• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. POLA SPASIAL KEMISKINAN, PEMBANGUNAN

5.3 Pola Spasial Aktivitas Ekonomi

5.3.1 Konfigurasi Sebaran Aktivitas Sektor Pertanian

Pada kelompok indikator aktivitas sektor pertanian dibagi kembali dalam aktivitas pertanian padi, tanaman pangan lain, perkebunan, peternakan besar/kecil dan peternakan unggas. Masing-masing indikator akan membangun penciri utama wilayah untuk masing-masing aktivitas di sektor pertanian tersebut. Penciri utama adalah faktor yang memiliki eigenvalue satu atau lebih, yang menggambarkan faktor yang paling representatif mewakili keseluruhan data yang ditampilkan dalam analisis ini.

Dua variabel yakni pangsa lokal luas panen padi sawah dan padi ladang membentuk satu penciri luasan panen tanaman padi (Idx_AEPadi) dengan keragaman 50,61% yang berkorelasi positif dengan pangsa luasan panen padi sawah dan padi ladang masing-masing sebesar 0,71 (Tabel 37). Peningkatan satu unit penciri berkorelasi dengan kenaikan variabel sebesar muatan faktornya.

Tabel 37 Muatan faktor variabel dari penciri konfigurasi sektor pertanian Kelompok Penciri (% varian) Penciri (% varian) Keterangan Faktor Loading Luas Panen Padi

(50,61)

Idx_AEPadi (50,61)

Pangsa lokal luas panen padi sawah 0,71(+)

Pangsa lokal luas panen padi ladang 0,71(+)

Produksi Tanaman Pangan bukan-padi

(64,00)

Idx_AEPangf1

(27,12) Pangsa produksi Ubi Kayu 0,85(+)

Idx_AEPangf2

(19,47) Pangsa produksi Kacang Hijau 0,78(+)

Idx_AEPangf3

(17,42) Pangsa produksi Jagung 0,88(+)

Produksi Hasil Perkebunan

(68,35)

Idx_AEBunf1 (20,55)

Pangsa lokal produksi kopi 0,72(+)

Pangsa lokal produksi tanaman perkebunan lainnya

0,88(+) Idx_AEBunf2

(18,40)

Pangsa lokal produksi karet 0,79(+)

Pangsa lokal produksi kelapa sawit 0,72(+)

Idx_AEBunf3 (15,16)

Pangsa lokal produksi lada 0,81(+)

Pangsa lokal produksi kakao 0,84(+)

Idx_AEBunf4

(14,24) Pangsa lokal produksi kelapa hybrida 0,83(+)

Populasi Ternak Besar/Kecil

(62,21)

Idx_AETBf1

(36,67) Pangsa lokal populasi ternak sapi 0,84(+)

Idx_AETBf2

(25,54) Pangsa lokal populasi ternak babi 0,89(+)

Populas ternak Unggas

(66,55)

Idx_AETUf1

(40,07) Pangsa lokal populasi ayam telur 0,90(+)

Idx_AETUf2

(26,48) Pangsa lokal populasi itik 0,89(+)

Penggunaan Lahan (71,22)

Idx_AELahf1 (42,93)

Pangsa luasan sawah beririgasi teknis 0,83(+)

Pangsa luasan sawah beririgasi non-

teknis 0,87(+)

Idx_AELahf2 (28,29)

Pangsa luasan lahan pertanian non

sawah 0,87(+)

Pangsa luasan lahan non pertanian 0,91(+)

Subsektor pertanian tanaman pangan selain padi, di Kalimantan Barat, dijumpai pula adanya aktivitas pertanian tanaman pangan lain, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau dan kacang kedelei. Keenam komoditas tersebut digunakan sebagai variabel penyusun penciri utama aktivitas tanaman pangan bukan-padi. Variabel-variabel tersebut membentuk tiga penciri yang mewakili 64,00% keragaman data. Penciri pertama (Idx_AEPangf1) menunjukkan keragaman 27,12% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal produksi ubi kayu dengan muatan faktor 0,85, yang artinya kenaikan satu unit penciri pertama menunjukkan kenaikan 0,85 unit pangsa produksi ubi kayu. Penciri ini sekaligus menunjukkan sentra-sentra produksi ubi kayu di Kalimantan Barat. Penciri kedua dari kelompok tanaman pangan bukan-padi (Idx_AEPangf2) menunjukkan keragaman 19,46% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal produksi kacang hijau dengan muatan faktor 0,78. Kenaikan satu unit penciri

kedua menunjukkan kenaikan kenaikan 0,78 unit pangsa produksi kacang hijau. Besaran ini menunjukkan 19,46% wilayah di Kalimantan Barat akan didapati produksi kacang hijau. Penciri ketiga (Idx_AEPangf3) pada kelompok ini menunjukkan keragaman 17,42% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal produksi jagung dengan muatan faktor 0,88, yang artinya kenaikan satu unit penciri ketiga menunjukkan kenaikan kenaikan 0,88 unit pangsa produksi jagung. Gambaran dari penciri ini adalah 17,42% wilayah kecamatan di Kalimantan Barat mengembangkan produksi tanaman jagung.

Aktifitas perkebunan mencatat enam komoditas utama, dan beberapa komoditas perkebunan lainnya. Komoditas-komoditas tersebut membentuk tujuh variabel yang akan dianalisis, yakni pangsa lokal produksi karet, kelapa dalam, kelapa hybrida, kelapa sawit, lada, kopi, kakao dan tanaman perkebunan lainnya. Tujuh variabel direduksi membentuk empat penciri utama yang mewakili 68,35% keragaman data, yang artinya 68,35% wilayah kecamatan di Kalimantan Barat dijumpai adanya aktivitas sub sektor perkebunan. Penciri pertama (Idx_AEBunf1) memiliki keragaman 20,55% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal produksi kopi dan tanaman perkebunan lainnya dengan muatan faktor berturut- turut 0,72 dan 0,88. Kenaikan satu unit penciri pertama berkorelasi dengan kenaikan variabel penyusunnya sebesar muatan faktornya. Penciri ini sekaligus menggambarkan bahwa 20,55% kecamatan menunjukkan adanya aktivitas perkebunan kopi dan hasil perkebunan lainnya. Pada penciri kedua (Idx_AEBunf2) menunjukkan keragaman 18,40% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal produksi karet dan kelapa sawit dengan muatan faktor berturut-turut 0,79 dan 0,72. Kenaikan satu unit penciri kedua berkorelasi dengan kenaikan variabel penyusunnya sebesar muatan faktornya. Dengan demikian karet dan kelapa sawit merupakan komoditas yang dikembangkan pada 18,40% wilayah kecamatan di Kalimantan Barat. Untuk penciri ketiga (Idx_AEBunf3) menunjukkan keragaman 15,16% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal produksi lada dan kakao dengan muatan faktor berturut-turut 0,81 dan 0,84. Kenaikan satu unit penciri ketiga menunjukkan kenaikan variabel penyusunnya sebesar muatan faktornya. Penciri lainnya, yaitu penciri keempat (Idx_AEBunf4) menunjukkan keragaman 14,23% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal

produksi Kelapa hybrida dengan muatan faktor 0,83. Kenaikan satu unit penciri keempat berkorelasi dengan kenaikan 0,83 pangsa lokal kelapa hybrida.

Dalam sebaran aktifitas peternakan ternak besar dan kecil, ada empat komoditas ternak yang membentuk empat variabel yang akan dianalisis, yakni pangsa lokal populasi sapi, kerbau, babi dan kambing. Keempat variabel membentuk dua penciri yang mewakili 62,20% keragaman data, yang menunjukkan adanya aktivitas peternakan pada 62,20% wilayah kecamatan di Provinsi Kalimantan Barat. Penciri pertama (Idx_AETBf1) menunjukkan keragaman 30,67% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal populasi ternak sapi dengan muatan faktor 0,84. Kenaikan satu unit penciri pertama menunjukkan kenaikan 0,84 unit pangsa lokal populasi ternak sapi. Penciri pertama ini, sekaligus memberikan gambaran ditemuinya aktivitas peternakan sapi pada 30,67% kecamatan di Kalimantan Barat. Pada penciri kedua (Idx_AETBf2) menunjukkan keragaman 25,54%, menunjukkan adanya aktivitas peternakan babi, dimana pangsa lokal populasi babi berkorelasi positif dengan pangsa lokal populasi ternak babi dengan muatan faktor 0,89. Kenaikan satu unit penciri kedua berkaitan dengan kenaikan 0,89 unit pangsa lokal populasi ternak babi.

Pada aktifitas peternakan unggas, empat komoditas utama membentuk empat variabel yang akan dianalisis, yakni pangsa lokal populasi ayam daging, ayam telur, ayam buras dan itik. Keempat variabel direduksi membentuk dua penciri yang mewakili 66,55% keragaman data, atau dapat dikatakan 66,55% wilayah kecamatan di Provinsi Kalimantan Barat mengembangkan peternakan unggas. Penciri pertama (Idx_AETUf1) merupakan gambaran dari keragaman 40,07% wilayah kecamatan yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal populasi ayam petelur dengan muatan faktor 0,90, dimana kenaikan satu unit penciri pertama menunjukkan kenaikan 0,90 unit pangsa lokal populasi ayam petelur. Untuk penciri kedua (Idx_AETUf2) menunjukkan keragaman 26,48% yang berkorelasi positif dengan pangsa lokal populasi ternak itik dengan muatan faktor 0,89. Kenaikan satu unit penciri kedua terkait dengan kenaikan 0,89 unit pangsa lokal populasi ternak itik. Penciri ini sekaligus menggambarkan 26,48% wilayah kecamatan di Provinsi Kalimantan Barat ditemui adanya aktivitas peternakan itik.

Berlangsungnya suatu aktivitas tidak terlepas dari ketersediaan lahan untuk aktivitas tersebut. Semakin tinggi alokasi penggunaan lahan untuk melakukan suatu kegiatan, dimungkinkan kegiatan tersebut akan semakin berkembang. Demikian halnya dengan aktivitas ekonomi yang berkembang di Provinsi Kalimantan Barat, secara umum masih berbasis ketersediaan dan daya dukung lahan. Dari lima kategori alokasi penggunaan lahan dibangun menjadi variabel penggunaan lahan yang direduksi menjadi dua penciri penggunaan lahan yang mewakili keragaman 71,22% wilayah dengan gambaran ketersediaan penggunaan lahan. Penciri pertama menunjukkan keragaman 42,93% berkorelasi positif dengan pangsa luasan sawah beririgasi teknis dan non teknis. Setiap kenaikan satu unit penciri pertama berkorelasi dengan kenaikan 0,83 unit pangsa luasan sawah berigasi teknis dan 0,87 unit pangsa sawah beririgasi non teknis. Penciri ini menggambarkan bahwa 42,93% wilayah di Kalimantan Barat masih didukung oleh ketersediaan lahan untuk penggunaan sawah. Untuk penciri kedua memiliki total keragaman 28,29% yang berkorelasi positif dengan pangsa luasan lahan pertanian non sawah dan luasan lahan non pertanian. Kenaikan satu unit penciri kedua berkaitan dengan kenaikan 0,87 unit pangsa luasan lahan pertanian non sawah dan 0,91 luasan lahan non pertanian.

Penciri-penciri yang dihasilkan dari PCA dimanfaatkan untuk mengklasifikasikan kecamatan berdasarkan kedekatan jarak antar penciri (euclidean distance) dengan teknik analisis klaster (cluster analysis) dengan memanfaatkan factor score unit analisis (Lampiran 12). Nilai tengah penciri menjadi kategori pada tiap klaster seperti yang ditunjukkan pada Gambar 23.

Melalui analisis diskriminan sepuluh penciri signifikan menjadi pembeda dari tiga kelompok yang terbentuk dengan besarnya kemampuan klasifikasi 98,86%, artinya hanya 1,14% wilayah kecamatan yang berpeluang dikelompokkan pada kelompok lain. Setiap klaster menunjukkan tingkat kategori penciri yang beragam, bahkan klasterisasi jenis aktivitas sektor pertanian terpetakan dari analisis ini. Apabila aktivitas pertanian berbasis lahan merupakan penciri pada klaster 2, maka pada klaster 3 lebih menunjukkan wilayah dengan penciri utamanya adalah berbasis aktivitas peternakan.

Gambar 23 Grafik nilai tengah (Euclidean Distance) penciri konfigurasi sebaran aktivitas sektor pertanian.

Dengan kategori yang tersusun, pada 175 kecamatan, untuk klaster 1 terdiri atas 132 kecamatan (75,43%), klaster 2 terdiri atas 18 kecamatan (10,29%) dan klaster 3 terdiri atas 25 kecamatan (14,29%). Distribusi konfigurasi di tingkat kecamatan ditunjukkan pada Lampiran 13.

Klasifikasi penciri menunjukkan bahwa klaster pertama menggambarkan wilayah dengan produksi kelapa hybrida, lada, kakao, populasi itik, sapi, dan babi, serta produksi padi yang rendah, sedangkan produksi ubi kayu, jagung dan kacang hijau terkategori sedang. Penciri untuk klaster kedua menunjukkan produksi kelapa hybrida, populasi itik, sapi, babi, dan ayam petelur terkategori sedang, aktivitas pertanian padi, ubi kayu, jagung, lada dan kakao terkategori tinggi, sedangkan produksi kacang hijau terkategori rendah. Pada klaster ketiga dijumpai tingginya aktivitas sektor perkebunan kelapa hybrida, populasi itik, ayam petelur, sapi dan babi, budidaya kacang hijau. Luas panen padi sawah dan padi ladang, produksi lada dan kakao terkategori sedang, sedangkan penanaman ubi kayu dan jagung terkategori rendah (Tabel 38).

Dari pencirian masing-masing klaster, klaster pertama dapat dikategorikan sebagai wilayah dengan aktivitas sektor pertanian yang rendah, klaster kedua berkategori sedang dan klaster ketiga dengan kategori tinggi. Secara spasial, konfigurasi sebaran aktivitas sektor pertanian ditampilkan pada Gambar 24.

Nilai Tengah Penciri

Konfigurasi Sebaran Aktivitas Pertanian

Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Idx_AEPangf1 Idx_AEPangf3 Idx_AEBunf2 Idx_AEBunf4 Idx_AETBf2 Idx_AETUf2 Idx_AELahf2 Penciri -1,5 -1,0 -0,5 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 n il a i te n g a h

Tabel 38 Kategori Penciri pada tipologi aktivitas sektor pertanian

Indeks Komposit Penciri/Pembeda Kategori

I II III

Idx_AEBunf4 Pangsa lokal produksi kelapa hybrida Rendah Sedang Tinggi

Idx_AETUf2 Pangsa lokal populasi itik Rendah Sedang Tinggi

Idx_AEPangf1 Pangsa produksi Ubi Kayu Sedang Tinggi Rendah

Idx_AEPangf3 Pangsa produksi Jagung Sedang Tinggi Rendah

Idx_AETBf1 Pangsa lokal populasi ternak sapi Rendah Sedang Tinggi

Idx_AETBf2 Pangsa lokal populasi ternak babi Rendah Sedang Tinggi

Idx_AEPadi Pangsa lokal luas panen padi sawah Rendah Tinggi Sedang

Pangsa lokal luas panen padi ladang Rendah Tinggi Sedang

Idx_AETUf1 Pangsa lokal populasi ayam telur Rendah Sedang Tinggi

Idx_AEPangf2 Pangsa produksi Kacang Hijau Sedang Rendah Tinggi

Idx_AEBunf3 Pangsa lokal produksi lada Rendah Tinggi Sedang

Pangsa lokal produksi kakao Rendah Tinggi Sedang

Sebaran spasial dari tipologi ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh kecamatan tergolong kecamatan dengan kategori yang memiliki aktifitas pertanian yang rendah. Pada wilayah dalam klaster 2 dan klaster 3 aktifitas ekonomi pertanian cukup tinggi pada beberapa bidang yang berbeda. Gambaran ini menunjukkan bahwa aktifitas sektor pertanian di Kalimantan Barat, masih belum berimbang perkembangannya, meskipun sumbangan sektor pertanian secara regional merupakan sektor basis perekonomian daerah.

Gambar 24 Peta konfigurasi aktivitas sektor pertanian di Provinsi Kalimantan Barat.

Pada Tabel 39 menunjukkan ada dua kabupaten dengan kecamatan yang sebaran aktivitas sektor pertaniannya tinggi melebih separuh jumlah kecamatan yang ada, yaitu Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, sedangkan pada 7 wilayah kabupaten/kota yang tidak satupun kecamatannya masuk kategori sebaran aktivitas tinggi, yaitu Kabupaten Bengkayang, Kaupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Melawi, dan Kota Pontianak. Bahkan untuk tiga wilayah terakhir, yaitu Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Melawi, dan Kota Pontianak, keseluruhan kecamatan di wilayahnya terkategori aktivitas sektor pertanian rendah. Kota Pontianak yang merupakan wilayah perkotaan yang aktivitas ekonominya tidak relevan dengan sektor pertanian. Rendahnya aktivitas sektor pertanian di Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Melawi disebabkan karena kondisi fisik wilayah yang teralokasi untuk lahan pertanian hanya sebesar 6% dan 4% dari total luas wilayahnya masing-masing (BPS, 2009). Untuk Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, lebih dari separuh kecamatan terkategori sebaran sektor pertanian sedang.

Tabel 39 Distribusi kecamatan dengan kategori sebaran aktivitas sektor pertanian di tingkat kabupaten/kota

Kabupaten/Kota

Distribusi kecamatan dengan kategori sebaran aktivitas sektor pertanian (persen)

Rendah Sedang Tinggi

Kabupaten Sambas 57,89 5,26 36,84 Kabupaten Bengkayang 82,35 17,65 0,00 Kabupaten Landak 46,15 46,15 7,69 Kabupaten Pontianak 33,33 0,00 66,67 Kabupaten Sanggau 60,00 40,00 0,00 Kabupaten Ketapang 90,00 0,00 10,00 Kabupaten Sintang 92,86 7,14 0,00

Kabupaten Kapuas Hulu 100,00 0,00 0,00

Kabupaten Sekadau 71,43 0,00 28,57

Kabupaten Melawi 100,00 0,00 0,00

Kabupaten Kayong Utara 80,00 20,00 0,00

Kabupaten Kubu Raya 33,33 0,00 66,67

Kota Pontianak 100,00 0,00 0,00

Kota Singkawang 80,00 0,00 20,00