BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Analisis Data
4. Konflik Sosial
Konflik sosial (social conflict), yaitu konflik antar manusia.
Perbedaan pendapat, kepentingan atau tujuan merupakan sumber terjadinya
konflik semacam ini. Setiap hari kita melihat atau mengalami sendiri konflik
Konflik-konflik sosial novel Berjuta-juta dari Deli Satoe Hikajat
Koeli Contract terdiri atas tiga bagian konflik, yaitu konflik antara individu
dengan individu, konflik antara individu dengan kelompok, dan konflik antara
kelompok dengan kelompok. Ketiga bagian konflik tersebut meliputi konflik
antara kuli dengan kuli, konflik kuli dengan tuan asistennya, konflik antara
tuan tanah dengan orang-orang melayu, konflik antara lelaki cina dengan
kuli-kuli Jawa, dan konflik-konflik juga kekejaman para penguasa daerah
dengan tuan kebun. Selain itu terdapat latar belakang terjadinya konflik sosial
dan tujuan terjadinya konflik. Analisis konflik sosial seperti yang disebutkan
di atas adalah sebagai berikut
a. Konflik Sosial antara individu dengan individu
Konflik sosial antara individu dengan individu terjadi antara Wiryo
dengan Tuan Asisiten.
1) Konflik Sosial antara Wiryo dengan Tuan Asisten
Konflik antara Wiryo dengan Tuan Asisten disebabkan karena
Wiryo tertangkap basah mau membunuh Tuan Asisten. Maka
perkelahian antara keduanya tak terelakkan. Kutipan yang mendukung
pernyataan di atas adalah
“Ada apa? Kowe dikejar setan, heh?”
Syamsul menarik napas, meredakan dadanya yang bergemuruh.
“Ma-maaf, T-Tuan. A-ada kuli a-akan dihukum c-cambuk,” ucapnya terengah-engah (hlm. 92).
Sekilas, kedua Eropa itu saling berpandangan. Tak tampak roman terkejut di wajah mereka (hlm. 92).
“Apa yang dilakukannya?”
“Dia tertangkap basah m-mau m-membunuh T-Tuan Asisten B-bagian E. Ya, E….”(hlm. 92)
Perkelahian tak terelakkan. Kedua pribumi itu bergumul, berangkulan, saling melepaskan nafsu membunuh mereka yang liar. Seperti binatang buas, mereka saling menerkam, saling mengejar. Mendapati dirinya aman, dengan langkah bbergegas seperti dikejar setan, Tuan Asisten menghambur lari. Terbirit-birit dia keluar dari rumahnya. Sejurus kemudian, opas-opas pun datang. Perkelahian tidak seimbang terjadi. Lima lawan satu. Dengan mudah Wiryo diringkus.
“Cambuk dia sampai mati!” perintah Tuan Asisten sembari berkacak pinggang (hlm. 94-95).
b. Konflik Sosial antara Individu dengan kelompok
Konflik sosial antara individu dengan kelompok meliputi dua
konflik, yaitu konflik antara Tuan Breuking dengan Orang-orang Melayu
dan konflik antara Lelaki Cina dengan Kuli-kuli Jawa.
1) Konflik antara Tuan Breuking dengan Orang-orang Melayu
Konflik sosial antara Tuan Breuking dengan orang-orang
Melayu disebabkan karena pada suatu hari Tuan Breuking datang
menemui orang-orang Melayu. Dia membawa kabar untuk mereka
agar segera meninggalkan tanah yang mereka tempati. Kutipan yang
mendukung pernyataan di atas adalah
Pada suatu hari, Tuan Breuking, Aspirant Kontrolir di Medan, dating menemui mereka. Dia membawa kabar untuk orang-orang Melayu agar segera meninggalkan tanah yang mereka tempati sekaligus membongkar rumah berikut kedai yang berdiri di atas tanah tersebut. Apa alasannya, Tuan Breuking tidak pernah member uraian terang. “Ini merupakan perentah kompanie!” katanya singkat (hlm. 120).
Akhir terjadinya konflik sosial antara Tuan Breuking
dengan orang-orang Melayu adalah ketika orang-orang Melayu
disuruh agar segera meninggalkan tanah yang mereka tempati
sekaligus membongkar rumah berikut kedai yang berdiri di atas
pacuan kuda. Namun orang-orang Melayu kembali memutuskan
untuk tetap tinggal. Kutipan yang mendukung pernyataan di atas
adalah
Di kota Medan ada sebuah lapangan yang dikenal dengan sebutan racebaan. Di tempat itu, dua kali dalam setahun selalu diadakan lomba pacuan kuda. Persis berbatas dengan areal pacuan itu, beberapa orang Melayu itu para tamuku itu mendirikan rumah-rumah untuk memelihara istri dan anak-anak mereka. Mereka juga menjadikan sebagian lahan untuk menanam buah dan pohon hias (hlm. 120).
Orang-orang Melayu itu tidak terburu-buru memenuhi perintah Tuan Breuking. Mereka saling membicarakan persoalan itu lalu memutuskan untuk menunggu. Beberapa kali Tuan Breuking dating lagi menemui mereka dan memberikan perintah serupa namun dengan nada yang lebih tegas. Sepulangnya, orang-orang Melayu itu berkumpul, membicarakan lagi perintah itu dan mereka kembali memutuskan untuk tetap tinggal (hlm. 120).
Apakah mereka pembangkang yang brutal (hlm. 120)?
2) Konflik Sosial antara Lelaki Cina dengan Kuli-kuli Jawa
Konflik sosial antara Lelaki Cina dengan kuli-kuli Jawa
disebabkan karena kuli-kuli Jawa (Barkat, Salim, Kusno, dan Harjo)
yang menganggap Lelaki Cina itu musuh mereka, musuh dari ras yang
berbeda. Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah
Mereka menyaksikan erangan lelaki Cina itu dengan tersenyum. Senyum yang bengis. Mereka senang menyaksikan kematian yang nyeri, kematian yang begitu perlahan dari korbannya yang sekarat, seorang musuh dari ras yang berbeda. Ras yang dianggap sombong yang mampu membayar perempuan Jawa lebih besar kalau berkencan (hlm. 151).
Konflik sosial antara lelaki Cina dengan kuli-kuli Jawa adalah
ketika lelaki Cina yang merupakan musuh mereka mati di tangan
mereka sendiri. dengan begitu mereka merasa senang dan puas.
Barkat mencabut pisau dari tubuh lelaki Cina itu dengan tatapan bengis menghujam ke dalam mata sipit lelaki yang kesakitan itu. Bibirnya mengukir senyum puas. Kepuasan yang purba dari dendam laki-laki yang terlampiaskan. Saat barkat mencabut benda tajam itukeluar dari tubuhnya, lelaki Cina itu terhenyak, merasakan kesakitan yang berbeda namun dengan perih yang sama. Alis matanya mengernyit tanda ngilu (hlm. 151).
Mereka merasakan erangan lelaki Cina itu dengan tersenyum. Senyum yang bengis. Mereka senang meyaksikan kematian yang nyeri, kematian yang begitu perlahan dari korbannya yang sekarat, seorang musuh dari ras yang berbeda. Ras yang dianggap sombong, yang mampu membayar perempuan Jawa lebih besar kalau berkencan (hlm.151).
Mereka senang melihat dada lelaki Cina itu turun naik seperti sesak napas karena sakit paru-paru menahun. Mereka menikmati rintihannya. Senyum bengis yang kini tampak menyeringai saat seluruh tubuh Cina itu terlihat diam dan terkulai. Kusno menghunus pisaunya. Perlahan dan dingin, dia menggoreskan pisau itu ke leher lelaki itu yang memucat. Darah muncrat. Kulit leher lelaki cina itu lembut seperti sayuran. Saat disayat, dagingnya mengeluarkan suara berdesis seperti suara irisan tomat (hlm.151).
Yakin kalau musuhnya sudah mati, mereka melangkah pergi dengan perasaan puas. Sebelum sampai di bangsal, mereka berhenti. Harjo membagi uang milik Cina itu yang tadi sempat diambilnya sebelum pergi. Uang itu dibagi rata. Tidak begitu banyak namun lumayan untuk berjudi. Tanpa curiga, teman-temannya senang mendapat bagian. Mereka tidak tahu kalau sebelum uang itu dibagi, Harjo diam-diam telah memasukkan cincin emas milik Cina itu ke dalam kantongnya (hlm.152).
c. Konflik Sosial antara Kelompok dengan Kelompok
Konflik Sosial antara kelompok dengan kelompok terjadi antara
kubu sosialis dengan Anti Revolutionaire Partij (ARP).
1) Konflik Sosial antara Kubu Sosialis dengan Anti Revolutionaire Partij
(ARP).
Konflik sosial antara Kubu Sosialis dengan ARP disebabkan
karena adanya brosur Millioenen uit Deli yang dijadikan sebagai
itu sudah lama pula kubu sosialis dikenal sebagai lawan politik yang
sengit bagi ARP. Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah
Seperti mendapat kesempatan emas, politisi-politisi berhaluan sosialis menjadikan isu kekerasan yang diurai Millioenen uit Deli itu sebagai peluru yang menjatuhkan Idenburg (hlm. 224).
Kubu sosialis sudah lama dikenal sebagai lawan politik yang sengit bagi Anti Revolutionaire Partij (ARP). Idenburg adalah kader partai yang disebut terakhir ini (hlm. 224).
konflik sosial antara Kubu Sosialis dengan ARP adalah ketika
Idenburg dan para petinggi ARP marah, jengkel dengan
pernyataan-pernyataan Kubu Sosialis yang dimuat pers Belanda dan Eropa media
massa. Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah
IDENBURG membanting setumpuk Koran ke atas meja. Pernyataan-pernyataan pedas kubu sosialis yang dimuat pers Belanda dan Eropa itu benar-benar membuatnya jengkel (hlm. 224).
“Mereka seperti mendapat angin segar untuk menyerangku,” katanya. Nada suaranya datar dan dingin namun terdengar di telinga beberapa petinggi ARP yang berada di ruangan kerjanya siang itu, mereka tahu, dada Idenburg terbakar kemarahan (hlm. 225).
Kemarahan Idenburg sejatinya kemarahan mereka juga. Puncaknya sepotong pernyataan yang muncul seperti gelegar petir pada dua hari yang silam. O.J.H. Van Limburg Stirum malah ikut-ikutan memperkeruh keadaan. Nama yang disebut ini melontarkan pendapat yang pedas dan membuat kuping Idenburgg serta petinggi ARP merah. “Keberadaan industri tembakau di Deli dibangun oleh kekejian (hlm. 225).