• Tidak ada hasil yang ditemukan

MERANCANG PROGRAM DAN MODUL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "MERANCANG PROGRAM DAN MODUL"

Copied!
217
0
0

Teks penuh

(1)

soft-skills life-skills character building

ISBN 978–979–1088–25–1

Dr. A. Supratiknya,

Department of Psychology, College of Social Sciences and Philosophy, University of the Philippines, Ph.D.

(2)

A. Supratiknya

Penerbit

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

(3)

© USD 2008

PENERBIT UNIVERSITAS SANATA DHARMA Tromol Pos 29 Yogyakarta 55002

Telp. (0274) 513301, 515253 Fax (0274) 562383

Jl. Affandi, Gejayan Mrican Yogyakarta 55281 e-mail: [email protected]

A. Supratiknya

Cetakan Pertama

vii, 209 hlm.; 160 x 220 mm. Bibliografi: hlm.209

ISBN : 978–979–1088–25–1

EAN : 9-789791-088251

Editor: S.E. Peni Adji

Desain Cover: Pius Sigit

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.

(4)

S

ALAH satu kompetensi psikolog sebagai professional helper adalah memberikan layanan konsultasi dan pendidikan. Kompetensi ini sesungguhnya mencakup dua subkompetensi yang berbeda, yaitu

memberikan konsultasi dan menyelenggarakan psikoedukasi.

Dalam kurikulum pendidikan prajabatan calon psikolog, khususnya sejak jenjang program pendidikan Sarjana Psikologi, kedua

subkompetensi tersebut sebaiknya dipelajari dalam dua mata

kuliah yang berbeda.

Dalam dua tahun terakhir penulis mengampu mata kuliah

Psikologi Konsultasi pada program studi S-1 Psikologi, Fakultas

Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Mata kuliah ini dimaksudkan untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi

dasar di bidang pemberian layanan konsultasi dan psikoedukasi.

Mengingat ranah isi kompetensi tersebut luas sebagaimana disinggung di atas, sedangkan sebagai mata kuliah hanya diberi

bobot wajar alias kecil, yaitu 2 SKS dan 2 JP, maka penulis merasa

perlu membuat pilihan membatasi isinya antara konsultasi atau psikoedukasi.

Pilihan jatuh pada psikoedukasi karena dua alasan. Pertama,

(5)

sudah tercakup dalam kurikulum S-1 Program Studi Psikologi.

Kedua, dari hasil pengamatan di dalam maupun di luar kelas,

penulis menjadi yakin bahwa mahasiswa perlu dibantu menguasai

aneka prinsip dan strategi dalam merencanakan dan

menyelenggara-kan program psikoedukasi di berbagai lingkungan kehidupan,

khususnya lingkungan pendidikan formal, industri atau organisasi,

dan komunitas atau masyarakat.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada para mantan

mahasiswa yang pernah menggeluti kompetensi ini bersama penulis

dalam mata kuliah Psikologi Konsultasi dan kepada Penerbitan

Universitas Sanata Dharma yang bersedia menerbitkan catatan

kuliah ini menjadi buku. Semoga buku ini memudahkan para generasi

mahasiswa baik di lingkungan Universitas Sanata Dharma maupun

di lingkungan Perguruan Tinggi lainnya maupun pihak-pihak lain

yang membutuhkannya guna mendalami dan mengembangkan

kemampuan merancang serta melaksanakan program psikoedukasi,

sebagai salah satu bidang layanan psikologis yang semakin penting

di masa kini dan mendatang.

Kampus Paingan, 2008

(6)

SEKAPUR SIRIH... iii

DAFTAR ISI... v

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Peran Psikolog ... 1

B. Sifat Bantuan yang Diberikan ... 4

C. Jenis Klien yang Dibantu ... 5

D. Aneka Kompetensi Psikolog ... 7

BAB II DARI KONSELING KE KONSULTASI... 23

A. Konseling, Psikoterapi, dan Konsultasi ... 23

B. Aneka Peran Konsultan ... 28

C. Aneka Keterampilan Konsultan ... 30

D. Aneka Tahap Dalam Proses Konsultasi ... 33

BAB III PSIKOEDUKASI... 37

A. Alasan Berkembangnya Psikoedukasi ... 37

B. Makna dan Cakupan Psikoedukasi ... 39

C. Tiga Wilayah Layanan Psikoedukasi ... 43

BAB IV MODEL PENGEMBANGAN PROGRAM PSIKOEDUKASI... 59

A. Model Skill-Deficit atau Life-Skills ... 59

(7)

BAB V MODEL PEMBELAJARAN LIFE-SKILLS... 75

A. Asumsi Dasar ... 75

B. Model Pembelajaran Eksperiensial ... 76

C. Aktivitas Inti dalam Pembelajaran Eksperiensial ... 80

BAB VI BEBERAPA METODE KHAS PEMBELAJARAN EKSPERIENSIAL... 85

A. Metode Latihan Gugus Tugas ... 86

B. Metode Diskusi Kasus ... 90

C. Simulasi dan Games ... 95

D. Latihan Bermain Peran (Role-Play) ... 99

E. Diskusi Kelompok ... 106

F. Latihan Individual ... 110

G. Presentasi/Lekturet ... 114

H. Modelling Perilaku ... 117

I. Pedoman Menyusun Petunjuk Latihan ... 122

BAB VII MENYUSUN PROGRAM PSIKOEDUKASI... 125

A. Melakukan Asesmen Kebutuhan ... 125

B. Menyusun Program Besar atau Grand Design Atau Rencana Induk ... 128

BAB VIII MENYUSUN MODUL... 157

A. Beberapa Prinsip dalam Menyusun Program Kecil atau Modul ... 158

B. Contoh Program Kecil atau Modul ... 163

C. Beberapa Saran Praktis ... 171

BAB IX EVALUASI PROGRAM PSIKOEDUKASI... 179

DAFTAR PUSTAKA... 185

Lampiran A ETIKA WATAK DAN ETIKA TOPENG ... 190

Lampiran B CONTOH KAR TU BERGAMBAR TOKOH ... 191

Lampiran C LEMBAR KERJA KELOMPOK ... 194

Lampiran D LEMBAR KERJA PRIBADI ... 195

(8)

Lampiran F NASKAH NYANYIAN “WALK WITH ME,

OH MY GOD” ... 197 Lampiran G NASKAH TERJEMAHAN NYANYIAN

“DAMPINGILAH AKU, YA TUHAN” ... 198 Lampiran H PERNYATAAN TENTANG HASIL BELAJARKU 199 Lampiran I LEMBAR EVALUASI PROSES ... 200

Lampiran J PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS

IMAN ((PKBI) ... 202

(9)

BAB I

BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Peran Psikolog

P

SIKOLOGI merupakan helping profession atau profesi penolong. Istilah ini konon pertama kali dilontarkan oleh McCully pada tahun

1966 (George & Cristiani, 1981). Tentang arti istilah helping alias

menolong, Brammer dan Shostrom (1982) memberikan dua macam

pengertian. Pertama, menolong berarti memberikan kondisi bagi

orang lain agar bisa memenuhi kebutuhan mereka akan rasa aman,

dicintai dan dihormati, memiliki harga-diri, mampu mengambil

tindakan tertentu, dan berkembang mengaktualisasikan diri.

Kedua, dalam arti lebih luas menolong adalah memberikan aneka

sumber daya dan keterampilan agar orang yang ditolong mampu

menolong diri mereka sendiri (h. 3).

Maka, seperti dikemukakan oleh McCully dan dikutip oleh

George dan Cristiani (1981) helping profession secara luas bisa

diartikan sebagai profesi yang “based upon specialized knowledge,

apply an intellectual technique to the existential affairs of others

toward the end of enabling them to cope more effectively with the

dilemma and paradoxes that characterize the human condition”

(h. 18). Artinya, profesi yang dilandasi pengetahuan khusus

(10)

kehidupan orang lain dengan tujuan membuat mereka mampu

mengatasi secara lebih efektif aneka dilema dan paradoks yang

menjadi ciri kondisi kehidupan manusia.

Atau, seperti dinyatakan oleh sejumlah pakar lain sekitar

empat dasa warsa kemudian, sebagai helping profession psikologi

menjalankan peran utama “to develop and apply psychological

principles, knowledge, models and methods in an ethical and

scientific way in order to promote the development, well-being and

effectiveness of individuals, groups, organizations and society” (Lunt

et al., 2001; h. 5). Artinya, psikologi bertugas mengembangkan dan

menerapkan aneka prinsip, pengetahuan, model dan metode

psikologi secara etis dan ilmiah demi membantu meningkatkan

pertumbuhan, kesejahteraan, dan keefektifan individu, kelompok,

organisasi, dan masyarakat.

Intinya, jasa utama psikologi sebagai profesi penolong adalah

membantu orang atau lembaga agar dapat mengatasi aneka problema

kehidupan secara lebih efektif sehingga mampu menjalankan

fungsi-fungsi pokok dan memperkembangkan diri mereka secara

optimal.

Manusia mengalami aneka bentuk hambatan dalam rangka

tumbuh memekarkan diri lewat pelaksanaan berbagai fungsi,

peran, maupun tugas kehidupan baik secara perorangan maupun

dalam kebersamaan dengan orang lain sebagai suatu pranata,

antara lain karena tidak memiliki pengetahuan dan/atau

keterampilan yang diperlukan untuk berkembang atau sebaliknya,

terlanjur memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan yang salah.

Timbulnya kedua kondisi yang tidak kondusif bagi

per-kembangan pribadi maupun bersama secara optimal itu sendiri bisa

disebabkan oleh sejumlah hal. Pertama, karena manusia gagal

mempelajari pengetahuan dan/atau keterampilan yang diperlukan.

Seorang anak yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pegunungan

(11)

tempat tinggal sepanjang hidupnya, boleh jadi tidak akan pernah

belajar berenang karena tidak terdapat kolam, danau, atau sekadar

genangan air yang cukup luas dan dalam di daerahnya. Sebagai

manusia dia gagal mengembangkan salah satu aspek potensinya

untuk hidup bersahabat dan menyatu dengan lingkungan berair.

Kedua, karena manusia tanpa sadar mempelajari pengetahuan

dan/atau keterampilan yang berakibat mengganggu, menimbulkan

sandungan, atau bahkan destruktif bagi kehidupan pribadi maupun

bagi kehidupan bersama. Seorang pria direktur perusahaan yang

sukses sejak kecil membatinkan pengetahuan atau kesadaran

bahwa penderitaan adalah hukuman dari Tuhan atas sesuatu

perbuatan dosa. Ketika keluarganya didera penderitaan beruntun,

berupa salah seorang putranya tewas dalam kecelakaan pesawat

terbang, isterinya menderita depresi berat setelah mengalami

dugaan malpraktik dokter saat menjalani bedah kecantikan di

bagian perut, dan dia sendiri akhirnya terkena serangan jantung

ringan, daya coping atau tekad dan usahanya untuk mengatasi

problem yang sedang dihadapinya sangat lemah karena merasa

bahwa semua itu merupakan harga pantas yang harus dia bayar

atas dosa tertentu yang belum diketahuinya. Keluar dari rumah

sakit perangainya berubah total, dari seorang eksekutif yang penuh

inisiatif, periang, dan pandai menghidupkan suasana kerja serta

menggerakkan kolega dan bawahan, menjadi pribadi pemurung,

mudah marah, dan uring-uringan.

Menurut sejarahnya, psikologi lahir atau setidaknya

berkembang pesat berkat usahanya menolong orang menjalankan

berbagai tugas hidup, menyesuaikan diri pada tuntutan kehidupan

baru, dan mengatasi aneka problem kehidupan secara efektif, baik

sebagai pribadi maupun secara kolektif, dan dengan demikian

diharapkan akan tercipta perkembangan dan kehidupan pribadi

maupun bersama yang efektif dan memuaskan. Dengan kata lain,

(12)

helper, yaitu seorang penolong profesional yang bertugas membantu

orang lain mengembangkan aneka kemampuan psikologis yang

diperlukan untuk menjalani kehidupan pribadi maupun bersama

secara optimal.

B. Sifat Bantuan yang Diberikan

Tergantung dari situasi yang sedang dihadapi oleh orang atau

lembaga yang hendak ditolong, bantuan yang diberikan oleh

seorang psikolog bisa memiliki salah satu atau kombinasi dari

beberapa sifat sebagaimana diuraikan di bawah ini (Hershenson,

Power, dan Waldo, 1996). Sifat bantuan menunjuk pada tujuan

pendidikan psikologis diberikan kepada orang atau sebuah lembaga

tertentu (Winkel, 1991):

1. Fasilitatif, yaitu bertujuan membantu berlangsungnya

pertumbuhan pribadi yang sehat tanpa hambatan-hambatan

yang berarti. Istilah lain yang seringkali juga digunakan adalah

perseveratif atau developmental. Intinya membantu

mem-pertahankan bahkan meningkatkan perkembangan pribadi

yang sudah berlangsung relatif tanpa gangguan.

2. Preventif, yaitu bertujuan mencegah timbulnya kesulitan yang

bisa menghalangi pelaksanaan aneka fungsi dan pertumbuhan

pribadi seseorang atau sebuah lembaga.

3. Remedial, yaitu bertujuan mengubah pola perkembangan

maladaptif yang terlanjur terbentuk kembali ke arah yang

sehat. Istilah lain yang seringkali juga digunakan adalah

rekonstruktif atau kuratif, yang sama artinya.

4. Rehabilitatif, yaitu bertujuan membantu orang atau lembaga

menutup kekurangan di bidang kemampuan mengatasi

problema kehidupan tertentu dengan cara meningkatkan

(13)

5. Enhancing atau meningkatkan, yaitu bertujuan memperbaiki

kualitas kehidupan orang atau lembaga melampaui taraf

kualitas yang sudah berhasil dicapai.

C. Jenis Klien yang Dibantu

Yang dimaksud klien adalah orang atau lembaga yang menerima

bantuan profesional dari seorang psikolog. Istilah ini seringkali

dipakai sebagai istilah generik untuk mengacu semua orang atau

lembaga yang meminta bantuan profesional kepada pemberi jasa

bantuan di bidang profesi tertentu. Di lingkungan profesi psikologi

istilah itu bisa diberi makna khusus, yaitu golongan penerima

bantuan yang dari segi kesehatan mental termasuk sehat atau

normal, namun sedang menghadapi situasi tertentu baik berupa

problem atau tantangan hidup, dan membutuhkan bantuan seorang

psikolog agar mampu mengatasi problem atau tantangan hidup itu

secara efektif. Dengan kata lain, menggunakan penggolongan sifat

bantuan seperti dikemukakan Hershenson et al., jenis bantuan

yang dibutuhkan oleh klien dalam arti khusus ini lazimnya lebih

bersifat fasilitatif, preventif, rehabilitatif, atau enhancing.

Lawannya, dan khususnya sebagaimana lazim berlaku di

bidang kedokteran, adalah pasien, yaitu golongan penerima bantuan

yang dari segi kesehatan mental termasuk kurang sehat, baik

ringan berupa berbagai jenis neurosis maupun berat berupa aneka

jenis psikosis. Jenis bantuan yang mereka butuhkan lazimnya

bersifat remedial, rekonstruktif, atau kuratif. Dalam konteks

pembahasan tentang Psikologi Konsultasi ini, kelompok pencari

atau penerima bantuan psikologis yang menjadi fokus sasaran

layanan adalah klien alias kelompok orang (termasuk lembaga) yang

dari segi kesehatan mental tergolong sehat atau normal.

Dari segi jumlah atau besarannya, klien juga bisa dibedakan

(14)

kelompok. Klien individual terdiri dari pribadi-pribadi perorangan

yang perlu dibantu untuk mengatasi problem atau tantangan hidup.

Contohnya, seorang remaja yang perlu dibantu meningkatkan

pemahaman dirinya, mengenal aneka kelebihan dan kekurangan

pribadinya; seorang karyawan yang perlu dibantu mengambil

keputusan dilematis antara menerima promosi jabatan namun

dengan konsekuensi dimutasi ke daerah lain dengan akibat

lebih lanjut memutus karir isteri yang juga sedang menanjak, atau

tetap pada jabatan sekarang dan menerima ketertinggalan dari

karir isteri.

Pada klien kelompok, yang menghadapi problem atau tantangan

hidup adalah himpunan orang sebagai pranata atau lembaga.

Problem atau tantangan yang dikeluhkan muncul dari hakikat

kelompok itu sebagai pranata atau lembaga. Sudah barang tentu,

akibat negatif berupa stres atau bentuk tekanan psikologis lain

akan dihayati pada taraf masing-masing individu anggota kelompok

juga. Namun sumber dan solusi problem atau tantangannya tidak

bisa tidak dilakukan pada tataran kebersamaan anggota-anggota

tersebut sebagai pranata atau lembaga. Sebagai contoh, problem

komunikasi dalam kehidupan pasangan suami-isteri, merosotnya

kinerja lembaga akibat demoralisasi di antara para pekerjanya.

Semua itu tidak bisa dipecahkan pada tataran masing-masing

pribadi anggota melainkan harus pada tataran kebersamaan

sebagai sebuah pranata.

Klien kelompok tidak boleh dikacaukan dengan kelompok

sebagai pendekatan dalam pemberian bantuan. Banyak jenis

bantuan psikologis, entah berupa pemberian layanan informasi

atau pengembangan aneka keterampilan (soft skills atau life skills)

paling efektif disampaikan lewat pengalaman belajar di dalam

kelompok. Dalam hal ini, klien yang dibantu sesungguhnya tetap

masing-masing orang, problem atau tantangan psikologis yang

(15)

diberikan dengan menggunakan kelompok sebagai sarana

pem-belajaran. Alasan lain mengapa pendekatan kelompok semacam ini

lebih efektif diterapkan dibandingkan pendekatan individual ialah

karena jenis problem yang dialami masing-masing orang kurang

lebih sama. Winkel (1991) menyebut pembedaan penyelenggaraan

bantuan psikologis berdasarkan jumlah orang yang dilayani sebagai

pilihan pendekatan semacam ini bentuk pemberian bantuan

psikologis, yaitu individual alias perorangan atau kelompok.

Sebagaimana dinyatakan oleh Winkel (1991), pembedaan bentuk

sebagai cara pendekatan penyelenggaraan bantuan psikologis

khususnya bimbingan, “belum menyatakan apa-apa tentang apa

yang menjadi tujuan dari pelayanan bimbingan dan apa yang

dijadikan materi dalam pelayanan bimbingan” (h. 122) atau

bantuan psikologis lain.

D. Aneka Kompetensi Psikolog

Agar mampu memberikan bantuan psikologis kepada klien

secara efektif, seorang psikolog perlu menguasasi sejumlah

kompetensi tertentu yang membedakannya dari pekerja di bidang

profesi lain pada umumnya maupun dari pekerja di bidang profesi

pemberi bantuan (helping profession) lain pada khususnya, seperti

social work atau pekerja sosial, psikiatri, dan bimbingan rohani

(clergy).

Yang dimaksud dengan kompetensi, dalam hal ini kompetensi

psikolog, adalah “fundamental clusters of integrated knowledge,

skills, and attitudes that are used in practice applications by the

professional psychologists” (Bent, 1991; h. 77). Artinya, himpunan

pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang bersifat padu dan

fundamental, yang digunakan dalam penerapan praktik oleh para

(16)

Kompetensi atau lebih tepat rangkaian kompetensi ini disebut

kompetensi inti sebab dipandang merupakan serangkaian kompetensi

fungsional kunci (key functional competencies) bagi para psikolog

yang diharapkan dapat menjadi inti atau fondasi serta “a flexible

guide for curriculum development” bagi pengembangan aneka

program pendidikan psikologi sebagai suatu profesi.

Salah satu rumusan tentang rangkaian kompetensi inti

psikolog disusun oleh para pakar pendidikan psikologi di Amerika

Serikat yang tergabung dalam National Council of Schools of

Professional Psychology lewat serangkaian konferensi yang dilakukan

antara tahun 1978-1990, khususnya dalam Mission Bay Conference

pada 1987 saat pertama kali berhasil dirumuskan “six identifiable

competency areas” serta pengukuhan dan penyempurnaannya

dalam San Antonio Conference pada tahun 1989-1990 (Bent, 1991;

Weiss, 1991). Secara substansial rumusan tentang kompetensi inti

psikolog oleh para pakar pendidikan profesi psikologi di Amerika

Serikat ini tidak berbeda dari rumusan tentang kompetensi kunci

(key roles) psikolog oleh para sejawat trans-atlantik mereka di Uni

Eropa (Lunt et al., 2001).

Kompetensi inti psikolog yang dimaksud ada enam buah, yaitu

relasi, asesmen, intervensi, penelitian dan evaluasi, konsultasi dan

pendidikan, dan manajemen dan supervisi. Berikut akan disajikan

uraian lebih rinci tentang masing-masing kompetensi.

1. Relasi

Kompetensi relasi adalah kemampuan mengembangkan dan

memelihara relasi atau hubungan kerja yang konstruktif dengan

klien (Polite & Bourg, 1991). Pentingnya kompetensi ini bagi seorang

psikolog tidak perlu diragukan. Sebagian besar bahkan hampir

semua fungsi yang dilakukan seorang psikolog didasarkan pada

kemampuan dasar untuk membangun dan memelihara relasi yang

(17)

bahasa lain, seorang psikolog pada dasarnya adalah seorang

komunikator baik dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai

fasilitator-trainer-edukator maupun sebagai konselor-terapis.

Hampir semua problem psikologis yang dialami oleh perorangan,

kelompok, atau lembaga sedikit atau banyak, langsung atau tidak

langsung berakar pada masalah komunikasi atau relasi. Selain itu,

kompetensi relasi juga merupakan fondasi atau prasyarat bagi

semua kompetensi inti psikolog yang lain (Polite & Bourg, 1991).

Kompetensi relasi memiliki setidaknya tiga unsur, yaitu

knowledge, skills, dan attitudes. Unsur knowledge atau pengetahuan

dari kompetensi relasi mencakup sedikitnya tiga hal. Pertama,

pengetahuan tentang data base psikologis yang relevan, meliputi

aneka teori dan hasil penelitian tentang relasi atau komunikasi

antarpribadi serta body of knowledge tentang aneka bidang

psikologi baik yang tradisional seperti psikologi perkembangan,

psikologi kepribadian, psikologi sosial, psikologi abnormal, psikologi

industri, maupun yang baru berkembang seperti psikologi hukum,

psikologi forensik, dan sebagainya. Kedua, pemahaman diri, meliputi

pengetahuan atau kesadaran tentang aneka sifat-kemampuan,

kelebihan-kekuatan, kekurangan-kelemahan, motivasi, dan

sebagainya, yang akan mempengaruhi kemampuan dan cara atau

gaya seseorang dalam membangun komunikasi dengan orang lain.

Ketiga, pengetahuan tentang orang lain berupa pemahaman tentang

aneka konteks tempat klien berasal dan hidup, meliputi baik

mikrosistem seperti kekhususan individual maupun makrosistem

seperti lingkungan budayanya, dan sebagainya.

Unsur skills dari kompetensi relasi mencakup segugusan

keterampilan yang lazim disebut interpersonal skills. Gugusan

keterampilan ini meliputi, namun tidak terbatas pada

kemampuan-kemampuan (a) membangun rapport atau relasi yang hangat-akrab

(18)

seperti testing atau konseling, (b) membuat lawan komunikasi

merasa terlibat di dalam relasi yang sedang dibangun, (c) membuat

lawan komunikasi merasa nyaman, (d) mengkomunikasikan empati,

(e) mengkomunikasikan sikap menghargai dan menghormati lawan

komunikasi, dan sebagainya.

Unsur attitudes atau sikap meliputi namun tidak terbatas pada,

(a) kuriositas atau rasa ingin tahu dalam arti dahaga intelektual

yang sehat, (b) fleksibilitas atau kelenturan-keterbukaan,

khusus-nya kelenturan dalam cara berpikir dan keterbukaan terhadap

ide-gagasan baru, (c) skeptikisme atau sikap kritis, dalam arti tidak

mudah percaya dan tidak mudah puas menyangkut hal-hal terkait

pencarian kebenaran, (d) berpikiran terbuka, (e) apresiasi atau

pengakuan-penghargaan terhadap keberagaman individual dan

budaya, (f) kesehatan psikologis, (g) integritas dan

kejujuran-ketulusan, dan (h) kerelaan untuk melayani orang lain.

2. Asesmen

Yang dimaksud asesmen adalah proses yang berkelanjutan,

interaktif dan inklusif, dalam arti melibatkan pihak yang sedang

menjalani asesmen, dalam rangka mengumpulkan informasi

tentang klien dengan tujuan menyusun deskripsi, konseptualisasi,

karakterisasi dan prediksi tentang aspek-aspek tertentu dari

klien yang bersangkutan (McHolland, dalam Gold & De Piano,

1991). Kompetensi asesmen di satu sisi masih dipandang unik atau

khas dan merupakan salah satu fondasi penting bagi identitas dan

fungsi seorang psikolog, namun di sisi lain khususnya dalam

beberapa dasa warsa terakhir telah menjadi sasaran kritik dan

ketidak-puasan baik dari dalam maupun luar profesi psikologi

karena cenderung mereduksi fungsi dan peran psikolog sebagai

sekadar tukang tes. Salah satu sumber utama kelemahan dalam

penyelenggaraan asesmen sehingga menimbulkan ketidakpuasan

(19)

dimilikinya wawasan yang memadai tentang hakikat dan sejarah

asesmen dalam pelayanan psikologis. Maka, kompetensi asesmen

dipandang mencakup tiga unsur penting, yaitu (a) pemilikan

wawasan yang jernih tentang hakikat dan sejarah asesmen, (b)

pemilikan pengetahuan yang relevan dan memadai tentang

asesmen, dan (c) pemilikan keterampilan yang memadai dalam

penyelenggaraan asesmen (Gold & De Piano, 1991).

Psikolog harus memiliki wawasan tentang hakikat asesmen

dan sejarahnya, baik seperti berlangsung di tempat kelahirannya

maupun di tempat penerapannya kini. Muncul dan berkembangnya

psychological testing pada paruh pertama abad ke-20 di Eropa dan

Amerika dipandang ikut menandai mekarnya psikologi, khususnya

psikologi klinis, sebagai profesi. Psychological testing and evaluation

sebagai sejenis kompetensi khas psikolog telah berhasil

menempat-kan psikolog pada posisi terhormat kala itu. Namun, di bidang

intervensi atau penanganan gangguan psikologis, psikolog dengan

kompetensi testing dan evaluasinya itu ternyata hanya menempati

peran subordinatif atau sekunder sebagai “psychodiagnostic

assistant” atau asisten psikodiagnostik bagi para psikoterapis yang

lazimnya berlatar belakang pendidikan psikiatri atau kedokteran

jiwa. Akibatnya, konsep asesmen cenderung dipahami sebatas

penyelenggaraan testing terhadap klien perorangan yang dilakukan

pada awal proses intervensi dengan tujuan utama merumuskan

diagnosis. Konsep sempit tentang asesmen ini dikenal sebagai

model “pre-treatment testing” tentang asesmen psikologis, dan kini

mulai ditinggalkan (Gold & De Piano, 1991).

Memasuki dasawarsa 1960-an model sempit tentang asesmen

psikologis di atas mendapatkan kritik tajam dari kalangan dalam

dan luar psikologi. Selain itu, peran psikolog juga mengalami

pergeseran, dari sekadar melakukan testing untuk mendukung

(20)

psikoterapi sendiri. Psikolog makin memandang psikoterapi dan

bentuk-bentuk intervensi psikologis lain sebagai aktivitas utama

mereka. Akibatnya, status dan praktik asesmen di kalangan

psikolog sendiri merosot secara tajam.

Namun, menghadapi aneka kritik dan kecenderungan baru itu,

bukannya menjadi surut bidang asesmen justeru melakukan aneka

perubahan sesuai tuntutan masyarakat pengguna, termasuk

meningkatnya permintaan asesmen di aneka konteks lain selain

psikoterapi dan dengan klien yang semakin beragam pula, tidak

terbatas pada klien perorangan. Muncullah model asesmen baru

yang dikenal sebagai “broad-based model”, yaitu model asesmen

dengan pendekatan, sarana-alat, dan sasaran layanan yang

diperluas disertai keterampilan memberikan konsultasi dan

pemilikan wawasan yang luas tentang asesmen sehingga mampu

menanggapi aneka kebutuhan yang terus berkembang di tengah

masyarakat (Gold & De Piano, 1991).

Psikolog harus memiliki pengetahuan tentang aneka konsep

kunci model asesmen baru. Beberapa contoh konsep kunci

terpenting tentang asesmen baru yang dimaksud adalah sebagai

berikut (Gold & De Piano, 1991):

a. Psikolog yang kompeten harus mampu memilih dari aneka

metode asesmen atau evaluasi, mana yang paling cocok dengan

kasus yang sedang dihadapi, bukan sekadar mengandalkan

secara otomatis-dogmatis sejumlah tes baku yang sudah lazim.

b. Subjek evaluasi yang harus dilayani bukan terbatas perorangan

melainkan mencakup pasangan, keluarga, organisasi,

komunitas, atau sistem.

c. Psikolog harus menguasai aneka teknik evaluasi lain selain

evaluasi praintervensi, seperti evaluasi terhadap hasil

(21)

d. Tujuan utama asesmen psikologis adalah mendapatkan

pemahaman tentang klien untuk mendasari perencanaan

tindakan praktis tertentu dalam rangka intervensi atau

pemecahan masalah, bukan sekadar menghasilkan klasifikasi

diagnostik. Maka, jauh lebih penting bagi seorang psikolog

untuk mengasah kemampuan menemukan aneka kekuatan

dan kemampuan dalam diri klien yang bisa terus dimekarkan

daripada mendeteksi aneka kekurangan mereka sekadar untuk

keperluan kategorisasi.

e. Psikolog tidak boleh hanya menguasai sejumlah tes baku, itu

pun hanya sebatas pada aneka aspek teknisnya seperti

administrasi, penskoran, dan interpretasinya. Dia harus

memahami landasan konseptual yang lebih fundamental

tentang asesmen agar tidak terjebak menerapkan aneka teknik

asesmen secara naïf atau bahkan keliru, serta agar lebih

terbuka terhadap munculnya berbagai teknik dan prosedur

asesmen yang baru.

Selain penguasaan teknis atas alat-alat asesmen yang

digunakan, seorang psikolog juga harus menguasai aneka

keterampilan pendukung sebagai berikut (Gold & De Piano, 1991):

a. Merumuskan pertanyaan referal, yaitu pertanyaan-pertanyaan

dari pihak ketiga yang mengirim klien, yang diharapkannya

akan terjawab lewat proses asesmen. Maka, psikolog harus

trampil memberikan konsultasi untuk menolong sumber

referal semacam itu merumuskan apa yang ingin diperoleh

atau apa yang hendak diputuskannya berdasarkan hasil

asesmen. Berdasarkan pertanyaan referal yang jelas, psikolog

akan bisa menentukan jenis informasi tentang klien yang perlu

dikumpulkannya, teknik dan instrumen yang harus dia

gunakan, dan aneka persoalan yang perlu dia pecahkan

(22)

b. Memilih metode. Menurut model asesmen dengan basis yang

diperluas, selain testing ada banyak metode pengumpulan

informasi lain yang juga memiliki fungsi penting dalam

evaluasi, seperti wawancara, asesmen perilaku, dan aneka

metode khusus untuk mengevaluasi pasangan, keluarga,

organisasi, dan sistem. Dengan kata lain, asesmen harus

bergerak ke arah menjadi semakin eklektik dalam arti

mengandalkan kombinasi aneka metode dan teknik demi

mendapatkan informasi paling akurat dan lengkap tentang

klien untuk menjawab pertanyaan referal.

c. Pengumpulan dan pemrosesan informasi. Keterampilan ini

meliputi penguasaan landasan konseptual tentang

masing-masing jenis teknik asesmen, penerapan minimal salah satu

teknik tertentu mewakili masing-masing jenis teknik asesmen,

dan penyusunan ringkasan hasilnya.

d. Merumuskan dan mengintegrasikan hipotesis interpretatif.

Psikolog harus memahami perbedaan antara data mentah

hasil penerapan prosedur evaluasi tertentu dan kesimpulan

interpretatif yang ditarik dari data tersebut. Sebuah himpunan

data baru akan menjadi bermakna sesudah dirumuskan ke

dalam interpretasi yang bersifat hipotetis dengan cara

mengaitkannya dengan teori atau fakta empiris tertentu.

Interpretasi juga akan menjadi semakin akurat bila

dirumuskan berdasarkan gabungan dari semakin banyak data

yang diperoleh dari aneka sumber.

e. Diseminasi hasil. Nilai suatu asesmen pada akhirnya ditentukan

oleh kemampuan psikolog mengkomunikasikan hasil asesmen

itu kepada subjek yang dievaluasi dan/atau sumber referal

dengan bahasa yang sederhana, jelas, lugas, konsisten, dan

yang terpenting, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan

(23)

3. Intervensi

Intervensi adalah tindakan yang bertujuan mempromosikan

dalam arti memulihkan, mempertahankan, atau meningkatkan

fungsi positif dan rasa sejahtera klien lewat bentuk-bentuk layanan

yang bersifat preventif, developmental, dan/atau remedial (Bent &

Cox, 1991). Intervensi mencakup bidang yang lebih luas dari

sekadar psikoterapi. Psikoterapi atau konseling individual yang

didasarkan pada apa yang disebut “individualized service planning”

memang tetap bisa menjadi bagian esensial kompetensi intervensi,

namun juga perlu dilengkapi dengan penguasaan aneka pendekatan

intervensi kelompok. Maka, konsep klien perlu diperluas tidak

terbatas pada individu melainkan juga mencakup pasangan,

kelompok, organisasi, dan sebagainya. Karena itu kompetensi

intervensi juga harus mencakup kemampuan menjalin relasi dengan

berbagai pihak, seperti “referral networking” alias membangun

jaringan dengan sumber-sumber referal dan “collegial planning”

alias mengevaluasi dan merencanakan aneka kiat meningkatkan

keefektifan dalam memenuhi kebutuhan klien bersama pihak-pihak

lain yang terkait. Selain itu, menurut pandangan baru tentang

intervensi ini seorang psikolog bukan pertama-tama seorang

psikoterapis, melainkan lebih merupakan seorang “human resources

expert” yang tugas utamanya adalah menolong orang lain mengatasi

aneka problem kehidupan yang mengusik rasa sejahteranya. Untuk

itu metode-metode intervensi yang bersifat preventif-developmental

perlu diutamakan seraya tidak boleh terpaku pada ranah diagnosis

dan penyakit mental yang merupakan wilayah psikoterapi

tradisional (Bent & Cox, 1991).

4. Penelitian dan Evaluasi

Penelitian adalah kegiatan mengumpulkan dan menafsirkan

data untuk memperoleh informasi apa adanya. Sebaliknya, evaluasi

(24)

penafsir-an atas data dengpenafsir-an kriteria atau norma tertentu agar dapat

menentukan kualitas data atau hasil penafsiran data itu dalam

sejenis kontinum baik-buruk. Bisa dikatakan, evaluasi merupakan

langkah lebih lanjut dari suatu penelitian. Artinya, evaluasi selalu

melibatkan proses penelitian, sedangkan penelitian tidak selalu

ditindaklanjuti dengan evaluasi.

Kompetensi di bidang penelitian dan evaluasi bagi seorang

psikolog perlu mencakup unsur-unsur sebagai berikut (Trierweiler

& Stricker, 1991):

a. Penguasaan pengetahuan dasar tentang filsafat ilmu,

khusus-nya kesadaran bahwa produksi suatu pengetahuan ilmiah pada

dasarnya merupakan proses sosial dan politik. Merupakan

proses sosial sebab melibatkan kerja sama dengan berbagai

pihak baik langsung maupun tak langsung. Merupakan proses

politik sebab pengetahuan memiliki implikasi kekuasaan bagi

pihak yang memproduksi dan menguasainya.

b. Penguasaan pengetahuan dasar tentang statistik terapan dan

teori pengukuran sebagai sarana utama untuk meneliti aneka

konstruk ilmiah dengan pendekatan populasi.

c. Penguasaan pengetahuan dasar tentang aneka desain

penelitian mulai dari yang paling terkontrol seperti eksperimen

laboratorium sampai yang paling kurang melibatkan kontrol

seperti penelitian lapangan.

d. Penguasaan pengetahuan dasar tentang aneka metode penelitian

kualitatif dengan fokus pada masalah reliabilitas dan validitas

dalam mengumpulkan dan menafsirkan data kualitatif.

e. Penguasaan pengetahuan dasar tentang penerapan pendekatan

penelitian yang khas untuk berbagai sasaran penelitian khas

baik yang berupa sistem maupun individu, seperti penelitian

(25)

f. Penguasaan pengetahuan dasar tentang epistemologi

pribadi-nya sendiri, berupa kesadaran tentang aneka bias pribadi,

predileksi atau kecondongan pribadi pada teori tertentu,

keterbukaan terhadap aneka perspektif dalam memandang

persoalan berikut kelebihan dan kekurangan dari

masing-masing pendekatan itu, kesadaran tentang pentingnya memiliki

bukti-bukti empiris yang memadai dalam mendukung suatu

pandangan seraya tetap mempertahankan sikap kritis yang

sehat, kesadaran tentang keterikatan penelitian pada etika,

dan kesadaran tentang pentingnya meminta masukan dan

umpan balik dari kolega tentang setiap penelitian yang sedang

dilakukan sekalipun meneliti sudah menjadi kegiatan rutin.

g. Penguasaan keterampilan membuat laporan penelitian dan/

atau laporan profesional secara mantap.

Secara khusus, seorang psikolog sejati merupakan seorang

“local clinical scientist” alias ilmuwan klinis lokal. Maksudnya,

sebagai ilmuwan dia perlu mengembangkan ciri-sikap sebagai

berikut: (a) menyangkut orientasi pengetahuan dan metode, dia

perlu lebih memilih menjadi seorang generalis daripada spesialis,

(b) dalam melakukan penelitian dia perlu lebih berfokus pada

realitas lokal; di situ data dikumpulkan dari kasus tertentu

sehingga kemungkinannya untuk digeneralisasikan pada kasus lain

akan disikapinya sebagai terbatas, (c) memilih mengembangkan

sikap dasar sebagai peneliti yang aktif, bukannya puas sekadar

karena memiliki keahlian teknis menyangkut aneka metode ilmiah

tertentu (Trierwiler & Stricker, 1991).

5. Konsultasi dan Pendidikan

Problem kehidupan yang dihadapi manusia dan masyarakat

semakin kompleks. Keterkaitan antara berbagai problem yang

(26)

dunia yang lebih luas pun semakin diakui kebenarannya. Tugas

psikologi tidak lagi terbatas mengatasi aneka problem individual,

melainkan lebih-lebih mengupayakan pemuliaan kehidupan dan

peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat program-program

yang bersifat preventif. Makna problem pun diperluas bukan hanya

terbatas pada aneka bentuk gangguan fungsi psikis, melainkan juga

mencakup pemanfaatan aneka sumber daya secara kurang optimal

serta aneka bentuk kegagalan mendapatkan kesempatan untuk

berkembang secara penuh. Dengan kata lain, problem

manusia-masyarakat tidak lagi bisa diatasi hanya lewat aneka bentuk

intervensi tradisional pada taraf perorangan, melainkan bahkan

perlu dicegah lewat berbagai usaha konsultasi dan pendidikan yang

ditujukan kepada baik perorangan maupun kelompok.

Pendidikan dalam arti luas mencakup semua bentuk usaha

memberikan fasilitasi secara terarah oleh seorang psikolog kepada

seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan menumbuhkan

aneka pengetahuan, keterampilan atau sikap tertentu dalam diri

orang atau kelompok orang bersangkutan yang menjadi sasaran

pendidikan (Illback, Maher & Kopplin, 1991). Pendidikan selalu

mengandung unsur pemberian pengaruh tertentu, khususnya dari

pendidik kepada peserta didik, dalam rangka mengatasi atau

mencegah terjadinya problem kehidupan tertentu. Pendidikan bisa

diberikan secara tatap muka dan langsung atau secara tidak

langsung dengan menggunakan aneka media komunikasi, seperti

media cetak, media audio-visual, dan sebagainya. Apa pun media

yang digunakan, pendidikan yang baik harus dilaksanakan

mengikuti desain instruksional yang didasarkan pada aneka

kebutuhan peserta didik, dengan materi dan metode pembelajaran

yang sesuai, dan dengan sistem evaluasi pencapaian hasil belajar

yang memadai.

Sebaliknya, konsultasi adalah interaksi kolaboratif yang

(27)

klien atau kolega sebagai konsulti dalam rangka membahas suatu

problem atau program tertentu yang sedang dihadapi oleh klien

atau kolega yang bersangkutan (Illback, Maher & Kopplin, 1991).

Konsultasi pada dasarnya merupakan suatu proses intervensi juga,

namun berbeda dari jenis intervensi yang lain seperti psikoterapi

dalam konsultasi sang psikolog sebagai konsultan tidak terlibat

bahkan tidak memiliki kontrol langsung atas proses perubahan

nyata yang berlangsung dalam diri konsulti. Sebagai bentuk

intervensi, konsultasi berfokus pada kebutuhan konsulti berupa

perorangan, pasangan, kelompok, organisasi, program, dan

sebagai-nya. Tugas psikolog sebagai konsultan adalah menolong konsulti

merumuskan problem yang sedang dihadapi dan menemukan

cara-cara solusi lewat proses pemberian pengaruh yang bersifat fasilitatif.

Maka, kompetensi pendidikan dan konsultasi perlu mencakup

unsur-unsur berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan baik

yang bersifat umum seperti kemampuan berkomunikasi maupun

yang bersifat lebih khusus seperti penguasaan aneka pengetahuan

teoretis-empiris yang mendasari proses konsultasi, seperti

dinamika kelompok, kesehatan mental, teori organisasi, serta

penguasaan aneka prinsip dan prosedur pengembangan desain

instruksional.

6. Manajemen dan Supervisi

Di sini yang dimaksud manajemen adalah gugusan aktivitas

yang bertujuan mengarahkan, mengorganisasikan, dan menata

atau mengendalikan aneka layanan yang ditawarkan psikolog

kepada publik pengguna jasa layanan psikologis (Bent, Schindler

& Dobbins, 1991). Dengan kata lain, yang menjadi fokus di sini

adalah penguasaan atas aspek-aspek manajerial dari praktik

psikologi. Kompetensi manajerial ini mencakup minimal empat

(28)

a. Self-management atau manajemen-diri sebagai seorang

psikolog profesional yang baik. Psikolog profesional yang baik

akan mampu menjalankan praktik sesuai standar teknis dan

etis yang berlaku, memenuhi berbagai kewajiban, memiliki

kepekaan terhadap kebutuhan orang lain khususnya klien,

serta menjalani kehidupan pribadi yang sehat. Maka,

ke-mampuan manajemen-diri ini perlu mencakup unsur-unsur

(1) kemampuan mengelola perilaku profesional sesuai pedoman

yang berlaku, (2) kemampuan mengelola waktu, (3) memiliki

skala prioritas, khususnya memberikan prioritas yang

tinggi pada hal-hal yang berkaitan dengan profesinya, dan

(4) mengembangkan gaya hidup yang sesuai dengan profesinya.

b. Manajemen kasus, yaitu manajemen klien dengan memberikan

perhatian pada segi-segi praktis, etis, legal, lintas-disiplin dan

lintas-lembaga yang senantiasa akan muncul dalam

menangani klien. Unsur-unsur kemampuan ini meliputi

kemampuan mengelola administrasi dan dokumentasi data

kasus, perencanaan program layanan, membangun jaringan

kerjasama dengan pihak atau lembaga lain, dan sebagainya.

c. Manajemen profesi, yaitu penguasaan aneka standar, pedoman

kerja, dan kode etik yang diatur oleh organisasi profesi serta

hal-hal lain yang berkaitan dengan penataan profesi seperti

akreditasi, sertifikasi atau pemberian izin praktik, dan

sebagainya.

d. Sistem penyediaan layanan (service delivery system), yaitu

penguasaan aneka jenis layanan psikologis seperti praktik

pribadi, praktik dalam lembaga, serta hal-hal yang terkait

dengan praktik penyediaan layanan seperti pemahaman

tentang populasi sasaran yang dilayani, penguasaan aneka

cara mengakses populasi sasaran, penyediaan aneka

(29)

Supervisi adalah manajemen yang dikombinasikan dengan

pengajaran, diarahkan kepada seseorang atau sekelompok

profesional muda, berlangsung dalam relasi kolaboratif antara

psikolog senior sebagai supervisor dan psikolog yunior sebagai

pihak yang disupervisi, dan ditujukan untuk meningkatkan

kompetensi psikolog yunior yang disupervisi (Bent, Schindler &

Dobbins, 1991). Kompetensi supervisi mencakup baik kemampuan

menjadi subjek sasaran supervisi yang baik maupun kemampuan

melakukan supervisi yang baik terhadap orang lain. Yang pertama

bisa didapat dengan cara menjalani praktikum atau tugas praktik

lain dengan disupervisi dosen. Yang kedua bisa didapat dengan cara

menjadi asisten praktikum dengan tugas pokok mensupervisi

kegiatan praktik sekelompok mahasiswa yunior.

Dalam konteks psikologi konsultasi, pembicaraan selanjutnya

dalam buku ini akan terfokus pada kompetensi konsultasi dan

pendidikan, bahkan secara lebih khusus lagi pada kompetensi

menyelenggarakan bantuan berupa pendidikan psikologis atau

psikoedukasi pada kelompok-kelompok klien atau subjek

(30)
(31)

BAB II

BAB II

BAB II

DARI KONSELING KE KONSULTASI

U

NTUK memahami arti dan kedudukan psikologi konsultasi (dan

pendidikan) dalam kancah penyediaan jasa layanan psikologis

dalam masyarakat masa kini, kiranya perlu kita simak sejarah

perkembangan pembedaan antara konseling dan psikoterapi di satu

sisi, dan sejarah perkembangan pembedaan antara konseling dan

konsultasi sendiri di sisi lain.

A. Konseling, Psikoterapi, dan Konsultasi

Secara tradisional, konseling dan psikoterapi dari segi

substansinya memiliki arti yang sama, yaitu usaha menolong klien

khususnya perorangan mengatasi suatu problem psikologis

yang mengganggu rasa kesejahteraan pribadinya. Salah satu

definisi tentang konseling yang dikemukakan oleh Pepinsky dan

Pepinsky (1954, dalam George & Cristiani, 1981) menyatakan

bahwa “counselling is a process involving an interaction between a

counsellor and a client in a private setting, with the purpose of

helping the client change her/his behavior so that a satisfactory

resolution of needs may be obtained” (h. 4). Artinya, konseling

merupakan proses yang melibatkan suatu interaksi antara seorang

(32)

klien mengubah tingkah lakunya sehingga mampu mencapai

pemuasan aneka kebutuhan hidupnya secara memuaskan.

Aspek yang ditekankan pada definisi itu adalah interaksi,

perubahan tingkah laku, dan pemuasan kebutuhan. Psikoterapi

lazimnya cenderung dimaknai sebagai reedukasi atau pendidikan

kembali si individu dengan tujuan mengubah persepsi,

meng-integrasikan pemahaman baru ke dalam tingkah lakunya

sehari-hari, dan mengatasi aneka perasaan negatif akut akibat pengalaman

yang menyakitkan di masa lalu (Brammer & Shostrom, 1982).

Bertolak dari kata kunci perubahan tingkah laku yang terdapat

dalam definisi baik tentang konseling maupun psikoterapi,

dapatlah dikatakan bahwa secara substansial kedua bidang

layanan psikologis itu sukar dibedakan. Kekaburan batas antara

konseling dan psikoterapi ini memang diakui oleh kalangan

konselor dan psikoterapis sendiri (George & Cristiani, 1981;

Brammer & Shostrom, 1982). Sebagian praktisi berpendapat bahwa

pembedaan itu tidak perlu, konseling dan psikoterapi merupakan

sinonim belaka. Namun sebagian praktisi lain berpendapat bahwa

perbedaan antara kedua jenis layanan itu perlu dipertegas.

Akhirnya disepakati bahwa perbedaan antara konseling dan

psikoterapi tidak terletak pada substansi atau kualitas, melainkan

hanya pada dimensi kuantitasnya. Pengakuan ini tampak dari

beberapa definisi yang dikutip oleh George dan Cristiani (1981)

berikut ini. Pertama, Blocher (1966, dalam George & Cristiani,

1981), membedakan konseling dan psikoterapi dengan menekankan

bahwa “the goals of counselling are ordinarily

developmental-educative-preventive, and the goals of psychotherapy are

generally remediative-adjustive-therapeutic” (h. 7, cetak tebal

oleh penulis). Jadi, tujuan konseling lazimnya lebih bersifat

developmental-edukatif-preventif, sedangkan tujuan psikoterapi

(33)

Kedua, Brammer dan Shostrom (1977, dalam George &

Cristiani, 1981) menegaskan bahwa “while the two activities may

overlap, counselling in general can be characterized by such terms

as educational, vocational, supportive, situational,

problem-solving, conscious awareness, normal, present time, and short

term; psychotherapy can be characterized by such terms as

supportive (in a crisis setting), reconstructive, depth emphasis,

analytical, focus on the past, emphasis on ‘neurotics’ or other

severe emotional problems and long term” (h. 7, cetak tebal oleh

penulis). Artinya, kendati kedua aktivitas itu saling tumpang tindih,

secara umum konseling ditandai oleh ciri-ciri edukasional,

vokasional, suportif, situasional, pemecahan-masalah, melibatkan

kesadaran, normal, masa kini, dan berjangka pendek, sedangkan

psikoterapi ditandai oleh ciri-ciri suportif (dalam situasi krisis),

rekonstruktif, memberi tekanan pada kedalaman, analitis, berfokus

pada masa lalu, memberi tekanan pada kasus-kasus neurotik atau

masalah-masalah emosi lainnya yang bersifat berat atau parah dan

berjangka panjang.

Ketiga, Hahn dan MacLean (1955, dalam George & Cristiani,

1981) menunjukkan bahwa “the counsellor would give heavy

emphasis to prevention of disruptive deviation, whereas the

psychotherapists would give primary emphasis to present deviation

with secondary attention to prevention. In addition … counselling

has a goal of long-range educational and vocational planning. Their

total emphasis seems to view counselling as being concerned with

preventive mental health, and psychotherapy with remediation”

(h. 8, cetak tebal oleh penulis). Artinya, konselor memberi tekanan

berat pada mencegah terjadinya penyimpangan yang bersifat

merusak (perkembangan), sedangkan psikoterapis memberi tekanan

utama pada penyimpangan yang kini telah terjadi sementara upaya

(34)

konseling bertujuan membantu membuat perencanaan jangka

panjang dalam memilih jurusan pendidikan dan pekerjaan. Mereka

memandang bahwa konseling lebih terkait dengan kesehatan

mental yang bersifat preventif, sedangkan psikoterapi lebih terkait

dengan remediasi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, George dan Cristiani

(1981) menyimpulkan sebagai berikut, “within the context of the

continuum, the goals of psychotherapy are more likely to involve a

quite complete change of basic character structure; the goals of

counselling are apt to be more limited, more directed toward growth,

more concerned with the … immediate situation, and more aimed

at helping the individual function adequately in appropriate roles”

(h. 8). Maksudnya, bila ditempatkan dalam sebuah kontinum

tujuan psikoterapi lebih melibatkan perubahan menyeluruh

terhadap struktur karakter dasar seseorang; sedangkan tujuan

konseling lebih terbatas, yaitu lebih diarahkan pada pertumbuhan,

lebih terkait dengan…situasi yang sedang dihadapi kini, serta lebih

diarahkan untuk membantu individu menjalankan aneka peran

kehidupannya secara memadai.

Ringkas kata, secara substansial konseling dan psikoterapi

adalah sama, keduanya berbeda hanya menyangkut dimensi

kuantitas gangguan klien dan jenis bantuan perubahan tingkah

laku yang diberikan kepada klien. Konseling diarahkan pada

kelompok klien normal dan pemberian bantuan yang bersifat

preventif, sedangkan psikoterapi diarahkan pada kelompok klien

yang sudah tergolong kurang normal (neurosis atau psikosis)

sehingga bantuan yang diberikan pun lebih bersifat remediasi.

Namun, boleh jadi sebagian karena terdorong oleh kebutuhan

untuk menegaskan corak preventifnya bidang konseling sendiri

kemudian mengalami perkembangan pesat dan meluas, sampai

(35)

Sekalipun demikian pada awalnya konsultasi masih dimaknai

secara agak sempit seperti tampak dari definisi yang dikemukakan

oleh Lippit (1959, dalam George & Cristiani, 1981) berikut ini:

“Consultation…to be a voluntary relationship between a professional

helper (consultant) and a help needing system (client) in which the

consultant is attempting to give help to the client in the solving of

some current or potential problem, and the relationship is perceived

as temporary by both parties. Also, the consultant is an ‘outsider,’

i.e., is not a part of any hierarchical power system in which the client

is located” (h. 271). Maksudnya, konsultasi merupakan relasi yang

dilakukan dengan sengaja atau sadar antara seorang penolong

profesional (konsultan) dan sebuah sistem tertentu yang sedang

membutuhkan bantuan (klien), di mana si konsultan mencoba

menolong klien mengatasi sebuah masalah yang sudah terjadi atau

berpotensi muncul, dan relasi itu dipandang bersifat sementara

oleh kedua belah pihak. Selain itu, si konsultan merupakan “pihak

luar”, yaitu bukan bagian dari sistem kekuasaan hirarkis tempat

si klien berada.

Yang dimaksud klien dalam definisi di atas adalah “any

functioning social unit such as a family, industrial organization,

individual, committee, staff, membership association, governmental

department, delinquent gang, or hospital staff” (h. 271). Artinya,

yang dimaksud klien mencakup semua satuan sosial seperti

keluarga, organisasi industri, individu, komisi atau kelompok kerja,

staf atau himpunan pegawai, perkumpulan, himpunan pegawai

yang membentuk bagian dalam pemerintahan, gang anak-remaja

nakal, atau staf rumah sakit.

Kendati sudah diperluas dari pengertian asli konseling, definisi

di atas sedikit banyak masih mencerminkan pengertian tradisional

atau sempit tentang konsultasi. Pengertian yang lebih luas dan

mutakhir tentang konsultasi bisa ditemukan dalam tulisan

(36)

lingkungan praktisi layanan psikologis makin populer gerakan

mengikuti apa yang disebut psychoeducator model. Bentuk layanan

konsultasi yang diutamakan bergeser dari model konseling

perorangan dalam ruang konsultasi yang bercorak remedial ke arah

psychological education yang lebih bercorak developmental dan

preventif, ditujukan kepada klien sehat-normal dalam

kelompok-kelompok yang relatif besar, dan diselenggarakan dalam setting

non-psikologis seperti ruang kelas di sekolah atau ruang pertemuan

di perusahaan. Dengan kata lain, psychological education atau

psychoeducation merupakan sejenis model komprehensif mencakup

konseling, training atau pelatihan, dan konsultasi sekaligus dengan

tekanan pada sifat perseveratif-developmental untuk membantu

klien baik perorangan maupun kelompok-lembaga agar mampu

memperkembangkan diri secara optimal.

B. Aneka Peran Konsultan

Berdasarkan model psikoedukator, maka peran seorang

psikolog-konselor-konsultan pun mengalami perluasan. Dia tidak

lagi cukup hanya berperan tunggal entah sebagai konselor atau

psikoterapis, melainkan sebagaimana dikemukakan oleh Kurpius

dan Brubaker (1976, dalam Hershenson, Power, & Waldo, 1996)

serta Kurpius dan Robinson (1978, dalam George & Cristiani, 1981),

harus mampu menjalankan beberapa peran baik masing-masing

peran secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, sebagai

berikut:

1. Provision atau ahli (expert), yaitu sebagai seorang ahli yang

mampu memberikan layanan bantuan psikologis langsung

kepada konsulti dalam rangka mengatasi persoalan kehidupan

tertentu. Dalam bahasa lugas, konsulti membeli keahlian

(37)

yang dialami konsulti atau klien dan menyodorkan solusi

tertentu.

2. Prescription, yaitu membantu memberikan pendapat atau

nasihat kepada konsulti tentang persoalan yang dialami oleh

pihak ketiga yang berada di bawah tanggung-jawab konsulti,

serta memberikan saran (preskripsi) atau resep tentang

langkah solusi yang sebaiknya diambil. Contoh, konsultan

yang dimintai bantuan oleh kepala sekolah sebuah SMA

mengatasi problem berupa motivasi dan prestasi belajar yang

terus merosot dari tahun ke tahun di kalangan para siswanya.

3. Mediation, yaitu membantu bertindak sebagai koordinator

mengkoordinasikan layanan dari berbagai pihak yang

bersama-sama dimintai bantuan seseorang atau lembaga mengatasi

suatu persoalan tertentu, atau sebagai negosiator membantu

klien yang sedang terlibat konflik dengan pihak ketiga

merundingkan solusi damai. Peran yang pertama lazimnya

terlaksana dalam dua macam kemungkinan aktivitas sebagai

berikut: (a) mengkoordinasikan berbagai jenis layanan yang

sudah tersedia atau berjalan, dan/atau (b) menciptakan rencana

layanan baru yang merupakan sintesis dari sejumlah solusi

alternatif yang disepakati bersama. Peran kedua terlaksana

lewat serangkaian aktivitas dalam rangka mediasi konflik.

4. Collaboration, yaitu berperan menjadi fasilitator dalam proses

pemecahan masalah. Sebagai fasilitator tugas pokoknya adalah

secara kolaboratif bekerja sama dengan konsulti mendiagnosis

problem baik yang dialami oleh konsulti sendiri maupun yang

dialami konsulti dalam hubungannya dengan pihak ketiga yang

menjadi tanggung jawab konsulti, serta menemukan solusinya.

Kembali kepada contoh kepala sekolah sebuah SMA di atas,

di sini konsultan bersama-sama kepala sekolah sendiri atau

(38)

langkah sejak mendiagnosis kemungkinan penyebab

merosot-nya motivasi belajar para siswa sampai merumuskan solusi

untuk mengatasinya.

5. Trainer/Educator, yaitu mengajarkan serangkaian keterampilan

tertentu baik langsung kepada konsulti maupun kepada pihak

lain yang menjadi tanggung jawab konsulti. Pada contoh kasus

kepala sekolah di atas, bisa jadi salah satu solusi yang dipilih

adalah meminta bantuan konsultan memberikan pelatihan

peningkatan motivasi belajar untuk seluruh kelas dalam

sebuah aktivitas akhir pekan di luar sekolah.

Sejalan dengan makin besarnya kebutuhan untuk memberikan

pendampingan yang bersifat developmental-preventif kepada

kelompok-kelompok subjek normal-sehat di luar ruang konsultasi

dalam rangka psychological education, pembahasan kita selanjutnya

akan lebih difokuskan pada peran konsultan sebagai trainer/

educator.

C. Aneka Keterampilan Konsultan

Sebagai trainer/edukator yang pada dasarnya adalah

komunikator seorang konsultan dituntut memiliki aneka keterampilan

dasar membangun komunikasi interpersonal. Menurut Dinkmeyer

dan Carlson (dalam George & Cristiani, 1981), gugus keterampilan

ini mencakup:

1. Sikap empatik dan kemampuan menyelami pikiran dan

perasaan orang lain.

2. Kemampuan menjalin relasi dengan klien anak, remaja,

maupun dewasa secara terarah. Maksudnya, terarah pada

tujuan menumbuhkan sikap atau keterampilan tertentu dalam

(39)

3. Peka terhadap kebutuhan orang lain.

4. Memahami dinamika psikologis, motivasi, dan arah tingkah laku.

5. Memahami dinamika kelompok dan manfaatnya dalam dunia

kegiatan pelatihan-pendidikan.

6. Kemampuan menjalin relasi yang dipenuhi suasana saling

percaya dan saling menghormati.

7. Bebas dari gangguan perasaan cemas atau problem pribadi lain.

8. Bersifat kreatif, spontan, dan imajinatif.

9. Memiliki kepemimpinan yang bersifat inspiratif. Artinya,

mampu menumbuhkan motivasi dan gairah untuk belajar dan

berkembang.

Selain gugus kemampuan dasar di bidang menjalin relasi

interpersonal di atas, sebagai seorang psychological trainer/educator

seorang konsultan juga perlu memiliki gugus keterampilan lain

sebagai berikut (Nelson-Jones, 1982):

1. Role-decision making. Menurut pandangan tradisional tentang

konseling, tugas dan peran seorang konsultan yang lazim

disebut konselor tercurah pada upaya memberikan bantuan

psikologis secara individual dan yang bersifat remedial lewat

ruang konsultasi, sehingga hanya menjangkau sebagian kecil

warga masyarakat. Menurut pandangan baru yang lebih

menekankan dimensi psychological education dalam layanan

konsultasi, tugas dan peran seorang konsultan akan lebih

tercurah pada upaya melayani bagian yang lebih besar dari

warga masyarakat dengan cara membantu kelompok subjek

normal baik anak, remaja, maupun dewasa mengembangkan

life skills secara memadai serta membantu mempersiapkan

tenaga-tenaga paraprofesional termasuk tenaga konselor

sebaya. Konsultan yang baik harus pandai membagi waktu dan

(40)

itu secara seimbang, tidak tercurah pada pemberian layanan

konseling individual semata.

2. Menjadi effective trainer. Seorang konsultan juga dituntut

memiliki kemampuan menjadi pelatih atau pendidik yang

efektif bagi klien yang membutuhkan bantuan mengembangkan

aneka life skills tertentu, atau bagi paraprofesional di bidang

layanan psikologis yang perlu dibantu mengembangkan aneka

keterampilan menolong (helping skills). Untuk itu seorang

konsultan perlu menguasai seluk-beluk pengembangan program

pelatihan atau pendidikan (training programs). Kemampuan ini

lazimnya mencakup tiga bidang: (a) mendesain atau menyusun

program, meliputi antara lain: merumuskan aneka tujuan

yang realistik serta mengembangkan aneka strategi untuk

mencapai tujuan tersebut, (b) melaksanakan program, dan

(c) mengevaluasi program.

3. Keterampilan memberikan konsultasi, meliputi antara lain:

(a) kemampuan bekerja sama dengan perorangan atau

kelompok dalam sebuah komunitas atau institusi untuk

membantu merumuskan masalah dan menemukan solusi, (b)

mengembangkan aneka jenis program layanan bantuan

psikologis baik yang bersifat remedial, preventif, maupun

developmental, dan (c) keterampilan berkomunikasi secara

baik lisan maupun tertulis.

4. Keterampilan di bidang evaluasi program, meliputi dua

kategori kegiatan: (a) memanfaatkan hasil evaluasi program

yang dilakukan oleh pihak lain, dan (b) melakukan sendiri

evaluasi program. Untuk mendukung kedua kategori

ke-mampuan itu seorang konsultan perlu menguasai basic

research skills meliputi kemampuan menyusun rencana

penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data baik secara

kuantitatif maupun kualitatif, dan kemampuan menyusun

(41)

D. Aneka Tahap dalam Proses Konsultasi

Salah satu model penyelenggaraan konsultasi membagi proses

konsultasi ke dalam sembilan langkah atau tahap (Kurpius, 1978,

dalam George & Cristiani, 1981; Dougherty, 1990, dalam

Hershenson, Power, & Waldo, 1996):

1. Persiapan atau Preentry. Sebelum mulai melibatkan diri

dalam relasi konsultasi dengan klien, seorang konsultan perlu

mempersiapkan diri. Khususnya, dia perlu merefleksikan

berbagai keyakinan, nilai, kebutuhan, asumsi, praktik atau

kebiasaan, dan keterampilan pribadinya: apakah semua itu

memadai dan/atau menunjang dalam membantu klien

memecahkan masalah, adakah kemungkinan bias pribadi yang

perlu diwaspadai, dan sebagainya.

2. Entry. Sesudah merasa siap, konsultan bisa segera masuk ke

dalam relasi konsultasi dengan klien. Langkah-langkah yang

segera perlu dikerjakan pada tahap ini adalah mendengarkan

masalah yang dikemukakan oleh klien serta merumuskan

“aturan main” yang harus disepakati bersama klien. Jika perlu

berbagai kesepakatan itu bisa dituangkan dalam sebuah

kontrak perjanjian tertulis.

3. Pengumpulan informasi. Konsultan mengumpulkan informasi

tambahan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas

dan mendalam tentang masalah yang dikemukakan oleh klien

atau konsulti. Informasi ini harus objektif. Untuk itu sedapat

mungkin informasi itu perlu digali dari sejumlah sumber yang

dipandang mewakili sudut pandang yang berlainan dan

sebaiknya menggunakan lebih dari satu metode pengumpulan

informasi pula. Informasi tersebut perlu dikumpulkan sampai

kurang lebih exhaustedatau tuntas, dalam arti penambahan

(42)

tidak lagi menghasilkan tambahan informasi secara signifikan

atau substansial. Beberapa jenis metode pengumpulan

informasi yang lazim digunakan meliputi antara lain

pasang-telinga alias mendengarkan, pengamatan, kuesioner,

pemeriksaan dokumen seperti notulen rapat, wawancara,

pertemuan kelompok, dan sebagainya.

4. Perumusan masalah. Semua informasi yang berhasil

di-kumpulkan kini dievaluasi untuk membantu mempertegas

atau mempertajam masalah yang dikemukakan oleh klien atau

konsulti. Perumusan masalah ini selanjutnya perlu

diterjemah-kan ke dalam perumusan tujuan umum (goal statements)

secara tertulis yang harus disepakati bersama oleh baik

konsultan maupun konsulti.

5. Merumuskan dan memilih solusi alternatif. Berdasarkan

analisis dan sintesis dari seluruh informasi yang berhasil

dikumpulkan, konsultan bersama konsulti melakukan problem

solving yaitu berusaha merumuskan berbagai alternatif solusi

beserta aneka konsekuensi termasuk kelebihan dan kekurangan

masing-masing. Proses pemecahan masalah ini bisa dilakukan

lewat proses brainstorming alias curah pendapat dan analisis

SWOT (Strengths alias kekuatan, Weaknesses alias kelemahan,

Opportunities alias peluang, dan Threats alias ancamannya)

terhadap masing-masing alternatif solusi agar bisa dipilih salah

satu alternatif yang dipandang paling efektif di satu sisi dan

feasible atau layak dilaksanakan di sisi lain. Pada Lampiran

J disajikan sebuah teknik pemecahan masalah yang didasarkan

pada proses diskresio Ignasian.

6. Merumuskan aneka tujuan khusus. Solusi yang dipilih

selanjutnya perlu diterjemahkan ke dalam sebuah rencana

tindakan atau kegiatan yang meliputi antara lain rumusan

(43)

langkah-langkah yang harus ditempuh, kerangka waktu atau jadwal

pelaksanaan aneka langkah-kegiatan, sumber daya yang

diperlukan, serta teknik dan sarana untuk mengevaluasi

pencapaian aneka tujuan.

7. Implementasi. Semua strategi dan langkah-langkah dalam

rangka pemecahan masalah itu kini perlu dilaksanakan sesuai

jadwal yang telah ditetapkan.

8. Evaluasi. Kegiatan ini mencakup dua hal. Pertama, evaluasi

formatif atau monitoring atas berbagai tahapan kegiatan. Perlu

tidaknya dilakukan perbaikan-penyesuaian dan penambahan

langkah-langkah baru bisa diketahui berdasarkan hasil

monitoring ini. Jika semua berjalan efektif seperti

direncana-kan, akhirnya perlu dilakukan evaluasi sumatif atau final

dalam rangka menilai tingkat keberhasilan pencapaian hasil

akhir serta aneka dampak yang diharapkan dari seluruh

kegiatan yang direncanakan.

9. Terminasi atau mengakhiri proses konsultasi. Pada tahap ini

konsultan dan klien duduk bersama untuk memutuskan

hal-hal sebagai berikut: (a) apakah tujuan-tujuan yang

dicanang-kan benar-benar tercapai, atau sejauh mana tercapai; dan (b)

berdasarkan hasil penilaian bersama itu, diputuskan langkah

selanjutnya yang perlu diambil: apakah keseluruhan proses

konsultasi perlu dirancang ulang dan dilaksanakan kembali

atau bisa diakhiri.

Selanjutnya, pembicaraan secara khusus akan kita fokuskan

pada salah satu peran konsultan, yaitu peran sebagai trainer/

educator dengan tugas utama memberikan jasa layanan psychological

education atau pendidikan psikologis atau psikoedukasi kepada

kelompok-kelompok klien atau subjek sehat-normal pada berbagai

setting, khususnya pendidikan sekolah, industri atau organisasi,

(44)
(45)

BAB III

BAB III

P S I K O E D U K A S I

P

ENDIDIKAN psikologis (dalam bahasa Inggris, psychological

education atau psycho-education) atau psikoedukasi sering juga

disebut personal and social education atau pendidikan pribadi dan

sosial merupakan gerakan yang relatif baru namun penting di

lingkungan psikologi konseling. Hakikat gerakan ini adalah “an

expansion of the role of counsellor beyond their traditional individual

and group counselling activities” (Nelson-Jones, 1982, h. 475). Atau,

perluasan peran konselor melampaui aktivitas pemberian layanan

konseling individual dan kelompok secara tradisional.

A. Alasan Berkembangnya Psikoedukasi

Ada beberapa alasan di balik menguatnya minat kalangan

psikolog dan konselor untuk mengembangkan bidang psikoedukasi

atau pendidikan pribadi-sosial ini (Nelson-Jones, 1982). Pertama,

bahkan di negara-negara maju tidak tersedia dan tidak akan pernah

tersedia tenaga psikolog-konselor termasuk paraprofesional dalam

jumlah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan

layanan psikologis, apalagi secara indidivual. Mengutip pendapat

seorang pengamat ahli lain, Nelson-Jones menyatakan bahwa

(46)

sendiri prinsip-prinsip psikologis dalam menghadapi aneka

tantangan hidup sehari-hari.

Kedua, di masa lalu terlalu banyak waktu dan tenaga para

psikolog-konselor tercurah melulu untuk memberikan layanan

remedial bagi sekelompok kecil orang khususnya lewat pemberian

layanan konseling individual dalam ruang praktik konsultasi. Di

banyak negara kelompok kecil klien yang beruntung bisa menikmati

layanan psikologis individual itu lazimnya hanyalah mereka yang

berasal dari lapisan masyarakat menengah ke atas dan yang tinggal

di kota-kota besar pula. Ada tuntutan yang semakin kuat untuk

mendemokratisasikan dan memeratakan pemberian layanan

psikologis bagi kelompok masyarakat yang semakin luas.

Ketiga, tumbuhnya kesadaran di kalangan psikolog-konselor

tentang semakin perlunya mengutamakan pemberian layanan

preventif atau profilaktik atau pencegahan dan developmental bagi

semakin banyak kelompok warga masyarakat di berbagai setting

kehidupan. Inilah yang oleh seorang pengamat ahli dan di

lingkungan pendidikan sekolah disebut prinsip preventif, artinya

“work devoted to the personal and social education of all pupils in

such a way that it anticipates their developmental needs” (Daws,

dalam Nelson-Jones, 1982, h. 475). Atau, layanan yang ditujukan

bagi pendidikan pribadi dan sosial seluruh siswa dengan cara yang

mengantisipasi dalam arti membuat mereka siap menghadapi aneka

kebutuhan baru dalam perkembangan mereka.

Keempat, akuntabilitas. Secara garis besar prinsip akuntabilitas

menyatakan bahwa makin besar hasil atau manfaat yang bisa

dipetik dari biaya tertentu yang telah dikeluarkan untuk melakukan

aktivitas tertentu, maka semakin akuntabel-lah aktivitas tersebut.

Menyiapkan tenaga psikolog-konselor tentulah merupakan

aktivitas dengan biaya dari masyarakat yang sangat besar. Maka

jika psikolog-konselor yang dihasilkan kemudian hanya duduk

(47)

konseling remedial, upaya itu jelas kalah akuntabel dibandingkan

dengan jika psikolog-konselor itu secara proaktif melakukan

berbagai aktivitas layanan lapangan berupa pendidikan dan

konsultasi psikologis yang bertujuan preventif-developmental bagi

kelompok-kelompok klien dari berbagai lapisan masyarakat serta

di berbagai setting kehidupan.

B. Makna dan Cakupan Psikoedukasi

Dalam kenyataannya psikoedukasi sebagai gerakan pemberian

layanan publik di bidang konsultasi psikologi tidak bermakna

tunggal. Menurut Nelson-Jones (1982), ada setidaknya enam

pengertian tentang psikoedukasi, masing-masing

Gambar

Gambar 1. Siklus pembelajaran eksperiensial
Gambar 2. Penggolongan metode pembelajaran berdasarkan tarafketerlibatan pribadi pembelajar dalam proses pembelajaran
Tabel 1. Program Besar Psikoedukasi Bidang Pribadi-Sosial di SD
Tabel 2. Program Besar Psikoedukasi Bidang Belajar di SMP
+4

Referensi

Dokumen terkait

pihak atau bagian yang bersangkutan agar pekerjaan yang datang dari klien dapat. dengan cepat dikerjakan oleh bagian yang bersangkutan yaitu baik

a) Apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa atau tidak. b) Apakah ya, bagaimana hasil pengobatan sebelumnya. c) Klien pernah melakukan, mengalami atau menyaksikan

Pendapat lain yang lebih rinci mengenai klien yakni menurut Latipun mendefinisikan klien sebagai seseorang atau sekelompok orang yang sedang mengalami atau menghadapi masalah

Seorang konselor tidak perlu memaksakan dirinya memberikan konseling. Saat ia mengalami xeyh klien ke konselor lain atau bersifat terbuka dengan menceritakan

Integrasi Kreatif Semesta dalam usahanya untuk memberikan solusi akan masalah atau kebutuhan klien yang dihadapi klien yaitu seperti desain logo, promotion tools

Pasal 21 Larangan menampilkan muatan tentang pekerja seks komersial & orang dengan orientasi/identitas seksual tertentu disertai dengan stigma atau

sedang dihadapi. Suatu masalah dikatakan sebagai problem solving apabila masalah itu pemecahannya berhubungan dengan masalah-masalah lain, saling mengait. Masalah itu

Berbeda dengan portal di dalam tipe bisnis B-to-C, portal B-to-B sering kali berasosiasi dengan sebuah atau lebih domain industri tertentu, seperti: • Multiple Industries -