BAB IV METODE PENELITIAN
5.3. Konsep Hunian tradisional di desa Lubuk Sukun
Kajian ini akan membahas beberapa hal yang berkaitan dengan bentuk dan pola hunian, yang tersebut dibawah:
1. Konsep Ruang
Dari hasil pengumpulan data di Desa Lubuk terhadap rumah tradisional Aceh terdapat dua tipe bangunan yaitu tipe rambat dan tipe santeut. Tipe rambat merupakan bangunan yang memiliki perbedaan lantai atau biasa dikenal dengan lantai naik turun. Perbedaan lantai terletak pada ruang depan (seuramoe keu), ruang belakang (seuramoe likot) dengan ruang tengah (rumoh inong). Sedangkan tipe santeut adalah bangunan yang memiliki lantai yang sama tingginya. Sebagian dari rumah-rumah tradisional Aceh di desa Lubuk Sukun telah berubah dari rumah
rambat menjadi rumah santeut. Perubahan lantai ini dilakukan untuk memudahkan penghuni dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan lebih efisien dalam pengaturan ruang.
Bentuk dasar konstruksi Rumah Tradisional Aceh dimulai dari 3 rueng, 4 rueng dan 5 rueng. Rumah-rumah tradisional Aceh di Desa Lubuk Sukun terdiri dari model 3 rueng dan 4 rueng. Pada masing-masing model rumah ini hanya memiliki 1 kamar tidur yang berada di rumoh inong.
Pembagian ruang pada rumah tradisional Aceh di Desa Lubuk Sukun belum mengalami perubahan. Setiap rumah masih mengikuti konsep dasar pembagian ruang yaitu ruang depan (seuramoe keu), ruang tengah (rumoeh inong), ruang belakang (seuramoe likot). Untuk memudahkan aktifitas sehari-hari masing-masing pemilik rumah melakukan penambahan ruang pada bangunan beton yang ditambahkan dibelakang ataupun di samping rumah Aceh. Pada bangunan ini ditambahkan ruang dapur, kamar mandi dan kamar tidur.
Gambar 5.5 Interior Rumah aceh yang mengalami perubahan fungsi
Bagian kolong yang fungsi awalnya adalah sebagai tempat menyimpan padi dan kandang ayam dengan permukaan lantai berupa tanah. Perubahan fungsi pada bagian kolong menjadi tempat menerim tamu, sebagai tempat pengajian anak-anak dan ibu-ibu, dan juga penambahan ruang dibawah kolong. Sebagian permukaan lantai rumah Aceh di desa Lubuk Sukun sudah dilapisi dengan lantai beton, sehingga terlihat lebih bersih.
Gambar 5.6 Bagian kolong yang mengalami perubahan fungsi dan aktifitas
2. Konsep Kenyamanan
Filosofi rumah tradisional Aceh sangat memperhatikan factor kenyamanan bagi penghuni terutama kenyamann thermal. Penempatan bukaan/jendela yang berada pada sisi utara dan selatan mampu mengalirkan aliran udara ke dalam bangunan. Penggunaan Tombak layar/Tulak Angen pada sisi timur dan barat juga difungsikan sebagai bagian untuk mengalirkan udara sejuk ke dalam bangunan.
Material Atap menggunakan daun rumbia menahan laju panas dari matahari sehingga ruang yang berada dibawahnya tetap terasa nyaman. Namun saat ini hamper 80% rumah Aceh di Desa Lubuk Sukun sudah mengganti material atap dari daun rumbia dan menggunakan atap seng. Material seng memiliki nilai energy density 279,54 MJ/m, sedangkan daun Rumbia memiliki nilai energy density 30,07 MJ/m (Sari dkk, 2014), menunjukkan material seng memiliki kemampuan menerima panas lebih tinggi sehingga ruang yang berada di bawah atap seng menjadi tidak nyaman. Bagian bawah rumah/kolong juga memudahkan aliran udara mengalir menuju keruang diatas. Namun beberapa kondisi interior pada lantai rumah Aceh telah ditutup dengan bahan plastik karpet. Hal ini membuat tertutupnya aliran udara ke lanatai atas rumah Aceh.
Gambar 5.7. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan thermal dan visual
Kenyamanan visual yaitu kenyamanan terhadap factor pencahayaan sangat kurang pada rumah tradisional Aceh. Bukaan berupa jendela pada rumah Aceh memiliki luasan yang kecil dan material jendela merupakan kayu sehingga cahaya
matahari sulit masuk kedalam. Teritisan Atap rumah Aceh yang panjang membentuk bayangan dan mengurangi jumlah cahaya yang masuk. Bagian tombak layar dan dinding pada sisi Timur dan Barat masih memungkinkan cahaya matahari masuk melalui ukiran-ukiran tembus yang terdapat pada bagian-bagian tersebut.
3. Konsep Konstruksi dan Material
Perubahan material yang terjadi pada bagian atap, dimana atap dengan material daun rumbia telah diganti dengan atap seng. Pengaruh penggunaan atap seng sangat signifikan dengan perubahan thermal ruangan, sehingga ruang-ruang di atas pada siang hari terjadi peningkatan panas. Akibatnya rumah tradisional Aceh sudah tidak difungsikan sebagai hunian. Bagian-bagian lain dari rumah Aceh seperti dinding, kolom, balok dan rangka atap masih menggunakan kayu.
Penggunaan atap seng sebagai penutup atap disebabkan karena factor biaya perawatan atap daun rumbia yang setiap 10-20 tahun harus diganti. Seluruh atap daun rumbia harus diganti dengan atap daun rumbia yang baru. Namun penggunaan atap seng dapat digunakan seumur bangunan tanpa perlu mengganti dalam jangka waktu tertentu dan pergantian dapat dilakukan pada bagian yang rusak saja.
Konstruksi rumah tradisional Aceh menggunakan system sambungan menerus yang diperkuat oleh pasak. Konstruksi ini merupakan suatu konstruksi yang sangat fleksibel menahan gaya gempa.
Tabel 5.3 Sisitem Sambungan Sumber Meutia 2016
Tabel 5.4 Respon Struktur Rumah Aceh terhadap Gempa Sumber Meutia (2016)
4. Konsep Ruang Luar
Penataan ruang luar pada rumah-rumah Aceh di desa Lubuk Sukun memiliki ciri khas konsep penataan pada rumah Aceh. Setiap rumah pada masing-masing lorong memiliki Garis Sepadan Bangunan sekitar 30-40% luas lahan yang dimiliki. Pada setiap halaman rumah memiliki berbagai jenis tanaman buah-buahan local seperti pisang, rambutan dan jeruk bali. Kerikil sebagai elemen perkerasan yang digunakan sebagai jalur masuk utama menuju rumah Aceh.
Pagar yang digunakan untuk menunjukkan kepemilikan lahan menggunakan pagar tumbuhan berupa pohon teh-tehan.
BAB VI
RENCANA TAHAP BERIKUTNYA
Rencana tahap berikutnya, penelitian ini akan dikembangkan untuk memperkaya dan mendukung hasil kajian pada tahun pertmana. Pada tahun kedua, penelitian ini akan difokuskan pada studi model arsitektural dan struktural untuk mendapatkan desain rumah tradisional aceh yang tetap memiliki keunikan arsitektur tradisional. Desain arsitektural akan memberikan gambaran desain pengembangan Arsitektur rumah Aceh yang mampu untuk menyesuaikan dengan kehidupan moderen. Keunikan Arsitektur tradisional Aceh yang berada di daerah jalur cincin api sebagai arsitektur yang mampu beradaptasi terhadap gempa merupakan sebuah keunikan yang perlu dipertahankan. Model proporsi struktural rumah tradisional Aceh akan dikaji dengan menggunakan sofware SAP 2000. Studi dilakukan terhadap proporsi bangunan dan pemilihan penggunaan material yang mudah didapat di Aceh. Penelitian ini diharapkan dapat mengeluarkan suatu rekomendasi desain rumoh Aceh yang mengikuti perkembangan budaya lokal dan penggunaan material lokal pada rumah Aceh yang sesuai dengan konteks geografi Aceh yang berada di daerah jalur cincin api.
Tujuan tahun kedua:Mengkaji perubahan yang terjadi pada rumah traditional Aceh sesuai dengan konteks kekinian dikarenakan perkembangan budaya. Penelitian ini akan mengkaji perubahan yang terjadi terhadap fungsi ruang pada rumah traditional dan mengusulkan material bangunan utk rumah traditional Aceh yang cocok dengan kondisi saat ini. Mendesain dan membuat model rumah traditional yang sesuai dengan konteks kekinian.
Parameter yang dikembangkan adalah sebagai berikut:
Tabel 6.1. Rencana metodologi penelitian tahun kedua
Parameter yang diteliti Metode pengumpulan data Indikator capaian Pengembangan konsep hunian
tradisional Aceh di Desa Lubuk Sukun dalam konteks kekinian
Simulasi Desain 1. Alternatif desain
2. Rekomendasi desain yang sesuai
Material alternatif pengganti material tradisional
Survey, simulasi SAP untuk menentukan material yang mampu beradaptasi terhadap gempa
Alternatif material yang ringan pengganti kayu dan material yang nyaman terhadap thermal
Indikator capaian akhir dari keseluruhan studi selama 2 tahun adalah: Alternatif desain Rumah
Tradisional Aceh yang berkembang sesuai perkembangan budaya setempat dan tetap memiliki ciri khas keunikan lokal.
Rekomendasi model Arsitektur Tradisional yang dapat diterapkan di kabupaten lainnya dalam provinsi Aceh.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
Tulisan ilmiah ini mengkaji bentuk pelestarian Arsitektur tradisional Aceh yang berada di Desa Lubuk Sukun melalui identifikasi perubahan arsitektura dan struktural yang terjadi pada konstruksi. Parameter yang dikaji dalam penelitian ini adalah konsep hunian arsitektur tradisional. Bagaimana mengaplikasi konsep hunian tradisional dalam kehidupan sekarang ini, sehingga arsitektur rumah aceh di desa Lubuk Sukun menjadi lebih adaptif dengan perkembangan zaman. Akhir dari penelitian ini adalah mendapatkan suatu model rumah tradisional Aceh yang tetap memiliki keunikan daerah. Keunikan Rumah tradisional Aceh yang mampu beradaptasi dengan iklim dan kondisi geografis daerah yang berada di jalur cincin api.
Perkembangan ekonomi dan budaya telah menyebabkan terjadinya perubahan dalam pola kehidupan masyarakat termasuk perubahan pada layout dan interior rumah tradisional Aceh. Seiring dengan perubahan pola hdup setiap penghuni rumah membutuhkan ruang privat dan ruang-ruang yang lebih efisien dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Kemampuan ekonomi masyarakat yang semakin meningkat menyebabkan pemilik rumah Aceh membangun bangunan lain berupa bangunan beton yang menempel langsung pada bagian belakang rumah Aceh. Pada bangunan baru ini ditambahkan dapur, kamar tidur dan kamar mandi. Pergantian materia atap dari daun rumbia dengan material atap seng juga dilakukan untuk memudahkan perawatan bangunan.
Perubahan pada layout dan interior rumah Aceh telah menyebabkan terbentuknya konsep baru pada hunian tradisional Aceh. Terjadinya perubahan pada Konsep ruang, konsep kenyamanan, konsep material dan teknologi serta konsep tata ruang luar. Pada konsep ruang terjadinya penambahan ruang privat dan semi publik pada seuramoe likot. Penambahan ruang tidur dan dapur untuk memudahkan aktifitas ditempatkan pada bangunan baru yang menempel pada rumah Aceh. Ruang-ruang pada rumah Aceh berupa seuramoe keu hanya difungsikan ntuk acara-acara adat saja seperti memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW atau acara syukuran lainnya. Seuramoe likot telah berubah fungsi sebagai tempat bermain anak-anak atau ruang belajar. Sedangkan rumoeh inong masih tetap difungsikan sebagai kamar bagi anak perempuan yang sudah menikah. Yub Moh atau bagian kolong berubah fungsi sebagai tempat menerima tamu, mengaji dan berkumpul keluarga pada siang hari.
Untuk mendapatkan kondisi thermal yang sesuai penghuni menggunakan pendingin buatan, kecenderungan ini terjadi karena perubahan penggunaan material atap. Untuk meningkatkan kenyamanan visual dengan penggunaan bukaan kaca-kaca. Secara keseluruhan perubahan konstruksi terjadi dari tipe rumah rambat menjadi rumah santeut. Hal ini dilakukan untuk kemudahan aktifitas penghuni dan kemudahan perluasan kebutuhan ruang.
Faktor eksternal juga turut mempengaruhi perubahan dan pengembangan pada rumah Aceh di desa Lubuk Sukun, yaitu faktor jumlah penghuni, ekonomi, sosial dan budaya dan teknologi. Jumlah penghuni mempengaruhi terbentuknya ruang-ruang baru dengan fungsi privat seperti kamar tidur, kamar mandi dan dapur yang bersifat
semi publik. Peningkatan ekonomi menyebabkan terbentuknya bangunan baru yang menempel di belakang rumah Aceh yang terbuat dari beton bertulang. Perubahan sosial dan budaya dalam kehidupan sehari-hari membuat penghuni melakukan perubahan pada hunian yang lebih adaptif terhadap kecenderungan manusia untuk beraktifitas secara nyaman dan menyesuaikan dengan konteks kekinian.
Perkembangan teknologi turut merubah konsep hunian yang merubah penggunaan material alam dengan material pabrikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Budihardjo,Eko,Prof.Ir.M.Sc, Jati Diri Arsitektur Indonesia, 12, Alumni, Bandung, 1996
Hadjah, Abdul, Drs dan tim Arsitektur Tradisional Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Cetakan II, 1985.
Leigh, Barbara, Tangan-tangan Terampil, 58, Djambatan, Jakarta, 1989
Meutia, Erna dan Zahriah, Evaluasi Kenyamanan Thermal Ruang Dalam Pada Rumoh Aceh di Tinjau terhadap temperature permukaan bidang ruangan, Raut. J, ISSN: 2085-0905, Volume 2 No.1/Januari 2010.
Meutia, Erna, Kajian Elemen-elemen pembentuk truktur Rumah Tradisional Aceh dalam Merespon Gempa, Laporan Penelitian yang didanai DPA-SKPD, Unsyiah, 2008
Meutia, Erna, Thermal Performance in Adapted-Acehnese traditional House, Proceeding InternationalConference on SENVAR 14, Banda Aceh, 2013 Meutia, Erna, Sustainable Architecture Within The Local Wisdom Concept of The
Acehnese traditional House, Proceeding International Conference on SENVAR 12, Universitas Brawijaya, Malang, 2011
Rumah Tradisional Aceh, seperti juga bangunan tradisional lainnya di Indonesia, adalah bangunan arsitektur tradisional dimana bentuk, struktur, fungsi, ragam hias, dan cara pembuatannya diwariskan secara turun temurun. Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh telah berusaha untuk melakukan kegiatan Workshop Inventarisasi dan Dokumentasi Arsitektur Rumah Tradisional Etnis di Aceh yang diselenggarakan pada 5-6 Mei 2015 di Banda Aceh. Tujuan kegiatan ini diselenggarakan untuk menggali orisinalitas, filosofi dan sosialisasi dari Arsitektur Tradisional Aceh, sehingga semua informasi yang di peroleh dijadikan sebuah dokumen lengkap Arsitektur Tradisional di Provinsi Aceh.
Pada saat ini rumah tradisional Aceh masih dapat ditemukan di beberapa desa di kawasan Aceh Besar yang masih digunakan sebagai hunian. Salah satunya adalah desa Lubuk Sukun, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Keunikan pemukiman desa ini menjadi sebuah alasan yang kuat untuk menjadikan desa Lubuk sebagai desa wisata tradisional. Sebagai salah satu bangunan yang berada di daerah jalur gempa telah menjadikan rumah Tradisional Aceh sebagai bangunan yang tahan terhadap gempa. Meskipun dibangun dengan menggunakan teknologi yang sederhana namun bangunan ini sangat kokoh. Pada tanggal 15 Oktober 2012, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mencanangkan desa Lubuk Sukun sebagai Desa Wisata Tradisioanal (www.aceh.com). Pemberian predikat tersebut dikarenakan masyarakat desa Lubuk Sukun ini masih menjaga adat dan budaya tradisional Aceh. Hal ini terlihat pada tata letak dan tata ruang rumah tradisional Aceh yang masih tetap dipertahankan. Pemerintah Aceh mengharapkan dengan adanya penetapan kawasan desa Lubuk Sukun sebagai Desa Wisata akan dapat menjadikan desa ini sebagai tempat pembelajaran budaya tradisional aceh, khususnya rumah tradisional Aceh, sebuah bentukan Arsitektur yang muncul sebagai bagian dari budaya masyarakat dan pengaruh lingkungan setempat.
Namun demikian kondisi rumah tradisional didesa ini pada tahun tahun terakhir mulai terjadi pergeseran terhadap nilai-nilai tradisional yang berdampak pada pola hunian masyarakat setempat. Faktor utamanya adalah perkembangan ekonomi dan perubahan budaya di Aceh. Kesulitan untuk mendapatkan material kayu dengan mutu yang baik berdampak pada perubahan penggunaan material rumah.