• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan tentang Good Corporate Governance (GCG)

9. Konsep Good Corporate Governance (GCG) dalam Islam

Prinsip Islam yang mendukung bagi terlaksana GCG atau tata kelola di dunia perbankan adalah prinsip-prinsip syariah. Prinsip syariah tersebut merupakan bagian sistem syariah. Pelaksanaan sistem syariah pada perbankan syariah dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif mikro dan makro. Nilai-nilai syariah dalam perspektif mikro menghendaki bahwa semua dana yang diperoleh dalam sistem perbankan syariah dikelola dengan integrasi tinggi dan sangat hati-hati, nilai-nilai itu meliputi sebagai berikut. (Machmud dan Rukmana, 2009: 78)

a. Shiddiq

Salah satu sifat dan sikap yang termasuk fadhilah ialah ash-shidqah yang berarti benar, jujur. Yang dimaksud di sini ialah berlaku benar dan jujur baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Kewajiban bersifat dan bersikap benar ini diperintahkan dalam al-Qur`an.



















Artinya:“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.

(Q.S. at-Taubah [9]: 119)

Sikap benar ini adalah salah satu fadhilah yang menentukan status dan kemajuan perseorangan dan masyarakat. Menegakkan prinsip kebenaran adalah salah satu sendi kemaslahatan dalam hubungan antara manusia dengan manusia dan antara satu golongan dengan golongan lainnya. (Ya’qub, 1996: 102)

Nilai ini memastikan bahwa pengelola bank syariah dilakukan dengan moralitas yang menunjang tinggi nilai kejujuran. Nilai ini mencerminkan bahwapengelolaan dana masyarakat yang dilakukan enggan mengedepankan cara-cara yang meragukan (subhat) terlebih lagi yang bersifat dilarang (haram). (Machmud dan Rukmana, 2009:

78)

Pengertian ash-shidu yaitu mengatakan benar dan terang atau memberi kabar sesuai dengan kenyataan yang diketahui oleh si pembicara dan tidak diketahui oleh orang lain. (Al-Hufiy, 2000: 282) Keutamaan dan kemuliaan sifat benar itu diperkuat atau dijelaskan dalam firman Allah SWT Q.S Al-An’an [6]: 115



Artinnya: “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha mengetahui”. (Q.S Al-An’an [6]: 115)

b. Tabligh

Secara berkesenambungan melakukan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat mengenai prinsip-prinsip, produk, dan jasa perbankan syariah. Dalam melakukan sosialisasi sebaiknya tidak hanya mengedepankan pemenuhan prinsip syariah semata, tetapi juga harus mampu mengedukasi masyarakat mengenai manfaat bagi pengguna jasa perbankan syariah. (Machmud dan Rukmana, 2009:

78)

c. Amanah

Nilai ini menjaga dengan ketat prinsip kehati-hatian dan kejujuran dalam mengelola dana yang diperoleh dari pemilik dana (shahibul maal) sehingga timbul rasa saling percaya antara pihak pemilik dana dan pihak pengelola dana investasi (mudharib).

(Machmud dan Rukmana, 2009: 78)

Amanah dalam arti khusus ialah pengembalian harta benda atau lainnya kepada orang yang menitipkan atau mempercayakan benda tersebut. Orang yang diberi kepercayaan itu harus memelihara dan bertanggung jawab terhadap barang itu serta tidak berhak bertindak terhadap barang itu. Jika pemilik barang tersebut meminta kembali barangnya. Ia harus segera mengembalikannya.

Adapun amanah dalam arti umum lebih luas daripada yang khusus. Termasuk dalam arti umum ialah menyembunyikan rahasia,

ikhlas dalam memberikan nasihat kepada orang yang memintanya, dan benar-benar memberikan nasihat kepada orang yang memintanya, dan benar-benar menyampaikan sesuatu yang dia tugaskan untuk menyampaikannya. Dengan demikian, orang yang mempercayakan suatu rahasia kepadamu adalah orang yang meyakini kejujuranmu dan beranggapan bahwa kamu dipercaya serta bertanggung jawab atas terpeliharanya rahasia itu. (Al-Hufiy, 2000:

306)

Allah SWT memerintahkan hambaNya mengembalikan amanah serta memuji mereka yang menaati perintah itu serta memberikan ancaman terhadap mereka yang berkhianat sebab Allah SWT Maha Mendengar apa yang diucapkan. Allah SWT Maha Mengetahui apa yang diperbuat. (Al-Hufiy, 2000: 307)

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an:



Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.

Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”. (Q.S An-Nisa [4]: 58)

Suatu amanah sebenarnya adalah suatu tugas yang berat dipikul, kecuali bagi orang yang memiliki sifat al-amanah tersebut.

(Ya’qub, 1996: 99-100). Dikemukakan dalam Al-Qur`an:



Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233]

kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”. (Q.S Al-Ahzab [33]: 72)

d. Fathanah

Nilai ini memastikan bahwa pengelolaan bank dilakukan secara profesional dan kompetitif sehingga menghasilkan keuntungan maksimum dalam tingkat risiko yang ditetapkan oleh bank. Termasuk di dalamnya adalah pelayanan yang penuh dengan kecermatan dan kesantunan (ri’ayah) serta penuh rasa tanggung jawab (mas’uliyah). (Machmud dan Rukmana, 2009: 78)

Konsep pertanggungjawaban (ma’ad) tidak ditemukan dalam sistem ekonomi selain Islam. Konsep ma’ad mengajarkan kepada manusia bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan, apapun motifnya, akan mendapat balasan.

Tidak selayaknya manusia hanya mementingkan kehidupan dunia, tanpa memperhatikan kehidupan jangka panjang di alam akhirat. Jika dikalkulasikan dengan perhitungan bisnis, kehidupan manusia tidak hanya diukur dengan pencapaian keuntungan material, tetapi lebih dari itu pencarian keuntungan di akhirat menjadi target utama sebagaimana firman Allah SWT surah Al-Qashash [28]: 77.

(Idri, 2015: 32-33)



kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

(Q.S Al-Qashash [28]: 77

Iqbal dan Mirakhor (dalam buku Abdullah, 2010: 41) mencatat bahwa upaya untuk menjelaskan prinsip dan aturan ekonomi dan finansial Islam dalam terminologi analitis modern baru berlangsung dalam dua dekade terakhir. Dalam kaitannya dengan Corporate Governance (CG, dhawabith idarat al-muassasat), upaya akademis seperti itu dimulai pada masa yang lebih kemudian, yaitu setelah era CG generasi kedua.

Ahli-ahli ekonomi Islam mengakui bahwa CG yang baik penting adanya untuk pembangunan ekonomi. Grais dan Pellegrini mengutip Claessens (dalam buku Abdulllah, 2010: 41) yang dalam hal ini mengidentifikasi empat area di mana bukti-bukti empiris menunjukkan dampak positif CG yang baik terhadap kinerja peusahaan. Pertama, ia memudahkan dan investor lainnya lebih suka memperluas pembiayaan terhadap suatu usaha jika mereka merasa nyaman dengan pengaturan CG-nya, termasuk kejelasan hak-hak para kreditur dan penegakannya. Kedua, CG yang baik akan membuat biaya modal yang diperlukan lebih rendah, dengan adanya kesiapan pemegang saham untuk menerima return yang lebih kecil karena adanya perasaan bahwa risiko telah berkurang. Ketiga, CG

yang baik terbukti mampu mendorong kinerja perusahaan menjadi lebih baik. Keempat, CG yang baik mengurangi risiko tertular kesulitan keuangan.

CG yang baik diakui penting oleh para ahli ekoknomi Islam untuk semua korporasi, tetapi ia lebih penting lagi untuk lembaga keuangan syariah. Di sini CG mempunyai makna khusus karena ada kesepakatan bahwa lembaga-lembaga keuangan syariah harus menjadi bagian dari cita paradigmatis pengembangan sistem keuangan dan sistem ekonomi Islam yang menekankan muatan moral dalam perilaku usaha dan transaksi.

Chapra dan Ahmed (dalam buku Abdullah, 2010: 43) mengemukakan bahwa penerapan CG yang efektif sangat dibutuhkan untuk memenuhi kepentingan semua stakeholder secara adil. Yusof (dalam buku Abdullah, 2010: 43) menyebut hal yang serupa dengan menekankan bahwa tujuan CG dalam perbankan syariah ialah untuk menegakkan keadilan, kejujuran, dan perlindungan terhadap kebutuhan manusia sesuai dengan maqashid al-syari’ah. Adapun gambaran mengenai kerangka pengembangan paradigma ekonomi Islam secara keseluruhan diikhtisarkan oleh Iqbal dan Mirakhor (dalam buku Abdullah, 2010: 43) sebagai berikut:

a. Prioritas terpenting Islam dan ajarannya dalam bidang ekonomi adalah keadilan dan kesetaraan. Gagasan keadilan dan kesetaraan dalam sistem ekonomi yang dicitakan bersifat menyeluruh, mulai dari produksi hingga distribusi. Sebagai sebuah aspek dari keadilan yang menyeluruh, keadilan sosial dalam Islam mencakup penciptaan dan penyediaan peluang yang setara, dan upaya untuk menghilangkan rintangan untuk pemetaan setiap anggota masyarakat. Keadilan hukum dapat ditafsirkan bahwa semua anggota masyarakat memilki kesetaraan status di hadapan hukum, kesetaraan dalam

perlindungan hukum, dan kesetaraan peluang di bawah hukum.

Gagasan keadilan ekonomi, dan konsep keadilan distributif, sebagai sebuah aspek dari keseluruhan prinsip keadilan dalam Islam, menjadi penting sebagai pengidentifikasi karekteristik sistem ekonomi Islam. Sebab keadilan distributif mengatur perilaku ekonomi yang diperbolehkan dan dilarang pada pihak konsumen, produsen, dan juga pemerintah. Demikian pula dengan hak kepemilikan, produksi dan kontribusi kekayaan yang semuanya mengakar pada konsep dasar keadilan Islam.

b. Paradigma Islami mencakup kerangka spiritual dan moral yang lebih mementingkan nilai hubungan manusia daripada penguasaan materi. Perhatian dalam hal ini bukan hanya diberikan pada kebutuhan material, tetapi juga pada terwujudnnya keseimbangan antara pemenuhan material dan spiritual manusia.

c. Sistem Islam menciptakan keseimbangan hubungan antara individu dan masyarakat. Kepentingan diri dan kekayaan pribadi individu tidak dilarang, tapi harus diatur demi tercapainya kemajuan kolektivitas yanng lebih besar.

d. Pengejaran oleh individu terhadap keuntungan maksimum dalam perusahaan dan kepuasan maksimum dalam konsumsi bukanlah tujuan tunggal masyarakat; pemborosan atau konsumsi yang sia-sia sama sekali tidak dianjurkan.

e. Pengakuan dan perlindungan hak milik seluruh anggota masyarakat adalah fondasi masyarakat yang berorientasi stakeholder, demi menjaga hak semua orang dan mengingatkan tanggung jawab mereka. (Abdullah, 2010: 44)

B. Tinjauan tentang Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)