• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DIRI DAN KEPRIBADIAN

Dalam dokumen Konsep Diri (Halaman 30-36)

Asumsi dasar mengenai tingkah laku dalam perspektif psikologi adalah bahwa tingkah laku bukanlah sesuatu yang selalu tampak sebagaimana tampilannya. Tidak terdapat suatu hubungan yang mutlak antara tingkah laku tertentu dengan penyebabnya. Untuk dapat memahami hubungan antara suatu tingkah laku dengan penyebabnya, terlebih dahulu harus diketahui dan dipahami sesuatu mengenai seorang individu dan situasi dimana tingkah laku itu muncul. Sesuatu mengenai individu yang harus diketahui dan dipahami ini adalah mengarah kepada kepribadian sebagai suatu hal yang dapat membantu dalam memahami tingkah laku.

Tingkah laku biasanya merujuk pada suatu pola, organisasi, dan integrasi dalam mencapai tujuan yang dimaksudkan oleh seorang individu. Hal yang melakukan fungsi organisasi dan integrasi dari suatu tingkah laku seorang individu adalah konsep dirinya sendiri. Konsep diri merupakan "pusat" dari kepribadian. Jika kepribadian dianalogikan dalam bentuk suatu roda, maka konsep diri merupakan pusat roda dan sifat-sifat (traits) dari seorang individu adalah jari- jarinya. Dengan demikian, kepribadian dapat dikatakan merupakan suatu kesatuan yang utuh, lebih dari sekedar penjumlahan dan konsep diri menjalankan fungsi organisasi dan integrasi dari aspek-aspek dalam kepribadian. Selain itu,

perkembangan konsep diri juga sejalan dengan perkembangan fungsi-fungsi kepribadian pada umumnya.

Fitts (1971) mengemukakan bahwa konsep diri adalah sebagai suatu keseluruhan kesadaran atau persepsi mengenai diri yang diobservasi, dialami, dan dinilai oleh seorang individu. Dengan demikian, sudah tentu setiap individu akan memiliki perincian yang sangat banyak dan bervariasi mengenai dirinya. Menurut Fitts, untuk dapat memahami kepribadian seorang individu tidak perlu untuk mengetahui secara tepat perincian gambaran dirinya, karena pasti akan sangat bervariasi. Akan lebih penting dan bermanfaat menurut Fitts jika lebih memfokuskan pada "emotional tone" dari gambaran diri seorang individu tersebut. Bobot emosional atau nilai penghargaan akan lebih banyak berpengaruh terhadap terjadinya perbedaan-perbedaan dalam kepribadian setiap individu yang pada akhirnya membeda-bedakan setiap individu dalam bertingkahlaku. Sebagai contoh, "saya memiliki cacat tubuh", "fisik saya tidak normal", dan sebagainya akan membawa suatu bobot emosional tertentu, bahkan untuk hal yang netral sekalipun, seperti "rumah saya di ..." terkandung bobot emosional tertentu. Jadi, cara bagaimana individu "merasakan" tentang dirinyalah yang akan mewarnai persepsinya terhadap dunia yang dilakoninya.

Pendapat Fitts sejalan dengan pendapat Burns (1993 : 66) yang mengemukakan bahwa pada dasarnya konsep diri merupakan sikap terhadap diri sendiri dari seorang individu. Sebagai suatu sikap, maka konsep diri tersebut memiliki 4 (empat) komponen penting yaitu (1) keyakinan atau pengetahuan (komponen kognitif), (2) emosional (komponen afektif), (3) evaluasi, dan (4)

predisposisi untuk berespon (komponen konatif). Jadi, di dalam konsep diri terdapat unsur-unsur dimana setiap individu memiliki sistem evaluasi serta perasaan-perasaan emosional dan juga kecenderungan-kecenderungan untuk pro atau kontra terhadap suatu obyek sosial yaitu diri sendiri, sama halnya dengan sikap. Namun, di dalam sikap terhadap diri sendiri (konsep diri) terdapat beberapa sifat khas yang berbeda dengan sifat dari sikap terhadap objek-objek sosial lainnya, yaitu (1) tidak ada referensi yang berlaku sama, dimana dalam hal ini setiap individu akan memiliki sikap terhadap dirinya sendiri yang unik, karena obyeknya satu dengan lainnya adalah berbeda dan (2) setiap individu akan termotivasi untuk memiliki sikap yang sama terhadap dirinya sendiri, yaitu sikap yang positif.

Dari apa yang telah dikemukakan, terangkum bahwa konsep diri sebagai persepsi seorang individu terhadap dirinya sendiri, yang meliputi gambaran, penilaian, serta keyakinan terhadap diri sendiri secara menyeluruh, terlihat bukan hanya berisi "gambaran kepribadian" mengenai diri, tetapi juga memiliki kandungan evaluasi-evaluasi serta emosi-emosi mengenai diri.

Dalam hubungannya dengan kepribadian, Rosenberg (1965 dalam Burns, 1993 : 73) menyatakan tidak ada perbedaan yang kualitatif di dalam karakteristik sikap-sikap terhadap diri dan sikap-sikap terhadap obyek-obyek lainnya (misalnya : sabun, sup, daerah pinggiran kota, dan sebagainya). Argumen ini mengambil titik pangkalnya kepada realitas bahwa individu mempunyai sikap-sikap terhadap banyak obyek. Beberapa dari obyek ini dapat berupa bukan

manusia dan dapat juga berupa individu-individu, dimana yang paling penting adalah diri individu itu sendiri.

Secara lebih mendasar, Rosenberg (1965 dalam Burns, 1993 : 74-76) menyatakan bagaimanapun ada aspek-aspek dari konsep diri yang membedakan sikap-sikap diri dari sikap-sikap terhadap obyek lainnya. Kualitas-kualitas yang membedakan ini terletak pada :

1. Obyek acuan yang berbeda.

Untuk menjelaskan hal ini, Rosenberg memberikan contoh : jika seorang individu berpendapat bahwa Picasso itu hebat, sedangkan individu yang lainnya berpendapat tidak hebat, maka kedua individu ini saling tidak sependapat. Tetapi bila seorang individu menganggap dirinya cerdas, sedangkan individu lainnya menganggap dirinya bodoh, maka kedua orang ini saling sependapat. Contoh ini memberikan pengertian bahwa masing-masing individu melihat pada obyek-obyek secara berlainan, tergantung pada aspek-aspek konsep dirinya masing-masing.

2. Setiap individu didorong untuk mempunyai sikap yang sama terhadap diri. Hal ini terutama sekali terhadap kutup yang menyenangkan atau positif dari diri. Hal ini tampaknya menjadi ciri-ciri yang paling penting dari sikap-sikap diri setiap individu, yaitu individu lebih suka mempunyai hal-hal yang positif atau yang menyenangkan dari dirinya.

3. Obyek adalah penting bagi setiap individu, meskipun ada sejumlah besar variasi dalam kadar nilai pentingnya yang dilekatkan kepada obyek tersebut oleh individu secara subyektif. Rosenberg mengutip pernyataan

Murphy (1947) yang menyatakan bahwa apapun diri itu, dia tetap menjadi pusat dan titik sadar, sebuah standart perbandingan, dan suatu kenyataan yang pokok. Tidak dapat dihindari lagi bahwa hal-hal tersebut akan mengambil tempat sebagai suatu penilai yang tertinggi dari diri.

4. Diri adalah refleksi, karena itu sikap dan obyek yang dipunyai oleh seorang individu adalah sama. Sebagai contoh, "saya tidak suka terhadap diri saya sendiri" dan "saya berusaha membersihkan diri saya sendiri" memberikan pengertian bahwa individu tersebut berlaku baik sebagai subyek maupun sebagai obyek. Hal ini merupakan 2 (dua) aspek) yang dibedakan dari diri yang global, diri sebagai I atau pengenal dan diri sebagai Me atau dikenal.

5. Komitmen emosional dari setiap individu akan menentukan pembentukan sikapnya terhadap obyek. Emosi-emosi tertentu seperti kesombongan, kecongkakan, malu, putus asa, dan aib hanya ditimbulkan dalam hubungannya dengan obyek-obyek yang melibatkan diri atau ego. Emosi-emosi ini sebagian besar menerangkan mengapa sikap-sikap diri mempunyai nilai-nilai yang penting dan besar bagi penentuan sikap dan kesehatan mental seorang individu.

6. Sumber-sumber pengaruh yang dimiliki setiap individu berbeda-beda dalam mempengaruhi sikap-sikap dirinya dan yang mempengaruhi sikap-sikapnya terhadap banyak obyek lainnya. Sebagai contoh, komunikasi antarpribadi lebih mempengaruhi sikap-sikap diri dibandingkan dengan komunikasi massa. Komunikasi antarpribadi lebih

mempengaruhi sikap-sikap diri terhadap suatu obyek dibandingkan komunikasi massa yang hanya membantu mendefinisikan dengan lebih jelas lagi sikap-sikap individu tersebut terhadap suatu obyek.

Akhirnya, evaluasi diri dari sikap-sikap diri terhadap suatu obyek tergantung pada interprestasi individu terhadap apa yang ia percayai dan orang-orang lain berpikir percaya seperti dia. Evaluasi dari konsep diri selalu dilakukan dengan acuan terhadap kriteria-kriteria yang biasanya merupakan standard-standart masyarakat, kelompok, dan keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Burns, R.B. 1993. Konsep Diri, Teori, Pengukuran, Perkembangan, dan Perilaku.

Jakarta, Penerbit Arcan.

Fitts, William H. 1971. The Self Concept and Self Actualization. Los Angeles, California, Western Psychological Services A Division of Manson Western Corporation.

Hall, Calvin S. dan Lindzey, Gardner. 1978. Theories of Personality, Third Edition. New York, John Wiley & Sons, Inc.

Handayani, Alva. 1993. Hubungan Antara Konsep Diri, Perasaan Rendah Diri, dan Kemampuan Penyesuaian Diri Pada Penyandang Cacat Amputasi (Skripsi). Bandung, Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.

Herlina, Sri. 1995. Suatu Studi Mengenai Hubungan Antara Konsep Diri dan Perilaku Relasi Heterososial Pada Pria Lajang (Skripsi). Bandung, Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.

Laing, R.D. 1972. Self and Others. Great Britain, C. nicholls & Company Ltd. Mead, George H. 1972. Mind, Self, and Society : From The Standpoint of A Social

Behaviorist. London, The University of Chicago Press.

Dalam dokumen Konsep Diri (Halaman 30-36)

Dokumen terkait