• Tidak ada hasil yang ditemukan

Provinsi Maluku Utara terbentang antara 03000’00” Lintang Utara sampai 03000’00” Lintang Selatan dan antara 124000’00” Bujur Barat sampai 129000’00” Bujur Timur. Wilayah provinsi ini merupakan kesatuan dari gugusan pulau besar dan kecil dengan batasan-batasan sebagai berikut :

Ø Sebelah Selatan berbatasan dengan laut Seram dan Laut Banda Ø Sebelah Utara berbatasan dengan samudera Pasifik

Ø Sebelah Barat berbatasan dengan laut Maluku Ø Sebelah Timur berbatasan dengan laut Halmahera

Luas wilayah Maluku Utara mencapai 140 255.36 km2, terdiri dari luas perairan laut sekitar 106 977.32 km2 atau 77% dan luas daratannya 33 278.04 km2 atau 23 % dari luas wilayahnya secara keseluruhan. Gugusan kepulauan Maluku Utara terdiri dari kepulauan Halmahera, Morotai, Bacan, Gane, Obi, dan kepulauan Sula. Namun demikian, secara keseluruhan kepulauan ini terdiri merupakan gugusan dari 500 buah pulau. Sedangkan administrasi wilayah propinsi Maluku Utara sesuai UU No.49 tahun 1999, wilayah provinsi Maluku Utara, meliputi kabupaten Maluku Utara, kabupaten Halmahera Tengah dan kota Ternate.

4.2 Karakterisitik Wilayah 4.2.1 Karakteristik iklim

Kondisi wilayah penelitian dipengaruhi oleh iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 1.000 – 2.000 mm per tahun. Kelembaban nisbi rata-rata yang tercatat pada Stasiun Meteorologi Babullah Ternate (1997) diacu dalam Dinas Perikanan dan Kelautan (2004) adalah 71% (lower) pada bulan Agustus dan 87% (higher) pada bulan Februari.

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson wilayah Maluku Utara beriklim tipe A dan B, sedangkan menurut klasifikasi Koppen adalah bertipe A. Secara umum dipengaruhi oleh 4 musim, yaitu musim Utara atau Barat dan musim Selatan atau Timur dan 2 musim peralihan. Akibat dari pengaruh kondisi iklim yang terjadi, menyebabkan wilayah Maluku Utara mengalami musim

penghujan antara bulan Desember-Februari, musim barat pada bulan Oktober- Maret dan musim pancaroba pada bulan April. Musim Selatan pada bulan April- Nopember yang diselingi oleh angin Timur dan pancaroba.

Data Stasiun Meteorologi Babullah Ternate pada tahun 2004 menunjukkan bahwa musim hujan jatuh pada bulan Desember-Mei dengan jumlah curah hujan tertinggi pada bulan April (336 mm) dan jumlah hari hujan 11-21 hari. Suhu udara maksimum berkisar 29.5-32.30C dan suhu minimum berkisar 22.1-24.10C dengan suhu rata-rata 26.60C. Kelembaban nisbi berkisar 75-87% dengan rata -rata 80.3%.

Persentase penyinaran matahari rata -rata berkisar 37% (F ebruari)-97% (Agustus). Kecepatan angin pada bulan Nopember -Mei bertiup dari arah Barat Daya dengan kecepatan maksimum 24 knot, bulan Juni-September bertiup angin dari arah Selatan dengan ke cepatan maksimum 21 knot (Tabel 1).

Tabel 1 Karakteristik iklim di wilayah penelitian

Hari Hujan

(hari) Suhu Maks (

0 C)

Suhu Min (

0 C)

Kec. Angin Mak

s (knot)

Kec. Angin Rata

2 (knot)

Arah Angin (“)

Bulan

Curah Hujan (mm) Suhu Rata

2 ( 0 C)

Kelembaban Nisbi (%) Penyinaran Matahari Rata

-rata Jan 159 21 30,2 24,0 26,4 84 19 4 330 56 Peb 351 21 29,5 23,0 26,1 87 24 8 320 37 Mar 100 11 30,9 23,6 26,9 82 20 6 300 81 Apr 336 18 30,9 23,4 26,5 85 17 4 320 69 Mei 291 14 31,1 23,2 26,8 82 17 3 320 81 Juni - 3 32,0 23,0 27,0 75 15 4 170 91 Juli 157 18 30,3 23,9 26,7 79 17 5 170 55 Agus - - 31,0 22,4 26,3 71 21 6 160 97 Sep 15 3 31,1 22,1 26,1 77 15 4 180 85 Okt 6 4 32,0 22,6 26,7 79 13 4 100 78 Nop 15 16 32,2 23,3 26,8 81 15 3 320 65 Des 92 14 31,0 24,1 27,1 82 20 5 320 70

4.2.2 Krakteristik oseanografi

Perairan Maluku Utara secara langsaung berbatasan dengan laut lepas, sehingga kondisi yang ter jadi di perairan ini dipengaruhi oleh karakteristik perairan yang berbatasan dengan wilayah perairan Maluku Utara. Beberapa laut yang mempengaruhi secara langsung perairan Maluku Utara adalah laut Maluku, Seram dan lautan Pasifik. Selain memiliki topografi yang landai sampai terjal, perairan Maluku Utara terdapat berbagai palung yang dalam. Kedalaman perairan Maluku Utara mulai dari daerah inshore sampai pada daerah offshore adalah 200- 700 m. Sedangkan pada daerah atau perairan pantai yang terlindung dan memiliki topografi yang landai terutama pada kawasan pulau-pulau kecil kedalamannya tidak lebih dari 200 meter.

Kondisi parameter oseanografi perairan Maluku Utara tidak jauh berbeda dengan perairan tropis lainnya, kondisi ini bisa terjadi secara harian, tahunan dan jangka panjang. Kondisi pasang surut bergantung pada tipe pasang surut yang terjadi di perairan tersebut, terutama di perairan yang kedalamannya dangkal (inshore), sedangkan untuk pergerakan arus dan gelombang bergantung pada topografi pulau.

Pasang surut yang terjadi di perairan pantai Maluku Utara adalah tipe pasang diurnal, yaitu pergerakan naik turunya permukaan air laut pada interval waktu yang sama antara siang dan malam. Selanjutnya pergerakan arus yang berlangsung menurut skala waktu dapat dibedakan menjadi arus musiman akibat perubahan musim, yaitu Barat dan Timur dan arus harian yang dipengaruhi oleh pergerakan pasang surut. Data Dishidros TNI-AL (1992) diacu dalam Dinas Perikanandan Kelautan (2004) kecepatan arus tertinggi terjadi di Selat Capalulu mencapai 90 mil/jam, sedangkan arus lokal bervariasi pada saat arah angin menuju Timur Laut sampai Tenggara dan ke arah Selatan sampai Barat dengan variasi antara 1-45 cm/detik.

Parameter oseanografi penting lainnya adalah gelombang, informasi mengenai kondisi gelombang dapat memprediksikan kondisi perairan dan aktifitas di laut termasuk aktifitas perikanan tangkap.

Variasi pergerakan gelombang berdasarkan data Dishidros TNI-AL (1992) dan LON-LIPI Ambon (1994) diacu dalam Dinas Perikanan danKelautan (2004)

gelombang besar terjadi pada bulan September-Desember dengan ketinggian mencapai 1.50 – 2.00 m.

4.3 Kondisi Umum Perikanan Pelagis 4.3.1 Potensi sumberdaya perikanan pelagis

Perairan Maluku Utara merupakan daerah distribusi ikan pelagis maupun ikan demersal. Kondisi ini secara nyata ditunjukkan oleh data potensi perikanan dan kelautan yang memiliki potensi sumberdaya sebesar 484.382.48 ton/tahun yang terdiri dari potensi ikan pelagis sebesar 315 000 ton/tahun atau 65.03% dan potensi sumberdaya ikan demersal sebesar 169.382,48 ton/tahun atau 34.97%.

Produksi perikanan pelagis besar meliputi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis), ikan tuna (Thunnus spp). Sedangkan produksi perikanan pelagis kecil meliputi ikan layang (Decapterus spp), tongkol (Auxis thazard), kembung (Rastralliger spp), selar (Selaroides spp) dan julung-julung (Hemirhampus spp). Walaupun demikian, masih terdapat juga beberapa perikanan pelagis kecil lainnya yang dimanfaatkan oleh nelaya n tradisional yang memiliki produktivitas yang rendah.

Data Dinas Perikanan dan Kelautan (2005) Provinsi Maluku Utara menggambarkan pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis khususnya dengan alat tangkap pukat cincin (mini purse seine) di perairan Maluku Utara selama 10 tahun (tahun 1995– 2004) memiliki produksi rata-rata mencapai 15.352,87 ton dengan produksi tertinggi pada tahun 2004 sebesar 18.677,060 ton.

Tabel 2 Produksi perikanan pelagis kecil di perairan Maluku Utara antara tahun 1995-2004

Tahun Produksi (ton) Produksi (kg)

1995 12.834,800 12.834.800 1996 13.113,200 13.113.200 1997 13.439,100 13.439.100 1998 14.283,600 14.283.600 1999 14.590,100 14.590.100 2000 15.422,700 15.422.700 2001 16.251,600 16.251.600 2002 16.754,500 16.754.500 2003 18.153,060 18.153.060 2004 18.677,060 18.677.060

4.3.2 Potensi sarana dan prasarana perikanan pelagis

Sarana atau unit penangkapan adalah kesatuan teknis dalam suatu operasi penangkapan yang biasanya terdiri dari perahu/kapal dan alat tangkap. Armada penangkapan adalah perahu/kapal yang secara langsung dioperasikan dalam operasi penangkapan ikan. Sedangkan alat tangkap adalah unit teknis yang dipakai secara langsung untuk melakukan operasi penangkapan. alat yang digunakan untuk menangkap ikan atau hewan air lainnya dengan teknik tertentu sesuai jenis alat tangkap yang digunakan dalam operasi penangkapan.

Unit armada dan alat tangkap yang dioperasikan di perairan Maluku Utara dalam operasi penangkapan ikan pelagis kecil adalah perahu tanpa motor (PTM) dan perahu motor tempel (PMT). Sedangkan unit alat tangkap diantaranya mini purse seine, gill net, bagan, dan pancing tangan. Semua jenis armada dan alat tangkap yang digunakan memiliki jangkauan dan kemampuan yang masih terbatas, karena ukuran yang relatif kecil dan terbatas.

Sampai dengan tahun 2004 unit armada penangkapan yang beroperasi dalam kegiatan penangkapan ikan pelagis kecil sebanyak 1.926 unit, terdiri dari perahu tanpa motor sebanyak 1.264 unit dan perahu motor tempel sebanyak 662 unit (Tabel 3).

Tabel 3 Jenis armada,volume, dan jumlah unit armada penangkapan ikan pelagis kecil di perairan Maluku Utara.

Jenis armada Volume Jumlah Persentase No penangka[pan (unit)_ (%)

1 Perahu Tampa Motor (PTM) < GT 1.264 65,63 2 Perahu Motor Tempel (PMT) > 5 GT 662 34,38

J u m l a h - 1.926 -

Sumber: Dinas perikanan provinsi Maluku Utara 2005

Selanjutnya jumlah unit penangkapan pukat cincin (min i purse seine) yang dioperasikan oleh nelayan dalam operasi penangkapan ikan pelagis kecil di perairan Maluku Utara sela ma 10 tahun terakhir (1995–2004) mengalami fluktuasi, hingga tahun 2004 unit pukat cincin (mini purse seine)sebanyak 202 unit. Perkembangan jumlah unit penangkapan pukat cincin (mini purse seine dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Jumlah pukat cincin (mini purse seine) di Maluku Utara tahun 1995- 2004

N0 Tahun Jumlah alat tangkap (unit)

1 1995 148 2 1996 169 3 1997 174 4 1998 164 5 1999 153 6 2000 192 7 2001 180 8 2002 184 9 2003 158 10 2004 202

Sumber: Dinas perikanan provinsi Maluku Utara 2005 4.3.3 Kelembagaan nelayan dan koperasi nelayan

Penguatan kelembagaan di bidang perikanan dan kelautan merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas usaha dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan di propinsi Maluku Utara. Sampai dengan tahun 2004 jumlah nelayan sebanyak 36 984 orang atau 4.4 % dari total jumlah penduduk Maluku Utara. Dari jumlah tersebut tergabung dalam 320 kelompok usaha bersama (KUB) dengan jumlah kelompok antara 5 – 7 orang, dengan demikian jumlah nelayan yang tergabung dalam kelompok usaha berjumlah 533 orang.

Kelembagaan perikanan yang penting lainnya adalah koperasi perikanan, terdiri dari koperasi primer dan sekunder. Dari 30 koperasi nelayan yang ada memiliki jumlah anggota sebanyak 2. 836 orang atau 7.7 %, sedangkan koperasi sekunder berjumlah 2 koperasi, yaitu Pusat Koperasi Perikanan Kie raha di kecamatan Bacan dan Pusat Koperasi Sonyinga Bahari di kecamatan Tidore. 4.3.4 Perusahaan perikanan

Kondisi iklim usaha akibat konflik yang terjadi belakangan ini, mengakibatkan optimalisasi sumberdaya perikanan di propinsi Maluku Utara masih sangat rendah. Ini terjadi akibat berpindahnya beberapa perusahaan yang telah beroperasi di wilayah propinsi Maluku Utara. Selain itu kegiatan perikanan tangkap masih terkonsentrasi pada beberapa kawasan tertentu.

Jenis-jenis usaha yang dilakukan oleh perusahaan perikanan di provinsi Maluku Utara meliputi; usaha pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, pemijahan, pembesaran dan penangkapan. Hingga tahun 2001 terdapat 20 usaha

swasta, 1 BUMN dan 4 koperasi perikanan. Semua kegiatan pada bidang usaha perikanan dan kelautan ini telah dilengkapi dengan izin usaha perikanan (IUP) dengan jumlah IUP sebanyak 100, untuk usaha yang berbadan hukum.

4.3.5 Pengembangan kemitraan

Pola kemitraan yang dilaksanakan di propinsi Maluku Utara, merupakan Pola Inti Plasma, yaitu pola kemitraan yang dilakukan oleh beberapa perusahaan yang beroperasi di wilayah ini. Adapun perusahaan yang telah melakukan pola kemitraan ini adalah sebagai berikut :

Ø PT. Usaha Mina (Persero) Cabang Pulau-pulau Bacan, Ø PT. Ocean Mitramas Unit Operasi Maluku,

Ø PT. Bangun Karya Citra Sejati, dan Ø PT. Prima Reva Indo

Pola kemitraan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan skala usaha dan keberlanjutan usaha, serta produktivitas usaha. Dengan demikian pembinaan usaha dan peningkatan kerjasama antara nelayan dan pengusaha perikanan dapat berjalan sesuai de ngan pola kemitraan yang telah diterapkan di atas.

4.3.6 Pengembangan permodalan

Secara umum nelayan di propinsi Maluku Utara adalah nelayan skala kecil dengan modal yang terbatas, sehingga produktivitasnya menjadi rendah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka Dinas Perikanan dan Kelautan melakukan kegiatan usaha perikanan dengan melaksanakan kegiatan usaha padat modal dan teknologi, yaitu mensosialisasikan Kredit Ketahanan Pangan (KKP) Kelautan dan Perikanan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.KEP.33/MEN/2001 tanggal 8 Juni 2001.

Tindak lanjut dari KEPMEN ini, yaitu menyalurkan kredit investasi dan modal kerja melalui Bank Pelaksana kepada Kelompok Nelayan, Kelompok Petani Ikan, Kelompok Pengusaha Penunjang Perikanan, dan Koperasi Perikanan untuk membiayai kegiatan usahanya.

4.3.7 Pemasaran

Komoditas perikanan dan kelautan propinsi Maluku Utara dipasarkan baik dalam negeri (domestik) maupun luar negeri (ekspor). Pemasaran dalam negeri, yaitu ke Jakarta, Surabaya, Banyuwangi, Makassar, dan Manado, sedangkan yang diekspor, yaitu ke pasar tradisional Jepang, Cina dan Hongkong.

Pemasaran dalam negeri hingga tahun 2004 terdiri dari 13 jenis komoditas dengan jumlah volume produksi sebesar 118.554 ton dengan nilai produksi sebesar Rp.54 544 230 000. Untuk ekspor terdiri dari 7 jenis komoditas antara lain ; kerapu hidup, napoleon hidup, lobster hidup, cakalang beku, tuna beku, ikan beku campuran dan ikan hidup campuran dengan jumlah volume produksi sebesar 1 311.57 ton dengan nilai produksi sebesar US.$.927 442.67.

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Unit Penangkapan Ikan

5.1.1 Kapal

Kapal yang dioperasikan di Maluku Utara untuk kegiatan penangkapan ikan menggunakan tipe dua buah kapal (two boat system) yaitu terdiri atas kapal utama (tipe lambut) yang berfungsi untuk melingkarkan pukat cincin pada saat operasi penangkapan berlangsung dan menarik purse line setelah pelingkaran pukat cincin selesai, dan kapal jhonson (slep) yang berfungsi sebagai tempat hasil tangkapan untuk di bawa ke fishing base. Kedua kapal tersebut terbuat dari bahan kayu. Kapal utama (tipe lambut) di Maluku Utara (Gambar 7), memiliki ukuran berkisar 13,21-17,63 GT dengan panjang (L) antara 12,80-13,90 m, lebar (B) 3,15-3,30 m dan dalam (D) 1,90 -2 m, sedangkan untuk kapal johnson (slep) (Gambar 8) memiliki ukuran 5,82 — 7,40 GT dengan panjang antara 10-11,50 m, lebar 2,50-2,60 dan dalam 1,20-1,30 m. Spesifikasi kapal pukat cincin yang dioperasikan di Maluku Utara dapat dilihat pada Tabe l 5.

Gambar 7 Kapal utama (tipe lambut)

Tenaga penggerak yang digunakan untuk kedua kapal adalah sama yaitu baik kapal utama maupun kapal johnson menggunakan mesin tempel (outboard) masing-masing berjumlah dua buah dengan kekuata n 40 PK yang bermerek

Yamaha (Tabel 5). Tenaga penggerak pada kedua kapal menggunakan bahan bakar campuran yaitu minyak tanah, bensin dan oli.

Tabel 5 Spesifikasi kapal pukat cincin (mini purse seine) di Maluku Utara

N0 Spesifikasi Kapal utama Kapal jhonson

(tipe lambut) (tipe slep)

1 Dimensi utama

a. Panjang (L) 12,80-13,90 m 10-11,50 m

b. Lebar (B) 3,15-3,30 m 2,50-2,60 m

c. Dalam (D) 1,90-2 m 1,20-1,30 m

2 Tonage 13,21-17,63 GT 5,82-7,40 GT

3 Mesin Outboard (Yamaha Outboard (Yamaha

Enduro 40 PK) Enduro 40 PK)

Sumber: Hasil wawancara dengan nelayan 2005

Kapal utama pukat cincin (mini purse seine) di Maluku Utara juga terdapat palkah. Kapasitas dari palkah tersebut dapat memuat hasil tangkapan sekitar 2-3 ton. Palkah ini hanya dipergunakan jika pada saat kegiatan penangkapan memperoleh hasil tangkapan yang banyak dan pada kapal johnson tidak dapat lagi meletakkan hasil tangkapan, namun pada umumnya hasil tangkapan yang diperoleh akan diletakkan pada kapaljohnson. Kapasitas hasil tangkapan untuk kapal johnson berkisar antara 4 – 6 ton.

Perawatan kapal pukat cincin (mini purse seine) biasanya dilakukan setiap bulan pada saat tidak melakukan kegiatan penangkapan, yaitu pada saat bulan purnama. Kapal pukat cincin (mini purse seine) dalam sebulan tidak melakukan kegiatan penangkapan selama 7 -10 hari. Perawatan yang dilakukan meliputi pengecatan atau perbaikan-perbaikan jika kerusakan pada kapal.

5.1.2 Alat tangkap

Pukat cincin (mini purse seine) di daerah Maluku Utara yang menjadi objek penelitian lebih dikenal dengan sebutan pajeko. Alat tangkap pukat cincin ini terdiri dari kantong (bunt), badan jaring, sayap, jaring pada pinggir badan jaring. (selvedge), tali ris atas (floatline), tali ris bawah (leadline), pemberat

(sinkers), pelampung (floats) dan cincin (purse rings).

Panjang pukat cincin yang digunakandi Maluku Utara berkisar antara 200 - 600 dan lebar berkisar 40-60 m. Kantong sebagai tempat berkumpulnya ikan terbuat dari bahan PA 210/D12 dan PA 210/D9 dengan ukuran mesh size 0,75 inci - 1 inci. Badan jaring terbuat dari bahan PA 210/D6, PA 210/D9 dan PA /210/D12 dengan ukuran mesh size sebesar dan 1 inci. Bagian Sayap yang berfungsi sebagai pagar pada waktu penangkapan gerombolan ikan dan mencegah ikan keluar dari bagian kantong, terbuat ari bahan PA 210/D6, PA 210/D9 dan PA 210/D12 dengan ukuran mesh size l,25 inci.

Jaring pada pinggir badan jaring (selvedge) terbuat dari bahan PVA 380/D15 dengan ukuran mata jaring (mesh size) 1 inci yang terdiri dari 3 mata untuk arah ke bawah. Tali ris atas (floatline) terbuat dari bahan PVA dengan panjang 410 m, dan diameter tali sebesar 14 mm, sedangkan tali ris bawah

(leadline) terbuat dari bahan PVA dengan diameter tali sebesar 14 mm yang memiliki panjang 470 m.

Jumlah pemberat dalam satu unit pukat cincin terdin dan 2200 buah, dengan berat 100 gr/buah. Pemberat pada pukat cincin memiliki panjang 2,9 cm dengan diameter tengah 2,8 cm yang terbuat dari bahan timah hitam. Jara k antar pemberat berkisar 10-15 cm. Tali pemberat pada pukat cincin terbuat dari bahan PVA dengan diameter tali 12 mm. Jumlah pelampung dalam satu unit pukat cincin terdiri dari 1100 buah, dengan jarak antar pelampung sekitar 15-20 cm. Pelampung pukat cincin berbentuk elips dengan panjang 12,7 cm dan diameter tengah 9,5 cm yang terbuat dari bahan sintetis rubber.

Jumlah cincin dalam satu unit rata-rata terdiri dari 50 buah. Cincin digunakan oleh nelayan pukat cincin di Maluku Utaraa memiliki diameter lua r 10 cm dan diameter dalam 6,6 cm. Cincin yang digunakan terbuat dari bahan kuningan dengan jarak antar cincin berkisa r 5-110 m. Purse line pada pukat

cincin terbuat dari bahan PVA dengan diameter tali 20 mm yang memiliki panjang 700 m. Desain jaring puka t cincin (mini purse seine) dapat di lihat pada Gambar 9. Keterangan : 1. Tali selembar 2. Pelampung 3. Tali kolor 4. Tali ring 5. Ring 6. Pemberat 7. Selvedge

Gambar 9 Desain jaring pada pukat cincin (mini purse seine) di Maluku Utara 8. Float line

9. Singker line

10.Tali ris atas 11.Tali ris bawah 12.Kantong 13.Sayap

14.Panjang jaring 15.Tinggi jaring

5.1 .3 Nelayan

Nelayan merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam usaha penangkapan di Maluku Utara , terutama dalam mengelola faktor-faktor yang terdapat dalam unit penangkapan sehubungan dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang di daerah tersebut. Kapal pukat cincin dioperasikanoleh nelayan berkisar antara 19– 22 orang. Sebagian besar nelayan yang mengoperasikan pukat cincin merupakan penduduk asli daerah setempat. Sebagai nelayan merupakan mata pencaharian utama dari penduduksetempat, seda ngkan jika pada saat kapal tidak melakukan kegiatan penangkapan yaitu terutama pada saat musim kurang ikan nelayan bekerja sampingan sebagai petani dan memancing.

Pembagian tugas nelayan pukat cincin adalah sebagai berikut:

1. Jurugang laut (1 orang), bertugas sebagai penanggang jawab dalam mengoperasikan kapal utama (lambut) untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan;

2. Juru tawur ( 2 orang), bertugas melempar pukat cincin pada saat proses

setting dilakukan;

3. Juru mesin (2 orang), bertugas dalam masalah mesin baik untuk mesin pada kapal utama maupun kapal jhonson

4. Juru pantau (1 orang), bertugas mendeteksi gerombolan ikan

5. Juru pelampung (2 orang), bertugas mengatur dan merapikan pelampung sebelum dan sesudah melakukan kegiatan penangkapan ikan;

6. Juru pemberat (2 orang), bertugas mengatur dan merapikan pemberat sebelum dan sesudah melakukan kegiatan penangkapan ikan;

7. Nelayan biasa, yang bertugas menarik merapikan dan memperbaiki pukat cincin jika ada kerusakan;

8. Juru mesin kapal jhonson atau slep (1 orang), be rtugas menyiapkan kapalnya untuk tempat penanmpungan ikan hasil tangkapan

9. Juru hasil tangkapan (2 orang), bertugas mengambil hasil tangkapan untuk ditempatkan pada kapal jhonson. dua orang tersebut berada di kapal johnson berasama juru mesin.

Pembagian tugas tersebut sudah menjadi kesepakatan dalam satu unit pukat cincin. Tugas nelayan yang satu dapat dikerjakan juga oleh nelayan yang

lain. seperti pada saat penarikan pukat cincin juru pelampung, juru pemberat dan juru pantau juga melakukan tugas ini.

Nelayan pukat cincin di Maluku Utara terbagi menjadi nelayan pemilik dan nelayan buruh. Nelayan pemilik rata-rata berpendidikan terakhir SMP dan SMA, sedangkan nelayan buruh berpendidikan terakhir dari tingkat SD sampai SMA. Nelayan pemilik umumnya hanya memiliki masing-masing satu unit alat tangkap.

Sistem pembagian hasil yang berlaku dalam pola perikanan pukat cincin di Maluku Utara, dimana setalah di peroleh hasil penjualan (laba kotor) dan setelah di kurangi dengan biaya operasional (pendapatan bersih) kemudian 50% hasil penjualan (laba bersih) menjadi hak pemilik kapal (pemilik usaha), sedangkan 50% sisanya dibagi untuk nelayan, bagian untuk juragan laut (fishing master) 2 bagian dan sering mendapat bonus dari pemilik. bagian untuk juru mesin 1,5 bagian dan untuk nelayan ABK lainnya memperoleh 1 bagian untuk masing- masingnya (Gambar 9 )

Gamabar 10 Sistem bagi hasil usaha perikanan mini purse seine di Maluku Utara Produksi Juragang Laut (2 bagian) Pendapatan Bersih Pendapatan kotor Juru Mesin (1,5 bagian) ABK (1 bagian) Biaya Operasional Pemilik (50 %) Kapal (50 %) Bonus

5.2 Daerah Penangkapan Ikan

Pengoperasian pukat cincin (mini purse seine) pada umumnya masih berada sekitar perairan Maluku Utara (perairan Ternate, perairan Tidore, perairan Moti dan Makian) (lampiran 1) yang berada dalam kedalaman 40 – 60 m. Berdasarkan wawancara dengan nelayan di daerah Maluku Utara mereka masih memperoleh hasil tangkapan yang relatif tinggi. Penangkapan dengan mini purse seine di daerah ini menggunakan alat bantu rumpon, sehingga dalam kegiatan pengoperasian nelayan sudah tau daerah penangkapannya yang jelas. Nelayan pukat cincin dalam melakukan kegiatan penangkapan masih didasarkan pada kegiatan penangkapan sebelumnya, jika penangkapan sebelumnya memperoleh hasil tangkapan yang banyak, maka penangkapan berikutnya tidak akan jauh dari daerah sebelumnya.

5.3 Metode Operasi Penangkapan

Berdasarkan pengamatan langsung dalam 5 trip operasi penangkapan dan wawancara dengan nelayan pukat cincin (mini purse seine), umumnya nelayan berangkat pada pagi hari (sekitar pukul 03.00 WIT) hingga menjelang siang yaitu sekitar jam 7.00 WIB dan selesai atau kembali ke pantai sekitar jam 9.00 WIT. Informasi mengenai metode operasi penangkapa n pukat cincin dibagi kedalam beberapa tahap yaitu meliputi tahap persiapan, penurunan jaring dan penarikan jaring.

1) Tahap Persiapan

Tahap persiapan merupakan tahap yang harus dilakukan setiap sebelum penangkapan ikan. Tahap persiapan ini meliputi kegiatan pemeriksaan mesin ba ik mesin utama maupun mesin johnson, pemeriksaan alat tangkap, penyiapan bahan bakar (minyak tanah , bensin, oli), es, serta konsumsi. Hal ini dilakukan untuk me mperlancar kegiatan penangkapan ikan.

2) Kapal pukat cincin berangkat menuju rumpun yang merupakan daerah penangkapan ikan (fishing ground). Pada umumnya membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam untuk menuju daerah penangkapan. Penentuan daerah pe nangkapan ikan (rum pon) yang tepat yang akan menjadi tujuan daerah penangkapan berdasarkan hasil pemantauan oleh nelayan pemantau yang

telah dilakukan pada malam harinya sebelum kapal pukat cincin berangkat, dan jika kegiatan penangkapan sebelumnya mendapatkan hasil tangkapan yang banyak, maka kegiatan penangkapan berikutnya tidak akan jauh dari daerah penangkapan (rumpon).

3) Setting

Setelah tiba di daerah penangkapan ikan (rumpon) , kemudian dilakukan proses setting yang diawali dengan penurunan pukat cincin pada bagian kantong dari kapal utama yang berada di bagian buritan sebelah kiri. Tali selambar pada bagian pukat cincin dilemparkan pada kapal johnson untuk dilakukan proses setting. Kapal johnson menunggu proses setting hingga selesai untuk melakukan proses selanjutnya ya itu penarikan purse line. Proses pelingkaran gerombolan ikan oleh kapal utama (ketinting) harus dilakukan dengan kekuatan penuh (Gambar 10). Hal ini dilkukan dengan agar gerombolan ikan yang menjadi target tidak lolos baik dari arah horizontal maupun vertikal. Proses pelingkaran geromblan ikan membutuhkan waktu ± 5 menit. Dalam satu trip nelayan pukat cincin melakukan setting atau tawur rata-

Dokumen terkait