• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ETNOGRAFI UMUM SUKU SIMEULUE DI DESA SUKA

2.9 Sekilas Adat Simeulue

2.9.1 Adat Makan Sirih

Kegiatan budaya yang penting di dalam masyarakat Simeulue adalah adat makan sirih. Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam,

lebih dari 3000 tahun yang lalu hingga saat ini. Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara yang didukung oleh berbagai golongan, meliputi masyarakat kelas bawah, menengah, dan atas, serta kalangan kerajaan. Tradisi makan sirih ini tidak diketahui secara pasti dari mana berasal, menurut cerita-cerita sastra tradisi ini berasal dari India. Tetapi jika ditelusuri berdasarkan bukti linguistik, kemungkinan besar tradisi makan sirih ini berasal dari Indonesia.

Pelaut terkenal Marco Polo menulis dalam catatannya di abad ke-13 bahwa orang India mengunyah segumpal tembakau. Sementara itu penjelajah terdahulu seperti Ibnu Batutah dan Vasco de Gama menyatakan bahwa masyarakat Timur memiliki kebiasaan memakan sirih.

Di daerah Aceh, mengunyah ranup (sirih) merupakan salah satu bagian tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan. Apabila dikaji pada masa lalu, para nenekmoyang di Aceh memiliki tradisi makan sirih. Tradisi makan sirih ini dibawa oleh rumpun Melayu yang merantau ke Aceh sekitar tahun 500 sebelum Masehi. Sirih yang dimakan berisikan biji pinang yang sudah diparut, gambir dan sedikit kapur sirih. Kapur diyakini dapat memperkuat cengkraman gusi terhadap gigi. Berikut adalah gambar seperangkat sirih.

Gambar 2.4:

Batel Angak (Cerana Sirih)

Sumber: www.busanamuslimbukittinggi.com

Gambar 2.5:

Batel Angak (Cerana Sirih) dan Isinya

Gambar 2.6:

Tutu Angak (Penumbuk Sirih) Sumber: www.melayuonline.com

Gambar 2.7:

Daun Sirih

Sumber: www.melayuonline.com

Gambar 2.8:

Gambir Sumber: google.com

Gambar 2.9:

Biji Pinang Sumber: google.com

Gambar 2.10:

Kapur Sirih Sumber : google.com

Masyarakat Aceh (khususnya Simeulue) memiliki beberapa makna sosial dan kultural terhadap batel angak. Pemaknaan yang beragam terjadi karena sirih atau ranup dalam kehidupan masyarakat digunakan dalam berbagai aktivitas, sehingga makna yang terkandung menjadi berlainan. Secara terperinci makna sirih adalah sebagai berikut.

a. Batel angak sebagai simbol pemuliaan tamu. Hal ini sangat jelas terlihat dalam kesenian dan berbagai jamuan kepada tamu, besan dan juga orang yang dihormati. Memuliakan tamu dengan batel angak, demikian makna utama dari penyajian sirih kepada tamu.

b. Batel angak sebagai simbol perdamaian dan kehangatan sosial. Hal ini dapat dilihat ketika berlangsung musyawarah untuk menyelesaikan persengketaan, upacara perdamaian, upacara peusijuk dan upacara lainnya. Sirih melambangkan sifat dan watak para peserta musyawarah yang dijiwai oleh semangat setia kawan, setia kata, hidup rukun dan damai.

c. Batel angak sebagai media komunikasi sosial. Makna sirih secara simbolik adalah sebagai pemberian kecil antara pihak-pihak yang akan mengadakan suatu pembicaraan. Batel angak adalah lambang formalitas dalam interaksi masyarakat Aceh, setiap pembicaraan dimulai dengan menghadirkan batel angak dan kelengkapannya.

Geertz mengatakan bahwa sirih atau ranup sebagai sebuah bagian dari kebudayaan yang masih dipraktekkan masyarakat Aceh. Tidak hanya sebagai kompleks-kompleks tingkah laku konkret, misalnya, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan, tradisi-tradisi, kumpulan-kumpulan kebiasaan-kebiasaan, seperti yang pada

umumnya sampai hari ini, melainkan sebagai seperangkat mekanisme kontrol yaitu rencana, resep, aturan, intruksi untuk mengatur tingkah laku.

2.9.2 Masyarakat Adat Simeulue dan Alam

Membicarakan nandong smong sebagai kearifan lokal untuk memahami apa itu tsunami, dan bagaimana cara orang Simeulue mmenyelamatkan diri dari bencana ini, tidak dapat dilepaskan dari bagaimana masyarakat Simeulue memandang alam. Dalam kajian antropologis, bagaimana manusia memandang alam ini disebut dengan kosmologi.7

Etnik Simeulue dapat dikategorikan sebagai orang maritim, karena lingkungan alam tempat tinggalnya adalah pulau Sinmeulue, yang keseluruahn pantainya langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Dalam suasana alam maritim di khatulistiwa ini, segala aktivitas orang Simeulue berkaitan dengan bagaimana cara mengelola alam kelautan atau bahari bagi kepentingan hidup mereka, baik kepentingan jasmani dan ekonomis maupun kebutuhan spiritualnya. Semua ini mengarah kepada kosmologi yang mereka bangun dari masa ke masa.

Menurut Zainal Kling (2004:41) kebiasaan dan ketetapan corak kehidupan kelompok manusia tidak hanya ditentukan oleh sifat saling respons

7Kosmologi yang dimaksud dalam skripsi ini adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama.

Kosmologi yang penulis uraikan ini adalah berkait dengan budaya SImeulue dan agama Islam yang menjadi agama orang Simeulue. Selain itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kosmologi/kos·mo·lo·gi/ n 1 ilmu (cabang astronomi yang menyelidiki asal-usul, struktur, dan hubungan ruang waktu dari alam semesta; 2 ilmu tentang asal-usul kejadian bumi, hubungannya dengan sistem matahari, serta hubungan sistem matahari dengan jagat raya; 3 ilmu (cabang dari metafisika) yang menyelidiki alam semesta sebagai sistem yang beraturan.

sesama mereka saja, tetapi juga ditentukan oleh kesatuan dengan alam—atau kebiasaan sikap terhadap alam di tempat manusia itu tinggal dan berusaha mencari kehidupan. Setiap hari, secara tetap manusia mencari rezeki dari sumber-sumber alam (dan juga jasa), baik siang maupun malam, juga menurut perjalanan matahari dan bulan, turun naik dan pasang surut air laut, dan juga ketetapan perubahan musim hujan,panas, dan angin. Di daerah-daerah di luar khatulistiwa, bahkan dikenal empat musim, yaitu: panas, daun gugur, dingin, dan semi.

Sifat alam yang sangat tetap ini menetapkan pula prilaku manusia, yang berhubung dengan keadaan alamnya untuk dapat menetukan jadwal kerja dan mencari sumber kehidupan mereka. Menurut Takari (2015), keadaan alam lingkungan manusia inilah yang kemudian melahirkan peradaban-peradaban mereka sendiri, yang berbeda dari satu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya. Dalam masyarakat yang tinggal di kawasan laut, pastilah mereka menumpukan kehidupannya pada ekosistem laut. Mereka akan mencari ikan dengan berbagai spesiesnya, menanam rumput laut, membangun kerambah untuk budidaya ikan, mengolah hutan bakau dengan segala kekayaan alamnya, menanam kelapa dan tumbuhan khas pesisir pantai, sampai juga mengadakan sarana wisata maritim, membuat perahu dengan teknologinya, sampan, jermal, dan sejenisnya. Sehingga kebudayaan yang dihasilkan mereka adalah kebudayaan maritim.

Masyarakat Simeulue adalah masyarakat kelautan, karena habitat dan ekosistemnya adalah pulau dan lautan. Mereka bekerja menyesuaikan diri

dengan alam sekitarnya. Mereka juga memikiki konsep-konsep tersendiri mengenai alam ini.

Bagi masyarakat Simeulue alam adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia diciptakan di dunia juga menjadi bahagian dari alam. Jadi oleh karena itu janganlah merusak dan mengeksploitasi alam. Orang-orang Simeulue meyakini bahwa alam itu selain bumi dengan segala isinya, termasuk pulau dengan berbagai tumbuhannya seperti kelapa, bakau, hutan-hutan, dengan dilengkapi berbagai jenis pohon. Demikian pula lautan dengan berbagai kekayaan alamnya seperti berbagai jenis ikan, udang, teripang, kerang, cumi-cumi, dan lainnya, juga terdapat terumbu karang, dan lain-lainnya.

Bagi masyarakat Simeulue selain ajaran adat, mereka juga memandang alam ini sebagai rahmat Allah kepada mereka, seperti yang diajarkan di dalam agama Islam. Alam adalah sumber mata pencaharian manusia, alam juga mengajarkan bagaimana mengisi hdup. Termasuk pula kapan seorang nelayan mesti ke laut, petani menanam tanam-tanaman, disesuaikan dengan keadaan alam di dalam ruang dan waktu yang tertentu. Kepercayaan tentang alam ini di dalam kebudayaan etnik Simeulue secara agama di antaranya merujuk kepada Al-Quran sebagai berikut.

(1) Q.S. Al-Mu‘min ayat 64

Artinya: 64. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam.

(2) Q.S. An Nahl ayat 65

Artinya: 65. Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).

Orang-orang Simeulue juga meyakini bahwa alam ini kadangkala dapat memberikan bencana, seperti kebakaran, kebanjiran, kemarau, gerhana, hujan yang disertai angin puting beliung, angin tornado, tsunami, dan lain-lainnya.

Dalam menghadapi bencana alam ini, setiap orang Simeulue sebagai umat Islam, perlu berdoa agar dijauhkan dari bencana. Namun kalaupun bencana alam datang, maka diperluakan upaya untuk menyelamatkan diri dari bencana tersebut. Menurut ajaran Islam bencana alam ini juga menjadi bagian dari kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, seperti yang terdapat di dalam Al-Quran berikut ini.

(1) Q.S. Surah Al An‘aam ayat 63.

63. Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan:

"Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur."

(2) Q.S. Al An‘aam ayat 64:

Artinya: 64. Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya."

(3) Q.S. Al-Baqarah ayat 164

Artinya: 164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;

sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Dari sebahagian saja ayat-ayat Al-Qura‘an seperti yang dikutip di atas menjelaskan kepada umat Islam, termasuk etnik Simeulue, bahwa alam ini adalah tempat manusia mengisi kehidupannya. Alam adalah sumber dari peradaban manusia. Namun adakalanya Allah mencoba manusia dengan bencana-bencana alam, yang di dalamnya terkandung nilai-niai pembelajaran kerohanian manusia.

2.10 Nandong Smong di Simeulue

Nandong merupakan salah satu kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Simeulue. Sejauh pengamatan penulis, belum ada buku yang menuliskan tentang arti dari kata nandong. Penulis sebagai putra daerah Simeulue berpendapat bahwa kata nandong diambil dari bahasa Indonesia, yaitu kata senandung. Senandung berarti nyanyian atau alunan lagu dengan suara lembut untuk menghibur diri atau menidurkan bayi. Oleh karena bahasa yang digunakan mirip seperti Minangkabau yang banyak menggunakan huruf vocal ―O‖, kata senandung perlahan berubah menjadi ―senandong” hingga menjadi kebiasaan masyarakat menyebut nandong. Jadi, nandong adalah nyanyian atau alunan lagu yang dinyanyikan dengan makna lirik yang bertujuan untuk mengingatkan, menasehati, dan memberitahu kepada penonton tentang kehidupan sehari-hari.

Smong berasal dari bahasa Simeulue yang artinya air laut naik, ketika gempa bumi atau lebih dikenal dengan istilah tsunami (dalam bahasa Jepang).

Jadi, nandong smong adalah jenis nyanyian atau alunan lagu yang berkisah

tentang peristiwa tsunami. Dalam sejarah tercatat bahwa tsunami ini menghantam pulau Simeulue pada tahun 1833 dan 1907 silam.

Pada tahun 1833 terjadi smong (tsunami) di kepulauan ini, berselang 74 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1907 smong kembali melanda daerah kepulauan ini. Dari bencana alam ini, para orang tua menceritakan kepada anak cucu mereka jika terjadi gempa dan air laut surut, segeralah lari ke dataran yang lebih tinggi.

Menurut penjelasan seorang informan bernama bapak Suherman (58 tahun), dituturkan sebagai berikut: ‖Para nenek moyang kami menurunkan atau memberi tahu nasehat ini melalui cara bernandong, yaitu bersenandung dengan diiringi oleh alunan biola dan kedang. Karena kebiasaan inilah makanya kami selamat waktu tsunami 2004.”

Nandong smong ini sering dilantunkan oleh para seniman nandong di saat ada acara berkumpul-kumpul, hari-hari besar nasional maupun daerah bahkan termasuk ke dalam salah satu rangkaian dari pada upacara adat pernikahan, sehingga ini sudah dianggap sebagai ―tradisi asli‖ dari Simeulue.

Oleh karena kentalnya tradisi ini sehingga smong mendapat penghargaan dari PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) karena pengetahuan lokal dan tradisi lisannya mampu meminimalisasi korban saat tsunami tahun 2004.

UN (United Nations) atau di Indonesia lebih dikenal dengan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) melalui program ISDR8 (International Strategy for Disaster Reduction) memberikan penghargaan kepada masyarakat

8ISDR adalah sebuah organisasi untuk mengawasi pengembangan kebijakan pengurangan bencana alam.

Simeulue, yaitu Sasakawa Award9 pada 13 oktober 2005. Penghargaan ini diberikan karena masyarakat memiliki kearifan lokal smong, sehingga 80.500 masyarakat Simeulue dapat selamat dari bencana tsunami 2004. Bencana tsunami saat ini termasuk dahsyat, karena menyapu dan melanda berbagai negara, seperti: Indonesia, Thailand, Malaysia, India, dan lain-lainnya. Dilihat dari pusat gempa, pulau Simeulue tempat bermukimnya orang Simeulue paling dekat jaraknya. Pemerintah di Kabupaten Simeulue pun dibandingkan dengan berbagai pemerintah di kawasan-kawasan tsunami seperti Jepang, ketinggalan dari segi teknologi komunikasi tentang tsunami, seperti sirene di lautan sebagai tanda terjadinya tsunami, demikian juga teknologi penanda gempa, yang dalam hal ini ditangani oleh BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika) tidaklah secanggih di negara-negara maju.

Dalam hal ini tradisi lisan nandung smong sangat berfungsi sebagai sarana ilmu pengetahuan tradisional orang Simeulue, dalam konteks memahami apa itu tsunami, yang ditandai dengan gejalanya dan kemudian peristiwanya. Demikian pula tradisi ini dapat memberikan pengetahuan kolektif masyarakt Simeulue dalam rangka menyelamatkan diri dari bencana tsunami. Itulah beberapa faktor keunggulan kearifan lokal dalam nandong smong ini. Berikut ini adalah penghargaan Sasakawa Award.

9Sasakawa Award adalah satu dari tiga penghargaan yang sangat prestisius di tingkat Global. Nominasi untuk memenangkan Sasakawa Award for Disaster Reduction tak hanya dari

Gambar 2.11:

Kutipan Penting Sasakawa Award atas Eksistensi Nandong Smong

Adapun isi penghargaan PBB kepada masyarakat Simeulue atas nandong smong ini, dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

Bupati Kabupaten Simeulue menerima sebuah penghargaan yang bergengsi dari PBB

Bangkok, 13 oktober 2005, Bupati Simeulue menerima sebuah penghargaan yang bergengsi dari PBB karena menyelamatkan ribuan nyawa pada tsunami 26 desember.

Terima kasih untuk kepercayaan terhadap pengetahuan yang mereka miliki tentang melihat bagaimana tanda-tanda laut dan reaksi kerbau-kerbau menjauh dari laut. Penduduk yang berjumlah sekitar 80.500 jiwa meninggalkan daerah pesisir menuju bukit-bukit terdekat pada hari minggu pagi.

Walau demikian, ada juga sebanyak tujuh orang yang meninggal karena tsunami di pulau ini. Ketika 163.795 meninggal di provinsi Aceh.

Penduduk pemilik smong menerima penghargaan Sasakawa Award sebagai bencana yang menghancurkan. Cerita tentang apa yang terjadi di laut sebelum tsunami dan bagaimana kerbau-kerbau berlari kencang ke pegunungan, seperti yang telah diceritakan oleh nenek moyang beberapa tahun silam dengan cerita-cerita lain tentang nenek moyang mereka. Seperti yang dikatakan Muhammad Ridwan yang merupakan pemimpin dari penduduk Simeulue, dia mengatakan hal ini setelah mendapatkan penghargaan.

Tradisi lisan ini (smong) dibentuk oleh masyarakat Simeulue, karena terjadi kehancuran yang telah mengejutkan penduduk baik itu yang berprofesi sebagai petani, nelayan, dan pedagang ketika sebuah gempa yang diikuti

dengan tsunami menghantam kepulauan ini pada tahun 1907, yang telah membunuh ribuan jiwa.

Lebih lanjut dikatakan Ridwan, ―Sejak itu kami telah belajar bagaimana untuk melarikan diri dan desember yang lalu itu membutuhkan sekitar 30 menit untuk berada di daratan yang lebih tinggi.‖ Ridwan, umur 53, adalah sekretaris daerah Kabupaten Simeulue.

Penerbangan dan ribuan nyawa selamat karenanya. Ini juga yang menakjubkan masyarakat Simeulue berada di lokasi yang sangat dekat dengan pusat gempa bumi yang berada di Samudra Hindia. Gempa bumi inilah yang memicu tsunami.

Di lain sisi, ―Apa yang terjadi di Simeulue adalah sesuatu prestasi yang unik di tengah kematian di Aceh yang dikarenakan tsunami,‖ Nannie Hudawati, seorang pejabat senior di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB), atau disebut dengan IPS. ―itu adalah satu penduduk yang memiliki cara tradisional untuk menanggulangi tsunami.‖

Dua penduduk lain yang juga bertahan dengan bergantung pada pengetahuan tradisional dan melarikan diri ke tempat yang aman--jipsi laut yang berada di sepanjang pantai selatan Thailand dan penduduk suku yang tinggal di daerah terpencil India, yaitu pulau Andaman dan Nicobar.

Nandong smong disajikan pada saat-saat tertentu, seperti pada acara pertunjukan kesenian daerah Aceh, dalam penyambutan tamu istimewa, pada malam hari di saat sebelum atau sesudah upacara pernikahan, dan juga terkadang di saat pesta setelah khitanan10 pun juga dimaikan. Demikian ulasan

10Pelaksanaan (upacara) memotong kulup; sunatan. Sumber: kbbi.web.id/khitanan

mengenai aspek etnografi dan keberadaan nandong smong di dalam kebudayaan etnik Simeulue di Provinsi Aceh. Keberadaan etnik Simelulue terekspresi dalam nandong smong. Dapat dikatakan bahwa nandong smong ini adalah ikon dari peradaban masyarakat Simeulue. Seni inilah yang menjadi garda depan identitas kebudayaan Simelulue, yang dikenal di seluruh Nusantara bahkan dunia.

.

BAB III KAJIAN MUSIKAL

Bab III ini adalah khusus berisikan materi kajian musikal. Kajian ini mencakup tentang pemusik dalam pertunjukan smong, alat-alat musik yang digunakan, transkripsi dan analisis nandong smong berdasarkan weighted scale, seperti yang telah diuraikan di bab pendahuluan. Tujuan utama dari studi atau kajian musikal ini adalah untuk melihat bagaimana budaya musik smong ini dipertunjukkan, dan bagaimana pula stuktur musik yang dihasilkannya. Dengan mengetahui aspek musikal ini, maka secara keilmuan, berdasarkan pemahaman secara etnomusikologis, msaka kita dapat memahami karakteristik khas kebudayaan masyarakat Simeulue.

3.1 Pemusik

Pemusik di dalam kebudayaan etnik Simeulue sangatlah dihormati.

Pemusik, termasuk pemusik dalam kesenian nandong smong dipandang sebagai tokoh adat, yang memahami baik secara mendalam maupun meluas mengenai adat-istiadat etnik Simeulue. Pemusik dipandang sebagai kelas sosial terpandang secara kebudayaan. Biasanya menjadi pemusik bukanlah sebagai pekerjaan utama dalam kebudayaan Simeulue. Pemusik adalah bahagian dari pengabdian diri dalam konteks memelihara dan mengembangkan kebudayaan. Di dalam kehidupan masyarakat, mereka biasanya bekerja di bidang-bidang lain, seperti sebagai petani, nelayan, pegawai negeri sipil, tentara, dan lain-lainnya. Seorang pemusik melekat statusnya selama ia masih menjadi pemain musik. Pemusik juga sekali gus dipandang sebagai tokoh dan pemelihara adat. Oleh karenanya, seorang pemusik

Berikut ini adalah foto penampilan pemusik dengan pakaian adat Simeulue, serta alat musik kedang dan biola, sebelum menyajikan pertunjukan nandong smong.

Gambar 3.1:

Pemusik. Jamil (63 Tahun, Kiri) dan Suherman (58 Tahun, Kanan) (Dokumentasi: Penulis, September 2016)

Setiap kelompok seni memiliki pakaian khas yang mewakilkan budaya di daerahnya, begitu juga dengan kelompok seni yang ada di Simeulue. Para musisi tradisional di daerah ini umumnya memakai baju dan celana berwarna kuning mengkilat dan memakai kain songket khas Aceh, yang dikenakan seperti memakai kain sarung, tetapi hanya dari bagian pinggang dan lutut saja yang tertutupi. Foto pakaiannya dapat dilihat pada gambar di atas.

warna ini dan kain songket ini merupakan upaya kami untuk melestarikan kain tradisional Aceh.‖ Menurut hasil pengamatan penulis di lapangan, perpaduan pakaian yang digunakan memiliki kesamaan dengan daerah pesisir barat di Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan oleh akulturasi budaya yang dibawa oleh para pendatang dan pedagang ke Simeulue. Para pendatang di Simeulue berasal dari beberapa wilayah pesisir barat, yaitu Minangkabau, Pesisir, Nias, dan Melayu.

3.2 Instrumen Pengiring dan Klasifikasi Organologis

Umumnya, dalam sebuah pertunjukan nyanyian selalu ada alat musik sebagai pengiring nyanyian tersebut, walaupun bukan sebagai suatu keharusan.

Begitu juga dengan nandong smong ini yang memiliki dua jenis alat musik pengiring nyanyiannya.

Curt Sach dan Hornbostel dalam tulisannnya Classification of Musical Instrument menyebutkan bahwa alat musik dapat diklasifikasikan menurut sumber bunyinya. Dalam penelitian lapangan yang penulis lakukan, terdapat dua jenis alat musik pengiring yang mainkan, yaitu biola dan gendang. Berikut adalah penjelasannya.

3.2.1 Biola

Biola merupakan alat musik yang berasal dari eropa yang tergolong kedalam klarifikasi alat musik chordophone, yaitu alat musik yang sumber bunyinya adalah getaran dari dawai atau senar. Di Indonesia, biola sangat sering digunakan sebagai salah satu alat musik pengiring kesenian tradisional, umumnya di daerah pesisir barat. Biola yang digunakan oleh seniman Simeulue ini secara kasat mata terlihat

biola ini dibuat secara otodidak oleh bapak Gagak, bahan bakunya diambil dari kayu hutan pilihan dan membuat nya sendiri di rumah. Pembuatan biola ini mengadopsi bentuk biola pada umumnya. Yang menjadikan khas dari biola ini ada bentuk nya yang tipis dan suara nya yang nyaring. Pak Gagak merupakan satu-satunya pembuat biola di Simeulue. Berikut adalah gambar biola buatan tangan bapak Gagak.

Gambar 3.2:

Biola Buatan Tangan oleh Bapak Gagak.

Dokumentasi: Penulis, September 2016.

3.2.2 Kedang (Gendang)

Kedang adalah gendang dalam bahasa Simeulue. Alat musik pukul jenis membranophone double head ini berbentuk silendris atau tabung yang kedua sisi tidak sama besarnya. Alat musik ini terbuat dari kayu yang dilubangkan pada

Kedang adalah gendang dalam bahasa Simeulue. Alat musik pukul jenis membranophone double head ini berbentuk silendris atau tabung yang kedua sisi tidak sama besarnya. Alat musik ini terbuat dari kayu yang dilubangkan pada

Dokumen terkait