang belum memiliki pengalaman memadai di bidang UKM.
Hingga triwulan ketiga 2002, kredit kepada sektor UKM mencapai Rp24,6 triliun atau sebesar 41,8% dari total kredit baru.
Pada triwulan III-2002, Bank Swasta Devisa tercatat sebagai penyalur kredit UKM terbesar diikuti oleh BPD dan Bank Persero yaitu masing-masing sebesar 12,9%; 10,1% dan 6,2%. Kecenderungan ini perlu
Pertanian & Pertambangan Non Pertanian & Pertambangan Persen
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002
KMK
Grafik 3.16:
Perkembangan NPL Sektoral
pertanian & pertambangan. Pada akhir tahun 2002, kinerja sektor non pertanian & pertambangan menunjukkan perbaikan. Namun demikian, kondisi ini dibayangi oleh masih tingginya NPL pada sektor non pertanian & pertambangan khususnya yang berasal dari sektor industri. Mengingat peran sektor non pertanian & pertambangan khususnya sektor industri cukup besar dalam perekonomian domestik, dalam Boks 3 berikut disajikan kinerja industri pulp and paper.
10
2001
2002
Pertanian Pertambangan
Perindustrian Listrik
Konstruksi Perdagangan
Pengangkutan Jasa Dunia Usaha
Jasa Sosial Lain-lain
-20 30 40 50 60
Persen
Industri pulp & paper dinilai sebagai salah satu usaha yang berisiko cukup tinggi. 7 dari 10 perusahaan besar yang bergerak dalam industri pulp & paper memiliki pinjaman kepada perbankan dengan baki debet Rp4.136.577 juta yang masih harus direstruk-turisasi. Dalam tahun 2000, jumlah kredit yang di-restrukturisasi tersebut mencapai 97% dari seluruh baki debet kredit yang diberikan kepada industri ini.
Sayangnya, tingkat keberhasilan restrukturisasi yang dilakukan tersebut sangat rendah. Hal ini disebabkan antara lain oleh:
• Lemahnya analisis restrukturisasi yang dilakukan bank, antara lain kurang memperhitungkan kemampuan cash flow debitur, baik secara indi-vidual maupun grup;
• Manajemen perusahaan tidak transparan dan tidak kooperatif dalam menginformasikan kondisi keuangan perusahaan;
• Rendahnya produktivitas dan berkurangnya pendapatan akibat turunnya harga produk di pasar sedangkan di sisi lain terjadi peningkatan harga pokok penjualan,
• Kondisi keuangan yang memburuk akibat meningkatnya jumlah hutang, beban bunga dan beban lain-lain sebagai akibat melemahnya nilai rupiah terhadap US dollar.
Dimasa mendatang diperkirakan industri pulp &
paper masih akan menghadapi beberapa tantangan,
Boks 3.
Industri Pulp & Paper
yaitu rendahnya tingkat konsumsi kertas di Asia (selain Jepang) bila dibandingkan dengan tingkat konsumsi kertas di Amerika, Jepang dan Eropa serta meningkatnya harga bahan baku akibat supplai kayu sebagai bahan baku pulp tidak mampu dipenuhi oleh HTI milik sendiri (grup). Sebagai ilustrasi, pada tahun 1999 bahan baku bersumber dari grup sendiri mencapai 100% namun tahun 2000 hanya mencapai 40%, sehingga mengakibatkan harga bahan baku logas meningkat.
Dengan menggunakan sampel 5 laporan keuangan perusahaan pulp & paper terbesar per Desember 1993 s.d. Juni 2002, terlihat bahwa rata-rata leverage perusahaan di industri ini cenderung meningkat.
Peningkatan tersebut mencerminkan bahwa ketergantungan industri ini terhadap pembiayaan dari sistem keuangan (bukan self financing) meningkat. Di sisi lain, masih lemahnya perekonomian khususnya pasar pulp & paper akan mengancam kemampuan rata-rata perusahaan di industri ini untuk meningkatkan pendapatannya guna membayar beban bunga yang juga meningkat.
Total Debt/Equity Long Term Debt/Equity Total Debt/Total Aset
Des Des Des Des Des Des Des Des Des Jun
1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002
Persen Persen