HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kondisi Umum Perusahaan
4.2 Kondisi Umum K3 Perusahaan
Pekerjaan kehutanan merupakan salah satu bidang kerja yang rentan mengalami kecelakaan. Hal itu dapat dilihat dari penggunaan alat-alat berat serta kondisi lapangan dan beban kerja yang diterima oleh pekerja sendiri. Faktor alam dan faktor dari manusia itu sendiri (human error) yang kerap menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja.
IUPHHK PT. Sarmiento Parakantja Timber merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan, oleh karena itu resiko terhadap kecelakaan kerja dapat terjadi. Secara garis besar untuk mencegah ataupun meminimalkan kecelakaan kerja yang akan terjadi PT. Sarmiento Parakantja Timber telah melakukan prosedural-prosedural baik secara teknis maupun non teknis di lapangan.
Ketua Wakil Ketua
AHLI K3 Independen
SEKRETARIS Secara non teknis PT. Sarpatim telah membentuk Garis Besar Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). P2K3 adalah suatu lembaga/ badan yang dibentuk oleh perusahaan untuk membantu melaksanakan dan menangani upaya-upaya keselamatan dan kesehatan kerja yang keanggotaanya terdiri dari unsur pengusaha dan tenaga kerja.
Landasan hukum dibentuknya P2K3 itu sendiri yaitu Undang-Undang no. 1 tahun 1970 peraturan pelaksanaannya yaitu:
1. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep-125/MEN/82 tentang Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Wilayah dan P2K3 yang disempurnakan dengan Kepmenaker No. Kep-155/MEN/84.
2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep-04/MEN/87 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) serta tata cara penunjukkan ahli K3.
Tujuan dari P2K3 itu sendiri yaitu sebagai lembaga yang membantu perusahaan dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan secara menyeluruh dan berkesinambungan dalam upaya meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja sehingga tenaga kerja dapat bekerja secara efisien dan produktif. Struktur dari organisasi P2K3 PT. Sarpatim yaitu pada Gambar 3.
Gambar 3 Organisasi P2K3 PT. Sarpatim. ANGGOTA
Produksi Road Administrasi Silin Peralatan BINHUT Perencanaan Log Pond
Sedangkan untuk pedoman teknis Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja PT. Sarpatim adalah seperti berikut ini:
1. Identifikasi kondisi berdasarkan bidang kegiatan: a. Bidang Produksi.
b. Bidang Peralatan. c. Bidang Jalan.
d. Bidang Pembinaan Hutan/ SILIN. e. Bidang Adm. Personalia.
f. Bidang Perencanaan. g. Bidang Logpond.
2. Identifikasi sumber-sumber bahaya yang beresiko terhadap kesehatan dan keselamatan kerja..
3. Menyusun rencana dan program kerja K3. 4. Sosialisasi K3.
5. Pengadaan sarana dan prasarana. 6. Implementasi.
7. Monitoring dan evaluasi.
Dalam upaya pengurangan tingkat kecelakaan kerja yang terjadi tiap-tiap bidang kerja diharuskan menggunakan alat pelindung diri (APD). Aturan mengenai ketentuan tentang penggunaan alat keselamatan kerja dan sanksi, terhadap bidang pekerjaan pekerjaan yang beresiko terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dapat kita lihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Alat keselamatan kerja yang dipakai berdasarkan bidang dan pekerjaannya
No Bidang/Pekerjaan Sumber Bahaya Jenis Alat Pelindung Diri (APD)
I. Bidang Produksi
a. Penebangan Chainsaw Helm Kerja Pohon/Ranting Sarung Tangan Parang Sepatu Kerja
Masker
b. Penyaradan /Skidding Traktor Helm Kerja Pohon, Kayu Sarung Tangan Lokasi Kerja Sepatu Kerja
Lanjutan Tabel 4
No Bidang/Pekerjaan Sumber Bahaya
Jenis Alat Pelindung Diri (APD)
c.Hauling Log Loader Sepatu Kerja
Loging Truck Masker
Kayu Lokasi Kerja
d.Scaller Lokasi Kerja Sepatu Kerja
Kayu Masker
II. Bidang Peralatan
a. Mekanik Kondisi Pekerjaan Helm Kerja Alat-alat kerja Safety Shoes
Tempat kerja Safety Belf Masker
b. Electrician Instalasi Helm Kerja Limbah Berat Safety Shoes
Safety Belf Masker
c. Welder/Machinist Api Helm Kerja
Tabung Gas Safety Shoes
Limbah Safety Belf Welding Goggle
Pelindung Dada
Masker
III. Bidang Jalan Lokasi Kerja Helm Kerja
Dump Truck Sepatu Kerja
Buldozer Masker
Skidder
IV. Bidang Binhut/SILIN Lokasi Kerja Helm Kerja Kayu/ Ranting Kaos Tangan
Chainsaw Sepatu Boot
Parang Kaos Kaki
Masker
V. Adm. Personalia & Umum
a. Logistik Lokasi Kerja Helm Kerja
BBM Sepatu boot
Api Masker
b. Pembantu Adm & Umum
Mesin Potong
rumput Kaos tangan
Parang Kaca Mata pelindung Alat tukang Sepatu Boot
Jas hujan VI. Perencanaan Lokasi Kerja Helm Kerja
Pohon/Ranting Kaos Tangan Parang Sepatu boot
Kaos kaki VII. BidangLogpond Lokasi Kerja Helm Kerja
Tug Boat Masker
Crane
Alat-alat berat
Sanksi atas pelanggaran tidak memakai alat pelindung diri: 1. Teguran pertama dan kedua
2. Administratif yaitu peringatan 3. Pemutusan hubungan Kerja
Untuk tingkat kecelakaan kerja yang terjadi pada PT. Sarmiento Parakantja Timber berdasarkan masing-masing bidang, dapat dilihat pada Gambar 4 Kecenderungan yang terjadi yaitu kecelakaan kerja relatif meningkat terutama pada bidang produksi, road, dan silin.
Sumber: PT. Sarmiento Parakantja Timber
Gambar 4 Kasus kecelakaan kerja di PT. Sarpatim tahun 2004- 2006. 4.3 Perusahaan
Pada perusahaan karakteristik repsonden tidak penulis sampaikan, hal ini berkaitan dengan metode wawancara yang berasal dari sumber terkait yaitu unit manajemen yang menangani bidang K3. unit yang menangani masalah K3 yaitu P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
11
13
15
3
1
0 1
3
1 1
33
00
2
000 000 000
0
2
4
6
8
10
12
14
16
KasusProduksi Peralatan ADM Road Binhut SILIN Perencanaan Log Pond
Bidang
2004
2005
2006
4.3.1 Hasil uji statistikWilcoxon pada perusahaan
Untuk mengetahui perbandingan antara penilaian perusahaan dengan penilaian berdasarkan ILO tehadap pemahaman K3 secara general ataupun yang terkait dengan aspekknowledge,skill danattitude, yaitu dengan menggunakan uji statistikWilcoxon.
Tabel 5 Hasil uji statistikWilcoxon terhadap pemahaman perlindungan K3 secara general antara penilaian perusahaan dengan penilaian berdasarkan standar ILO
Nilai Pemahaman K3
Z -2,319
Asymp. Sig (2-tailed) 0,02
0,05
Keputusan diambil dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan: - angka probabilitas (asymp. Sig) > nilai (Alpha) 0,05 maka Ho diterima
- angka probabilitas (asymp. Sig) < nilai (Alpha) 0,05 maka Ho ditolak
Penilaian perusahaan terhadap pemahaman perlindungan K3 secara general dapat dilihat pada Tabel 5, nilai dari Asymp. Sig (2-tailed) atau angka probabilitas = 0,02 < nilai (Alpha) = 0,05 maka keputusan yang diambil yaitu tolak Ho (-). Hal ini berarti pemahaman perlindungan K3 berdasarkan penilaian perusahaan dengan kondisi di lapangan (penilaian menurut standar ILO) berbeda nyata. Maksud dari berbeda nyata disini adalah kondisi berdasarkan penilaian perusahaan bisa dikatakan belum sesuai dengan kondisi seharusnya (penilaian menggunakan standar ILO).
Tabel 6 Hasil uji statistikWilcoxon antara penilaian perusahaan dengan penilaian berdasarkan standar ILO
Nilai Knowledge Skill Attitude
Z -1,768 -0,825 -2,434
Asymp. Sig (2-tailed) 0,077 0,409 0,015
0,05 0,05 0,05
Keputusan diambil dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan: - angka probabilitas (asymp. Sig) > nilai (Alpha) 0,05 maka Ho diterima
- angka probabilitas (asymp. Sig) < nilai (Alpha) 0,05 maka Ho ditolak
Pada Tabel 6 dilihat dari nilai angka probabilitas hasil uji statistik menggunakan Wilcoxon menyebutkan bahwa pada aspek knowledge nilai asymp.sig = 0,077 > nilai nilai (Alpha) = 0,05 maka keputusan yang diambil yaitu terima Ho. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan yang nyata pada aspek
knowledge antara penilaian perusahaan dengan penilaian di lapangan berdasarkan standar ILO.
Pada aspek skill sendiri tidak terdapat perbedaan yang nyata pula, hal ini dapat dilihat dari nilai asymp.sig = 0,409 > nilai nilai (Alpha) = 0,05 maka keputusan yang diambil yaitu terima Ho. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan yang nyata pada aspek skill antara penilaian perusahaan dengan penilaian di lapangan menggunakan standar ILO.
Untuk attitude perusahaan memiliki nilai asymp.sig = 0,015 < nilai (Alpha) = 0,05 maka keputusan yang diambil yaitu tolak Ho. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang nyata pada aspek attitude antara penilaian perusahaan dengan penilaian di lapangan menggunakan standar ILO.
4.3.2 Selisih nilai skor rata-rata berdasarkan masing-masing aspek kompetensi
Setelah melakukan uji Wilcoxon perlu dilihat selisih antara penilaian perusahaan dengan penilaian berdasarkan standar ILO (diperoleh dari pengurangan penilaian berdasarkan standar ILO dengan penilaian perusahaan). Tabel 7 Selisih nilai kompetensi perusahaan antara penilaian perusahaan dengan
penilaian berdasarkan standar ILO
Nilai skor rata-rata Pemahaman K3Tingkat Knowledge Skill Attitude
Penilaian Perusahaan 3,9 4,0 3,9 4,1
Penilaian Berdasarkan Standar ILO 3,2 3,7 3,8 3,6
Selisih Skor Nilai -0,7 -0,3 -0,1 -0,5
Dari Tabel 7 dapat dilihat selisih nilai rata-rata tentang pemahaman K3 secara umum memiliki selisih nilai -0,7 sedangkan -0,3 pada knowledge, -0,1 padaskill, dan -0,5 padaattitude. Jika dilihat menggunakan skalaLikert mengenai aspek-aspek kompetensi tadi, pemahaman K3 perusahaan secara umum terletak pada rentang skala cukup mengetahui dengan nilai 3,2 dan memiliki selisih nilai -0,7 ini berarti pemahaman K3 secara umum antara penilaian perusahaan sangat jauh berbeda dengan penilaian berdasarkan standar ILO, sedangkan untuk knowledge sendiri sudah baik yaitu berada pada rentang skala 3,7 dimana penilaiannya masuk kedalam kategori mengetahui dengan selisih nilai -0,3. Untuk skill perusahaan sendiri sudah termasuk dalam kategori mampu dengan rentang
skala 3,8 dengan selisih sebesar -0,1. Untuk attitude perusahaan sendiri berada dalam rentang 3,6 dimana dalam penilaian termasuk dalam kategori mau dengan selisih nilai -0,5. Ini berarti untuk kategoriattitude perusahaan sudah mau untuk menerapkan perlindungan K3. Hanya saja pada pelaksanaannya belum maksimal.
4.3.3 Hasil uji korelasiSpearmanperusahaan
Uji korelasi Spearman dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang nyata antara aspek-aspek knowledge, skill, dan attitude dari masing-masing bidang pekerjaan. Nilai dari korelasi Spearman dapat diartikan sebagai suatu hubungan yang saling terkait.
Tabel 8 Hasil uji KorelasiSpearman perusahaan Korelasi
Spearman Nilai Knowledge Skill Attitude
perusahaan knowledge koefisien korelasi 1,000 0,000 0,348 sig. (2-tailed) . 1,000 0,171 N 17 17 17 skill koefisien korelasi 0,000 1,000 0,213 sig. (2-tailed) 1,000 . 0,412 N 17 17 17 attitude koefisien korelasi 0,348 0,213 1,000 sig. (2-tailed) 0,171 0,412 . N 17 17 17
* Korelasi signifikan pada taraf nyata 0.05 (2-tailed)
Keputusan diambil dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan : - angka probabilitas (sig.2-tailed) > nilai (Alpha) 0,05 maka Ho diterima
- angka probabilitas (sig. 2-tailed ) < nilai (Alpha) 0,05 maka Ho ditolak
Pada Tabel 8 disebutkan bahwa pada selang kepercayaan 95% tidak ada hubungan yang nyata dari ketiga aspek-aspek kompetensi K3 perusahaan yaitu antara aspekknowledge, skill ,dan attitude. Hal ini menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang erat atau signifikan antara ketiga aspek kompetensi tadi.
Berdasarkan uji statistik yang ada menggunakan uji Wilcoxon yang perlu menjadi prioritas untuk ditingkatkan dari perusahaan yaitu pada attitude dimana penilaian sebesar 3,6 masuk kedalam kategori mau. Memiliki selisih nilai -0,5 antara penilaian perusahaan itu sendiri dengan penilaian menggunakan standar ILO dimana penilaian perusahaan lebih tinggi yaitu sebesar 4,1 dibandingkan
dengan penilaian menggunakan standar ILO yaitu sebesar 3,6 hal ini berarti perusahaan menilai bahwa yang mereka lakukan sudah sangat baik padahal pada kenyataannya tidak demikian dan masih perlu ditingkatkan atau disesuaikan dengan penilaian yang semestinya. Pada uji korelasi Spearman, attitude tidak dipengaruhi oleh aspek kompetensi yang lain baik itu knowledge maupun skill, sehingga dalam penentuan alternatif strategi dapat ditinjau dari ketiga aspek tersebut.Attitude terkait dengan sikap perusahaan itu sendiri, untuk meningkatkan sikap dapat dilakukan pengawasan dan evaluasi baik itu secara mandiri (self assessment) ataupun pengawasan dari luar (eksternal assessment). Contoh pengawasan dan evaluasi K3 secara mandiri antara lain menggunakan audit internal perusahaan. Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER. 05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja disebutkan bahwa audit sistem manajemen K3 harus meliputi unsur-unsur:
1. Pembangunan dan pemeliharaan komitmen. 2. Strategi pendokumentasian.
3. Peninjauan ulang desain dan kontrak. 4. Pengendalian dokumen.
5. Pembelian.
6. Keamanan bekerja berdasarkan Sistem Manajemen K3. 7. Standar pemantauan.
8. Pelaporan dan perbaikan kekurangan.
Audit Sistem Manajemen K3 oleh perusahaan harus dilakukan secara berkala untuk mengetahui keefektifan penerapan SMK3. Audit harus dilaksanakan secara sistematik dan independen oleh personel yang memiliki kompetensi kerja dengan menggunakan metodologi yang sudah diterapkan. Frekuensi audit harus ditentukan berdasarkan tinjauan ulang hasil audit sebelumnya dan bukti sumber bahaya yang didapatkan di tempat kerja. Hasil audit tadi harus digunakan oleh pengurus dalam proses tinjauan ulang manajemen.
Untuk pelaksanaan K3 yang baik pada level manajemen perusahaan seperti pada Gambar 5.
PERUSAHAAN Kebijakan K3 perusahaan Sistem Manajemen K3 Perlengkapan yang aman Alat pelindung diri Tenaga kerja kompetensi
PEK, SAR, Jasa K3 Tempat berteduh
perumahan dan gizi kerja
Level Tingkat kerja
Operasi pekerjaan aman
Organisasi kerja Perlengkapan aman
Perencanaan lokasi
Sumber: Draft Kode Praktek Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Kehutanan (Genewa, ILO.1997)
Gambar 5 Hirarki proses pelaksanaan K3 pada level manajemen perusahaan.