• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Konsep Pembiayaan

Pembiayaan merupakan salah satukegiatan pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit. Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dapat dibagi menjadi dua hal berikut:9

a. Pembiayaan Produktif

Yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan maupun investasi.

- Pembiayaan Modal Kerja

Unsur-unsur modal kerja terdiri atas komponen-komponen alat likuid (cash), piutang dagang (receivable), dan persediaan (inventory) yang umumnya terdiri atas persediaan bahan baku (raw material), persediaan barang dalam proses (work in process) dan persediaan barang jadi (finished goods). Oleh karena itu pembiayaan modal kerja merupakan salah satu atau kombinasi dari pembiayaan likuiditas (cash financing), pembiayaan piutang (receivable financing), dan pembiayaan persediaan (inventory financing).

9

Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani, 2001), h. 160-168

22 Dalam Bank Konvensional pemberian kredit modal kerja dengan cara memberikan pinjaman sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendanai seluruh kebutuhan yang merupakan kombinasi dari komponen modal kerja tersebut, baik untuk keperluan produksi maupun perdagangan untuk jangka waktu tertentu dengan imbalan berupa bunga.

Sedangkan pada Bank Syariah bukan hanya dengan peminjaman uang melainkan pihak bank membantu memenuhi kebutuhan modal kerja dengan cara menjalin partnership dengan nasabah, dimana bank bertindak sebagai penyandang dana (shahibul maal), dan nasabah sebagai pengusaha (mudharib). Skema pembiayaan semacam ini disebut dengan mudharabah (trust financing). Fasilitas ini dapat diberikan untuk jangka waktu tertentu, sedangkan bagi hasil dibagi secara periodik dengan nasabah yang disepakati.

- Pembiayaan Investasi

Pembiayaan investasi diberikan kepada para nasabah untuk keperluan investasi, yaitu keperluan penambahan modal guna mengadakan rehabilitasi, perluasan usaha, ataupun pendirian proyek baru. Ciri-ciri pembiayaan investasi adalah sebagai berikut:

1. untuk pengadaan barang modal;

2. mempunyai perencanaan alokasi dana yang matang dan terarah; 3. berjangka waktu menengah dan panjang.

23 dan pengendapannya cukup lama. Oleh karena itu, perlu disusun proyeksi arus kas (projected cash flow) yang mencakup semua komponen biaya dan pendapatan sehingga akan dapat diketahui berapa dana yang tersedia setelah semua kewajiban terpenuhi. Setelah itu, barulah disusun jadwal amortisasi yang merupakan angsuran (pembayaran kembali) pembiayaan.

Penyusunan proyeksi arus kas ini harus disertai pula dengan perkiraan keadaan pada masa yang akan datang, mengingat pembiayaan investasi membutuhkan waktu yang panjang. Untuk memperkirakannya perlu diadakan perhitungan dan penyusunan proyeksi neraca dan laba rugi (projected balance sheet and projected income statement) selama jangka waktu pembiayaan. Dari perkiraan tersebut akan diketahui kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba (earning power) dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya (solvency).

Melihat luasnya aspek yang harus dikelola dan dipantau maka untuk pembiayaan investasi bank syariah menggunakan skema musyarakah mutanaqishah. Dalam hal ini, bank memberikan pembiayaan dengan prinsip penyertaan, dan secara bertahap bank melepaskan penyertaannya dan pemilik perusahaan akan mengambil alih kembali.

Skema lain yang dapat digunakan Bank Syariah adalah al-ijarah al muntahia bit-tamlik, yaitu menyewakan barang modal dengan opsi diakhiri dengan pemilikan. Sumber perusahaan untuk pembayaran sewa ini adalah amortisasi atas barang modal yang bersangkutan, surplus dan

sumber-24 sumber lain yang dapat diperoleh perusahaan.10

b. Pembiayaan Konsumtif

Yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer (pokok atau dasar) dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer meliputi kebutuhan pokok baik berupa barang, seperti makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal maupun berupa jasa, seperti pendidikan dasar dan pengobatan. Adapun kebutuhan sekunder adalah kebutuhan tambahan yang secara kuantitatif maupun kualitatif lebih tinggi atau lebih mewah dari kebutuhan primer baik berupa barang, seperti kendaraan dan perhiasaan maupun jasa seperti pariwisata, hiburan dan sebagainya.

2. Risiko Pembiayaan

Sebagai suatu entitas bisnis, bank syariah akan selalu dihadapkan pada berbagai jenis risiko yang melekat pada kegiatan usahanya. Dimana risiko pembiayaan merupakan salah satu risiko yang harus diperhatikan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No.10 Tahun 2008 tentang Perbankan bahwasanya kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang diberikan oleh bank mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang sehat.

10

Muhyiddin Attiyah, al-Kasyasyaf al-Iqtisadi li Ayati Al-Qur’an al-Karim, dalam Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani, 2001), h.168.

25 Untuk mengurangi risiko tersebut, jaminan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah ada dalam arti keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank.

Oleh karena itu diperlukan manajemen atas resiko pembiayaan yang ada sebagai bagian dari manajerial bank syariah. Manajemen resiko pembiayaan tersebut dapat dilakukan dengan cara:11

1. Melakukan analisis terhadap stakeholder (deposan, debitur, pemilik saham) untuk menetapkan atau mengkaji toleransi risiko, posisi dan perilaku dari para stakeholder.

2. Memahami situasi atau peristiwa yang pernah diambil perusahaan yang dapat mendatangkan kerugian.

3. Melakukan penilaian atas risiko dan pengendalian yang ada. 4. Menyusun tanggapan atas risiko yang ada.

5. Menetapkan aktivitas pengendalian berupa program mitigasi risiko. 6. Mengkomunikasikan risiko dan manajemen risiko.

7. Melakukan pemantauan terhadap risiko dan pengelolaannya.

Selain itu sebagai bentuk manajemen atas risiko pembiayaan dibentuk peraturan mengenai kualitas aktiva produktif. Berdasarkan pasal 1 butir b Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.31/147/KEP/DIR tanggal 12 November

11

Robert Tampubolon, Manajemen Risiko Pendekatan Kualitatif untuk Bank Komersil, (Jakarta: Elex

26 1998, Kualitas Aktiva Produktif adalah penanaman dana bank baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan dana antar bank, penyertaan komitmen dan kontijensi pada transaksi rekening administratif.

Dalam mengantisipasi terjadinya risiko kerugian atas berbagai investasi dalam aktiva produktif maka ditentukan Pembentukan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Cadangan umum yang sekurang-kurangnya sebesar 1% dari total aktiva produktif;

b. Cadangan khusus untuk kredit atau pembiayaan yang diberikan sekurang-kurangnya sebesar 5% dari pembiayaan Dalam Perhatian Khusus (DPK), 15% dari pembiayaan yang digolongkan Kurang Lancar (KL), 50% dari pembiayaan yang digolongkan Diragukan (D), 100% dari pembiayaan Macet (M). Masing-masing setelah dikurangi nilai agunan tunai berupa giro, deposito, atau tabungan yang diblokir bank.Apabila jumlah PPAP lebih kecil dari seharusnya dibentuk maka jumlah kekurangan tersebut diperhitungkan sebagai pengurang modal inti perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM).

Dokumen terkait