• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Konsep Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit di mana kadar glukosa (glukosa sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup (Maulana, 2008).

Diabetes Meliitus merupakan penyakit kelainan metabolisme yang disebabkan oleh kurangnya hormon insulin dalam tubuh (Santosa, 2014).

Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Perkeni, 2015).

Menurut American Diabetes Association (ADA) 2010, Diabetes Mellitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Lebih dari 90 persen dari semua populasi Diabetes Mellitus adalah Diabetes Mellitus tipe 2 yang ditandai dengan penurunan sekresi insulin karena berkurangnya fungsi sel beta pankreas secara progresif yang disebabkan oleh resistensi insulin.

2.2.2 Penyebab Diabetes mellitus

Diabetes Mellitus disebabkan karena berkurangnya produksi dan ketersediaan insulin dalam tubuh atau terjadinya gangguan fungsi insulin yang sebenarnya berjumlah cukup. Kekurangan insulin disebabkan adanya kerusakan sebagian kecil atau sebagian besar sel-sel pulau langerhans dalam kelenjar pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin. Namun,

jika dirunut lebih lanjut, beberapa faktor yang menyebabkan Diabetes Mellitus sebagai berikut :

a. Genetik atau faktor keturunan. Diabetes Mellitus cenderung diturunkan atau diwariskan, bukan ditularkan. Anggota keluarga penderita Diabetes Mellitus memiliki kemungkinan besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita Diabetes Mellitus. Para ahli kesehatan juga menyebutkan Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya.

b. Virus dan bakteri. Virus penyebab Diabetes Mellitus adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4. Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi otoimunitas yang menyebabkan hilangnya otoimun dalam sel beta. Diabetes Mellitus akibat bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri cukup berperan menyebabkan Diabetes Mellitus .

c. Bahan toksik atau beracun. Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung adalah alloxan, pyrinuron (rodentisida) dan strepzoctin (produk dari sejenis jamur). Bahan lain adalah sianida yang berasal dari singkong.

d. Nutrisi. Nutrisi yang berlebihan (overnutrition) merupakan faktor resiko pertama yang diketahui menyebabkan Diabetes Mellitus .

Semakin berat badan berlebih atau obesitas akibat nutrisi yang berlebihan, semakin besar kemungkinan seseorang terjangkit Diabetes Mellitus .

e. Kadar kortikosteroid yang tinggi.

f. Kehamilan diabetes gestasional, yang akan hilang setelah melahirkan. g. Obat-obatan yang dapat merusak pankreas.

h. Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin. (Maulana, 2008).

Sedangkan menurut Lanywati (2011) penyebab Diabetes Mellitus adalah sebagai berikut :

a. Makan yang berlebihan menyebabkan gula dan lemak dalam tubuh menumpuk secara berlebihan. Kondisi tersebut menyebabkan kelenjar pankreas terpaksa harus bekerja keras memproduksi hormon insulin untuk mengolah gula yang masuk. Jika suatu saat pankreas tidak mampu memenuhi kebutuhan hormon insulin yang terus bertambah, maka kelebihan gula tidak dapat terolah lagi dan akan masuk ke dalam darah serta urine (air kencing).

b. Pada saast tubuh melakukan aktivitas/gerakan, maka sejumlah gula akan dibakar untuk dijadikan tenaga gerak. Sehingga jumlah gula dalam tubuh akan berkurang, dan dengan demikian kebutuhan akan hormon insulin juga berkurang. Pada orang yang kurang gerak dan jarang berolah raga, zat makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak dibakar, tetapi hanya akan ditimbun dalam tubuh sebagai lemak dan gula. Proses pengubahan zat makanan menjadi lemak dan gula,

memerlukan hormon insulin. Namun, jika hormon insulin kurang mencukupi, maka akan timbul gejala penyakit Diabetes Mellitus . c. Penyakit saat hamil, untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan

janinnya, seorang ibu secara naluri akan menambah jumlah konsumsi makanannya, sehingga umumnya berat badan ibu hamil akan naik sekitar 7 kg-10 kg. Pada saat penambahan jumlah konsumsi makanan tersebut terjadi, jika ternyata produksi insulin kurang mencukupi, maka akan timbul gejala penyakit Diabetes Mellitus.

2.2.3 Tipe-tipe Diabetes Mellitus

Menurut Santosa (2014) tipe Diabetes Mellitus atau klasitifikasi Diabetes Mellitus yang utama adalah :

a. Diabetes Mellitus tipe 1

Diabetes Mellitus tipe 1 terjadi karena tubuh penderita tidak mampu memproduksi insulin. Diabetes Mellitus tipe 1 juga sering disebut sebagai penyakit autoimun. Penyakit ini terjadi karena sistem imun tubuh pada suatu individu secara spesifik menyerang dan merusak sel-sel penghasil insulin yang terdapat pada pankreas.

b. Diabetes Mellitus tipe 2

Diabetes Mellitus tipe 2 disebabkan oleh faktor kombinasi antara faktor genetika dan faktor lingkungan. Pada Diabetes M ellitus tipe 2, faktor genetika lebih dominan bila dibandingkan dengan Diabetes Mellitus tipe 1. dari berbagai penelitian diketahui bahwa sebagian besar penderita diabetes tipe 2 memiliki anggota keluarga yang juga

menderita penyakit atau masalah kesehatan yang berhubungan dengan Diabetes Mellitus.

c. Gestational Diabetes Mellitus.

Diabetes Mellitus tipe ini terjadi saat kondisi gula darah menjadi tinggi pada masa kehamilan dan terjadi pada orang yang tidak menderita Diabetes Mellitus. Umumnya akan kembali normal setelah masa kehamilan. Meskipun tipe Diabetes ini bersifat sementara, bila tidak ditangani dengan baik, dapat membahayakan kesehatan janin maupun sang ibu.

2.2.4 Gejala-gejala Diabetes Mellitus

Tanda-tanda seseorang terkena atau mengidap Diabetes Mellitus adalah sebagai berikut : gejala diabetes tipe I muncul secara tiba-tiba pada saat usia anak-anak sebagai akibat dari kelainan genetika, sehingga tubuh tidak memproduksi insulin dengan baik. Gejala-gejalanya antara lain adalah :

a. Sering buang air kecil.

b. Terus menerus lapar dan haus. c. Berat badan menurun.

d. Kelelahan.

e. Penglihatan kabur.

f. Infeksi pada kulit yang berulang.

g. Meningkatkanya kadar gula dalam darah dan air seni.

Sedangkan gejala Diabetes Mellitus tipe II mencul secara perlahan-lahan sampai menjadi gangguan yang jelas, dan pada tahap permulaannya seperti gejala Diabetes Mellitus tipe I, yaitu :

a. Cepat lelah, kehilangan tenaga, dan merasa tidak fit. b. Sering buat air kecil.

c. Terus menerus lapar dan haus.

d. Kelelahana yang berkepanjangan dan tidak ada penyebabnya. e. Mudah sakit yang berkepanjangan.

f. Biasanya terjadi pada mereka yang berusia di atas 40 tahun, tetapi prevalensinya kini semakin tinggi pada golongan anak-anak dan remaja.

Gejala-gejala tersebut sering terabaikan karena dianggap sebagai keletihan akibat kerja. Jika glukosa darah sudah tumpah ke saluran urin dan urin tersebut tidak disiram, makan akan dikerubuti oleh semut yang merupakan tanda adanya gula. Gejala lain yang biasanya muncul adalah : a. Penglihatan kabur.

b. Luka yang lama sembuh.

c. Kaki terasa kebas, geli atau merasa terbakar. d. Infeksi jamur pada saluran reproduksi wanita. e. Impotensi pada pria.

(Maulana, 2008).

Sedangkan menurut Lanywati (2011) gejala klasik penyakit Diabetes Mellitus, dikenal dengan istilah trio-P, yaitu meliputi poliuria

(banyak kencing), polidipsi (banyak minum) dan polipagio (banyak makan).

a. Poliuria (banyak kencing), merupakan gejala umum pada penderita Diabetes Mellitus, banyaknya kencing ini disebabkan kadar gula dalam darah berlebihan, sehingga merangsang tubuh untuk berusaha mengeluarkannya melalui ginjal bersama air dan kencing, gejala banyak kencing ini terutama menonjol pada waktu malam hari, yaitu saat kadar gula dalam darah relatif tinggi.

b. Polidipsi (banyak minum), sebenarnya merupakan akibat (reaksi tubuh) dari banyak kencing tersebut. Untuk menghindari tubuh kekurangan cairan (dehidasi), maka secara otomatis akan timbul rasa haus/kering yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk terus minum selama kadar gula dalam darah belum terkontrol baik. Sehingga dengan demikian, akan terjadi banyak kencing dan banyak minum.

c. Polipagi (banyak makan), merupakan gejala yang tidak menonjol. Terjadinya banyak makan ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan gula dalam tubuh meskipun kadar gula dalam darah tinggi. Sehingga dengan demikian, tubuh berusaha untuk memperoleh cadangan gula dari makanan yang diterima.

Gejala-gejala yang biasa tampak pada penderita Diabetes Mellitus adalah sebagai berikut :

a. Adanya perasaan haus yang terus-menerus.

c. Timbulnya rasa letih yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. d. Timbulnya rasa gatal dan peradangan kulit yang menahun.

Adapun pada penderita yang berat, akan timbul beberapa gejala atau tanda yang lain, yaitu sebagai berikut :

a. Terjadinya penurunan berat badan.

b. Timbulnya rasa kesemutan (mati rasa) atau sakit pada tangan atau kaki. c. Timbulnya borok (luka) pada kaki yang tak kunjung sembuh.

d. Hilangnya kesadaran diri (Lanywati, 2011). 2.4.5 Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2

Diagnosis Diabetes Mellitus ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang Diabetes Mellitus. Kecurigaan adanya Diabetes Mellitus perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:

1. Keluhan klasik Diabetes Mellitus: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

2. Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria Diabetes Mellitus digolongkan ke dalam kelompok preDiabetes

Mellitus yang meliputi: toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT).

1. Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa antara 100-125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2-jam <140 mg/dl.

2. Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma 2 -jam setelah TTGO antara 140-199 mg/dl dan glukosa plasma puasa <100 mg/dl

3. Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT

4. Diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan HbA1c yang menunjukkan angka 5,7-6,4%.

(Perkeni, 2015).

Table 2.1 Kriteria diagnostik glukosa darah Bukan diabetes

mg/dl

Pra diabetes mg/dl Diabetes Mg/dl Puasa Sewaktu < 110 < 110 110-125 110-199 ≥ 126 ≥ 200 Sumber Perkeni (2015)

2.4.5 Pencegahan Diabetes Mellitus

Beberapa usaha pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara umum adalah sebagai berikut :

a. Diet yang baik dan terukur agar berat badan tidak berlebihan. Usahakan untuk dapat mencapai dan mempertahankan berat badan normal, atau bahkan berat badan ideal. Jangan makan dalam porsi yang berlebihan, dan kurangi makan gula atau makanan yang manis serta berlemak tinggi.

b. Olah raga secara teratur dan terukur, agar kelebihan gula dan lemak di dalam tubuh dapat berkurang (diubah menjadi energi gerak). Di samping itu, dengan olah raga secara teratur, otot-otot tubuh akan menjadi kencang dan organ-organ tubuh dapat bekerja dengan lebih lancar, baik dan efisien (Lanywati, 2011).

Sedangkan menurut Maulana (2008) pencegahan komplikasi Diabetes Mellitus ada 9 cara untuk berperan aktif dalam perawatan Diabetes Mellitus sehingga dapat menikmati hidup lebih sehat di masa yang akan datang :

a. Lakukan pemeriksaan fisik setiap tahun

Selain pemeriksaan rutin untuk mengawasi perawatan Diabetes Mellitus, lakukan pemeriksaan fisik sekali setahun.

b. Periksa mata setahun sekali

Pergi ke spesialis mata sekali tiap tahun dapat membantu untuk mendeteksi masalah penglihatan yang berkaitan dengan Diabetes Mellitus untuk dapat mendeteksi secara dini, sehingga lebih mudah ditangani maupun dicegah.

c. Temui dokter gigi setahun dua kali

Kadar gula darah yang tinggi mengganggu sistem kekebalan tubuh, membatasi kemampuan tubuh untuk berperang dengan bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi. Karena mulut penuh dengan bakteri, maka infeksi juga dapat terjadi pada gusi. Oleh sebab itu sangat dianjurkan untuk menemui dokter gigi setahun dua kali untuk memeriksakan kesehatan mulut dan gigi.

d. Vaksinasi tepat waktu

Selalu up to date terhadap vaksinasi yang dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi akibat Diabetes Mellitus. Contohnya vaksinasi untuk radang paru. Hampir tiap dokter akan merekomendasikan pada penderita Diabetes Mellitus untuk vaksinasi radang paru-paru. Apabila telah menderita komplikasi akibat Diabetes Mellitus atau berusia lebih dari 65 tahun maka akan dibutuhkan vaksinasi ulang setiap 5 tahun. e. Rawat kebersihan dan kesehatan kaki

Penderita Diabetes Mellitus beresiko tinggi untuk menderita penyakit pada kaki dalam dua cara yaitu :

1. Diabetes Mellitus dapat merusak saraf-saraf di kaki, mengurangi sensasi nyeri. Ini berarti dapat terjadi ruam dan memar tanpa menyadarinya.

2. Diabetes Mellitus dapat menyempitkan atau menutup arteri, mengurangi aliran darah menuju kaki.

f. Jangan merokok

Orang yang menghidap Diabetes Mellitus dan merokok sering kali ditemukan meninggal karena serangan jantung, stroke dan penyakit lainnya daripada penderita Diabetes Mellitus yang tidak merokok. Hal ini karena merokok menyempitkan pembuluh darah, serta menurunkan aliran darah menuju kaki.

g. Awasi tekanan darah

Sama seperti Diabetes Mellitus, tekanan darah yang tinggi juga dapat merusak pembuluh darah. Bila kedua keadaan ini muncul, maka dapat

terjadi serangan jantung, stroke atau kondisi lain yang mengancam jiwa.

h. Memeriksa kadar gula darah

Mengatur kadar gula darah merupakan hal yang paling penting untuk merasa lebih baik dan mencegah komplikasi lebih lanjut dari Diabetes Mellitus. Dengan mengawasi kadar gula darah dan tetap menjaganya normal, maka akan mengurangi resiko kerusakan mata, ginjal, pembuluh darah dan saraf.

i. Penanganan stres

Stres dapat meningkatkan produksi hormon yang dapat memblokir efek dari insulin, yang menyebabkan kadar gula darah meningkat. Bila sedang terserang stres, maka akan sulit untuk merawat diri sendiri maupun mengelola Diabetes Mellitus.

Terdapat sepuluh petunjuk hidup sehat dan merupakan senjata untuk mencegah komplikasi Diabetes Mellitus :

a. Semua yang manis sebaiknya dihindari atau pantang gula.

b. Batasi makanan yang mengandung asam urat (jeroan, sarden, burung dara, unggas, kaldu, kacang-kacangan, emping, tapai).

c. Batasi tek kuk CS2 (telur-keju-kepiting, udang, kerang, cumi-cumi, susu, santan).

d. Targetkan lingkar pinggang pria < 90 cm, wanita < 80 cm.

e. Kalau ada hipertensi : batasi garam, ikan asin, kacang asin dan stop alkohol.

g. Rutinlah olahraga, minimal jalan 3 km atau sit up 50-200 kali, hindari diam tak beraktivitas.

h. Tidur 6-7 jam /hari. i. Check up secara teratur.

Kontrol/check up teratur untuk 1,2,3,4,5,6 bulan untuk orang non Diabetes Mellitus, terutama untuk > 40 tahun, dan untuk penderita Diabetes Mellitus yang menghidap penyakit kardiovaskuler, lakukan check up setiap 1,2,3 bulan

j. Perbanyak makanan kaya chromium apabila tak menderita peninggian asam urat (misal : merica, apel, brokoli, udang, dan kacang-kacangan) karena berfungsi memperbaiki kerja insulin.

(Sutedjo, 2010).

2.2.6 Pengobatan Diabetes Mellitus

Tujuan utama pengobatan Diabetes Mellitus adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan, tetapi semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang adalah semakin berkurang. Pengobatan Diabetes Mellitus meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet. Ilmu pengetahuan sudah mampu menemukan berbagai jenis pengobatan yang tidak memberatkan para penderita Diabetes Mellitus, yaitu :

a. Insulin bentuk baru untuk memperbaiki kadar gula darah. Dulu, setengah jam setelah disuntik insulin, diabetesi baru boleh makan. Kini

sehabis disuntik insulin diabetesi bisa langung makan. Bahkan ada suntik insulin dengan periode waktu hingga 24 jam.

b. Ditemukannya obat penurun lipid (lemak dalam darah). Lipid menjadi ancaman karena bisa menimbulkan komplikasi si stroke atau jantung pada Diabetes Mellitus.

c. Obat yang dapat menghambat progresif perkembangan penyakit ginjal pada Diabetesi Mellitus.

d. Obat anti pembekuan darah. Penderita jantung koroner lazim dipasang cincin metal di pembuluh jantung yang dapat memperingan kadar penyakitnya. Namun, pada penderita jantung akibat komplikasi Diabetes Mellitus hal ini tdaik dapat dilakukan karena kerap terjadi pembekuan darah. Hal inilah yang dicegah obat anti pembekuan darah. e. Insulin sensitizing. Jumlah insulin yang disuntikkan sedikit namun

mampu menurunkan kadar gula darah sekaligus kadar lipid.

f. Alat pemantau gula darah mandiri yang cara kerjanya makin sederhana serta mengurangi rasa sakit.

Menurut Santosa (2014) dalam proses terapi obat hipoglikemik oral, pemilihan dan penentuan rejimen hipoglikemik yang digunakan harus mempertimbangkan tingkat keparahan diabetes serta kondisi kesehatan penderita secara umum, termasuk penyakit-penyakit lain dan komplikasi yang ada. Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat hipoglikemik oral dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:

a. Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin, meliputi obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea dan glinida (meglitinida dan turunan fenilalanin).

b. Sensitifer (obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin), meliputi obat-obat hipoglikemik golongan biguanida dan tiazolidindion, yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan insulin secara lebih efektif.

c. Inhibitor katablolisme karbohidrat, antara lain inhibitor a-glukosidase yang bekerja menghambat absorpsi glukosa dan umum digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia post-prandial (post meal hypergicermia).

a. Golongan sulfonilurea

Golongan sulfonilurea adalah obat hipoglikemik oral yang pertama kali ditemukan. Sejak beberapa tahun yang lalu, hampir semua obat hipoglikemik oral termasuk dalam golongan sulfonilurea. Obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurita diabetes dewasa dan dengan berat badan normal serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya.

Obat-obatan yang termasuk dalam golongan sulfonilurea ini bekerja merangsang sekresi insulin di kelenjar pankreas. Maka dari itu, obat-obatan dalam kelompok ini hanya efektif apabila sel-sel langerhans pankreas masih dapat berproduksi.

Penurunan kadar glukosa darah yang terjadi setelah pemberian senyawa-senyawa sulfonilurea disebabkan oleh perangsangan sekresi

insulin oleh kelenjar pankreas. Sifat perangsangan ini berbeda dengan perangsangan oleh glukosa. Hal ini karena pada saat glukosa gagal merangsang sekresi insulin, senyawa-senyawa obat ini masih mampu meningkatkan sekresi insulin. Oleh sebab itu, obat-obatan golongan sulfonilurea sangat bermanfaat untuk penderita Diabetes yang kelenjar pankreasnya masih mampu memproduksi insulin.

Obat atau senyawa-senyawa yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia sewaktu pemberian obat-obat hipoglikemia sulfonilurea antara lain:

1. Alkohol 2. Insulin 3. Fenformin. 4. Sulfonamida.

5. Salisilat dosis besar. 6. Fenilbutazon. 7. Oksifenbutazon. 8. Probenezida. 9. Probenezida. 10.Dikumarol. 11.Kloramfenikol. 12.Penghambat MAO. 13.Guanetidin. 14.Streroida anabolik.

16.Golongan meglitinida dan turunan fenilalanin.

Obat-obatan hipoglemik oral golongan glinida ini termasuk obat hipoglikemik generasi baru. Adapun cara kerjanya mirip dengan golongan sulfonilurea. Obat hipoglikemik oral golongan glinida ini bekerja meningkatkan sintesis dan sekresi insulin oleh kelenjar pankreas. Umumnya senyawa obat hipoglikemik golongan meglitinida dan turunan fenilalanin ini dipakai dalam bentuk kombinasi dengan obat-obat antidiabetik oral lainnya.

b. Golongan biguanida

Obat hipoglikemik oral golongan biguanida yang masih dipakai sebagai obat hipoglikemik oral adalah metformin. Di antara negara yang menggunakan metformin adalah Indonesia. Hal ini karena, ketika menggunakan metformin frekuensi terjadinya asidosis laktat cukup sedikit asal dosis tidak melebihi 1700 mg/hari dan tidak ada gangguan fungsi ginjal dan hati.

c. Golongan Tizaolidindion

Senyawa golongan tiazolidindion bekerja meningkatkan kepekaan tubuh terhadap insulin dengan PPARy di otot, jaringan lemak, dan hati untuk menurunkan resistensi insulin. Senyawa-senyawa TZD juga menurunkan kecepatan glikoneogenesis.

d. Golongan inhibitor a-Glukosidase

Senyawa-senyawa inhibitor a-glukosidase bekerja menghambat enzim alfa glukosidase yang terdapat pada dinding susu halus. Enzim-enzim

a-glukosidase (maltase, isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida, pada dinding usus halus. (Santosa, 2014).

Menurut Sutedjo (2010) pemberian obat pada penderita Diabetes Mellitus bertujuan untuk mempertahankan kadar gula darah puasa maupun sesudah makan dalam batas normal.

Obat hipoglikemik oral (OHO)

a. Tujuan pemberian dan cara kerja OHO

OHO diberikan dengan tujuan mempertahankan kadar gula dalam darah agar tetap normal dan digunakan pada Diabetes Mellitus tipe II. OHO bekerja dengan cara sebagai berikut:

1. Merangsang sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin dalam jumlah cukup.

Obat kelompok ini adalah sulfonilurea sulfonilurea yang mempunyai rumus kimia menyerupai sulfonamida. Pemberian sulfonilurea harus disertai dengan banyak minum karena mempunyai ESO yang hampir sama dengan sulfonamida yaitu pembentukan kristal pada urine. Obat dimakan kira-kira 30 menit sebelum makan.

2. Menurunkan berat badan

Obat kelompok biguanida ini terdiri atas metformin dan penformin dengan segala mereka dagangnya. Obat ini mempunyai mekanisme kerja yang belum jelas, tetapi mempunyai efek penurunan berat badan sehingga dahulu pernah digunakan para artis sebagai obat

penurunan berat badan. Obat metformin bekerja di luar pankreas yaitu:

a) Meningkatkan sensitivitas insulin. b) Menghambat produksi glukagon.

c) Menurunkan absorpsi karbohidrat dari usus.

d) Menghambat glukoneogenesis (pembentukan gula dari bahan lain).

e) Meningkatkan afinitas atau keterikatan kapiler terhadap insulin. f) Meningkatkan jumlah reseptor insulin pada sel.

b. Prinsip penggunaan OHO

1. Dimulai dari dosis kecil dan secara bertahap ditingkatkan sampai dosis yang sesuai, yaitu diperolehnya kadar gula darah yang normal.

2. Sebaiknya dihindari obat OHO efek panjang pada orang tua karena menyebabkan hipoglikemi.

3. Pada saat minum OHO sebaiknya dihindari obat-obat yang antagonis atau melawan efek OHO. Apabila terpaksa harus mendapatkan obat antagonis tersebut konsultasikan dengan dokter. Obat anagonis OHO di antaranya adalah kortikosteroid dan adrenalin.

Dokumen terkait