• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERILAKU KONSUMEN MUSLIM & KONSEP HALAL

B. Konsep Halal

1. Konsep Halal dalam Islam

46

5) Prinsip Moralitas

Seorang konsumen muslim diharapkan dapat membingkai seluruh perilaku konsumsinya dengan aspek moralitas yang terkandung dalam Islam. Dimana salah satu bentuk moralitas dalam berkonsumsi adalah sellau menyebut nam Allah dan senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan salah satunya adalah kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup.33

B. Konsep Halal

1. Konsep Halal dalam Islam

Islam adalah agama yang sangat sempurna, dimana dalam Islam semua ketentuan akan kehidupan telah dijabarkan secara rinci dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadis. Salah satu yang menjadi pokok ajaran Islam adalah mengenai konsep halal. Pada dasarnya, hukum asal atas segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah halal dan mubuh, kecuali terdapat sebuah nash yang mengharamkannya.34

Kata halal (لﻼ ﺣ) merupakan bentuk masdar dari kata ّﻞ ﺣ yang memiliki arti melepaskan, menguraikan atau membebaskan.35 Secara etimologi, halal

33

Eko Suprayitno, Ekonomi Mikro Perspektif Islam (Malang: UIN Malang-Press, 2008), 110.

34

Yusuf Qardawy, Al-ḥalālu wa al-ḥarām fi al-islām (Kairo: Maktabah Wahbah, 1993), 19.

35

Ahmad Warson Munawir, Al-Munawwir: Kamus Arab Indonesia (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), 91.

47

memiliki arti segala sesuatu yang tidak memiliki keterikatan atas ketentuan-ketentuan yang melarangnya sehingga diperbolehkan untuk dilakukan.36

Dalam Ensiklopedia Hukum Islam, kata halal memiliki tiga makna yakni pertama, halal adalah sesuatu yang tidak akan menimbulkan hukuman bagi orang yang menggunakannya. Kedua, halal yakni suatu hal yang dibenarkan oleh syariat sehingga diperbolehkan untuk dikerjakan. Dan ketiga, halal juga dapat diartikan dengan boleh, jaiz atau mubah.37 Kata halal juga dapat diartikan dengan arti baik atau thayyib38 dan merupakan antonim dari kata haram (ماﺮﺣ).39

Menurut Quraish Shihab, makna halal dari segi hukum adalah segala sesuatu yang tidak dilarang untuk dilakukan atau bukan sesuatu yang haram, yang mana haram adalah suatu perbuatan yang memberikan sebuah dampak bagi pelakunya yakni dosa maupun siksa. Kedudukan halal sendiri sebagai sebuah hukum masih terikat dengan hukum empat yang pertama dalam panca hukum Islam, yakni wajib, sunnah, mubah dan makruh.40

Konsep halal dalam Islam mencakup kedalam seluruh aspek kehidupan manusia, salah satunya adalah dalam kegiatan ekonomi. Mulai dari produksi, konsumsi hingga distribusi juga menjadi cakupan daripada penerapan konsep

36

Ghufron A. Mas’adi, Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), 199.

37

Abdul Azis Dahlan, et.al., Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2003), 506.

38

Louis Ma’ruf, Munjid fi al-Lughah wa al-A’Lam (Beirut: Dar al-Masyriq, 1996), 150

39

Sukiati, “Konsep Halal Dan Haram Dalam Al-Qur’an (Kajian Hukum Islam tentang Konsumsi dengan Pendekatan Tafsir” (Tesis --, Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Medan, 2013), 46.

40

M. Quraish Shihab, Wawasan: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2003), 204.

48

halal dalam Islam.41 Seluruh aspek dalam kehidupan ekonomi haruslah berlandaskan pada sesuatu yang diperbolehkan oleh Islam. Salah satu yang terpenting adalah dalam melakukan aktifitas konsumsi.

Dalam melakukan konsumsi, seorang muslim bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasannya semata melainkan tujuan utama daripada konsumen muslim sebagaimana dikemukakan oleh Al-Ghazali adalah untuk keselamatan. Baik itu keselamatan di dunia maupun di akhirat.42 Oleh karenanya, penting bagi konsumen muslim untuk senantiasa mengkonsumsi makanan yang memang diperbolehkan atau dihalalalkan oleh syariat Islam.

Makanan halal adalah segala jenis makanan dan minuman yang terhindar dari najis, diperoleh dengan cara yang baik serta baik untuk dikonsumsi oleh manusia. Sehingga, makanan halal itu juga memiliki arti makanan yang baik (thayyib), yaitu segala sesuatu yang dinilai baik oleh indra dan jiwa maupun sesuatu yang dinilai tidak menjijikkan atau menyakitkan.43

Dengan demikian, halal ialah segala sesuatu yang diperbolehkan oleh syariat Islam untuk dikerjakan dan tidak ada hukuman bagi yang

melakukannya. Sedangkan halal dalam aspek konsumsi adalah

41

Muhammad Sharif Chaudhry, Sistem Ekonomi Islam: Prinsip Dasar (Jakarta: Kencana, 2016), 148.

42

Muhammad Akram Khan, Ajaran Nabi Muhammad SAW Tentang Ekonomi (Jakarta: PT Bank Muamalat Indonesia dan Institute of Policy Study Islamabad, 1997), 89.

43

Ali Mustofa Yaqub, Kriteria Halal-Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Manurut

49

mengkonsumsi segala sesuatu yang tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsinya.44

Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa surat yang mengandung perintah untuk tidak memakan apa yang telah diharamkan. Dimana selain apa yang terkandung di dalam surat-surat tersebutnya tentunya boleh untuk dikonsumsi ummat Islam. Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan tentang larangan mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang diharamkan oleh Allah adalah sebagai berikut:

1) QS. Al-Baqarah: 173

ِﻦ َﻤَﻓ ِﷲ ِﺮ ﯿَﻐِﻟ ﮫ ِﺑ ﱠﻞ ِھُأ ﺂ َﻣ َو ِﺮ ﯾ ِﺰﻨ ِﺨﻟا َﻢ ْﺤَﻟ َو َمﱠﺪ ﻟا َو َﺔ َﺘﯿَﻤﻟا ُﻢُﻜﯿ َﻠَﻋ َم ﱠﺮ َﺣ ﺎ َﻤﱠﻧِإ

ٌﻢﯿ ِﺣ َر ٌرﻮُﻔَﻏ َﷲ ﱠنِإ ِﮫﯿَﻠَﻋ َﻢْﺛِإ ﻶَﻓ ٍدﺎَﻋ َﻻ َو ٍغﺎَﺑ َﺮْﯿَﻏ ﱠﺮُﻄْﺿا

)

١٧٣

(

“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”45 2) QS. Al-Maidah: 3

ُﺔ َﻘِﻨَﺨْﻨُﻤﻟا َو ﮫ ِﺑ ِﷲ ِﺮ ﯿَﻐِﻟ ﱠﻞ ِھُأ ﺂ َﻣو ِﺮ ﯾ ِﺰﻨ ِﺨﻟا ُﻢ ْﺤَﻟ َو ُمﱠﺪ ﻟا َو ُﺔ َﺘﯿَﻤﻟا ُﻢُﻜﯿ َﻠَﻋ ْﺖ َﻣ ِّﺮُﺣ

ﻰ َﻠَﻋ َﺢ ِﺑُذ َﺎ ﻣو ﻢُﺘ ﯿﱠﻛَذ ﺎ َﻣ ﱠﻻِإ ُﻊُﺒ ﱠﺴﻟا َﻞ َﻛَأ ﺂ َﻣ َو ُﺔ َﺤﯿ ِﻄﱠﻨﻟا َو ُﺔ َﯾِّد َﺮَﺘُﻤﻟا َو ُةَذﻮ ُﻗﻮَﻤﻟا َو

َﻻﺎ ِﺑ اﻮُﻤ ِﺴْﻘَﺘْﺴَﺗ ْنَا َو ِﺐ ُﺼﱡﻨﻟا

ﻦ ِﻣ او ُﺮ َﻔَﻛ َﻦﯾِﺬ ﱠﻟا َﺲِﺌ َﯾ َمﻮ َﯿﻟَأ ٌﻖ ﺴِﻓ ﻢ ﻜﻟذ ِمَﻻ ْز

ﻢُﻜﯿ َﻠَﻋ َﺖ ْﻤَﻤْﺗَأ َو ﻢُﻜَﻨ ﯾِد ﻢ ُﻜَﻟ ُﺖ ْﻠَﻤْﻛَأ َمﻮ َﯿﻟَا ِن ْﻮ َﺸْﺧا َو ْﻢُھ ْﻮ َﺸﺨَﺗ َﻼ َﻓ ﻢُﻜِﻨ ﯾِد

44

Anton Apriyantono, Tanya Jawab Soal Halal (Jakarta: Khairul Bayan, 2004), 17.

45

50

ﺎ َﺠَﺘُﻣ َﺮ ﯿَﻏ ٍﺔ َﺼَﻤ ْﺨَﻣ ﻰ ﻓ ﱠﺮُﻄ ْﺿا ِﻦ َﻤَﻓ ﺎ ًﻨﯾِد َمَﻼ ْﺳِﻻا ُﻢ ُﻜﻟ ُﺖﯿ ِﺿ َر َو ﻰ ِﺘَﻤْﻌِﻧ

ِِﻹ ٍﻒِﻧ

ٌﻢﯿ ِﺣ َر ٌرﻮُﻔَﻏ َﷲ ﱠن ِﺈَﻓ ٍﻢْﺛ

)

٣

(

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa unutk (mengalahkan) agama, sebab itu janganlah kamu takut kepad mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”46

3) QS. An-Nahl: 115

ِﻦ َﻤَﻓ ﮫ ِﺑ ِﷲ ِﺮ ْﯿَﻐِﻟ ﱠﻞ ِھُأ ﺂ َﻣ َو ِﺮ ﯾ ِﺰْﻨ ِﺨﻟا َﻢ ﺤَﻟ َو َمﱠﺪ ﻟا َو َﺔ َﺘْﯿَﻤﻟا ُﻢُﻜْﯿ َﻠَﻋ َم ﱠﺮ َﺣ ﺎ َﻤﱠﻧِإ

َﻋ َﻻو ٍغﺎَﺑ َﺮْﯿَﻏ ﱠﺮُﻄْﺿا

ُﻢﯿ ِﺣ َر ُرﻮُﻔَﻏ َﷲ ﱠنِﺈَﻓ ٍدﺎ

)

١١٥

(

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”47

4) Hadis

لﺎ ﻗ ﮫ ﻨﻋ ﷲ ﻲ ﺿر ﺮﯿ ﺸﺑ ﻦ ﺑ نﺎ ﻤﻌﻨﻟا ﻦ ﻋ

:

ٌﻦِّﯿ َﺑ ُلَﻼ َﺤْﻟا ﷺ ﱡﻲ ِﺒﱠﻨﻟا لﺎ ﻗ

َك َﺮ َﺗ ْﻦ َﻤَﻓ ُﺔَﮭِﺒَﺘ ْﺸُﻣ ٌرﻮ ُﻣُأ ﺎ َﻤُﮭَﻨْﯿَﺑو ٌﻦِّﯿ َﺑ ُما َﺮ َﺤﻟا َو

َنﺎ ﻛ ِﻢ ﺛ ِﻹا ﻦ ﻣ ِﮫ ﯿﻠﻋ َﮫِّﺒ ُﺷ ﺎ َﻣ

َﻊ ِﻗا َﻮُﯾ ْنَأ َﻚ َﺷ وَأ ِﻢ ﺛ ِﻹا ﻦ ﻣ ِﮫ ﯿﻓ ﱡﻚ ُﺸَﯾ ﺎ ﻣ ﻰ ﻠﻋ َأ َﺮ َﺘ ْﺟا ﻦ ﻣو َك َﺮ ْﺗَا َنﺎَﺒﺘ ْﺳا ﺎ َﻤِﻟ

46 Ibid., 107 47 Ibid., 280.

51

ُﮫ َﻌِﻗا َﻮُﯾ ْنَأ ُﻚ ِﺷ ﻮ ُﯾ ﻰ َﻤ ِﺤﻟا َلﻮ َﺣ ْﻊ َﺗ ْﺮَﯾ ﻦ َﻣ ِﷲ ﻰ َﻤ ِﺣ ﻲ ِﺻﺎَﻌَﻤﻟاو َنﺎَﺒﺘ ْﺴﻟا ﺎ َﻣ

)

يرﺎﺨﺒﻟا هاوز

(

Dari an-Nu’man bin Basyir R.A, dia berkata: Nabi SAW bersabda, “Yang halal itu sudah jelas keterangannya dan yang haram itu sudah jelas pula keterangannya, sedangkan antara keduanya ada beberapa perkara yang diragukan. Barangsiapa meninggalkan apa yang diragukan tentang dosanya, biasanya orang itu meninggalkan pula apa yang sudah nyata berdosa. Dan barangsiapa berani melakukan apa yang masih diragukan tentang dosanya, yang dikhawatirkan ia jatuh pada perkara yang nyata dosanya. Segala macam maksiat adalah larangan Allah. Barangsiapa bermain-main sekitar larangan Allah, dikhawatirkan ia akan jatuh ke dalamnya.” (HR. Bukhari)48

Pada dasarnya, semua yang ada di muka bumi ini memiliki hukum asal yakni halal dan mubah, kecuali terdapat nash yang mengharamkannya.49 Termasuk dalam hal makanan, semua makanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia khususnya ummat Islam memiliki status hukum halal, kecuali jika ada nash yang melarang untuk mengkonsumsi beberapa jenis makanan diantaranya seperti bangkai dan darah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa perkara halal dan haram telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Seluruh perkara yang halal dan haram sudah pasti dan jenis-jenisnya.

Makanan halal ialah makanan yang secara hukum syariat Islam diperbolehkan untuk dikonsumsi. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi untuk dapat menjadikan makanan tersebut adalah halal, yaitu:

48

Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka As-Sunnah, 2010), dalam Bab Halal dan Haram Sudah Jelas, dan Diantara Keduanya Adalah Hal-Hal yang Masih Samar, Hadis No. 2051, 385-386.

49

52

1) Makanan tersebut bukanlah jenis-jenis daripada makanan yang secara tegas dilarang oleh Allah.

2) Tidak mengandung bahan-bahan yang najis menurut syariat.

3) Tidak mengandung ataupun tercampur daripada bahan-bahan yang diharamkkan di dalam komposisinya.

4) Tidak diproduksi menggunakan alat yang terkena najis maupun alat-alat untuk mengolah makanan dengan unsur-unsur yang diharamkan. 5) Mulai dari produksi, pengemasan, penyimpanan, pendistribusian hngga

penyajian haruslah terhindar dari jenis-jenis makanan yang diharamkan.

Penting bagi seorang muslim untuk dapat mengetahui secara pasti status kehalalan produk yang akan dikonsumsi. Dengan kata lain, seorang konsumen muslim haruslah mengetahui jenis-jenis makanan apa saja yang telah secara pasti diharamkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Empat jenis makanan yang diharamkan tersebut adalah:50

1) Bangkai, yakni hewan yang mati tanpa disembelih baik itu dengan cara mati tercekik, jatuh, dipukul ataupun mati akibat diterkam binatang buas lainnya.

2) Darah, artinya adalah darah yang mengalir dari hewan yang disembelih.

50

Qamaruddin Shaleh, et.al., Ayatul Ahkam Ayat-Ayat Larangan dan perintah dalam Al-Qur’an

53

3) Babi, semua komponen daripada babi dilarang untuk dikonsumsi, baik itu darah, daging, tulang maupun turunan daripada olahan produk yang dihasilkan dari babi.

4) Hewan yang disembelih dengan menyebut selain nama Allah.

2. Halal Awareness

Kesadaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Online) adalah suatu kondisi seseorang dalam merasakan, mengerti, memahami dan mengetahui akan suatu hal.51 Kesadaran juga dapat diartikan sebagai bentuk pemahaman atau pengetahuan atas situasi tertentu yang dirasakan oleh seseorang.52

Adapaun kesadaran halal adalah sikap seorang muslim dalam mengetahui tentang konsep halal baik secara mendasar maupun menyeluruh. Serta yang paling penting dalam halal awareness adalah sikap seorang muslim untuk memprioritaskan mengkonsumsi makanan halal.53

Salah satu aspek dalam kesadaran halal adalah bagaiamana konsumen muslim dalam mengkonsumsi segala produk selalu didasarakan pada keberadaan sertifikat halal yang dimiliki oleh produsen maupun logo halal

51

https://kbbi.web.id/sadar, diakses pada (7 Oktober 2019).

52

Haslinda Hasan, “A Study On Awareness And Perception Towards Halal Foods Among Muslim Students In Kota Kinabalu, Sabah” Proceedings of the Australia-Middle East Conference on

Business and Social Sciences (Dubai, 2016), 3.

53

Nor Sara Nadia Muhammad Yunus, et. Al., “Muslim’s Purchase Intention towards Non-Muslim’s Halal Packaged Food Manufacturer”, Procedia Social and Behavioral Sciences (2014), 147.

54

yang tercantum dalam kemasan produk. Pengetahuan akan komposisi yang terkandung dalam makanan tentang status kehalal produk yang akan dikonsumsi juga menjadi cakupan daripada kesadaran halal.54

Kesadaran halal atau halal awareness disamping mengetahui akan konsep halal, tetapi juga meliputi pengetahuan maupun pemahaman kehalalan produk yang akan dikonsumsi, serta bagiamana proses produksi makanan ataupun minuman tersebut.55 Kesadaran halal mempunyai ruang lingkup yang lebih dalam daripada sekedar akan pemahaman terkait konsep konsumsi halal semata.

Sertifikat halal dan logo halal menjadi salah satu acuan yang penting untuk menilai kesadaran halal konsumen muslim. Karena pada dasarnya, seorang muslim akan lebih tertarik untuk mengkonsumsi makanan yang telah tersertifikasi halal.56 Adanya sertifikasi halal maupun logo halal yang tercantum dalam peroduk juga memudahkan bagi konsumen muslim untuk mengetahui akan status kehalalan produk yang akan dikonsumsi.

Penerapan akan halal awareness bagi setiap konsumen muslim sangatlah penting, mengingat dalam Al-Qur’an telah diperintahkan untuk

54

Hayat M. Awan, Ahmad Nabeel Siddiquei dan Zeeshan Haider, “Factors affecting Halal purchase intention – evidence from Pakistan’s Halal food sector”, Management Research Review, Vol. 38, No. 6 (2015), 642.

55

Kholis Amalia Nofianti dan Siti Nur Indah Rpfiqoh, “Kesadaran dan Logo Halal: Apakah Menentukan Minat Beli? (Studi pada Praaktisis Bisnis UMKM di Gresik)”, Journal of Halal

Product and Research, Vol. 2, No. 1 (Mei, 2019), 17.

56

Premi Wahyu Widyaningrum, “Pengaruh Label Halal, Kesadaran Halal, Iklan, dan Celebrity

Endorser terhadap Minat Beli Pembelian Kosmetik melalui Variabel Persepsi Sebagai Mediasi

(Studi pada Civitas Akademika Universitas Muahammadiyah Ponorogo)”, Capital Jurnal Ekonomi

55

senantiasa memakan segala sesuatu yang halal dan baik (halalan thayyiban). Sebagaiamana yang tercantum dalam Al-Qur’an, yaitu:

1) QS. Al-Baqarah: 168

ِنﺎَﻄْﯿ ﱠﺸﻟا ِتا َﻮ ُﻄُﺧ اﻮ ُﻌِﺒﱠﺘَﺗ َﻻ َو ﺎ ًﺒِّﯿَط ًﻼ ﻠَﺣ ِض ْرَﻻا ﻰ ِﻓ ﺎ ﱠﻤ ِﻣ اﻮ ُﻠُﻛ ُﺲﱠﻨ ﻟا ﺎ َﮭﱡﯾ ﺄ ﯾ

ٌﻦﯿِﺒُﻣ ﱞوُﺪَﻋ ْﻢُﻜَﻟ ُﮫﱠﻧإ

)

168

(

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”57 2) QS. Al-Maidah: 88

ُﺘْﻧَأ ىِﺬﱠﻟا َﷲ اﻮُﻘﱠﺗا َو ﺎًﺒِّﯿَط ًﻼﻠَﺣ ُﷲ ُﻢُﻜَﻗ َز َر ﺎﱠﻤ ِﻣ اﻮُﻠُﻛ َو

َنﻮُﻨ ِﻣ ْﺆُﻣ ﮫِﺑ ﻢ

)

٨٨

(

“Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya.”58 3) QS. An-Nahl: 114

ُﻜْﺷا َو ﺎًﺒِّﯿَط ًﻼﻠَﺣ ُﷲ ُﻢُﻜَﻗ َز َر ﺎﱠﻤ ِﻣ ْاﻮُﻠُﻜَﻓ

َن ْوُﺪُﺒْﻌَﺗ ُهﺎﱠﯾإ ْﻢُﺘْﻨُﻛ نِإ ِﷲ َﺖَﻤْﻌِﻧ او ُﺮ

)

١١۴

(

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”59

57

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: PT Syamil Cipta Media, 2004), 25.

58 Ibid., 122.

59

56

3. Sertifikat Halal

Sertifikat halal adalah sebuah fatwa MUI yang menyatakan status akan kehalalan suatu produk yang ada di Indonesia. Dalam memperoleh sertifikat halal haruslah memperoleh ijin terlebih dahulu dari MUI dan BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal). Hal ini dikarenakan dengan adanya kepemilikan atas sertfikat halal, maka pihak produsen memiliki ijin untuk mencantumkan label halal pada setiap kemasan produk yang di produksi.60

Dalam Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Jaminan Produk Halal juga dijelaskan bahwasannya sertifikat halal adalah pengakuan status kehalalalan atas suatu produk baik itu makanan, minuman, kosmetik, dan lainnya yang dikeluarkan oleh BPJPH berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI tentang status halal produk tersebut secara tertulis.61

Produk yang telah memiliki sertifikat halal, bukan saja hanya halal secara bahannya saja tetapi juga termasuk dari proses pengolahan produk, lokasi produk, peralatan dan penyimpanan yang digunakan, ruang produksi produk, hingga sampai pada tahap pendistribusian dan penyajian produk juga menjadi cakupan daripada audit halal.62 Sehingga, produk yang telah memiliki label halal yang dikeluarkan oleh MUI atau yang saat ini

60

DPHI (Direktori Produk Halal Indonesia), Indonesian Halal Product Directory 2008-2009 (Jakarta: PT. Tribuwana Cahya Ananta, 2011), 32.

61

Pasal 1 Ayat (10) UU No. 33 Tahun 2004 tentang Jaminan Produk Halal.

62

Hal ini diatur dalam UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Jaminan Produk Halal Pasal 15 dan Pasal 21.

57

dikeluarkan oleh BPJPH63 tentunya secara hukum Islam telah memenuhi apa yang diperintahkan Allah dalam mengkonsumsi, yakni halalan thayyiban (halal dan baik).

Sertifikat halal juga sebagai acuan bagi konsumen muslim, karena pada dasarnya sertifikat halal adalah bentuk jaminan bagi seorang muslim dalam mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan syariat Islam. Sehingga, dengan adanya sertifkat halal atas setiap produk yang dipasarkan tentunya akan dapat memberikan fasilitas berupa keamanan dan kepercayaan bagi konsumen muslim atas produk yang mereka konsumsi.64

63

Berdasarkan UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, terhitung mulai tanggal 17 Oktober 2019 proses pengeluaran sertifkasi halal yang sebelumnya menjadi wewenang dari MUI beralih menjadi kewenangan dari BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) dibawah naungan Kementerian Agama.

64

Irgiana Faturohman, “Faktor yang Mempengaruhi Minat Beli terhadap Makanan Halal. Studi pada Konsumen Muslim di Indonesia”, Polban (2019), 885.

BAB III

PRODUK HALAL DAN HALAL AWARENESS

A. Perkembangan Produk Halal di Indonesia

Topik mengenai trend hidup halal semakin menggeliat di Indonesia. Terlebih lagi Indonesia sebagai negara terbesar dengan penduduk muslimnya menjadikan industri halal semakin memiliki tempat tersendiri dalam perekonomian Indonesia.

Sebagai negara dengan penduduk sebanyak 207 Juta yang memeluk Islam1, tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia untuk dapat mengembangakan dan menguasai industri halal baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan keuntungan akan jumlah penduduk muslim yang ada, berdasarkan laporan tahunan yang dikeluarkan oleh OIC (Organitation of Islamic Cooperation)

Indonesia mampu mencatatkan diri sebagai negara dengan

pengeluaran akan produk halal terbesar di dunia pada tahun 2017 yakni sebesar $218,8 Milyar Dollar, sebagaimana yang terlihat dalam tabel di bawah ini.

1

59

Tabel 3.1

Halal Economy Spend 2017, in billions2

Tidak mengherankan jika Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara dengan pengeluaran halal terbesar di dunia mengingat jumlah penduduk muslim di Indonesia yang mayoritas. Kemampuan ummat Islam di Indonesia dalam melakukan konsumsi akan produk-produk halal sangatlah besar. Dari total pengeluaran halal masyarakat Indonesia yang tercatat sebesar $218,8 Milyar Dollar, sebanyak tujuh

puluh satu persen merupakan pengeluaran akan makanan yaitu

sebesar $170 Milyar Dollar di tahun 2017. Hal ini sebagaimana yang terlihat pada gambar di bawah ini.

2

Indonesia Halal Lifestyle Center, Indonesia Halal Economy and Strategy Roadmap 2018/2019 (t.t., t.p., 2018), 30.

60

Gambar 3.1

Negara dengan Pengeluaran Makanan Muslim Terbanyak3

Dalam memenuhi kebutuhan akan produk halal, Indonesia

masih belum mampu untuk mencukupi akan permintaan tersebut. Negara ini masih harus mengimpor produk-produk makanan halal untuk dapat menutupi permintaan pasar akan ketersediaan produk

makanan halal. Berdasarkan data dari laporan tahunan yang

dikeluarkan oleh Organitation of Islamic Cooperation (OIC) pada tahun 2017, Indonesia menduduki peringkat ke 2 sebagai negara

3 Thomson Reuters dan DnarStandard, An Inclusive Ethical Economy State of the Global Islamic

61

dengan nilai impor akan makanan halal terbanyak di dunia yakni sebesar $16,88 Milyar Dollar, sebagaimana yang terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.2

Top Five Halal Food Importers 20174

Ketidak mampuan pemerintah untuk dapat memenuhi

permintaan atas produk-produk halal menyebabkan terjadinya impor akan makanan halal. Tentunya hal ini bisa saja dihindari mengingat Indonesia sebagai negara muslim terbesar dan diimbangi dengan kemampuan akan pengeluaran halal yang besar pula, seharusnya

dapat mendorong pertumbuhan akan produk-produk halal dari

produsen-produsen dalam negeri.

4

Indonesia Halal Lifestyle Center dan DinarStandard, Indonesia Halal Economy and Strategy

62

Dengan pengeluaran yang amat besar akan produk-produk

halal, yang nyatanya tidak diimbangi dengan kemampuan Indonesia untuk dapat lebih berjaya dalam industri halal global. Sebagaimana laporan yang dikeluarkan oleh Thomson Reuters dan DinarStandar, dalam enam industri halal yang ada Indonesia hanya mampu masuk pada tiga industri saja. Ketiga industri halal tersebut adalah industri keuangan Islam, dimana Indonesia menempati posisi ke 10, yang kedua adalah industri pariwisata halal, dengan urutan ke 4 serta industri halal fashion yag mampu berada pada peringkat ke 2. Dari ke

enam industri halal yang ada, Indonesia belum mamu untuk

menempatkan diri sebagai peringkat pertama, sebagaimana yang

terlihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 3.3 Top 10 Halal Industry5

5

Thomson Reuters dan DinarStandard, An Inclusive Ethical Economy State of the Global slamic

63

Selain belum mampunya Indonesia untuk dapat berbicara

banyak dalam industri halal global, kondisi akan pertumbuhan jumlah produk halal yang tersedia di Indonesia juga terbilang belum maksimal. Selama kurun waktu tujuh tahun mulai tahun 2011-2018, LPPOM MUI dimana tercatat baru mengeluarkan sebanyak 69.985 sertifikat halal. Hal ini sebagaimana yang terlihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 3.4

Statistik Sertfikasi Halal6

Sumber: LPPOM MUI

6

Data berdasarkan publikasi statistik terhadap sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh LPPOM MUI dalam

64

Pertumbuhan akan produk-produk yang telah tersertifikasi halal sangatlah lambat. Dalam laporan kinerja tahunan yang dikeluarkan oleh BPOM, dalam tahun 2018 saja sebanyak 121.363 produk baru yang didaftarakan untuk mendapatkan izin edar. Berdasarkan laporan statistik yang dikeluarkan oleh LPPOM MUI, tercatat selama tahun 2018 hanya sebanyak 17.398 sertifikat halal yang telah dikeluarkan.

B. Pemahaman Konsep Halal Konsumen Muslim Produk BT di Surabaya

Berdasarkan obesrvasi lapangan yang dilakukan oleh peneliti, kebanyakan kosumen BreadTalk adalah dari kalangan wanita, baik itu ibu-ibu maupun mereka yang masih muda. Dari banyaknya kalangan konsumen wanita tersebut, sangat sering dijumpai konsumen muslim dengan atribut pakaian yang mereka gunakan.7 Dimana mereka inilah

yang menjadi responden daripada penelitian ini. Mereka yang

menjadi responden juga memiliki profil yang berbeda-beda mulai dari ibu rumah tangga, pelajar, guru, pegawai hingga wiraswasta.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai seorang muslim tentunya harus selalu berperilaku sesuai dengan tuntutan syariat islam. Salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia adalah kebutuhan untuk

7

65

memenuhi kebutuhan hidupnya, yakni dengan cara melakukan

konsumsi.

Dalam melakukan konsumsi, sebagai ummat muslim juga

senantiasa diharapkan dapat menerapkan norma-norma serta nilai-nilai Islam dalam perilaku konsumsi sehari-hari. Salah satu aturan dasar yang harus dipenuhi oleh konsumen muslim adalah syarat untuk selalu mengkonsumsi makanan yang halal, sebagaiamana yang telah diajarkan oleh syariat Islam, sehingga peahaman akan konsep halal haruslah diketahui dan dipahami dengan baik oleh setiap konsumen muslim.

Sebanyak lima belas responden yang merupakan konsumen muslim BreadTalk menjadi objek penelitian ini. Hasil daripada wawancara yang dilakukan, dari lima belas jumlah responden, seluruh responden memiliki pemahman yang baik akan konsep halal, mereka mampu untuk menjabarkan mengenai konsep halal secara baik. Makna halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan oleh Islam, sebagaimana pendapat yang dikeluarkan oleh Ibu Siti Saudah seorang ibu rumah tangga, yang menyatakan:

“Halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan oleh agama Islam ataupun segala sesuatu yang tidak dilarang dalam ajaran agama Islam.”8

8

66

Selain segala sesuatu yang diperbolehkan untuk dikerjakan, halal adalah sesuatu yang sesuai dengan kaidah Islam. Sebagiamana

Dokumen terkait