E. Pembahasan Hasil Penelitian
2. Konsep Bentuk rumah tradisional bangsawan Bugis Bone
Pada pembahasan konsep bentuk rumah tradisional bangsawan Bugis Bone, dimulai pada pandangan filosofis kosmologis bangsawan Bugis Bone terhadap bentuk dasar rumah tradisionalnya yang terbentuk oleh susunan ruang-ruangnya secara vertikal yaitu: Awa Bola (ruang bawah rumah), Ale Bola (ruang tengah rumah) dan Rakkeang (ruang atas rumah).
Susunan ruang secara vertikal sebagai faktor pembentuk dasar rumahnya dianalogikan sebagai bentuk filosofis dirinya yang terdiri atas: kaki (aje), badan (ale) dan kepala (ulu), sebagai mikrokosmos yang hidup sebagai jati diri ciptaan Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Esa), sebagai manivestasi Konsep Mitologis Attauriolong suku Bugis Bone yang percaya bahwa makrokosmos ini terbagi atas tiga dunia yaitu: dunia bawah (Uri Liyu), dunia tengah (Paretiwi) dan dunia atas (Botting Langi) (Mattulada, 1995).
Ketiga bagian dunia tersebut; Boting Langi yang dianggap memiliki hirarki bentuk paling tinggi, bukan hanya karna posisinya akan tetapi pada dunia tersebut tempat bersemayamnya Dewata SeuwaE sebagai pengatur bentuk kehidupan dari ketiga dunia tersebut
Bentuk cenderung mendominasi persepsi manusia karena dengan bentuk dapat lebih memahami rasa ruang. Bentuk-bentuk yang lebih mudah dipahami adalah bentuk-bentuk tetap dengan jumlah susunan yang tidak terlalu banyak (Kandinsky, 1979).
Gambar 4.32. Manivestasi Bentuk Rumah Tradisional Bangsawan Bone Sumber: Analisis penulis, 2020
Makrokosmos sebagai bentuk Keseluruhan alam semesta yang mempunyai daya hidup dan tata aturan yang rapi di manivestasikan pada bentuk rumah tradisional bangsawan Bugis di Bone, dengan lambang makrokosmos dapat terlihat pada struktur susunan bentuk arsitektur rumahnya yang terdiri dari tiga susunan ruang yang melambangkan bentuk dunia atas pada rakkeang dan bentuk dunia tengah pada ale bola serta bentuk dunia bawah pada awa bola
Sedangkan lambang mikrokosmos sebagai bentuk jati diri bangsawan Bugis Bone dapat terlihat dari masing-masing bentuk fasad rumah yang merupakan manifestasi bagian tubuh manusia, yaitu timpa laja sebagai kepala (coppo bola) dan renring bola sebagai badan rumah serta alliri bola sebagai kaki rumah.
Rumah tradisional bangsawan Bugis Bone bukan sekedar tempat tinggal atau obyek materil yang megah dan berwibawa, namun bentuk rumah tradisionalnya lebih diarahkan kepada kelangsungan hidup manusia secara
kosmis sebagai symbol pengatur pemerintahan didaerahnya, Olehnya itu struktur rumah tradisionalnya sangat dipengaruhi oleh pemahaman atas struktur kosmos yang dipahami secara turun temurun.
Ruang universal atau jagad raya tidak terbatasi dan tidak mempunyai definisi, pada saat suatu unsur diletakkan pada suatu bidang barulah hubungan visualnya terbentuk. Ketika unsur-unsur lain mulai diletakkan pada bidang tersebut, terjadilah hubungan majemuk antara ruang dan unsur-unsur tersebut maupun antara unsur yang satu dengan unsur lainnya. Ruang oleh karenanya terbentuk dari adanya hubungan-hubungan unsur tersebut (Ching, 2000). a. Struktur bola arung (rumah tradisional bangsawan) Bugis Bone
Struktur bola arung di Bone, ukuran Panjang dan lebar serta tinggi rumahnya selalu dianalogikan dengan bagian-bagian bentuk tubuh pemilik rumah. Hal ini dianggap berpengaruh terhadap nasib, keselamatan dan keberuntungan penghuninya, yang didasari oleh pandangan mitologis bugis bahwa rumah merupakan manivestasi dari wujud manusia yang mempunyai kepala, badan dan pusar, serta kaki (Nurhayati, 2017).
Struktur rumah tradisional bangsawan Bugis Bone berbentuk rangka dengan susunan strukturnya dari atas kebawah terdiri dari: umpak batu alam yang dibentuk trapesium sebagai pondasi tiang-tiang kayu yang besar dan tinggi sebagai kaki-kaki rumahnya, sedangkan badan rumahnya terdiri dari tiang dan balok-balok pipih yang dihubungkan satu sama lain membentuk rangka persegi empat yang kaku sebagai struktur dasar lantai dan dinding kayu rumahnya, sedangkan struktur atap berbentuk segi tiga massif sebagai kepala rumahnya, yang kesemua struktur rangkanya berbahahan kayu.
Sistim struktur ini oleh kelompok bangsawan Bugis di Bone diistilahkan sebagai bentuk Mappasituju Aju yang artinya Mencocokkan atau
menyesuaikan susunan berbagai macam bentuk ukuran kayu, Sehingga deretan tiang-tiang kayu yang besar dan tinggi pada rumah tradisional Bangsawan Bugis Bone dapat berdiri kokoh oleh ikatan satu sama lain balok balok kecil horisontal dengan bentangan yang cukup panjang dan saling menguatkan tanpa harus menggunakan paku sebagai pengakunya.
Mappasituju Aju disimbolkan sebagai bentuk Sipakatuju Rupa-rupana Aju’e (saling mendukung berbagai bentuk kayu) yang dimaknai oleh kelompok Bangsawan Bugis di Bone secara filosofis adalah Kerajaan yang besar harus memiliki Pemimpin yang kuat dan didukung oleh masyarakatnya yang sejahtera, tanpa harus menggunakan kekerasan untuk memakmurkannya.
Hal unik dari wawancara bersama para Budayan Bone, yang paling banyak didiskusikan pada system struktur tiang rumah tradisional bangsawan Bugis Bone adalah Posi Bola. Menurut para budayawan Bone: dahulu hal yang paling sakral pada pembangunan awal sistim struktur rumah Bangsawan adalah penentuan titik Alliri Posi’ Bola atau tiang pusat rumah. Terlalu banyak ritual-ritual aturan pang’ade’keng (adat) yang sifatnya sakral dalam pengerjaannya. Menurut Mardanas (1985), suku Bugis Makassar dahulu menganut kepercayaan Attau riolong yang mengajarkan Rakkeang (para-para/loteng), Ale bola (badan rumah) dan Awa bola (kolong rumah) itu terpusat pada Posi bola yaitu bagian yang sakral.
Penentuan posisis Posi’ Bola pada struktur rumah tradisional bangsawan Bugis di Bone, yaitu: Jika rumah terdiri dari tiga petak maka letak Posi’ bola pada deretan baris kedua alliri dari depan dan baris kedua deretan alliri dari samping kanan. Apabila jumlahnya lima petak atau lebih maka letak
Posi’ Bola pada deretan baris ketiga dari depan dan deretan baris kedua dari samping kanan.
Posi’ Bola sebagai tiang (Alliri) pada rumah tradisional bangsawan Bugis Bone di simbolkan sebagai Indo Bola yang diartikan sebagai Induk rumah. Dimaknai secara filosofis sebagai Ibu yang selalu memberi kehidupan dalam jiwa rumah tangga yang disebut Mappatuwo Bola, Dimana Ibu memilik kedudukan terhormat yang melahirkan dan menjaga serta membesarkan anak-anaknya dalam lingkungan keluarganya.
Gambaran Sistem Hirarki ini yang dahulu dianut oleh bangsawan di Bone, meyakini bahwa tidak ada kesetaraan antara manusia tapi setiap orang memiliki kedudukan tertentu yang secara bersamaan bisa lebih tinggi maupun lebih rendah. Dalam hidup social bermasyarakat Bangsawan suku Bugis di Bone, peran laki-laki lebih dominan dan aktif dibanding perempuan, namun Ibu (perempuan) sebagai pemberi kehidupan dan jiwa dalam sebuah rumah (keluarga) yang sangat dihormati dan di hargai. Hal ini tergambar dalam posisi Posi Bola Pada rumah tradisional Bangsawan Bugis di Bone b. Komposisi fasad rumah tradisional bangsawan Bugis Bone
Berdasarkan pada hasil penelitian bentuk dasar komposisi fasad rumah tradisional bangsawan Bugis di Bone terdapat keseragaman pada masing-masing sampelnya, yang terdiri dari bentuk segi tiga pada Timpa Laja yang menjulang keatas sebagai kepala rumah dan bentuk segi empat melebar kesamping kiri-kanan dan memanjang dari muka ke kebelakang yang terkesan massif pada Ale Bola sebagai badan rumah, serta Bentuk Alliri (tiang rumah) yang kokoh dan berderet rapi sebagai kaki penyangga rumah pada Awa Bola.
Sehingga analisis pembahasan konsep bentuk Arsitektur rumah tradisional Bangsawan Bugis di Bone ini mengerucut pada tiga besaran komposisi fasade rumahnya yaitu dimulai dengan pembahasan bentuk segitiga Timpa Laja, kemudian bentuk segi empat Ale Bola dan selanjutnya bentuk Alliri Awa Bola.