• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Konsep Dasar Pembidaian .1 Pengertian Pembidaian.1 Pengertian Pembidaian

Saleh (2006), menyatakan bahwa pembidaian (splinting) adalah suatu cara pertolongan pertama pada cedera atau trauma pada sistem muskuloskeletal yang harus diketahui oleh dokter, perawat, atau orang yang akan memberikan pertolongan pertama pada tempat kejadian kecelakaan. Pembidaian adalah cara untuk mengistirahatkan (imobilisasi) bagian tubuh yang mengalami cedera dengan menggunakan suatu alat.

Fitch (2008), menyatakan bahwa pembidaian mengimobilisasi ekstremitas yang mengalami cedera dan melindungi dari cedera yang lebih lanjut, mengurangi nyeri dan perdarahan serta digunakan untuk memulai proses penyembuhan. Pemakaian pembidaian pada pasien rawat jalan termasuk didalamnya fraktur, dislokasi dan sprain otot. Stabilisasi dari ektremitas yang patah tulang dengan pembidaian membantu kesejajaran tulang dan mengurangi ketidaknyamanan. Sesudah

16

dilakukan reduksi dari dislokasi, posisi anatomi dijaga dengan pembidaian. Menurut Saleh (2006), bidai dapat kaku atau lunak. Ada bidai buatan pabrik untuk penggunaan pada tempat tertentu pada tubuh kita dan ada pula bidai yang dapat dibuat dengan melakukan improvisasi dari barang atau benda yang sudah ada disekitar kita.

2.2.2 Tujuan Pembidaian

Saleh (2006), menyatakan bahwa ada 5 alasan dalam melakukan pembidaian pada cedera musculoskeletal yaitu:

a. Untuk mencegah gerakan (imobilisasi) fragmen patah tulang atau sendi yang mengalami dislokasi.

b. Untuk meminimalisasi/mencegah kerusakan pada jaringan lunak sekitar tulang yang patah (mengurangi/mencegah cedera pada pembuluh darah, jaringan saraf perifer dan pada jaringan patah tulang tersebut).

c. Untuk mengurangi perdarahan dan bengkak yang timbul. d. Untuk mencegah terjadinya syok.

e. Untuk mengurangi nyeri dan penderitaan.

2.2.3 Kontra Indikasi Pembidaian

Fitch (2008) menyatakan bahwa meskipun tidak ada kontraindikasi absolut dalam menggunakan pembidaian/splintingpada ekstremitas yang mengalami cedera, beberapa hal unik harus diperhatikan. Pembengkakan alami akan terjadi sesudah terjadi cedera dapat menjadi hambatan dari keamanan metode dari imobilisasi.

17

2.2.4 Prinsip Dasar Pembidaian

Prinsip dasar pembidaian ini harus selalu diingat sebelum kita melakukan pembidaian (Saleh, 2006).

a. Harus melakukan proteksi diri sebelum pembidaian

b. Jangan melepaskan stabilisasi manual pada tulang yang cedera sampai kita benar- benar melakukan pembidaian

c. Jangan mereposisi atau menekan fragmen tulang yang keluar kembali ketempat semula

d. Buka pakaian yang menutupi tulang yang patah sebelum memasang bidai e. Lakukan balut tekan untuk menghentikan perdarahan pada fraktur terbuka

sebelum memasang bidai

f. Bidai harus melewati sendi proksimal dan sendi distal dari tulang yang patah g. Bila persendian yang mengalami cedera, lakukan juga imobilisasi pada tulang

proksimal dan distal dari sendi tersebut

h. Berikan bantalan atau padding untuk mencegah penekanan pada bagian tulang yang menonjol dibawah kulit

i. Sebelum dan sesudah memasang bidai lakukan penilaian terhadap nadi, gerakan dan rasa /sensasi pada bagian distal dari tempat yang fraktur atau cedera

18

2.2.5 Tipe-Tipe Bidai/Splint

Gilbert (2011) menyatakan bahwa pembidaian membantu mengurangi komplikasi sekunder dari pergerakan fragmen tulang, trauma neurovaskular dan mengurangi nyeri. Ada beberapa macamsplint, yaitu:

a. Hard splint(bidai kaku)

Bidai kaku biasanya digunakan untuk fraktur ekstremitas. Bidai kaku sederhana bisa dibuat dari kayu dan papan. Bidai ini juga bisa dibuat dari plastik, aluminium, fiberglass dan gips back slab. Gips back slab ini dibentuk dan diberi nama sesuai peruntukannya untuk area trauma yang dipasang bidai. Gips back slab merupakan alat pembidaian yang lebih baik dan lebih tepat digunakan pada ekstremitas atas dan bawah serta digunakan untuk imobilisasi sementara pada persendian.

b. Soft splint(bidai lunak)

Pembidaian dimulai dari tempat kejadian yang dilakukan oleh penolong dengan menggunakan alat pembidaian sederhana seperti bantal atau selimut. c. Air slintatauvacuum splint

Bidai ini digunakan pada trauma yang spesifik seperti bidai udara. Bidai udara mempunyai efek kompresi sehingga beresiko terjadi compartment syndromedan iritasi pada kulit.

d. Traction splint(bidai dengan traksi)

Bidai dengan tarikan merupakan alat mekanik yang mampu melakukan traksi pada bidai. Bidai dengan tarikan ini biasanya digunakan untuk trauma pada daerah femur dan sepertiga bagian tengah ekstremitas bawah.

19

2.2.6 Back slab cast a. Pengertian

New Zealand Orthopaedic Organization (2010), menyatakan bahwaback slab cast adalah alat imobilisasi pertama sebelum dilakukan tindakan definitif yang digunakan untuk stabilisasi dari bagian fraktur dan otot yang mengelilinginya dan digunakan untuk mengurangi oedema (swelling) sebagai bidai. Gips ini mudah dilepaskan bila diperlukan pemeriksaan inspeksi pada bagian tubuh yang ditutupi.

Miranda (2010), menyatakan bahwa back slab cast adalah gips sementara yang digunakan pada penanganan pertama trauma seperti patah tulangankle.Back slab cast ini terdiri dari plaster yang menjaga tendon achiles dan digunakan pada bagian yang terjadi pembengkakan tanpa memberikan penekanan. Bidai tradisional dapat menekan aliran darah, meningkatkan rasa nyeri dan ketidak nyamanan. Back slab castini dapat membantu mengurangi nyeri, pembengkakan, spasme otot yang terjadi ketika trauma patah tulang. Sedangkan menurut Koval & Zukerman (2006), back slab cast ini menjaga tulang yang patah pada kesejajaran selama proses penyembuhan. Back slab cast ini dipasang mengikuti daerah tonjolan tulang.

b. Cara pembuatan

Fitch (2008), menyatakan bahwa tahap pertama dalam pembidaian adalah melapisi bagian ekstremitas dengan beberapa lembar bantalan (padding) pada bagian tonjolan tulang atau bagian tubuh yang mengalami iritasi. Ukur panjang pembidaian yang diperlukan yaitu melewati dua sendi. Gunakan 3 lembar dari

20

gips untuk ekstremitas atas dan 6 lembar untuk ekstremitas bawah untuk meyakinkan pembidaian yang dilakukan cukup kuat. Celupkan kedalam mangkok air yang sudah disiapkan, diamkan beberapa saat sampai mengenai seluruh gips, kemudian angkat, pegang secara vertikal dan gunakan dua jari menurunkan sisa air pada gips sehingga memudahkan pengeringan kemudian lapisi dengan padding. Letakkan dibawah ekstremitas yang akan dibidai sesuai posisi anatomis. Gunakan perban elastis untuk memegang posisi dari back slab cast yang dibuat dari bagian terjauh dari tubuh ke bagian yang lebih dekat dari pusat tubuh. Gunakan telapak tangan pada saat pemasangan back slab cast. Setelah kering periksa kembali adekuat tidaknya imobilisasi yang dilakukan, posisi anatomis dan kenyamanan pasien.

Brunner & Suddarth (2005), menyatakan bahwa gips akan mengalami kristalisasi yang menghasilkan pembalutan yang kaku. Kecepatan terjadinya reaksi bervariasi sekitar 30 menit sampai 60 menit tergantung dari ketebalan dan kelembaban lingkungan. Selanjutnya perlu pemeriksaan X-ray untuk mengetahui fraktur atau dislokasi yang membutuhkan reduksi sebelum pembidaian dilepaskan.

c. Keunggulan dari pembidaian denganback slab cast

Brunner & Suddarth (2005), menyatakan bahwa pasien yang menderita masalah tulang dan sendi sering mengalami nyeri yang sangat berat. Nyeri dapat timbul secara primer baik karena masalah muskuloskeletal maupun masalah penyertanya misalnya; tekanan pada tonjolan tulang akibat dari pembidaian, spasme otot dan pembengkakan. Tekanan yang berkepanjangan diatas tonjolan tulang dapat

21

menyebabkan rasa terbakar. Menurut Miranda (2010) back slab cast ini dapat membantu mengurangi nyeri, pembengkakan, spasme otot yang terjadi ketika trauma pada kasus patah tulang. Back slab cast ini terdiri dari plaster yang menjaga tendon dan digunakan pada bagian yang terjadi pembengkakan tanpa memberikan penekanan. Pergerakan ekstremitas yang mengalami fraktur setelah pembidaian dengan back slab cast sangat minimal, sehingga dapat mencegah kerusakan fragmen tulang dan jaringan sekitarnya yang lebih berat.

Koval & Zukerman (2006), menyatakan bahwa back slab cast menjaga tulang yang patah pada kesejajaran selama proses penyembuhan. Back slab cast ini dipasang mengikuti daerah tonjolan tulang. Sedangkan menurut New Zealand Orthopaedic Organization (2010), back slab cast digunakan untuk stabilisasi dari bagian fraktur dan otot yang mengelilinginya dan digunakan untuk mengurangi oedema (swelling) sebagai bidai. Gips ini sangat mudah dilepaskan bila diperlukan pemeriksaan inspeksi pada bagian tubuh yang ditutupi.

2.2.7 Komplikasi Pembidaian

Saleh (2006) menyatakan bahwa komplikasi pembidaian biasanya timbul bila kita tidak melakukan pembidaian secara benar, misalnya;

a. Bisa menekan jaringan saraf, pembuluh darah atau jaringan dibawah bidai yang bisa memperparah cedera yang sudah ada, bila dipasang terlalu ketat.

b. Bila bidai terlalu longgar bisa menimbulkan kerusakan pada saraf perifer, pembuluh darah, atau jaringan sekitarnya akibat pergerakan ujung ujung fragmen patah tulang.

Dokumen terkait