4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian 1. Perairan Bondet
Perairan Bondet merupakan wilayah penangkapan kerang darah bagi nelayan-nelayan desa Bondet dan sekitarnya. Beberapa sungai yang bermuara di perairan ini diantaranya, sungai Bondet, sungai Celancang, sungai Pekik, sungai Tangkil, sungai Karang Sembung, dan sungai Condong. Lingkungan sekitar perairan Bondet ditumbuhi pepohonan bakau dan penggunan lahan yaitu persawahan dan pemukiman. Nelayan yang terdapat di perairan Bondet merupakan nelayan tradisional yang menggunakan kapal 3-5 GT.
Karakteristik habitat kerang darah pada lokasi penelitian berupa lumpur yang relatif halus, berwarna abu-abu dengan sedikit bau (bau lumpur) dan dapat diduga bahwa lumpur dasar perairan Bondet mengandung detritus relatif tinggi. Parameter fisika air yang diamati adalah suhu dan arus. Suhu perairan sangat penting bagi kehidupan biota perairan, karena untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan yang optimal dan sangat berpengaruh, baik pada aktivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme perairan (Hutabarat & Evans 1984), dimana suhu merupakan pemicu dimulainya proses gametogenesis. Besarnya suhu perairan Bondet berfluktuatif secara musiman. Rata-rata suhu pada saat penelitian berkisar antara 28-30°C. Kisaran suhu ini cocok untuk kehidupan kerang darah di perairan Bondet dengan melihat keberadaan kerang darah di perairan tersebut. Berdasarkan Broom (1985) suhu yang sesuai untuk setiap spesies pada kerang darah berbeda-beda tergantung pada kondisi geografisnya. Hal ini didasarkan pada kemampuan kerang darah untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Misalnya, kerang darah di Malaysia umumnya dapat hidup dengan suhu permukaan air rata-rata 29-320C, sedangkan di Phuket, Thailand suhu air yang sesuai adalah 25-32,80C (Boonruang & Janekarn 1983 in Broom 1985).
Rata-rata kecepatan arus di perairan Bondet selama penelitian berkisar 8,82-12,52 cm/detik. Arus tersebut termasuk arus yang sangat lemah hingga sedang. Pergerakan air yang lemah di daerah berlumpur menyebabkan partikel halus mengendap dan detritus melimpah, sehingga merupakan media yang baik bagi
pemakan detritus, seperti halnya pada kerang darah (Mann 2000). Wood (1987) mengklasifikasikan kecepatan arus yang kurang dari 10 cm/detik termasuk arus yang sangat lemah, dengan organisme bentik dapat menetap, tumbuh dan bergerak bebas, sedangkan kecepatan arus 10-100 cm/detik termasuk arus sedang, sehingga menguntungkan bagi organisme dasar, dimana terjadi pembaruan bahan organik dan anorganik. Pada saat pengamatan, gelombang yang terjadi cukup besar dan muka air laut tinggi akibat pasang.
Parameter kimia perairan yang diamati adalah salinitas dan pH. Selama pengamatan rata-rata kadar salinitas di perairan Bondet berkisar antara 24‰-30‰. Salinitas minimum 24‰ terjadi pada bulan April dan salinitas maksimum 30‰ terjadi Juni. Menurut Pathanasali (1963) in Broom (1985) bahwa kerang darah hanya mampu hidup di daerah dengan salinitas lebih dari 25‰, namun pada stadia muda secara normal dapat melakukan aktivitas mencari makanan dengan salinitas yang lebih rendah sampai 8‰ dan kerang darah termasuk organisme yang toleran terhadap salinitas tinggi dan rendah. Salinitas tertinggi mencapai 29‰, namun pada salinitas yang sangat rendah, yaitu 9,4‰ kerang tidak dapat tumbuh bahkan mengalami kematian.
Nilai pH adalah 7-7,5. Nilai pH ini berpengaruh terhadap proses metabolisme dalam tubuh kerang darah. Jika proses metabolisme dapat berjalan dengan baik, maka kerang darah dapat tumbuh dan berkembang biak melalui energi yang dihasilkan dari proses metabolisme. Kedua parameter kimia air yang diamati juga dapat mempengaruhi kehidupan kerang darah diperairan.
Alat tangkap kerang darah yang digunakan oleh nelayan di desa Bondet adalah garuk. Alat tangkap garuk banyak digunakan nelayan Cirebon. Pada prinsipnya alat garuk cara pengoprasiannya mirip seperti trawll. Daerah penangkapan kerang yang dilakukan oleh nelayan adalah di sekitar perairan Bondet. Kerang darah hampir setiap hari didaratkan TPI condong, Desa Bondet. Hal ini permintaan akan kerang darah cukup tinggi. Kerang dijual dalam bentuk hidup dan daging. Harga kerang yang dijual berkisar antara Rp 5,000-Rp 8,000 per kg dan harga daging berkisar antara Rp 17,000-Rp 20,000 per kg. Daerah pemasaranya khusus wilayah sekitar Cirebon. Harga kerang darah lebih mahal dibandingkan dengan jenis kerang lainnya (Nurita, komunikasi pribadi 12 April 2011).
4.1.2. Perairan Mundu
Perairan Mundu merupakan wilayah penangkapan kerang darah yang banyak dilakukan oleh masyarakat Cirebon dan juga sebagai kegiatan perikanan. Perairan Mundu bermuara beberapa sungai yaitu sungai Banjiran, sungai Kalijaga, sungai Krian, sungai Pengarengan, dan sungai Bandengan. Lingkungan sekitar perairan Mundu ditumbuhi pepohonan bakau dan penggunanan lahan yaitu persawahan, pemukiman, dan perindustrian. Sehinga dengan kondisi tersebut dapat diduga bahwa diperairan Mundu sedikit lebih tercemar dibandingkan di perairan Bondet. Dengan demikian habitat kerang darah di perairan Mundu kurang baik di bandingkan dengan di perairan Bondet.
Nelayan yang terdapat di perairan Mundu merupakan nelayan tradisional yang menggunakan kapal 3-6 GT. Hasil tangkapan di perairan Mundu yaitu ikan, kerang-kerangan, rajungan, kepiting baku, udang, cumi-cumi, namun hasil tangkapan utama di perairan mundu adalah jenis kerang-kerangan.
Karakteristik habitat kerang darah pada lokasi penelitian berupa lumpur dasar yang relatif halus, pasirnya relatif sedikit, berwarna abu-abu- kehitaman dengan sedikit bau busuk (bau lumpur). parameter makroskopis tersebut dapat diduga bahwa lumpur dasar perairan Mundu mengandung detritus lebih sedikit dibandingkan dengan lumpur dasar perairan Bondet. Adapun karakeristik fisika-kimia perairan Mundu. Parameter fisika air yang diamati yaitu suhu dan arus. Suhu di perairan Mundu pesisir selama penelitian berkisar antara 29-30 °C. Jika dibandingkan selama waktu pengamatan, suhu perairan pada bulan April lebih tinggi dibandingkan bulan Mei dan Juni.
Selain suhu, parameter fisika air yang diamati adalah arus. Rata-rata kecepatan arus di peraiaran Mundu selama penelitian berkisar antara 11,11-14,28 cm/detik. Kecepatan arus tersebut termasuk arus sedang, sehingga menguntungkan bagi organisme dasar, dimana terjadi pembaruan bahan organik dan anorganik. Pergerakan air yang cepat dapat merangsang organisme air untuk memijah. Saat air bergerak cepat, kerang darah betina dan jantan terangsang untuk melepaskan sel telur dan sperma keperairan, yang kemudian mengalami pembuahan (fertilisasi).
Parameter kimia air yang diamati yaitu salinitas dan pH. Selama pengamatan kadar salinitas yang diperoleh adalah berkisar 28‰-30‰. Menurut Pathanasali
(1963) in Broom (1985) bahwa kerang darah hanya mampu hidup di daerah dengan salinitas lebih dari 25‰, namun pada stadia muda secara normal dapat melakukan aktivitas mencari makanan dengan salinitas yang lebih rendah sampai 8‰ Kerang darah termasuk organisme yang toleran terhadap salinitas tinggi dan rendah. Salinitas tinggi sampai 29‰, namun pada salinitas yang rendah mencapai 9,4‰, kerang darah tidak dapat tumbuh bahkan mengalami kematian.
Nilai pH selama pengamatan adalah berkisar 6,5-7,5. Nilai pH yang baik memungkinkan organisme untuk hidup dan tumbuh, serta kehidupan biologis yang berjalan dengan dengan baik. Sebagian organisme akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH yaitu 7-8,5 (Effendi 2002). Besarnya nilai pH di perairan Mundu sangat cocok untuk kehidupan kerang darah. Kondisi perairan di kedua daerah penelitian tersebut masih berada dalam kisaran yang mendukung kehidupan biota ikan (Smith dan Chanley 1975).
Kerang darah di perairan Mundu biasanya ditangkap dengan mengunakan alat tangkap garuk, tetapi masih ada sebagian nelayan yang menangkap kerang darah langsung menggunakan tangan. Kerang darah setiap harinya di daratkan di TPI Mundu. Daerah penangkapan kerang darah dilakukan di sekitar perairan Mundu. Daerah pemasarannya meliputi Jakarta, Semarang dan wilayah sekitar. Kerang darah dijual dalam bentuk hidup dan daging. Harga kerang yang dijual berkisar antara Rp 5,000-Rp 8,000 per kg dan harga daging berkisar antara Rp 15,000-Rp 17,000 per kg (Titin, komunikasi pribadi 13 April 2011).