3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.2 Konsep Kemitraan
Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Keberhasilan kemitraan sebagai sebuah strategi bisnis ditenrtukan oleh adanya kepatuhan diantara pihak yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Pelaku-pelaku yang terlibat langsung dalam kemitraan harus memiliki dasar-dasar etika bisnis yang yang dipahami dan dianut bersama sebagai titik tolak dalam menjalankan kemitraan. Pengertian etika itu sendiri adalah ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (Hafsah 2000).
Kebijakan kemitraan diatur dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. undang ini merupakan pembaruan dari Undang-undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah RI No. 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan. Dengan perangkat peraturan tersebut, petani dan pengusaha mendapat petunjuk lebih jelas tentang pelaksanaan kemitraan serta
140 lebih dapat memahami posisi masing-masing dalam berbagai pola hubungan kemitraan yang ada.
Undang-undang No. 20 Tahun 2008 menyebutkan bahwa kemitraan adalah kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, memepercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan usaha besar. Definisi kemitraan usaha pertanian dijelaskan pada Keputusan Menteri Pertanian No. 940/Kpts/OT.210/9/97 yang menyebutkan bahwa kemitraan usaha pertanian adalah kerjasama usaha antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra di bidang usaha pertanian.
Dalam kondisi yang ideal tujuan konkret yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan antara lain (Hafsah 2000):
1. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat. 2. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan.
3. Meningkatkan pemerataan, pemberdayaan masyarakat, dan usaha kecil. 4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah, dan nasional. 5. Memperluas kesempatan kerja.
6. Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
Pelaksanaan kemitraan harus mendatangkan manfaat bagi semua pihak yang bermitra. Hal ini merupakan salah satu faktor penentu berlanjut atau tidaknya kemitraan di masa yang akan datang. Dalam buku pedoman kemitraan usaha agribisnis (Deptan 2002) dijelaskan bahwa kemitraan usaha petanian merupakan salah satu instrumen kerjasama yang mengacu pada terciptanya suasana keseimbangan, keselarasan dan keterampilan yang didasari saling percaya-mempercayai antara perusahaan mitra dengan kelompok melalui perwujudan sinergi kemitraan, yaitu terwujudnya hubungan yang:
a. Saling memerlukan dalam arti perusahaan mitra memerlukan pasokan bahan baku dan kelompok mitra memerlukan penampungan hasil dan bimbingan.
b. Saling menguntungkan, yaitu baik kelompok mitra maupun perusahaan mitra memperoleh peningkatan pendapatan, dan kesinambungan usaha.
c. Saling memperkuat dalam arti baik kelompok mitra maupun perusahaan mitra sama-sama memperhatikan tanggung jawab moral dan etika bisnis, sama-sama mempunyai persamaan hak dan saling membina sehingga memperkuat kesinambungan bermitra.
141 Undang-undang No. 20 Tahun 2008 juga menentukan bahwa perjanjian kemitraan dituangkan dalam perjanjian tertulis yang sekurang-kurangnya mengatur kegiatan usaha, hak dan kewajiban masing-masing pihak, bentuk pengembangan,jangka waktu dan penyelesaian perselisihan. Meskipun bentuk dan cakupan kontrak antara petani dan peusahaan agribisnis dapat beragam. Raynolds (2000) dalam Echánove dan Steffen (2005) meringkasnya dalam beberapa karakteristik utama yaitu: kesepakatan kemitraan dilakukan sebelum proses produksi, para produsen (petani) mengikuti petunjuk pelaksanaan produksi yang ditetapkan perusahaan sebagai kompensasi atas keterjaminan pasar, perusahaan mitra biasanya menyediakan bantuan teknis dan pelayanan lainnya, dan petani bertindak sebagai penyedia lahan dan tenaga kerja.
Beberapa jenis pola kemitraan yang telah banyak dilaksanakan, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Inti-Plasma
Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang di dalamnya perusahaan mitra bertindak sebagai inti dan kelompok mitra sebagai plasma. Undang-undang No. 20 Tahun 2008 mengatur bahwa Usaha Besar sebagai inti membina dan mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang menjadi plasmanya dalam hal penyediaan dan penyiapan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian bimbingan teknis produksi dan manajemen usaha, peningkatan penguasaan teknologi, pembiayaan, pemasaran, penjaminan, pemberian informasi dan pemberian bantuan lain yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi da produktivitas dan wawasan usaha. Pola Inti- Plasma diilustrasikan Gambar 2
Gambar 2. Pola Kemitraan Inti – Plasma
Sumber : Deptan 2002 Plasma Plasma Plasma Plasm a Plasma Perusahaan Inti
142 2. Subkontrak
Merupakan hubungan kemitraan yang di dalamnya kelompok mitra memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari produksinya. Ciri khas dari bentuk kemitraan subkontrak ini adalah adanya kontrak bersama yng mencantumkan volume, harga dan waktu (Hafsah 2000). Undang-undang No. 20 Tahun 2008 mengatur bahwa salah satu dukungan yang dapat diberikan Usaha Besar adalah dengan pengaturan sistem pembayaran yang tidak merugikan salah satu pihak dan berupaya untuk tidak melakukan pemutusan hubungan sepihak. Pola Subkontrak diilustrasikan Gambar 3
Gambar 3. Pola Kemitraan Subkontrak
Sumber : Deptan 2002
3. Dagang Umum
Merupakan hubungan kemitraan dimana perusahaan mitra memasarkan hasil produksi kelompok mitra, atau kelompok mitra memasok kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra. Keuntungan dari pola kemitraan ini adalah adanya jaminan harga atas produk yang dihasilkan dan kualitas sesuai dengan yang telah ditentukan atau disepakati. Kelemahan dari pola ini adalah memerlukan permodalan yang kuat sebagai modal kerja (Hafsah 2000). Pola Dagang Umum diilustrasikan Gambar 4
Perusahaan Mitra Kelompok Mitra Kelompok Mitra Kelompok Mitra Kelompok Mitra Memproduksi Komponen Produksi Memproduksi Komponen Produksi Memproduksi Komponen Produksi Memproduksi Komponen Produksi
143 Gambar 4. Pola Kemitraan Dagang Umum
Sumber : Deptan 2002 4. Keagenan
Merupakan hubungan kemitraan yang di dalamnya kelompok mitra diberi hak khusus untuk memasarkan barang atau jasa usaha perusahaan mitra. Keuntungan yang diperoleh dari hubungan kemitraan pola keagenan dapat berbentuk komisi atau fee yang diusahakan oleh usaha besar atau menengah (Hafsah 2000). Pola Keagenan diilustrasikan Gambar 5
Gambar 5. Pola Kemitraan Keagenan
Sumber : Deptan 2002
5. Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)
Merupakan hubungan yang di dalamnya kelompok mitra menyediakan lahan, sarana dan tenaga, sedangkan perusahaan mitra menyediakan biaya atau modal dan/atau sarana untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditi pertanian. Pola Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) dapat dilihat pada Gambar 6
Perusahaan Mitra
Konsumen / Industri Kelompok
Mitra
Pemberian Hak Khusus
Memasarkan Perusahaan Mitra Konsumen / Industri Kelompok Mitra Memasarkan Produksi Kelompok Mitra Memasok
144 Gambar 6. Pola Kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)
Sumber : Deptan 2002
6. Pola kemitraan lainnya, seperti bagi hasil, usaha patungan (joint venture), dan penyumberluaran (outsourcing).
Kemampuan melaksanakan kemitraan harus dibangun dengan sadar dan terencana melalui tahapan-tahapan yang sistematis (Hafsah 2000). Persiapan kemitraan ini diperlukan untuk menyiapkan kemampuan masing-masing pihak yang akan terlibat dalam kemitraan. Hal ini dikarenakan kemampuan dalam bermitra harus dibangun secara sadar dan terencana melalui tahapan-tahapan yang sistematis. Tahapan-tahapan ini juga akan membantu masing-masing pihak yang bermitra untuk lebih memahami kegiatan kemitraan yang akan dijalankan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut (Deptan, 2002):
a. Identifikasi dan pendekatan kepada pelaku usaha
Dalam tahap identifikasi dikumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan jenis usaha atau komoditas yang akan diusahakan, potensi sumberdaya yang mendukung, tingkat kemampuan para pelaku usaha baik di bidang penguasaan IPTEK, permodalan SDM, maupun sarana-prasarana lainnya. Dalam tahap ini diharapkan masing-masing pelaku bisa saling mengenal dan dapat diidentifikasi pelaku usaha mana yang potensial untuk dijadikan mitra usaha.
b. Membentuk wadah organisasi ekonomi
Untuk memudahkan komunikasi, kelancaran informasi dan kemudahan koordinasi dalam kemitraan usaha, maka perlu adanya pengorganisasian diantara pelaku usaha kecil yang sejenis. Pengorganisasian ini dimaksudkan agar terbentuk skala ekonomi tertentu yang mempunya aspek legalitas (berbadan hukum) seperti misalnya koperasi.
Perusahaan Mitra Kelompok
Mitra
Pembagian Hasil Sesuai dengan Kesepakatan - Lahan - Tenaga - Sarana - Biaya - Modal - Teknologi
145 c. Menganalisis kebutuhan pelaku usaha
Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui lebih mendalam mengenai peluang-peluang usaha dan permasalahan-permasalahan mendasar dalam pengembangan usaha yang dihadapi pelaku-pelaku usaha baik pelaku usaha kecil, menengah maupun usaha besar. d. Merumuskan program
Setelah permasalahan dan peluang-peluang usaha dianalisis, maka dapat disusun program yang dapat diaplikasikan dalam bentuk kegiatan seperti pelatihan, magang, studi banding, pemberian konsultasi serta peningkatan koordinasi dan lain-lain.
e. Kesiapan bermitra
Pelaku usaha kecil perlu menyadari bahwa kemitraan bukan belas kasihan dari pelaku usaha besar/menengah. Hal ini perlu juga disadari oleh pelaku usaha besar bahwa adanya kemitraan dengan usaha kecil juga tidak semena-mena untuk memperoleh keuntungan. f. Temu usaha
Kegiatan ini bertujuan untuk mempertemukan pelaku-pelaku usaha yang telah siap bermitra. Harapan dari pertemuan ini adalah adanya kontrak kerjasama antara pelaku-pelaku usaha yang akan bermitra dan juga berkembangnya komoditi unggulan yang diminta pasar.
g. Adanya koordinasi
Berkembangnya suatu kemitraan tidak terlepas dari adanya dukungan iklim yang kondusif untuk berkembangnya investasi dan usaha di daerah tersebut. Dukungan fasilitas atau kemudahan perkreditan, perangkat kebijakan perijinan, tingkat suku bunga, peraturan daerah serta kemudahan-kemudahan lainnya sangat membantu proses kemitraan. Dalam mewujudkan hal tersebut sangat diperlukan koordinasi dan persamaan persepsi antar lembaga/instansi terkait mulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Disamping itu lemahnya pemantauan atau pengawasan terhadap perilaku usaha seringkali menyebabkan terjadinya eksploitasi yang kuat terhadap yang lemah dalam kerangka kemitraan, sehingga kemitraan semacam ini menjadi bersifat semu dan tidak bertahan lama.
146 Gambar 7. Tahapan Penyiapan Kemitraan Usaha
Sumber : Deptan 2002