• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konseling, Psikoterapi, dan Konsultasi

Dalam dokumen MERANCANG PROGRAM DAN MODUL (Halaman 31-36)

BAB II DARI KONSELING KE KONSULTASI

A. Konseling, Psikoterapi, dan Konsultasi

Secara tradisional, konseling dan psikoterapi dari segi substansinya memiliki arti yang sama, yaitu usaha menolong klien khususnya perorangan mengatasi suatu problem psikologis yang mengganggu rasa kesejahteraan pribadinya. Salah satu definisi tentang konseling yang dikemukakan oleh Pepinsky dan Pepinsky (1954, dalam George & Cristiani, 1981) menyatakan bahwa “counselling is a process involving an interaction between a counsellor and a client in a private setting, with the purpose of helping the client change her/his behavior so that a satisfactory resolution of needs may be obtained” (h. 4). Artinya, konseling merupakan proses yang melibatkan suatu interaksi antara seorang konselor dan seorang klien secara pribadi, dengan tujuan membantu

klien mengubah tingkah lakunya sehingga mampu mencapai pemuasan aneka kebutuhan hidupnya secara memuaskan.

Aspek yang ditekankan pada definisi itu adalah interaksi, perubahan tingkah laku, dan pemuasan kebutuhan. Psikoterapi lazimnya cenderung dimaknai sebagai reedukasi atau pendidikan kembali si individu dengan tujuan mengubah persepsi, meng-integrasikan pemahaman baru ke dalam tingkah lakunya sehari-hari, dan mengatasi aneka perasaan negatif akut akibat pengalaman yang menyakitkan di masa lalu (Brammer & Shostrom, 1982).

Bertolak dari kata kunci perubahan tingkah laku yang terdapat dalam definisi baik tentang konseling maupun psikoterapi, dapatlah dikatakan bahwa secara substansial kedua bidang layanan psikologis itu sukar dibedakan. Kekaburan batas antara konseling dan psikoterapi ini memang diakui oleh kalangan konselor dan psikoterapis sendiri (George & Cristiani, 1981; Brammer & Shostrom, 1982). Sebagian praktisi berpendapat bahwa pembedaan itu tidak perlu, konseling dan psikoterapi merupakan sinonim belaka. Namun sebagian praktisi lain berpendapat bahwa perbedaan antara kedua jenis layanan itu perlu dipertegas.

Akhirnya disepakati bahwa perbedaan antara konseling dan psikoterapi tidak terletak pada substansi atau kualitas, melainkan hanya pada dimensi kuantitasnya. Pengakuan ini tampak dari beberapa definisi yang dikutip oleh George dan Cristiani (1981) berikut ini. Pertama, Blocher (1966, dalam George & Cristiani, 1981), membedakan konseling dan psikoterapi dengan menekankan bahwa “the goals of counselling are ordinarily developmental-educative-preventive, and the goals of psychotherapy are generally remediative-adjustive-therapeutic” (h. 7, cetak tebal oleh penulis). Jadi, tujuan konseling lazimnya lebih bersifat developmental-edukatif-preventif, sedangkan tujuan psikoterapi lazimnya bersifat remediatif-penyesuaian (kembali)-terapeutik.

Kedua, Brammer dan Shostrom (1977, dalam George & Cristiani, 1981) menegaskan bahwa “while the two activities may overlap, counselling in general can be characterized by such terms

as educational, vocational, supportive, situational,

problem-solving, conscious awareness, normal, present time, and short

term; psychotherapy can be characterized by such terms as

supportive (in a crisis setting), reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, emphasis on ‘neurotics’ or other severe emotional problems and long term” (h. 7, cetak tebal oleh penulis). Artinya, kendati kedua aktivitas itu saling tumpang tindih, secara umum konseling ditandai oleh ciri-ciri edukasional, vokasional, suportif, situasional, pemecahan-masalah, melibatkan kesadaran, normal, masa kini, dan berjangka pendek, sedangkan psikoterapi ditandai oleh ciri-ciri suportif (dalam situasi krisis), rekonstruktif, memberi tekanan pada kedalaman, analitis, berfokus pada masa lalu, memberi tekanan pada kasus-kasus neurotik atau masalah-masalah emosi lainnya yang bersifat berat atau parah dan berjangka panjang.

Ketiga, Hahn dan MacLean (1955, dalam George & Cristiani, 1981) menunjukkan bahwa “the counsellor would give heavy emphasis to prevention of disruptive deviation, whereas the psychotherapists would give primary emphasis to present deviation with secondary attention to prevention. In addition … counselling has a goal of long-range educational and vocational planning. Their total emphasis seems to view counselling as being concerned with preventive mental health, and psychotherapy with remediation” (h. 8, cetak tebal oleh penulis). Artinya, konselor memberi tekanan berat pada mencegah terjadinya penyimpangan yang bersifat merusak (perkembangan), sedangkan psikoterapis memberi tekanan utama pada penyimpangan yang kini telah terjadi sementara upaya pencegahan hanya merupakan perhatian tambahan. Selain itu,

konseling bertujuan membantu membuat perencanaan jangka panjang dalam memilih jurusan pendidikan dan pekerjaan. Mereka memandang bahwa konseling lebih terkait dengan kesehatan mental yang bersifat preventif, sedangkan psikoterapi lebih terkait dengan remediasi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, George dan Cristiani (1981) menyimpulkan sebagai berikut, “within the context of the continuum, the goals of psychotherapy are more likely to involve a quite complete change of basic character structure; the goals of counselling are apt to be more limited, more directed toward growth, more concerned with the … immediate situation, and more aimed at helping the individual function adequately in appropriate roles” (h. 8). Maksudnya, bila ditempatkan dalam sebuah kontinum tujuan psikoterapi lebih melibatkan perubahan menyeluruh terhadap struktur karakter dasar seseorang; sedangkan tujuan konseling lebih terbatas, yaitu lebih diarahkan pada pertumbuhan, lebih terkait dengan…situasi yang sedang dihadapi kini, serta lebih diarahkan untuk membantu individu menjalankan aneka peran kehidupannya secara memadai.

Ringkas kata, secara substansial konseling dan psikoterapi adalah sama, keduanya berbeda hanya menyangkut dimensi kuantitas gangguan klien dan jenis bantuan perubahan tingkah laku yang diberikan kepada klien. Konseling diarahkan pada kelompok klien normal dan pemberian bantuan yang bersifat preventif, sedangkan psikoterapi diarahkan pada kelompok klien yang sudah tergolong kurang normal (neurosis atau psikosis) sehingga bantuan yang diberikan pun lebih bersifat remediasi. Namun, boleh jadi sebagian karena terdorong oleh kebutuhan untuk menegaskan corak preventifnya bidang konseling sendiri kemudian mengalami perkembangan pesat dan meluas, sampai akhirnya merambah bidang baru yang bernama konsultasi.

Sekalipun demikian pada awalnya konsultasi masih dimaknai secara agak sempit seperti tampak dari definisi yang dikemukakan oleh Lippit (1959, dalam George & Cristiani, 1981) berikut ini: “Consultation…to be a voluntary relationship between a professional helper (consultant) and a help needing system (client) in which the consultant is attempting to give help to the client in the solving of some current or potential problem, and the relationship is perceived as temporary by both parties. Also, the consultant is an ‘outsider,’ i.e., is not a part of any hierarchical power system in which the client is located” (h. 271). Maksudnya, konsultasi merupakan relasi yang dilakukan dengan sengaja atau sadar antara seorang penolong profesional (konsultan) dan sebuah sistem tertentu yang sedang membutuhkan bantuan (klien), di mana si konsultan mencoba menolong klien mengatasi sebuah masalah yang sudah terjadi atau berpotensi muncul, dan relasi itu dipandang bersifat sementara oleh kedua belah pihak. Selain itu, si konsultan merupakan “pihak luar”, yaitu bukan bagian dari sistem kekuasaan hirarkis tempat si klien berada.

Yang dimaksud klien dalam definisi di atas adalah “any functioning social unit such as a family, industrial organization, individual, committee, staff, membership association, governmental department, delinquent gang, or hospital staff” (h. 271). Artinya, yang dimaksud klien mencakup semua satuan sosial seperti keluarga, organisasi industri, individu, komisi atau kelompok kerja, staf atau himpunan pegawai, perkumpulan, himpunan pegawai yang membentuk bagian dalam pemerintahan, gang anak-remaja nakal, atau staf rumah sakit.

Kendati sudah diperluas dari pengertian asli konseling, definisi di atas sedikit banyak masih mencerminkan pengertian tradisional atau sempit tentang konsultasi. Pengertian yang lebih luas dan mutakhir tentang konsultasi bisa ditemukan dalam tulisan Nelson-Jones (1982). Menurutnya, sejak dasa warsa delapan puluhan di

lingkungan praktisi layanan psikologis makin populer gerakan mengikuti apa yang disebut psychoeducator model. Bentuk layanan konsultasi yang diutamakan bergeser dari model konseling perorangan dalam ruang konsultasi yang bercorak remedial ke arah

psychological education yang lebih bercorak developmental dan preventif, ditujukan kepada klien sehat-normal dalam kelompok-kelompok yang relatif besar, dan diselenggarakan dalam setting

non-psikologis seperti ruang kelas di sekolah atau ruang pertemuan di perusahaan. Dengan kata lain, psychological education atau

psychoeducation merupakan sejenis model komprehensif mencakup konseling, training atau pelatihan, dan konsultasi sekaligus dengan tekanan pada sifat perseveratif-developmental untuk membantu klien baik perorangan maupun kelompok-lembaga agar mampu memperkembangkan diri secara optimal.

Dalam dokumen MERANCANG PROGRAM DAN MODUL (Halaman 31-36)

Dokumen terkait