KONSEP PERANCANGAN
5.1. Tema Rancangan
5.2.1. Konsep Bentuk Massa Bangunan
• Bentuk Massa Bangunan
c. Bentuk Massa Gedung DPRD 2 buah Persegi panjang yang digabungkan dan disesuaikan dengan fungsi dasar bangunan.
4 buah segi tiga yang difungsikan sebagai ruang terbuka hijau yang
ada disekeliling bangunan. a. Denah Bangunan Sasadu
Sosoran bangunan Sasadu yang berbentuk
persegi delapan.
Denah bangunan Sasadu yang berbentuk Persegi.
Atap bangunan Sasadu berupa atap Pelana yang
berada diatas sosoran.
Gambar 5.8. Konsep Bentuk Massa Bangunan
b. Bentuk geometri yang didapat dari bentuk dasar bangunan Sasadu
Bentuk persegi panjang adalah bentuk dari sosoran atap bangunan Sasadu yang dipecah.
Sosoran bangunan Sasadu yang di pecah sehingga didapatkan 4 buah
113
Seperti terlihat pada gambar 5.8. diatas, ide bentuk persegi panjang muncul dari tipologi bentuk yang diambil dari bentuk dasar sosoran atap bangnan Sasadu yang dimodifikasi. Konsep bentuk massa yang digunakan pada rancangan gedung ini masih mengandalkan bentuk dasar geometri yaitu persegi panjang yang muncul dari penataan ruang-ruang di dalamnya.
• Bentuk Atap Bangunan
Atap bangunan Sasadu adalah atap pelana yang memiliki sosoran dibawahnya yang berbentuk persegi delapan. Atap pelana pada bangunan Sasadu memilii ciri khusus yang terletak pada kedua ujung atap yang menjorok keluar, seperti terlihat pada gambar 5.9. dibawah ini.
Atap Gedung DPRD kabupaten Halmahera Selatan mengacu pada atap bangunan Sasadu yang dimodifikasi dengan menyesuaikan pada bentuk massa bangunan dan juga menambahkan unsur lengkung pada ujung atap yang menjorok keluar, seperti terlihat pada gambar 5.10. dibawah ini.
a. Atap bangunan Sasadu b. Ujung atap Sasadu yang
menjorok keluar Gambar 5.9. Atap bangunan Sasadu
b. Atap bangunan Sasadu a. Disesuaikan dengan bentuk massa
bangunan
d. Disesuaikan dengan bentuk massa bangunan c. Unsur
Lengkung Gambar 5.10. Konsep atap bangunan
114
a. Atap Gedung DPRD kabupaten Halmahera Selatan yang berada diarea tengah. Pada bagian tengah menggunakan atap pelana yang dimodifikasi pada ujung atap yang menjorok keluar dan juga adanya unsur lengkung yang juga terdapat pada ujung atap.
b. Pada bagian sayap, atap gedung agak berbeda dengan adanya permainan atap yang lebih dominan. Seperti pada atap bagian tengah, atap yang berada pada sayap gedung ditata sehingga membentuk 4 arah mata angin yang juga menjadi kepercayaan dari masyarakat setempat.
Terlihat ujung atap pelana dan juga unsur lengkung yang terdapat pada bagian tengah
gedung.
115 5.2.2. Konsep Tampilan
Bangunan Sasadu memiliki proporsi yang berbeda-beda mulai dari atap, badan, dan juga alas (kaki) bangunan. Bangunan Sasadu memiliki proporsi atap yang lebih tinggi dari pada badan dan alas (kakinya), seperti terlihat pada gambar 5.12. dibawah ini.
Mengacu kepada bangunan Sasadu, Gedung DPRD Kabupaten Halmahera Selatan juga memiliki komposisi bangunan yang memiliki atap lebih tinggi dan dominan dari pada badan dan alasnya (kakinya). Seperti terlihat pada gambar 5.13. dibawah ini.
Atap bangunan Sasadu memiliki
dimensi 1,5 x lebih tinggi dari pada badan dan alas banngunan.
Badan banngunan Sasadu lebih kecil dari pada atapnya dan tidak memiliki dinding
masif .
Gambar 5.12. Proporsi Bangunan Sasadu
Atap Gedung DPRD memiliki
dimensi yang lebih tinggi dari
pada badan gedung. Badan Gedung DPRD lebih kecil dari pada atapnya.
Gambar 5.13. Proporsi Gedung DPRD Kabupaten Halmahera Selatan
116 5.2.3. Konsep Ruang Dalam
Kosep sirkulasi ruang yang digunakan pada rancangan Gedung DPRD kabupaten Halmahera Selatan menggunakan sirkulasi Linier atau searah, seperti terlihat pada gambar 5.14. dibawah ini.
Konsep interior ruang tetap mengacu pada metode rancang yaitu “Tangible Metaphor” dari bangunan Sasadu yaitu menggunakan elemen-elemen material alam yang terdapat pada bangunan Sasadu. Unsur kayu yang merupakan unsur dominan yang ada pada bangunan Sasadu menjadi penyelesaian dalam merancang interior gedung, seperti terlihat pada gambar 5.15. dibawah ini.
Gambar 5.15. Interior Ruang Sidang Paripurna Sirklasi ruang (Linier) pada bangunan
Sasadu
Sirklasi ruang (Linier) diaplikasikan pada rancangan
: Sirkulasi Anggota DPRD : Sirkulasi Sekwan Gambar 5.14. Sirkulasi Ruang
117 5.2.4. Konsep Ruang Luar
Gedung DPRD merupakan pusat dari semua kegiatan para anggota DPRD dan juga Sekwan. Perletakan Gedung DPRD di tengah site sebagaimana posisi Bangunan Sasadu yang perletakannya juga berada di tengah perkampungan agar mudah diteemui. seperti terlihat pada gambar 5.16. disamping ini.
Site Gedung DPRD berada tepat pada jalan utama yang terdapat pada kawasan pemerintahan. Penempatan pintu masuk dan keluar site utama berada pada jalan primer yaitu pada Jl. Alteri Sekunder dan pada jalan sekunder yaitu pada Jl. Kolektor Sekunder digunakan sebagai alternatif masuk dan keluar site bagi para Anggota DPRD dan Sekwan,seperti terlihat pada gambar 5.17. dibawah ini.
Kebiasaan masyarakat setempat pada dasarnya lebih sering menghabiskan waktu mereka dikebun mereka masing-masing. Masyarakat setempat akan berkumpul pada bangunan Sasadu apabila ada acara adat, dan lain-lain. Dengan demikian ruang terbuka hijau yang diperuntukan sebagai tempat bertemunya masyarakat umum
Gambar 5.16. Penempatan massa utama
Gambar 5.17. Penempatan enterece site & out site Massa Utama
118
dengan para anggota DPRD dalam menyampaikan aspirasi mereka disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Halmahera pada umumnya dan Halmahera selatan pada khususnya. Ruang terbuka Hijau juga dimanfaatkan sebagai area olah raga yang dapat di gunakan oleh semua pihak, baik itu anggota DPRD, Sekwan , maupun masyarakat umum,seperti terlihat pada gambar 5.18. dibawah ini.
Ruang terbuka umum digunakan sebagai lapangan upacara yang digunakan oleh para Sekwan yang berada tepat didepan Gedung DPRD. Ruang terbuka umum juga digunakan sebagai lahan parkir Gedung DPRD.
Konsep ruang luar site gedung DPRD memaksimalkan ruang terbuka hijau yang difungsikan sebagai tempat bertemunya anggota DPRD dengan masyarakat umum dan juga dimanfaatkan sebagai area olah raga yang dapat di gunakan oleh semua pihak, seperti terlihat pada gambar 5.19. disamping ini.
Gambar 5.18. Penempatan RTU & RTH
Gambar 5.19. Zoning Site
Ruang Terbuka hijau yang berfungsi sebagai area olahraga dab juga sebagai tempat jajak pendapat dengan masyarakat
Ruang Terbuka yang berfungsi sebagai tempat parkir
Ruang Terbuka yang berfungsi sebagai lapangan upacara dan juga
sebagai tempat parkir Ruang Terbuka yang berfungsi sebagai tempat parkir Ruang Terbuka yang berfungsi sebagai tempat parkir Anggota Dewan
119
Penyelesaian masalah resapan air hujan agar dapat langsung diserap oleh tanah ialah dengan memberikan area hijau berupa taman dan ruang terbuka hijau pada site, selain sebagai area resapan air hujan taman dan ruang terbuka hijau dapat memberikan kesan alami, sejuk, dan rindang. Selain itu juga, ruang terbuka hijau juga dimanfaatkan sebagai tempat bertemunya anggota DPRD dengan masyarakat yang ingin menyampaikan permasalahan mereka. Sedangkan area perkerasan sebagai area pejalan kaki dikombinasikan dengan paving stone sehingga air hujan dapat langsung diserap oleh tanah, seperti terlihat pada gambar 5.20. dibawah ini.
Pada area perkerasan sebagai area pedestrian atau area pejalan kaki, lapangan upacara, dan parkir menggunakan material paving stone, material batu ini mempunyai pori dan terdapat nat atau celah pemasangan sehingga air hujan dapat masuk dan meresap kedalam tanah,seperti terlihat pada gambar 5.21. dibawah ini.
Gambar 5.20. Area Resapan
Gambar 5.21. Penggunaan paving stone pada area pedestrian atau area pejalan kaki, upacara, dan parkir
Paving Stone Paving Stone
120 5.2.5. Konsep Struktur dan Material
Konsep struktur pada gedung DPRD Halmahera Selatan menggunakan struktur modul kolom yang disesuikan dengan ruang-ruang yang dibutuhkan, menyesuaikan dengan modul ruang yang terkecil hingga yang terbesar. Konsep struktur atap pada gedung DPRD kabupaten Halmahera Selatan menggunakan atap rangka yang dimodifikasi menggunakan Space Frame dengan menggunakan rangka besi siku.seperti terlihat pada gambar 5.22. dibawah ini.