• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Menjumlahkan Data

5.3. Kondisi Sungai Krukut

Sungai Krukut merupakan salah satu sungai yang termasuk wilayah Sungai Ciliwung Cisadane. Panjang sungai sekitar 30 km membentang mulai dari hulu di Situ Citayam Kota Depok yang sekarang berubah menjadi Depo Citayam,

38 lalu ke Cilandak, Jalan Tendean, Gatot Subroto, dan Pejompongan. Pada akhinya bergabung dengan banjir kanal barat (BKB) dan merupakan bagian dari drainase DKI Jakarta.

Daerah aliran sungai (DAS) Krukut memiliki luas ± 84 km2 dengan panjang sungai utama ± 30 km. Perkembangan pemanfaatan lahan di bagian hulu (Situ Citayam) dan tengah DAS Krukut, secara langsung berpengaruh terhadap volume aliran permukaan (run off) yang teralirkan di Sungai Krukut. Terdapat 13 sungai dan anak sungai yang mengalir ke Jakarta. Sungai ini sebagian besar polanya meander/berkelok-kelok. Mulai dari S. Angke, S. Pesanggrahan, S. Ciliwung, S. Krukut, dan seterusnya. Sebagian wilayah sungai-sungai tersebut merupakan lokasi banjir di Jakarta. Bentuk sungai berkelok-kelok ini menyebabkan aliran air lebih lambat dan lama tergenang sebelum mencapai titik outlet/hilir.

Sungai Krukut memiliki lebar 3-5 m di daerah hulu (dari Situ Citayam sampai daerah Kelurahan Pondok Labu). Bantaran sungai berupa perumahan dengan tingkat kepadatan sedang dan pada beberapa lokasi masih terdapat area terbuka. Pada alur sungai mulai Kelurahan Pondok Labu sampai daerah Jalan Tendean mempunyai lebar 5-7 m dengan bantaran sungai berupa perumahan dengan tingkat kepadatan tinggi. Namun, lebar sungai di beberapa tempat hanya 2 m. Kondisi sungai yang menciut-melebar menyebabkan terdapat banyak jebakan air (pothole) di dalamnya. Hal ini diakibatkan dari pembangunan perumahan yang melakukan pemagaran di sempadan sungai. Berikut ini kondisi Sungai Krukut di daerah Petogogan dapa dilihat pada Gambar 3.

39 Gambar 3. Kondisi Sungai Krukut di Kelurahan Petogogan dan Pela

Mampang

Secara topografis, DAS Krukut terletak pada dataran landai dan bergelombang. Daerah dataran terletak di Jakarta Pusat (daerah Bendungan Hilir/Pejompongan) yang merupakan daerah hilir DAS Krukut. Menurut Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWS-CC) kondisi hulu DAS Krukut menunjukkan telah terjadi konversi lahan secara besar-besaran, dimana hutan alam telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian dan pemukiman. Kondisi ini menyebabkan luas hutan semakin kecil dan semakin meluasnnya lahan kritis, yang dampaknya terjadi kekeringan di musim kemarau dan banjir disertai erosi tanah yang besar di musim hujan. Penggunaan lahan sangat besar pengaruhnya terhadap karakterstik hidrologi suatu DAS karena dapat mempengaruhi proses-proses yang terlibat dalam siklus hidrologi seperti intersepsi, evapotranspirasi, infiltrasi, dan aliran permukaan.

5.3.1. Pola Aliran dan Bentuk DAS

Pola aliran Sungai Krukut mengikuti suatu pola atau jaringan satu arah, dimana cabang dan anak sungai mengalir ke sungai utama dengan membentuk pola aliran dendritik. Pola ini pada umumnya terdapat pada daerah dengan batuan

40 sejenis. Berdasarkan bentuk DAS, Sungai Krukut mempunyai bentuk memanjang (bulu burung). Bentuk semacam ini biasanya akan menyebabkan aliran debit banjir (peak flood) relatif kecil karena waktu tiba banjir dari anak sungai berbeda waktunya. DAS krukut memiliki beberapa anak sungai yaitu Sungai Mampang, Sungai Kalibata, dan Sungai Sarua.

Data aliran Sungai Krukut berdasarkan pencatatan pada stasiun automatic water level recorder (AWLR) di stasiun pencatatan Benhil selama lima tahun yaitu tahun 2001-2006 ditunjukan pada Tabel 6. Debit rata-rata maksimum terbesar terjadi pada bulan Februari tahun 2002 sebesar 19.93 m3/s, sedangkan debit terkecil terjadi pada bulan Agustus tahun 2003 sebesar 1.47 m3/s. Data diatas menunjukan bahwa fluktuasi debit maksimum dan minimum sangat besar. Fluktuasi ini menunjukkan kondisi DAS Krukut mendekati DAS Kritis (BBWS 2011).

Tabel 6. Debit Rata-Rata Bulanan Sungai Krukut Tahun 2001-2006 Bulan Debit Rata-rata m3/s 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Januari 5.095 10.682 3.101 8.706 9.075 7.422 Februari 5.488 19.932 7.930 11.085 8.855 10.238 Maret 6.629 9.574 7.592 7.519 9.305 10.526 April 8.040 10.891 5.781 9.380 4.502 10.401 Mei 6.354 5.242 5.076 8.903 5.909 8.320 Juni 8.317 5.309 3.229 3.194 6.675 4.543 Juli 5.545 5.350 2.064 3.908 4.149 3.806 Agustus 4.046 3.503 1.470 2.060 4.394 3.447 September 3.516 2.207 2.226 1.612 4.699 3.013 Oktober 5.639 2.008 3.529 2.502 5.168 2.806 November 5.076 3.167 6.342 4.652 4.178 3.547 Desember 4.107 4.824 6.376 5.645 4.667 6.335 Sumber: Stasiun pencatatan AWLR Benhil, BBWS 2011

41 5.4. Karakteristik Responden

Karakteristik umum responden di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang diperoleh berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 50 warga masyarakat. Karakteristik umum responden ini dinilai dari beberapa variabel meliputi jenis kelamin, pendidikan formal yang pernah ditempuh, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan per bulan, lama tinggal, jumlah tanggungan, jarak rumah ke sungai, kepemilikan surat tanah, dan jenis bangunan.

5.4.1. Jenis Kelamin

Berdasarkan survei yang dilakukan, persentase jumlah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 80%, sedangkan responden yang berjenis kelamin perempuan sebesar 20%. Responden umumnya lebih banyak laki-laki karena laki-laki dianggap sebagai kepala keluarga dan pembuat keputusan di dalam rumah tangga.

5.4.2. Luas Tanah dan Bangunan yang Terkena Normalisasi

Salah satu proses pelaksanaan normalisasi Sungai Krukut adalah pelebaran sungai. Hal ini menyebabkan warga yang tinggal tidak jauh dengan sungai akan tergusur. Sebanyak 76 % dari total responden umumnya luas tanah dan bangunan yang terkena normalisasi di kedua kelurahan tersebut seluas 1-40 m2. Persentase jumlah responden sesuai dengan luas tanah dan bangunan yang terkena normalisasi dikedua kelurahan dapat dilihat pada Gambar 4.

Sumber: Data primer (diolah) Gambar 4. Sebaran Respon

Kelurahan Petogogan

5.4.3. Lama Tinggal

Mayoritas penduduk d betawi sedangkan di Kelurahan Jakarta maupun luar Jakarta. Se tinggal di kedua kelurahan responden sesuai dengan lama pada Gambar 5.

Sumber: Data primer (diolah)

Gambar 5. Sebaran Responden Petogogan dan

20% 0% 2%

24%

onden Menurut Luas Tanah dan Bangunan di Petogogan dan Pela Mampang Tahun 2011

di Kelurahan Petogogan merupakan penduduk as lurahan Pela Mampang lebih banyak pendatang seput arta. Sebanyak 38 % dari total responden umumnya tela

n tersebut selama 41-50 tahun. Persentase jumla ma responden tinggal dikedua kelurahan dapat dilihat

sponden Menurut Lama Tinggal di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang Tahun 2011

76% 2% 2% 1 - 40 m2 41 - 80 m2 81 - 120 m2 121 - 160 m2 161 - 240 m2 4% 30% 38% 4% < 30 31-40 41-50 51-60 > 61 asli putar telah mlah dilihat

5.4.4. Pendidikan Terakhir Tingkat pendidikan res dengan sekolah menengah p berpendidikan SMA. Persentase pendidikan yaitu pada SD sebesar mayoritas penduduk yang ti rendah. Perbandingan persenta Gambar 6.

Sumber: Data primer (diolah) Gambar 6. Sebaran Respon

Kelurahan Petogogan

5.4.5. Jenis Pekerjaan Jenis pekerjaan respon khususnya di sepanjang Sun seperti, buruh, wirausaha/ped Mayoritas warga yang tinggal sebagai buruh sebesar 32 %. Peke buruh tidak tetap. Buruh haria

44,00%

responden hampir seragam antara sekolah dasar (SD) pertama (SMP), namun sebagian kecil ada yan Persentase jumlah responden tertinggi berdasarkan tingka

sebesar 50 %, SMP 44 %, dan SMA 6 %. Artiny tinggal disepanjang Sungai Krukut berpendidika

ntase tingkat pendidikan responden dapat dilihat pad

onden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Petogogan dan Pela Mampang Tahun 2011

sponden di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampan Sungai Krukut relatif homogen. Jenis pekerjaanny pedagang, ibu rumah tangga, dan pegawai swasta.

gal di sepanjang Sungai Krukut bermata pencaharia %. Pekerjaan sebagai buruh terbagi dua, buruh tetap da harian biasanya hanya menunggu permintaan orang lai

50,00% 6,00% SD Smp Sma (SD) yang gkat inya, dikan pada Mampang annya asta. ian dan lain

untuk bekerja, seperti buruh setiap pekerjaan dapat dilihat p

Sumber: Data primer (diolah) Gambar 7. Sebaran Respon

Petogogan dan P

5.4.6. Tingkat Pendapatan Sebesar 60 % dari tota 000 sampai Rp. 1 200 000 pencaharian warga disepanjan kasar, dan pedagang kecil. Mas padat. Distribusi tingkat penda Gambar 8.

Sumber: Data primer (diolah) Gambar 8. Sebaran Respon

Kelurahan Petogogan 28% 12% 6% 60% 16% 4%

uruh bangunan. Perbandingan jumlah responden pad pat dilihat pada Gambar 7.

onden Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Kelurahan n Pela Mampang Tahun 2011

otal responden memiliki pendapatan sebesar Rp. 90 000 per bulan. Hal ini dikarenakan mayoritas ma

jang Sungai Krukut sebagai buruh bangunan, buru Masyarakat hidup dalam pemukiman semi kumuh da t pendapatan responden di dua kelurahan dapat dilihat pad

onden Berdasarkan Tingkat Pendapatan di Petogogan dan Pela Mampang Tahun 2011

32% 20% 2% Buruh Ibu RT Wiraswasta/pedagang Pegawai Swasta Supir lain-lain 20% 60% 4% 500000-800000 900000-1200000 1300000-1600000 1700000-2000000 pada han 900 mata buruh dan at pada

5.4.7. Jarak Tempat Tinggal Normalisasi Sungai Kru di sepanjang sungai. Berdasa tinggal antara 0-8 m dari pingg dari bantaran sungai. Warga yan melakukan penimbunan oleh penyebab sungai menjadi men jarak tempat tinggal dengan pin

Sumber: Data primer (diolah) Gambar 9. Sebaran Respon

Sungai Krukut di Tahun 2011

5.4.8. Kepemilikan Surat Tanah Surat keterangan kep masyarakat. Kepemilikan surat tanah dan bangunannya oleh pem 66 % responden yang memilik 34 % responden tidak memili yang dimiliki responden bera sertifikat.

42% 18%

ggal dengan Sungai

Krukut akan menyebabkan tergusurnya tempat tinggal Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap warga yan

pinggir sungai, sebesar 42 % tinggal pada jarak 2.1-4 a yang tinggal 0-1.5 m dari bantaran sungai rata-ra oleh tanah/batuan. Hal ini merupakan salah sat menyempit. Persentase jumlah responden berdasarka

pinggir sungai dapat dilihat pada Gambar 9.

onden Berdasarkan Jarak Tempat Tinggal Dari Krukut di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang

Tanah

kepemilikan tanah sangatlah penting dimiliki oleh surat keterangan berfungsi dalam proses ganti ru oleh pemerintah. Berdasarkan hasil wawancara sebanya

iliki surat keterangan kepemilikan tanah dan sebanya iliki surat keterangan tanah. Surat kepemilikan tana beragam, mulai dari girik, segel, akta jual beli, da

34% 42% 6% 0-2 m 2,1-4 m 4,1-6 m 6,1-8 m ggal yang 4 m rata satu asarkan oleh rugi banyak banyak anah dan

46 5.4.9. Jenis Bangunan

Jenis bangunan rumah di lokasi penelitian beragam, mulai non-permanen, semi non-permanen, dan permanen. Pengkategorian jenis bangunan sangatlah penting karena berpengaruh terhadap nilai ganti rugi yang diberikan pemerintah. Sesuai dengan Perpres No.36 Tahun 2005 pasal 12, menyatakan bahwa ganti rugi dalam rangka pengadaan tanah diberikan untuk hak atas tanah, bangunan, tanaman, dan benda lain yang berkaitan dengan tanah. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 76 % berupa rumah permanen dan 24 % berupa rumah semi permanen.

47 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Mengkaji Gambaran Desain dan Manfaat Normalisasi Sungai