BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Visi dan Misi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)
Visi dimaksudkan untuk memberi arah atau pedoman jangka panjang bagi pengambilan keputusan dan penetapan rencana strategis untuk menjamin terciptanya sinergi dan kesinambungan pola kerja dalam suatu jangka waktu tertentu atau lima tahun ke depan, maka Visi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) adalah “Diakui sebagai Perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani”.
Sedangkan Misi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) adalah : 1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang usaha yang terkait, berorientasi
pada kepuasaan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham.
2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi kegiatan pendorong kegiatan ekonomi.
4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.
C. Struktur Organisasi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Area Makassar
Gambar 2.Struktur Organisasi
D. Peran dan Fungsi Kerja Pegawai PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Area Makassar
Bagian-bagian dari struktur organisasi PT.PLN (Persero) Area Makassar mempunyai peranan dan fungsi masing-masing yang terangkum dalam uraian berikut ini:
1. Manajer Area
Membina, merumuskan, menyusun, mengarahkan kebijakan teknis dan administrasi pada bagian-bagian yang terkait berdasarkan program kerja dan
Manajer
target untuk menunjang pencapaian sasaran perusahaan.
2. Manajer Ranting
Unit organisasi jenjang kedua PT.PLN (Persero) Area Makassar terdiri dari tujuh ranting. Berikut adalah uraian singkat dari fungsi dan peran dari masing-masing rayon dan ranting: Mengelola dan melaksanakan kegiatan penjualan tenaga listrik, pelayanan pelanggan, pengoperasian, dan memelihara pembangkit dan jaringan distribusi tenaga listrik di wilayah kerjanya secara efisien sesuai tata kelola yang baik berdasarkan kebijakan kantor induk untuk menghasilkan mutu dan keandalan pasokan tenaga listrik sesuai standar yang ditetapkan; serta melakukan pembinaan dan pemberdayaan unit asuhan di bawahnya.
3. Asisten Manajer SDM dan Administrasi
Melaksanakan perencanaan, kordinasi, dan pengendalian fungsi kepegawaia, kesekretariatan, perbekalan, dan pencapaian HOP (Hari Orang Pelatihan), ITO (Inventory Turn Over), tertib administrasi, tertib waktu dan biaya untuk meningkatkan kinerja SDM.
4. Supervisor SDM
Melaksanakan dan mengelola fungsi-fungsi kepegawaian untuk kelancaran remunerasi dan pembinaan pegawai serta mendukung pengembangan karir SDM.
5. Supervisor Sekretariat
Mengatur dan mengarahkan kegiatan kesekretariatan, meliputi surat menyurat, rumah tangga, kebutuhan fasilitas/sarana kerja, dan pemeliharaan
sarana kerja serta keselamatan dan kesehatan kerja sesuai ketentuan yang berlaku.
6. Supervisor Logistik
Mengatur dan mengarahkan kegiatan dibidang perbekalan/ logistik yang meliputi rencana persediaan dan pengadaan barang, peralatan perbekalan/logistik berdasarkan kebutuhan.
7. Asisten Manajer Keuangan
Merencanakan, mengkoordinasikan, mengendalikan, dan mengevaluasi aktivitas-aktivitas pada fungsi keuangan yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi unit kerjanya sehingga dapat tercipta sistem pengelolaan keuangan yang transparan, kredibel dan akuntabel.
8. Supervisor pengendalian anggaran dan keuangan
Merencanakan, mengkoordinasikan, mengendallikan, dan mengevaluasi pelaksanaan aktivitas pada fungsi anggaran dan keuangan yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi unit kerjanya sehingga sistem pengelolaan aanggaran dan keuangan dapat terselenggara secara tertib dan kredibel.
9. Supervisor pengendalian pendapatan
Merencanakan, mengkoorninasikan, mengendalikan, dan mengevaluasi pelaksanaan pengendalian pendapatan dan pemantauan aliran kas receipt yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi unit kerjanya sehingga sistem proteksi pendapatan dan penerimaan kas dapat terselenggara secara kredibel.
10. Supervisor akuntansi
Merencanakan, mengkoordinasikan, mengendalikan, dan mengevaluasi pelaksanaan proses akuntansi yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi unit kerjanya sesuai dengan kebijakan dan standar yang berlaku, sehingga informasi yang dihasilkan dapat tersaji secara akurat, onformatif dan tepat waktu.
11. Asisten Manajer Niaga dan Pelayanan Pelanggan
Melaksanakan koordinasi dan pengendalian fungsi pembacaan meter, pembuatan rekening listrik, pembukuan pelanggan, penagihan piutang pelanggan, dan piutang ragu-ragu untuk meningkatkan kinerja penjualan tenaga listrik, losis non teknis, dan pengamanan pendapatan perusahaan.
12. Supervisor pelayanan pelanggan
Melaksanakan pengawasan dan pengelolaan fungsi administrasi pelanggan dan pebukuan pelanggan, untuk meningkatkan kiberhja pemasaran dan penjualan.
13. Supervisor penagihan
Melaksanakan pengawasan dan pengelolaan fungsi penagihan piutang pelanggan dan piutang ragu-ragu, untuk meningkatkan kinerja penagihan, menekan umur piutang dan ratio piutang ragu-ragu.
14. Supervisor cater
15. Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan, dan mengendalikan pembacaan meter dan rute baca meter dalam rangka mengamankan pendapatan perusahaan.
16. Supervisor sistem informasi
Mengkoordinasikan pelaksaan kerja operasional dan pemeliharaan sistem informasi yang handal dalam pengimputan, penyajian output data, pengelolaan data, penyimpanan data, dan melakukan pengoperasian dan pemeliharaan hardware maupun software.
17. Asisten Manajer APP
Mengkoordinasikan perencanaan, pengoperasian dan pemeliharaan APP, menjaga ketersediaan dan keandalan APP sesuai standar yang berlaku.
18. Supervisor operasi dan pemeliharaan APP
Mengawasi dan mengarahkan langkah kegiatan perencanaan, pengoperasian, dan pemeliharaan APP serta perbaikannya agar keandalan sistem pengukuran tetap terjaga.
19. Supervisor peneraan
Mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan peneraan sehingga sasaran peneraan dapat tercapai.
20. Asisten Manajer Distribusi
Melaksanakan koordinasi dan pengendalian fungsi distribusi, konstruksi dan pembangkitan (lisdes) untuk pencapaian target kinerja antara lain susut, SAIDI, SAIFI, tata kalor, OAF, tertib administrasi, waktu, biaa, dan kinerja SDM distribusi.
21. Supervisor operasi disthribusi
Melaksanakan koordinasi dan pengendalian pendistribusian energi listrik secara terus menerus dan pencapaian target kinerja SAIDI/SAIFI serta energi tak tersalur.
22. Supervisor pemeliharaan distibusi
Mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan pemeliharaan jaringan distribusi serta perbaikan gangguan jaringan agar keandalan sistem pendistribusian tenaga listrik tetap terjaga.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam metode cash basis, pendapatan diakui ketika kas diterima sedangkan beban diakui pada saat kas dibayarkan, artinya perusahaan mencatat beban didalam transaksi jurnal entry ketika kas dikeluarkan atau dibayarkan dan pendapatan dicatat ketika kas masuk atau diterima.Sedangkan dalam akuntansi berbasis akrual, pendapatan diakui ketika penjualan terjadi dan pengeluaran (belanja) diakui ketika barang atau jasa diterima. Dengan kata lain, basis akrual mengakui transaksi pada saat transaksi. Sedangkan dalam basis kas, pendapatan diakui ketika uang/kas telah diterima dan pengeluaran diakui ketika telah dilakukan pembayaran kas.Selain itu, dalam basis akrual juga mengakui adanya transaksi-transaksi non-kas, seperti pengakuan beban penyusutan, penyisihan piutang tak tertagih, dan sebagainya. Berikut perbandingan system pencatatan antara cash basis dan accrual basis pada PT.
PLN (Persero) Area Makassr di uraikan pada poin-poin berikut:
A. Hasil Penelitian
1. Perbandingan antara Cash Basisdan Acrual Basis
Pada umunya system pencatatan akuntansi kas dan akuntansi akrual berbeda satu dengan lainnya karena adanya perbedaan pengakuan pendapatan dan biaya. Dalam hal pengakuan pendapatan, pada dasarnya terdapat dua langkah yang mempengaruhi pencatatan, yaitu pada saat barang dikirim dan faktur dikeluarkan, dan pada saat barang dikirim dan faktur dibayar.
Berdasarkan pengertiannya metode cash basis merupakan metode pencatatan dalam akuntansi, dimana dalam hal ini setiap transaksi yang terjadi dicatat berdasarkan jumlah nominal yang diterima. Untuk memudahkan memahami pengertian diatas, dapat kita lihat system pecatatan berikut:
Pada 1 Desember 2012 PT. PLN (Persero) menerima pendapatan penjualan sebesar Rp 124.814.073 untuk penjualan listrik per Desember 2012. Untuk pencatatannya ditulis:
1 Desember 2012
Kas : 124.814.073
Pendapatan Penjualan : 124.814.073
Dari sistem pencatatan diatas dapat dilihat bahwa penggunaan metode cash basis dilakukan dengan prinsip bahwa setiap transaksi dicatatkan berdasarkan jumlah nominal yang diterima.
Sedangkan sistem pencatatan yang menggunakan metode Acrual basisadalah metode pencatatan dalam akuntansi, dimana dalam hal ini setiap transaksi yang terjadi dicatat berdasarkan konsep pengakuan yang sesungguhnya. Untuk prakteknya bisa dilihat pada uraian berikut:
Pada 1 Desember 2012 PT. PLN (Persero) menerima pendapatan penjualan sebesar Rp 124.814.073 untuk penjualan listrik perdesember 2012. Untuk pencatatannya ditulis:
1 Desember 2012
Kas : 124.814.073
Pendapatan: 124.814.073
Jurnal pada akrual basis memperlihatkan pembayaran yang dilakukan terhadap penjualan tersebut dengan nominal Rp 124.814.073 tidak dikategorikan sebagai beban yang terjadi.Pengeluaran itu dianggap masih bagian dari harta perusahaan.Hal itu disebabkan karena perusahaan belum menerima manfaat dari aktivitas penjulan listrik itu walaupun telah menerima pembayaran terhadap hasil penjualan listrik.Untuk itu, perusahaan kemudian membuat jurnal penyesuaian (adjustment), guna menyesuaikan biaya yang dikeluarkan. Jurnal penyesuaian ini dibuat pada waktu tutup buku bulanan, yaitu tanggal 30Desember dengan format sebagai berikut:
30 Desember 2012
Kas : 62.407.036
Pendapatan: 62.407.036
31 Desember 2012
Kas: 62.407.036
Pendapatan : 62.407.036
Pada jurnal yang dicatatkan di tanggal 30 Desember dan 31 Desember 2012 dapat terlihat, bahwa PT. PLN (Persero) melaporkan adanya pembayaran yang terjadi pada periode Desember sebesar Rp 62.407.036. Nilai Rp 62.407.036diperoleh dengan membagi pembayaran yang telah dibayar dimuka
yang dikeluarkan pada tanggal 1 Desember sebesar Rp 124.814.073dibagi masa manfaat pembayaran selama 1tahun.
Perbedaan sistem pencatatan antara Cash Basicdan Acrual basis yang diterapkan PT. PLN (Persero) pada umumnya juga diterapkan pada perusahaan terbatas lainnya.Basis Akrual (Accrual Basis) Teknik basis akrual memiliki fitur pencatatan dimana transaksi sudah dapat dicatat karena transaksi tersebut memiliki implikasi uang masuk atau keluar di masa depan. Transaksi dicatat pada saat terjadinya walaupun uang belum benar – benar diterima atau dikeluarkan.
Dengan kata lain Basis Akrualdigunakan untuk pengukuran aset, kewajiban dan ekuitas dana. Jadi Basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.
Sedangkan Cash Basicmerupakan salah satu konsep yang sangat penting dalam akuntansi, dimana Pencatatan basis kas adalah teknik pencatatan ketika transaksi terjadi dimana uang benar-benar diterima atau dikeluarkan.
Dengan kata lain Akuntansi Cash Basis adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar yang digunakan untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan.
Berikut jurnal Laporan Cash Flow Bulan Desember Tahun 2012 diuraikan pada tabel berikut:
Tabel 2. Laporan Cash Flow Bulan Desember Tahun 2012
: 268,949,667 9,259,957 9,399,030 8,967,651 13,313,996 9,220,239 13,368,108 12,709,159 17,428,096 15,925,490 5,187,434 4,004,838 387,733,664
Pengeluaran
-269,711,266
-2,808,783
-3,207,276
-2,302,994 -2,640,229 -2,715,035 -2,861,241 -3,777,783 -3,305,518 -3,592,869
-4,038,887
-
-1,857,802 -2,543,169 -2,621,875 -2,707,431 -3,181,024 -2,478,979 -2,461,862
-2,935,545
Arus Air
-1,941,121 -931,815 -1,204,147 -1,342,644 -1,301,256 -1,424,865 -1,173,544 -1,058,067
-1,229,283
-1,492,370 -16,890,796
- Material ( ) -552,615 -404,700 -563,703 -447,134 -552,508 -787,761 -532,064 -792,003 -583,241 -416,688 -537,245 -855,896 -7,025,556
- Jasa ( ) -1,378,258
-1,456,112
-1,377,418 -484,681 -651,640 -554,883 -769,193 -632,862 -590,303 -641,379 -692,039 -636,474 -9,865,240
G. Biaya Kepegawaian ( ) -12,647 -27,648 -38,258 -36,508 -42,945 -20,627 -43,442 -32,953 -33,909 -36,794 -36,046 -29,857 -391,633
H. Biaya Administrasi ( ) -1,654,109 -810,809
-1,076,371 -847,707 -1,272,086 -1,251,992 -1,297,308 -1,676,873 -1,228,199 -1,362,502
-1,619,043
- Penjualan
D. Penyetoran Pajak : ( )
KANTOR WILAYAH 3,691,439 2,666,336 3,120,826 2,214,071 2,311,528 1,328,451 4,381,138 3,142,348 3,070,723 3,393,688 3,976,185 3,864,574 37,161,307 A. Biaya Operasi : 3,691,439 2,666,273 2,677,996 1,643,028 2,090,113 1,219,771 4,159,723 2,624,156 2,123,055 2,198,307 2,397,813 2,564,055 30,055,729
Pelumas &
Administrasi 1,246,910 955,279 1,060,336 966,530 1,279,998 433,003 3,210,242 1,538,167 1,052,011 1,156,490 1,152,286 1,429,516 15,480,768
- Biaya
- Biaya PFK
AKTIVITAS OPERASI -761,599 6,451,174 6,191,754 6,664,657 10,673,768 6,505,204 10,506,867 8,928,676 14,117,328 12,319,312 1,148,547 -382,225 82,363,462 IV ARUS KAS DARI AKTIVITAS
1 Bunga
Basis kas dan basis akrual digunakan untuk mengakui kapan terjadinya suatu transaksi.Jika laporan Cash Flow Bulan Desember Tahun 2012 PT. PLN (Persero) area Makassar jika digunakan sistem pencatatan Cash Basicdan basis akrual maka akan berbentuk seperti uraian dibawah:
Transaksi Bulan Desember Basis Akrual 8 Januari 2012
Pembayaran dibayar dimuka : 6.653.416
Kas : 6.653.416
PT. PLN (Persero) menerima biaya penyambungan senilai Rp.
6.653.416 pada bulan Januari 2012, dan pembayaran atas penyambungan tersebut dilakukan pada 8 Januari 2012.Dengan menggunakan basis akrual, PT. PLN (Persero) mengakui bahwa transaksi pembayaran biaya penyambungan tersebut terjadi pada 1 Januari 2012, sehingga pencatatan pun dilakukan pada 8 Desember 2012.Kalau dilihat dengan jurnal (penerapan double entry accounting / akuntansi berpasangan).Maka pencatatan tertanggal 8 Januari 2012, akunnya adalah:
Pembayaran biaya penyambungan: 6.653.416
Utang Jasa: 6.653.416.
Ini berarti pada 8Januari 2012, terjadi penambahan permintaan penyambungan listrik senilai Rp 6.653.416yang menimbulkan bertambahnya Utang Jasa senilai Rp 6.653.416.Akibatnya, jika PT. PLN (Persero) di akhir
tahun 2012 (31 Desember 2012) menyusun neraca basis akrual, di bagian Aktiva (Harta) bertambahlah akun (account/pos/rekening) permintaan jasa senilai Rp 6.653.416, dan di bagian Utang (Kewajiban) bertambah pula akun Utang Jasa senilai Rp 6.653.416.
Basis Akrual 8 Januari 2012
Untuk menangani transaksi yang sama, jikaPT. PLN (Persero) menerapkan Basis Kas, maka transaksi diakui ketika kas dibayarkan (atau diterima, jika pada kasus penerimaan kas). Akibatnya, di neraca per 31 Desember 2012 tidak ada perubahan apa pun. Transaksi baru diakui pada 8 Januari 2013. Pengakuan transaksi dengan basis kas dicatat dengan jurnal:
Maka pencatatan tertanggal 8 Desember 2012, akunnya adalah:
Permintaan penyambungan listrik: 6.653.416
K a s: 6.653.416.
Ini berarti pada 8 Januari 2012, terjadi penambahan permintaan penyambungan listrik senilai Rp 6.653.416yang menimbulkan berkurangnya Kas senilai Rp 6.653.416 karena bahan baku yang digunakan menggunakan dana kas sebesar Rp. 6.653.416sebagai biaya penyambungan.
Penerapan accrual basis pada system pencatatan akan mendorong pihak PT. PLN (Persero) untuk berusaha lebih keras dalam memperoleh jumlah piutang yang akan dihadapi dimasa yang akan datang dan semua informasi tersebut tersaji dan dapat diamati dalam laporan keuangan, oleh
karena itu dengan menggunakan accrual basis kinerja PT.PLN (Persero) dapat diukur dengan jelas dan transparan oleh berbagai pihak yang terkait dengan PT.PLN (Persero), sehingga efek yang muncul dari penerapan accrual basis adalah terjadinya masalah ketidakpastian dalam menerima piutang yang diterima di masa akan datang dapat berupa pembiayaan-pembiayaan jangka pendek.
Sedangkan pencatatan dengan Cash Basictransaksi baru diakui ketika cash diterima sedangkan beban diakui pada saat cash dibayarkan, artinya perusahaan mencatat beban didalam transaksi jurnal entry ketika kas dikeluarkan atau dibayarkan dan pendapatan dicatat ketika kas masuk atau diterima. Hal tersebut mengakibatkan PT. PLN (Persero) tidak dapat memprediksi beban dan piutang yang akan dihadapi selanjutnya karena pencatatan transaksi telah dilakukan, sehingga piutang akan tercatat pada periode berikutnya.
Tampak dari uraian di atas bahwa perlakuan akuntansi dengan basis berbeda, akan berdampak pada perubahan jumlah dan komposisi aset yang berbeda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pencatatan menggunakan metode accrual basis lebih mencerminkan keadaan keuangan PT. PLN (Persero) sebenarnya.Tetapi metode pencatatan accrual basis lebih sulit untuk diterapkan karena akuntan harus melakukan pencatatan lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode cash basis.Tapi dengan menggunakan software akuntansi, informasi yang handal dan efisiensi pekerjaan dapat tercapai dengan baik.
2. Dampaknya cash basis dan acrual basis terhadap laba pada PT.PLN (Persero) Area Makassar
Seluruh penerimaan dan pengeluaran pada Perusahaan Terbatas PLN (Persero) harus ada dalam anggaran artinya harus melalui atau tercantum dalam Laporan Realisasi Anggaran. Pendapatan, belanja, dan pembiayaan yang merupakan unsur Laporan Realisasi Anggaran akan diakui atau dicatat pada saat kas diterima atau dikeluarkan. Pendapatan, belanja, dan pembiayaan hanya mempengaruhi kas dan tidak mempengaruhi komponen lainnya dalam pos neraca pada saat penerimaan dan pengeluaran kas. Akibat perlakuan seperti ini, neraca hanya terdiri dari sisi debet kas sisi kredit ekuitas. Itupun ekuitas muncul pada akhir periode pada saat pendapatan dan biaya ditutup ke ekuitas dana lancar.
Konsekuensi dari penggunaan basis kas dan bass akrual terhadap laba akan diuraikan pada penjelasan berikut. Misalnya terjadi transaksi biaya operasi yang didalamnya meliputi pembelian tenaga listrik, PSKSK, sewa diesel senilai 3.660.188 secara tunai. Karena segala pengeluaran yang melibatkan kas harus disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dengan basis kas, maka transaksi ini akan dicatat dengan cara:
Dr. Biaya operasi: 3.660.188
Cr. Kas 3.660.188
Biaya operasional merupakan akun nominal yang akan disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, sedangkan kas merupakan akun riil yang akan disajikan dalam Neraca. Akibatnya, apabila hanya jurnal tersebut yang
dibuat, maka hanya akun kas yang disajikan sebagai bagian aktiva Neraca.Jika disajikan dengan basis akrual atau memperesentasikan semua sumber daya yang dimiliki dan tidak terbatas kas saja.
Dampak dari sistem pencatatan kas antara Accrual Basis dan Cash Basis terhadap laba yaitu pengakuan pendapatan diperoleh:
1. Berdasarkanmetode Accrual Basis terhadap laba Tahun 2012 sebesar Rp.
784.605.041.860. Dengan menggunakan metode accrual basis, selisih laba yang diperoleh perusahaan pada periode tahun 2012 lebih besar apabila dibandingkan dengan menggunakan metode cash basis sebagaimana yang diterapkan pada perusahaan listrik BUMN PT. PLN (persero)
2. Perbandingan besarnya selisih laba bersih menggunakan metode accrual basis dengan menggunakan metode cash basis adalah sebagai berikut : a. Menurut akrual basis sebesar Rp. 1.695.653.818.049 dengan selisih laba
sebesar Rp. 253.066.413.815
b. Menurut cas basis sebesar Rp. 1.442.587.404.234 tahun 2012.
B. Pembahasan
Dari uraian sebelumnya diperoleh bahwa didalam metode cash basis beban tidak diakui sampai uang dibayarkan walaupun beban terjadi terjadi pada bulan itu.Demikian juga dengan pendapatan, tidak diakui sampai dengan uang diterima.Sehingga metode cash basis tidak mencerminkan besarnya uang yang ada sebenarnya.Pada metode accrual basis beban dan pendapatan diakui pada saat terjadinya transaksi.Sehingga informasi yang disediakan lebih handal dan
terpercaya tentang seberapa besar suatu perusahaan mengeluarkan uang atau menerima uang dalam setiap bulannya.Pencatatan menggunakan metode ini mengakui beban pada saat transaksi terjadi walaupun kas belum dibayarkan.
Begitu pula dengan pendapatan, dicatat pada saat transaksi terjadi walaupun kas atas transaksi pendapatan tersebut baru diterima bulan depan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pencatatan menggunakan metode accrual basis lebih mencerminkan keadaan keuangan sebenarnya.Tetapi metode pencatatan accrual basis lebih sulit untuk diterapkan karena akuntan harus melakukan pencatatan lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode cash basis.Tapi dengan menggunakan accrual basis akuntansi, informasi yang handal dan efisiensi pekerjaan dapat tercapai dengan baik.
Dengan demikian semua pihak yang terkait akan dapat mengetahui kemampunya dalam membayarpiutang jasa dengan jelas dan transparan, dan kinerja perusahaan dapat dikontrol dengan jelas dan transparan karena dengan penerapan accrual basis manajemen terdorong untuk bekerja lebih keras lagi dalam merealisasikan jumlah kewajiban yang akan jatuh tempo dimasa yang akan datang dan semua informasi tersebut akan tersaji dan dapat diamati melalui laporan keuangan tahunan.
60 BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa
1. Dari dua metode di atas, antara kas basis dan akrual basis dapat disimpulkan bahwa pencatatan menggunakan metode accrual basis lebih mencerminkan keadaan keuangan perusahaan sebenarnya. Tetapi metode pencatatan accrual basis lebih sulit untuk diterapkan karena akuntan harus melakukan pencatatan lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode cash basis.
2. Laba atau rugi yang dihasilkan oleh acrual basis lebih mampu menggambarkan kinerja perusahaan daripada informasi mengenai arus kas.Menurut Akrual Basissebesar Rp. 1.695.653.818.049 dengan selisih laba sebesar Rp. 253.066.413.815 sedangkan menurut Cas Basissebesar Rp.
1.442.587.404.234 sehingga selisih laba tahun 2012.
B. Saran
1. Dalam mengimplementasikan sistem pencatatan terdapat beberapa tantangan yang memerlukan perhatian bagi seluruh pihak yang terkait agar implementasinya dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan serta manfaat yang diharapkan. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah
yang penuh dengan kehati-hatian dalam menerapkan system pencatatan perusahan terbatas PLN (Persero).
2. Komitmen dari pihak yang bekewajiban dalam system pencatatansebaiknya benar-benar matang agar proses pengelolaan keuangan PT. PLN (Persero) terwujud menjadi sistem pencatatan yang akuntabel.
62
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim : 2002. Prinsip Akuntansi Keuangan. PT. Indah. Surabaya
Abdullah, Syukriy. 2008. Basis Akuntansi Pemerintahan. (Online) http://syukriy.wordpress.com/2008/06/28/basis-akuntansi-pemerintahan/.
[November 2014]
Anonim. (2007). Pedoman Penulisan Skripsi Perguruan Tinggi Unismuh Fakultas Ekonomi.Makassar: PT. Unismuh Makassar.
Bastian, Indra,2006, Akuntansi Sektor Publik:Suatu Pengantar. Jakarta. Erlangga.
Bastian, I. 2009.Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta.
Bodnar, George H, and William S.Hopwood.2002. Sistem Informasi. Akuntansi.
Buku I. Jakarta: Penerbit salemba empat
Bunea, C. B dan Cosmina. 2006. Arguments for Introducing accrual based
accounting in Public Sector, (online),
(http://mpra.ub.muenchen.de/18134/I/MPRA_Paper_18134.pdf,
Faisal, Abdurrahman 2006.Metode Penelitian dan Tehnik Penyusunan Skripsi.Ikatan Akuntan Indonesia. International Business&Economics research Journal. Jakarta.
Halim. 2011. Standar Akuntansi Keuangan. Selembah.Jakarta.
International Monetary Fund (IMF).2001. Government Financial Statistic Manual,http://www.imf.org.
Jusup, Al. Haryono, 2005. Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid I, Edisi 6, Sekolah Tinggi Ilmu ekonomi YKPN, Yogyakarta.
Khan, A. Mayes, S. 2009. Transition to Accrual Accounting, (online), (http://
http://blog-pfm.imf.org/files/fad-technical-manual-2.pdf diakses 10 Desember 2014)
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP). 2004. Draf Standar Akuntansi Pemerintahan.
Sadeli M, Lili, 2008. Dasar-Dasar Akuntansi, Bumi Aksara, Jakarta.
Sofyan Syafri H. 2004. International Federation of Accountants (IFAC), Study 11 Governmental Financial Reporting, http://www.ifac.org.
Widiarti, Anggraini. 2009. Perlakuan Akuntansi Atas Pendapatan dan Beban Pada PT. Jaya Perlakuan Akuntansi Atas Pendapatan Kencana Palembang.Skripsi fakultas Ekonomi (Tidak Dipublikasikan).
PSAK No.25 PSAK No.45
Undang-Undang No.17 Tahun 2003 Undang-Undang No.1 Tahun 2004