BAB II DESKRIPSI TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.2 Konsep Kapasitas
Konsep dalam ilmu pengetahuan adalah menghubungkan apa yang ingin dijelaskan dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Salah satu konsep di dalam ilmu pengetahuan adalah konsep logika yang menerangkan sifat hubungan objek pemikiran yang satu dengan objek pemikiran lainnya dan melahirkan memahaman baru. (Makmur, 2009:126)
Istilah kapasitas memiliki beragam pengertian tergantung siapa yang mengartikannya dan dalam konteks apa istilah tersebut akan digunakan. Menurut Morgan dalam Soeprapto (2010:10) mengatakan bahwa:
“kapasitas adalah kemampuan, keterampilan, pemahaman, sikap, nilai-nilai, hubungan, perilaku, motivasi, sumber daya, dan kondisi-kondisi yang memungkinkan setiap individu, organisasi, jaringan kerja/sektor, dan sistem yang lebih luas untuk melaksanakan fungsi-fungsi mereka dan mencapai tujuan pembangunan yang telah ditetapkan dari waktu ke waktu”.
Selanjutnya, dalam rumusan lain United Nation Development Programme (UNDP) dalam Soeprapto (2010:12) menyatakan bahwa “Kapasitas dapat diartikan sebagai kemampuan individu dan organisasi atau unit-unit organisasi untuk melaksankan tugas pokok dan fungsinya secara efektif, efisien dan berkelanjutan”. Kapasitas juga dapat diartikan dalam konteks sistem yaitu suatu entitas bekerja untuk mencapai tujuan bersama berdasrkan proses dan aturan-aturan baku tertentu. Lebih lanjut Brown dalam Soeprapto (2010:9) mendefinisikan “Kapasitas sebagai suatu proses yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang, suatu organisasi atau suatu sistem untuk mencapai tujuan-tujuan yang dicita-citakan”. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
kapasitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh individ, suatu organisasi atau suatu sistem dalam melaksanakan fungsi-fungsinya secara efektif, efisien dan berkelanjutan sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan bersama dalam pembangunan.
2.2.1 Pengembangan Kapasitas (Capacity Building)
Pengembangan kapasitas (Capacity Building) dalam perkembangannya, sampai saaat ini dimaknai berbeda-beda oleh para ahli. Alasan ini dilatarbelakangi karena Capacity Building merupakan konsep yang universal dan memiliki dimensi yang beragam. Menurut Yap dalam Gandara (2008:9) bahwa Capacity Building adalah sebuah proses untuk meningkatkan individu, group, organisasi, komunitas dan masyarakat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selain itu definisi Capacity Building
menurut Grindel dalam Keban (2008:201) lebih khusus dalam bidang pemerintahan berpendapat bahwa:
“Capacity Building merupakan serangkaian strategi ditunjukan untuk meningkatkan efesiensi, efektivitas, dan responsitas dari kinerja pemerintah, dengan memusatkan perhatian kepada pengembangan dimensi, sumberdaya manusia, penguatan organisasi dan reformasi kelembagaan atau lingkungan”.
Berdasarkan definisi diatas terkandung makna suatu upaya yang berhubungan dengan perbaikan kualitas sumber daya manusia, upaya untuk mendorong organisasi agar dapat berjalan sesuai dengan fungsinya, serta upaya untuk menciptakan kondisi lingkungan yang dibutuhkan oleh organisasi agar dapat berfungsi dengan baik.
Canadia International Development Agency (CIDA) dan berbagai lembaga donor lainnya cenderung memberikan pengertian peningkatan kapasitas sebagai proses dimana para individu, kelompok, organisasi, institusi, dan masyarakat meningkatkan kemampuan mereka untuk: (1) Menghasilkan kinerja pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (Core Fungsion), memecahkan permasalahan, merumuskan dan mewujudkan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. (2) Memahami dan memenuhi kebutuhan pembangunan dalam konteks yang lebih luas dalam cara yang berkelanjutan (UNDP,1998).
Menurut United Nation Development Program (UNDP 1998) dalam Rohdewohld (2004:3) peningkatan kapasitas dalam pemerintahan terdapat tiga level atau tingkatan seperti berikut:
Gambar 2.1
Local Governance Capacity
Dari gambar diatas UNDP’s dalam Rohdewohld (2004) mengatakan: “The needs assesment syudy identified capacity building needs on the
system leve (i.e. the legulatory framework and enabling national and regional policies), the enity level (i.e. an individual organitation’s structures and working mechanisms, it’s relationship with other relevant organitation, it’s working culture and resources), and the individual level (i.e. skills and competencies of staff, work ethich)”.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam peningkatan kapasitas pemerintah terdapat tiga tingkat yakni pada tingkat sistem seperti kerangka kerja yang berhubungan pengaturan, kebijakan-kebijakan, dan kondisi dasar yang mendukung pencapaian objektifitas kebijakan tertentu. Tingkat intitusional atau keseluruhan satuan, seperti struktur organisasi, proses pengambilan keputusan di dalam organisasi, prosedur dan mekanisme-mekanisme pekerjaan, penguatan sarana dan prasarana, hubungan-hubungan dan jaringan-jaringan organisasi. Kemudian tingkat individu, seperti pengembangan keterampilan individu dan persyaratan-persyaratan, pengetahuan, kompetensi dari pegawai dan etika bekerja.
Dilakukannya ketiga tingkatan tersebut secara efektif dan berkesinambungan maka akan memberikan hasil yang berpengaruh kepada
good governance sehingga dalam pengembangan kapasitas tersebut akan menghasilkan tenaga-tenaga profesional yang mampu dalam kapasitas teknis. Berdasarkan ketiga tingkatan tersebut maka dalam upaya peningkatan kapasitas aparatur dalam penyelenggaraan pemerintahan peneliti menjadikan salah satu tingkatan untuk dijadikan dimensi dalam
penelitian ini, yakni pada tingkat indivu yang berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan , kompetensi dan etika. Kemudian dari keempat komponen tingkat individu tersebut peneliti akan menggunakan konsep dari beberapa teori yang nantinya akan digunakan sebagai parameter dalam penelitian.
Tingkat pengetahuan menurut Benyamin S. Bloom dalam Kencana (2011:20) ada enam tingkatan pengetahuan yang dicakup dalam domain
kognitif yaitu:
1. Mengetahui (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan paling rendah.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi atau penerapan (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan membuat bagan, membedakan, memisahkan, mengelompokan dan sebagainya.
5. Sintetis (synthetis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan pada suatu keriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan keriteria-keriteria yang telah ada.
Sedangkan menurut Robert L Katz yang dikutip oleh Ulber Silalahi (2002:56), mengidentifikasi tipe-tipe dasar keterampilan, yaitu:
1. Keterampilan teknik (technical skills)
Keterampilan teknik merupakan kompetensi spesifik untuk melaksanakan tugas atau kemampuan menggunakan teknik-teknik, alat-alat, prosedur-prosedur atau pengetahuan tentang lapangan yang dispesialisasi secara benar dan tepat dalam pelaksanaan tugasnya. 2. Keterampilan administratif
Ketermapilan administratif merupakan kemampuan untuk mengurus, mengatur, dan mencatat informasi tentang pelaksanaan dan hasil yang dicapai serta bebagai hambatan-hambatan yang dialami maupun kemampuan mengikuti kebijakan dan prosedur.
3. Keterampilan hubungan manusia
Ketermapilan hubungan manusia adalah kemampuan untuk memahami dan memotivasi orang lain, sebagai individu atau dalam kelompok kemampuan ini berhubungan dengan kemampuan mensleksi pegawai, menciptakan dan membina hubungan yang baik, memahami orang lain, member motivasi dan bimbingan dan mempengaruhi para pekerja, baik secara individual atau kelompok. 4. Ketermapilan konseptual
Keterampilan konseptual adalah kemampuan mengkoordinasi dan mengintegrasi semua kepentingan-kepentingan dan semua aktifitas-aktifitas organisasi atau kemampuan mental, menganalisa dan interpretasi informasi yang diterima dari berbagai sumber. Ini mencakup kemampuan melihat organisasi sebagai suatu keseluruhan, memahami bagaimana hubungan antara unit atau bagian secara keseluruhan, memahami bagaimana bagian-bagian tergantung pada yang lain, dan mengantisipasi bagaimana suatu perubahan dalam tiap bagian akan mempengaruhi keseluruhan kemampuan melihat gambaran keorganisasian.
5. Keterampilan diagnostik
Keterampilan diagnostik berhubungan dengan kemampuan untuk menentukan melalui analisa dan pengujian hakekat dan circumstances
dari suatu kondisi-kondisi khusus. Singkatnya keterampilan diagnostik dapat dimaknakan sebagai kemampuan secara cepat mendapatkan sebab yang benar dari suatu situasi tertentu melalui satu data yang simpang siur, observasi dan fakta-fakta.
Menurut Wibowo (2007:87) kompetensi karakteristik individu yang mendasari kinerja atau perilaku di tempat kerja. Terdapat lima tipe karakteristik, yaitu:
1. Motiv adalah sesuatu yang secara konsisten dipikirkan atau diinginkan orang yang menyebabkan tindakan. Motiv mendorong, mengarahkan dan memilih perilaku menuju tindakan atau tujuan tertentu.
2. Sifat adalah karakteristik fisik dan respon yang konsisten terhadap situasi atau informasi. Seperti halnya kecepatan reaksi dan ketajaman mata merupakan ciri kompetensi seorang pilot tempur.
3. Konsep diri adalah sikap, nilai-nilai, atau citra diri seseorang. Percaya diri merupakan keyakinan orang bahwa mereka dapat efektif dalam hampir setiap situasi adalah bagian dari konsep diri orang.
4. Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki orang dalam bidang spesifik.
5. Keterampilan adalah kemampuan mengerjakan tugas fisik atau mental tertentu. Kompetensi mental atau keterampilan kognitif termasuk berpikir analistis dan konseptual.
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang artinya kebiasaan atau watak. Menurut Solomon dalam Kumorotomo (2005:7) etika merujuk kepada dua hal:
“pertama, etika berkenaan dengan disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai yang dianut oleh manusia beserta pembenarannya dan dalam hal ini etika merupakan salah satu cabang filsafat. Kedua, etika merupkan pokok permasalahan di dalam disiplin ilmu itu sendiri yaitu nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia”.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan etika merupakan disipllin ilmu yang mempelajari nilai-nilai atau hukum yang dianut oleh manusia beserta kebenarannya, namun etika juga bisa menjadi
permasalahan ketika nilai-nilai atau hukum-hukum yang dianut untuk mengatur tingkah laku tidak dijadikan sebagai perilaku atau sikap didalam kehidupan. Kemudian menurut Carol Lewis dalam Cohen dan Eimicke (1995) ada lima prinsip yang dijadikan sebagai etika dalam administrasi publik, yaitu:
1. Obey and Implement the Law atau Taat hukum.
Merupakan kesanggupan seorang untuk menaati segala peraturan perundang-undangan dan segala peraturan yang berlaku.
2. Serve the Public Interst atau Melayani kepentingan publik.
Yaitu selalu mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan, karena tugas dari aparatur adalah melayani masyarakat luas sebagai unsur pokok yang mesti dilayani.
3. Avoid doing Harm atau Mencegah bahaya atau kerugian
Artinya menghindari tindakan yang dapat memberi dampak yang tidak baik atau tindakan penyimpangan yang dapat menimbulkan kerugian. 4. Take Individual Responsibility for the Process and it’s Consequences atau
Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan dan konsekuensinya
Artinya kesanggupan seorag pegawai untuk menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya, tepat pada waktunya dan berani memikul resiko atas keputusan yang dibuatnya.
5 Treat Incompetence as an Abuse of Office atau Larangan penyalahgunaan wewenang. Artinya segala wewenang yang diberikan tidak boleh untuk tujuan lain atau kepentingan pribadi.
2.3 Aparatur, Birokrasi, dan Good Governance 2.3.1 Aparatur
Secara harfiah Aparatur berasal dari kata “aparat” yang berarti alat, sedangkan kata aparatur sendiri mengandung pengertian alat-alat Negara sama dengan pegawai. Jadi aparatur adalah alat-alat yang menjalankan tugas negara. Menurut Makmur (2009:221) aparatur pemerintah adalah manusia yang memiliki karakteristik, kecakapan, dan kemampuan yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.
Menurut Soewarno Handayaningrat (1995:154) aparatur adalah aspek-aspek administrasi yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintah/Negara, sebagai alat untuk mencapai tujuan nasional.
Pengertian aparatur pemerintahan disebut oleh Dharma Setyawan Salam dalam buku yang berjudul Manajemen Pemerintahan Indonesia yang menjelaskan bahwa “Aparat pemerintah adalah pekerja yang digaji pemerintah melaksanakan tugas-tugas teknis pemerintahan melakukan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan ketentuan yang berlaku”. (Setyawan, 2004:169).
Dari pendapat tersebut dapat diartikan aparatur merupakan unsur dalam penyelenggaraan pemerintahan dan tentunya dapat melaksanakan tugas-tugas pemerintahan secara teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Dimana dalam penyelenggaraan pemerintahaan desa terdapat aparatur desa atau aparatur pemerintah desa yang menjalankan tugas-tugas tersebut.
Peraturan Bupati Serang No. 16 tahun 2015 pasal 1 ayat 9 bahwa yang dimaksud dengan pemerintah desa adalah Kepala Desa beserta Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. kemudian Badan Permusyawaratan Desa yang selanjutnya disingkat BPD adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis. (Perbup Serang No.16 tahun 2015 pasal 1 ayat 11).
Jadi pemerintahan desa terdiri dari pemerintah desa dan BPD. Selanjutnya dalam perangkat desa adalah pegawai desa yang diangkat dari penduduk desa yang memenuhi persyaratan oleh kepala desa yang bertugas sebagai unsur pembantu kepala desa, yang terdiri dari sekertaris desa dan pelaksana teknis.
Kemudian didalam pasal 3 ayat 1 kepala desa dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh sekertariat desa dan pelaksana teknis. Sekertariat desa dipimpin oleh sekertaris desa dan dibantu oleh unsur staf yang terdiri atas:
1. Urusan perencanaan dan pelaporan 2. Urusan keuangan
3. Urusan umum
Urusan keuangan sebagaimana dimaksud dibantu oleh unsur pelaksana bendahara desa. selanjutnya pelaksana teknis terdiri dari:
1. Seksi pemerintahan
2. Seksi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat 3. Seksi kemasyarakatan
Berikut ini adalah struktur organisasi pemerintahan desa berdasarkan Peraturan Bupati Seranng Nomor 16 Tahun 2015
Gambar 2.2
Struktur Organisasi Pemerintah Desa
Sumber: Peraturan Bupati Serang Nomor 16 Tahun 2015
Berdasarkan struktur organisasi pemerintahan desa tersebut terdapat tugas pokok dan fungsi dari masing-masing bagian pekerjaannya, berikut adalah tugas pokok dan fungsi berdasarkan Peraturan Bupati Serang nomor 16 tahun 2015:
1. Kepala Desa bertugas menyelenggarakan pemerintahan desa, melaksanakan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa. Dalam melaksanakan tugas tersebut kepala desa berwenang:
Kepala Desa Kepala Seksi Pemerintahan Kepala Seksi Kemasyarakatan Sekertaris Desa BPD Kepala Urusan Perencanaan dan Pelaporan Kepala Urusan Umum Kepala Urusan Keuangan Bendahara Kepala Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan masyarakat
a. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa b. Mengankat dan memberhentikan perangkat desa
c. Memegang kekuasaan pengelolaan keuangan dan aset desa d. Menetapkan peraturan desa
e. Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa f. Membina kehidupan masyarakt desa
g. Membina ketentraman dan ketertiban masyarakat desa
h. Membina meningkatkan perekonomian desa serta mengintegrasikannya agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat desa
i. Mengembangkan sumber pendapatan desa
j. Mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negara guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa
k. Mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat desa l. Memanfaatkan teknologi tepat guna
m. Mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif Kemudian kepala desa dalam melaksanakan tugasnya berhak: a. Mengusulkan struktur organisasi dan tata kerja pemerintah desa b. Mengajukan rancangan dan menetapkan peraturan desa
c. Menerima penghasilan tetap setiap bulan,tunjangan dan menerima lainnya yang sah
d. Mendapat jaminan kesehatan
e. Mendapat bantuan hukum atas kebijakan yang dilaksakan
2. Sekertaris desa mempunyai tugas pokok membantu kepala desa dalam menyusun kebijakan umum penyelenggaraan pemerintah desa, mengkoordinasikan pelaksanaan administrasi pemerintahan desa, administrasi perkantoran, administrasi kewilayahan dan administrasi teknis. Sekertariat desa dipimpin oleh sekertaris desa, dengan membawahi paling banyak terdiri atas tiga urusan, yaitu:
a. Urusan perencanaan dan pelaporan b. Urusan keuangan
c. Urusan umum
Kemudian sekertaris desa mempunyai tugas merencanakan oprasionalisasi, memberi tugas, memberi petunjuk, mengatur, mengkoordinasikan, mengevaluasi dan melaporkan penyelenggaraan tugas
kesekertariatan dan bidag teknis, meliputi urusan perencanaan dan pelaporan, urusan keuangan, urusan administrasi umum, dan memberikan pelayanan admnistratif kepada kepala desa. dalam melaksanakan tugasnya sekertaris desa memiliki fungsi:
a. Menyusun rencana kerja pemerintah desa
b. Melaksanakan evaluasi, pengendalian dan pelaporan terhadap pelaksanaan program kerja
c. Menyiapkan bahan dan data untuk perumusan kebijakan dan petunjuk oprasional yang dilakukan oleh kepala desa
d. Pengelolaan ketatausahaan, urusan perencanaan, urusan keuangan, urusan umum, rumah tangga desa dan rumah tangga sekertariat desa
e. Membuat konsep surat, naskah dinas, meneliti konsep surat dan konsep naskah dinas dari pelaksana teknis
f. Melaksanakan pengadaan perelengkapan, pemeliharaan dan infentarisasi barang
g. Melaksanakan urusan admnistrasi umu, pembinaan admnistrasi kepegawaian serta memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada seluruh perangkat desa
h. Melaksanakan koordinasi terhadap kegiatan yang dilaksankan oleh perangkat desa
i. Menyusun rancangan dan mencatat produk hukum desa
j. Menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan APB Desa k. Menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan aset desa
l. Menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang APB Desa, perubahan APB Desa dan pertanggungjawaban pelaksanaan APB Desa
m. Mengatur penyelenggaraan rapat dinas dan upacara
n. Memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala desa di bidang sekertariat desa
o. Melaksanakan tugas dan fungsi kepala desa apabila kepala desa berhalangan dalam melakukan tugasnya
p. Melaksanakan dan melaporkan pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh kepala desa
3. Kepala urusan perencanaan dan pelaporan mempunyai tugas pokok membantu sekertaris desa menyelenggarakan penyusunan rencana, evaluasi dan laporan kerja pemerintah desa. Dalam melaksanakan tugas pokok kepala urusan perencanaan dan pelaporan mempunyai fungsi:
a. Penyusunan rencana kerja, evaluasi dan pelaporan pemerintah desa
b. Pengumpulan, pengelolaan dan penganalisaan data serta penyajian data dan informasi potensi desa
c. Penyusunan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa
d. Penyusunan laporan keterangan pertanggungjawaban kepala desa e. Pengelolaan sistem informasi manajemen data di wilayah desa
f. Pelaksanaan pengendalian, monotoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kerja pemerintah desa
g. Melaksanakan dan melaporkan pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh pimpinan
4. Kepala urusan keuangan mempunyai tugas pokok membantu sekertaris desa dalam melaksanakan pengelolaan sumber pendapatan desa, pengelolaan administrasi keuangan dan perbendaharaan desa, serta mempersiapkan bahan penyusunan APB Desa. Dalam melaksanakan tugas pokoknya kepala urusan keuangan mempunyai fungsi:
a. Melaksanakan administrasi dan pengelolaan keuangan yang meliouti pembukuan, pertanggung jawaban, verifikasi dan mempersiapkan data guna penyusunan dan perhitungan APB Desa
b. Mengadakan evaluasi penilaian pelaksanaan APB Desa dan mempersiapkan secara periodik program kerja dibidang urusan keuangan c. Pelaksanaan pengelolaan administrasi keuangan dan penyusunan
dokumen pelaksanaan anggaran
d. Penyusunan laporan hasil kegiatan di bidang admnistrasi keuangan e. Melaksanakan dan melaporkan pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan
oleh pimpinan
Kepala urusan keuangan dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh bendahara desa. bendahara desa sendiri berfungsi sebagai:
a. Menerima, menyimpan, menatausahakan dan membukukan uang/surat berharga dalam pengelolaannya
b. Melakukan pengujian danpembayaran berdasarkan perintah
c. Menolak perintah pembayaran apabila tidak memenuhi persyaratan untuk dibayarkan
d. Pelaksanaan pengelolaan bukti-bukti kas dan surat-surat berharga lainnya e. Melakukan pemotongan/pemungutan penerimaan negara dan/atau daerah
dari pembayaran yang dilakukan
f. Menyetorkan pemotongan/pemungutan kewajiban ke kas negara dan/atau daerah
g. Mengelola rekening tempat penyimpanan
h. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepada kepala desa
5. Kepala urusan umum mempunyai tugas pokok melaksanakan admnistrasi umum, tata usaha, kearsipan, pengelolaan inventarisasikekayaan desa/aset desa, perlengkapan, mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan admnistrasi umum pemerintahan desa. Dalam melaksanakan tugasnya kepala urusan umum memiliki fungsi:
a. Melaksanakan pengendalian dan pengelolaan surat masuk dan surat keluar serta tata kearsipan
b. Pelaksanaan pencatatan inventarisasi kekayaan desa/aset desa c. Pelaksanaan pengelolaan admnistrasi umum
d. Penlaksanaan penyediaan, penyimpanan, pendistribusian alat tulis kantor serta pemeliharaan dan perbaikan peralatan kantor
e. Mengatur rumah tangga pemerintah desa f. Mengelola admnistrasi kepegawaian
g. Memberikan pelayanan admnistrasi kesekertariatan
h. Melaksanakan dan melaporkan tugas-tugas lainnya yang di berikan oleh pimpinan
6. Kepala seksi pemerintahan mepunyai tugas pokok menyusun rencana, melaksanakan, mengevaluasi dan melaporkan hasil kegiatan biadang pemerintahan desa. Dalam melaksanakan tugas pokoknya kepala seksi pemerintahan mempunyai fungsi:
a. Menyususn rencana kerja, program kerja dan anggaran seksi pemerintahan sebagai pedoman pelaksanaan tugas
b. Menyusun sasaran yang hendak dicapai pada seksi pemerintahan betdasarkan skala prioritas sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas c. Memberikan saran dan masukan kepada kepala desa melalui sekertaris
tentang langkah-langkah yang perlu diambil dalam bidang tugasnya d. Menyelnggarakan pemerintahan umum
e. Melaksanakan admnistrasi kependudukan dan catatan sipil
f. Melaksanakan admnistrasi pertanahan yang menjadi urusan pemerintah desa
g. Menyiapkan bahan pelaksanaan rapat koordinasi pemerintahan desa h. Memfasilitasi penataan maupun batas perselisihan wilayah desa
i. Menyiapkan bahan evaluasi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakannya j. Pembinaan dan fasilitasi admnistrasi kewilayahan
k. Menyiapkan bahan dan melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya kepada kepala desa
l. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan
7. Kepala seksi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat mempunyai tugas pokok menyusun rencana, melaksanakan, mengevaluasi dan melaporkan hasil kegiatan bidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Dalam melaksanakan tugasnya kepala seksi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat memilki fungsi:
a. Menyusun rencana kerja dan anggaran seksi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat sebagai pedoman pelaksanaan tugas
b. Menyusun sasaran yang hendak dicapai pada seksi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat berdasarkan skala prioritas sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas
c. Menyusun program kerja yang meliputi penyelenggaraan pembinaan perekonomian masyarakat desa, perkreditan rakyat, perkoperasian, pertenakan, perkebunan, pertanian, hutan desa, perikanan, industri kecil, usaha informal, peningkatan produksi desa