BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1.6 Konsep dan Landasan Teori
Dalam rangka memperjelas makna-makna peristilahan yang digunakan dan berhubungan dengan topik tesis ini, maka penulis akan menjelaskan apakah konsep dan teori itu. Penulis menggunakan ini agar tidak terjadi pendistorian makna. Konsep adalah rancangan idea atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa kongkret. Dalam penulisan tesis ini konsep yang diuraikan adalah tentang: (A) musik, (B) tari, (C) Gubang, (D) struktur, dan (E) fungsi. Konsep ini terutama mengacu kepada pandangan para ahli di dunia pengetahuan seni dan dari kalangan masyarakat pendukungnya.
(A) Musik pengiring, sebagai pengiring dalam tari Gubang yang berfungsi sebagai hiburan dan awalnya ritual, musik pasti mengandung unsur-unsur yang bersifat menghibur hal ini dapat dinilai dari melodi ataupun liriknya, Sloboda Djohan (2005:41) musik melekat hampir pada seluruh aspek kehidupan manusia dan musik tersebut sangat erat kaitannya dengan kegiatan-kegiatan manusia dalam kehidupan sehari-hari dimana bila sering mendengarkan musik sebagai pelepas kesalahan, hiburan dan lain sebagainya.” Dari pernyataan diatas fungsi musik
31 dalam tari Gubang adalah sebagai hiburan tersendiri bagi pemainnya, yang dilakukan secara terstruktur dan menjadi hiburan bagi masyarakat luas.
Menurut Arthur Schopenhauer musik adalah salah satu jalan untuk manusia keluar dari dunia yang penuh dengan penderitaan, sebab manusia hanya memiliki dua jalan yaitu estetis (seni) dan etis (perbuatan baik). Musik juga bisa sebagai sarana untuk menghantarkan manusia untuk memasuki alam bawah sadar ataupun alam gaib. Untuk memahami fungsi musik dalam kehidupan manusia Arhtur Schopenhauer menjlaskan beberapa fungsi musik, sebagai berikut: (1) sarana hiburan, dalam hal ini, musik merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas harian, serta sebagai sarana rekreasi dan ajang pertemuan dengan warga lainnya. Umumnya masyarakat Indonesia sangat antusias dalam menonton pagelaran musik.
(2) Sarana ekspresi diri, pada zaman dahulu, pada masa kerajaan memerintah di daerah-daerah di Indonesia, setiap ada tamu kerajaan yang datang maka akan disambut oleh iringan-iringan musik tradisional sebagai upacara penyambutan dan sebagai sarana penghibur bagi para tamu kerajaan untuk melepas lelah. Bagi para seniman musik (baik pencipta lagu maupun pemain musik), musik adalah media untuk mengekspresikan diri mereka. Melalui musik, mereka mengaktualisasikan potensi dirinya. Melalui musik pula, mereka mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan, dan cita- cita tentang diri, masyarakat, Tuhan, dan dunia.
(3) Sarana komunikasi, di beberapa tempat di Indonesia, bunyi-bunyi tertentu yang memiliki arti tertentu bagi anggota kelompok masyarakatnya. Umumnya, bunyi- bunyian itu memiliki pola ritme tertentu, dan menjadi tanda bagi anggota masyarakatnya atas suatu peristiwa atau kegiatan. Alat yang umum
32 digunakan dalam masyarakat Indonesia adalah kentongan, bedug di masjid, dan lonceng di gereja.
Pada zaman dahulu, musik digunakan sebagai sarana komunikasi antara jenderal dan prajuritnya dalam peperangan, hal ini terlihat dari genderang yang mereka bawa pada saat peperangan. Bunyi dan ritme genderang disini bermacam-macam sesuai dengan perintah yang diberikan sang jenderal kepada penabuh genderang, ada ritme untuk menyerang, ada ritme untuk bertahan, dan ada pula ritme untuk mundur. Dari penjelasan di atas jelas sekali bahwa musik dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi (sumber: http://tkhusnul.blogspot.com /2012/03/fungsi-musik_25.html).
Musik selain memiliki norma-norma yang terdapat dalam syair juga memiliki fungsi salah satunya musik berfungsi sebagai pengiring dalam suatu tarian, puisi, dan karya seni lainnya yang mampu mempertegas kesan dramatis dalam suatu objek yang diiringinya. Musik pengiring sebenarnya disadari atau tidak disadari telah melekat erat dalam masyarakat. Baik pada zaman dahulu maupun pada era modern saat ini. Musik bisa dikatakan sebagai sarana komunikasi antar individu, bukan hanya bahasa saja yang merupakan alat komunikasi, tetapi musik juga bias dijadikan sarana untuk berkomunikasi. Biasa melalui nada dan harmonisasi yang keluat dari alat musik, maupun dari irama musik itu sendiri. Menurut Murgianto (1983 : 43) iringan musik dibagi menjadi dua bagian, yakni: (1) Iringan internal, yaitu berasal dari penarinya, dapat terdiri dari suara, tarikan nafas, tepukan tangan, depakan kaki ke lantai, hentakan tombak ke lantai, dan bunyi-bunyian yang timbul karena pakaian atau perhiasan yang dikenakannya; (2) Iringan
eksternal, yaitu berasal dari musik terdiri dari talempong, orkestra musik simfoni, dan juga iringan-iringan suara atau musik rekaman.
33 Jadi dapat disimpulkan bahwa musik pengiring memiliki peranan yang sangat penting, tidak peduli darimana sumber music itu berasal. Dua jnis sumber musik pengiring dalam tari biasa berasal dari internal.penari seperti dari vokal dari mulut penari, tepukan tangan, hentakan kaki, dan berasal dari eksternal seperti petikan alat musik berdawai atau irama yang dihasilkan dari pukulan instrument perkusi dan instrument lainnya.
Musik dan tari adalah satu kesatuan yang tidak biasa dipisahkan dan merupakan denyut nadi dalam satu tarian. Hal ini esuai dengan pendapat Oha Graham (1997:44) yang menyatakan bahwa:
(1) Memberi irama (membantu mengatur waktu) kita kenal bahwa tari itu terdiri dari gerak-gerak yang berirama, mengatur atau menentukan irama, sangat sulit menari tanpa musik. Dimana irama dalam tari yaitu pengatur waktu (tempo) cepat dan lambatnya dari suatu rangkaian gerak, dan perlu saling mengisi dan saling mengiringi;
(2) Memberi ilustrasi atau gambaran suasana. Dalam tari, suasana atau ilustrasi sangat erat hubungannya dengan watak penari, terutama pada tari tradisional yang sangat memerlukan berbagai suasana. Adapun watak dalam suasana tari antara lain watak luguh/ halus, watak lenyap/ ganjen, dan gagah
(3) Membantu mempertegas ekspresi gerak. Dalam tarian sudah barang tentu mempunyai tekanan-tekanan gerak yang diatur oleh tenaga. Mempertegas ekspresi gerak akan lebih sempurana di iringi atau di pertegas oleh hentakan instrumen musik sebagai pengiring tari.
(4) Ransangan bagi penari. Dalam kaitan musik iringan sebagai rangsangan bagi penari, Sudarsono (1997:46) mengatakan sebagai berikut.
34 ... elemen dasar dari tari adalah gerak dan ritme, Maka elemen dasar dari musik adalah nada Ritme dan Melodi. Sejak zaman prasejarah sampai sekarang dapat dikatakan dimana ada tari disitu pasti ada musik, musik dalam tari bukan hanya sekedar pengiring, tetapi musik adalah patner tari yang tidak boleh ditinggalkan, musik dapat memberikan suatu irama yang selaras sehingga dapat membantu mengatur ritme atau hitungan dan dapat juga memberikan gambaran dalam ekspresi suatu gerak.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa musik sangat berperan penting pada objek yang diiringinya, Selain untuk menambah semangat bagi yang diiringinya juga dapat sebagai simbol atau tema yang di bawakan. Contohnya jika temanya sedih, otomotis musik pengiringnya dapat menggunakan tempo lambat, atau dengan tema bahagia musik pengiringnya dapat menggunakan dengan tempo cepat. Tergantung dari objek yang diringi tersebut. Kesenian Gubang merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, antara musik dan tari, karena keduanya menggunakan tubuh manusia di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu menyajikan gubang. Tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.
(B) Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan. Gerakan tari berbeda dari gerakan sehari-hari seperti berlari, berjalan, atau bersenam. Menurut jenisnya, tari digolongkan menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru
Tari pada masyarakat Melayu merupakan salah satu budaya yang diwariskan para leluhurnya, yang digunakan dalam berbagai aktifitas, baik upacara,
35 hiburan maupun pertunjukan. Tari Gubang merupakan tari yang disajikan sebagai tari rakyat yang disajikan sebagai hiburan dalam berbagai kegiatan.
Tari pada masyarakat Melayu merupakan salah satu budaya yang diwariskan para leluhurnya, yang digunakan dalam berbagai aktivitas, baik upacara, hiburan maupun pertunjukan. Tari Gubang merupakan tari yang disajikan sebagai tari rakyat yang disajikan sebagai hiburan dalam berbagai kegiatan.
(C) Kata Gubang berasal dari kata gebeng yang berarti perahu dalam bahasa Melayu dialek Asahan, yang kemudian beralih ucapan menjadi gubang dan dalam judul tari dituli Gubang. Dikatakan tari Gubang, karena tari ini merupakan pengekspresian dari ungkapan para nelayan untuk menyatakan kegembiraan dengan menari bersama di atas perahu dan di pasir pantai.
Di dalam konteks kebudayaan Melayu secara makro (Dunia Melayu),
perahu yang salah satu jenisnya gubang dapat diartikan sebagai kendaraan air (biasanya tidak bergeladak), yang lancip pada kedua ujungnya dan lebar di tenghnya. Perahu bertambatan, dagang bertepatan adalah pribahasa yang berarti usaha dagang yang teratur dan sesuai tempat (lokasi)nya. Selanjutnya pribahasa perahu papan bermuat intan, artinya adalah sesuatu yang tidak layak diperjodohkan. Selanjutnya perahu sudah di tangan atau perahu sudah di air, pribahasa ini artinya adalah sudah siap sedia segala keperluan untuk melakukan pekerjaan. Kemudian terlongsong perahu boleh balik, terlongsong cakap tak boleh balik adalah pribahasa Melayu yang bermakna perkataan yang tajam kerap kali mencelakakan diri dan tidak dapat ditarik kembali, oleh sebab itu bila seseorang hendak bercakap, hendaklah dipikirkan masak-masak terlebih dahulu.
Selanjutnya masih di dalam kebudayaan Alam Melayu, perahu itu memiliki berbagai jenis termasuk gubang. Adapun jenis-jenis perahu di dalam budaya
36 Melayu adalah: (1) perahu bagong, perahu yang berukuran relatif besar; (2) perahu balang, yaitu perahu layar yang bertiang dua; (3) perahu belongkang, yaitu sampan berukuran relatif kecil yang terbuat dari sebatang pohon; (4) perahu bercadik yaitu perahu yang menggunakan penyangga di kanan dan kirinya sebagai penyeimbang; (5) perahu compreng, yaitu perahu di Jawa yang berfungsi untuk penyeberangan penumpangnya; (6) gubang, adalah perahu layar yang berasal dari pulau Sumatera, termasuk Sumatera Timur, Riau Kepulauan dan Riau Daratan, Bangka dan Belitung, dan lainnya; (7) perahu jolong-jolong yaitu perahu yang haluannya berparuh panjang; (8) perahu lading yaitu perahu kecil panjang bentuknya, terbuat dari batang pokok kayu; (9) perahu motor yaitu perahu tradisional yang dilengkapi dengan mesin penggera baling-balingnya; (10) perahu lepa yaitu perahu kecil dibuat dari sebuah batang kayu dan biasanya bercadik; (11) perahu mancung yaitu perahu yang bentuknya seperti seludang; (12) perahu mayang yaitu perahu yang fungsi utamanya menangkap ikan di laut; (13) perahu pukat, yaitu perahu besar untuk menangkap ikan di laut; dan (14) perahu sasak, yaitu rakit yang dibuat dari rangakian kayu, bambu, atau batang pisang (wawancara dengan para informan di Tanjung Balai 2014).
(D) Struktur adalah bangunan (teoritis) yang terdiri atas unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain dalam satu kesatuan. Struktur ini bisa dikaitkan dengan pengertian struktur social atau struktur masyarakat. Dalam kaitannya dengan tulisan ini, struktur yang dimaksud adalah merujuk kepada struktur pertunjukan tari dan musik. Struktur mencakup etika pembawaan tari dan musik, estetika tari maupun prosesnya.
37
1.6.2 Landasan Teori
Sebelum mengutarakan teori5
5
Yang dimaksud teori (theory) dalam tesis ini adlah berpandukan kepada konsep yang dikemukakan oleh Marckward et al., yang memiliki tujuh pengertian, yaitu: (1) sebuah rancangan atau skema yang terdapat dalam pikiran saja, namun berdasar pada prinsip-prinsip verifikasi dengan cara eksperimen atau pengamatan; (2) sebuah bentuk prinsip dasar ilmu pengetahuan atau penerapan ilmu pengetahuan; (3) abstrak pengetahuan yang selalu dilawankan dengan praktik; (4) penjelasan awal atau rancangan hipotesis untuk menangani berbagai fenomena; (5) spekulasi atau hipotesis, sebagai ide atau yang mengarahkan seseorang; (6) dalam matematika berarti sebuah rancangan hasil atau sebuah bentuk teorema, yang menghadirkan pandangan sistematis dari beberapa subjek; dan (7) ilmu pengetahuan tentang komposisi musik, yang membedakannya dengan seni yang dilakukan atau dieksekusi (Marckwardt et al., 1990:1302). Dalam dunia ilmu pengetahuan contoh-contoh teori ini ada yang khusus digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu saja, namun ada pula yang lintas disiplin, tergantung dari sifat dan fungsi teori tersebut. Dalam ilmu-ilmu seni misalnya yang khusus selalu digunakan adalah teori-teori struktural untuk bidang-bidang seni tertentu. Misalnya teori-teori weighted scale dan kantomerik untuk mengkaji struktur musik. Demikian pula teori koreometrik untuk mengkaji struktur tari. Namun ada pula beberapa teori yang digunakan lintas disiplin termasuk di bidang disiplin seni, seperti semiotika yang dipakai dalam disiplin linguistik, arsitektur, sastra, antropologi, etnomusikologi, antropologi teater, dan etnomusikologi. Demikian pula teori evolusi yang dipakai dalam disiplin bilogi, sejarah, sosiologi, antropologi, arkeologi, dan lainnya.
yang akan dipergunakan, terlebih dahulu penulis akan mengulas tentang apa itu teori. Teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, yang didukung oleh data dan argumentasi (Poerwadarminta dalan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 2005:1177). Teori merupakan alat, dasar, pijakan, kerangka atau acuan bagi para peneliti yang akan mengadakan penelitian. Teori diperoleh berdasarkan studi perpustakaan dari para ahli yang sesuai dengan bidang ilmu yang dikaji. Dengan
38 adanya teori, proses pengumpulan dan penganalisisan data bisa dilakukan dengan lebih terarah dan terencana.
Untuk itu, penulis menggunakan landasan teoritis sebagai pedoman berpikir dalam melaksanakan penelitian dan membahas hasil penelitian. Landasan teoritis pada penelitian ini diuraikan dalam tiga bagian (1) fungsionalisme, (2) strukturalisme (3) makna simbol, dan (4) bentuk penyajian.
1.6.2.1 Teori fungsionalisme
Menurut Lorimer et al., teori fungsionalisme adalah salah satu teori yang dipergunakan pada ilmu sosial, yang menekankan pada saling ketergantungan antara institusi-institusi (pranata-pranata) dan kebiasaan-kebiasaan pada masyarakat tertentu. Analisis fungsi menjelaskan bagaimana susunan sosial didukung oleh fungsi institus-institusi seperti: negara, agama, keluarga, aliran dan pasar terwujud. Sebagai contoh, pada masyarakat yang kompleks seperti Amerika Serikat, agama dan keluarga mendukung nilai-nilai yang difungsikan untuk mendukung kegiatan politik demokrasi dan ekonomi pasar. Dalam masyarakat yang lebih sederhana, masyarakat tribal, partisipasi dalam upacara keagamaan berfungsi untuk mendukung solidaritas sosial di antara kelompok-kelompok manusia yang berhubungan dengan kekerabatannya. Meskipun teori ini menjadai dasar bagi para penulis Eropa abad ke-19, khususnya Emile Durkheim, fungsionalisme secara nyata berkembang sebagai sebuah teori yang mengagumkan sejak dipergunakan oleh Talcott Parsons dan Robert Merton tahun 1950-an. Teori ini sangat berpengaruh kepada para pakar sosiologi Anglo-Amerika dalam dekade 1970-an. Broinslaw Malinowski dan A.R. Radcliffe-Brown, mengembangkan teori ini di bidang
39 antroplogi, dengan memusatkan perhatian pada masyarakat bukan Barat. Sejak dekade 1970-an, teori fungsional dipergunakan pula untuk mengkaji dinamika konflik sosial (Lorimer et al. 1991: 112-113).
Dalam mengungkapkan tentang teori fungsi, Fungsi musik dimasyarakat sangatlah beragam, diantaranya seperti : sebagai kepentingan keagamaan dan aliran kepercayaan tertentu. Musik dapat tercipta dari berbagai inspirasi dan pengalaman pribadi seorang komponis sebagai penciptaanya. Dalam hal pengiringan tari, musik berfungsi sebagai pembuat suasana, penyelaras ritme pola gerak penari, hingga penyeimbang bagi keharmonisan antara tari dan musik.
Radcliffe-Brown mengemukakan bahwa fungsi sangat berkait erat dengan struktur sosial masyarakat. Bahwa struktur sosial itu hidup terus, sedangkan individu-individu dapat berganti setiap masa. Dengan demikian, Radcliffe-Brown yang melihat fungsi ini dari sudut sumbangannya dalam suatu masyarakat, mengemukakan bahwa fungsi adalah sumbangan satu bagian aktivitaas kepada keseluruhan aktivitas di dalam sistem sosial masyarakatnya. Tujuan fungsi adalah untuk mencapai tingkat harmoni atau konsistensi internal, seperti yang diuraikannya berikut ini.
By the definition here offered ‘function’ is the contribution which a partial activity makes of the total activity of which it is a part. The function of a particular social usage is the contribution of it makes to the total social life as the functioning of the total social system. Such a view implies that a social system ... has a certain kind of unity, which we may speak of as a functional unity. We may define it as a condition in which all parts of the social system work together with a sufficient degree of harmony or internal consistency, i.e., without producing persistent conflicts can neither be resolved not regulated (Radcliffe-Brown, 1952:181).
40 Dengan tetap bertolak dari teori fungsi, yang kemudian mencoba menerapkannya dalam disiplin etnomusikologi, lebih lanjut secara tegas Merriam membedakan pengertian fungsi ini dalam dua istilah, yaitu penggunaan dan fungsi. Menurutnya, membedakan pengertian penggunaan dan fungsi adalah sangat penting. Para pakar etnomusikologi pada masa lampau, tidak begitu teliti terhadap perbedaan ini. Jika kita berbicara tentang penggunaan musik, maka kita menunjuk kepada keebiasaan (the ways) musik dipergunakan dalam masyarakat, sebagai praktik yang biasa dilakukan, atau sebagai bagian dari pelaksanaan adat- istiadat, baik ditinjau dari aktivitas itu sendiri maupun kaitannya dengan aktivitas-aktivitas lain. Lebih jauh Merriam menjelaskan perbedaan pengertian antara penggunaan dan fungsi sebagai berikut.
Music is used in certain situations and becomes a part of them, but it may or may not also have a deeper function. If the lover uses song to w[h]o his love, the function of such music may be analyzed as the continuity and perpetuation of the biological group. When the supplicant uses music to the approach his god, he is employing a particular mechanism in conjunction with other mechanism as such as dance, prayer, organized ritual, and ceremonial acts. The function of music, on the other hand, is enseparable here from the function of religion which may perhaps be interpreted as the establishment of a sense of security vis-á-vis the universe. “Use” them, refers to the situation in which music is employed in human action; “function” concerns the reason for its employment and perticularly the broader purpose which it serves (Merriam, 1964:210).
Kajian tentang fungsi musik dalam tari Gubang, ada beberapa teori yang dapat menjelaskannya antara lain: Alan P. Merriam mengatakan (1964:219), “ fungsi musik merupakan masalah yang sangat penting dalam etnomusikologi, karena hal ini menyangkut makna dan tujuan pemakaian musik dalam pandangan yang luas, artinya mengapa musik tersebut digunakan demikian.”
41 Berkenaan dengan fungsi musik, menurut Alan P. Merriam terdapat sekurang-kurangnya sepuluh fungsi musik, yaitu (1) fungsi pengungkapan emosional, (2) funsi penghayatan estetika, (3) fungsi hiburan, (4) fungsi komunikasi, (5) fungsi perlambangan (6) fungsi reaksi jasmani (7) fungsi pengesahan lembaga social dan upacara keagamaan, (8) fungsi yang berkaitan dengan norma-norma sosial, (9) fungsi kesinambungan kebudayaan, dan (10) fungsi pengintegrasian masyarakat. (1964 : 219 - 226)
Fungsi musik dimasyarakat sangatlah beragam, diantaranya seperti : sebagai kepentingan keagamaan dan aliran kepercayaan tertentu. Musik dapat tercipta dari berbagai inspirasi dan pengalaman pribadi seorang komponis sebagai penciptaanya. Dalam hal pengiringan tari, musik berfungsi sebagai pembuat suasana, penyelaras ritme pola gerak penari, hingga penyeimbang bagi keharmonisan antara tari dan musik.
Dalam hal ini fungsi musik yang dikaji adalah fungsi pengungkapan emosional,dan fungsi hiburan. Musik dalam tari Gubang mempunyai peran sebagai perantara emosional penari dalam mengekspresikan kegembiraan dengan iringan lagu didong. musik yang digunakan pun harus sesuai dengan masing-masing tahapan dalam penyajian. Sejalan dengan George dalam sinar (2007:1) musik adalah ekspresi kultural yang bersifat universal seperti halnya bahasa dan humor satu-satunya ikatan antara musik dan kehidupan adalah emosi, musik tidak terpakai jika tiada emosi. Dari pernyataan di atas, hal ini menunjukkan bahwa musik sebagai pengiring memberi rasa dalam ungkapan ekspresin gerak, sehingga tercipta suasana yang sedang dimainkan.
Fungsi musik sebagai hiburan , musik pasti mengandung unsur-unsur yang bersifat menghibur hal ini dapat dinilai dari melodi ataupun liriknya, sloboda
42 djohan (2005:41) musik melekat hampir pada seluruh aspek kehidupan manusia dan musik tersebut sangat erat kaitannya dengan kegiatan-kegiatan manusia dalam kehidupan sehari-hari dimana bila sering mendengarkan musik sebagai pelepas kesalahan, hiburan dan lain sebagainya”. Dari pernyataan diatas fungsi musik sebagai hiburan dalam tari Gubang adalah sebagai hiburan tersendiri bagi pemainnya, dan menjadi hiburan bagi masyarakat luas khususnya Kota Tanjung Balai.
Dari pernyataan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa fungsi musik pengiring dalam tari Gubang adalah sebagai perantara emosional penari, pemusik dalam menjalin komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada penonton dan mendapat respon yang baik dari penonton sehingga tercipta suasana yang dapat menghibur penonton.
Dalam kaitannya dengan tari Gubang pada kebudayaan Melayu di Kota Tanjung Balai, maka tari ini adalah salah satu aktivitas dari sekian banyak aktivitas etnik Melayu, yang tujuannya adalah untuk mencapai harmoni atau konsistensi internal. Tari Gubang dan musik iringannya adalah bahagian dari sistem sosial yang bekerja untuk mendukung tegaknya budaya Melayu.
Curt Sachs (1963:5) seorang ahli musik dan tari dari Belanda mengemukakan dalam bukunya yang berjudul World History of the Dance
mengutarakan bahwa fungsi tari secara mendasar ada dua, yaitu (1) Tari berfungsi untuk tujuan magis, dan (2) Tari berfungsi sebagai media hiburan atau tontonan. Pakar lainnya Gertrude Prokosch Kurath yang mengemukakan adanya 14 fungsi tari dalam masyarakat, yaitu (1) sebagai media inisiasi (upacara pendewasaan), (2) sebagai media percintaan, (3) sebagai media persahabatan atau kontak sesial, (4)
43 sarana untuk perkawinan atau pernikahan, (5) sebagai pekerjaan atau matapencaharian, (6) sebagai media untuk sarana kesuburan atas pcrtanian, (7) sebagai sarana untuk perbintangan, (8) sebagai sarana untuk ritual perburuan, (9) sebagai imitasi satwa, (10) sebagai imitasi peperangaa, (11) sebagai sarana pengobatan, (12) sebagai ritual kematian, (13) sebagai bentuk media untuk