soft-skills life-skills character building
ISBN 978–979–1088–25–1
Dr. A. Supratiknya,
Department of Psychology, College of Social Sciences and Philosophy, University of the Philippines, Ph.D.
A. Supratiknya
Penerbit
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
© USD 2008
PENERBIT UNIVERSITAS SANATA DHARMA Tromol Pos 29 Yogyakarta 55002
Telp. (0274) 513301, 515253 Fax (0274) 562383
Jl. Affandi, Gejayan Mrican Yogyakarta 55281 e-mail: [email protected]
A. Supratiknya
Cetakan Pertama
vii, 209 hlm.; 160 x 220 mm. Bibliografi: hlm.209
ISBN : 978–979–1088–25–1
EAN : 9-789791-088251
Editor: S.E. Peni Adji
Desain Cover: Pius Sigit
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
S
ALAH satu kompetensi psikolog sebagai professional helper adalah memberikan layanan konsultasi dan pendidikan. Kompetensi ini sesungguhnya mencakup dua subkompetensi yang berbeda, yaitumemberikan konsultasi dan menyelenggarakan psikoedukasi.
Dalam kurikulum pendidikan prajabatan calon psikolog, khususnya sejak jenjang program pendidikan Sarjana Psikologi, kedua
subkompetensi tersebut sebaiknya dipelajari dalam dua mata
kuliah yang berbeda.
Dalam dua tahun terakhir penulis mengampu mata kuliah
Psikologi Konsultasi pada program studi S-1 Psikologi, Fakultas
Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Mata kuliah ini dimaksudkan untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi
dasar di bidang pemberian layanan konsultasi dan psikoedukasi.
Mengingat ranah isi kompetensi tersebut luas sebagaimana disinggung di atas, sedangkan sebagai mata kuliah hanya diberi
bobot wajar alias kecil, yaitu 2 SKS dan 2 JP, maka penulis merasa
perlu membuat pilihan membatasi isinya antara konsultasi atau psikoedukasi.
Pilihan jatuh pada psikoedukasi karena dua alasan. Pertama,
sudah tercakup dalam kurikulum S-1 Program Studi Psikologi.
Kedua, dari hasil pengamatan di dalam maupun di luar kelas,
penulis menjadi yakin bahwa mahasiswa perlu dibantu menguasai
aneka prinsip dan strategi dalam merencanakan dan
menyelenggara-kan program psikoedukasi di berbagai lingkungan kehidupan,
khususnya lingkungan pendidikan formal, industri atau organisasi,
dan komunitas atau masyarakat.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada para mantan
mahasiswa yang pernah menggeluti kompetensi ini bersama penulis
dalam mata kuliah Psikologi Konsultasi dan kepada Penerbitan
Universitas Sanata Dharma yang bersedia menerbitkan catatan
kuliah ini menjadi buku. Semoga buku ini memudahkan para generasi
mahasiswa baik di lingkungan Universitas Sanata Dharma maupun
di lingkungan Perguruan Tinggi lainnya maupun pihak-pihak lain
yang membutuhkannya guna mendalami dan mengembangkan
kemampuan merancang serta melaksanakan program psikoedukasi,
sebagai salah satu bidang layanan psikologis yang semakin penting
di masa kini dan mendatang.
Kampus Paingan, 2008
SEKAPUR SIRIH... iii
DAFTAR ISI... v
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Peran Psikolog ... 1
B. Sifat Bantuan yang Diberikan ... 4
C. Jenis Klien yang Dibantu ... 5
D. Aneka Kompetensi Psikolog ... 7
BAB II DARI KONSELING KE KONSULTASI... 23
A. Konseling, Psikoterapi, dan Konsultasi ... 23
B. Aneka Peran Konsultan ... 28
C. Aneka Keterampilan Konsultan ... 30
D. Aneka Tahap Dalam Proses Konsultasi ... 33
BAB III PSIKOEDUKASI... 37
A. Alasan Berkembangnya Psikoedukasi ... 37
B. Makna dan Cakupan Psikoedukasi ... 39
C. Tiga Wilayah Layanan Psikoedukasi ... 43
BAB IV MODEL PENGEMBANGAN PROGRAM PSIKOEDUKASI... 59
A. Model Skill-Deficit atau Life-Skills ... 59
BAB V MODEL PEMBELAJARAN LIFE-SKILLS... 75
A. Asumsi Dasar ... 75
B. Model Pembelajaran Eksperiensial ... 76
C. Aktivitas Inti dalam Pembelajaran Eksperiensial ... 80
BAB VI BEBERAPA METODE KHAS PEMBELAJARAN EKSPERIENSIAL... 85
A. Metode Latihan Gugus Tugas ... 86
B. Metode Diskusi Kasus ... 90
C. Simulasi dan Games ... 95
D. Latihan Bermain Peran (Role-Play) ... 99
E. Diskusi Kelompok ... 106
F. Latihan Individual ... 110
G. Presentasi/Lekturet ... 114
H. Modelling Perilaku ... 117
I. Pedoman Menyusun Petunjuk Latihan ... 122
BAB VII MENYUSUN PROGRAM PSIKOEDUKASI... 125
A. Melakukan Asesmen Kebutuhan ... 125
B. Menyusun Program Besar atau Grand Design Atau Rencana Induk ... 128
BAB VIII MENYUSUN MODUL... 157
A. Beberapa Prinsip dalam Menyusun Program Kecil atau Modul ... 158
B. Contoh Program Kecil atau Modul ... 163
C. Beberapa Saran Praktis ... 171
BAB IX EVALUASI PROGRAM PSIKOEDUKASI... 179
DAFTAR PUSTAKA... 185
Lampiran A ETIKA WATAK DAN ETIKA TOPENG ... 190
Lampiran B CONTOH KAR TU BERGAMBAR TOKOH ... 191
Lampiran C LEMBAR KERJA KELOMPOK ... 194
Lampiran D LEMBAR KERJA PRIBADI ... 195
Lampiran F NASKAH NYANYIAN “WALK WITH ME,
OH MY GOD” ... 197 Lampiran G NASKAH TERJEMAHAN NYANYIAN
“DAMPINGILAH AKU, YA TUHAN” ... 198 Lampiran H PERNYATAAN TENTANG HASIL BELAJARKU 199 Lampiran I LEMBAR EVALUASI PROSES ... 200
Lampiran J PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS
IMAN ((PKBI) ... 202
BAB I
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Peran Psikolog
P
SIKOLOGI merupakan helping profession atau profesi penolong. Istilah ini konon pertama kali dilontarkan oleh McCully pada tahun1966 (George & Cristiani, 1981). Tentang arti istilah helping alias
menolong, Brammer dan Shostrom (1982) memberikan dua macam
pengertian. Pertama, menolong berarti memberikan kondisi bagi
orang lain agar bisa memenuhi kebutuhan mereka akan rasa aman,
dicintai dan dihormati, memiliki harga-diri, mampu mengambil
tindakan tertentu, dan berkembang mengaktualisasikan diri.
Kedua, dalam arti lebih luas menolong adalah memberikan aneka
sumber daya dan keterampilan agar orang yang ditolong mampu
menolong diri mereka sendiri (h. 3).
Maka, seperti dikemukakan oleh McCully dan dikutip oleh
George dan Cristiani (1981) helping profession secara luas bisa
diartikan sebagai profesi yang “based upon specialized knowledge,
apply an intellectual technique to the existential affairs of others
toward the end of enabling them to cope more effectively with the
dilemma and paradoxes that characterize the human condition”
(h. 18). Artinya, profesi yang dilandasi pengetahuan khusus
kehidupan orang lain dengan tujuan membuat mereka mampu
mengatasi secara lebih efektif aneka dilema dan paradoks yang
menjadi ciri kondisi kehidupan manusia.
Atau, seperti dinyatakan oleh sejumlah pakar lain sekitar
empat dasa warsa kemudian, sebagai helping profession psikologi
menjalankan peran utama “to develop and apply psychological
principles, knowledge, models and methods in an ethical and
scientific way in order to promote the development, well-being and
effectiveness of individuals, groups, organizations and society” (Lunt
et al., 2001; h. 5). Artinya, psikologi bertugas mengembangkan dan
menerapkan aneka prinsip, pengetahuan, model dan metode
psikologi secara etis dan ilmiah demi membantu meningkatkan
pertumbuhan, kesejahteraan, dan keefektifan individu, kelompok,
organisasi, dan masyarakat.
Intinya, jasa utama psikologi sebagai profesi penolong adalah
membantu orang atau lembaga agar dapat mengatasi aneka problema
kehidupan secara lebih efektif sehingga mampu menjalankan
fungsi-fungsi pokok dan memperkembangkan diri mereka secara
optimal.
Manusia mengalami aneka bentuk hambatan dalam rangka
tumbuh memekarkan diri lewat pelaksanaan berbagai fungsi,
peran, maupun tugas kehidupan baik secara perorangan maupun
dalam kebersamaan dengan orang lain sebagai suatu pranata,
antara lain karena tidak memiliki pengetahuan dan/atau
keterampilan yang diperlukan untuk berkembang atau sebaliknya,
terlanjur memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan yang salah.
Timbulnya kedua kondisi yang tidak kondusif bagi
per-kembangan pribadi maupun bersama secara optimal itu sendiri bisa
disebabkan oleh sejumlah hal. Pertama, karena manusia gagal
mempelajari pengetahuan dan/atau keterampilan yang diperlukan.
Seorang anak yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pegunungan
tempat tinggal sepanjang hidupnya, boleh jadi tidak akan pernah
belajar berenang karena tidak terdapat kolam, danau, atau sekadar
genangan air yang cukup luas dan dalam di daerahnya. Sebagai
manusia dia gagal mengembangkan salah satu aspek potensinya
untuk hidup bersahabat dan menyatu dengan lingkungan berair.
Kedua, karena manusia tanpa sadar mempelajari pengetahuan
dan/atau keterampilan yang berakibat mengganggu, menimbulkan
sandungan, atau bahkan destruktif bagi kehidupan pribadi maupun
bagi kehidupan bersama. Seorang pria direktur perusahaan yang
sukses sejak kecil membatinkan pengetahuan atau kesadaran
bahwa penderitaan adalah hukuman dari Tuhan atas sesuatu
perbuatan dosa. Ketika keluarganya didera penderitaan beruntun,
berupa salah seorang putranya tewas dalam kecelakaan pesawat
terbang, isterinya menderita depresi berat setelah mengalami
dugaan malpraktik dokter saat menjalani bedah kecantikan di
bagian perut, dan dia sendiri akhirnya terkena serangan jantung
ringan, daya coping atau tekad dan usahanya untuk mengatasi
problem yang sedang dihadapinya sangat lemah karena merasa
bahwa semua itu merupakan harga pantas yang harus dia bayar
atas dosa tertentu yang belum diketahuinya. Keluar dari rumah
sakit perangainya berubah total, dari seorang eksekutif yang penuh
inisiatif, periang, dan pandai menghidupkan suasana kerja serta
menggerakkan kolega dan bawahan, menjadi pribadi pemurung,
mudah marah, dan uring-uringan.
Menurut sejarahnya, psikologi lahir atau setidaknya
berkembang pesat berkat usahanya menolong orang menjalankan
berbagai tugas hidup, menyesuaikan diri pada tuntutan kehidupan
baru, dan mengatasi aneka problem kehidupan secara efektif, baik
sebagai pribadi maupun secara kolektif, dan dengan demikian
diharapkan akan tercipta perkembangan dan kehidupan pribadi
maupun bersama yang efektif dan memuaskan. Dengan kata lain,
helper, yaitu seorang penolong profesional yang bertugas membantu
orang lain mengembangkan aneka kemampuan psikologis yang
diperlukan untuk menjalani kehidupan pribadi maupun bersama
secara optimal.
B. Sifat Bantuan yang Diberikan
Tergantung dari situasi yang sedang dihadapi oleh orang atau
lembaga yang hendak ditolong, bantuan yang diberikan oleh
seorang psikolog bisa memiliki salah satu atau kombinasi dari
beberapa sifat sebagaimana diuraikan di bawah ini (Hershenson,
Power, dan Waldo, 1996). Sifat bantuan menunjuk pada tujuan
pendidikan psikologis diberikan kepada orang atau sebuah lembaga
tertentu (Winkel, 1991):
1. Fasilitatif, yaitu bertujuan membantu berlangsungnya
pertumbuhan pribadi yang sehat tanpa hambatan-hambatan
yang berarti. Istilah lain yang seringkali juga digunakan adalah
perseveratif atau developmental. Intinya membantu
mem-pertahankan bahkan meningkatkan perkembangan pribadi
yang sudah berlangsung relatif tanpa gangguan.
2. Preventif, yaitu bertujuan mencegah timbulnya kesulitan yang
bisa menghalangi pelaksanaan aneka fungsi dan pertumbuhan
pribadi seseorang atau sebuah lembaga.
3. Remedial, yaitu bertujuan mengubah pola perkembangan
maladaptif yang terlanjur terbentuk kembali ke arah yang
sehat. Istilah lain yang seringkali juga digunakan adalah
rekonstruktif atau kuratif, yang sama artinya.
4. Rehabilitatif, yaitu bertujuan membantu orang atau lembaga
menutup kekurangan di bidang kemampuan mengatasi
problema kehidupan tertentu dengan cara meningkatkan
5. Enhancing atau meningkatkan, yaitu bertujuan memperbaiki
kualitas kehidupan orang atau lembaga melampaui taraf
kualitas yang sudah berhasil dicapai.
C. Jenis Klien yang Dibantu
Yang dimaksud klien adalah orang atau lembaga yang menerima
bantuan profesional dari seorang psikolog. Istilah ini seringkali
dipakai sebagai istilah generik untuk mengacu semua orang atau
lembaga yang meminta bantuan profesional kepada pemberi jasa
bantuan di bidang profesi tertentu. Di lingkungan profesi psikologi
istilah itu bisa diberi makna khusus, yaitu golongan penerima
bantuan yang dari segi kesehatan mental termasuk sehat atau
normal, namun sedang menghadapi situasi tertentu baik berupa
problem atau tantangan hidup, dan membutuhkan bantuan seorang
psikolog agar mampu mengatasi problem atau tantangan hidup itu
secara efektif. Dengan kata lain, menggunakan penggolongan sifat
bantuan seperti dikemukakan Hershenson et al., jenis bantuan
yang dibutuhkan oleh klien dalam arti khusus ini lazimnya lebih
bersifat fasilitatif, preventif, rehabilitatif, atau enhancing.
Lawannya, dan khususnya sebagaimana lazim berlaku di
bidang kedokteran, adalah pasien, yaitu golongan penerima bantuan
yang dari segi kesehatan mental termasuk kurang sehat, baik
ringan berupa berbagai jenis neurosis maupun berat berupa aneka
jenis psikosis. Jenis bantuan yang mereka butuhkan lazimnya
bersifat remedial, rekonstruktif, atau kuratif. Dalam konteks
pembahasan tentang Psikologi Konsultasi ini, kelompok pencari
atau penerima bantuan psikologis yang menjadi fokus sasaran
layanan adalah klien alias kelompok orang (termasuk lembaga) yang
dari segi kesehatan mental tergolong sehat atau normal.
Dari segi jumlah atau besarannya, klien juga bisa dibedakan
kelompok. Klien individual terdiri dari pribadi-pribadi perorangan
yang perlu dibantu untuk mengatasi problem atau tantangan hidup.
Contohnya, seorang remaja yang perlu dibantu meningkatkan
pemahaman dirinya, mengenal aneka kelebihan dan kekurangan
pribadinya; seorang karyawan yang perlu dibantu mengambil
keputusan dilematis antara menerima promosi jabatan namun
dengan konsekuensi dimutasi ke daerah lain dengan akibat
lebih lanjut memutus karir isteri yang juga sedang menanjak, atau
tetap pada jabatan sekarang dan menerima ketertinggalan dari
karir isteri.
Pada klien kelompok, yang menghadapi problem atau tantangan
hidup adalah himpunan orang sebagai pranata atau lembaga.
Problem atau tantangan yang dikeluhkan muncul dari hakikat
kelompok itu sebagai pranata atau lembaga. Sudah barang tentu,
akibat negatif berupa stres atau bentuk tekanan psikologis lain
akan dihayati pada taraf masing-masing individu anggota kelompok
juga. Namun sumber dan solusi problem atau tantangannya tidak
bisa tidak dilakukan pada tataran kebersamaan anggota-anggota
tersebut sebagai pranata atau lembaga. Sebagai contoh, problem
komunikasi dalam kehidupan pasangan suami-isteri, merosotnya
kinerja lembaga akibat demoralisasi di antara para pekerjanya.
Semua itu tidak bisa dipecahkan pada tataran masing-masing
pribadi anggota melainkan harus pada tataran kebersamaan
sebagai sebuah pranata.
Klien kelompok tidak boleh dikacaukan dengan kelompok
sebagai pendekatan dalam pemberian bantuan. Banyak jenis
bantuan psikologis, entah berupa pemberian layanan informasi
atau pengembangan aneka keterampilan (soft skills atau life skills)
paling efektif disampaikan lewat pengalaman belajar di dalam
kelompok. Dalam hal ini, klien yang dibantu sesungguhnya tetap
masing-masing orang, problem atau tantangan psikologis yang
diberikan dengan menggunakan kelompok sebagai sarana
pem-belajaran. Alasan lain mengapa pendekatan kelompok semacam ini
lebih efektif diterapkan dibandingkan pendekatan individual ialah
karena jenis problem yang dialami masing-masing orang kurang
lebih sama. Winkel (1991) menyebut pembedaan penyelenggaraan
bantuan psikologis berdasarkan jumlah orang yang dilayani sebagai
pilihan pendekatan semacam ini bentuk pemberian bantuan
psikologis, yaitu individual alias perorangan atau kelompok.
Sebagaimana dinyatakan oleh Winkel (1991), pembedaan bentuk
sebagai cara pendekatan penyelenggaraan bantuan psikologis
khususnya bimbingan, “belum menyatakan apa-apa tentang apa
yang menjadi tujuan dari pelayanan bimbingan dan apa yang
dijadikan materi dalam pelayanan bimbingan” (h. 122) atau
bantuan psikologis lain.
D. Aneka Kompetensi Psikolog
Agar mampu memberikan bantuan psikologis kepada klien
secara efektif, seorang psikolog perlu menguasasi sejumlah
kompetensi tertentu yang membedakannya dari pekerja di bidang
profesi lain pada umumnya maupun dari pekerja di bidang profesi
pemberi bantuan (helping profession) lain pada khususnya, seperti
social work atau pekerja sosial, psikiatri, dan bimbingan rohani
(clergy).
Yang dimaksud dengan kompetensi, dalam hal ini kompetensi
psikolog, adalah “fundamental clusters of integrated knowledge,
skills, and attitudes that are used in practice applications by the
professional psychologists” (Bent, 1991; h. 77). Artinya, himpunan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang bersifat padu dan
fundamental, yang digunakan dalam penerapan praktik oleh para
Kompetensi atau lebih tepat rangkaian kompetensi ini disebut
kompetensi inti sebab dipandang merupakan serangkaian kompetensi
fungsional kunci (key functional competencies) bagi para psikolog
yang diharapkan dapat menjadi inti atau fondasi serta “a flexible
guide for curriculum development” bagi pengembangan aneka
program pendidikan psikologi sebagai suatu profesi.
Salah satu rumusan tentang rangkaian kompetensi inti
psikolog disusun oleh para pakar pendidikan psikologi di Amerika
Serikat yang tergabung dalam National Council of Schools of
Professional Psychology lewat serangkaian konferensi yang dilakukan
antara tahun 1978-1990, khususnya dalam Mission Bay Conference
pada 1987 saat pertama kali berhasil dirumuskan “six identifiable
competency areas” serta pengukuhan dan penyempurnaannya
dalam San Antonio Conference pada tahun 1989-1990 (Bent, 1991;
Weiss, 1991). Secara substansial rumusan tentang kompetensi inti
psikolog oleh para pakar pendidikan profesi psikologi di Amerika
Serikat ini tidak berbeda dari rumusan tentang kompetensi kunci
(key roles) psikolog oleh para sejawat trans-atlantik mereka di Uni
Eropa (Lunt et al., 2001).
Kompetensi inti psikolog yang dimaksud ada enam buah, yaitu
relasi, asesmen, intervensi, penelitian dan evaluasi, konsultasi dan
pendidikan, dan manajemen dan supervisi. Berikut akan disajikan
uraian lebih rinci tentang masing-masing kompetensi.
1. Relasi
Kompetensi relasi adalah kemampuan mengembangkan dan
memelihara relasi atau hubungan kerja yang konstruktif dengan
klien (Polite & Bourg, 1991). Pentingnya kompetensi ini bagi seorang
psikolog tidak perlu diragukan. Sebagian besar bahkan hampir
semua fungsi yang dilakukan seorang psikolog didasarkan pada
kemampuan dasar untuk membangun dan memelihara relasi yang
bahasa lain, seorang psikolog pada dasarnya adalah seorang
komunikator baik dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai
fasilitator-trainer-edukator maupun sebagai konselor-terapis.
Hampir semua problem psikologis yang dialami oleh perorangan,
kelompok, atau lembaga sedikit atau banyak, langsung atau tidak
langsung berakar pada masalah komunikasi atau relasi. Selain itu,
kompetensi relasi juga merupakan fondasi atau prasyarat bagi
semua kompetensi inti psikolog yang lain (Polite & Bourg, 1991).
Kompetensi relasi memiliki setidaknya tiga unsur, yaitu
knowledge, skills, dan attitudes. Unsur knowledge atau pengetahuan
dari kompetensi relasi mencakup sedikitnya tiga hal. Pertama,
pengetahuan tentang data base psikologis yang relevan, meliputi
aneka teori dan hasil penelitian tentang relasi atau komunikasi
antarpribadi serta body of knowledge tentang aneka bidang
psikologi baik yang tradisional seperti psikologi perkembangan,
psikologi kepribadian, psikologi sosial, psikologi abnormal, psikologi
industri, maupun yang baru berkembang seperti psikologi hukum,
psikologi forensik, dan sebagainya. Kedua, pemahaman diri, meliputi
pengetahuan atau kesadaran tentang aneka sifat-kemampuan,
kelebihan-kekuatan, kekurangan-kelemahan, motivasi, dan
sebagainya, yang akan mempengaruhi kemampuan dan cara atau
gaya seseorang dalam membangun komunikasi dengan orang lain.
Ketiga, pengetahuan tentang orang lain berupa pemahaman tentang
aneka konteks tempat klien berasal dan hidup, meliputi baik
mikrosistem seperti kekhususan individual maupun makrosistem
seperti lingkungan budayanya, dan sebagainya.
Unsur skills dari kompetensi relasi mencakup segugusan
keterampilan yang lazim disebut interpersonal skills. Gugusan
keterampilan ini meliputi, namun tidak terbatas pada
kemampuan-kemampuan (a) membangun rapport atau relasi yang hangat-akrab
seperti testing atau konseling, (b) membuat lawan komunikasi
merasa terlibat di dalam relasi yang sedang dibangun, (c) membuat
lawan komunikasi merasa nyaman, (d) mengkomunikasikan empati,
(e) mengkomunikasikan sikap menghargai dan menghormati lawan
komunikasi, dan sebagainya.
Unsur attitudes atau sikap meliputi namun tidak terbatas pada,
(a) kuriositas atau rasa ingin tahu dalam arti dahaga intelektual
yang sehat, (b) fleksibilitas atau kelenturan-keterbukaan,
khusus-nya kelenturan dalam cara berpikir dan keterbukaan terhadap
ide-gagasan baru, (c) skeptikisme atau sikap kritis, dalam arti tidak
mudah percaya dan tidak mudah puas menyangkut hal-hal terkait
pencarian kebenaran, (d) berpikiran terbuka, (e) apresiasi atau
pengakuan-penghargaan terhadap keberagaman individual dan
budaya, (f) kesehatan psikologis, (g) integritas dan
kejujuran-ketulusan, dan (h) kerelaan untuk melayani orang lain.
2. Asesmen
Yang dimaksud asesmen adalah proses yang berkelanjutan,
interaktif dan inklusif, dalam arti melibatkan pihak yang sedang
menjalani asesmen, dalam rangka mengumpulkan informasi
tentang klien dengan tujuan menyusun deskripsi, konseptualisasi,
karakterisasi dan prediksi tentang aspek-aspek tertentu dari
klien yang bersangkutan (McHolland, dalam Gold & De Piano,
1991). Kompetensi asesmen di satu sisi masih dipandang unik atau
khas dan merupakan salah satu fondasi penting bagi identitas dan
fungsi seorang psikolog, namun di sisi lain khususnya dalam
beberapa dasa warsa terakhir telah menjadi sasaran kritik dan
ketidak-puasan baik dari dalam maupun luar profesi psikologi
karena cenderung mereduksi fungsi dan peran psikolog sebagai
sekadar tukang tes. Salah satu sumber utama kelemahan dalam
penyelenggaraan asesmen sehingga menimbulkan ketidakpuasan
dimilikinya wawasan yang memadai tentang hakikat dan sejarah
asesmen dalam pelayanan psikologis. Maka, kompetensi asesmen
dipandang mencakup tiga unsur penting, yaitu (a) pemilikan
wawasan yang jernih tentang hakikat dan sejarah asesmen, (b)
pemilikan pengetahuan yang relevan dan memadai tentang
asesmen, dan (c) pemilikan keterampilan yang memadai dalam
penyelenggaraan asesmen (Gold & De Piano, 1991).
Psikolog harus memiliki wawasan tentang hakikat asesmen
dan sejarahnya, baik seperti berlangsung di tempat kelahirannya
maupun di tempat penerapannya kini. Muncul dan berkembangnya
psychological testing pada paruh pertama abad ke-20 di Eropa dan
Amerika dipandang ikut menandai mekarnya psikologi, khususnya
psikologi klinis, sebagai profesi. Psychological testing and evaluation
sebagai sejenis kompetensi khas psikolog telah berhasil
menempat-kan psikolog pada posisi terhormat kala itu. Namun, di bidang
intervensi atau penanganan gangguan psikologis, psikolog dengan
kompetensi testing dan evaluasinya itu ternyata hanya menempati
peran subordinatif atau sekunder sebagai “psychodiagnostic
assistant” atau asisten psikodiagnostik bagi para psikoterapis yang
lazimnya berlatar belakang pendidikan psikiatri atau kedokteran
jiwa. Akibatnya, konsep asesmen cenderung dipahami sebatas
penyelenggaraan testing terhadap klien perorangan yang dilakukan
pada awal proses intervensi dengan tujuan utama merumuskan
diagnosis. Konsep sempit tentang asesmen ini dikenal sebagai
model “pre-treatment testing” tentang asesmen psikologis, dan kini
mulai ditinggalkan (Gold & De Piano, 1991).
Memasuki dasawarsa 1960-an model sempit tentang asesmen
psikologis di atas mendapatkan kritik tajam dari kalangan dalam
dan luar psikologi. Selain itu, peran psikolog juga mengalami
pergeseran, dari sekadar melakukan testing untuk mendukung
psikoterapi sendiri. Psikolog makin memandang psikoterapi dan
bentuk-bentuk intervensi psikologis lain sebagai aktivitas utama
mereka. Akibatnya, status dan praktik asesmen di kalangan
psikolog sendiri merosot secara tajam.
Namun, menghadapi aneka kritik dan kecenderungan baru itu,
bukannya menjadi surut bidang asesmen justeru melakukan aneka
perubahan sesuai tuntutan masyarakat pengguna, termasuk
meningkatnya permintaan asesmen di aneka konteks lain selain
psikoterapi dan dengan klien yang semakin beragam pula, tidak
terbatas pada klien perorangan. Muncullah model asesmen baru
yang dikenal sebagai “broad-based model”, yaitu model asesmen
dengan pendekatan, sarana-alat, dan sasaran layanan yang
diperluas disertai keterampilan memberikan konsultasi dan
pemilikan wawasan yang luas tentang asesmen sehingga mampu
menanggapi aneka kebutuhan yang terus berkembang di tengah
masyarakat (Gold & De Piano, 1991).
Psikolog harus memiliki pengetahuan tentang aneka konsep
kunci model asesmen baru. Beberapa contoh konsep kunci
terpenting tentang asesmen baru yang dimaksud adalah sebagai
berikut (Gold & De Piano, 1991):
a. Psikolog yang kompeten harus mampu memilih dari aneka
metode asesmen atau evaluasi, mana yang paling cocok dengan
kasus yang sedang dihadapi, bukan sekadar mengandalkan
secara otomatis-dogmatis sejumlah tes baku yang sudah lazim.
b. Subjek evaluasi yang harus dilayani bukan terbatas perorangan
melainkan mencakup pasangan, keluarga, organisasi,
komunitas, atau sistem.
c. Psikolog harus menguasai aneka teknik evaluasi lain selain
evaluasi praintervensi, seperti evaluasi terhadap hasil
d. Tujuan utama asesmen psikologis adalah mendapatkan
pemahaman tentang klien untuk mendasari perencanaan
tindakan praktis tertentu dalam rangka intervensi atau
pemecahan masalah, bukan sekadar menghasilkan klasifikasi
diagnostik. Maka, jauh lebih penting bagi seorang psikolog
untuk mengasah kemampuan menemukan aneka kekuatan
dan kemampuan dalam diri klien yang bisa terus dimekarkan
daripada mendeteksi aneka kekurangan mereka sekadar untuk
keperluan kategorisasi.
e. Psikolog tidak boleh hanya menguasai sejumlah tes baku, itu
pun hanya sebatas pada aneka aspek teknisnya seperti
administrasi, penskoran, dan interpretasinya. Dia harus
memahami landasan konseptual yang lebih fundamental
tentang asesmen agar tidak terjebak menerapkan aneka teknik
asesmen secara naïf atau bahkan keliru, serta agar lebih
terbuka terhadap munculnya berbagai teknik dan prosedur
asesmen yang baru.
Selain penguasaan teknis atas alat-alat asesmen yang
digunakan, seorang psikolog juga harus menguasai aneka
keterampilan pendukung sebagai berikut (Gold & De Piano, 1991):
a. Merumuskan pertanyaan referal, yaitu pertanyaan-pertanyaan
dari pihak ketiga yang mengirim klien, yang diharapkannya
akan terjawab lewat proses asesmen. Maka, psikolog harus
trampil memberikan konsultasi untuk menolong sumber
referal semacam itu merumuskan apa yang ingin diperoleh
atau apa yang hendak diputuskannya berdasarkan hasil
asesmen. Berdasarkan pertanyaan referal yang jelas, psikolog
akan bisa menentukan jenis informasi tentang klien yang perlu
dikumpulkannya, teknik dan instrumen yang harus dia
gunakan, dan aneka persoalan yang perlu dia pecahkan
b. Memilih metode. Menurut model asesmen dengan basis yang
diperluas, selain testing ada banyak metode pengumpulan
informasi lain yang juga memiliki fungsi penting dalam
evaluasi, seperti wawancara, asesmen perilaku, dan aneka
metode khusus untuk mengevaluasi pasangan, keluarga,
organisasi, dan sistem. Dengan kata lain, asesmen harus
bergerak ke arah menjadi semakin eklektik dalam arti
mengandalkan kombinasi aneka metode dan teknik demi
mendapatkan informasi paling akurat dan lengkap tentang
klien untuk menjawab pertanyaan referal.
c. Pengumpulan dan pemrosesan informasi. Keterampilan ini
meliputi penguasaan landasan konseptual tentang
masing-masing jenis teknik asesmen, penerapan minimal salah satu
teknik tertentu mewakili masing-masing jenis teknik asesmen,
dan penyusunan ringkasan hasilnya.
d. Merumuskan dan mengintegrasikan hipotesis interpretatif.
Psikolog harus memahami perbedaan antara data mentah
hasil penerapan prosedur evaluasi tertentu dan kesimpulan
interpretatif yang ditarik dari data tersebut. Sebuah himpunan
data baru akan menjadi bermakna sesudah dirumuskan ke
dalam interpretasi yang bersifat hipotetis dengan cara
mengaitkannya dengan teori atau fakta empiris tertentu.
Interpretasi juga akan menjadi semakin akurat bila
dirumuskan berdasarkan gabungan dari semakin banyak data
yang diperoleh dari aneka sumber.
e. Diseminasi hasil. Nilai suatu asesmen pada akhirnya ditentukan
oleh kemampuan psikolog mengkomunikasikan hasil asesmen
itu kepada subjek yang dievaluasi dan/atau sumber referal
dengan bahasa yang sederhana, jelas, lugas, konsisten, dan
yang terpenting, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan
3. Intervensi
Intervensi adalah tindakan yang bertujuan mempromosikan
dalam arti memulihkan, mempertahankan, atau meningkatkan
fungsi positif dan rasa sejahtera klien lewat bentuk-bentuk layanan
yang bersifat preventif, developmental, dan/atau remedial (Bent &
Cox, 1991). Intervensi mencakup bidang yang lebih luas dari
sekadar psikoterapi. Psikoterapi atau konseling individual yang
didasarkan pada apa yang disebut “individualized service planning”
memang tetap bisa menjadi bagian esensial kompetensi intervensi,
namun juga perlu dilengkapi dengan penguasaan aneka pendekatan
intervensi kelompok. Maka, konsep klien perlu diperluas tidak
terbatas pada individu melainkan juga mencakup pasangan,
kelompok, organisasi, dan sebagainya. Karena itu kompetensi
intervensi juga harus mencakup kemampuan menjalin relasi dengan
berbagai pihak, seperti “referral networking” alias membangun
jaringan dengan sumber-sumber referal dan “collegial planning”
alias mengevaluasi dan merencanakan aneka kiat meningkatkan
keefektifan dalam memenuhi kebutuhan klien bersama pihak-pihak
lain yang terkait. Selain itu, menurut pandangan baru tentang
intervensi ini seorang psikolog bukan pertama-tama seorang
psikoterapis, melainkan lebih merupakan seorang “human resources
expert” yang tugas utamanya adalah menolong orang lain mengatasi
aneka problem kehidupan yang mengusik rasa sejahteranya. Untuk
itu metode-metode intervensi yang bersifat preventif-developmental
perlu diutamakan seraya tidak boleh terpaku pada ranah diagnosis
dan penyakit mental yang merupakan wilayah psikoterapi
tradisional (Bent & Cox, 1991).
4. Penelitian dan Evaluasi
Penelitian adalah kegiatan mengumpulkan dan menafsirkan
data untuk memperoleh informasi apa adanya. Sebaliknya, evaluasi
penafsir-an atas data dengpenafsir-an kriteria atau norma tertentu agar dapat
menentukan kualitas data atau hasil penafsiran data itu dalam
sejenis kontinum baik-buruk. Bisa dikatakan, evaluasi merupakan
langkah lebih lanjut dari suatu penelitian. Artinya, evaluasi selalu
melibatkan proses penelitian, sedangkan penelitian tidak selalu
ditindaklanjuti dengan evaluasi.
Kompetensi di bidang penelitian dan evaluasi bagi seorang
psikolog perlu mencakup unsur-unsur sebagai berikut (Trierweiler
& Stricker, 1991):
a. Penguasaan pengetahuan dasar tentang filsafat ilmu,
khusus-nya kesadaran bahwa produksi suatu pengetahuan ilmiah pada
dasarnya merupakan proses sosial dan politik. Merupakan
proses sosial sebab melibatkan kerja sama dengan berbagai
pihak baik langsung maupun tak langsung. Merupakan proses
politik sebab pengetahuan memiliki implikasi kekuasaan bagi
pihak yang memproduksi dan menguasainya.
b. Penguasaan pengetahuan dasar tentang statistik terapan dan
teori pengukuran sebagai sarana utama untuk meneliti aneka
konstruk ilmiah dengan pendekatan populasi.
c. Penguasaan pengetahuan dasar tentang aneka desain
penelitian mulai dari yang paling terkontrol seperti eksperimen
laboratorium sampai yang paling kurang melibatkan kontrol
seperti penelitian lapangan.
d. Penguasaan pengetahuan dasar tentang aneka metode penelitian
kualitatif dengan fokus pada masalah reliabilitas dan validitas
dalam mengumpulkan dan menafsirkan data kualitatif.
e. Penguasaan pengetahuan dasar tentang penerapan pendekatan
penelitian yang khas untuk berbagai sasaran penelitian khas
baik yang berupa sistem maupun individu, seperti penelitian
f. Penguasaan pengetahuan dasar tentang epistemologi
pribadi-nya sendiri, berupa kesadaran tentang aneka bias pribadi,
predileksi atau kecondongan pribadi pada teori tertentu,
keterbukaan terhadap aneka perspektif dalam memandang
persoalan berikut kelebihan dan kekurangan dari
masing-masing pendekatan itu, kesadaran tentang pentingnya memiliki
bukti-bukti empiris yang memadai dalam mendukung suatu
pandangan seraya tetap mempertahankan sikap kritis yang
sehat, kesadaran tentang keterikatan penelitian pada etika,
dan kesadaran tentang pentingnya meminta masukan dan
umpan balik dari kolega tentang setiap penelitian yang sedang
dilakukan sekalipun meneliti sudah menjadi kegiatan rutin.
g. Penguasaan keterampilan membuat laporan penelitian dan/
atau laporan profesional secara mantap.
Secara khusus, seorang psikolog sejati merupakan seorang
“local clinical scientist” alias ilmuwan klinis lokal. Maksudnya,
sebagai ilmuwan dia perlu mengembangkan ciri-sikap sebagai
berikut: (a) menyangkut orientasi pengetahuan dan metode, dia
perlu lebih memilih menjadi seorang generalis daripada spesialis,
(b) dalam melakukan penelitian dia perlu lebih berfokus pada
realitas lokal; di situ data dikumpulkan dari kasus tertentu
sehingga kemungkinannya untuk digeneralisasikan pada kasus lain
akan disikapinya sebagai terbatas, (c) memilih mengembangkan
sikap dasar sebagai peneliti yang aktif, bukannya puas sekadar
karena memiliki keahlian teknis menyangkut aneka metode ilmiah
tertentu (Trierwiler & Stricker, 1991).
5. Konsultasi dan Pendidikan
Problem kehidupan yang dihadapi manusia dan masyarakat
semakin kompleks. Keterkaitan antara berbagai problem yang
dunia yang lebih luas pun semakin diakui kebenarannya. Tugas
psikologi tidak lagi terbatas mengatasi aneka problem individual,
melainkan lebih-lebih mengupayakan pemuliaan kehidupan dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat program-program
yang bersifat preventif. Makna problem pun diperluas bukan hanya
terbatas pada aneka bentuk gangguan fungsi psikis, melainkan juga
mencakup pemanfaatan aneka sumber daya secara kurang optimal
serta aneka bentuk kegagalan mendapatkan kesempatan untuk
berkembang secara penuh. Dengan kata lain, problem
manusia-masyarakat tidak lagi bisa diatasi hanya lewat aneka bentuk
intervensi tradisional pada taraf perorangan, melainkan bahkan
perlu dicegah lewat berbagai usaha konsultasi dan pendidikan yang
ditujukan kepada baik perorangan maupun kelompok.
Pendidikan dalam arti luas mencakup semua bentuk usaha
memberikan fasilitasi secara terarah oleh seorang psikolog kepada
seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan menumbuhkan
aneka pengetahuan, keterampilan atau sikap tertentu dalam diri
orang atau kelompok orang bersangkutan yang menjadi sasaran
pendidikan (Illback, Maher & Kopplin, 1991). Pendidikan selalu
mengandung unsur pemberian pengaruh tertentu, khususnya dari
pendidik kepada peserta didik, dalam rangka mengatasi atau
mencegah terjadinya problem kehidupan tertentu. Pendidikan bisa
diberikan secara tatap muka dan langsung atau secara tidak
langsung dengan menggunakan aneka media komunikasi, seperti
media cetak, media audio-visual, dan sebagainya. Apa pun media
yang digunakan, pendidikan yang baik harus dilaksanakan
mengikuti desain instruksional yang didasarkan pada aneka
kebutuhan peserta didik, dengan materi dan metode pembelajaran
yang sesuai, dan dengan sistem evaluasi pencapaian hasil belajar
yang memadai.
Sebaliknya, konsultasi adalah interaksi kolaboratif yang
klien atau kolega sebagai konsulti dalam rangka membahas suatu
problem atau program tertentu yang sedang dihadapi oleh klien
atau kolega yang bersangkutan (Illback, Maher & Kopplin, 1991).
Konsultasi pada dasarnya merupakan suatu proses intervensi juga,
namun berbeda dari jenis intervensi yang lain seperti psikoterapi
dalam konsultasi sang psikolog sebagai konsultan tidak terlibat
bahkan tidak memiliki kontrol langsung atas proses perubahan
nyata yang berlangsung dalam diri konsulti. Sebagai bentuk
intervensi, konsultasi berfokus pada kebutuhan konsulti berupa
perorangan, pasangan, kelompok, organisasi, program, dan
sebagai-nya. Tugas psikolog sebagai konsultan adalah menolong konsulti
merumuskan problem yang sedang dihadapi dan menemukan
cara-cara solusi lewat proses pemberian pengaruh yang bersifat fasilitatif.
Maka, kompetensi pendidikan dan konsultasi perlu mencakup
unsur-unsur berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan baik
yang bersifat umum seperti kemampuan berkomunikasi maupun
yang bersifat lebih khusus seperti penguasaan aneka pengetahuan
teoretis-empiris yang mendasari proses konsultasi, seperti
dinamika kelompok, kesehatan mental, teori organisasi, serta
penguasaan aneka prinsip dan prosedur pengembangan desain
instruksional.
6. Manajemen dan Supervisi
Di sini yang dimaksud manajemen adalah gugusan aktivitas
yang bertujuan mengarahkan, mengorganisasikan, dan menata
atau mengendalikan aneka layanan yang ditawarkan psikolog
kepada publik pengguna jasa layanan psikologis (Bent, Schindler
& Dobbins, 1991). Dengan kata lain, yang menjadi fokus di sini
adalah penguasaan atas aspek-aspek manajerial dari praktik
psikologi. Kompetensi manajerial ini mencakup minimal empat
a. Self-management atau manajemen-diri sebagai seorang
psikolog profesional yang baik. Psikolog profesional yang baik
akan mampu menjalankan praktik sesuai standar teknis dan
etis yang berlaku, memenuhi berbagai kewajiban, memiliki
kepekaan terhadap kebutuhan orang lain khususnya klien,
serta menjalani kehidupan pribadi yang sehat. Maka,
ke-mampuan manajemen-diri ini perlu mencakup unsur-unsur
(1) kemampuan mengelola perilaku profesional sesuai pedoman
yang berlaku, (2) kemampuan mengelola waktu, (3) memiliki
skala prioritas, khususnya memberikan prioritas yang
tinggi pada hal-hal yang berkaitan dengan profesinya, dan
(4) mengembangkan gaya hidup yang sesuai dengan profesinya.
b. Manajemen kasus, yaitu manajemen klien dengan memberikan
perhatian pada segi-segi praktis, etis, legal, lintas-disiplin dan
lintas-lembaga yang senantiasa akan muncul dalam
menangani klien. Unsur-unsur kemampuan ini meliputi
kemampuan mengelola administrasi dan dokumentasi data
kasus, perencanaan program layanan, membangun jaringan
kerjasama dengan pihak atau lembaga lain, dan sebagainya.
c. Manajemen profesi, yaitu penguasaan aneka standar, pedoman
kerja, dan kode etik yang diatur oleh organisasi profesi serta
hal-hal lain yang berkaitan dengan penataan profesi seperti
akreditasi, sertifikasi atau pemberian izin praktik, dan
sebagainya.
d. Sistem penyediaan layanan (service delivery system), yaitu
penguasaan aneka jenis layanan psikologis seperti praktik
pribadi, praktik dalam lembaga, serta hal-hal yang terkait
dengan praktik penyediaan layanan seperti pemahaman
tentang populasi sasaran yang dilayani, penguasaan aneka
cara mengakses populasi sasaran, penyediaan aneka
Supervisi adalah manajemen yang dikombinasikan dengan
pengajaran, diarahkan kepada seseorang atau sekelompok
profesional muda, berlangsung dalam relasi kolaboratif antara
psikolog senior sebagai supervisor dan psikolog yunior sebagai
pihak yang disupervisi, dan ditujukan untuk meningkatkan
kompetensi psikolog yunior yang disupervisi (Bent, Schindler &
Dobbins, 1991). Kompetensi supervisi mencakup baik kemampuan
menjadi subjek sasaran supervisi yang baik maupun kemampuan
melakukan supervisi yang baik terhadap orang lain. Yang pertama
bisa didapat dengan cara menjalani praktikum atau tugas praktik
lain dengan disupervisi dosen. Yang kedua bisa didapat dengan cara
menjadi asisten praktikum dengan tugas pokok mensupervisi
kegiatan praktik sekelompok mahasiswa yunior.
Dalam konteks psikologi konsultasi, pembicaraan selanjutnya
dalam buku ini akan terfokus pada kompetensi konsultasi dan
pendidikan, bahkan secara lebih khusus lagi pada kompetensi
menyelenggarakan bantuan berupa pendidikan psikologis atau
psikoedukasi pada kelompok-kelompok klien atau subjek
BAB II
BAB II
BAB II
DARI KONSELING KE KONSULTASI
U
NTUK memahami arti dan kedudukan psikologi konsultasi (danpendidikan) dalam kancah penyediaan jasa layanan psikologis
dalam masyarakat masa kini, kiranya perlu kita simak sejarah
perkembangan pembedaan antara konseling dan psikoterapi di satu
sisi, dan sejarah perkembangan pembedaan antara konseling dan
konsultasi sendiri di sisi lain.
A. Konseling, Psikoterapi, dan Konsultasi
Secara tradisional, konseling dan psikoterapi dari segi
substansinya memiliki arti yang sama, yaitu usaha menolong klien
khususnya perorangan mengatasi suatu problem psikologis
yang mengganggu rasa kesejahteraan pribadinya. Salah satu
definisi tentang konseling yang dikemukakan oleh Pepinsky dan
Pepinsky (1954, dalam George & Cristiani, 1981) menyatakan
bahwa “counselling is a process involving an interaction between a
counsellor and a client in a private setting, with the purpose of
helping the client change her/his behavior so that a satisfactory
resolution of needs may be obtained” (h. 4). Artinya, konseling
merupakan proses yang melibatkan suatu interaksi antara seorang
klien mengubah tingkah lakunya sehingga mampu mencapai
pemuasan aneka kebutuhan hidupnya secara memuaskan.
Aspek yang ditekankan pada definisi itu adalah interaksi,
perubahan tingkah laku, dan pemuasan kebutuhan. Psikoterapi
lazimnya cenderung dimaknai sebagai reedukasi atau pendidikan
kembali si individu dengan tujuan mengubah persepsi,
meng-integrasikan pemahaman baru ke dalam tingkah lakunya
sehari-hari, dan mengatasi aneka perasaan negatif akut akibat pengalaman
yang menyakitkan di masa lalu (Brammer & Shostrom, 1982).
Bertolak dari kata kunci perubahan tingkah laku yang terdapat
dalam definisi baik tentang konseling maupun psikoterapi,
dapatlah dikatakan bahwa secara substansial kedua bidang
layanan psikologis itu sukar dibedakan. Kekaburan batas antara
konseling dan psikoterapi ini memang diakui oleh kalangan
konselor dan psikoterapis sendiri (George & Cristiani, 1981;
Brammer & Shostrom, 1982). Sebagian praktisi berpendapat bahwa
pembedaan itu tidak perlu, konseling dan psikoterapi merupakan
sinonim belaka. Namun sebagian praktisi lain berpendapat bahwa
perbedaan antara kedua jenis layanan itu perlu dipertegas.
Akhirnya disepakati bahwa perbedaan antara konseling dan
psikoterapi tidak terletak pada substansi atau kualitas, melainkan
hanya pada dimensi kuantitasnya. Pengakuan ini tampak dari
beberapa definisi yang dikutip oleh George dan Cristiani (1981)
berikut ini. Pertama, Blocher (1966, dalam George & Cristiani,
1981), membedakan konseling dan psikoterapi dengan menekankan
bahwa “the goals of counselling are ordinarily
developmental-educative-preventive, and the goals of psychotherapy are
generally remediative-adjustive-therapeutic” (h. 7, cetak tebal
oleh penulis). Jadi, tujuan konseling lazimnya lebih bersifat
developmental-edukatif-preventif, sedangkan tujuan psikoterapi
Kedua, Brammer dan Shostrom (1977, dalam George &
Cristiani, 1981) menegaskan bahwa “while the two activities may
overlap, counselling in general can be characterized by such terms
as educational, vocational, supportive, situational,
problem-solving, conscious awareness, normal, present time, and short
term; psychotherapy can be characterized by such terms as
supportive (in a crisis setting), reconstructive, depth emphasis,
analytical, focus on the past, emphasis on ‘neurotics’ or other
severe emotional problems and long term” (h. 7, cetak tebal oleh
penulis). Artinya, kendati kedua aktivitas itu saling tumpang tindih,
secara umum konseling ditandai oleh ciri-ciri edukasional,
vokasional, suportif, situasional, pemecahan-masalah, melibatkan
kesadaran, normal, masa kini, dan berjangka pendek, sedangkan
psikoterapi ditandai oleh ciri-ciri suportif (dalam situasi krisis),
rekonstruktif, memberi tekanan pada kedalaman, analitis, berfokus
pada masa lalu, memberi tekanan pada kasus-kasus neurotik atau
masalah-masalah emosi lainnya yang bersifat berat atau parah dan
berjangka panjang.
Ketiga, Hahn dan MacLean (1955, dalam George & Cristiani,
1981) menunjukkan bahwa “the counsellor would give heavy
emphasis to prevention of disruptive deviation, whereas the
psychotherapists would give primary emphasis to present deviation
with secondary attention to prevention. In addition … counselling
has a goal of long-range educational and vocational planning. Their
total emphasis seems to view counselling as being concerned with
preventive mental health, and psychotherapy with remediation”
(h. 8, cetak tebal oleh penulis). Artinya, konselor memberi tekanan
berat pada mencegah terjadinya penyimpangan yang bersifat
merusak (perkembangan), sedangkan psikoterapis memberi tekanan
utama pada penyimpangan yang kini telah terjadi sementara upaya
konseling bertujuan membantu membuat perencanaan jangka
panjang dalam memilih jurusan pendidikan dan pekerjaan. Mereka
memandang bahwa konseling lebih terkait dengan kesehatan
mental yang bersifat preventif, sedangkan psikoterapi lebih terkait
dengan remediasi.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, George dan Cristiani
(1981) menyimpulkan sebagai berikut, “within the context of the
continuum, the goals of psychotherapy are more likely to involve a
quite complete change of basic character structure; the goals of
counselling are apt to be more limited, more directed toward growth,
more concerned with the … immediate situation, and more aimed
at helping the individual function adequately in appropriate roles”
(h. 8). Maksudnya, bila ditempatkan dalam sebuah kontinum
tujuan psikoterapi lebih melibatkan perubahan menyeluruh
terhadap struktur karakter dasar seseorang; sedangkan tujuan
konseling lebih terbatas, yaitu lebih diarahkan pada pertumbuhan,
lebih terkait dengan…situasi yang sedang dihadapi kini, serta lebih
diarahkan untuk membantu individu menjalankan aneka peran
kehidupannya secara memadai.
Ringkas kata, secara substansial konseling dan psikoterapi
adalah sama, keduanya berbeda hanya menyangkut dimensi
kuantitas gangguan klien dan jenis bantuan perubahan tingkah
laku yang diberikan kepada klien. Konseling diarahkan pada
kelompok klien normal dan pemberian bantuan yang bersifat
preventif, sedangkan psikoterapi diarahkan pada kelompok klien
yang sudah tergolong kurang normal (neurosis atau psikosis)
sehingga bantuan yang diberikan pun lebih bersifat remediasi.
Namun, boleh jadi sebagian karena terdorong oleh kebutuhan
untuk menegaskan corak preventifnya bidang konseling sendiri
kemudian mengalami perkembangan pesat dan meluas, sampai
Sekalipun demikian pada awalnya konsultasi masih dimaknai
secara agak sempit seperti tampak dari definisi yang dikemukakan
oleh Lippit (1959, dalam George & Cristiani, 1981) berikut ini:
“Consultation…to be a voluntary relationship between a professional
helper (consultant) and a help needing system (client) in which the
consultant is attempting to give help to the client in the solving of
some current or potential problem, and the relationship is perceived
as temporary by both parties. Also, the consultant is an ‘outsider,’
i.e., is not a part of any hierarchical power system in which the client
is located” (h. 271). Maksudnya, konsultasi merupakan relasi yang
dilakukan dengan sengaja atau sadar antara seorang penolong
profesional (konsultan) dan sebuah sistem tertentu yang sedang
membutuhkan bantuan (klien), di mana si konsultan mencoba
menolong klien mengatasi sebuah masalah yang sudah terjadi atau
berpotensi muncul, dan relasi itu dipandang bersifat sementara
oleh kedua belah pihak. Selain itu, si konsultan merupakan “pihak
luar”, yaitu bukan bagian dari sistem kekuasaan hirarkis tempat
si klien berada.
Yang dimaksud klien dalam definisi di atas adalah “any
functioning social unit such as a family, industrial organization,
individual, committee, staff, membership association, governmental
department, delinquent gang, or hospital staff” (h. 271). Artinya,
yang dimaksud klien mencakup semua satuan sosial seperti
keluarga, organisasi industri, individu, komisi atau kelompok kerja,
staf atau himpunan pegawai, perkumpulan, himpunan pegawai
yang membentuk bagian dalam pemerintahan, gang anak-remaja
nakal, atau staf rumah sakit.
Kendati sudah diperluas dari pengertian asli konseling, definisi
di atas sedikit banyak masih mencerminkan pengertian tradisional
atau sempit tentang konsultasi. Pengertian yang lebih luas dan
mutakhir tentang konsultasi bisa ditemukan dalam tulisan
lingkungan praktisi layanan psikologis makin populer gerakan
mengikuti apa yang disebut psychoeducator model. Bentuk layanan
konsultasi yang diutamakan bergeser dari model konseling
perorangan dalam ruang konsultasi yang bercorak remedial ke arah
psychological education yang lebih bercorak developmental dan
preventif, ditujukan kepada klien sehat-normal dalam
kelompok-kelompok yang relatif besar, dan diselenggarakan dalam setting
non-psikologis seperti ruang kelas di sekolah atau ruang pertemuan
di perusahaan. Dengan kata lain, psychological education atau
psychoeducation merupakan sejenis model komprehensif mencakup
konseling, training atau pelatihan, dan konsultasi sekaligus dengan
tekanan pada sifat perseveratif-developmental untuk membantu
klien baik perorangan maupun kelompok-lembaga agar mampu
memperkembangkan diri secara optimal.
B. Aneka Peran Konsultan
Berdasarkan model psikoedukator, maka peran seorang
psikolog-konselor-konsultan pun mengalami perluasan. Dia tidak
lagi cukup hanya berperan tunggal entah sebagai konselor atau
psikoterapis, melainkan sebagaimana dikemukakan oleh Kurpius
dan Brubaker (1976, dalam Hershenson, Power, & Waldo, 1996)
serta Kurpius dan Robinson (1978, dalam George & Cristiani, 1981),
harus mampu menjalankan beberapa peran baik masing-masing
peran secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, sebagai
berikut:
1. Provision atau ahli (expert), yaitu sebagai seorang ahli yang
mampu memberikan layanan bantuan psikologis langsung
kepada konsulti dalam rangka mengatasi persoalan kehidupan
tertentu. Dalam bahasa lugas, konsulti membeli keahlian
yang dialami konsulti atau klien dan menyodorkan solusi
tertentu.
2. Prescription, yaitu membantu memberikan pendapat atau
nasihat kepada konsulti tentang persoalan yang dialami oleh
pihak ketiga yang berada di bawah tanggung-jawab konsulti,
serta memberikan saran (preskripsi) atau resep tentang
langkah solusi yang sebaiknya diambil. Contoh, konsultan
yang dimintai bantuan oleh kepala sekolah sebuah SMA
mengatasi problem berupa motivasi dan prestasi belajar yang
terus merosot dari tahun ke tahun di kalangan para siswanya.
3. Mediation, yaitu membantu bertindak sebagai koordinator
mengkoordinasikan layanan dari berbagai pihak yang
bersama-sama dimintai bantuan seseorang atau lembaga mengatasi
suatu persoalan tertentu, atau sebagai negosiator membantu
klien yang sedang terlibat konflik dengan pihak ketiga
merundingkan solusi damai. Peran yang pertama lazimnya
terlaksana dalam dua macam kemungkinan aktivitas sebagai
berikut: (a) mengkoordinasikan berbagai jenis layanan yang
sudah tersedia atau berjalan, dan/atau (b) menciptakan rencana
layanan baru yang merupakan sintesis dari sejumlah solusi
alternatif yang disepakati bersama. Peran kedua terlaksana
lewat serangkaian aktivitas dalam rangka mediasi konflik.
4. Collaboration, yaitu berperan menjadi fasilitator dalam proses
pemecahan masalah. Sebagai fasilitator tugas pokoknya adalah
secara kolaboratif bekerja sama dengan konsulti mendiagnosis
problem baik yang dialami oleh konsulti sendiri maupun yang
dialami konsulti dalam hubungannya dengan pihak ketiga yang
menjadi tanggung jawab konsulti, serta menemukan solusinya.
Kembali kepada contoh kepala sekolah sebuah SMA di atas,
di sini konsultan bersama-sama kepala sekolah sendiri atau
langkah sejak mendiagnosis kemungkinan penyebab
merosot-nya motivasi belajar para siswa sampai merumuskan solusi
untuk mengatasinya.
5. Trainer/Educator, yaitu mengajarkan serangkaian keterampilan
tertentu baik langsung kepada konsulti maupun kepada pihak
lain yang menjadi tanggung jawab konsulti. Pada contoh kasus
kepala sekolah di atas, bisa jadi salah satu solusi yang dipilih
adalah meminta bantuan konsultan memberikan pelatihan
peningkatan motivasi belajar untuk seluruh kelas dalam
sebuah aktivitas akhir pekan di luar sekolah.
Sejalan dengan makin besarnya kebutuhan untuk memberikan
pendampingan yang bersifat developmental-preventif kepada
kelompok-kelompok subjek normal-sehat di luar ruang konsultasi
dalam rangka psychological education, pembahasan kita selanjutnya
akan lebih difokuskan pada peran konsultan sebagai trainer/
educator.
C. Aneka Keterampilan Konsultan
Sebagai trainer/edukator yang pada dasarnya adalah
komunikator seorang konsultan dituntut memiliki aneka keterampilan
dasar membangun komunikasi interpersonal. Menurut Dinkmeyer
dan Carlson (dalam George & Cristiani, 1981), gugus keterampilan
ini mencakup:
1. Sikap empatik dan kemampuan menyelami pikiran dan
perasaan orang lain.
2. Kemampuan menjalin relasi dengan klien anak, remaja,
maupun dewasa secara terarah. Maksudnya, terarah pada
tujuan menumbuhkan sikap atau keterampilan tertentu dalam
3. Peka terhadap kebutuhan orang lain.
4. Memahami dinamika psikologis, motivasi, dan arah tingkah laku.
5. Memahami dinamika kelompok dan manfaatnya dalam dunia
kegiatan pelatihan-pendidikan.
6. Kemampuan menjalin relasi yang dipenuhi suasana saling
percaya dan saling menghormati.
7. Bebas dari gangguan perasaan cemas atau problem pribadi lain.
8. Bersifat kreatif, spontan, dan imajinatif.
9. Memiliki kepemimpinan yang bersifat inspiratif. Artinya,
mampu menumbuhkan motivasi dan gairah untuk belajar dan
berkembang.
Selain gugus kemampuan dasar di bidang menjalin relasi
interpersonal di atas, sebagai seorang psychological trainer/educator
seorang konsultan juga perlu memiliki gugus keterampilan lain
sebagai berikut (Nelson-Jones, 1982):
1. Role-decision making. Menurut pandangan tradisional tentang
konseling, tugas dan peran seorang konsultan yang lazim
disebut konselor tercurah pada upaya memberikan bantuan
psikologis secara individual dan yang bersifat remedial lewat
ruang konsultasi, sehingga hanya menjangkau sebagian kecil
warga masyarakat. Menurut pandangan baru yang lebih
menekankan dimensi psychological education dalam layanan
konsultasi, tugas dan peran seorang konsultan akan lebih
tercurah pada upaya melayani bagian yang lebih besar dari
warga masyarakat dengan cara membantu kelompok subjek
normal baik anak, remaja, maupun dewasa mengembangkan
life skills secara memadai serta membantu mempersiapkan
tenaga-tenaga paraprofesional termasuk tenaga konselor
sebaya. Konsultan yang baik harus pandai membagi waktu dan
itu secara seimbang, tidak tercurah pada pemberian layanan
konseling individual semata.
2. Menjadi effective trainer. Seorang konsultan juga dituntut
memiliki kemampuan menjadi pelatih atau pendidik yang
efektif bagi klien yang membutuhkan bantuan mengembangkan
aneka life skills tertentu, atau bagi paraprofesional di bidang
layanan psikologis yang perlu dibantu mengembangkan aneka
keterampilan menolong (helping skills). Untuk itu seorang
konsultan perlu menguasai seluk-beluk pengembangan program
pelatihan atau pendidikan (training programs). Kemampuan ini
lazimnya mencakup tiga bidang: (a) mendesain atau menyusun
program, meliputi antara lain: merumuskan aneka tujuan
yang realistik serta mengembangkan aneka strategi untuk
mencapai tujuan tersebut, (b) melaksanakan program, dan
(c) mengevaluasi program.
3. Keterampilan memberikan konsultasi, meliputi antara lain:
(a) kemampuan bekerja sama dengan perorangan atau
kelompok dalam sebuah komunitas atau institusi untuk
membantu merumuskan masalah dan menemukan solusi, (b)
mengembangkan aneka jenis program layanan bantuan
psikologis baik yang bersifat remedial, preventif, maupun
developmental, dan (c) keterampilan berkomunikasi secara
baik lisan maupun tertulis.
4. Keterampilan di bidang evaluasi program, meliputi dua
kategori kegiatan: (a) memanfaatkan hasil evaluasi program
yang dilakukan oleh pihak lain, dan (b) melakukan sendiri
evaluasi program. Untuk mendukung kedua kategori
ke-mampuan itu seorang konsultan perlu menguasai basic
research skills meliputi kemampuan menyusun rencana
penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data baik secara
kuantitatif maupun kualitatif, dan kemampuan menyusun
D. Aneka Tahap dalam Proses Konsultasi
Salah satu model penyelenggaraan konsultasi membagi proses
konsultasi ke dalam sembilan langkah atau tahap (Kurpius, 1978,
dalam George & Cristiani, 1981; Dougherty, 1990, dalam
Hershenson, Power, & Waldo, 1996):
1. Persiapan atau Preentry. Sebelum mulai melibatkan diri
dalam relasi konsultasi dengan klien, seorang konsultan perlu
mempersiapkan diri. Khususnya, dia perlu merefleksikan
berbagai keyakinan, nilai, kebutuhan, asumsi, praktik atau
kebiasaan, dan keterampilan pribadinya: apakah semua itu
memadai dan/atau menunjang dalam membantu klien
memecahkan masalah, adakah kemungkinan bias pribadi yang
perlu diwaspadai, dan sebagainya.
2. Entry. Sesudah merasa siap, konsultan bisa segera masuk ke
dalam relasi konsultasi dengan klien. Langkah-langkah yang
segera perlu dikerjakan pada tahap ini adalah mendengarkan
masalah yang dikemukakan oleh klien serta merumuskan
“aturan main” yang harus disepakati bersama klien. Jika perlu
berbagai kesepakatan itu bisa dituangkan dalam sebuah
kontrak perjanjian tertulis.
3. Pengumpulan informasi. Konsultan mengumpulkan informasi
tambahan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas
dan mendalam tentang masalah yang dikemukakan oleh klien
atau konsulti. Informasi ini harus objektif. Untuk itu sedapat
mungkin informasi itu perlu digali dari sejumlah sumber yang
dipandang mewakili sudut pandang yang berlainan dan
sebaiknya menggunakan lebih dari satu metode pengumpulan
informasi pula. Informasi tersebut perlu dikumpulkan sampai
kurang lebih exhaustedatau tuntas, dalam arti penambahan
tidak lagi menghasilkan tambahan informasi secara signifikan
atau substansial. Beberapa jenis metode pengumpulan
informasi yang lazim digunakan meliputi antara lain
pasang-telinga alias mendengarkan, pengamatan, kuesioner,
pemeriksaan dokumen seperti notulen rapat, wawancara,
pertemuan kelompok, dan sebagainya.
4. Perumusan masalah. Semua informasi yang berhasil
di-kumpulkan kini dievaluasi untuk membantu mempertegas
atau mempertajam masalah yang dikemukakan oleh klien atau
konsulti. Perumusan masalah ini selanjutnya perlu
diterjemah-kan ke dalam perumusan tujuan umum (goal statements)
secara tertulis yang harus disepakati bersama oleh baik
konsultan maupun konsulti.
5. Merumuskan dan memilih solusi alternatif. Berdasarkan
analisis dan sintesis dari seluruh informasi yang berhasil
dikumpulkan, konsultan bersama konsulti melakukan problem
solving yaitu berusaha merumuskan berbagai alternatif solusi
beserta aneka konsekuensi termasuk kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Proses pemecahan masalah ini bisa dilakukan
lewat proses brainstorming alias curah pendapat dan analisis
SWOT (Strengths alias kekuatan, Weaknesses alias kelemahan,
Opportunities alias peluang, dan Threats alias ancamannya)
terhadap masing-masing alternatif solusi agar bisa dipilih salah
satu alternatif yang dipandang paling efektif di satu sisi dan
feasible atau layak dilaksanakan di sisi lain. Pada Lampiran
J disajikan sebuah teknik pemecahan masalah yang didasarkan
pada proses diskresio Ignasian.
6. Merumuskan aneka tujuan khusus. Solusi yang dipilih
selanjutnya perlu diterjemahkan ke dalam sebuah rencana
tindakan atau kegiatan yang meliputi antara lain rumusan
langkah-langkah yang harus ditempuh, kerangka waktu atau jadwal
pelaksanaan aneka langkah-kegiatan, sumber daya yang
diperlukan, serta teknik dan sarana untuk mengevaluasi
pencapaian aneka tujuan.
7. Implementasi. Semua strategi dan langkah-langkah dalam
rangka pemecahan masalah itu kini perlu dilaksanakan sesuai
jadwal yang telah ditetapkan.
8. Evaluasi. Kegiatan ini mencakup dua hal. Pertama, evaluasi
formatif atau monitoring atas berbagai tahapan kegiatan. Perlu
tidaknya dilakukan perbaikan-penyesuaian dan penambahan
langkah-langkah baru bisa diketahui berdasarkan hasil
monitoring ini. Jika semua berjalan efektif seperti
direncana-kan, akhirnya perlu dilakukan evaluasi sumatif atau final
dalam rangka menilai tingkat keberhasilan pencapaian hasil
akhir serta aneka dampak yang diharapkan dari seluruh
kegiatan yang direncanakan.
9. Terminasi atau mengakhiri proses konsultasi. Pada tahap ini
konsultan dan klien duduk bersama untuk memutuskan
hal-hal sebagai berikut: (a) apakah tujuan-tujuan yang
dicanang-kan benar-benar tercapai, atau sejauh mana tercapai; dan (b)
berdasarkan hasil penilaian bersama itu, diputuskan langkah
selanjutnya yang perlu diambil: apakah keseluruhan proses
konsultasi perlu dirancang ulang dan dilaksanakan kembali
atau bisa diakhiri.
Selanjutnya, pembicaraan secara khusus akan kita fokuskan
pada salah satu peran konsultan, yaitu peran sebagai trainer/
educator dengan tugas utama memberikan jasa layanan psychological
education atau pendidikan psikologis atau psikoedukasi kepada
kelompok-kelompok klien atau subjek sehat-normal pada berbagai
setting, khususnya pendidikan sekolah, industri atau organisasi,
BAB III
BAB III
P S I K O E D U K A S I
P
ENDIDIKAN psikologis (dalam bahasa Inggris, psychologicaleducation atau psycho-education) atau psikoedukasi sering juga
disebut personal and social education atau pendidikan pribadi dan
sosial merupakan gerakan yang relatif baru namun penting di
lingkungan psikologi konseling. Hakikat gerakan ini adalah “an
expansion of the role of counsellor beyond their traditional individual
and group counselling activities” (Nelson-Jones, 1982, h. 475). Atau,
perluasan peran konselor melampaui aktivitas pemberian layanan
konseling individual dan kelompok secara tradisional.
A. Alasan Berkembangnya Psikoedukasi
Ada beberapa alasan di balik menguatnya minat kalangan
psikolog dan konselor untuk mengembangkan bidang psikoedukasi
atau pendidikan pribadi-sosial ini (Nelson-Jones, 1982). Pertama,
bahkan di negara-negara maju tidak tersedia dan tidak akan pernah
tersedia tenaga psikolog-konselor termasuk paraprofesional dalam
jumlah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan
layanan psikologis, apalagi secara indidivual. Mengutip pendapat
seorang pengamat ahli lain, Nelson-Jones menyatakan bahwa
sendiri prinsip-prinsip psikologis dalam menghadapi aneka
tantangan hidup sehari-hari.
Kedua, di masa lalu terlalu banyak waktu dan tenaga para
psikolog-konselor tercurah melulu untuk memberikan layanan
remedial bagi sekelompok kecil orang khususnya lewat pemberian
layanan konseling individual dalam ruang praktik konsultasi. Di
banyak negara kelompok kecil klien yang beruntung bisa menikmati
layanan psikologis individual itu lazimnya hanyalah mereka yang
berasal dari lapisan masyarakat menengah ke atas dan yang tinggal
di kota-kota besar pula. Ada tuntutan yang semakin kuat untuk
mendemokratisasikan dan memeratakan pemberian layanan
psikologis bagi kelompok masyarakat yang semakin luas.
Ketiga, tumbuhnya kesadaran di kalangan psikolog-konselor
tentang semakin perlunya mengutamakan pemberian layanan
preventif atau profilaktik atau pencegahan dan developmental bagi
semakin banyak kelompok warga masyarakat di berbagai setting
kehidupan. Inilah yang oleh seorang pengamat ahli dan di
lingkungan pendidikan sekolah disebut prinsip preventif, artinya
“work devoted to the personal and social education of all pupils in
such a way that it anticipates their developmental needs” (Daws,
dalam Nelson-Jones, 1982, h. 475). Atau, layanan yang ditujukan
bagi pendidikan pribadi dan sosial seluruh siswa dengan cara yang
mengantisipasi dalam arti membuat mereka siap menghadapi aneka
kebutuhan baru dalam perkembangan mereka.
Keempat, akuntabilitas. Secara garis besar prinsip akuntabilitas
menyatakan bahwa makin besar hasil atau manfaat yang bisa
dipetik dari biaya tertentu yang telah dikeluarkan untuk melakukan
aktivitas tertentu, maka semakin akuntabel-lah aktivitas tersebut.
Menyiapkan tenaga psikolog-konselor tentulah merupakan
aktivitas dengan biaya dari masyarakat yang sangat besar. Maka
jika psikolog-konselor yang dihasilkan kemudian hanya duduk
konseling remedial, upaya itu jelas kalah akuntabel dibandingkan
dengan jika psikolog-konselor itu secara proaktif melakukan
berbagai aktivitas layanan lapangan berupa pendidikan dan
konsultasi psikologis yang bertujuan preventif-developmental bagi
kelompok-kelompok klien dari berbagai lapisan masyarakat serta
di berbagai setting kehidupan.
B. Makna dan Cakupan Psikoedukasi
Dalam kenyataannya psikoedukasi sebagai gerakan pemberian
layanan publik di bidang konsultasi psikologi tidak bermakna
tunggal. Menurut Nelson-Jones (1982), ada setidaknya enam
pengertian tentang psikoedukasi, masing-masing