• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

E. Konsep dan Ruang Lingkup Mualaf

Kata mualaf sendiri berasal dari bahasa Arab yang merupakan maf’ul dari kata alifa yang artinya menjinakkan, mengasihi. Sehingga kata mualaf dapat diartikan sebagai orang yang dijinakkan atau dikasihi. Seperti tertera dalam firman Allah SWT:

25Masrul Efendi Umar Harahap, “Manajemen Pemberdayaan..., h. 199

25

ِءۤاَرَقُفْلِل ُتٰقَد َّصلا اَمَّنِا ِلْيِب َس ْ ِفِ َو َ ْيِْمِرٰغْلاَو ِباَقِ رلا ِفَِو ْمُ ُبُْوُلُق ِةَفَّلَؤُمْلاَو اَ ْيَْلَع َ ْيِْلِمٰعْلاَو ِ ْيِْك ٰسَمْلاَو

ٌْيِْكَح ٌ ْيِْلَع ُ ٰ للّاَوِۗ ِ ٰ للّا َن ِم ًة َضْيِرَف ِِۗلْيِب َّسلا ِنْباَو ِ ٰ للّا

Artinya:” Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S.

At-Taubah [9]:60).

Dalam ayat di atas terdapat kata muallafah qulubuhum yang artinya orang- orang yang sedang digunakan atau dibujuk hatinya. Mereka dibujuk adakalanya karena merasa baru memeluk agama Islam dan imannya belum teguh. Karena belum teguhnya iman seorang mualaf, maka mereka termasuk golongan yang berhak menerima zakat. Hal ini dimaksudkan agar lebih meneguhkan iman para mualaf terhadap agama Islam.26

Dari segi istilah pengertian Islam mualaf adalah orang yang baru masuk agama Islam dalam beberapa tahun dan masih awam dalam pemahaman ilmu agama. Seseorang yang telah masuk Islam karena pilihan tentunya telah mengalami pergulatan yang sangat hebat dan memiliki pertimbangan yang sangat matang. Dia harus menundukkan hati, jiwa, dan raga nya untuk dapat menerima

26Fitriani,” Strategi Pembinaan Muallaf Oleh Dewan Dakwah Islamiyah Di Desa Marga Taqwa Natar Lampung Selatan Provinsi Lampung”, Skripsi (Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan, 2019) h. 34-35

26 dan meyakini kebenaran baru dan juga harus mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi dan sosial sebagai konsekuensi atas pilihannya tersebut.27

Mualaf merupakan sebutan bagi orang yang dilunakkan hatinya dan menurut pengertian istilah mualaf yaitu orang yang baru masuk Islam (pada masa penyebaran Islam) dan masih lemah imannya. Mualaf juga bisa diartikan sebagai orang yang dikehendaki agar hatinya cenderung atau tetap Islam, cenderung atau diharapkan dapat memberikan manfaat dalam melindungi kaum muslimin atau menolong mereka terhadap musuh.28

Adapun beberapa pengertian tentang mualaf, diantaranya yaitu:29

a. Dalam ensiklopedi Islam Indonesia memaparkan bahwa mualaf yaitu orang-orang yang sedang dijinakkan dan dibujuk hatinya.

b. Dalam esiklopedi dasar Islam, mualaf berarti seseorang yang semula kafir dan memeluk Islam.

c. Dalam KBBI, mualaf berarti orang yang baru masuk Islam.

Menjadikan seseorang untuk masuk agama Islam adalah perbuatan yang mulia. Tantangan yang sebenarnya bagi kita adalah bagaimana cara kita untuk membina dan memberdayakan mereka para mualaf ketika sudah masuk Islam agar para mualaf merasa ada yang membantu serta agar kokoh dalam agama Islam.

27Hafidz Muhdhori, “Treatment Dan Kondisi Psikologis Muallaf”, Jurnal Edukasi dan Bimbingan Konseling, Vol. 3, No. 1, 2017, h. 27

28Siti Yulaikhah, “Upaya BP4 Dalam Bimbingan Islami Terhadap Muallaf di Kecamatan Turi Kabupaten Sleman”, Skripsi, (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2015), h. 27

29Washilatur Rahmi, “Bentuk Komunikasi Pembinaan Mualaf Daarut Jauhid “, Skripsi, (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2018), h. 26

27 2. Kedudukan Mualaf Dalam Islam

Berdasarkan pengertian mualaf yang telah dijelaskan di atas bahwa mualaf ialah orang yang hatinya dibujuk dan dijinakkan hatinya agar cenderung kepada Islam. Mereka adalah orang yang baru mengetahui dan belum memahami ajaran Islam. Oleh karena itu mereka berada pada posisi yang membutuhkan pembinaan, pemberdayaan dan bimbingan seputar agama Islam.

Pada masa Nabi Saw para mualaf tersebut diposisikan sebagai penerima zakat untuk menjamin kelestarian mereka kepada Islam dengan terus memberikan pembinaan dan pengajaran tentang agama Islam. Salah satu alasan Nabi SAW memberikan zakat kepada mereka adalah menyatukan hati mereka pada Islam.

Oleh karena itu mereka dinamakan al-Muallafah Qulubuhum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar para mualaf tersebut masih menerima zakat seperti yang dicontohkan Nabi SAW.

Namun tidak demikian pada masa Khalifah Umar bin Khatab, beliau memperlakukan ketetapan penghapusan bagian untuk para mualaf karena umat Islam telah kokoh dan kuat. Para mualaf tersebut juga telah menyalahgunakan pemberian zakat dengan enggan melakukan syariat dan menggantungkan kebutuhan hidup dengan zakat sehingga mereka enggan berusaha.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, ada dua orang mualaf dengan menemui Umar yaitu Uyainah bin Hisa dan Aqra‟ bin Habis meminta hak mereka dengan menunjukkan surat yang telah direkomendasikan oleh Khalifah Abu Bakar pada masa pemerintahannya. Tetapi Umar merobek surat itu dengan mengatakan:

28

“Allah sudah memperkuat Islam dan tidak memerlukan kalian. Kalian tetap dalam Islam atau hanya pedang yang ada”.

Ini adalah suatu ijtihad Umar dalam menerapkan suatu nas AlQur‟an yaitu Qur‟an At-Taubah ayat 60 yang menunjukkan pembagian zakat kepada mualaf.

Umar melihat pada berlakunya tergantung pada keadaan, kepada siapa harus diberlakukan. Jika keperluan itu sudah tidak ada lagi, ketentuan itupun tidak berlaku, inilah jiwa nas tadi.

Dari penjelasan di atas penulis menarik memahami bahwa mualaf itu orang yang baru memeluk Islam dan dirangkul serta diteguhkan hati mereka dalam keislaman. Karena mereka baru memeluk Islam dan baru mengetahui agama Islam maka, mereka berada pada posisi pihak yang membutuhkan pembinaan, pemberdayaan dan bimbingan agama Islam. Agar mereka dapat mengetahui syariat Islam untuk kemudian dapat mengamalkan syariat itu dalam sehari-hari.30 3. Faktor Pendukung Menjadi Mualaf

Dalam mengambil keputusan untuk memilih melakukan konversi agama ke Islam terdapat beberapa faktor pendorong yang melatarbelakangi individu untuk memilih menjadi mualaf. Diantara faktor yang melatarbelakangi seseorang melakukan konversi agama ke Islam atau dengan kata lain menjadi mualaf ada yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri (faktor intern) dan berasal dari luar individu (faktor ekstern).

30Fitriani,” Strategi Pembinaan Muallaf Oleh Dewan Dakwah Islamiyah Di Desa Marga Taqwa Natar Lampung Selatan Provinsi Lampung”, Skripsi (Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan, 2019) h. 35-37

29 Faktor dalam diri individu (intern)yang ikut dalam mempengaruhi terjadinya konversi agama antara lain yaitu:31

a. Kepribadian

Kepribadian yang dimiliki seseorang dapat mempengaruhi perkembangan jiwa seseorang. Tipe kepribadian penyedih sering dilanda konflik dan frustasi dapat menimbulkan keragu-raguan kebingungan, was-was dan kebimbangan jiwa yang mendalam bahkan konflik jiwa ini bisa menyebabkan terjadinya konversi beragama bagi pelakunya32. Secara psikologis, tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang. Dalam penelitian W. James ditemukan bahwa tipe melankolis yang memiliki kerentanan perasaan yang mendalam bisa menyebakan timbulnya konversi agama dalam diri sesorang.

b. Faktor Pembawaan

Dalam penelitian Guy E. Swawon ditemukan bahwa ada semacam kecenderungan urutan kelahiran yang mempengaruhi terjadinya konversi agama.

Anak-anak yang dilahirkan pada urutan antara anak sulung dan anak bungsu sering mengalami stress jiwa. Kondisi yang dibawa berdasarkan hal tersebut banyak memengaruhi terjadinya konversi agama.

Sedangkan faktor dari luar diri individu yang dapat mempengaruhi terjadinya konversi agama, antara lain:33

31Fitrah, “Problematika Pembinaan Muallaf Di Wilayah Kota Bengkulu (Studi Pada Muallaf Center Indonesia (MCI) Cabang Bengkulu) “ , Skripsi…. h. 12

32Abdul Aziz Ahyadi, “Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila”, (Bandung: Sinar Baru, 1988), h. 150

33Bambang Syamsul Arifin, “Psikologi Agama”, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 158-159

30 a. Keluarga

Faktor keluarga merupakan faktor yang dapat mendorong seseorang melakukan konversi agama ke Islam atau menjadi mualaf. Seperti keretakan dalam keluarga, ketidakserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapat pengakuan dari kerabat dan sebagainya. Kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang mengalami tekanan batin sehingga sering terjadi konversi agama sebagai upaya meredakan tekanan batin yang dialaminya.

b. Lingkungan Tempat Tinggal

Keterasingan dari tempat tinggal atau tersingkirkan dari kehidupan pada suatu tempat juga dapat memicu terjadinya konversi agama. keadaan yang demikian menyebabkan seseorang mencari ketenangan dan tempat untuk bergantung hingga kegelisahan batin nya hilang.

c. Perubahan Status

Perubahan status tersebut bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berbeda agama, dan sebagainya. Keadaan yang demikian secara mendadak akan banyak memengaruhi terjadinya konversi agama.

d. Kemiskinan

Lemahnya ekonomi seseorang juga banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama. Masyarakat awam yang miskin seringkali melakukan konversi agama karena terpengaruh oleh iming-iming harta, tahta atau jabatan sebagai kebutuhan

31 yang melimpah dan menjanjikan. Bujukan dan iming-iming seseorang yang mempunyai kepribadian lemah akan sangat mudah terbawa.34

4. Hak dan Kewajiban Sebagai Mualaf

Sebagai seorang mualaf yang baru saja memeluk agama Islam tentulah mempunyai hak-hak dan kewajiban seperti umat Islam lainnya. Beberapa hal mengenai hak-hak sebagai mualaf tersebut yaitu hak menerima zakat, mendapat pembinaan, pemberdayaan dan memperoleh keamanan.

Sedangkan kewajiban seorang mualaf tak berbeda dengan umat Islam lainnya, yaitu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya.

Seperti halnya dasar-dasar pokok Islam yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa dibulan ramadhan, dan menunaikan ibadah haji.35

Dalam kegiatan pembinaan, bimbingan dan pemberdayaan mualaf, hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab bagi segelintir orang saja. Akan lebih baik jika kita umat Islam yang mungkin sejak lahir sudah Islam turut membantu para mualaf agar menjadi lebih baik dalam hal agama, ekonomi dan juga pendidikan.

Serta para mualaf dapat merasakan kasih sayang sebagai sesama orang muslim.

34Fitrah, “Problematika Pembinaan Muallaf Di Wilayah Kota Bengkulu (Studi Pada Muallaf Center Indonesia (MCI) Cabang Bengkulu) “ , Skripsi…. h. 13-14

35Sri Ulfa Rahayu, “Muallaf Dalam Perspektif Alquran”, Al-I’jaz: Jurnal Kewahyuan Islam, (2019), h. 109

32