• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 Nilai Tukar

2.2.3 Konsep Keseimbangan Nilai Tukar

Kurs yang ditentukan oleh pasar bebas dapat mengalami dua bentuk perubahan(Gregori menkiew, 2000:400-401), yaitu:

1. Perubahan kurs atas efek kenaikan permintaan D1

D S 2000

1500

Q1 Q2

Gambar 2.1 Kurva Kenaikan kurs

Dalam gambar 2.1 dapat dimisalkan bahwa pada mulanya permintaan keatas dollar adalah D dan penawaran keatas dollar adalah S. Maka kurs pertukaran adalah satu dolar sama dengan 1500 rupiah dan kualitas jual beli dolar adalah Q1. Dari akibat suatu kenaikan dalam permintaan atas dolar, kurva permintaan bergerak dari D ke D1. Kurva yang baru menaikkan harga dolar dari 1500 rupiah menjadi 2000 rupiah dan menambah juantitas valuta dolar yang dijualbelikan dalam valuta asing dari Q1 menjadi Q2.

2. Perubahan kura atas efek kenaikan penawaran

Dari gambar 2.2 yang dintunjukan bahwa perubahan penawaran kurva S dan D menggambarkan penawaran dan permintaan uang dolar. Penawaran bertambah dari S menjadi S1 sebagai akibat kurs pertukaran untuk setiap dolar turun dari 2000 menjadi 1500 rupiah, dan kuantitas mata uang dolar yang diperjuabelikan bertambah dari Q1 menjadi Q.

S

D S1

2000

1500

Q1 Q2

Gambar 2.2

Kurva Perubahaan Penawaran Kurs

Berdasarkan pendekatan hukum permintaan dan penawaran, maka harga dari valuta asing akan menjadi lebih mahal dari nilai nominalnya apabila permintaan melebihi jumlah yang ditawarkan, atau jumlah permintaan tetap sementara penawaran berkurang. Sebaliknya harga valuta asing akan menjadi lebih murah dari harga nominal atau harga berlakunya bila permintaan sedikit sementara penawaran banyak, atau permintaan semakin menurun meskipun jumlah penawaran tetap. Pada mekanisme pasar, nilai tukar terjadi pada saat tercapainya titik keseimbangan yaitu pada saat permintan sama dengan penawaran.

2.3 Inflasi

Inflasi merupakan kenaikan harga yang secara kontinue dan secara umum (Nopirin, 1990:25). Secara umum, inflasi berarti kenaikan harga barang/komoditas dan jasa dalam periode waktu tertentu. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan moneter terhadap suatu komoditas. Menurut Boediono (1991:155) , inflasi sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus.

Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain.

Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah:

 Indek harga konsumen (IHK)

Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

 Indeks harga perdagangan besar (IHPB)

Harga perdagangan besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara pedagang (penjual) besar pertama dengan pedagang (pembeli) besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas.

 Deflator produk domestik bruto (PDB)

Menggambarkan pengukuran level harga barang akhir dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas harga konstan.(www.bi.go.id)

Inflasi dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu disebut dengan inflasi tertutup (closed inflation). Namun, ketika kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka disebut dengan inflasi terbuka (open inflation). Sedangkan apabila harga-harga terus berubah dan meningkat

sehingga masyarakat tidap dapat menahan uang lebih lama disebakan uang yang terus merosot disebut inflasi tak terkendali (hiperinflasi).

Berdasarkan keparahannya inflasi dibedakan atas :

 Inflasi ringan (kurang dari 10% pertahun)

 Inflasi sedang (antara 10% - 30% pertahun)

 Inflasi berat ( 30% -100% pertahun)

 Hiperinflasi (di atas 100% pertahun) 2.4 Suku bunga

Tingkat suku bunga adalah harga dari penggunaan dana investasi (loanable funds). Tingkat suku bunga merupakan salah satu indikator dalam menentukan apakah seseorang akan melakukan invesatasi atau menabung (Boediono, 1994 :76). Suku Bunga Menurut Karl dan Fair (2001:635) adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.

Pengertian suku bunga menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu.

Pengertian lain tentang suku bunga adalah sebagai harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu.

Ada berbagai jenis suku bunga yang dapat dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu:

 Suku Bunga Dasar (Bank Rate)

Suku bunga dasar adalah tingkat suku bunga yang ditentukan oleh bank sentral atas kredit yang diberikan oleh perbankan, dan tingkat suku bunga yang ditetapkan bank sentral untuk mendiskonto surat-surat berharga yang ditarik atau diambil oleh bank sentral. Pasar perhitungan tingkat suku bunga ini juga dipakai oleh bank komersial untuk menghitung suku bunga kredit yang dikenakan kepada nasabahnya.

 Suku Bunga Efektif (Effective Rate)

Suku bunga efektif adalah tingkat suku bunga yang dibayar atas harga beli suatu obligasi (bond). Semakin rendah harga pembelian obligasi dengan tingkat bunga nominal tertentu, maka semakin tinggi tingkat bunga efektifnya, dan sebaliknya. Jadi ada hubungan terbalik antara harga yang dibayarkan untuk obligasi dengan tingkat bunga efektifnya.

 Suku Bunga Nominal (Nominal Rate)

Suku bunga nominal adalah tingkat suku bunga yang dibayarkan tanpa dilakukan penyesuaian terhadap akibat-akibat inflasi.

 Suku Bunga Padanan (Equivalent Rate)

Suku bunga padanan adalah suku bunga yang besarnya dihitung setiap hari (bunga harian), setiap bulan (bunga bulanan), dan setiap tahun (bunga tahunan) untuk sejumlah pembayaran atau investasi selama jangka waktu tertentu, yang apabila secara anuitas akan memberikan penghasilan bunga dalam jumlah yang sama.

Berdasarkan kegiatan bank dalam menghimpun dan menyalurkan dana dari masyarakat maka suku bunga dapat dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu:

 Bunga Simpanan adalah bunga yang diberikan sebagai rangsangan atas balas jasa bagi nasabah yang menyimpan uangnya di bank yang merupakan harga yang harus dibayar bank kepada nasabahnya.

Contohnya: giro, bunga tabungan, bunga deposito.

 Suku Bunga Pinjaman Bunga pinjaman adalah biaya atau harga yang harus dibayar oleh nasabah (peminjam) kepada bank atas dana yang diberikan kepadanya. Contoh: bunga kredit.

Dokumen terkait