Jumlah penduduk Kabupaten Belitung Timur tahun 2007 berjumlah 98.194 jiwa. Hal ini menunjukkan telah terjadi penambahan jumlah penduduk dibanding tahun sebelumnya sebanyak 6.492 orang atau 7,08 persen. Penduduk di Kabupaten Belitung Timur lebih banyak berjenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan. Dimana 50.743 jiwa atau 51,67% laki-laki dan sisanya 47.451 jiwa atau 48,32% adalah perempuan. Khusus di kecamatan Gantung, penduduknya berjumlah 25.257 jiwa (BAPPEDA 2007).
4.4.2 Pendidikan
Peningkatan sumberdaya manusia sekarang ini lebih diutamakan dengan memberikan kesempatan kepada penduduk untuk mengecap pendidikan seluas-luasnya, terutama penduduk pada kelompok umur 7 – 24 tahun yang merupakan kelompok usia sekolah. Jika dilihat dari angka kelulusan Sekolah Menengah Atas terdapat sepertiga dari peserta ujian nasional yang tidak lulus di tahun 2006 (BAPPEDA 2007).
4.4.3 Mata pencaharian
Sebagian besar penduduk Belitung Timur memiliki mata pencaharian di sektor perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit. Tidak kurang dari 3000 orang yang bekerja di perusahaan perkebunan sawit. Selain di sektor perkebunan, pertambangan pun menjadi pilihan mata pencaharian penduduk Belitung Timur, diantanya penambangan pasir, pasir kuarsa, timah, batu besi dan Golongan C lainnya (BAPPEDA 2007).
5.1Kondisi Vegatasi Hutan Kerangas 5.1.1 Hutan kerangas khusus (Padang)
Padang merupakan hutan kerangas yang terbuka akibat terjadinya kebakaran yang sangat besar dan sangat sulit untuk kembali lagi menjadi hutan. Tumbuhan yang hidup di lokasi tersebut didominasi oleh jenis tumbuhan bawah yang hanya memiliki tinggi kurang dari 2 m (Gambar 3). Menurut Whitten et al (1984) Padang merupakan vegetasi yang didominasi oleh semak, dimana biasanya pohon paling tinggi hanya mencapai 5 m namun kadang-kadang ada juga yang mencapai hingga 25 m. Fakhrurrozi (2001) juga menjelaskan bahwa Padang atau padangen merupakan ekosistem hutan yang khas yang umumnya ditumbuhi oleh rerumputan, vegetasi herba, semak dan pepohonan kecil yang tidak rapat atau merata. Hal ini menyebabkan sinar matahari dapat secara penuh menyinari lantai hutan.
Gambar 3 Kondisi vegetasi di Padang.
5.1.2 Hutan kerangas primer (Rimba)
Rimba merupakan ekosistem alami yang tidak atau belum dibuka untuk pertanian. Rimba tumbuh di atas tana darat dengan jenis tanah podsol (tana teraja) yang letaknya relatif lebih tinggi atau di lingkungan lembab atau basah (tana amau) (Fahrurrozi 2001).
Rimba disebut juga sebagai hutan primer. Hal ini menyebabkan kondisi vegetasi di Rimba rapat. Umumnya lokasi Rimba didominasi oleh pohon yang berdiameter kecil yaitu kurang dari 20 meter. Menurut Mansur (2006), pohon yang tumbuh di hutan kerangas memiliki tajuk yang rendah (tingginya kurang dari
10 m), seragam, ukuran batang dan daun kecil, serta cabang dan ranting tumbuh rapat pada setiap pohon. Namun demikian sinar matahari masih dapat masuk ke dalam hutan. Selain itu hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi di dalam Rimba terdapat banyak jalan yang dapat dilalui oleh sepeda motor. Biasanya jalan tersebut digunakan masyarakat untuk masuk ke dalam kawasan hutan (Gambar 4). Hal ini menyebabkan sinar matahari masih dapat masuk ke dalam hutan.
Gambar 4 Kondisi vegetasi di Rimba.
5.1.3 Hutan kerangas sekunder (Bebak)
Hutan kerangas sekunder (Bebak) merupakan hutan yang tumbuh diatas lahan milik masyarakat setempat. Bebak tersebut adalah lahan bekas ladang yang telah ditingggalkan oleh masyarakat dengan kurun waktu yang cukup lama yaitu sekitar 10 atau 20 tahun dan sedang mengalami suksesi menuju proses klimaks (Fakhrurrozi 2001). Hal ini menyebabkan kondisi vegetasi di Bebak lebih jarang dan lebih terbuka dibandingkan dengan vegetasi di Rimba (Gambar 5).
Gambar 5 Kondisi vegetasi di Bebak.
5.2Keanekaragaman Nepenthes
Hasil analisis vegetasi di tiga lokasi menunjukkan bahwa jumlah spesies Nepenthes yang ditemukan yaitu empat spesies yang berbeda. Spesies tersebut terdiri dari Nepenthes ampullaria Jack., Nepenthes gracilis Korth., Nepenthes
reinwardtiana Miq. dan Nepenthes rafflesiana Jack. Spesies Nepenthes paling banyak ditemukan yaitu di Rimba dan Bebak dengan jumlah 3 spesies sedangkan jumlah spesies yang paling sedikit ditemukan di Padang yaitu 1 spesies (Tabel 4). Tabel 4 Spesies-spesies Nepenthes yang ditemukan di lokasi penelitian
No Spesies Lokasi
Padang Bebak Rimba
1 Nepenthes ampullaria - √ -
2 Nepenthes gracilis √ √ √
3 Nepenthes rafflesiana - √ √
4 Nepenthes reinwardtiana - - √
Seluruh spesies yang ditemukan merupakan spesies murni (non-hybrid). Clarke (1997) menjelaskan bahwa Nepenthes merupakan tumbuhan berumah dua, dimana bunga jantan dan betina tidak berada dalam satu individu yang sama. Hal ini menyebabkan dapat terjadi persilangan secara alam (natural hybrid) antar spesies Nepenthes. Namun pada lokasi penelitian tidak ditemukan spesies Nepenthes silangan alam (natural hybrid). Hal ini disebabkan karena lokasi ditemukan antar spesies relatif jauh sehingga persilangan antar spesies sulit terjadi. Selain itu menurut Mansur (2006), umumnya waktu berbunga untuk satu spesies Nepenthes berbeda-beda, sehingga peluang terjadinya proses penyerbukaan silang sangat kecil.
Clarke (2000) diacu dalam Saputri (2009) mengungkapkan bahwa seluruh spesies hibrid alami Nepenthes yang diamati bersifat fertil, walaupun belum diketahui apakah tingkat fertilisasi semua spesies hibrid alami tersebut sama atau berbeda dengan tetuanya. Hal ini menyebabkan spesies Nepenthes hasil hibrid alami sering sekali gagal bertahan dan mencapai jumlah populasi yang besar dan mandiri.
5.2.1 Nepenthes di Padang
Nepenthes yang ditemukan di Padang hanya satu spesies yaitu Nepenthes gracilis. Namun demikian jumlah populasi Nepenthes gracilis di Padang sangat banyak yaitu mencapai 803 individu/ha. Rendahnya keanekaragaman spesies Nepenthes yang ditemukan di Padang disebabkan oleh kondisi vegetasinya yang sangat terbuka. Mansur (2007) menjelaskan bahwa Nepenthes membutuhkan
naungan untuk dapat bertahan hidup dan hanya spesies-spesies tertentu saja yang dapat bertahan pada kondisi dengan sinar matahari yang penuh. Salah satu spesies Nepenthes yang memerlukan sinar matahari yang banyak untuk bertahan hidup yaitu Nepenthes gracilis (Untung et al. 2006). Menurut Hidayat et al. (2003) Nepenthes gracilis akan tumbuh lebih baik dan sempurna pada kondisi sinar matahari yang penuh, tetapi pada tanah yang cukup lembab. Mansur (2006) juga menambahkan bahwa Nepenthes gracilis akan tumbuh cepat jika berada pada tempat terbuka dan menjalar di pasir kwarsa hutan kerangas.
Nepenthes gracilis dapat tumbuh di berbagai kondisi habitat. Hal ini dapat diketahui dengan ditemukannya Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak yang kondisi vegetasinya rapat dan ternaungi. Menurut Mansur (2006) Nepenthes gracilis merupakan spesies yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap lingkungan lebih tinggi daripada spesies Nepenthes lain. Oleh karena itu Nepenthes gracilis memiliki wilayah sebaran yang cukup luas.
Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba dan Bebak memiliki lebar kantong yang relatif kecil yaitu 0,66-0,92 cm, tinggi kantong 5,73-6,67 cm dan berwarna polos (Gambar 6), sedangkan Nepenthes gracilis yang ditemukan di Padang memiliki ukuran dan warna yang beranekaragam (Gambar 7). Hal ini disebabkan oleh jumlah individu yang ditemukan di Padang lebih banyak.
Gambar 6 Nepenthes gracilis di Bebak.
Perbedaan ukuran kantong dan warna kantong pada Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba, Bebak dan Padang disebabkan oleh kondisi vegetasi tempat tumbuh. Pada kondisi dengan kerapatan yang tinggi Nepenthes gracilis tumbuh dengan ukuran yang kecil dan warna kantong yang polos (Mansur 2006). Selain itu produksi jumlah kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak lebih sedikit dibandingkan dengan di Padang. Jumlah individu Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak hanya 2 individu/ha sedangkan di Padang ditemukan 803 individu/ha. Hal ini disebabkan karena kondisi vegetasi di Rimba dan Bebak lebih rapat daripada di Padang. Kondisi tersebut menyebabkan lokasi di Rimba dan Bebak menghasilkan serasah yang lebih banyak. Menurut Nasoetion (1990) diacu dalam Raharjo (2006) serasah merupakan lapisan teratas dari permukaan tanah yang mungkin terdiri dari lapisan tipis sisa tumbuhan. Serasah tersebut mampu menutupi tanah dan menjadi pupuk alami sehingga menjadikan tanah di Rimba dan Bebak lebih subur dibandingkan dengan di Padang.
Nepenthes akan mengembangkan dan menghasilkan kantong lebih banyak pada kondisi tanah yang miskin hara sebagai alat untuk memenuhi kekurangan suplai nutrisi dari tanah. Nepenthes tidak seperti tumbuhan pada umumnya yang akan tumbuh baik pada kondisi tanah yang subur. Hal tersebut merupakan upaya adaptasi Nepenthes untuk bertahan hidup. Menurut Mansur (2006), hidup di tanah yang miskin hara menjadikan Nepenthes mengembangkan kantongnya sebagai alat untuk memenuhi kekurangan suplai nutrisi dari tanah.
5.2.2 Nepenthes di Rimba
Hasil analisis vegetasi di Rimba diperoleh 3 spesies Nepenthes yaitu Nepenthes reinwardtiana, Nepenthes gracilis dan Nepenthes rafflesiana. Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis hanya ditemukan di jalur 1 pada plot pertama.. Kondisi plot tersebut terbuka dan terletak di samping jalan, sehingga menyebabkan sinar matahari dapat menembus lantai hutan (Gambar 8). Kondisi tersebut sangat mendukung Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis untuk tumbuh dan menghasilkan kantong. Menurut Adam et al. (1991) Nepenthes reinwardtiana umumnya tumbuh di semak-semak pinggir jalan yang terbuka, tanah yang gundul, di lereng yang curam atau di tempat pembuangan minyak. Mansur (2007) juga menambahkan bahwa Nepenthes reinwardtiana dan
Nepenthes gracilis dapat tumbuh pada tempat-tempat terbuka atau agak terlindung. Namun demikian jumlah kantong yang dihasilkan sedikit yaitu dua kantong untuk setiap spesies Nepenthes.
Gambar 8 Kondisi habitat Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis di Rimba.
Nepenthes rafflesiana ditemukan di jalur 5 pada plot ke-10, jalur 6 pada plot ke-6, 7 dan 8, serta jalur 7 pada plot ke-3. Jumlah individu Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di Rimba yaitu 31 individu/ha. Nepenthes rafflesiana ditemukan umumnya tidak menghasilkan kantong. Dari keseluruhan Nepenthes rafflesiana yang ditemukan hanya satu individu yang menghasilkan kantong. Hal ini disebabkan karena Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di Rimba berada pada kondisi yang ternaungi. Menurut Untung et al. (2006), pembentukan kantong dipengaruhi oleh cahaya matahari. Kondisi vegetasi Rimba yang rapat menyebabkan sinar matahari yang masuk ke dalam hutan terbatas. Meskipun ada beberapa Nepenthes yang tidak menyukai cahaya matahari secara langsung namun kekurangan cahaya matahari akan berpengaruh terhadap pertumbuhan. Nepenthes yang kekurangan cahaya matahari umumnya menghasilkan jumlah kantong yang sedikit bahkan hingga tidak menghasilkan kantong.
5.2.3 Nepenthes di Bebak
Spesies Nepenthes yang ditemukan di Bebak yaitu Nepenthes rafflesiana Nepenthes ampullaria, dan Nepenthes gracilis. Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di Bebak lebih banyak dibandingkan dengan di Rimba yaitu 37 individu/ha. Hal ini disebabkan karena kondisi vegetasi di Bebak lebih terbuka sehingga sinar yang masuk lebih banyak. Selain itu di Bebak juga terdapat suatu genangan air (Amau) (Gambar 9). Menurut Handayani dan Syamsudin (1998)
Nepenthes rafflesiana menyukai tempat-tempat yang terbuka, daerah semak belukar atau hutan-hutan payau. Clarke (2001) menambahkan bahwa Nepenthes rafflesiana lebih menyukai habitat berupa semak belukar yang terbuka, tempat yang basah, rawa, tanah berpasir dan hutan kerangas.
Gambar 9 Genangan air (Amau) di Bebak.
Nepenthes rafflesiana yang menghasilkan kantong hanya 5 individu. Selain itu kantong yang ditemukan umumnya masih tertutup. Hal ini menunjukkan bahwa kantong yang dihasilkan tersebut masih tergolong muda. Menurut Mansur (2006), cairan yang terdapat dalam kantong yang masih tertutup dapat digunakan sebagai obat mata, batuk dan mengobati kulit yang terbakar.
Jumlah Nepenthes ampullaria yang ditemukan di Bebak yaitu 82 individu/ha. Umumnya Nepenthes ampullaria ditemukan di sekitar genangan air (Amau). Menurut Handayani (2001), Nepenthes ampullaria lebih menyukai tempat yang lembab atau basah dengan vegetasi semak belukar atau hutan sekunder. Adam dan Wilcock (1990) diacu dalam Adam dan Hafiza (2007) juga menjelaskan bahwa Nepenthes ampullaria tumbuh di hutan sekunder atau di pinggir rawa. Hal ini menyebabkan Nepenthes ampullaria tidak ditemukan di Rimba dan Padang.
5.3Kunci Identifikasi Spesies Nepenthes
Kunci identifikasi atau disebut juga kunci determinasi yaitu suatu alat yang diciptakan untuk membandingkan suatu tumbuhan dengan tumbuhan lain (Anonim 2006). Hal ini bertujuan untuk mempermudah mengenal suatu spesies tumbuhan. Berikut ini merupakan kunci yang digunakan dalam mengidentifikasi spesies Nepenthes yang ditemukan di lokasi penelitian secara visual :
1.a Batang berbentuk segitiga...2 b Batang berbentuk silinder...3 2.a Bagian dalam kantong terdapat dua spot mata...N. reinwardtiana b Bagian dalam kantong tidak terdapat spot mata... N. gracilis 3.a Tutup kantong panjang, sempit dan posisi berlawanan arah...N.ampullaria b Tutup kantong tidak panjang menyempit, agak lebar...N. rafflesiana
5..4 Deskripsi Spesies Nepenthes
5.4.1 Nepenthes ampullaria Jack.
Nepenthes ampullaria memiliki batang terestrial yang memanjat. Menurut Cheek dan Jebb (2001), batang Nepenthes ampullaria dapat memanjat hingga mencapai 15 meter. Bentuk batang silinder, diameter batang 0,7-1 cm, batang muda berwarna hijau dan berbulu merah (Gambar 10A) sedangkan batang tua berwarna coklat. Daun berbentuk lanset hingga spatula (melebar pada bagian ujung daun), tebal, bagian bawah daun berbulu kasar, pertulangan daun longitudinal jelas, ujung daun runcing atau meruncing, panjang daun 24,2-28 cm, lebar daun 5,34-8,27 cm dan panjang sulur 5,03-8,62 cm (Gambar 10B). Tangkai daun pendek dan terkadang tidak ada.
Gambar 10 Batang Nepenthes ampullaria (A), Daun Nepenthes ampullaria (B). Kantong Nepenthes ampullaria umumnya tumbuh bergerombol dan muncul dari roset daun diatas permukaan tanah. Namun ada pula kantong yang tumbuh menggantung pada batang-batang yang tumbuh tegak. Menurut Clarke (2001) Nepenthes ampullaria merupakan spesies Nepenthes yang paling menarik dan mudah diidentifikasi. Hal ini disebabkan karena Nepenthes ampullaria
mampu memproduksi kantong dalam jumlah banyak di lantai hutan. Kantong Nepenthes ampullaria yang ditemukan di lokasi penelitian terdiri dari kantong bawah dan kantong roset. Menurut Mansur (2006), Nepenthes memiliki tiga tipe kantong yaitu kantong bawah, kantong roset dan kantong atas.
Kantong bawah yaitu kantong yang keluar dari daun yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah dan biasanya menyentuh permukaan tanah (Gambar 11). Kantong bawah umumnya memiliki ukuran daun dan panjang sulur yang lebih besar dibandingkan dengan kantong roset.Selain itu pada kantong bawah, ujung sulurnya berada di depan bawah kantong, serta memiliki dua sayap yang fungsinya seperti tangga untuk membantu serangga tanah naik hingga ke mulut kantong (Mansur 2006).
Gambar 11 Kantong bawah Nepenthes ampullaria.
Kantong roset yaitu kantong yang keluar dari ujung daun roset, biasanya memiliki ukuran daun, sulur yang relatif pendek, tumbuh menggerombol di atas permukaan tanah (Gambar 12). Kantong roset yang ditemukan di lokasi penelitian umumnya tumbuh menjalar di atas permukaan tanah dengan jumlah yang cukup banyak. Menurut Handayani (2001) kantong roset Nepenthes ampullaria tersusun secara rapat bertumpuk-tumpuk dan berbentuk bulat kecil seperti teko.
Kantong atas adalah kantong berbentuk corong, pinggang, atau silinder dan tidak memiliki sayap (Mansur 2006). Pada lokasi penelitian tidak ditemukan kantong atas Nepenthes ampullaria. Menurut Cheek dan Jebb (2001), Nepenthes ampullaria umumnya tidak mengembangkan kantong atas (Upper pithcer). Clarke (2001) juga menambahkan bahwa Nepenthes ampullaria jarang memproduksi kantong atas.
Gambar 12 Kantong roset Nepenthes ampullaria.
Ukuran kantong bawah dan kantong roset Nepenthes ampullaria yang ditemukan relatif sama yaitu lebar kantong 1,77-5,03 cm dan tinggi kantong 5,03-8,62 cm. Kantong bawah dan kantong roset Nepenthes ampullaria berbentuk tempayan atau mirip kendi.
Mulut kantong Nepenthes ampullaria berbentuk oval dengan bibir yang melebar menghadap ke arah dalam. Tutup kantong berbetuk lonjong dan berwarna senada dengan kantong. Menurut Cheek dan Jebb (2001) Nepenthes ampullaria memiliki bentuk tutup kantong yang tidak ditemukan di spesies Nepenthes lain yaitu linear oblong (Gambar 13). Selain itu, Nepenthes ampullaria juga memiliki posisi tutup kantong unik dan tidak dimiliki oleh spesies Nepenthes lain. Posisi tutup kantong Nepenthes ampullaria berlawanan dengan mulut kantong sehingga memudahkan air hujan masuk ke dalam kantong. Hal tersebut juga disebabkan karena ukuran tutup kantong yang lebih kecil dibandingkan ukuran mulut kantong.
Gambar 13 Mulut dan tutup kantong Nepenthes ampullaria.
Warna mulut dan kantong bervariasi diantaranya yaitu hijau polos dimana bibir dan kantong berwarna hijau, bibir berwarna hijau dengan warna kantong
hijau bercorak merah, bibir berwarna merah dengan warna kantong hijau bercorak merah serta bibir dan kantong berwarna merah tua. Namun Nepenthes ampullaria yang ditemukan di lapangan yaitu kantong dan bibir kantong berwarna hijau (Gambar 14A) dan kantong hijau bercorak merah dengan bibir berwarna hijau (Gambar 14B).
Bunga Nepenthes ampullaria tidak ditemukan di lokasi penelitian. Menurut Handayani (2001) Nepenthes ampullaria memiliki bunga majemuk malai dan setiap anak malai terdiri atas 10 bunga. Bunga betina lebih pendek daripada jantan, bagian tanaman yang masih muda sering ditutupi oleh bulu-bulu halus yang pendek dan berwarna coklat (Mansur 2006).
Gambar 14 Kantong Nepenthes ampullaria berwarna hijau dengan corak merah (A), hijau polos (B).
5.4.2 Nepenthes gracilis Korth.
Nepenthes gracilis memiliki batang terestrial yang memanjat. Bentuk batang segitiga dan berwarna hijau atau coklat kemerah-merahan (Gambar 15A), panjang batang 1-2 meter, diameter batang 0,5-1 cm. Menurut Clarke (2001) panjang batang Nepenthes gracilis mampu mencapai sekitar 7 m. Daun berbentuk lanset, tidak bertangkai, ujung daun meruncing, pangkal daun melebar memeluk batang, panjang daun 1-15,50 cm, lebar 1-5,5 cm, panjang sulur 1-23 cm, dan pertulangan longitudinal daun jelas. Umumnya daun Nepenthes gracilis memiliki warna hijau. Namun jika berada dalam kondisi yang sangat terbuka dan terkena sinar matahari secara langsung maka warna daun berubah menjadi kekuningan dan terdapat bercak-bercak berwarna merah tua atau coklat (Gambar 15B).
Gambar 15 Batang Nepenthes gracilis (A), daun Nepenthes gracilis (B). Kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan terdiri dari kantong bawah dan kantong roset. Kantong bawah dan roset Nepenthes gracilis berbentuk silindris pada bagian atas kantong dan berbentuk oval pada bawah (Gambar 16). Kantong atas Nepenthes gracilis berbentuk pinggang dan umumnya tidak memiliki sayap. Pada lokasi penelitian tidak ditemukan kantong atas. Vegetasi yang tumbuh di Padang didominasi oleh rerumputan. Hal ini menyebabkan Nepenthes gracilis di Padang tumbuh menjalar di atas permukaan tanah.
Gambar 16 Bentuk kantong Nepenthes gracilis.
Ukuran kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan di Padang berbeda dengan yang ditemukan di Rimba dan Bebak. Lebar kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba dan Bebak relatif sama yaitu katong pada bagian atas 0,95-1,17 cm dan lebar kantong pada bagian bawah yaitu 1,09-1,4 cm. Lebar kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan di Padang lebih beragam karena jumlah populasi yang ditemukan lebih banyak daripada di Rimba dan Bebak. Lebar kantong pada bagian atas 0,5-2,3 cm, sedangkan lebar kantong pada bagian bawah yaitu 0,80-2,93 cm. Selain itu tinggi kantong Nepenthes gracilis di Rimba, Bebak dan di Padang berbeda. Tinggi kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan
Bebak relatif sama yaitu sekitar 5,73-6,67 cm, sedangkan tinggi kantong Nepenthes gracilis di Padang yaitu 0,34-13,43 cm.
Warna kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak hijau kemerah-merahan, sedangkan warna kantong Nepenthes gracilis di Padang lebih bervariasi diantarnya yaitu hijau polos, hijau kekuningan, merah, dan coklat kemerah-merahan. Mulut kantong berbentuk bulat dan menyempit ke arah pangkal tutup (Handayani 2001). Tutup kantong Nepenthes gracilis berbentuk bulat dan berwarna senada dengan kantongnya (Gambar 17).
Gambar 17 Tutup kantong Nepenthes gracilis.
Bunga Nepenthes gracilis pada lokasi Rimba dan Bebak tidak ditemukan, sedangkan di lokasi Padang ditemukan beberapa bunga. Bunga Nepenthes akan terbentuk jika berada pada kondisi yang terbuka dengan sinar matahari yang penuh. Bunga yang ditemukan di lokasi Padang berwarna coklat tua dan umumnya telah merekah (Gambar 18). Bunga Nepenthes gracilis berbentuk tandan, panjangnya kurang dari 25 cm, bunga pada betina terkadang lebih panjang daripada bunga pada jantan (Mansur 2006). Menurut Handayani (2001) masing-masing anak tandan memiliki 2 bunga dengan panjang tangkai sekitar 0,6-1,2 cm. Nepenthes gracilis memiliki buah berbentuk kotak. Biji seperti benang halus dengan panjang sekitar 0,7-1,5 cm (Handayani 2001).
5.4.3 Nepenthes rafflesiana Jack.
Nepenthes rafflesiana memiliki batang terestrial yang memanjat. Bentuk batang silinder, diameter batang 0,63-1 cm dan berwarna coklat. Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di lokasi penelitian seluruhnya hidup secara terestrial yaitu hidup menjalar diatas permukaan tanah. Hal ini menyebabkan tidak dapat diketahui pasti panjang batang dari Nepenthes rafflesiana. Namun menurut Cheek dan Jebb (2001) panjang batang dari Nepenthes rafflesiana dapat mencapai 2-6 m. Daun bertangkai cukup panjang yaitu sekitar 15 cm, tebal, berbentuk lanset, permukaan bawah daun berbulu halus dan berwarna hijau (Gambar 19). Nepenthes rafflesiana memiliki panjang daun 24,5-29,4 cm, lebar daun 5-8,5 cm dan panjang sulur sekitar 24,5-25,7 cm.
Gambar 19 Daun Nepenthes rafflesiana.
Kantong Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di lokasi penelitian hanya kantong bawah. Kantong bawah Nepenthes rafflesiana berbentuk oval. Lebar kantong 1,20-3,37 cm dan tinggi kantong 8,27-12,12 cm. Nepenthes rafflesiana memiliki warna kantong yang bervariasi diantaranya yaitu warna dasar putih atau hijau dengan perpaduan corak berwarna merah, coklat hingga ungu. Namun di lokasi penelitian warna kantong Nepenthes rafflesiana yang ditemukan seluruhnya berwarna dasar putih dan hijau dengan perpaduan corak berwarna merah (Gambar 20).
Kantong atas Nepenthes rafflesiana tidak ditemukan di lokasi penelitian. Kantong atas Nepenthes rafflesiana berbentuk seperti corong atau mirip terompet. Menurut Handyani dan Syamsuddin (1998) kantong atas Nepenthes rafflesiana berbentuk terompet, tidak memiliki sayap maupun renda dan hanya memiliki
sepasang garis yang menonjol di sepanjang sisi depan kantong. Nepenthes rafflesiana merupakan spesies yang memiliki ukuran kantong cukup besar, kantong bawah dapat menampung air hingga satu liter (Mansur 2006). Warna kantong atas terdiri dari hijau polos atau hijau dengan bercak coklat atau merah.
Gambar 20 Nepentes rafflesiana di Bebak (A), di Rimba (B).
Mulut kantong Nepenthes rafflesiana berbentuk bulat telur dengan posisi agak miring kearah depan (Handayani & Syamsudin 1998). Tutup kantong