• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Makna Simbolik Berdasarkan Religi Shintoisme

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP KUIL SHINTO ITSUKUSHIMA

2.5 Konsep Makna Simbolik Berdasarkan Religi Shintoisme

2.5.1 konsep shinto

Ono (1998:3) menjelaskan bahwa Shinto berbeda dengan agama lainnya karena Shinto tidak memiliki pendiri dan tidak memiliki kitab suci. Penganut aliran Shinto percaya dengan keberadaan roh leluhur dan banyak dewa. Dewa dalam Shinto dikenal dengan kami. Ono (1998:6) mengemukakan bahwa yang disebut dengan kami adalah sebagai berikut:

Kami are the object of worship shinto. What is meant by kami.? Fundamentally, the term is an honorific for noble, sacred spirits, which implies a sense of adoration for their virtues and authority.

Terjemahan :

Kami merupakan objek penyembahan dalam Shinto. Apakah yang disebut dengan kami? Pada dasarnya, istilah ini adalah sebutan kehormatan untuk roh-roh suci yang mulia, yang menunjukkan rasa kekaguman bagi kebaikan dan kekuasaan mereka.

Keyakinan dalam memuja dewa-dewa ini telah ditetapkan dalam komponen yang harus tetap dijaga oleh masyarakat akan kelangsungannya, yang

terdiri atas empat konsep dalam pelestarian ajaran Shinto yaitu: tradisi dan keluarga, pelestarian alam, kebersihan jasmani dan matsuri.

2.5.1.1 Tradisi dan keluarga

Keluarga merupakan alat yang utama yang melakukan tradisi. Kegiatan utama mereka berhubungan dengan kelahiran dan pernikahan. Istilah keluarga dalam bahasa jepang dikenal dengan kazoku. Menurut Morioko Kyomi (dalam Adriana Hasibuan, 1998:7) keluarga adalah kelompok yang membentuk hubungan saudara dekat, seperti hubungan kakak beradik, orang tua dan anak, serta suami istri sebagai dasar pembentukan dan didukung oleh rasa kesatuan dan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan.

2.5.1.2 Pelestarian Alam

Shinto adalah Pemuja Alam. Hal ini bisa dilihat dari tradisi Shinto yang memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada alam. Pohon besar misalnya tidak boleh sembarangan ditebang karena percaya ada Kami yang berdiam di dalamnya. Kebanyakan penduduk jaman dulu akan taat dan tidak merusak tempat alam atau bahkan terkadang jalan tanpa melewati hutan, gunung bahkan pulau tertentu karena dipercaya adanya Kami yang bersemayam di tempat tersebut. Salah satu contoh kecil dari penghormatan yang tinggi kepada tumbuhan adalah pada saat makan, yaitu hormat terhadap makanan khususnya beras. Sehingga hal inilah yang menyebabkan kebanyakan orang Jepang yang anti untuk menyisakan nasi bahkan dimakan sampai butir terakhir karena dianggap tidak menghormati roh yang hidup di dalamnya. Dengan konsep kepercayaan yang

sangat sederhana seperti ini bisa dibilang mereka cukup termasuk sukses menjaga kelestarian alamnya. Kuil Shinto juga umumnya selalu dipenuhi dengan sejumlah pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun. Bukan pemandangan yang aneh di negara Jepang jika melihat sebuah pohon besar yang tumbuh gagah tepat di tengah jalan, tanpa ada yang berani atau berniat menggusurnya.

2.5.1.3 Kebersihan Jasmani

Kebersihan tubuh dan pikiran sangat penting terutama jika ingin melakukan aktifitas keagamaan, karena para kami sangat membenci ketidaksucian lebih dari apapun. Ketidaksucian atau pencemaran dalam shinto diartikan sebagai kagare, misalnya kematian, darah, penyakit, bencana atau kesialan. Untuk menghilangkan kagare dilakukan harae dan misogi. Misogi dilakukan di tempat- tempat yang dianggap suci bagi dewa air seperti pantai, danau, dan sungai.

2.5.1.4 Matsuri

Penyelenggaraan matsuri berdasarkan bentuknya dapat digolongkan menjadi dua kategori: pertama yaitu matsuri yang diselenggarakan secara aksidental yang lebih dikenal dengan istilah ninigire. Ninigire merupakan kegiatan matsuri yang diselenggarakan sesuai permintaan atau permohonan, misalnya ketika kelahiran seorang anak, maka orangtua akan pergi ke kuil untuk melaksanakan matsuri dengan tujuan agar anak itu akan menjadi anak yang baik. Matsuri juga diselenggarakan dengan tujuan agar terhindar dari segala

marabahaya, matsuri yang diselenggarakan ketika terjadi kekeringan yang menyebabkan gagal panen dengan tujuan untuk minta hujan, dan masih banyak

diselenggarakan di kuil-kuil atau di tempat lain. Kategori kedua, matsuri yang diselenggarakan secara periodik atau dikenal dengan nenchugyoji, yaitu matsuri yang diselenggarakan secara tetap setiap tahun, misalnya O-Bon matsuri yang biasanya diselenggarakan setiap 13-16 Juli sebagai matsuri yang diselenggarakan dengan tujuan untuk mengenang arwah leluhur dan orang-orang yang telah meninggal. O-Shogatsu, yaitu matsuri yang diselenggarakan dalam rangka perayaan tahun baru, dan matsuri lain-lainnya yang diselenggarakan secara periodik setiap tahun.

Matsuri bagi orang Jepang dianggap sebagai salah satu simbol dari kegiatan manusia untuk berkomunikasi dan melayani dewa. Dengan kata lain matsuri bagi orang Jepang dianggap sebagai jalan untuk bertemu dengan dewa.

Menurut (Kunio Yanagita) dewasa ini penyelenggaraan matsuri yang dilaksanakan oleh orang Jepang mengandung dua makna yaitu: (1)Nihon Jin Rashisa atau kekhasan orang Jepang dan kokoro zuku koto atau kesadaran yang selalu ada dalam jiwa orang Jepang. Maksud kekhasan dan kesadaran ini ada dalam diri orang Jepang karena dengan berbagai kegiatan masturi yang selalu mendampingi kehidupan orang Jepang yang tampak dalam penyelenggaraan matsuri yang bersifat ritual dan periodik yang di dalamnya mengandung unsur keagamaan, karena dilaksanakan dengan tujuan menyembah dewa dan juga untuk memohon kepada dewa bagi kesejahteraan, kebaikan dan dijauhkan dari marabahaaya.

Biasanya matsuri-matsuri yang di sebutkan di atas diselenggrakan di desa oleh anggota ie (sistem kekerabatan dalam masayarakat Jepang yang bentuknya mengambil keluarga besar yang anggotanya terdiri dari mereka yang masih mempunyai hubungan darah). Namun, akhir-akhir ini dengan bentuk keluarga kecil dan mereka akan tinggal terpencar, pelaksanaan matsuri dengan makna pertama ini mulai jarang ditemukan dalam keluarga-keluarga Jepang, khususnya masyarakat yang tinggal di kota-kota besar.

Makna ke dua dari penyelenggaraan matsuri dewasa ini adalah sebagai hiburan. Jenis matsuri ini berkembang di kota-kota besar maupun desa dan diselenggarakan oleh orang Jepang yang tinggal di kota dan diselenggarakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang tinggal dekat kuil. Namun, Kunio Yanagita menjelaskan bahwa matsuri yang bermakna hiburan ini tetap memiliki unsur ritual karena dalam penyelenggarannya masih menegakkan umbul-umbul sebagai pengganti sao yang mempunyai makna sebagai tangga tempat turun naiknya dewa pada saat matsuri berlangsung.

2.5.2 Makna simbolik

Kata simbol berasal dari Yunani, yaitu Symbolon yang berarti tanda pengenal, semboyan atau lencana. Bentuk simbol tidak hanya berupa benda kasat mata, namun juga berupa suatu peristiwa, ucapan dan tindakan seseorang. Gambar dan patung, dekorasi dan arsitektur, tempat beribadat, pembacaan ayat-ayat kitab suci dan doa, gerakan menyembah dan sikap mediasi, yang semuanya merupakan ungkapan keberagaman yang memakai simbol-simbol. Fungsi simbol adalah

untuk menuntun seseorang untuk memahami sesuatu yang tidak terjangkau oleh indera.

Menurut pendapat Folley (1997:26) mengatakan “A symbol is a sign in which the relationship between its form and meaning is stricly conventional, neither due to physical similarity or contextual constraints.”

Terjemahan :

Simbol adalah tanda dimana hubungan di antara bentuk dan artinya benar-benar sesuai dengan adat kebiasaan, bukan karena persamaan bentuk ataupun keterbatasan kontekstual.

Suatu objek dianggap sebagai simbol yang memiliki makna dalam suatu kelompok masyarakat, tetapi oleh kelompok masyarakat lainnya bisa saja objek yang sama tidak memiliki makna sama sekali. Begitu pula dengan Shinto, banyak benda yang dapat dinyatakan dengan Shinto. Tetapi simbol shinto yang paling dikenal adalah Torii.

Dokumen terkait