• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORETIS

C. Konsep Kepuasan Kerja

Setiap orang yang bekerja mengharapkan memperoleh kepuasan dari tempatnya bekerja. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual karena setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam diri setiap individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan.

Menurut Susilo Martoyo bahwa kepuasan kerja pada dasarnya merupakan salah satu aspek psikologis yang mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, ia akan merasa puas dengan adanya kesesuaian antara kemampuan,

keterampilan dan harapannya dengan pekerjaan yang ia hadapi.32

Kepuasan sebenarnya merupakan keadaan yang sifatnya subyektif yang merupakan hasil kesimpulan yang didasarkan pada suatu perbandingan mengenai apa yang diterima pegawai dari pekerjaannya dibandingkan dengan yang diharapkan, diinginkan, dan dipikirkannya sebagai hal yang pantas atau berhak atasnya. Sementara setiap karyawan/pegawai secara subyektif menentukan bagaimana pekerjaan itu memuaskan.

Kepuasan kerja merupakan tanggapan afektif atau emosional terhadap

32

berbagai segi atau aspek pekerjaan seseorang sehingga kepuasan kerja bukan merupakan konsep tunggal.Seseorang dapat relatif puas dengan salah satu aspek pekerjaan dan tidak puas dengan satu atau lebih aspek lainnya. Kepuasan kerja merupakan sikap (positif) tenaga kerja terhadap pekerjaannya, yang timbul berdasarkan penilaian terhadap situasi kerja. Penilaian tersebut dapat dilakukan terhadap salah satu pekerjaannya, penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam mencapai salah satu nilai-nilai penting dalam pekerjaan.Karyawan yang puas lebih menyukai situasi kerjanya daripada tidak menyukainya.

Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan kepuasan dan ketidakpuasan kerja cenderung mencerminkan penaksiran dari tenaga kerja tentang pengalaman-pengalaman kerja pada waktu sekarang dan lampau daripada harapan-harapan untuk masa depan, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat dua unsur penting dalam kepuasan kerja, yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar.

Nilai-nilai pekerjaan merupakan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan tugas pekerjaan.Yang ingin dicapai ialah nilai-nilai pekerjaan yang dianggap penting oleh individu. Dikatakan selanjutnya bahwa nilai-nilai pekerjaan harus sesuai atau membantu pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar. Dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan hasil dari tenaga kerja yang berkaitan dengan motivasi kerja.

Kepuasan kerja secara keseluruhan bagi seorang individu adalah jumlah dari kepuasan kerja (dari setiap aspek pekerjaan) dikalikan dengan derajat pentingnya aspek pekerjaan bagi individu. Seorang individu akan merasa puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya merupakan sesuatu yang bersifat pribadi, yaitu tergantung bagaimana ia mempersepsikan adanya kesesuaian atau

33

pertentangan antara keinginan-keinginannya dengan hasil luarannya (yang didapatnya).

Dalam hal ini kepuasan kerja adalah sikap yang positif dari tenaga kerja meliputi perasaan dan tingkah laku terhadap pekerjaannya melalui penilaian salah satu pekerjaan sebagai rasa menghargai dalam mencapai salah satu nilai-nilai

penting pekerjaan. Ada empat faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja33 yaitu:

a. Faktor psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan

pegawai yang meliputi minat, ketentraman kerja, sikap terhadap kerja,perasaan kerja.

b. Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik pegawai, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja, perlengkapan kerja, sirkulasi udara, kesehatan pegawai.

c. Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan pegawai, yang meliputi sistem penggajian, jaminan sosial, besarnya tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi dan lain-lain.

d. Faktor Sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi social baik antara sesama karyawan, dengan atasannya, maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya.

Dalam uraian diatas menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang memengaruhi kepuasan kerja.Pekerjaan yang dilakukan seseorang harusnya dijalani menggunakan hati artinya nyaman dan ikhlas, bekerja tidak terpaksa.Dalam bekerja harus dilakukan senyaman mungkin dengan tulus dan ikhlas sehingga dapat lebih meningkatkan kepuasan atas apa yang dikerjakan.

Menurut Riggio peningkatan kepuasan kerja dapat dilakukan dengan cara

sebagai berikut:34

1. Melakukanperubahanstrukturkerja,misalnya dengan melakukan perputaran

pekerjaan (job rotation), yaitu sebuah sistem perubahan pekerjaandari salah satu tipe

tugas ke tugas yang lainnya (yangdisesuaikan denga job description).Cara kedua

yangharusdilakukan adalah dengan pemekaran (job enlargement), atau perluasan satu

pekerjaansebagai tambahan dan bermacam-macam tugas pekerjaan. Praktik untuk para pekerja yang menerima tugas-tugas tambahan dan bervariasi dalam usaha untuk membuat mereka merasakan bahwamerekaadalah lebih dari sekadar anggota dari organisasi.

2. Melakukan perubahanstruktur pembayaran,perubahansistempembayaran

inidilakukan berdasarkan keahliannya (skill-based pay), yaitu pembayaran dimana

para pekerja digaji berdasarkanpengetahuan danketerampilannya daripada posisinya

diperusahaan.Pembayaran kedua dilakukan berdasarkanjasanya (merit pay), sistem

pembayarandimanapekerjadigajiberdasarkanperformancenya,pencapaian finansial

pekerja berdasarkan pada hasil yang dicapaioleh individu itusendiri. Pembayaran

yang ketigaadalah gainsharing ataupembayaran berdasarkan pada keberhasilan

kelompok (keuntungan dibagi kepada seluruh anggota kelompok).

3. Pemberian jadwalkerja yangfleksibel,dengan memberikan kontrol pada para

pekerjamengenai pekerjaan sehari-hari mereka yang sangat penting untukmereka yang bekerja di daerah padat,dimana pekerja tidak bisa bekerja tepat waktu atau

mereka yang mempunyai tanggung jawab pada anak-anak.Compressed

workweek(pekerjaanmingguanyangdipadatkan),dimanajumlahpekerjaanperharinya

34

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/kepuasan-kerja-10/. ( Dilihat tanggal 9 Desember 2014).

35

dikurangisedang jumlah jampekerjaan perharinditingkatkan.Parapekerjadapat

memadatkan pekerjaannya yang hanya dilakukan dari hari seninhingga jum'at, sehingga mereka dapat memilikiwaktu longgar untuk liburan.Cara yang kedua adalah dengansistem penjadwalan dimana seorang pekerja menjalankan sejumlah jam

khususperminggu (flextime), tetapi tetap mempunyaifleksibilitas kapan mulai dan

mengakhiri pekerjaannya.

4) Mengadakan program yang mendukung, perusahaan mengadakan

program-program yang dirasakan dapat meningkatkan kepuasan kerja para karyawan, seperti;

healthcenter, profit sharing, dan employee sponsored child care.

Menurut Horald E.Burt tentang faktor-faktor yang dapat menimbulkan

kepuasan kerja sebagai berikut:35

1. Faktor hubungan antar karyawan, antara lain hubungan antara pimpinan

dengan pegawai, kondisi fisik dan situasi kerja, sugesti dari teman kerja.

2. Faktor individual, yang berhubungan dengansikap orangterhadap

pekerjaannya, umur orang saat kerja, jenis kelamin.

3. Faktor-faktorluar antaralain keadaan keluarga karyawan/ pegawai,rekreasi,

pendidikan.

Faktor-faktor Yang Dapat Menimbulkan Kepuasan Kerja. Sebagian besar orang berpendapat bahwa gaji atau upah merupakan faktor utama untuk dapat menimbulkan kepuasan kerja. Sampai taraftertentu, hal ini memang bisa diterima, terutama dalam negara yang sedang berkembang, dimana uang merupakan kebutuhan yang sangat vital untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Akan tetapi kalau masyarakat sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarganya secara wajar,

maka gaji atau upah ini tidak menjadi faktor utama. Kaitan kepuasan dengan agama islam yaitu syukur.Syukur adalah rasa terima kasih kepada Tuhan karna suatu hal. Berterima kasih atas apa yang dikerjakan dan apa yang didapatkan

Sebagaimana dalam firman Allah Swt, Al-Baqarah/2: 152







Terjemahnya:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu

dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.36

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa manusia senantiasa menyukuri nikmat yang diberikan Allah dan haruslah ingat selalu kepadanya, Allah akan melimpahkan rahmat dan ampunan.

Menurut Robbins ada empat cara tenaga kerja mengungkapkan ketidakpuasan yaitu:37

a) Keluar (Exit) yaitu meninggalkan pekerjaan termasuk mencari pekerjaan lain.

b) Menyuarakan(Voice) yaitu memberikan saran perbaikan dan mendiskusikan

masalah dengan atasan untuk memperbaiki kondisi.

c) Mengabaikan(Neglect)yaitu sikap denganmembiarkan keadaanmenjadi lebih

36

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Surabaya: Tiga Serangkai, 2013), h. 23.

37Robbins, Stephen P. Perilaku Organisasi; diterjemahkan oleh Tim Indeks, (Jakarta:Penerbit Indeks Kelompok Gramedia, 2003), h. 51

37

buruk seperti sering absen atau semakin sering membuat kesalahan.

d) Kesetiaan(loyality)yaitu menunggu secara pasif sampai kondisimenjadilebih

baik termasuk membela perusahaan terhadap kritik dari luar.

D. Hambatan Komunikasi Organisasi

Komunikasi yang terjadi antara komunikator ke komunikan untuk menyampaikan pesan atau informasi tidak selamanya berjalan efektif. Sama halnya dengan komunikasi organisasi ada hambatan yang seringkali terjadi. Adapun

hambatan-hambatan dalam komunikasi organisasi:38

1. Hambatan dari Proses Komunikasi :

a. Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan

belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.

b. Hambatan dalam penyandian/simbol

Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.

c. Hambatanmedia, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media

komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.

38

http://beruangkaki5.blogspot.com/2012/06/komunikasi-dalam-organisasi.html (dilihat tgl 12 Juni 2014)

d. Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima.

e. Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat

menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.

f. Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak

menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

2. Hambatan Fisik

Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan

alat komunikasi, dan lain–lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat

komunikasi dan sebagainya.

3. Hambatan Semantik.

Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima.

4. Hambatan Psikologis

Hambatan psikologis dan sosialkadang-kadang mengganggu komunikasi,

misalnya; perbedaan nilai – nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim

dan penerima pesan.39

39

Musa Hubeis, Lindati Kartika, Rarih Maria Dewi. Komunikasi Profesional Perangkat

39 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dokumen terkait