• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemunculan lembaga keuangan Islam khususnya lembaga pengelolaan zakat sebagai organisasi yang relatif baru menimbulkan tantangan besar. Para pakar syariah Islam dan akuntansi harus mencari dasar bagi penerapan dan pengembangan standar akuntansi yang berbeda dengan standar akuntansi bank dan lembaga keuangan konvensional seperti telah dikenal selama ini.

Akuntansi tidak hanya sebagai alat untuk menterjemahkan fenomena dalam bentuk ukuran moneter tetapi juga sebagi suatu metode menjelaskan bagaimana fenomena ekonomi itu berjalan dalam masyarakat. Hal ini yang mengakibatkan pergeseran yang lebih berorientasi sosial. Informasi yang disediakan melalui proses akuntansi harus dapat mengungkapan kenyataan secara adil. Artinya akuntansi tidak diperbolehkan mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu yang akan menguntungkan pihak pembuat laporan tanpa berpedoman pada prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum (generally accepted principles). Oleh karena itu sikap independensi sangat diperlukan dalam penyajian informasi. Informasi yang benar, adil dan lengkap tidak akan mempunyai manfaat dalam pengambilan keputusan apabila disajikan tidak tepat pada waktunya sehingga hanya akan menjadi kedaluwarsa. Ketepatan waktu ini sangat dihargai, bukan hanya pada penyampaian

informasi tetapi meliputi seluruh aktivitas yang dilakukannya (Iman Pirman Hidayat dan Bambang Setiawan : 2009).

Standar akuntansi tersebut menjadi kunci sukses lembaga pengelolaan zakat dalam melayani masyarakat di sekitarnya sehingga, seperti lazim-nya, harus dapat menyajikan informasi yang cukup, dapat dipercaya, dan relevan bagi para penggunanya, namun tetap dalam konteks syariah Islam. Akuntabilitas organisasi pengelola zakat ditunjukkan dengan laporan keuangan serta audit terhadap laporan keuangan tersebut. Untuk bisa disahkan sebagai organisasi resmi, lembaga zakat harus menggunakan sistem pembukuan yang benar dan siap diaudit akuntan publik. Ini artinya standar akuntansi zakat mutlak diperlukan.

Standar akuntansi zakat ini tentunya harus melihat terlebih dahulu bagaimana sifat dari zakat, karena zakat berbeda dengan pajak yang harus dibayarkan. Zakat mempunyai aturan tersendiri dan nilai yang lebih luas dari pajak.

Sebenarnya, hingga saat ini masih belum tersedianya suatu aturan yang pasti dalam mengatur pencatatan akuntansi untuk organisasi zakat. Ikatan Akuntan Indonesia telah menawarkan suatu solusi yaitu dibuatnya Exposure Draft PSAK No, 109 yang telah disusun dari tahun 2007, namun sayangnya hingga sekarang PSAK itu masih bersifat ED (exposure draft).

Berikut standar akuntansi zakat secara umum:

1. Penilaian dengan nilai tukar sekarang (current exchange value) atau harga pasar. 2. Aturan satu tahun.

3. Standar Realisasi. 4. Nisab.

5. Net Income.

6. Aktiva tetap tidak dikenakan zakat. 7. Kekayaan/ Asset.

Sedangkan untuk donasi yang didapat oleh lembaga amil zakat itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi tiga poin pokok (Anies Basamallah : 2005), diantaranya :

1. Sedekah yang tidak dimaksudkan oleh pemberinya untuk tujuan tertentu. Sedekah jenis ini merupakan dana yang tidak terbatas (unrestricted funds). Artinya, dana ini dapat digunakan untuk siapa saja selain kedelapan asnaf, baik muslim maupun non muslim.

2. Sedekah yang dimaksudkan oleh pemberinya untuk diberikan dengan tujuan tertentu atau diberikan kepada penerima tertentu.

3. Zakat, yang dapat digolongkan sebagai dana yang terbatas penggunaannya (restricted funds ) karena ia dibatasi oleh siapa atau dari sumber mana zakat ini berasal dan kepada siapa saja zakat ini disalurkan.

Pada hakikatnya, zakat digolongkan pada 2 jenis yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Dalam perkembangan zaman seperti saat ini, zakat maal dapat terdiri dari banyak kategori, dan tentunya pada setiap kategori yang tergolong zakat maal memilki nasabnya masing-masing. Berikut penjelasan mengenai zakat-zakat ang tergolong

zakat maal dan pembahasan mengenai nishab tersebut (M. Syafi’ie El-Bantanie : 2009) :

A. Zakat Pertanian dan Perkebunan.

Hasil pertanian, seperti padi, gandum, jagung, dan makanan pokok lainnya yang mengenyangkan serta tahan disimpan lama, wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nishab. Nishabnya adalah 5 wasaq. Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada zakat pada biji-bijian dan buah-buahan sehingga mencapai 5 wasaq.” (HR.Muslim). Hadits lain menjelaskan, “Sesunggahnya Rasulullah saw, bersabda ‘Satu wasaq itu enam puluh sha’.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Tabel 2.1

Nishab Zakat Pertanian dan Perkebunan

Dengan demikian, nishab zakat pertanian berupa biji makanan yang mengenyangkan 930 liter. Demikian pula dengan hasil perkebunan, seperti buah- buahan. Nishabnya adalah 930 liter. Adapun besar zakat yang dikeluarkan, apabila sistem pengairan pertanian dan perkebunan memanfaatkan tadah hujan, maka zakatnya adalah 10%, namun jika sistem pengairannya menggunakan mesin diesel

1 wasaq = 60 sha’ 5 wasaq = 300 sha’

1 sha = 3,1 liter (dapat dilihat dari kamus Arabic English Lexicon) Jadi, 300 X 3,1 = 930 liter (nishab zakat pertanian)

maka besar zakat yang harus dibayarkan adalah 5%. Berikut hadits yang mendasarinya “Pada biji-bijian yang diairi dengan hujandan mata air yang mengisap dengan akarnya, zakatnya sepersepuluh (10%), dan yang diairi dengan kincir, zakatnya seperduapuluh (5%)” (HR. Jama’ah kecuali Muslim).

B. Zakat Binatang Ternak

Binatang ternak yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah unta, sapi, kerbau, kambing, atau domba. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2

Nishab Zakat Binatang Ternak Unta

Nishab

Zakatnya Bilangan dan Besarnya

Zakat Umur

5-9 1 ekor kambing atau

1 ekor domba

2 tahun lebih 1 tahun lebih 10-14 2 ekor kambing atau

2 ekor domba

2 tahun lebih 1 tahun lebih 15-19 3 ekor kambing atau

3 ekor domba

2 tahun lebih 1 tahun lebih 20-24 4 ekor kambing atau

4 ekor domba

2 tahun lebih 1 tahun lebih

25-35 1 ekor anak unta 1 tahun lebih

36-45 1 ekor anak unta 2 tahun lebih

46-60 1 ekor anak unta 3 tahun lebih

61-75 1 ekor anak unta 4 tahun lebih

76-90 2 ekor anak unta 2 tahun lebih

91-120 2 ekor anak unta 3 tahun lebih

Tabel 2.3

Nishab Zakat Binatang Ternak Sapi atau Kerbau

Nishab

Zakatnya Bilangan dan Besarnya

Zakat Umur

30-39 1 ekor anak sapi atau 1 ekor anak kerbau

1 tahun lebih 1 tahun lebih 40-59 1 ekor anak sapi atau

1 ekor anak kerbau

2 tahun lebih 2 tahun lebih 60-69 2 ekor anak sapi atau

2 ekor anak kerbau

1 tahun lebih 1 tahun lebih 70 ke atas

1 ekor anak sapi/ se-ekor kerbau

1 ekor anak sapi/ se-ekor kerbau

1 tahun lebih 2 tahun lebih

Tabel 2.4

Nishab Zakat Binatang Ternak Kambing atau Domba

Nishab

Zakatnya Bilangan dan Besarnya

Zakat Umur

40-120 1 ekor kambing betina atau 1 ekor domba betina

2 tahun lebih 1 tahun lebih 121-200 2 ekor kambing betina atau

2 ekor domba betina

2 tahun lebih 1 tahun lebih 201-300 3 ekor kambing betina atau

3 ekor domba betina

2 tahun lebih 1 tahun lebih 301 ke atas 4 ekor kambing betina atau

4 ekor domba betina

2 tahun lebih 1 tahun lebih

C.Zakat Emas dan Perak

Emas dan perak adalah harta yang wajib dizakati apabila telah mencapai nishabnya, dan nishabnya yaitu emas adalah 20 dinar atau setara dengan 93,6 gram emas. Zakat yang dikeluarkan 2,5%. Sedangkan nishab perak adalah 200 dirham atau setara dengan 624 gram perak. 1 dirham setara dengan 3,12 gram perak, maka

200X3,12 = 624 gram perak. Zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5%. “Pada emas

dan perak, zakat keduanya seperempat puluh (2,5%).” (HR. Bukhari). D. Zakat Perniagaan

Harta benda yang diperniagakan atau diperdagangkan wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nishab. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw, “Kain-kain yang disediakan untuk dijual wajib dikeluarkan zakatnya.” (HR.Hakim). Adapun nishabnya di-qiyas-kan kepada nishab emas, yaitu 93,6 gram dan besar zakat yang harus dibayar 2,5%.

E. Zakat Pertambangan

Hasil tambang berupa emas dan perak apabila telah sampai nishab, wajib dikeluarkan zakatnya 2,5% pada waktu itu juga dengan tidak disyaratkan sampai satu tahun (haul), sebagaiman pada pertanian dan perkebunan. “Bahwasanya Rasulullah saw telah memungut zakat dari hasil tambang di negeri Qabaliyah.” (HR. Abu Daud dan Hakim).

Sementara hasil tambang lain, seperti batu bara, minyak bumi, gas bumi dan sebagainya, zakat di-qiyas-kan dengan zakat emas, yaitu nishabnya 93,6 dan zakatnya 2,5%.

F. Zakat Rikaz

Harta terpendam termasuk salah satu harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Zakat yang wajib dibayarkan sbesar 20% dari keseluruhan nilai harta yang terpendam tersebut. “Abu Hurairah ra. Berkata, ‘Rasulullah saw telah bersabda bahwa zakat rikaz seperlima’’.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rikaz tidak dipersyaratkan sampai satu tahun (haul), melainkan wajib dikeluarkan saat itu juga seperti zakat hasil tambang.

G. Zakat Piutang

Apabila seseorang memberikan pinjaman kepada orang lain dan jumlah hartanya itu mencapai nishab atau lebih dan telah haul, harta yang diutangkan itu wajib dikeluarkan zakatnya, dengan syarat orang yang berutang adalah orang yang mampu. Adapun mengenai cara pembayarannya, para ulama berbeda pendapat, diantaranya sebagai berikut :

1.Harta piutang itu wajib dikeluarkan zakatnya setiap tahun karena harta tersebut disamakan dengan dengan barang titipan (wadi’ah). Ini adalah pendapat Imam Syafi’i.

2.Harta piutang itu wajib dikeluarkan zakatnya pada saat dikembalikan (dibayarkan) kepada yang berpiutang untuk seluruh tahun sekaligus. Ini adalah pendapat Imam Hanafi dan Imam Ahmad Hanbal.

3.Harta piutang itu wajib dikeluarkan zakatnya pada saat dikembalikan, dan cukup hanya untuk satu tahun saja, yaitu tahun saat dikembalikannya. Ini adalah pendapat Imam Malik.

Akan tetapi, apabila seseorang mengutangkan hartanya kepada orang yang tidak mampu atau miskin, para ulama berbeda pendapat, tentang apakah harta itu wajib dikeluarkan zakatnya atau tidak ? Berikut perbedaan pendapatnya :

1.Harta piutang itu tidak wajib dizakati. Pendapat Qatadhah, Abu Tsaur, dan Ishaq.

2.Harta piutang itu wajib dikeluarkan zakatnya pada saat dikembalikan untuk seluruh tahun yang belum dizakati. Pendapay Imam Hanafi dan Ulama Iraq. 3.Harta piutang itu wajib dikeluarkan zakatnya pada saat dikembalikan hanya

untuk satu tahun. Pendapat Imam Malik. H. Zakat Hasil Usaha Kontemporer.

Hukum zakat hasil usaha kontemporer menjadi kawasan ijtihad para ulama, yaitu dengan cara beristinbath hukun dengan meng-qiyas-kannya kepada dalil yang terkait dengan harta benda wajib zakat tersebut. Oleh karena itu, pada hasil usaha tertentu terdapat beberapa ketentuan tentang kewajiban mengeluarkan zakatnya. Maka secara umum, kewajiban zakat hasil usaha kontemporer didasarkan pada firman Allah :

“wahai orang-orang beriman! Infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik” (QS. Al-Baqarah : 267)

Selanjutnya, sistem akuntansi dan pelaporan untuk LAZ terbagi menjadi dua bagian, yaitu untuk dana yang terbatas (restricted funds) yaitu zakat dan infaq , dan untuk dana yang tidak terbatas (unrestricted funds), yaitu dana sedekah.

2.2.1 Sistem Akuntansi Dana Zakat (Restricted Funds)

Zakat di diklasifikasikan pada perkiraan akun – akun yang dipakai oleh Lembaga Amil Zakat (Anis Basalamah : 2005). Meskipun demikian bukan berarti akun – akun yang dipakai lembaga amil hanya sebatas yang disebutkan.

Tabel 2.5

Klasifikasi Perkiraan untuk dana Zakat dan Infaq AKTIVA LANCAR

Kas dan Bank Persediaan Barang Biaya Dibayar Dimuka Perlengkapan Kantor AKTIVA TETAP Tanah

Bangunan

Aktiva Tetap Lainnya

KEWAJIBAN – KEWAJIBAN

Dokumen terkait