• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Sosiokultur

Dalam dokumen Kepribadian Sang Wali Allah (Halaman 133-138)

SUFI LEGENDARIS

F. IBN ‘ARABI; SYAEIKH AL-AKBAR AL-SHUFI

3. Kondisi Sosiokultur

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa nama lengkap Jîlî adalah ‘Abd al-Karîm ibn Ibrahîm ibn ‘Abd al-al-Karîm ibn Khalîfah ibn Ahmad ibn Mahmûd. Ia bergelar Quthb al-Dîn, sedangkan sebutan al-Jîlî adalah sebutan yang dinisbahkan kepada tempat asal nenek moyangnya, yakni Jîlan110. Tokoh Sufi lainnya

108Reynold A. Nicholson, Fî Tashawwuf al-Islâmî wa Târîkhihi, trans. Abû ’Alâ al-‘Afifî, (Kairo: tp., 1956), hal. 64-65.

109 Qs. al-Baqarah (2): 186.

110Jaîlan, Jîlan atau Jîlî adalah sebuah perkampungan yang dikelilingi oleh pegunungan. Sebelah selatannya dibatasi laut Kharaz, sebelah utara adalah gunung Birz, dan sebelah timurnya dibatasi Tobrustan. Nama perkampungan Jîlan itu sendiri diambil dari nama bobot Nabi Nûh. Lihat, Yaqût al-Hamawî, Mu’jam al-Buldân, (Beirût: Dâr al-Shâdir, tt.), Juz. II hal. 208. Menurut Ritter, Jîlan terletak di kawasan selatan Kaspia. Lihat, H. Ritter, ’Abd al-Karîm bin Ibrahîm al-Jîlî” dalam H.A.R. Gibb and J.H. Kramer, The Encyclopedia of Islam, (Leiden: E.J. Brill, London Luzac & co., 1967), vol. I hal. 71. Menurut al-Baladzûrî, Jîlan adalah nama dari gugusan beberapa negeri di sekitar Tobrustan. Lihat, Ahmad ibn Yahyâ’ al-Baladzûrî, Kitâb Futûh al-Buldân, (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, tt.), Juz. III, hal. 710.

yang sebutan namanya dinisbahkan pada tempat yang sama adalah ‘Abd al-Qadîr al-Jailanî (w. 571 H.)111 seorang pendiri tarekat Qadîriyyah, yang diduga oleh al-Jîlî adalah keturunan dari keluarganya.112 Maksud penyebutan al-Jîlî bagi ‘Abd al-Karîm bukan al-Jailanî, adalah dimaksudkan untuk menghindari penyerupaan atau bahkan salah persepsi dengan penyebutan bagi ‘Abd al-Qadîr al-Jailanî itu.113

Al-Jîlî lahir pada awal bulan Muharram tahun 767 H. di sebuah desa di wilayah Baghdâd dan ia meninggal dunia dalam usia 59 tahun atau diperkirakan pada tahun 825 H. di Zâbid (Yaman). Data tentang kelahirannya ini termuat dalam gubahan sya’irnya.114

Al-Jîlî muda adalah orang yang sangat senang melakukan pengembaraan spiritual dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika usia 20 tahun ia mengawali pengembaraannya ke daerah Kusyi (India).115 Di Kusyi ia pertama kali mengenal ajaran selain Islam, yakni ajaran Hindu lengkap dengan acara ritualnya, namun di Kusyi ia tidak tinggal lama. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya menuju Persia, di sini ia mempelajari bahasa Persia dan menulis buku yang diberi judul “Jannat al-Ma’ârif wa Ghayat al-Murîd wa al-Ma’ârif”.116

Pada tahun 796 H. saat ia menginjak usia 29 tahun, ia kemudian hijrah dari Persia menuju Zâbid

111Haji Khalifah, Kasyf al-Dzunnûn, (India: Dâr al-Sa‘âdah, tt.), Juz. II, hal. 340.

112Tujimah, Asrâr al-Insân fî Ma’rifat al-Rûh wa al-Rahmân, (Jakarta: Penerbit Universitas, 1960), hal. 248.

113Haji Khalifah, op. cit.

114Lihat lebih jauh dalam al-Jîlî, Al-Nadirat al-’Ainiyyat, dalam Yûsuf Zaidân, ‘Abd Al-Karîm al-Jîlî, op. cit., hal. 15. Menurut Ritter ia diperkirakan lahir pada tahun 1365 H./1366 M., dan wafat pada tahun 1400-1417 M. Ritter, op. cit.,

115Yûsuf Zaidân, ibid., hal. 15-16.

116Ibid., hal. 15. Walaupun buku tersebut di atas menggunakan judul bahasa Arab, namun isinya berbahasa Persia.

(Yaman). Di Kota ini ia menemukan guru spiritual yang cocok bagi dirinya, yang di kemudian hari sangat mempengaruhi jalan pemikirannya dalam bidang tasawuf. Ia adalah Syeikh Syarîf Dîn ibn Ismâ’il al-Jabartî yang lebih dikenal dengan sebutan “al-al-Jabartî”, seorang sufi yang sangat terkenal pada zamannya.117 Setelah tiga tahun tinggal bersama guru dan teman-temannya di Zâbid. Pada tahun 799 H. Ia melanjutkan kembali pengembaraannya ke tanah suci Makkah. Di sini ia bergabung dengan kelompok sufi yang mengamalkan tharîqah-nya di sekeliling Baitullâh. Di kalangan sufi saat itu berkembang suatu pendapat bahwa Ism Allâh al-A‘zhâm118 adalah “Huwa”, al-Jîlî merasakan kejanggalan pendapat yang banyak berkembang tersebut, ia kemudian meluruskan pendapat tersebut dengan penjelasan yang bisa diterima oleh kalangan sufi. Menurutnya, “Huwa” adalah dhamir ghâ’ib (kata ganti ketiga) sebagai nama mulia dzât Ketuhanan. Ism Allâh al-A’zhâm terkuak maknanya apabila bisa menyaksikan Allah dengan mata hati dalam setiap keadaan.119 Sejak saat itu kredibilitasnya sebagai seorang sufi menjadi diakui oleh kalangan sufi di Makkah.

Pada bulan Rabî’ul Awal tahun 800 H. ia pulang kembali ke Zâbid dan tinggal selama tiga tahun. Pada bulan Rajab 803 H. ia melawat ke Kairo. Di Kairo ia menyaksikan suasana keilmuan al-Azhar dan mengadakan temu ilmiah bersama ulama-ulama al-Azhar, dan temu ilmiah tersebut bisa membuahkan

117Ibid., hal. 16.

118Ism Allâh al-A’zhâm, dalam konteks sufi lebih dimaksudkan sebagai suatu nama rahasia antara seorang hamba dengan Khâliq-nya yang tidak bisa diketahui oleh orang lain. Nama yang memuat semua nama-nama, Ism al-A‘zhâm adalah Allah, isim dzât yang disifati dengan segala sifat dan nama. ‘Abdul Mun‘im al-Hifnî, Al-Mu‘jam al-Shûfî, (Kairo: Dâr al-Rosyad, 1997), hal. 22; Lihat, Syeikh Nafîs ibn Idrîs, Al-Durannafis, trans. K.H. Haderanie, Pertama Yang Indah, (Surabaya: CV. Amin, tt.,), hal. 72.

karya tulisnya yang memaparkan ajaran tasawuf dalam untaian keindahan bahasa. Karya tulis tersebut ia beri judul “Ghaniyat Arbâb al-Simâ’”120 Dari Mesir ia melanjutkan petualangan spiritualnya menuju Gazah (Palestina). Dari Gazah kemudian ia kembali lagi ke Zâbid. Di kota ini al-Jîlî menghabiskan sisa-sisa umurnya sebagai seorang mursyîd (pembimbing spiritual) di Masjid Jabartî, setelah gurunya al-Jabartî wafat.121

Sebelum ia mendapatkan guru yang diidam-idamkannya, yakni Syeikh al-Jabartî, ia berguru kepada Syeikh al-Maqdisî (w. 798 H.) seorang faqîh yang sufi. Dari al-Maqdisî ia mendapatkan banyak pengetahuan agama yang elementer, ia sendiri mengakui bahwa banyak memperoleh ilmu dari Syeikh al-Maqdisî tersebut. Selanjutnya ia berguru kepada Ibn Jamîl, sufi yang mendapatkan julukan Syams al-Syumûsy.122 Pada akhirnya ia berguru pada seorang sufi besar, Syeikh Jabartî. Dari Syeikh al-Jabartî ia mendapatkan ilmu tentang dasar-dasar tasawuf dan pengalaman ruhaniyah yang mendalam. Ia memuji gurunya dengan sebutan Sayyid al-Auliyâ’ al-Muhaqqiqîn (pemimpin para wali) dan al-Quthb al-Kâmil wa al-Muhaqiq al-Fâdhil (wali kutub yang paripurna dan utama).123

Pada awalnya Syekh al-Jabartî adalah seorang pengikut tharîqat al-Qadiriyah, namun setelah mendalami ajaran tasawuf Ibn ‘Arabî, ia tertarik dan

120Yûsuf Zaidân, ‘Abd al-Karîm, op. cit., hal. 19.

121Ibid., untuk mendapatkan data latar belakang internal yang utuh dari tokoh sufi seperti al-Jîlî, maka pengamatan terhadap para gurunya merupakan faktor yang sangat penting. Hal ini karena beberapa alasan yang mendasarinya, yakni: pertama, hubungan seorang sufi dengan gurunya diikat dengan ikatan emosional yang sangat kuat; kedua, guru merupakan wâsithah (perantara) bagi muridnya untuk dapat sampai kepada maqâm ma‘rifah; dan ketiga, guru sebagai pembimbing spiritual senantiasa mengawasi perilaku muridnya secara total, sehingga muridnya bisa sampai pada kondisi yang sempurna.

122Ibid.

mendirikan sebuah sekolah takhashshus (spesialis) yang mengkhususkan pada pengajaran tasawuf falsafi, sebagai perimbangan terhadap para fuqahâ’ yang lebih banyak menyerang tasawuf falsafi. Sekolah ini mendapatkan dukungan yang kuat dari Sultan Banî Rasûliyah sebagai penguasa di Yaman. Sekolah inilah yang diwariskan al-Jabartî kepada muridnya al-Jîlî setelah ia wafat.124

Di samping belajar kepada para guru yang mempengaruhi jalan pikiran al-Jîlî dalam bidang tasawuf, ia juga banyak bergaul dengan para sufi dan ulama pada masanya dan hal ini setidaknya juga punya pengaruh dalam pembentukan pemikirannya, walaupun tidak sebesar pengaruh para gurunya. Baik dari para sufi yang beraliran tasawuf falsafi125 maupun tasawuf ‘amali (Sunnî).126 Al-Jîlî menyebut mereka dengan al-Ikhwân (saudara). Beberapa ikhwân yang disebut oleh al-Jîlî adalah ‘Imâd al-Dîn Yahyâ’ ibn Abî al-Qâsim al-Tusanî al-Maghribî, Bahâ’ al-Dîn Muhammad ibn Syeikh al-Naqsabandî (w. 717 H.), seorang pendiri tharîqat al-Naqsabandiyyah, dan juga beberapa ulama fiqh, di antaranya: Hasan ibn al-Majnûn dan al-Faqîh Ahmad al-Jubâ’î.127 Ia juga menyebutkan beberapa temannya sebagai sesama murid al-Jabartî seperti Muhammad ibn Abî al-Qâsim al-Majazî (w. 829 H.), Ahmad al-Ma‘bidî (w. 815 H.), Muhammad ibn Syâfi‘î dan Ahmad al-Raddad.128 Itulah lingkungan internal yang cukup berpengaruh besar dalam membentuk pola dan corak dalam pemikiran tasawuf al-Jîlî.

124Yûsuf Zaidân, ‘Abd al-Karîm, op. cit., hal. 39.

125Aliran Tasawuf falsafi ini cenderung mensistemasikan ajaran tasawuf pemikiran filosofis, Kautsar Azhari Noer, op. cit., hal. 38.

126Aliran tasawuf ‘amali ini lebih menekankan pada pengalaman ritual sufi melalui tharîqah-tharîqah. Ia lebih bersifat dogmatis. Ibid.

127Yûsuf Zaidân, ‘Abd al-Karîm, op. cit., hal. 44-45.

Dalam dokumen Kepribadian Sang Wali Allah (Halaman 133-138)