Hard Coral Stasiun 10
5.3.2. Kondisi Terumbu Karang di Teluk Balikpapan
Hasil survei terhadap keberadaan terumbu karang di dalam perairan Teluk Balikpapan berdasar pada KKP3K RZWP3K Provinsi Kalimantan Timur, secara garis besar menunjukkan sangat minim terdapat komunitas terumbu karang di kawasan ini, sebagian besar lokasi yang diamati memiliki profil dasar perairan yang tertutupi oleh lapisan lumpur tebal maupun alga, kemudian, terumbu karang yang berhasil teramati pada kawasan ini hanyalah merupakan koloni-koloni karang yang tersebar dalam kelompok-kelompok kecil sehingga
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
95 tidak membentuk suatu hamparan terumbu. Sebagian besar dasar perairan di dalam lokasi pengamatan berupa batuan padat yang merupakan bagian dari daratan di atasnya. Bentuk dasar batuan ini umumnya teramati pada dasar perairan yang terjal atau berupa tebing sementara pada dasar perairan yang lebih landai didominasi oleh bentuk dasar berpasir. Gambar 5.67 menunjukkan kondisi tebing batu di pinggiran pulau dan Gambar 5.68 menunjukkan kondisi dasar atau tebing batuan dalam perairan.
Gambar 5.65. Sebaran Pulau-pulau Kecil Teluk Balikpapan
Kedua profil dasar perairan ini, baik batuan maupun pasir sebenarnya merupakan penyokong yang baik untuk rekruitmen hewan karang, namun karena besarnya beban kekeruhan dan sedimentasi pada perairan Teluk Balikpapan, sehingga dasar perairan yang teramati sangat dominan terlapisi oleh lumpur tebal. Gambar 5.68 menunjukkan kondisi dasar perairan berupa pasir dan lumpur. Kelompok Kerja Erosi dan Sedimentasi (2002) dan Sinaga dkk (2013) menjelaskan bahwa sistem aliran dalam Teluk Balikpapan terganggu oleh besarnya konsentrasi kekeruhan dan beban sedimentasi sebagai akibat terutama dari perkembangan dan konversi lahan untuk keperluan industri, pemukiman, pertambangan, perkebunan, dan sebagainya.
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
96 Gambar 5.66. Peta Ekosistem Karang Teluk Balikpapan
Beban kekeruhan yang teramati di kolom perairan memberikan efek negatif terhadap keberadaan terumbu karang baik secara langsung maupun tidak langsung. Beban kekeruhan yang juga berhubungan erat dengan tingkat sedimentasi tinggi menyebabkan hambatan terhadap penempelan / rekruitmen hewan karang pada objek keras dalam air. Meskipun terdapat koloni-koloni karang yang telah berhasil menempel bahkan berkembang, maka gangguan dari jatuhan substrat halus dapat menutupi polip-polip karang, yang pada tingkat tertentu dapat menyebabkan kematian pada koloni karang. Selain itu, kekeruhan yang merupakan partikel-partikel padatan terlarut dalam kolom air akan menyebabkan terhalangnya penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga menurunkan intensitas cahaya yang diterima oleh organisme karang. Cahaya matahari merupakan faktor penting terhadap keberadaan terumbu karang sehubungan dengan proses fotosintesis yang penting dalam tubuh karang yang dilakukan oleh simbion zooxanthellae. Kemudian saat partikel padatan tersebut mulai terendap dan jatuh pada tubuh karang maka dapat menutupi polip hingga mengubur struktur karang tersebut (Rogers 1990; Fabricius 2005; Erftemeijer et al 2012). Kegiatan manusia yang cukup besar di kawasan Teluk Balikpapan memberikan kemungkinan besar akan aliran limbah organik ke dalam perairan.
Karenanya, secara tidak langsung beban kekeruhan yang kemungkinan besar mengandung bahan organik ini akan memicu pertumbuhan alga, yang pada akhirnya akan menjadi penghambat rekruitmen dan pengganggu
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
97 perkembangan terumbu karang. Gambar 5.67 menunjukkan hamparan alga pada dasar perairan terutama pada sekitar pinggiran pulau yang dangkal.
Kemudian, pada titik hadirnya koloni karang baik jenis karang keras maupun lunak, sebagian besar teramati tumpang tindih dengan kehadiran sponge yang jauh lebih dominan. Gambar 5.68 menunjukkan tutupan sponge pada dasar perairan. Keberadaan sponge juga dapat bersifat mengganggu perkembangan koloni karang sebagaimana halnya alga. Sponge sendiri dikenal memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, terutama pada kondisi perairan yang hangat (Koopmans & Wijffels 2008; Runzel 2016) dan merupakan satu diantara kompetitor utama terhadap koloni karang dalam penempatan ruang (Diaz & Rutzler 2001; Rossi et al 2015; Raj et al 2018). Pada beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sponge seringkali tumbuh di atas hingga menutupi koloni-koloni karang bahkan biota bentik lainnya (Porter &Targett 1988; Pawlik et al 2007;
Fonnegra et al 2008; de Voogd et al 2004).
Koloni karang yang ditemukan dalam kawasan konservasi Teluk Balikpapan (KKP3K RZWP3K Propinsi Kalimantan Timur) hanya berbentuk koloni-koloni kecil yang tumbuh pada kisaran kedalaman yang sempit terutama sekitar kedalaman 1-2,5 meter. Gambar 5.69 menunjukkan A) keberadaan koloni-koloni karang yang hanya hadir di sekitar puncak batuan di dasar perairan atau lokasi yang dangkal sementara B) pada lokasi/tubir yang lebih dalam hanya berupa dasar perairan kosong yang berlumpur. Koloni-koloni karang yang teramati sebagian besar tidak berkelompok atau tersebar dalam spot-spot kecil sehingga tidak membentuk suatu hamparan terumbu. Jumlah lokasi atau titik yang diduga berpotensi memiliki terumbu karang secara keseluruhan berjumlah 25 titik. Setelah dilakukan ground-check dan pengamatan pada seluruh titik tersebut, ditemukan koloni-koloni karang hidup pada 14 titik.. Sebaran titik-titik pengamatan yang menunjukkan ada tidaknya koloni-koloni karang ditunjukkan dalam Tabel 5.29 dan Gambar 5.70.
Tabel 5.29. Hasil survey ada-tidaknya koloni karang pada masing-masing titik pengamatan.
No Nama Titik Pengamatan Koordinat Ada-tidaknya
koloni karang
1 Sabut 1 S.01o 02’ 44.4” E.116o 44’ 13.0” Tidak ada
2 Sabut 2 S.01o 04’ 07.1” E.116o 43’ 38.0” Tidak ada
3 Benawa Kecil 1 S.01o 04’ 16.0” E.116o 43’ 55.6” Tidak ada
4 Benawa Besar 1 S.01o 04’ 49.6” E.116o 43’ 38.2” Ada
5 Benawa Besar 2 S.01o 04’ 49.3” E.116o 43’ 38.2” Ada
6 Benawa Besar 3 S.01o 05’ 10.4” E.116o 43’ 27.0” Tidak ada
7 Batu Payau S.01o 05’ 52.0” E.116o 43’ 06.7” Tidak ada
8 Balang 1 S.01o 06’ 33.7” E.116o 43’ 13.5” Tidak ada
9 Balang 2 S.01o 06’ 30.2” E.116o 43’ 13.1” Ada
10 Balang 3 S.01o 06’ 29.6” E.116o 43’ 14.5” Ada
11 Balang 4 S.01o 07’ 54.7” E.116o 43’ 51.7” Tidak ada
12 Balang 5 (Batu Jembatan) S.01o 07’ 33.4” E.116o 43’ 04.2” Ada
13 Cempa 1 S.01o 07’ 32.5” E.116o 42’ 58.2” Ada
14 Cempa 2 S.01o 07’ 32.0” E.116o 42’ 58.4” Ada
15 Cempa 3 S.01o 07’ 37.9” E.116o 42’ 55.6” Ada
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
98
No Nama Titik Pengamatan Koordinat Ada-tidaknya
koloni karang 16 Cempa 4 (Pulau Kecil sebelah
baratdaya P. Cempa)
S.01o 07’ 40.8” E.116o 42’ 53.9” Ada
17 Batu Ilir 1 S.01o 07’ 38.4” E.116o 42’ 48.7” Ada
18 Datuk 1 S.01o 07’ 43.5” E.116o 42’ 59.2” Ada
19 Datuk 2 S.01o 07’ 47.4” E.116o 43’ 04.8” Tidak ada
20 Datuk 3 S.01o 07’ 47.3” E.116o 43’ 04.3” Tidak ada
21 Datuk 4 S.01o 07’ 51.8” E.116o 43’ 04.6” Tidak ada
22 Datuk 5 (Batu Buaya) S.01o 07’ 50.5” E.116o 42’ 47.1” Tidak ada
23 Datuk 6 S.01o 07’ 52.8” E.116o 42’ 47.3” Ada
24 Datuk 7 S.01o 08’ 02.7” E.116o 42’ 43.7” Ada
25 Selumut 1 S.01o 08’ 04.8” E.116o 42’ 45.6” Ada
Sumber: Data Primer, 2022.
Berdasarkan hasil pengenalan jenis terhadap koloni-koloni karang keras yang terdokumentasi ditemukan sebanyak 8 (delapan) genera karang keras, yaitu Porites, Montipora, Favia, Favites, Symphyllia, Goniopora, Fungia dan Turbinaria (Gambar 5.71-5.79)
Koloni karang keras yang teramati sebagian besar memiliki bentuk pertumbuhan berupa bongkahan padat atau disebut lifeform massive. Bentuk lifeform dominan ini terutama merupakan karang jenis Porites dan Favia. Bentuk-bentuk lifeform yang teramati di lokasi studi adalah: 1) masif yang ditunjukkan oleh jenis Porites, Favia, Favites, Symphyllia dan Goniopora; 2) merayap atau encrusting ditunjukkan oleh jenis Porites, Montipora, dan Symphyllia; 3) Lempengan padat (massive plate) hingga seperti lembaran daun (foliose) ditunjukkan oleh jenis Montipora dan Turbinaria; dan 4) karang piring atau jamur (mushroom) yang ditunjukkan oleh jenis Fungia.
Varian lifeform yang cenderung sedikit atau monoton tersebut mengindikasikan adanya tekanan lingkungan yang besar sehingga koloni-koloni karang yang ada hanyalah merupakan yang mampu beradaptasi atau bertahan. Lifeform masif, merayap dan jamur secara umum merupakan bentuk adaptasi yang baik terhadap sedimentasi, sementara lifeform merayap dan lempengan atau lembaran daun merupakan bentuk adaptasi terhadap beban kekeruhan yaitu melalui pertumbuhan yang melebar sehingga memaksimalkan penerimaan cahaya matahari (Rogers 1990; Chadwick-Furman & Loya, 1992; Kramarsky-Winter & Loya 1996; Edinger & Risk 2000; Hoeksema 2004; Todd et al 2004; Bongaerts dkk 2012;
Hoeksema & de Voogd 2012; Hoeksema & Bongaerts 2016).
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
99 Gambar 5.67. Kondisi pinggiran pulau yang berupa batu
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
100
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
101 Gambar 5.68. Dasar perairan dengan dominan pasir hingga lumpur
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
102 Gambar 5.69. Kondisi tebing batu dalam perairan
Gambar 5.70. Dasar perairan dengan dominan pasir hingga lumpur
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
103 Gambar 5.71. Tutupan sponge pada dasar perairan
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
104 Gambar 5.72. Keberadaan algae pada dasar perairan
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
105 Gambar 5.73. Koloni karang pada puncak batu atau dasar perairan dangkal dengan kedalaman sekitar 1m
(ditunjukkan oleh tiga gambar di baris atas) dan kondisi pinggiran/tubir batu yang kosong dan berlumpur tanpa adanya koloni karang (ditunjukkan oleh dua gambar di baris bawah).
Sumber data: hasil survey lapangan (5-7 Juli 2022) Peta dasar: Google Earth Satellite Imagery (Online accessed: 9 July 2022)
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
106 Gambar 5.74. Sebaran titik pengamatan karang. Lokasi ditemukannya koloni karang ditandai dengan
bendera warna hijau, sementara lokasi tidak ditemukannya koloni karang ditandai bendera warna merah.
Gambar 5.75. Koloni karang Porites.
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
107 Gambar 5.76. Koloni karang Montipora.
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
108 Gambar 5.77. Koloni karang Favia.
Gambar 5.78. Koloni karang Favites.
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
109 Gambar 5.79. Koloni karang Symphyllia.
Gambar 5.80. Koloni karang Goniopora (depan) dengan lapisan sponge (belakang)
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
110 Gambar 5.81. Koloni karang Fungia.
Gambar 5.82. Koloni karang Turbinaria.
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
111 5.3.3. Kondisi Ikan Karang di KKP3K
Keberadaan terumbu karang di KKP3K Teluk Balikpapan berdasar hasil survey menunjukkan bahwa karang yang ditemukan tidak dapat dinyatakan sebagai terumbu karena hanya berupa spot kecil yang tidak dapat dilakukan penilaian kondisinya. Selain kecilnya spot yang ditemukan, keberadaan hewan reptile berbahaya berupa buaya merupakan kendala tersendiri yang harus mendapat perhatian besar dari tim survey.
Kendala lain yang dihadapi adalah karakteristik perairan yang cenderung keruh. Hal ini menjadi perhatian tersendiri mengingat perairan yang cukup keruh akan membatasi jarak pandang di dalam air. Kekeruhan yang terjadi diperkirakan terjadi karena masuknya sedimen dari sungai yang bermuara ke Teluk Balikpapan.
Keadaan ini juga menyebabkan penumpukan sedimen di dasar perairan. Kondisi lain yang juga menjadi kendala pengambilan data lapangan adalah arus perairan. Seperti dikatakan sebelumnya terdapat penumpukan sedimen, ditambah dengan arus perairan yang juga mengakibatkan kekeruhan karena proses pengadukan dasar perairan.
Keterbatasan dan kendala yang dihadapi di lapangan menjadi penghambat terbesar bagi tim untuk melakukan pengambilan data secara maksimal sesuai prosedur dan standar ilmiah. Berdasar hal tersebut, tim survey menggunakan metode alternative untuk tetap dapat melakukan survey dan mengambil data lapangan secara optimal. Metode alternative yang digunakan adalah menggunakan CCTV bawah air. Dengan menggunakan CCTV bawah air, tim survey tetap dapat melihat secara langsung keberadaan ikan karang sebagai bagian asosiasi tutupan dasar perairan berupa spot terumbu karang. Meskipun kondisi dasar perairan dapat terlihat dengan CCTV bawah air, CCTV yang digunakan tidak memiliki fasilitas untuk merekam video yang terlihat. Dengan demikian tim menggunakan kamera tambahan untuk merekam video yang terlihat pada layar CCTV bawah air.
Secara keseluruhan, pengamatan terhadap ikan karang dilakukan pada seluruh daerah dimana pengamatan terhadap spot terumbu karang dilakukan. Berdasar hasil perekaman pada beberapa spot karang tidak terlihat keberadaan ikan karang. Ikan karang hanya terlihat pada beberapa spot karang yang memiliki perairan yang cukup jernih karena daerah tersebut cukup terlindung dari arus sehingga tidak terjadi pengadukan. Ikan karang yang tersaji merupakan hasil interpretasi dari keseluruhan spot, mengingat keterbatasan data yang dimiliki untuk melakukan analisis lanjutan terhadap ikan karang. Hasil identifikasi ikan karang secara keseluruhan adalah sebagai berikut.
Tabel 5.30. Jenis ikan hasil identifikasi menggunakan CCTV bawah air pada seluruh lokasi survey KKP3K Teluk Balikpapan
No. Nama Ikan (Genus) Keterangan (Sumber)
1. Apogon Mayor Capture video
2. Caesio Target Capture video
3. Chelmon mayor Capture video
4. Escenius Mayor Capture video
5. Lutjanus Target Capture video
6. Parapercis Mayor Capture video
7. Saurida Mayor Capture video
8. Scolopsis Target Capture video
9. Siganus Target Capture video
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
112
No. Nama Ikan (Genus) Keterangan (Sumber)
10 Synodus Mayor Capture video
11. Thalassoma Mayor Capture video
12. Valencienna Mayor Capture video
13. Halichoeres Mayor Foto hasil pancing ulur (handline)
Sumber : Data Primer, 2022
Secara keseluruhan teridentifikasi 13 genera ikan yang ditemukan pada sekitar daerah spot karang yang di survey sebagai bagian KKP3K Teluk Balikpapan. Berdasar jenisnya, ditemukan 9 jenis ikan mayor, 4 ikan target dan tidak ditemukan ikan indikator. Ikan mayor merupakan ikan yang sepanjang hidupnya selalu berada di sekitar karang atau terumbu karang. Ikan ini memanfaatkan fungsi ekologis karang atau terumbu karang sebagai feeding ground, nursery ground, spawning ground. Ikan-ikan ini umumnya berukuran kecil dan biasanya ditemukan bergerombol atau berkelompok. Ikan target merupakan ikan bernilai ekonomis yang juga ditemukan disekitar karang atau terumbu karang. Ikan ini umumnya memanfaatkan karang atau terumbu karang sebagai feeding ground dan nursery ground. Ikan-ikan ini umumnya berukuran cukup besar dan umumnya menjadi target tangkapan nelayan baik yang menggunakan pancing ulur/handline maupun yang menggunakan alat tangkap lainnya. Hal ini juga terlihat saat survey dilakukan dimana terlihat cukup banyak aktivitas penangkapan yang dilakukan pada daerah spot karang yang ada. Ikan indikator merupakan ikan karang yang khas mendiami daerah terumbu karang dan menjadi indicator kesuburan ekosistem daerah tersebut. Ketiadaan ikan indikator pada keseluruhan spot yang dilakukan pengambilan data/survey, juga menunjukkan bahwa spot karang atau spot terumbu karang yang ditemukan pada wilayah KP3K Teluk Balikpapan berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan karena tekanan perubahan lingkungan perairan.
Perubahan lingkungan yang terjadi juga mempengaruhi kondisi perairan sebagai penyokong utama kehidupan karang.
Asumsi lain yang juga dimungkinkan adalah keterbatasan jarak pandang yang dimiliki oleh CCTV bawah air. Dimana hal ini secara umum disebabkan karena air yang cukup keruh sehingga mempersulit CCTV bawah air untuk mampu mengenali objek pada jarak yang cukup jauh. Selain itu juga diperkirakan karena tingkah laku ikan yang cenderung menjauhi keberadaan benda asing di dalam air, sehingga jumlah dan jenis ikan yang terlihat sangat minim. Hasil dokumentasi ikan karang secara keseluruhan yang terlihat oleh CCTV bawah air tersaji pada gambar berikut.
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
113 Gambar 5.83. Ikan dari genus Apogon
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
114 Gambar 5.84. Ikan dari genus Caesio
Gambar 5.85. Ikan dari genus Chelmon
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
115 Gambar 5.86. Ikan dari genus Eschenius
Gambar 5.87. Ikan dari genus Lutjanus
Gambar 5.88. Ikan dari genus Parapercis
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
116 Gambar 5.89. Ikan dari genus Saurida
Gambar 5.90. Ikan dari genus Scolopsis
Gambar 5.91. Ikan dari genus Siganus
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
117 Gambar 5.92. Ikan dari genus Synodus
Gambar 5.93. Ikan dari genus Thalassoma
Gambar 5.94. Ikan dari genus Valencienna
Hal V -
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU PULAU KECIL (KKP3K) TELUK BALIKPAPAN
118 Gambar 5.95. Ikan dari genus Halichoeres
Berdasar hasil informasi yang diperoleh dari nelayan juga dimungkinkan ditemukannya ikan dari jenis Chlorurus dan Scarus. Hal ini diperoleh dari informasi nelayan yang menangkap ikan menggunakan alat tangkap bubu (trap) yang diletakkan pada daerah sekitar spot karang yang ada. Akan tetapi selama pengamatan dengan CCTV bawah air dilakukan, tidak terlihat keberadaan jenis ikan-ikan tersebut.
Minimnya data jenis ikan yang diperoleh saat survey dilakukan memunculkan pertanyaan mengenai jenis ikan karang yang hidup disekitar spot karang yang ada termasuk kelimpahan jenis dari masing-masing ikan karang. Sehingga sangat perlu dilakukan survey bawah air oleh penyelam dengan menggunakan standar pengamanan yang maksimal untuk dapat mengambil data secara langsung pada spot karang yang ada. Hal ini tentu juga harus sangat memperhatikan aspek keselamatan penyelam dimana keberadaan biota berbahaya yang terlihat cukup banyak pada sekitar wilayah yang memang menjadi focus survey bagi pengembangan kawasan KKP3K Teluk Balikpapan. Survey bawah air dapat dilakukan dengan pengamanan maksimal untuk memperoleh data secara optima dengan tetap menjadikan aspek keselamatan penyelam sebagai prioritas utama.