• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konflik Internal Lembaga PPDA 1. Intrapersonal (di dalam individu)

Konflik intrapersonal ialah konflik dimana seseorang dapat

mengalami konflik internal dalam dirinya karena ia harus memilih tujuan yang saling bertentangan. Ia merasa bimbang mana yang harus dipilih atau dilakukan. Konflik dalam diri seseorang juga dapat terjadi karena tuntutan tugas yang melebihi kemampuannya.45 Konflik

intrapersonal melibatkan ketidaksesuaian emosi bagi individu ketika

keahlian, tujuan atau nilai-nilai digelar untuk memenuhi tugas-tugas atau pengharapan yang jauh dari menyenangkan. Konflik intrapersonal merintangi kehidupan sehari-hari dan dapat menghentikan kegiatan beberapa orang. “Manajemen stres” adalah obat penawar yang jitu untuk mengatasi konflik jenis ini.46

44

Konflik yang terjadi itu semuanya dapat di kelola dan diselesaikan dengan baik, walaupun belum maksimal. Karena memang segala sesuatunya memiliki kekurangan dan kelebihan. Wawancara dengan Ustadz Junaidi Abdul Jalal, S.Pd.I, tentang Konflik yang ada di Pesantren Darul Amanah, di sela-sela Ujian Semester dan persiapan Rapat Guru (evaluasi Ujian Semesteran), (Kabunan: Pesantren Darul Amanah, tanggal 10 Januari 2004), Pukul 11. 50 WIB

45

Indriyo Gitosudarmo, dan I Nyoman Sudita, Perilaku Keorganisasian, Edisi pertama, (Yogyakarta: BPFE, 2000), hlm. 103.

46

Bila kita sampai pada tingkat setres yang “mematikan”, kita berada dalam konflik intrapersonal Tahap Dua, dan pada Tahap Tiga, konflik intrapersonal memiliki sifat destruktif

a. Bentuk Konflik Intrapersonal di PPDA

1. Pada Santriwan dan Santriwati, diantaranya: - Tidak “kerasan” (tidak betah) di pesantren - Terkena bermacam-macam penyakit - Terkena sifat pemalas

- Kesusahan dalam belajar - Prestasi rendah atau menurun

- Kehilangan uang atau benda berharga - Broken home

- Dan berbagai permasalahan personal lain. 2. Pada Ustadz dan Ustadzah

- Kesusahan dalam menghadapi santri nakal - Permasalahan keluarga

- Ketidakcocokan posisi atau tidak berkompeten pada mata pelajaran yang diberikan kepala sekolah kepadanya, dll. 3. Pada Karyawan

- Terlalu berat beban pekerjaannya - Kurang kompeten / kualitas karyawan - Ketidakcocokan pekerjaan, dan lain-lain. 4. Pada Pimpinan (Kyai).

- Kurang maksimalnya hasil kepemimpinan

- Kesusahan dalam menghadapi banyaknya permasalahan pesantren.

- Berbagai permasalahan dilematis

- Sering terjadinya dualisme kegiatan yang bersamaan, dll. b. Manajemen Konflik Intrapersonal

Manajemen konflik intrapersonal di PPDA dapat dilakukan oleh individu yang mengalami konflik itu sendiri, sehingga hasil dan tidaknya manajemen konflik itu sangat tergantung dari bagaimana personal (individu) itu dalam menganalisa, mensikapi, mencari solusi atas konflik yang terjadi pada dirinya. Namun apabila secara pribadi ia tidak mampu menyelesaikan, maka dalam hal ini biasanya membutuhkan intervensi (bantuan) dari pihak lain.

misalnya akan menjurus ke arah tindakan bunuh diri. Lihat: Dr. William Hendricks, Bagaimana Mengelola Konflik, penterjemah: Arif Santoso, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), cet. pertama, hlm. 44.

1. Penyelesaian sendiri (Self Problem Solving)

Hal ini bisa dilakukan oleh setiap orang yang mengalami konflik intrapersonal pada dirinya dengan “manajemen stres” atau tergantung dari kedewasaan masing-masing mereka dalam menghadapi konflik tersebut. Di Pesantren Darul Amanah sering dianjurkan puasa senin-kamis sebagai wahana untuk memepermudah penyelesaian segala

problem (permasalahan) dan mempermudah dalam transfer of knowladge (menyerap ilmu) yang diajarkan. Selain puasa;

shalat tahajud, shalat tasbih dan shalat dhuha juga sangat dianjurkan bagi santri, hal ini diharapkan dapat mendekatkan diri pada Tuhan (Allah SWT), dengan demikian segala permasalahan dapat disadarkan dan perlahan-lahan stres dapat teratasi dengan banyak berdzikir dan shalat malam.

2. Intervensi Pihak Lain

Intervensi biasa dilakukan dengan bantuan guru ahli psikologi, hal ini biasanya dibuka bimbingan bagi siswa yang mengalami permasalahan pribadi, keluarga, kesulitan belajar, dan lain-lain. Pesantren Darul Amanah sudah memberikan pelayanan melalui Guru BP (Bimbingan Penyuluhan) dan sekarang diubah menjadi Guru BK (Bimbingan Konseling).

Sedangkan bagi ustadz / ustadzah yang kesulitan dalam menghadapi permasalahan (mengalami konflik intrapersonal) dan sangat membutuhkan intervensi pihak lain, biasanya para ustadz atau ustadzh tersebut mengeluh dan meminta petunjuk kepada Kyai. Hal ini diakui oleh seorang ustadzah (ustadzah Umi Arifah) yang pernah mengalami berbagai kendala dan permasalahan di PPDA, sebagai berikut:

“Bapak Kyai memang sebagai pelindung, pengayom dan pembimbing kami, bahkan ketika kami mengeluh tentang berbagai permasalahan santri dan permasalahan yang susah kami selesaikan beliau selalu memberikan petunjuk, solusi dan menenangkan jiwa kami, dengan mengatakan: kamu itu harus sabar dan tabah menghadapi banyak santri, sebab semakin banyak santri maka semakin banyak pula sifat dan tingkah laku mereka, dengan tahu sifat masing-masing santri maka kamu akan mudah menanganinya”. Selanjutnya ia mengatakan kembali: “Pak Kyai ini memang bersifat “kebapakan” dan kedekatannya dengan kami terasa sangat erat, selain dekat saya juga salut dengan kepemimpinan beliau, karena sering “dakwah bil hal” (dakwah dengan perbuatan), sehingga kami menjadi malu ketika tidak melakukan seperti apa yang beliau contohkan47.

3. Sikap Kyai dalam manajemen konflik intrapersonal

KH. Mas’ud Abdul Qodir dalam menyelesaikan permasalahan keluarga atau pribadi selalu dengan seorang istri beliau sendiri. Sedangkan ketika kesulitan yang dialaminya itu menyangkut pesantren, maka solusinya adalah dengan istilah memasang “bemper”(memasang orang tertentu yang kompeten dibidangnya) untuk maju dan menyelesaikan segala permasalahan yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang kyai secara langsung. Strategi itulah yang sangat jitu dan mampu membantu seorang kyai dalam menghadapi berbagai permasalahan pribadi beliau.

47

Pernah suatu hari Bapak Kyai melihat halaman yang sangat kotor banyak sampah, maka beliau langsung menyapunya sendiri tanpa memerintah pembantu, santri maupun ustadzah, sehingga setiap kita merasa malu ketika melihat hal yang demikian itu. (wawancara dengan Ustadzah Umi Arifah dan Fikriyah, tentang Manajemen Konflik yang Ada di Asrama Putri PPDA, Sukorejo, Kabunan: Kantor Ustadzah, hari Sabtu, tanggal 17 Januari 2004, Pukul 15. 00 WIB.

2. Interpersonal (antar individu)

Konflik antar individu terjadi sering kali disebabkan oleh adanya perbedaan tentang isu, tindakan, dan tujuan tertentu, di mana hasil bersama sangat menentukan. Konflik interpersonal lebih jamak diasosiasikan dengan manajemen konflik karena konflik ini melibatkan sekelompok orang.

a. Bentuk Konflik Interpersonal di PPDA

1. Konflik antara seorang santri dengan seorang santri yang lain

Hal ini bisa terjadi pada setiap santri, baik santriwan maupun santriwati, baik santri mukim maupun santri lajo (santri kalong). Konflik ini sering disebabkan adanya persaingan, salah faham, atau bahkan karena perbedaan kepribadian. Konflik ini cenderung terjadi karena adanya santri kaya dan miskin, santri pandai dan bodoh, santri rajin dan malas, santri pengurus dan anggota, dan lain-lain. Sebagai contoh konflik intrapersonal adalah:

- “santri yang berprestasi tinggi sering dibenci oleh santri lain yang merasa tersaingi”

- “adanya pertengkaran antara santri yang kuat melawan santri lain yang merasa lebih hebat”

- “adanya kepengurusan yang dipegang oleh santri kurang berkompetensi dan berbuat sewenang-wenang sehingga pada akhirnya menimbulkan perlawanan dari seorang anggota yang lebih pandai dan kritis.”48

2. Konflik antara seorang guru dengan seorang guru lain

Konflik antara seorang guru dengan guru lain biasanya disebabkan karena perbedaan pendapat, pandangan dan salah faham. Konflik ini tidak terlalu banyak karena mereka lebih

48

Dan masih banyak lagi konflik antara santri satu dengan lainnya yang terjadi pada pesantren Darul Amanah Wawancara dengan beberapa Ustadz / Ustadzah, op.cit.

dewasa dalam menghadapi segala permasalahan yang ada. Contoh kasus konflik seorang guru dengan guru lain adalah: - Seorang guru mencemarkan nama baik guru lain dalam

suatu kelas atau di depan santri

- Perbedaan pendapat diantara para guru

- Seorang guru yang iri atau cemburu atas keberhasilan guru lain, wal hasil menjadi hasud, dengki dan sebagainya49.

3. Konflik antara seorang santri dengan seorang guru

Contoh konflik yang ada di PPDA adalah: - Sikap seorang guru yang cuek bila bertemu santri

- Sikap seorang guru yang keras dan kejam terhadap santri - Santri yang mengancam seorang guru

b. Manajemen Konflik Interpersonal

1. Penyelesaian Konflik seorang santri dengan santri lain

- Dipertemukan (metode konfrontasi) antara mereka yang terlibat dalam konflik dan dijelaskan mengenai hal-hal yang diperselisihkan dan diterangkan apa yang sebenarnya terjadi serta diberikan solusinya

- Menyadarkan mereka dengan berbagai cara baik peringatan, hukuman, maupun dengan motivasi sesuai dengan keadaan dan seberapa kadar konflik itu.

- Solusi yang tepat (problem solfing). Hal ini dilakukan sesuai dengan isu konflik yang ada. Misalnya: (1). adanya

persaingan dalam prestasi justru ini dipupuk dengan

diumumkannya para juara (rangking dan kejuaraan lomba) pada saat upacara yang diikuti seluruh santri. contoh lain (2). adalah dengan adanya pertengkaran antar santri, yaitu dengan diberi pengertian bahwa perkelahian tidak akan menyelesaikan permasalahan, dan lain-lain.50.

49

Wawancara, Ibid.

50

Atau lebih baik lagi jika seorang yang memang sudah hobi bertengkar susah diingatkan, maka akhirnya diberikan sarana latihan bela diri sebagaimana yang diajarkan hingga saat ini, yaitu Persatuan Silat Darul Amanah (PERSIDA). Kemudian (3). Kepengurusan (OPDA atau OSIS) yang kurang profesional disebabkan karena pemilihannya sendiri yang kurang baik, mereka sengaja memilih (“Ngerjain”) mereka yang tidak bisa, hal ini diakibatkan karena adanya pemilihan secara langsung (demokratis). Solusi yang ditawarkan adalah perubahan sistem pemilihan (demokrasi terpimpin), pelatihan kepemimpinan, dan seleksi bagi calon pengurus. Wawancara, Ibid.

2. Penyelesaian Konflik seorang guru dengan guru lain

“Konflik yang terjadi antara seorang guru dengan guru yang lain biasanya lebih mudah diselesaikan, kecuali permasalahan-permasalahan tertentu saja yang sangat kronis. Sebab seorang guru lebih merasa dewasa dan segala permasalahan dapat ia tangani dengan saling

pengertian. Adapun konflik yang sudah kronis

biasanya ditangani oleh pimpinan pesantren secara langsung, yaitu dengan metode konfrontasi (dipertemukan) antara mereka yang terlibat konflik.

Persamaan persepsi / tujuan sering dijadikan sebagai

alat untuk melerai dan mempersatukan kembali diantara mereka dengan cara dipanggil berdua dalam tempat yang tertutup. Selanjutnya dibentuklah program pertemuan rutin Dewan Guru yang dilaksanakan setiap bulan.”51

3. Penyelesaian konflik seorang santri dengan seorang guru

Selain konfrontasi, biasanya konflik ini diselesaikan juga dengan cara penyelenggaraan ramah-tamah antara santri dan guru52. Penyadaran antara santri dan guru juga sering dilakukan oleh pimpinan pesantren baik dalam forum formal (ceramah, upacara) maupun nonformal (pribadi). Hasil dari manajemen konflik intergroup tersebut adalah dengan dibuatnya kotak saran bagi para guru dan pengurus.

3. Intragroup (antar anggota kelompok)

Suatu kelompok dapat mengalami konflik subtantif atau konflik

afektif. Konflik subtantif adalah konflik yang terjadi karena latar

51

Hal ini dapat mempersatukan persepsi, menimbulkan keakraban, dan rasa persaudaraan yang dapat diambil manfaatnya dan mereka bisa merasa sebagai seorang yang senasib seperjuangan Ibid.

52

Di forum tersebut memberikan kesempatan kepada Dewan Guru untuk memperkenalkan sifat, pengalaman dan sikap pembawaan masing-masing guru, sehingga santri dapat mengetahui latar belakang sifat dan sikap guru yang dianggap kurang baik, ternyata forum tersebut sering diadakan

belakang keahlian yang berbeda. Jika anggota dari suatu komite menghasilkan suatu kesimpulan yang berbeda atas data yang sama dikatakan kelompok tersebut mengalami konflik subtantif. Sedangkan konflik afektif adalah konflik yang terjadi didasarkan atas tanggapan emosional terhadap suatu situasi tertentu.53Banyak sekali sumber yang menyebabkan timbulnya konflik di dalam kelompok, akan tetapi secara garis besar berdasarkan penelitian ada empat sumber, yaitu:54

a. Ketergantungan dan kebersamaan dalam menggunakan

sumber. Konflik di dalam kelompok terjadi apabila ada

ketidakpuasan antara sesamanya. Dotton dan Walton mengatakan bahwa ketergantungan antara dua kelompok atau lebih dapat menyebabkan timbulnya insentif untuk kerja sama, tetapi juga pada suatu ketika bisa menyebabkan timbulnya konflik. Dengan kata lain ketergantungan dapat meningkatkan perlawanan atau kesekawanan.

b. Perbedaan dalam kelompok tentang tujuan, nilai dan

persepsi.Walton mengatakan bahwa sangat sering terjadi

konflik di dalam kelompok yang disebabkan karena beberapa orang mungkin lebih mengutamakan pada pengabdian, tetapi orang lainnya mementingkan pada perolehan keuntungan. Pimpinan suatu lembaga mungkin menghendaki kedisiplinan yang ketat, sedangkan pembantu-pembantunya menghendaki lebih adanya kelonggaran

c. Ketidakseimbangan kekuasaan. Apabila kekuasaan yang ada pada tiap-tiap departemen suatu organisasi itu tidak konsisten dengan prestise personal yang menduduki jabatan untuk departemen yang bersangkutan, maka akan sangat mudah terjadi adanya konflik.

pesantren Darul Amanah ketika di kamar-kamar mereka masing-masing bersama beberapa ustadz pengelola asrama. Ibid.

53

Indriyo Gitosudarmo dan I Nyoman Sudita, Op.cit., hlm. 103.

54

Dari hasil penelitian para ahli, bahwa penyebab timbulnya konflik dalam kelompok bermacam-macam, diantaranya adalah:1. Adanya kesalahfahaman (kegagalan dalam komunikasi), 2. Keadaan pribadi individu-individu yang saling konflik, 3. Perbedaan nilai, pandangan dan tujuan, 4. Perbedaan standar penampilan (performance), 5. Perbedaan-perbedaan yang berkenaan dengan cara, 6. Hal-hal yang menyangkut pertanggungjawaban, 7. Kurangnya kemampuan dalam unsur-unsur berkomunikasi, 8. Hal-hal yang berkenaan dengan kekuasaan, 9. Adanya frustasi dan kejengkelan. 10. Adanya kompetisi karena memperebutkan sumber yang terbatas, 11. Tidak menyetujui butir-butir dalam peraturan dan kebijakan. Lihat: Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi; Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 235-236

d. Kekaburan (ambiguitas). Dari penelitian yang dilakukan oleh Dutton dan Walton diketahui bahwa apabila tanggung jawab yang diberikan oleh atasan kepada tiap-tiap departemen dalam suatu organisasi tidak jelas, maka sangat mudah terjadi konflik diantara unit-unit yang bersangkutan.55

Adapun beberapa kasus konflik intagroup dan penyelesaiannya yang terjadi di Pesantren Darul Amanah adalah sebagai berikut:

a. Beberapa kasus konflik intragroup di PPDA:

Konflik antara individu dengan kelompok sering berkaitan dengan cara individu menghadapi tekanan untuk persesuaian yang dipaksakan padanya oleh kelompok kerjanya. Sebagai contoh, seorang individu dapat dihukum oleh kelompok kerjanya karena melampaui atau ketinggalan dari norma produktivitas kelompok56. Contoh kasus yang ada di PPDA diantaranya segabai berikut:

1. Seorang guru dengan para guru lain

a. Seorang guru yang tertinggal dengan guru-guru lain b. Seorang guru yang over (berlebihan) dibanding guru lain c. Seorang guru yang tersingkir / terpojok dari guru-guru lain

2. Seorang santri dengan para santri lain

a. Seorang santri yang terfavorit dan terkesan paling disayang guru. Hal ini diakui oleh seorang santri putra

yang tak mau disebut namanya ketika akan melaksanakan shalat dzuhur berjama’ah, sebagai berikut:

“Memang selama ini ada beberapa santri yang dibenci oleh teman-teman karena ia diistimewakan oleh ustadz, kadang kala dia juga merasa sombong dan merasa paling pandai”57

55

Ibid.

56

James A.F. Stoner dan R. Edward Freeman, Manajemen Jilid : I, (Jakarta: Intermedia, 1992), edisi keempat, hlm. 553.

57

Wawancara, di sela-sela menunggu iqomat shalat dzuhur, tentang: Permasalahan yang ada pada Santri satu dengan yang lainnya, di Masjid Darul Amanah, pada hari sabtu tanggal 17 Januari 2004.

b. Seorang santri yang bersikap brutal dan merugikan santri lain. Di pesantren Darul Amanah sering terdapat

santri-santri brutal, nekat dan terkadang menipu teman-teman yang lainnya. Dikatakan oleh beberapa santriwan Pengurus OPDA Darul Amanah bahwa:

“Di sini kadang ada santri yang biasa mencuri, mengompas, menghina teman, merokok, nonton ke bioskop, suka berkelahi dan sebagainya. Lebih lanjut dikatakan: “saya sebagai pengurus terutama bagian keamanan, bila menemukan santri yang seperti itu pasti langsung saya panggil dan saya sidang, sehingga ia mengakui perbuatannya, selanjutnya dihukum sesuai dengan tata tertib yang berlaku.” Dikatakan oleh pengurus yang lain bahwa: “Perbuatan santri brutal seperti itu kalau saya cermati memang bawaan dari rumahnya, dan yang sangat disayangkan mengapa anak-anak seperti ini kok diterima masuk pesantren Darul Amanah?”58

c. Seorang pengurus yang kejam dengan santri anggota.

Setiap periode kepengurusan tentunya ada orang-orang tertentu yang memiliki sikap tegas dan keras, dan biasanya hal ini dilakukan oleh Qismul Amn (Bagian Keamanan) OPDA. Dimana seorang yang memegang jabatan ini harus tegas, tegap, keras dan disegani oleh anggotanya. Dengan kebijakannya maupun bagaimana cara ia dalam menghukum, selalu akan menimbulkan konflik diantara

58Menurut saya justru akan memperkeruh suasana dan bisa mempengaruhi santri yang lain untuk berbuat negatif seperti itu, hal ini pada akhirnya akan merugikan kita semua dan nama baik pondok pesantren Darul Amanah. Pengurus Bagian Lughoh (bahasa) menambahkan bahwa, “kalau boleh usul justru harus ada seleksi masuk Pesantren Darul Amanah, baik melalui tes masuk maupun nilai yang diperoleh pada sekolah sebelumnya, sebab anak yang brutal biasanya prestasi yang didapat pada sekolah sebelumnya memang sangat rendah”. Wawancara dengan beberapa pengurus OPDA, Tentang Permasalahan yang Dihadapi Pengurus OPDA, Kantor OPDA Putra, tanggal 17 Januari 2004, pukul 13.00 WIB.

para santri, seluruh santri membencinya dan bahkan mengancamnya.

Pernah terjadi pada tahun 1998, pengurus OSIS bagian keamanan mengadakan operasi ke seluruh kelas yang ada, dan ditemukan pelanggaran seperti baju tidak seragam dan tidak komplit, rambut panjang, perhiasan bagi santriwan, dll. Hal ini menyebabkan kemarahan dari para pelanggar hingga beberapa hari kemudian terjadi pembalasan terhadap bagian keamanan, yang pada saat itu dijabat oleh Farichin (dari Mangkang Semarang). Hal ini diakui oleh seorang ustadz yang pernah menjadi teman dalam kepengurusan tahun 1998, yaitu ustadz Zaenur Rofiqin sebagai berikut:

“Suatu hari Frichin dipanggil oleh 3 orang preman yang membawa 2 kendaraan untuk datang di depan SD Ngadiwarno depan Pesantren, lalu Farichin datang ke sana berdua dengan temannya, tiba-tiba ia dipukul berkali-kali hingga berdarah oleh tiga orang tersebut sambil mengancam “awas kamu kalau macam-macam lagi dan kamu harus minta maaf atas perbuatanmu itu”. Ternyata 3 preman tersebut mengaku utusan dari salah seorang santri yang hari kemarin terkena kasus pemotongan rambut”59

Pernah dialami oleh seorang santri kelas VI yang termasuk pengurus OPDA, bernama Nur Shaleh. Ia mengatakan bahwa:

“Dulu ketika masih kelas I Aliyah (IV TMI), saya masih menjadi anggota, dan kepengurusan pada

59

Setelah kejadian itu, tentunya bagian pengajaran dan bagian BK Pesantren darul Amanah tidak tinggal diam, tidak lama kemudian santri yang mengutus 3 preman tadi dipanggil dan disidang untuk dikonfirmasi lebih lanjut, wawancara dengan Ustadz Zaenur Rofiqin, Tentang Kasus-Kasus yang terjadi diantara Santri Darul Amanah” Kantor Ustadz PPDA (Kabunan: hari: Senin, 25 Januari 2004), pukul 11.00 WIB.

saat itu benar-benar keras terutama Qismul

Lughah dan Qismul Amnnya. Jika ada santri

melanggar bahasa dengan memakai bahasa Indonesia atau Daerah (bukan bahasa Arab atau Inggris) maka ia diberi hukuman pukulan serta harus menjadi jasus (mencari 3 orang santri yang melanggar bahasa) kemudian, disetorkan kepada pengurus bagian Lughoh”60.

3. Seorang guru dengan para santri

a. Seorang wali kelas dan wali kamar dengan para murid. Timbulnya konflik justru sering disebabkan karena kebijakan-kebijakan wali kelas yang kontradiksi dengan pendapat kebanyakan murid, sehingga menimbulkan protes maupun adanya rasa kebencian di benak seluruh murid dalam kelas tersebut. Konflik seperti ini dialami pada wali kelas yang sifatnya keras, diktator atau sering dibilang

killer. Ada kemungkinan juga terjadi salah faham,

kaburnya informasi, kesalahan-kesalahan lain dalam berbagai hal.

b. Seorang guru pengajar dengan para murid

Timbulnya konflik antara guru pengajar dengan para murid adalah karena berbagai faktor, diantaranya adalah sifat guru yang kurang baik, bersikap keras, sering menyinggung perasaan para murid, metode penyampaian yang tidak menarik, penampilan yang membosankan, dan lain-lain. Begitu pula sebaliknya, terkadang ada kelas

60

Lebih lanjut dikatakan: “ Jika ada yang mencuri maka ia akan dihukum dengan pukulan, tamparan, gundul dan harus mengembalikan uang yang ia curi tersebut”. Hanya saja hingga saat ini telah berubah derastis dengan hukuman-hukuman yang tidak mengarah pada fisik tapi lebih pada perbuatan atau tindakan yang mendidik siswa, seperti menghafal surat-surat Al-Qur’an, shalat tasbih, dzikir, dan lain-lain. Wawancara dengan Nur Shaleh, Santri kelas VI PPDA, Tentang Permasalahan Santri di Asrama PPDA, di Serambi Masjid PPDA, Saat persiapan Shalat Dzuhur, tanggal 17 Januari 2004. Pukul 11.55 WIB.

yang memang siswanya susah untuk diajar atau mungkin mayoritas siswanya brutal dan bahkan ada juga yang mengancam guru pengajarnya. Hal ini pernah dialami oleh seorang ustadzah yang mengajar pada suatu kelas, hal ini diungkapkan oleh seorang santri yang mengalami sebagai muridnya, sebagai berikut:

“Suatu hari tahun 1999 ustadzah “A” mengajar di kelas kami (kelas II b MTs) yang dianggap kelas brutal dan berprestasi rendah, dalam proses belajar mengajar seorang ustadzah tersebut selalu

dikerjain, dicuekin, dihina, dan lain-lain sehingga

suatu ketika ia sampai menangis dan keluar dari kelas tersebut. Hal ini terjadi karena kebijakan pimpinan pesantren pada saat itu membagi kelas A, B, C dan D sesuai dengan prestasi Raport yang diperoleh pada tingkat kelas sebelumnya”61. b. Manajemen konflik intragroup di PPDA

1. Manajemen konflik guru dengan guru lainnya

Seorang pimpinan harus memahami apa yang terjadi pada bawahannya, sehingga pendekatan penyelesaian konflik bisa dilakukan secara tepat. Manajemen konflik pada guru dengan guru lebih sering dilakukan oleh mereka sendiri dan intervensi Kyai (pimpinan).

a. PPDA sering memberlakukan hukuman (sanksi) bagi yang melanggar peraturan dengan tanpa pandang bulu, baik santri, karyawan dan bahkan ustadz sekalipun.

b. Konfrontasi bagi yang terlibat konflik

c. Peringatan dan Pengarahan Kyai terhadap mereka yang terkena kasus

61

Wawancara dengan seorang santri kelas VI yang tidak mau disebutkan namanya, ia mengalami hal itu pada saat di kelas II TMI.

d. Adanya pertemuan-pertemuan yang bisa dijadikan fasilitas

Dokumen terkait