Dalam publikasi ini terdapat beberapa variabel yang digunakan dalam menganalisa kondisi pembangunan manusia di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Konsep dan definisi dari variabel-variabel tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Angka Harapan Hidup pada waktu lahir (e0) adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur.
2. Angka Melek Huruf (AMH) penduduk dewasa merupakan proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.
3. Rata-rata Lama Sekolah (Mean Years Schooling - MYS) adalah rata- rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani.
4. Indeks Pendidikan merupakan indeks komposit yang merupakan rata- rata tertimbang dari indikator pendidikan, yaitu angka melek huruf penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah.
5. Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity – PPP), memungkinkan dilakukan perbandingan harga-harga riil antar provinsi dan antar kabupaten/kota mengingat nilai tukar yang biasa digunakan dapat menurunkan atau menaikkan nilai daya beli yang terukur dari konsumsi per kapita yang telah disesuaikan. Penghitungan didasarkan pada harga 27 komoditas yang ditanyakan pada modul konsumsi SUSENAS. Harga di Jakarta Selatan digunakan sebagai standar harga. PPP dihitung berdasarkan pengeluaran riil per kapita setelah disesuaikan dengan indeks harga
konsumen dan penurunan utilitas marginal yang dihitung dengan Formula Atkinson.
6. IPM merupakan rata-rata sederhana dari tiga komponen yaitu (1) lamanya hidup yang diukur dengan harapan hidup pada saat lahir; (2) tingkat pendidikan, yang diukur dengan kombinasi antara angka melek huruf pada penduduk dewasa (dengan bobot dua per tiga) dan rata-rata lama sekolah (dengan bobot sepertiga);
dan (3) tingkat kehidupan yang layak, diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan (PPP Rupiah).
Formula penghitungan IPM adalah sebagai berikut:
IPM = 1/3 [X(1) + X(2) + X(3)] ……… (1)
Masing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan perbandingan antara selisih suatu nilai indikator dan nilai minimumnya dengan selisih nilai maksimum dan nilai minimum indikator yang bersangkutan. Rumusnya dapat disajikan sebagai berikut ;
Indeks X(i)= X(i) - X(i)min / [X(i)maks - X(i)min] ……… (2) dimana :
X(1) : Indikator ke-i (i = 1, 2, 3)
X(2) : Nilai maksimum sekolah X(i)
X(3) : Nilai minimum sekolah X(i)
Nilai maksimum dan nilai minimum indikator X(i) disajikan pada tabel 1 Tabel 1
Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM Indikator Komponen
disesuaikan 1996 737.720 a)
300.000
a) Proyeksi pengeluaran riil/unit/tahun untuk propinsi yang memiliki angka tertinggi (Jakarta) pada tahun 2018 setelah disesuaikan dengan formula Atkinson. Proyeksi mengasumsikan kenaikan 6,5 persen per tahun selama kurun 1993-2018.
b) Setara dengan dua kali garis kemiskinan untuk propinsi yang memiliki angka terendah tahun 1990 (di daerah pedesaan Sulawesi Selatan Untuk tahun 1999, nilai minimum disesuaikan menjadi Rp. 360.000. Penyesuaian ini dilakukan karena krisis ekonomi telah menyebabkan penurunan daya beli masyarakat
secara drastis. Penambahan sebesar Rp. 60.000 didasarkan pada perbedaan antara ”garis kemiskinan lama” dengan ”garis kemiskinan baru” yang jumlahnya Rp. 5.000 per bulan atau setara dengan Rp. 60.000 per tahun.
Untuk pengukuran standar hidup layak, atau indeks ketiga, penghitungan didekati dengan menggunakan pengeluaran riil per kapita yang telah disesuaikan.
Untuk menjamin keterbandingan antar daerah dan antar waktu, dilakukan penyesuaian sebagai berikut:
1. Menghitung pengeluaran per kapita dari data modul SUSENAS (Y).
2. Menaikkan nilai Y sebesar 20% (=Y1), karena diperkirakan berdasarkan studi bahwa data dari SUSENAS lebih rendah sekitar 20%.
3. Menghitung nilai riil Y1 dengan mendeflasi Y1 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) (=Y2).
4. Menghitung nilai daya beli- Purchasing Power Parity (PPP) –untuk tiap daerah yang merupakan harga suatu kelompok barang, relatif terhadap harga kelompok barang yang sama di daerah yang ditetapkan sebagai standar, yaitu Jakarta Selatan.
5. Membagi Y2 dengan PPP untuk memperoleh nilai rupiah yang sudah disetarakan antardaerah (=Y3).
6. Mengurangi nilai Y3 dengan menggunakan formula Atkinson untuk mendapatkan estimasi daya beli (=Y4). Langkah ini ditempuh berdasarkan prinsip penurunan manfaat marginal dari pendapatan.
Angka IPM berkisar antara 0 hingga 100. Semakin mendekati 100, maka hal tersebut merupakan indikasi pembangunan manusia yang semakin baik. Berdasarkan nilai IPM, UNDP membagi status pembangunan manusia kedalam tiga kriteria yaitu:
rendah untuk IPM kurang dari 50, kategori sedang atau menengah untuk nilai IPM antara 50-80, dan tinggi untuk nilai IPM 80 keatas. Sedangkan untuk keperluan perbandingan antar kabupaten/kota tingkatan status menengah dirinci lagi menjadi menengah-bawah bila nilai IPM antara 50-66, dan menengah-atas bila nilai IPM antara 66-80.
Lebih lanjut, angka IPM suatu daerah menunjukkan jarak yang harus ditempuh (shortfall) untuk mencapai nilai maksimum, yaitu 100. Dengan kata lain, nilai tersebut mengukur keberhasilan dengan melihat apa yang telah dicapai dengan apa yang harus dicapai. Angka ini dapat diperbandingkan antardaerah. Sehingga merupakan tantangan bagi setiap daerah untuk mengurangi nilai shortfall.
Dengan menghitung rata-rata reduksi shortfall per tahun, dapat diperoleh perbedaan laju perubahan IPM selama periode waktu tertentu. Nilai reduksi shortfall yang lebih besar menandakan peningkatan IPM yang lebih cepat. Asumsi yang digunakan dalam pengukuran ini adalah bahwa laju perubahan tidak bersifat linier, laju perubahan cenderung melambat pada tingkat IPM yang lebih tinggi. Nilai reduksi shortfall juga dapat dihitung untuk masing-masing komponen IPM.
BAB III
TREND INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
A A
BAB III
TREND INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
Sebagai ukuran komposit tunggal, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengartikan tingkatan status pembangunan manusia di suatu wilayah yang kemudian akan berfungsi sebagai patokan dasar perencanaan jika dibandingkan:
a. Antarwaktu untuk memberikan gambaran kemajuan setelah suatu periode, atau
b. Antarwilayah untuk memberikan gambaran tentang tingkat kemajuan suatu wilayah relatif terhadap wilayah lain.
IPM merupakan indikator komposit tunggal yang walaupun tidak dapat mengukur semua dimensi dari pembangunan manusia tetapi mampu mengukur tiga dimensi pokok manusia yang dinilai mencerminkan status kemampuan dasar (basic capabilities) penduduk. Ketiga kemampuan dasari itu adalah:
a. umur panjang dan sehat yang mengukur peluang hidup ataupun harapan hidup
b. berpengetahuan dan berketerampilan, serta
c. akses terhadap sumber daya yang dibutukan untuk mencapai standar hidup layak
Untuk lebih memberikan petunjuk tentang status pembangunan manusia di suatu wilayah, sebagai alat ukur komposit, IPM harus dikaitkan dengan setiap indikator komponennya dan berbagai indikator lain yang relevan.
A. Trend Indeks Pembangunan Manusia
Sesuai dengan fungsinya sebagai suatu indikator, IPM dihitung untuk melihat keterbandingan antar wilayah atau daerah. Hal ini dimaksudkan untuk melihat posisi relatif pembangunan manusia di suatu wilayah dibandingkan wilayah lainnya. Untuk itu, dengan membandingkan besaran IPM Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dengan IPM kabupaten/kota lain di Provinsi Sulawesi Utara, maka dapat diperoleh gambaran mengenai posisi relatif pembangunan manusia di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dibandingkan wilayah lainnya di Sulawesi Utara.
Dengan melihat secara rinci terlihat bahwa terdapat tren positif pada besaran besaran IPM masing-masing Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara, di mana terdapat peningkatan nilai IPM pada setiap tahunnya. Ini berarti bahwa secara umum terdapat peningkatan pada bidang pendidikan, kesehatan dan pendapatan. Perbedaan terdapat pada tingkat kelajuan peningkatan IPM. Karena IPM tersusun dari beberapa komponen tersebut, maka peningkatan yang berbeda pada ketiga komponen tersebut akan menjadi pembeda tingkat kelajuan peningkatan IPM.
Ketersediaan infrastruktur juga mendukung aktivitas ekonomi suatu daerah.
Hal ini dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, sebagai daerah dengan kepadatan penduduk yang cukup
tinggi, merupakan pasar bagi setiap usaha ekonomi. Sehingga semakin membuka peluang bagi setiap masyarakat yang berada di perkotaan dalam berusaha bahkan melakukan diversifikasi usaha bagi peningkatan kesejahteraan.
Tabel 2
Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara 2004 – 2011
No. Kabupaten/Kota 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Tabel 3
Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara 2004 – 2011
No. Kabupaten/Kota 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1. Kab. Bolaang Mongondow 70,40 70,70 70,80 70,97 71,19 71,38 71,58 71,70 2. Kab. Minahasa 71,50 71,70 71,90 72,07 72,18 72,33 72,47 72,54 3. Kab. Kepulauan Sangihe 71,90 71,90 72,00 72,28 72,50 72,75 73,01 73,19 4. Kab. Kepulauan Talaud 70,20 70,30 70,70 70,86 71,29 71,59 71,89 72,12 5. Kab. Minahasa Selatan 71,40 71,30 71,50 71,72 71,89 72,09 72,28 72,41 6. Kab. Minahasa Utara 71,50 71,60 71,80 72,10 72,20 72,40 72,60 72,73 7. Kab. Bolaang Mongondow Utara 69,00 69,18 69,45 69,68 69,91 70,06 8. Kab. Minahasa Tenggara 69,50 69,66 69,77 69,90 70,03 70,10 9. Kep. Siau Tagulandang Biaro 68,00 68,18 68,31 68,46 68,62 68,71 10. Kab. Bolaang Mongondow Selatan 71,20 71,25 71,29 71,34 11. Kab. Bolaang Mongondow Timur 71,22 71,28 71,35 71,42 12. Kota Manado 72,00 72,00 72,10 72,26 72,37 72,50 72,64 72,70 13. Kota Bitung 69,60 69,60 69,90 70,08 70,20 70,35 70,50 70,59 14. Kota Tomohon 71,60 71,60 71,70 71,96 72,16 72,39 72,62 72,78 15. Kota Kotamobagu 70,90 71,08 71,35 71,58 71,80 71,96 Sulawesi Utara 71,00 71,70 71,80 72,00 72,01 72,12 72,22 72,33
Tabel 4
Angka Melek Huruf Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara 2004 – 2011
No. Kabupaten/Kota 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1. Kab. Bolaang Mongondow 98,50 98,60 98,61 98,61 98,22 98,23 98,29 98,29 2. Kab. Minahasa 99,50 99,50 99,52 99,52 99,52 99,68 99,71 99,71 3. Kab. Kepulauan Sangihe 98,40 98,50 98,50 98,50 98,50 98,54 98,70 98,70 4. Kab. Kepulauan Talaud 97,40 97,50 97,50 99,30 99,30 99,36 99,53 99,53 5. Kab. Minahasa Selatan 99,40 99,40 99,40 99,40 99,40 99,42 99,78 99,78 6. Kab. Minahasa Utara 99,50 99,50 99,68 99,68 99,68 99,70 99,74 99,74 7. Kab. Bolaang Mongondow Utara 98,30 98,30 98,30 98,31 98,39 98,39 8. Kab. Minahasa Tenggara 99,00 99,33 99,38 99,48 99,48 99,48 9. Kep. Siau Tagulandang Biaro 98,10 99,54 99,61 99,68 99,76 99,76 10. Kab. Bolaang Mongondow Selatan 98,21 98,31 98,32 98,32 11. Kab. Bolaang Mongondow Timur 99,38 99,50 99,51 99,52 12. Kota Manado 99,50 99,60 99,70 99,83 99,83 99,86 99,86 99,87 13. Kota Bitung 99,70 99,60 98,78 98,93 99,03 99,13 99,38 99,38 14. Kota Tomohon 99,60 99,60 99,83 99,83 99,83 99,84 99,84 99,84 15. Kota Kotamobagu 98,90 99,49 99,49 99,60 99,62 99,62 Sulawesi Utara 99,10 99,30 99,30 99,30 99,31 99,41 99,45 99,45
Tabel 5
Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara 2004 – 2011
No. Kabupaten/Kota 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1. Kab. Bolaang Mongondow 7,20 7,30 7,34 7,39 7,39 7,39 7,39 7,39 2. Kab. Minahasa 8,70 8,80 8,80 8,80 8,80 9,01 9,20 9,22 3. Kab. Kepulauan Sangihe 7,60 7,70 7,70 7,70 7,70 7,71 7,71 7,72 4. Kab. Kepulauan Talaud 7,80 7,90 8,21 8,47 8,47 8,65 8,75 8,78 5. Kab. Minahasa Selatan 8,40 8,40 8,44 8,54 8,54 8,54 8,75 8,75 6. Kab. Minahasa Utara 8,60 8,70 9,07 9,07 9,07 9,09 9,37 9,37 7. Kab. Bolaang Mongondow Utara 7,10 7,10 7,10 7,31 7,31 7,42 8. Kab. Minahasa Tenggara 8,00 8,08 8,08 8,09 8,39 8,39 9. Kep. Siau Tagulandang Biaro 7,00 8,24 8,24 8,30 8,45 8,45 10. Kab. Bolaang Mongondow Selatan 6,05 6,10 6,29 6,93 11. Kab. Bolaang Mongondow Timur 6,30 6,35 6,72 7,22 12. Kota Manado 10,40 10,50 10,50 10,58 10,58 10,59 10,60 10,88 13. Kota Bitung 8,90 9,20 9,20 9,20 9,20 9,20 9,42 9,42 14. Kota Tomohon 8,70 8,80 9,60 9,60 9,60 9,89 9,89 10,00 15. Kota Kotamobagu 7,50 8,85 8,85 9,00 9,12 9,14 Sulawesi Utara 8,60 8,80 8,80 8,80 8,80 8,82 8,89 8,89
Tabel 6
Pengeluaran Riil per Kapita yang Disesuaikan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara 2004 – 2011
( dalam Ribu Rupiah )
No. Kabupaten/Kota 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1. Kab. Bolaang Mongondow 596,30 605,90 606,67 607,31 608,55 612,39 617,02 621,25 2. Kab. Minahasa 608,20 612,40 613,14 615,99 619,74 621,74 624,74 628,37 3. Kab. Kepulauan Sangihe 609,80 616,50 620,54 623,94 628,55 633,60 636,09 640,04 4. Kab. Kepulauan Talaud 610,10 614,30 618,28 619,00 623,35 625,68 628,16 631,23 5. Kab. Minahasa Selatan 582,90 586,90 595,92 606,01 610,86 614,47 616,43 619,90 6. Kab. Minahasa Utara 599,80 609,40 611,34 617,82 622,71 624,14 626,56 630,43 7. Kab. Bolaang Mongondow Utara 605,90 615,13 620,13 622,01 624,89 628,18 8. Kab. Minahasa Tenggara 595,00 601,26 605,77 610,08 611,42 615,60 9. Kep. Siau Tagulandang Biaro 618,10 618,20 623,27 625,12 627,98 632,04 10. Kab. Bolaang Mongondow Selatan 589,52 593,25 595,40 598,36 11. Kab. Bolaang Mongondow Timur 607,37 610,81 612,19 614,62 12. Kota Manado 618,50 622,80 623,48 625,98 631,88 637,32 639,30 643,01 13. Kota Bitung 615,80 617,40 619,69 623,60 628,47 632,04 634,89 639,35 14. Kota Tomohon 599,90 604,00 612,02 616,19 621,61 622,79 624,98 629,18 15. Kota Kotamobagu 613,45 614,84 620,26 624,16 627,95 632,32 Sulawesi Utara 611,90 616,10 616,88 619,39 625,58 631,00 634,88 639,47
B. Grafik IPM Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Komponen
Grafik atau diagram yang menampilkan data atau hubungan antar data kumpulan data yang ditampilkan dalam bentuk gambar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, grafik berarti lukisan pasang surut suatu keadaan dengan garis atau gambar (turun naiknya hasil, statistik, dsb). Grafis, yang berasal dari bahasa Inggris graphic, adalah presentasi visual pada sebuah permukaan seperti dinding, kanvas, layar komputer, kertas, atau batu bertujuan untuk memberi tanda, informasi, ilustrasi, atau untuk hiburan.
Grafik 1.
Indeks Pembangunan Manusia
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Provinsi Sulawesi Utara
2006 – 2011
Grafik 2
Angka Harapan Hidup
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Provinsi Sulawesi Utara 2006 – 2011
71,80 72,00 72,01 72,12 72,22 72,33
69,00 69,18 69,45 69,68 69,91 70,06
66,00 68,00 70,00 72,00 74,00
2006 2007 2008 2009 2010 2011
Sulawesi Utara Bolaang Mongondow Utara
Grafik 3 Angka Melek Huruf
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Provinsi Sulawesi Utara 2006 – 2011
99,30 99,30 99,31 99,41 99,45 99,45
98,30 98,30 98,30 98,31 98,39 98,39
97,60 97,80 98,00 98,20 98,40 98,60 98,80 99,00 99,20 99,40 99,60
2006 2007 2008 2009 2010 2011
Sulawesi Utara Bolaang Mongondow Utara
Grafik 4
Rata-rata Lama Sekolah
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Provinsi Sulawesi Utara 2006 – 2011
8,80 8,80 8,80 8,82 8,89 8,89
7,10 7,10 7,10
7,31 7,31 7,42
7,00 7,40 7,80 8,20 8,60 9,00
2006 2007 2008 2009 2010 2011
Sulawesi Utara Bolaang Mongondow Utara
Grafik 5
Pengeluaran Riil per Kapita yang Disesuaikan
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Provinsi Sulawesi Utara 2006 – 2011
B. Indeks Pembangunan Manusia dan Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang timbul dalam
pembangunan bersama-sama dengan masalah pengangguran dan
kesenjangan yang ketiganya saling mengait. Dalam konteks pembangunan
manusia, masalah kemiskinan semakin menjadi primadona sejak krisis
ekonomi melanda Indonesia pada pertengahan 1997 lalu. Kemiskinan menjadi semakin sering didiskusikan karena adanya peningkatan jumlah penduduk miskin yang cukup tajam yang diakibatkan oleh krisis ekonomi tersebut (Herdiana, 2005).
Pembangunan kota tidak semata-mata diarahkan hanya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga ditekankan pada peningkatan pemerataan pendapatan, yang pada akhirnya diharapkan dapat mengurangi kesenjangan pendapatan antar golongan pendapatan dan penduduk bahkan antar wilayah sehingga dapat mengentaskan kemiskinan.
Berbagai kebijakan publik dalam pengentasan kemiskinan belum
menjadikan pembangunan manusia sebagai pusatnya. Pengentasan
kemiskinan masih diprioritaskan pada satu dimensi yakni pendekatan
pendapatan/income semata. Diperlukan pendekatan yang lebih multidimensi
yang mencakup pemenuhan hak dasar manusia. Pembangunan sumber daya
manusia dilakukan tidak hanya sekadar untuk memenuhi hak-hak dasar warga
negara tetapi juga untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan ekonomi
dan menjamin kelangsungan demokrasi dalam jangka panjang.
Grafik 6
Indeks Pembangunan Manusia dan Persentase Penduduk Miskin
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
BAB IV
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA TAHUN 2012
A