• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam kaitan ini, selain konsep konsep yang telah dikemukakan sebelumnya juga diketengahkan konsep Beleidsregel sebagai titik tolak dalam tulisan ini. Dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan, badan atau pejabat Tata Usaha Negara dapat membuat peraturan kebijakan antara lain berupa keputusan, instruksi, edaran, petunjuk dan pengumuman. Peraturan kebijakan yang dibuat oleh badan atau pejabat Tata Usaha Negara tersebut sudah barang tentu berada dalam koridor hukum.

Keputusan tertulis badan atau pejabat Tata Usaha Negara di Belanda adalah “Beleidsregel” atau peraturan kebijakan. Dalam Kepustakaan Belanda, ada berbagai nama lain bagi Peraturan Kebijakan yaitu “Pseudowetgeving” (Van Der Houven),

“Spiegelrech” (Mannourry). Sedangkan istilah “Beleidsregel” dipergunakan antara

lain oleh Vand Kreveld.34

Dari uraian tersebut di atas dapat dipahami bahwa walaupun terdapat berbagai nama tentang peraturan kebijakan, namun obyek kajiannya sama-sama tertuju pada peraturan yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat Tata Usaha Negara berdasarkan kebebasan bertindak atau freies Ermessen yang dimungkinkan oleh Peraturan Perundangan-Undangan.

34

Van Wijk, Dalam Bagir Manan, 1994, Dasar-Dasar Sistem Ketatanegaraan Indonesia

Philipus M. Hadjon (ed), menyatakan bahwa “wewenang badan atau pejabat Tata Usaha Negara membuat peraturan kebijakan, didasarkan pada asas kebebasan bertindak (beleidsvrijheid atau beoordelingvrijheid) atau lazim disebut freies ermessen.35 Istilah Freies Ermessen berasal dari bahasa Jerman, kata “Freies” berasal dari kata frei yang artinya bebas. Sedangkan kata “Ermessen” berarti mempertimbangkan, menilai, menduga, penilaian, pertimbangan dan keputusan.36

Dengan demikian istilah “Freies Ermessen” berarti kebebasan mempertimbangkan yang diberikan kepada badan atau pejabat Tata Usaha Negara dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan.

Sjachran Basah mengatakan bahwa freies Emerssen melalui sikap tindak administrasi Negara dapat berwujud.37

a. Membentuk peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang yang secara materiil mengikat umum.

b. Mengeluarkan beschikking yang bersifat Konkret, final dan individual. c. Melakukan tindak administrasi yang nyata dan aktif.

d. Menjalankan fungsi peradilan, terutama dalam hal keberatan dan banding administrasi.

Setiap narapidana yang telah menjalani masa pidananya dengan penilaian yang baik dan telah melewati beberapa tahap seperti. Tahap Admisi Orientasi, Tahap

35

Philipus M. Hadjon dan Tatiek Sri Djatmiati, 2001, Tata Perijinan Pada Era Otonomi

Daerah, Makalah disampaikan pada symposium Nasional Sistem Kesehatan, di Surabaya, selanjutnya

disebut Philipus M. Hadjon III, hal.1

36

Adolf Heuken Sj, 1987, Kamus Jerman Indonesia, Yayasan Cipta Loka Caraka, PT. Gramedia, Jakarta, hal.148-177.

37

Sjahran Basah, Perlindungan Hukum terhadap Sikap Tindak Administrasi Negara, Orasi ilmiah pada Dies Natalis XXIX Unpad, Bandung, 24 September 1986, hal. 4.

Pembinaan, tahap Asimilasi dan yang terakhir adalah Tahap Integrasi.. Adapun lembaga atau instansi yang diberikan kewenangan untuk mengawasi berlangsungnya Pembebasan Hersyarat ini adalah Jaksa yang mempunyai kewenangan sebagai Penuntut Umum. Terungkap bahwa tugas kewenangan Jaksa tidak cukup sampai pada tahap Penahanan dan Penuntutan, akan tetapi juga mencakup kepada Pelaksanaan Keputusan Pengadilan, dan ini dinyatakan dalam Pasal 2 ayat 1 Huruf B, Undang-undang No. 15 Tahun 1961, tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kejaksaan yang isi lengkapnya. Kejaksaan mempunyai tugas menjalankan Keputusan dan Penetapan Hakim Pidana. Di samping itu juga dinyatakan dalam Pasal 270 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981, tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana yang isi lenkapnya . Pelaksanaan Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh Jaksa, yang untuk itu Panitra mengirimkan salinan surat putusan kepadanya.

Di dalam upaya pengawasan tert,adap narapidana yang mendapat Pembebasan Bersyarat, Jaksa diberikan kewenangan sebagai pengawas umum, hal ini dinyatakan dalam Pasal 15a (1) KUHP. Seberapa jauh peranan Jaksa dalam pengawasan terhadap narapidana yang mendapatkan Pembebasan Bersyarat dinyatakan pada Pasal 16 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) KUHP, dimana Jaksa dapat memberikan pendapat atau rekomendasi k,epada Menteri Kehakiman RI. Dalam hai rnernutuskan pemberian Pembebasan Bersyarat, dan juga dalam hal pencabutan Pembebasan Bersyarat yang sedang berjalan dan juga atas perintah Jaksa yang dapat menahan narapidana tersebut untuk menjaga ketertiban umum bilamana ada sangkaan yang

beralasan bahwa orang itu di dalam masa percobaan telah melanggar syarat tersebut di dalam Surat Pasnya.

Berhubungan dengan hambatan-hambatan yang timbul di dalam upaya pengawasan terdadap narapidana yang mendapat Pembebasan Bersyarat seperti antara lain : hambatan dalam segi Yuridis, hambatan dalam segi teknis dan administrsai dan harnbatan dalarn segi sarana dan prasarana.

1.7.2 Kerangka Berpikir PEMBERIAN PEMBEBASAN BERSYARAT BAGI NARAPIDANA

Latar Belakang Masalah

a. Kewenangan Menteri Hukum dan HAM dalam pemberian Pembebasan bersyarat

b. Pembebasan beryarat diberikan 2/3 dari hukuman pidana minimal 9 tahun c. Pembebasan berysrata

diberikan terpidana harus mengajukan permohonan dan menunjukkan adanya perubahan yang bersifat baik

Rumusan Masalah

1. Apakah semua Narapidana mesti di berikan pembebsan bersyarat oleh Menteri Hukum dan HAM ? 2. Apa yang menjadi syarat

untuk pemberian

pembebasan bersyarat di Lembaga

Pemasyarakatan oleh Menteri Hukum dan HAM ?

Pemecahan

Penelitian hokum ecara Normatif adanya konflik Norma antara UU No. 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan dengan Peraturan Menteri hokum dan ham no. 99 tahun 2012 Landasan Teori a. Asas-asas Hukum b. Konsep Hukum c. Peraturan Perundang-undangan d. Doktrin e. Yurisprodensi f. Teori-Teori Pendekatan Penelitian 1. Pendekatan Perundang-undangan 2. Pendekatan Kasus 3. Pendekatan Perbandingan

1. Konsep Negara Hukum 2. Teori Kewenangan 3. Teori Kebijakan

4. Teori Penegakkan Hukum

Teknik Analisis a. Deskriptif b. Interpretasi c. argumentasi

Kewenangan Menteri Hukum dan HAM dalam Pemberian Pembebasan Bersyarat di Lembaga Pemasyarakatan kelas II A Denpasar.

1.8 Metode Penelitian

Menurut Kartini Kartono, metode penelitian adalah cara – cara berpikir dan berbuat, yang dipersiapkan dengan baik untuk mengadakan penelitian dan guna mencapai tujuan.38 Dari uraian tersebut diatas dapat dipahami, bahwa penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan yang terencana dilakukan dengan metode ilmiah bertujuan untuk mendapatkan data baru guna mendapatkan kebenaran ataupun ketidakbenaran dari suatu gejala yang ada.

1.8.1. Jenis Penelitian

Sebagaimana diketahui, ilmu hukum mengenal dua jenis penelitian yakni Penelitian Hukum Normatif (penelitian doktrinal) Penelitian normatif dilakukan dengan cara meneliti bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Dalam jenis penelitian ini adanya konflik norma hukum antara Undang-undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dengan Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 99 tahun 2012.

1.8.2. Metode Pendekatan

Sesuai dengan tujuan penelitian tentang Pembebasan Bersyarat dengan melakukan pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan konseptual (conceptual

appproach) dan pendekatan perUndangan (statute approach) yaitu

Undang-Undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan ; Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tentang syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan

38

Kartini Kartono, 1995, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu Hukum. Dalam Hilman Adikusuma, Penerbit Mandar Maju, Bandung, hal. 58

1.8.3. Sumber Bahan Hukum

Adapun sumber bahan hukum dalam penelitian ini berasal dari penelitian kepustakaan (library research) Penelitian ini kepustakaan dilakukan terhadap beberapa macam sumber/bahan yang dapat digolongkan atas bahan hukum primer, bahan hukum sekunder . bahan hokum primer meliputi Undang-Undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan ; Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tentang syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan.

Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penelitian ini yakni bahan kepustakaan yang berisikan informasi tentang bahan hukum primer, yang sudah barang tentu bahan hukum ini saling berkaitan satu sama lainnya, seperti Undang-Undang , hasil penelitian, karya tulis dari kalangan hukum dan sebagainya, termasuk jurnal atau hasil seminar hukum maupun pandangan ahli hukum yang termuat dalam media masa.

1.8.4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Pengumpulan bahan hukum diatas dilakukan dengan cara menginventarisir, mempelajari dan mendalami bahan-bahan hukum primer dan sekunder yang terkait dengan penelitian yaitu dengan membuat catatan dalam kartu kecil dan dilakukan klasifikasi terhadap bahan-bahan tersebut. Sistematisasi perlu dilakukan melalui secara horisontal dengan menaliti penomorannya atau perumusan perUndang-Undangannya dalam ini adalah Undang-Undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan ; Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tentang syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah

melakukan analisis terhadap perumusan yang menjadi obyek penelitian. Sedangkan penggunaan methode bola salju dilakukan dengan menelusuri bahan acuan yang digunakan pada bahan atau sumber sekunder dan dilakukan pengkajian secara mendalam dan laporan penelitian tertulis yang disusunnya.39

1.8.5. Analisis bahan hukum.

Analisa dapat dirumuskan sebagai suatu proses penguraian secara sistematis dan konsisten terhadap gejala-gejala tertentu. Penguraian secara sistematis terhadap gejala-gejala atau data-data yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya dianalisa secara kuantitative. Kemudian mengidentifikasi dari data yang terkumpul dari bahan primer dan sekunder serta dilakukan dengan teknik argumentasi dan teknik sistemalisasi : Teknik argumentasi yaitu penilaian yang didasarkan pada alasan-alasan yang bersifat penalaran pendalaman hukum. Dengan teknik sistematik ini yakni dengan mencari eterkaitan suatu norma hukum diantara peraturan perUndang-Undangan yang diteliti. Namun dari hasil analisa tersebut diharapkan dapat diperoleh hasil atau kesimpulan atas permasalahan yang diangkat khususnya yang berkaitan dengan wewenang hukum dan HAM dalam pemberian pembebasan bersyarat.

39

Soejono Soekanto dan Srimamuji, Penelitian Hukum Normatif ( Suatu Tinjauan Singkat) PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1985, hal.30

Dokumen terkait