BAB 2. PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
1. Kondisi Umum
Perekonomian Riau hingga semester I 2015 masih mengalami kontraksi, yaitu
sebesar 1,37% (yoy). Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2015 tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,64% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I
2015 lalu yang tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,03% (yoy)1. Kondisi ini
sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat tumbuh melambat dibandingkan triwulan I 2015 yaitu dari 4,71% (yoy) menjadi 4,67% (yoy).
1 Revisi data oleh BPS.
Bab 1
KONDISI EKONOMI
Grafik 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Riau dan Nasional Secara Tahunan (yoy,%)
Sumber: BPS
Penurunan ekonomi Riau pada triwulan II 2015 utamanya disebabkan oleh penurunan kinerja sektor pertambangan dan sektor penggalian serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sementara sektor perdagangan besar dan eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor tercatat melambat. Di sisi lain, sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi tercatat mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Penurunan kinerja sektor pertambangan dan penggalian terkait dengan semakin menurunnya produktivitas sumur minyak existing. Sementara itu, penurunan kinerja sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan didorong oleh penurunan subsektor pertanian tanaman bahan makanan (TABAMA) akibat perubahan pola tanam dan perlambatan kinerja subsektor perkebunan akibat level harga komoditas yang masih rendah.
Dari sisi penggunaan, penurunan kinerja ekonomi utamanya disebabkan oleh masih menurunnya ekspor dan perlambatan investasi. Kontraksi sektor pertambangan dan penggalian yang berkelanjutan diperkirakan berdampak terhadap penurunan ekspor migas Provinsi Riau pada triwulan laporan, sementara ekspor non migas cenderung membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan investasi diperkirakan akibat pesimisme investor terhadap kondisi perekonomian dan penurunan harga komoditas utama di tingkat dunia akibat penurunan harga minyak dunia.
2. PDRB SISI PENGGUNAAN
Pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan II 2015 masih didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Sementara itu, dari sisi eksternal, penurunan impor juga mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan. Di sisi lain, penurunan kinerja ekspor yang masih berlanjut dan perlambatan investasi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan masih mengalami kontraksi. Belum membaiknya kondisi perekonomian global dan nasional menjadi penyebab turunnya kinerja kedua komponen ini.
Tabel 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Riau Sisi Penggunaan (yoy)
Sumber: BPS Provinsi Riau
2.1. Konsumsi
Pertumbuhan konsumsi rumah
tangga Provinsi Riau pada triwulan II
2015 tercatat meningkat
dibandingkan triwulan I 2015, yakni dari 6.00% (yoy) menjadi 6,36% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan
konsumsi rumah tangga
diperkirakan sehubungan dengan masuknya bulan Ramadhan pada triwulan laporan. Kondisi ini terkonfimasi dengan hasil Survei
Konsumen Bank Indonesia terkait perkembangan Indeks Pengeluaran Saat Ini Dibandingkan Tiga Bulan yang Lalu yang cenderung meningkat dibandingkan posisi
I* II* III* IV* I(r)*** II***
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 7.29 6.98 6.79 7.83 7.23 6.00 6.36 1.97 Pengeluaran Konsumsi LNPRT 19.81 20.10 12.88 9.87 15.44 (0.07) (1.61) -0.01 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (1.81) (3.68) (4.80) (4.45) (3.79) 1.93 5.18 0.19 Pembentukan Modal Tetap Bruto 2.54 2.31 1.03 0.47 1.57 1.33 1.24 0.36 Ekspor Barang dan Jasa 45.11 41.89 (5.65) (37.93) 2.92 (32.62) (19.08) -9.08 Impor Barang dan Jasa 3.60 (10.22) 0.99 (37.94) (13.01) (7.10) (8.11) -0.35
3.93
2.90 2.67 1.05 2.62 (0.03) (2.64) (2.64) Sumber Pertumbuhan
(%)
Ket: *) Data sementara ***) Data sangat sementara r) revisi
2014
2014
2015
Total Sektor
Grafik 1.2. Perkembangan Indeks Pengeluaran Saat ini Dibandingkan Tiga Bulan yang Lalu
akhir triwulan I 2015, yaitu dari 175,4 pada Maret 2015 lalu menjadi 180 pada Juni 2015 (Grafik 1.2).
Meskipun demikian, masih berlanjutnya pelemahan harga komoditas
mengakibatkan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan tidak optimal seiring dengan terjadinya pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi ini tercermin dari pergerakan Indeks Penghasilan Konsumen yang menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (Grafik 1.3). Hal ini juga tercermin dari pergerakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang cenderung menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 119,39 pada Maret 2015 lalu menjadi 106.5 pada Juni 2015. Penurunan IKK didorong oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang berada di bawah level optimis dan perlambatan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) (Grafik 1.3).
Grafik 1.3. Pergerakan Indeks Penghasilan Konsumen
Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia
Grafik 1.4. Pergerakan Indeks Keyakinan Konsumen Provinsi Riau
Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia
Grafik 1.5. Perkembangan Kredit Durable
Goods
Peningkatan konsumsi juga tercermin dari peningkatan kredit konsumsi yang disalurkan untuk durable goods. Peningkatan penyaluran kredit konsumsi untuk durable goods utamanya didorong kredit untuk pemilikan furnitur dan peralatan rumah tangga. Hal ini diperkirakan sehubungan dengan kebiasaan masyarakat dalam menyambut Idul Fitri. Meskipun demikian, perkembangan kredit konsumsi
bank umum di Provinsi Riau secara umum pada II 2015 mengalami perlambatan,
yang utamanya didorong oleh penurunan kredit perumahan, kendaraan bermotor dan multiguna karena peningkatan suku bunga kredit dan pelemahan ekonomi.
Sementara itu, perkembangan konsumsi pemerintah pada triwulan laporan tercatat mengalami peningkatan
dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 1,93% (yoy) menjadi 5,18% (yoy). Peningkatan konsumsi pemerintah terjadi seiring dengan
peningkatan realisasi belanja
pemerintah daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD)2, khususnya pemerintah
Provinsi Riau yang telah terealisasi sebesar 13,26% dari total yang dianggarkan hingga triwulan II 2015.
2 Penjelasan terkait APBD dapat dilihat pada BAB 4 buku kajian ini
Grafik 1.7. Perkembangan Kredit Multiguna Grafik 1.8. Perkembangan Kredit Kendaraan Bermotor
Grafik 1.9. Realisasi Belanja Pemerintah Daerah 2011-2015 Provinsi Riau
Jumlah realisasi ini lebih besar dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya yang terealisasi sebesar 12,76%, namun masih lebih rendah dibandingkan rata-rata realisasi belanja triwulan II selama lima tahun terakhir yang tercatat sebesar 21,21%. Berbeda dengan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah, perkembangan konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) mengalami penurunan sebesar 1,61% (yoy).
2.2. Investasi (PMTB)
Perkembangan investasi (PMTB) di Riau pada triwulan II 2015 tercatat relatif melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari 1,33% (yoy) menjadi 1,24% (yoy). Kondisi ini diindikasikan oleh menurunnya pertumbuhan jumlah dan
realisasi nilai proyek PMA dan PMDN di Provinsi Riau pada triwulan II 2015
meskipun secara nilai mulai membaik. Pada triwulan II 2015 jumlah proyek yang dilaksanakan di Riau mencapai 99 proyek. Sementara total nilai investasi pada triwulan II 2015 di Riau mencapai Rp4,47 triliun atau mengalami kontraksi sebesar 43,11% (yoy).
Meskipun demikian, secara triwulanan perkembangan investasi di provinsi Riau mengalami peningkatan sebesar 2,10% (qtq). Peningkatan ini juga dikonfirmasi oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia, dimana realisasi investasi pada triwulan II 2015 tercatat lebih baik dibandingkan triwulan I 2015, yaitu dari 1,83% menjadi 2,37%. Sementara itu, berdasarkan informasi dari contact liaison Bank Indonesia pada triwulan II 2015 investasi cenderung relatif stabil dimana secara umum investasi hanya berupa maintenance dan mayoritas bukan berupa investasi bangunan.
Grafik 1.10. Perkembangan Nilai Realisasi PMA dan PMDN di Provinsi Riau
Grafik 1.11. Perkembangan Jumlah proyek PMA dan PMDN di Provinsi Riau
2.3. Ekspor dan Impor
2.3.1. Ekspor
Perkembangan ekspor luar negeri Provinsi Riau pada triwulan laporan masih mengalami penurunan namun cenderung membaik yaitu dari kontraksi sebesar 32,62% (yoy) pada triwulan I 2015 menjadi kontraksi sebesar 19,08% (yoy) pada triwulan II 2015. Perbaikan kinerja ekspor pada triwulan laporan didorong oleh peningkatan kinerja ekspor non migas, khususnya ekspor kelompok minyak dan lemak nabati, yang didominasi oleh CPO.
Tabel 1.2. Perkembangan Volume Ekspor Non Migas Riau (Ribu Ton)
Di sisi lain, kinerja ekspor migas Provinsi Riau diperkirakan masih mengalami kontraksi. Hal ini diperkirakan seiring dengan kinerja sektor pertambangan dan penggalian yang masih mengalami kontraksi pada triwulan laporan. Masih berlanjutnya penurunan ekspor migas menyebabkan kinerja ekspor pada periode laporan tercatat masih mengalami kontraksi.
I II 2014 I-15 II-15 2014 I-15 II-15
Makanan dan Hewan Bernyawa 1,633.8 426.0 378.3 8.92 9.80 7.38 2.02 (6.01) 4.92
Tembakau dan Minuman 29.7 6.9 9.5 0.16 0.16 0.19 21.33 21.96 (2.57)
Barang Mentah 2,901.1 741.6 711.8 15.85 17.05 13.89 (8.50) 16.06 9.16
Bahan Bakar Mineral dan Pelumas 574.9 28.2 53.3 3.14 0.65 1.04 (64.29) (88.15) (81.47)
Minyak dan Lemak Nabati 10,195.0 2,613.9 3,403.7 55.69 60.12 66.42 2.26 12.37 60.46
Bahan Kimia 1,310.9 119.0 171.2 7.16 2.74 3.34 3.84 (67.88) (38.74)
Barang Manufaktur 1,660.9 412.5 396.9 9.07 9.49 7.75 8.63 0.59 (2.81)
Mesin dan Peralatan 0.8 - 0.0 0.00 - 0.00 1,654.18 (100.00) (99.99)
Hasil Olahan Manufaktur 0.0 0.0 0.0 0.00 0.00 0.00 (92.26) (7.36) 705.96
Koin, bukan mata uang - - - - - - - - 1.00
18,307.0 4,348.1 5,124.7 (4.49) (2.13) 24.40 Pangsa (%) 100 yoy (%) 2014 2015 Jenis Total
Grafik 1.12. Perkembangan Realisasi Investasi di Riau
Berdasarkan komoditasnya, peningkatan ekspor non migas Riau pada triwulan laporan didorong oleh peningkatan ekspor CPO dan karet. Peningkatan ekspor CPO disebabkan oleh meningkatnya permintaan CPO dunia sehubungan masuknya bulan Ramadhan pada triwulan laporan, terutama di wilayah Asia Selatan yang penduduk muslimnya cukup banyak. Sementara peningkatan ekspor karet diperkirakan akibat meningkatnya permintaan karet dari China dan perbaikan harga karet internasional meskipun masih terbatas. Peningkatan karet dari China dapat terlihat dari pergerakan PMI China pada triwulan II 2015 yang cenderung membaik dibandingkan triwulan I 2015.
Grafik 1.13. Perkembangan PMI Tiongkok
Sementara itu, perkembangan ekspor pulp dan kertas pada triwulan II 2015 tercatat melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan informasi dari contact liaison, melambatnya ekspor pulp dan kertas pada triwulan laporan didorong oleh pemenuhan kebutuhan domestik seiring dengan peningkatan kapasitas produksi dan pembuatan pabrik tisu. Di sisi lain, perkembangan ekspor batubara pada triwulan II 2015 masih tercatat mengalami kontraksi, meskipun sudah mulai mengalami tren perbaikan. Kondisi ini diperkirakan akibat perkembangan harga batubara dunia yang masih tertekan dan melemahnya permintaan, sehingga pengusaha masih menahan laju produksi.
Grafik 1.14. Perkembangan Volume Ekspor CPO dan Turunan Riau
Grafik 1.15. Perkembangan Volume Ekspor Pulp and Paper Riau
Grafik 1.16. Perkembangan Volume Ekspor Batubara Riau
Grafik 1.17. Perkembangan Volume Ekspor Karet Olahan Riau
Berdasarkan negara tujuan ekspornya, peningkatan volume ekspor utamanya berasal dari peningkatan ekspor ke Tiongkok, India, dan MEE. Pada triwulan II 2015, volume ekspor ke Tiongkok, India, dan MEE masing-masing tercatat sebesar 891 ribu ton, 798 ribu ton, dan 570 ribu ton, atau tumbuh sebesar 14,20% (yoy), 48,31% (yoy), dan 31,77% (yoy). Peningkatan ekspor ke ketiga kawasan tersebut didominasi oleh ekspor CPO dan karet. Sementara ekspor ke ASEAN mengalami penurunan sebesar 2,20% (yoy) namun cenderung meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 9,79% (qtq).
Grafik 1.18. Perkembangan Volume Ekspor Non Migas Riau Menurut Wilayah Tujuan
Sumber : Cognos Bank Indonesia, diolah
Peningkatan ekspor ke Tiongkok, India, dan MEE didorong oleh mulai menipisnya stok CPO dunia dan sehubungan dengan masuknya bulan Ramadhan dimana konsumsi CPO sebagai minyak goreng di negara dengan penduduk muslim yang cukup banyak seperti India cenderung meningkat. Selain itu, kekeringan akibat El Nino yang telah diisukan akan terjadi lebih awal dari yang diperkirakan juga mempengaruhi peningkatan permintaan CPO dunia.
2.3.2. Impor
Perkembangan impor Riau pada triwulan II 2015 tercatat menurun yakni dari kontraksi 7,10% (yoy) pada triwulan I 2015 menjadi kontraksi sebesar 8,11% (yoy). Penurunan impor luar negeri Provinsi Riau pada triwulan laporan berasal dari semua komponen impor. Penurunan impor utamanya terjadi pada komponen utama impor Provinsi Riau yaitu impor barang intermedier yang menurun signifikan dari tumbuh sebesar 30,27% (yoy) pada triwulan I 2015 menjadi kontraksi 7,63% (yoy) pada triwulan II 2015. Sementara itu, impor barang modal tercatat mengalami kontraksi sebesar 59,32% (yoy). Di sisi lain, impor barang konsumsi pada triwulan II 2015 masih mencatatkan pertumbuhan yang positif yakni sebesar 6,24% (yoy), namun melambat siginifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 145,38% (yoy).
Grafik 1.19. Perkembangan Volume Impor Barang Modal di Provinsi Riau
Grafik 1.20. Perkembangan Impor Barang Konsumsi
Penurunan impor pada triwulan II 2015 diperkirakan akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlanjut hingga akhir periode laporan dan menyentuh nilai Rp13.399,00 untuk kurs jual. Selain itu, pelemahan permintaan ekspor dan perekonomian lokal mengakibatkan tertahannya kegiatan investasi perusahaan setempat sehingga impor bahan baku juga mengalami penurunan.
Grafik 1.21. Perkembangan Volume Impor Barang Intermedier
Grafik 1.22. Perkembangan Impor Non Migas Riau
3. PDRB SEKTORAL
Kinerja sektor utama perekonomian Provinsi Riau pada triwulan II 2015 secara umum masih menunjukkan penurunan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan dua sektor utama yang tercatat menurun dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian dan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Sementara sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor mengalami perlambatan
dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, peningkatan kinerja sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi diperkirakan menahan laju penurunan perekonomian Riau pada triwulan II 2015.
Tabel 1.3. Pertumbuhan Ekonomi Riau Sisi Sektoral Dengan Migas (yoy,%)
3.1. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
Berbeda dari historisnya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Provinsi Riau pada triwulan II 2015 tercatat mengalami kontraksi sebesar 5,74% (yoy), menurun siginifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 7.42% (yoy). Penurunan kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan pada triwulan laporan didorong oleh
penurunan kinerja subsektor
pertanian, peternakan, perburuan,
I* II* III* IV* I(r)*** II***
Pertanian, Kehutanan, Perikanan 8.66 7.46 4.51 5.26 7.42 (5.74) (1.43) Petambangan dan Penggalian (4.09) (5.98) (5.38) (6.41) (8.68) (7.98) (2.07) Industri Pengolahan 6.81 6.63 6.79 2.43 (0.41) 0.51 0.14 Pengadaan Listrik dan Gas (0.62) 1.07 4.87 18.91 12.24 0.98 0.00 Pengadaan Air, Pengolahan
Sampah, Limbah, dan Daur
Ulang 2.34 0.29 1.38 3.77 (2.90) 3.10 0.00 Konstruksi 10.37 9.29 7.55 6.84 4.59 5.07 0.36 Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda
Motor 4.60 2.48 4.58 1.35 1.36 0.58 0.05 Transportasi dan Pergudangan 8.03 8.49 7.53 7.94 4.29 5.15 0.04 Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum 3.76 9.21 10.26 4.64 1.08 (2.17) (0.01) Informasi dan Komunikasi 3.69 4.69 7.27 6.85 8.88 7.70 0.06 Jasa Keuangan dan Asuransi 3.47 4.79 3.85 6.71 4.45 (4.42) (0.04) Real Estate 5.15 5.85 6.17 4.15 7.04 7.91 0.07 Jasa Perusahaan 11.32 14.69 11.70 13.63 6.98 7.09 0.00 Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial
Wajib 4.43 (2.65) (0.13) 4.53 1.38 6.08 0.10 Jasa Pendidikan 3.68 0.99 6.17 7.22 9.66 9.83 0.04 Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial 10.69 10.69 8.02 4.80 11.68 8.92 0.01 Jasa Lainnya 12.62 12.11 11.31 8.77 8.41 9.55 0.04
3.93
2.90 2.67 1.05 (0.03) (2.64) (2.64) Ket: *) Data sementara ***) Data sangat sementara r) revisi
Sumber Pertumbuha n (%) Uraian PDRB 2014 2015
Grafik 1.23. Perkembangan Pertumbuhan Subsektor Pertanian
Sumber: BPS Provinsi Riau
dan jasa pertanian yang tercatat mengalami kontraksi sebesar 8,02% (yoy). Subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian didominasi oleh subsektor perkebunan dan memiliki share sebesar 17,46% terhadap perekonomian Provinsi Riau atau sebesar 68,64% dari total sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.
Penurunan kinerja subsektor pertanian,
peternakan, perburuan, dan jasa
pertanian diperkirakan akibat
bergesernya pola musim tanam tanaman bahan makanan (TABAMA) yang terjadi secara bersamaan pada hampir seluruh wilayah di Indonesia. Hal ini juga dikonfirmasi berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia terkait perkembangan usaha
sektor pertanian, kehutanan, dan
perikanan yang mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, kinerja subsektor perkebunan juga tidak optimal disebabkan karena pengusaha masih menahan produksi karena kondisi perekonomian global dan nasional. Perkembangan kredit bank umum di Provinsi Riau kepada subsektor perkebunan juga mengalami perlambatan. Total kredit subsektor kelapa sawit yang disalurkan oleh bank umum di Provinsi Riau pada triwulan II 2015 mencapai Rp10,81 miliar atau tumbuh sebesar 10,29% (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2015 yang mencapai 19,43% (yoy) atau sebesar Rp10,21 miliar.
Berdasarkan informasi dari contact liaison, penurunan kinerja subsektor kehutanan dan penebangan kayu disebabkan oleh penurunan ukuran dan kualitas kayu yang ditebang. Akan tetapi, pemenuhan bahan baku industri pulp dan kertas dapat terpenuhi melalui impor dari daerah lain. Di sisi lain, perkembangan subsektor perikanan tercatat relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya.
Grafik 1.24. Perkembangan Kredit Subsektor Perkebunan Kelapa Sawit
Grafik 1.25. Perkembangan Usaha Sektor Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan
Grafik 1.26. Perkembangan Kapasitas Produksi Terpakai Sektor Pertanian
Sumber : Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia Sumber : Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia
3.2. Sektor Pertambangan dan Penggalian
Kinerja sektor pertambangan Riau pada triwulan II 2015 tercatat relatif membaik dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari kontraksi sebesar 8.68% (yoy) menjadi kontraksi 7.98% (yoy). Hal ini diperkirakan akibat optimalisasi teknologi pertambangan minyak bumi yang dilakukan oleh pengusaha yakni berupa injeksi kuman atau injeksi kimia. Sementara itu, kontraksi pada sektor pertambangan utamanya didorong oleh kontraksi pada subsektor pertambangan miyak bumi dan gas bumi, namun tercatat lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini juga tercermin dari pencapaian lifting minyak bumi Provinsi Riau yang hingga triwulan II 2015 yang berada di atas total lifting minyak bumi pulau Sumatera. Hingga triwulan II 2015, pencapaian lifting minyak bumi di Provinsi Riau mencapai 54.947,8 ribu barel atau sebesar 300,59 ribu barel per hari. Pencapaian tersebut tercatat menurun sebesar 7,66% (yoy), dan relatif stabil dibandingkan triwulan I 2015 yang mengalami penurunan sebesar 7,20% (yoy). Sementara itu, pencapaian lifting gas bumi di Provinsi Riau hingga triwulan II 2015 mencapai 9.446,20 ribu
MMBTU (Million Metric British Thermal Unit) atau sebesar 40,63% dari target
2015. Lifting gas bumi Provinsi Riau mencapai 2,04% dari total lifting gas bumi Sumatera.
Grafik 1.27. Pencapaian Lifting Minyak Bumi hingga Triwulan II 2015
Sumber: ESDM
Grafik 1.28. Perkembangan Lifting Minyak Bumi Provinsi Riau
Sumber: ESDM
Meskipun demikian, kinerja lifting minyak bumi di Riau semakin menurun akibat penurunan produktivitas sumur minyak yang sudah tua dan minimnya penemuan sumber cadangan minyak baru yang produktif di Provinsi Riau.
Beberapa perusahaan
pertambangan minyak berusaha menahan laju penurunan produksi
melalui penggunaan alat-alat
drilling berteknologi tinggi, seperti injeksi uap dan menggunakan bahan-bahan kimia seperti injeksi kuman serta bahan kimia lainnya agar dapat mengambil sisa-sisa minyak bumi. Selain keterbatasan sumber cadangan minyak baru,
perusahaan minyak juga
dihadapkan pada permasalahan perijinan antara lain meliputi ijin eksploitasi, ijin pengembangan sumur dan fasilitas produksi, serta ijin lingkungan (AMDAL) termasuk terkait pembuangan limbah, dimana terjadi tumpang tindih antara
Grafik 1.29. Pertumbuhan Sektor Pertambangan dan Penggalian Provinsi Riau berdasarkan
subsektor
peraturan beberapa pihak berwenang. Kondisi serupa juga terjadi pada perusahaan gas bumi yang ada di provinsi Riau.
Di sisi lain, kinerja pertambangan batu bara mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini didorong oleh penurunan harga batu bara dunia dan melemahnya permintaan ekspor sehingga perusahaan cenderung menahan produksi. Hal ini terlihat dari penurunan ekspor batu bara Provinsi Riau pada
triwulan laporan3.
3.3. Sektor Industri Pengolahan
Kinerja sektor industri pengolahan dengan migas pada triwulan II 2015 tercatat tumbuh sebesar 0,51% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan I 2015 yang tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,41% (yoy). Peningkatan kinerja sektor industri pengolahan pada triwulan laporan didorong oleh perbaikan kinerja industri makanan dan minuman dan industri kertas dan barang dari kertas, percetakan, dan reproduksi media rekaman. Peningkatan kinerja kedua sektor ini diperkirakan akibat mulai terealisasinya investasi kegiatan usaha pada triwulan laporan. Peningkatan kinerja sektor industri pengolahan juga dikonfirmasi oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia yang menunjukkan bahwa realisasi perkembangan kegiatan usaha pada triwulan II 2015 cenderung meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Meningkatnya subsektor industri pengolahan makanan dan minuman terjadi seiring dengan peningkatan ekspor CPO Provinsi Riau pada triwulan laporan. Masuknya bulan Ramadhan dan menipisnya stok CPO dunia mendorong peningkatan ekspor CPO. Peningkatan industri pengolahan karet, barang dari karet dan plastik disebabkan oleh peningkatan ekspor karet akibat peningkatan permintaan karet dari negara tujuan ekspor. Di sisi lain, penurunan kinerja industri batubara dan pengilangan migas yang masih berlanjut mengakibatkan laju pertumbuhan sektor industri pengolahan tertahan. Menurunnya kinerja subsektor ini disebabkan oleh kinerja lifting minyak bumi, gas dan pertambangan batubara yang masih mengalami kontraksi hingga triwulan laporan.
3.4. Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor
Kinerja sektor perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor pada triwulan II 2015 tercatat mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 1,36% (yoy) menjadi 0,58% (yoy). Perlambatan pada sektor ini didorong oleh penurunan
kinerja subsektor perdagangan
perdagangan mobil, sepeda motor dan
reparasinya yang masih tercatat
mengalami penurunan dari -3,79% (yoy) pada triwulan I 2015 menjadi -4,10% (yoy). Kondisi ini diperkirakan akibat masih
berlanjutnya depresiasi nilai rupiah sehingga biaya produksi dan pembelian bahan baku meningkat cukup tinggi dan berdampak terhadap peningkatan harga jual.
Grafik 1.30. Perkembangan Stok CPO Dunia
Sumber : Sumber: USDA
Grafik 1.31. Perkembangan Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan
Sumber : BPS Provinsi Riau
Grafik 1.32. Pertumbuhan Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, dan
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor berdasarkan subsektor
Sementara itu, subsektor perdagangan besar dan eceran, bukan mobil dan sepeda motor juga tercatat mengalami perlambatan dari 3,54% (yoy) pada triwulan I 2015 menjadi 2,53% (yoy). Hal
ini diperkirakan akibat pelemahan
ekonomi global yang berdampak
terhadap penurunan ekspor komoditas
utama. Selain itu, perkembangan
ekonomi lokal yang menurun juga
mensinyalir penurunan daya beli
masyarakat sehingga kegiatan jual-beli
tidak dapat tumbuh optimal.
Perlambatan juga dikonfirmasi oleh hasil survei kegiatan dunia usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia dimana realisasi perkembangan kegiatan usaha sektor perdagangan pada triwulan II 2015 masih mengalami kontraksi meskipun cenderung membaik dibandingkan triwulan sebelumnya.
Berdasarkan subsektor, perlambatan
kinerja sektor perdagangan didorong
oleh penurunan kinerja subsektor
perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya yang tercatat mengalami kontraksi sebesar 4,10% (yoy) pada triwulan II 2015. Penurunan kinerja
subsektor ini diperkirakan akibat
pelemahan nilai tukar rupiah sehingga impor bahan baku menurun dan terjadi peningkatan harga jual. Sementara itu, subsektor perdagangan besar dan eceran
bukan mobil dan sepeda motor tercatat tumbuh melambat yaitu dari 3,54% (yoy) pada triwulan I 2015 menjadi 2,53% (yoy) pada triwulan II 2015. Kondisi ini erat kaitannya dengan penurunan daya beli masyarakat setempat akibat harga komoditas yang masih rendah.
Grafik 1.33. Realisasi Perkembangan Kegiatan Usaha Sektor Perdagangan
Sumber: Survei Kegiatan Dunia Usaha BI
Grafik 1.34. Perkembangan Pertumbuhan Subsektor Perdagangan
Dilihat dari kredit perbankan, perlambatan pertumbuhan sektor perdagangan juga diindikasikan oleh melambatnya pertumbuhan penyaluran kredit untuk sektor perdagangan, hotel, dan restoran berdasarkan lokasi bank di Provinsi Riau pada triwulan II 2015. Perlambatan tersebut didorong oleh masih berlanjutnya kontraksi
penyaluran kredit pada subsektor perdagangan besar dan eceran makanan, minuman, dan tembakau meskipun relatif membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2015, jumlah kredit yang disalurkan ke subsektor perdagangan besar dan eceran makanan, minuman dan tembakau mencapai Rp2,32 triliun atau turun sebesar 8,27% (yoy). Selain itu, penyaluran kredit ke subsektor perdagangan kelapa dan kelapa sawit juga mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan penyaluran kredit terhadap