Abstrak
Kesenjangan pembangunan merupakan hal yang sampai saat ini masih terjadi di Indonesia.
Kesenjangan tersebut terjadi antarwilayah serta antar kota dan desa/kampung. Kesenjangan yang terjadi antar kota dan desa/kampung juga terjadi dalam hal teknologi informasi dan komunikasi. Kampung Cerdas merupakan salah satu program untuk mengurangi kesenjangan arus informasi yang terjadi di desa/kampung. Konsep Kampung Cerdas merupakan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi dalam pelayanan publik, kegiatan edukasi informal, kegiatan perekonomian, dan kegiatan religi/keagamaan. Dengan adanya Kampung Cerdas diharapkan pelayanan publik dapat meningkat, dan peningkatan produktifitas, pemberdayaan perekonomian menjadi berkembang serta peningkatan keimanan masyarakat.
6.1. LATAR BELAKANG INISIASI KAMPUNG CERDAS MERAH MERSA
Desa/kampung merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Hal ini dinyatakan dalam salah satu Nawacita Jokowi yaitu membangun
47 | R P J M K a m p u n g M e r a h M e r s a
Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan, yang diikuti dengan strategi pembangunan nasional.
Berdasarkan RPJMN 2015-2019 pembangunan harus dapat menghilangkan/memperkecil kesenjangan yang ada, termasuk kesenjangan antarwilayah dan antar desa/kampung dengan kota/kabupaten.
Dalam jangka panjang, kesenjangan pembangunan antarwilayah dapat memberikan dampak negatif pada kehidupan sosial masyarakat sehingga menjadi masalah serius yang harus dapat diselesaikan kedepannya.
Kesenjangan antarwilayah terlihat dari masih terdapatnya 122 kabupaten yang merupakan daerah tertinggal. Kesenjangan kota/kabupaten dan desa/kampung dapat terlihat dari laju urbanisasi yang cukup pesat beberapa tahun terakhir. Saat ini, laju urbanisasi di desa sebesar 1,2 persen setiap tahunnya (Detik.com, 2018). Kesenjangan pembangunan antara kota dan desa tidak dapat dilepaskan dari dampak sebaran demografi dan kapasitas ekonomi yang tidak seimbang serta kesenjangan ketersediaan infrastruktur yang memadai, termasuk kesenjangan teknologi informasi dan komunikasi (Darwis, 2016). Menurut Kemkominfo, jumlah desa/kampung yang belum tersentuh teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sekitar 40 persen di tahun 2017.
Kesenjangan-kesenjangan inilah yang menyebabkan desa/kampung menjadi sulit berkembang. Menurut data BPS, jumlah desa/kampung dengan status tertinggal masih mendominasi dari jumlah seluruh desa/kampung di Indonesia (gambar 1).
48 | R P J M K a m p u n g M e r a h M e r s a
Di sisi lain, perkembangan teknologi yang sudah memasuki revolusi industri 4.0 akan memberikan tantangan tersendiri dalam hal berjalannya pemerintahan, edukasi, ekonomi dan sektor keagamaan kampung. Kampung harus mampu beradaptasi mengikuti kemajuan teknologi tersebut agar tidak tertinggal dalam segala bidang serta mendukung roadmap pemerintah Indonesia “Making Indonesia 4.0”. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mempersiapkan desa/kampung memasuki revolusi industri 4.0 yaitu dengan cara mengurangi kesenjangan digital antara kota/kabupaten dan desa/kampung serta mendigitalisasi kampung dengan konsep Kampung Cerdas.
6.2. KAMPUNG CERDAS SEBAGAI KATALISATOR PERBAIKAN LAYANAN PUBLIK, EDUKASI, EKONOMI DAN KEAGAMAAN.
Kampung merupakan konsep program yang menerapkan sistem pelayanan pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan teknologi informasi. Program ini bertujuan untuk mengembangkan potensi kampung, pemasaran dan percepatan akses serta pelayanan publik. Dalam Kampung Cerdas, pelayanan publik akan bersifat digital dengan terkoneksi melalui jaringan broadband nirkabel. Pelayanan yang bersifat digital akan mendorong peningkatan layanan publik di kampung dan mempermudah perangkat pemerintah kampung untuk melakukan evaluasi dan perbaikan layanan dengan basis data yang nantinya dimiliki. Selain itu, Kampung Cerdas juga akan memperlancar penggunaan aplikasi sistem keuangan desa (Siskeudes) sehingga pengelolaan keuangan kampung termasuk dana desa dapat lebih transparan dan akuntabel. Dalam konteks ekonomi, Kampung Cerdas dapat dijadikan sebagai katalisator peningkatan kinerja ekonomi kampung dan pemberdayaan ekonomi masyarakat kampung. Pada Kampung Cerdas direncanakan akan memiliki website dan akun media sosial untuk promosi dan berita, sistem e-commerce serta aplikasi yang sesuai dengan karakter dan potensi ekonomi kampung.
Pembentukan Kampung Cerdas merupakan inisiasi dari pemerintah Kampung Merah. Dalam pembentukan Kampung Cerdas, pemerintah kampung berupaya untuk
49 | R P J M K a m p u n g M e r a h M e r s a
mendistribusikan jaringan intranet dan internet kampung terpadu sampai kepada masyarakat. Pendistribusian ini merupakan cara agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi guna meningkatkan kesejahteraannya.
Melalui penerapan teknologi dan informasi di Kampung Cerdas diharapkan produktivitas dapat meningkat. Dengan adanya internet/intranet kampung terpadu, masyarakat di Kampung Merah Mersa diharapkan dapat memperoleh perbaikan dalam bidang edukasi: informal untuk meningkatkan produktifitas dan daya saing, perbaikan dalam perekonomian: untuk lebih meningkatkan aksesbilitas masyarakat dalam kegiatan perekonomian, dan bidang religi/ keagamaan : meningkatkan jangkauan syiar agama dengan memanfaatkan teknologi informasi, Bidang Pemerintahan: meningkatkan kualitas pelayanan publik.
6.3. TANTANGAN MEWUJUDKAN KAMPUNG CERDAS
Kampung Cerdas merupakan sebuah konsep yang mensyaratkan tersedianya jaringan informasi dan komunikasi yang memadai. Namun, masih ada beberapa warga dengan kondisi TIK yang masih rendah atau bahkan tidak ada sama sekali yang diakibatkan faktor keterbatasan jangkauan sinyal dan juga keterbatasan kemampuan warga dalam penyiapan sarana TIK dirumahnya. Menurut data Potensi Kampung Merah Mersa tahun 2021 masih ada sekitar setengah dari total populasi masyarakat Merah Mersa yang belum memiliki dan atau memanfaatkan sarana TIK. Dari sisi kekuatan jangakauan sinyal telepon seluler dan sinyal internet serta kapasitas ketersediaan jaringan ISP berbasis Fiber Optik (FO), masih banyak area yang kekuatan signalnya lemah dan tidak terjangkaunya jaringan fiber optic sampai ke rumah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam membentuk Kampung Cerdas. Tantangan lainnya untuk mewujudkan Kampung Cerdas adalah butuh dukungan pendanaan yang tidak sedikit.
Penyediaan perangkat dan aplikasi ini membutuhkan dana yang relatif besar.
Guna meminimalkan dana transformasi Kampung Merah Mersa menuju Kampung Cerdas dapat dilakukan secara bertahap dimana tahap awal difokuskan kepada
50 | R P J M K a m p u n g M e r a h M e r s a
pembangunan infrastruktur jaringan intranet/internet kampung terpadu. Tantangan berikutnya adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengelola berbagai layanan berbasis teknologi informasi. Tidak bisa dipungkiri bahwa di Kampung Merah Mersa masih terdapat perangkat kampung dan masyarakat kampung yang belum melek internet dan teknologi.
Penetrasi pengguna internet tahun 2017 berdasarkan kota/kabupaten terkonsentrasi di area rural sebesar 48,25 persen (APJII, 2017). Untuk penguasaan komputer, rilis BPS dalam Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) menunjukan bahwa nilai indeks persentase rumah tangga di Indonesia yang menguasai computer hanya bernilai 2 dari skala 0 – 10.
Hasil survei dan IP-TIK BPS ini dapat dijadikan parameter yang menunjukkan bahwa melek internet dan teknologi di pedesaan masih relatif rendah. Selain itu, masyarakat kampung masih memegang budaya yang kuat yang mungkin dapat menjadi penghambat dalam masuknya sesuatu yang baru dari luar seperti internet.
Adanya konten-konten negatif dari akses internet juga menjadi tantangan tersendiri dalam pembentukan Kampung Cerdas. Dengan demikian maka dibutuhkan sosialisasi, pendampingan, dan literasi digital terhadap SDM dan masyarakat kampung yang disesuaikan dengan karakteristik dan budaya masyarakat.
6.4. REKOMENDASI
Untuk mewujudkan Kampung Cerdas yang optimal diperlukan berbagai langkah-langkah dari pemerintah kampung, unsur-unsur pemerintah kampung dan masyarakat,
Pertama, perlu adanya dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak dalam hal pendampingan, pelatihan serta literasi digital baik dari pemerintah kampung, pihak swasta, akademisi maupun masyarakat.
51 | R P J M K a m p u n g M e r a h M e r s a
Kedua, sinergi dengan program kampung lainnya dengan menitikberatkan pada pengembangan aplikasi digital yang terutama pada program-program dengan karakteristik yang sama.