BAB V KONSEP DESAIN
5.1 Konsep Dasar dan Kriteria Desain
Perancangan mural cerita rakyat dari Jember ini merupakan sebuah upaya untuk melestarikan cerita rakyat dari Kabupaten Jember yang mulai hilang di benak masyarakat Jember. Kegiatan mural ini dirancang untuk memberikan informasi dan moral kepada masyarakat khususnya anak-anak menggunakan cerita-cerita rakyat yang selama ini dipercaya oleh masyarakat Jember. Mural ini akan dirancang menggunakan ilustrasi yang disukai oleh anak-anak saat ini. Mural ini dirancang dan ditujukan untuk seluruh masyarakat Jember dengan studi kasus anak-anak SD kelas 4 hingga 6 yaitu anak-anak usia 9-11 tahun karena usia tersebut merupakan usia emas anak dalam membaca. Selain itu, anak-anak usia 9-11 tahun sudah dapat menerima cerita-cerita yang memiliki konflik seperti yang dimiliki beberapa cerita rakyat dari Jember.
Penentuan konsep desain dari perancangan mural cerita rakyat dari Jember ini ditentukan melalui hasil analisis dari data yang sudah diperoleh melalui kuisioner kepada anak-anak SD kelas 4 hingga 6 di 3 SD di Kabupaten Jember, wawancara dengan guru, budayawan, mural artist dan penulis cerita anak, lalu analisis buku terdahulu, analisis komparator, studi budaya Jember dan teori dari buku-buku yang terkait dengan perancangan mural cerita rakyat dari Jember ini.
5.1.2 Output Perancangan
Produk luaran yang dihasilkan dari perancangan ini adalah sebuah kegiatan mural partisipatori cerita rakyat Jember di Alun-alun kota Jember. Kegiatan mural ini masuk dalam rangkaian Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ). BBJ adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Jember. Kegiatan mural ini akan diberi nama “Kelirana” yang merupakan bahasa Jawa yang
artinya adalah berilah warna. Terdapat tiga cerita yang akan diterapkan pada media mural di alun-alun Jember yaitu cerita Asal Usul Nama Jember, Pangeran Puger & Dewi Sari, serta Watu Ulo. Ketiga cerita ini akan diterapkan di tiga spot yaitu mengitari area sekitar adipura. Cerita-cerita rakyat pada mural ini disampaikan dengan penyertaan gambar berupa ilustrasi yang bertujuan untuk membantu pengunjung alun-alun dalam memvisualisasikan isi cerita serta untuk menarik perhatian pengunjung dalam memahami cerita rakyat sehingga pengunjung mendapatkan pesan moral yang ingin disampaikan penulis dan dapat menceritakan kembali cerita rakyat tersebut.
5.1.3 Keyword Perancangan
Gambar 5.1 : Keyword mural cerita rakyat Jember (Wijaya, 2016)
Keterangan: a. Fenomena
Berikut ini adalah fenomena yang mendasari perancangan mural cerita rakyat dari Jember :
- Cerita rakyat dari Jember mulai hilang di benak masyarakat Jember.
Masyarakat khususnya anak-anak di Jember lebih mengetahui cerita dongeng dari luar negeri daripada cerita rakyat dari daerahnya.
- Jumlah media pelestarian cerita dongeng dari luar negeri jauh lebih banyak daripada media pelestarian cerita rakyat Nusantara.
b. Permasalahan
Permasalahan yang ditemukan dari hasil pengolahan data adalah sebagai berikut :
- Cerita rakyat dari Jember mulai ditinggalkan oleh masyarakat Jember. Menurut hasil penelitian penulis, hanya ada 5 dari 163 anak yang mengetahui cerita rakyat dari Jember. Kelima anak tersebut mengetahui cerita rakyat dari Jember secara lisan dari orang tua mereka.
- Media cerita rakyat dari Jember yang terdahulu yaitu buku karya Edy Santosa dan Deny Wibisono sudah tidak diproduksi lagi. Buku tersebut merupakan buku yang diterbitkan oleh PT. Grasindo pada tahun 2004. Saat ini, buku tersebut hanya bisa ditemui di perpustakaan daerah dan perpustakaan SMA. - Kurangnya pelestarian cerita rakyat dari Jember oleh pihak pemerintah.
Setelah buku Edy Santosa dan Deny Wibisono tidak diproduksi, pemerintah Kabupaten Jember tidak membuat media lain untuk melestarikan cerita rakyat dari Jember.
- Buku cerita rakyat dari Jember terdahulu ditujukan untuk anak-anak tetapi tidak memperhatikan aspek visual. Buku tersebut menggunakan warna monokrom, ilustrasi realis dan terkesan kuno, ilustrasi hanya ada satu di setiap cerita, dan didominasi oleh teks sehingga tidak menarik untuk anak.
Kesimpulan dari fenomena dan permasalahan:
Cerita rakyat dari Jember memerlukan pelestarian agar cerita tersebut tidak hilang. Media pelestarian yang digunakan yaitu mural karena setelah melakukan observasi dan wawancara kepada kepala sekolah SDN Jember Lor 1, penulis melihat adanya potensi media berupa mural. Mural dirasa dapat memberi motivasi dan meningkatkan kreatifitas dan imajinasi pengunjung. Selain mural, buku visual juga dirasa perlu sebagai media pendamping. Dengan demikian, pada perancangan ini ada mural sebagai media penyampaian pesan yang efektif dan buku sebagai media pelestarian cerita rakyat Jember. Penyampaian cerita rakyat Jember melalui mural diharapkan bisa memberikan informasi dan pengetahuan baru kepada anak tentang cerita rakyat yang berasal dari daerah mereka dengan menggunakan ilustrasi yang menarik dan menyenangkan serta memiliki pesan moral pada tiap cerita.
c. Rumusan Masalah
Bagaimana merancang sebuah mural cerita rakyat agar cerita rakyat dikenal dan disukai kembali sehingga cerita rakyat dapat dilestarikan dan disebarkan secara lisan oleh masyarakat Jember?
d. What to Say
Yang ingin disampaikan melalui perancangan ini adalah cerita rakyat Jember yang disampaikan menggunakan kegiatan mural partisipatori “Kelirana” dengan konsep imaginative relief. Relief memiliki arti sebagai ukiran yang terletak pada dinding candi yang menceritakan suatu cerita secara sequence yaitu menceritakan sebuah cerita dengan banyak gambar yang terdapat dalam frame yang berurutan. Mural yang akan diterapkan pada Alun-alun di kabupaten Jember ini pun akan mengambil konsep seperti relief yaitu menceritakan cerita secara sequence. Sedangkan imajinatif sendiri berarti gambar ilustrasi yang terdapat dari mural merupakan buah dari imajinasi yang diadaptasi dari tulisan cerita rakyat Jember yang didukung oleh observasi ke tempat terjadinya legenda. Sedangkan untuk buku sendiri akan dijual sebagai merchandise ketika kegiatan mural partisipatori dilaksanakan.
Buku akan dijual bersamaan dengan merchandise lainnya seperti postcard, tas, mug, kaos, dan tumbler.
e. How to Say
Mural yang akan diterapkan di Alun-alun Jember ini akan dibagi menjadi 3 spot yaitu mengitari area adipura kota Jember. Satu spot mewakili satu cerita sehingga jumlah keseluruhan cerita rakyat Jember yang akan dijadikan mural adalah tiga buah. Ketiga cerita tersebut merupakan legenda yang dipercaya masyarakat sebagai asal usul beberapa tempat di Jember. Ketiga cerita tersebut adalah Asal Usul Nama Jember, Pangeran Puger dan Dewi Sari (Asal Usul Desa Umbulsari) dan Watu Ulo. Selain itu, yang disampaikan adalah pesan moral setiap cerita. Pada setiap legenda terdapat pesan moral yang dapat ditanamkan kepada pengunjung sehingga pengunjung tidak hanya memahami cerita tetapi juga memahami moral yang ingin ditanamkan pada setiap cerita.
Penyampaian cerita rakyat Jember disampaikan secara informatif dan fun. Cerita disampaikan secara informatif dengan gaya bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh pengunjung. Menggunakan kalimat yang tidak bertele-tele dan jumlah kalimat tiap halamannya sejumlah dua hingga empat kalimat. Font yang digunakan merupakan font yang bersifat handwriting dan tidak dekoratif sehingga memudahkan pengunjung untuk membaca.
Cerita rakyat Jember divisualisasikan secara menyenangkan/fun dengan menggunakan gaya ilustrasi yang diadaptasi dari gaya gambar Disney dan menggunakan teknik vector. Warna yang digunakan adalah warna-warna cerah dan ceria seperti merah, kuning, hijau, ungu, biru sehingga terkesan colourful. Font yang digunakan merupakan font handwriting yang tidak kaku dan bersifat fleksibel.
Sedangkan untuk buku sendiri akan berisi 3 cerita rakyat sesuai dengan cerita yang diterapkan di media mural. Di setiap akhir cerita ditampilkan pesan moral sehingga anak tidak hanya memahami cerita tetapi juga dapat mengambil pesan moral dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
5.1.4 Kriteria Desain
Gambar 5.2 : Kriteria desain Kelirana (Wijaya, 2016)
Kriteria desain pada perancangan cerita rakyat Jember ini diambil dari hasil analisis studi eksisting, studi literatur, wawancara, kuisioner, dan observasi. Kriteria desain yang akan ditetapkan pada mural dan buku cerita rakyat Jember adalah sebuah mural dan buku dengan konsep “Cerita Rakyat Jember dalam relief yang imajinatif, fun, dan informatif”.
Hasil analisa wawancara dan studi literatur digunakan untuk mendapatkan konten cerita rakyat dari Jember. Sedangkan studi eksisting dan juga studi literatur digunakan untuk membuat konsep desain yang fun dan informatif.
5.2 Struktur Konten Cerita Rakyat