• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. POLA SPASIAL KEMISKINAN, PEMBANGUNAN

5.3 Pola Spasial Aktivitas Ekonomi

5.3.2 Konfigurasi Sebaran Aktivitas Sektor Industri/

Sektor perdagangan dan industri merupakan sektor ekonomi yang memberikan kontribusi kedua terbesar di Kalimantan Barat. Aktivitas di sektor ini dikelompokkan dalam industri kecil/rumah tangga, perdagangan, hotel dan restoran, koperasi, perdagangan/ industri berizin.

Aktifitas ekonomi di sektor industri khususnya industri kecil/rumah tangga menampilkan delapan kategori aktifitas industri yang membangun variabel industri kecil/rumah tangga, yakni pangsa lokal jumlah industri berbahan baku kulit, berbahan baku kayu, berbahan baku logam, pengrajin anyaman, pengrajin keramik, kain tenun, industri makanan dan minuman, serta industri kecil lainnya. Variabel-variabel tersebut membentuk tiga penciri yang menggambarkan 53,60% wilayah dijumpai aktivitas industri kecil/rumah tangga. Pada Tabel 40, penciri pertama (Idx_AEIRTf1) menunjukkan keragaman 24,03% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal industri kecil makanan dan minuman dan industri lainnya dengan muatan faktor masing-masing 0,87 dan 0,90 dimana kenaikan satu unit penciri pertama menunjukkan kenaikan variabel penyusunnya sebesar muatan faktornya masing-masing. Penciri keduanya (Idx_AEIRTf2) menunjukkan keragaman 16,41% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal industri kecil berbahan baku kayu dan logam dengan muatan faktor masing-masing 0,72 dan 0,75. Kenaikan satu unit penciri kedua berkorelasi dengan kenaikan variabel penyusunnya sebesar muatan faktornya masing-masing. Penciri ketiga (Idx_AEIRTf3) menunjukkan keragaman 13,16% yang berkorelasi negatif dengan pangsa lokal industri kecil berbahan baku kulit dengan muatan faktor 0,87. Untuk kenaikan satu unit penciri ketiga menunjukkan penurunan variabel penyusunnya sebesar 0,87 pangsa lokal kerajinan rumah tangga berbahan baku kulit.

Aktifitas ekonomi di sektor perdagangan, hotel dan restoran menampilkan sembilan model aktifitas yang membangun variabel perdagangan, hotel dan restoran, yakni pangsa lokal jumlah kios tani KUD, kios tani non-KUD, pasar tradisional, minimarket, restoran, kedai makan, toko kelontong, hotel dan motel. Variabel-variabel tersebut membangun tiga penciri yang menggambarkan 69,18% wilayah terkait dengan aktivitas perdagangan, hotel dan restoran. Penciri pertama (Idx_AEDHRf1) menunjukkan keragaman 42,59% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal jumlah pasar tradisional, minimarket dan restoran dengan muatan faktor masing-masing 0,72, 0,85 dan 0,86. Kenaikan satu unit penciri pertama menunjukkan kenaikan variabel penyusunnya sebesar muatan faktornya masing-masing. Penciri ini akan terkait dengan aktivitas perdagangan pada wilayah yang lebih berkembang. Penciri keduanya (Idx_AEDHRf2) menunjukkan

keragaman 13,66% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal jumlah motel/penginapan lainnya dengan muatan faktor 0,76. Kenaikan satu unit penciri kedua menunjukkan kenaikan variabel penyusunnya sebesar 0,76 pangsa lokal jumlah motel/penginapan lain. Penciri lainnya, yaitu penciri ketiga (Idx_AEDHRf3) menunjukkan keragaman 12,96% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal jumlah kios tani dengan muatan faktor 0,88. Kenaikan satu unit penciri ketiga menunjukkan kenaikan variabel penyusunnya sebesar 0,88 pangsa lokal jumlah kios tani. Penciri ini terkait dengan fasilitas industri/perdagangan di pedesaan.

Tabel 40 Muatan faktor penciri dari konfigurasi sebaran aktivitas sektor industri/perdagangan Kelompok Penciri (% varian) Penciri (% varian) Keterangan Faktor Loading Industri Kecil/ Rumah tangga (53,60) Idx_AEIRTf1 (24,03)

Pangsa lokal Industri makanan dan minuman

0,87(+) Pangsa lokal Industri kecil/ rumah tangga

lainnya

0,90(+)

Idx_AEIRTf2 (16,41)

Pangsa lokal kerajinan rumah tangga berbahan kayu

0,72(+) Pangsa lokal kerajinan rumah tangga

berbahan logam

0,75(+) Idx_AEIRTf3

(13,16)

Pangsa lokal kerajinan rumah tangga berbahan kulit

0,87(-)

Perdagangan, Hotel, dan Rumah

Makan (69,18)

Idx_AEDHRf1 (42,56)

Pangsa lokal pasar tradisional 0,72(+)

Pangsa lokal minimarket 0,85(+)

Pangsa lokal restoran 0,86(+)

Idx_AEDHRf2

(13,66) Pangsa lokal motel/penginapan lain 0,76(+)

Idx_AEDHRf3

(12,96) Pangsa lokal kios tani non KUD 0,88(+)

Kelembagaan Koperasi

(36,98)

Idx_AEKopr

(36,98) Pangsa lokal koperasi non KUD 0,79(-)

Izin Industri/ Perdagangan

(59,05)

Idx_AEIUD (59,05)

Pangsa lokal Perdagangan Besar 0,90(+)

Pangsa lokal Perdagangan Kecil 0,91(+)

Aktifitas ekonomi oleh koperasi menampilkan empat model kelembagaan koperasi yang membangun variabel kelembagaan koperasi, yakni pangsa lokal jumlah KUD, Kopinkra, Koperasi Simpan Pinjam dan Koperasi non-KUD. Dari empat variabel tersebut direduksi membentuk satu komponen utama yang mewakili 36,98% keragaman data yang ada dan berkorelasi negatif dengan pangsa lokal jumlah lembaga koperasi non-KUD dengan muatan faktor 0,79.

Kenaikan satu unit penciri menunjukkan penurunan variabel penyusunnya sebesar 0,79 unit pangsa lokal lembaga koperasi non-KUD.

Aktifitas ekonomi di sektor perdagangan dan industri secara formal dapat pula ditampilkan dari jumlah surat izin usaha yang dikeluarkan, dan menampilkan empat variabel aktifitas industri/perdagangan, yakni pangsa lokal jumlah industri/perdagangan besar, menengah dan kecil. Dari tiga variabel tersebut membentuk satu penciri yang menunjukkan adanya aktivitas industri/perdagangan pada 59,05% wilayah dan berkorelasi positif dengan pangsa lokal jumlah perdagangan besar dan kecil dengan muatan faktor masing-masing 0,90 dan 0,91. Kenaikan satu unit penciri menunjukkan peningkatan variabel penyusunnya sebesar muatan faktornya masing-masing.

Penciri-penciri hasil PCA digunakan dalam mengklasifikasikan kecamatan dengan memanfaatkan factor score (Lampiran 14) berdasarkan kedekatan jarak antar penciri (euclidean distance) melalui analisis klaster (cluster analysis). Kedelapan penciri signifikan menjadi pembeda tiga klaster dengan kategori tinggi, rendah, dan sedang seperti yang ditunjukkan pada Gambar 25.

Gambar 25 Grafik nilai tengah (Euclidean Distance) penciri konfigurasi aktivitas sektor industri/perdagangan.

Melalui analisis diskriminan enam penciri signifikan menjadi penciri/pembeda dari tiga kelompok yang terbentuk dengan besarnya kemampuan klasifikasi 100,00%. Masing-masing kelompok tersebut memiliki kategori seperti yang diuraikan pada Tabel 41.

Nilai Tengah Penciri

Konfigurasi Aktivitas Sektor Industri/Perdagangan

Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Idx_AEIRTf1 Idx_AEIRTf2 Idx_AEIRTf3 Idx_AEDHRf1 Idx_AEDHRf2 Idx_AEDHRf3 Idx_AEKopr Idx_AEIUD Penciri -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 n il a i te n g a h

Tabel 41 Kategori pembeda pada konfigurasi aktivitas sektor industri/ perdagangan

Penciri Keterangan Kategori

I II III

Idx_AEIUD Pangsa lokal Perdagangan Besar Tinggi Rendah Sedang

Pangsa lokal Perdagangan Kecil Tinggi Rendah Sedang

Idx_AEDHRf3 Pangsa lokal kios tani non KUD Rendah Sedang Tinggi

Idx_AEDHRf1

Pangsa lokal pasar tradisional Sedang Rendah Tinggi

Pangsa lokal minimarket Sedang Rendah Tinggi

Pangsa lokal restoran Sedang Rendah Tinggi

Idx_AEDHRf2 Pangsa lokal motel/penginapan lain Tinggi Sedang Rendah

Idx_AEIRTf1

Pangsa lokal Industri makanan dan minuman

Sedang Rendah Tinggi

Pangsa lokal Industri kecil/ rumah tangga lainnya

Sedang Rendah Tinggi

Idx_AEKopr Pangsa lokal koperasi non KUD Sedang Rendah Tinggi

Klasifikasi pada 175 kecamatan menghasilkan klaster 1 terdiri atas 17 kecamatan (9,71%), tipologi II terdiri atas 153 kecamatan (87,43%) dan tipologi 3 terdiri atas 5 kecamatan (2,86%). Distribusi konfigurasi di tingkat kecamatan ditunjukkan pada Lampiran 15.

Dari hasil klasifikasi, penciri dari kategori pertama menunjukkan tingginya aktivitas perdagangan/industri besar dan kecil yang terdaftar, dan pangsa lokal penginapan kecil/motel. Sementara untuk jumlah kios tani non KUD dengan kategori rendah, dan sebaran yang sedang untuk pangsa lokal pasar tradisional, minimarket dan restoran, serta aktivitas sektor industri kecil/rumah tangga dan koperasi non KUD.

Untuk klaster kedua dicirikan dengan rendahnya aktivitas perdagangan/industri besar dan kecil yang terdaftar, pangsa lokal pasar tradisional, minimarket dan restoran, dan koperasi non KUD, serta aktivitas sektor industri kecil/rumah tangga. Kategori sedang untuk pangsa kios tani non KUD dan pangsa lokal penginapan kecil/motel.

Di klaster ketiga pencirinya adalah pangsa lokal pasar tradisional, minimarket dan restoran, sektor industri kecil/rumah tangga dan pangsa koperasi non KUD yang tinggi. Kategori aktivitas yang sedang untuk pangsa kios tani non KUD yang tinggi serta aktivitas kategori sedang untuk aktivitas perdagangan/industri besar dan kecil yang terdaftar dan rendah untuk pangsa lokal penginapan kecil/motel.

Secara umum, masing-masing klaster dapat dikategorikan dengan aktivitas tinggi pada klaster pertama, kategori rendah untuk klaster kedua dan sedang untuk klaster ketiga. Dari Gambar 26, tampak bahwa wilayah di Provinsi Kalimantan Barat dominan berada pada tipologi ketiga, yang mencerminkan rendahnya aktivitas sektor perdagangan dan industri. Aktivitas sektor ini hanya berkembang pada sebagian kecil kecamatan. Kondisi ini tentunya berdampak pula pada terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia untuk menampung tenaga kerja non pertanian. Dampak nyata dari keterbatasan lapangan pekerjaan ini dapat menjadi pemicu tingginya insiden kemiskinan pada suatu wilayah.

Gambar 26 Peta konfigurasi aktivitas sektor industri/perdagangan di Provinsi Kalimantan Barat.

Kabupaten yang dijumpai adanya kecamatan dengan kategori sebaran aktivitas industri/perdagangan tinggi adalah Kabupaten Sintang, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Melawi, Kabupaten Landak, Kabupaten Sambas, Kabupaten Ketapang, Kota Singkawang, dan Kota Pontianak. Kota Pontianak sebagai kota utama di provinsi ini menunjukkan seluruh kecamatannya terkategori sebaran aktivitas industri/perdangan yang tinggi. Kabupaten Bengkayang, dan Kabupaten Kapuas Hulu, meskipun PDRB-nya di tahun 2008 termasuk tinggi, akan tetapi tidak satupun kecamatan di wilayahnya terkategori sebaran aktivitas sektor industri/perdagangan tinggi. Untuk Kabupaten Kayong

Utara sebagai kabupaten kedua termuda, belum mampu mendorong aktivitas