IV. METODE PENELITIAN
5.1 Kondisi Umum Wilayah Penelitian
Awalnya Kabupaten Bogor menjadi satu dengan Kotamadya Bogor. Pada tahun 1975 pemerintah pusat menginstruksikan agar Kabupaten Bogor memiliki pusat pemerintahan sendiri. Pada tahun 1982 melalui peraturan pemerintah pusat No. 6 tahun 1982 menyetujui usulan DPRD tingkat II mengenai Kecamatan Cibinong dijadikan ibukota Kabupaten Bogor.
5.1.1 Geografi dan Pemerintahan
Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan ibukota Republik Indonesia dan merupakan salah satu kabupaten yang terletak dalam lingkungan propinsi Jawa Barat. Luas wilayah Kabupaten Bogor adalah 317.102 Ha. Secara geografis, Kabupaten Bogor berbatasan dengan Kabupaten Tangerang, Kabupaten/Kota Bekasi dan Kota Depok di sebelah utara, kemudian dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Karawang di sebelah timur, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi dan Cianjur, sementara di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak Propinsi Banten serta di tengah-tengah terletak Kota Bogor.
Pada tahun 2007 Kabupaten Bogor mempunyai 40 kecamatan, 426 desa/kelurahan, 3.160 RW, 12.170 RT dan 862.919 rumah tangga. Dari jumlah tersebut mayoritas mempunyai ketinggian sekitar kurang dari 500 meter terhadap permukaan laut, yakni 232 desa, sedang di antara 500-700 meter ada 144 desa dan sisanya 49 desa sekitar lebih dari 500 meter dari permukaan laut. Hampir sebagian besar desa pada Kabupaten Bogor sudah terklasifikasi sebagai desa swakarya
yakni 235 desa, lainnya 191 desa merupakan desa swasembada dan tidak ada desa swadaya.
Kabupaten Bogor dibagi dalam perwilayahan pembangunan yang merupakan dasar penyusunan agenda pembangunan dan rencana strategis setiap bidang dan program pembangunan dalam rangka penyeimbangan pembangunan antar wilayah. Maksud dan tujuan perwilayahan pembangunan adalah untuk meningkatkan pertumbuhan wilayah secara seimbang antar kawasan dengan memanfaatkan sumber daya secara optimal dan berkesinambungan. Wilayah Kabupaten Bogor dibagi menjadi tiga wilayah pembangunan dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah dan perkembangan ekonomi wilayah, pola interaksi internal dan eksternal yang didukung oleh jaringan infrastruktur pelayanan baik lokal maupun regional serta kebijakan pengembangan dan penyebaran penduduk secara seimbang sesuai dengan daya dukung lingkungan. Tiga wilayah pembangunan di kabupaten ini yaitu: wilayah pembangunan barat, tengah dan timur. Pembangunan wilayah barat meliputi 13 (tiga belas) kecamatan, yaitu Kecamatan Jasinga, Parung Panjang, Tenjo, Cigudeg, Sukajaya, Nanggung, Leuwiliang, Leuwisadeng, Tenjolaya, Cibungbulang, Ciampea, Pamijahan dan Kecamatan Rumpin, dengan luas wilayah sekitar 128.750 Ha. Pembangunan wilayah tengah meliputi 20 (dua puluh) kecamatan, yaitu Kecamatan Gunung Sindur, Parung, Ciseeng, Kemang, Rancabungur, Bojonggede, Tajurhalang, Cibinong, Sukaraja, Dramaga, Cijeruk, Cigombong, Caringin, Ciawi, Megamendung, Cisarua, Citeureup, Babakan Madang, Ciomas dan Kecamatan Tamansari, dengan luas wilayah sekitar 87.552 Ha. Pembangunan wilayah timur
meliputi 7 (tujuh) kecamatan, yaitu Kecamatan Gunung Putri, Cileungsi, Klapanunggal, Jonggol, Sukamakmur, Tanjungsari dan Kecamatan Cariu.
5.1.2 Perekonomian Kabupaten Bogor 5.1.2.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi
Peran serta masyarakat terutama dunia usaha telah mampu mendorong berkembangnya pembangunan ekonomi Kabupaten Bogor. Keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi sangat memberikan dukungan dan dorongan terhadap pembangunan di berbagai sektor lainnya. Hal ini juga menjadi peluang bagi perluasan kesempatan kerja yang turut mendukung peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah.
Perekonomian suatu wilayah diindikasikan dengan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Di Kabupaten Bogor, secara umum seluruh sektor lapangan usaha mengalami kenaikan. Pendapatan daerah merupakan kekuatan utama perekonomian daerah yang sangat penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bogor.
Laju pertumbuhan ekonomi cenderung mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Mulai dari 4,48 persen pada tahun 2002 yang terus meningkat hingga mencapai 5,95 persen pada tahun 2006. Pada tahun 2006 sektor yang mengalami pertumbuhan paling tinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar 8,73 persen yang naik bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar minus 10,11 persen sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan terendah adalah sektor pertanian dengan pertumbuhan sebesar minus 1,21 persen. Adapun Tabel 5 mengenai Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bogor berdasarkan lapangan usaha adalah sebagai berikut.
Tabel 5. Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bogor Berdasarkan Lapangan Usaha Tahun 2002-2006 Tahun Lapangan Usaha 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 0,08 -5,41 0,15 2,95 -1,21 Pertambangan 2,27 8,82 7,50 -10,11 8,73 Industri 4,85 5,34 5,96 5,82 5,98 LGA 4,86 5,11 5,92 7,23 7,82 Bangunan 5,22 5,81 6,68 5,12 4,97 Perdagangan 5,26 6,20 6,69 8,01 8,03 Angkutan 5,62 6,46 7,34 7,30 8,02 Keuangan 5,22 5,68 6,08 9,69 4,95 Jasa-jasa 5,02 5,44 6,19 4,25 4,87 PDRB 4,48 4,81 5,56 5,85 5,95
Sumber: BPS Kabupaten Bogor, 2006.
5.1.2.2 PDRB dan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan komponen pendapatan pemerintah daerah kabupaten yang sangat penting, terutama dengan otonomi di daerah kabupaten. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bogor yang tinggi tentunya merupakan potensi yang sangat menguntungkan bagi pemerintah daerah untuk menaikkan PADnya dari tahun ke tahun. Pada Tabel 6 akan dibandingkan antara nilai PAD dengan PDRB.
Tabel 6. Perbandingan PDRB dan PAD Kabupaten Bogor Tahun 2002-2006 Nilai absolut (juta rupiah)
Tahun PAD PDRB % terhadap PDRB 2002 122.394,33 22.566.874,32 0,54 2003 148.921,78 26.990.272,23 0,55 2004 166.260,11 30.684.780,53 0,54 2005 186.111,75 38.182.119,76 0,49 2006 232.117,87 44.792.697,65 0,52
Sumber: BPS Kabupaten Bogor, 2006.
Pada tahun 2005 PAD Kabupaten Bogor tercatat sebesar Rp. 186,11 milyar meningkat menjadi Rp. 232,12 milyar pada tahun 2006 atau naik sebesar 24,72 persen. Jika dihitung persentase PAD terhadap PDRB cenderung mengalami peningkatan, namun pada tahun 2005 terjadi penurunan. Pada tahun
2005 terjadi penurunan persentase PAD terhadap PDRB sebesar 0,49 persen. Bila dilihat perbandingan PAD terhadap PDRB selama kurun waktu dari 2003 sampai dengan 2006 adalah sebesar 0,52 persen.
5.1.3 Demografi
Menurut data Susenas 2005, jumlah penduduk Kabupaten Bogor sebesar 3,80 juta jiwa. Jumlah tersebut mendiami wilayah seluas 2.388,93 Km2 sehingga secara rata-rata kepadatan penduduk di Kabupaten Bogor adalah 1.549 jiwa per Km2. Jumlah penduduk yang besar seringkali menjadi beban dalam proses pembangunan jika berkualitas rendah. Oleh sebab itu, untuk menunjang keberhasilan pembangunan, pemerintah Kabupaten Bogor harus secara terus- menerus melakukan upaya pengendalian jumlah penduduk, dengan menciptakan tatanan keluarga kecil sehat dan berkualitas sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) ke depan.
Tabel 7. Jumlah dan Laju pertumbuhan Penduduk Kabupaten Bogor Tahun 2002- 2005 Tahun Indikator 2002 2003 2004 2005 Jumlah penduduk 3.599.462 3.791.781 3.789.212 3.801.948 r (2002 - 2003) = 5,34 r (2003 - 2004) = 0,17 Laju pertumbuhan penduduk r (2004 - 2005) = 0,10 Sumber: IPM Kabupaten Bogor Tahun 2006