• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.5 Landasan Teori dan Konsep

1.5.2 Konsep Migrant Workers

Migrant Workers adalah istilah dari pekerja migran yang mendeskripsikan pergerakan orang-orang dari sebuah tempat ke tempat lainnya dengan tujuan untuk bekerja. Klasifikasi pekerja migran umumnya diperoleh ketika seseorang melakukan hal tersebut. Pekerja migran terdiri dari beberapa jenis baik pekerja

39

migran kontrak terampil, semi terampil maupun pekerja migran kurang terampil.50 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai organisasi dunia juga mendefinisikan pekerja migran yang terdapat dalam Konvensi Pekerja Migran tahun 1990, dalam pasal 2 ayat 1 pekerja migran di definisikan sebagai “Migrant Workers refers to a person who is to be engaged, is engaged or has been engaged in a remunerated activity in a State of which he or she is not a national”.51 Artinya pekerja migran adalah seorang pekerja yang akan, tengah dan telah melakukan aktivitas yang dibayar di suatu negara yang bukan merupakan warga negaranya. Dalam konvensi tersebut istilah pekerja migran dapat digunakan oleh seorang yang bekerja dengan delapan klasifikasi, diantaranya adalah:52

1. Pekerja lintas batas yaitu pekerja yang bertinggal di suatu negara lainnya atau biasanya negara tetangga yang biasayanya mereka akan pulang setiap hari atau seminggu sekali.

2. Pekerja musiman yang disandangkan pada pekerja migran yang dalam sifat pekerjaannya bergantung dengan kondisi musim, pada umumnya dilakukan secara tidak menentu setidaknya hanya beberapa waktu dalam setiap tahun.

50 Lalu Hadi Adha, 2013, Urgensi Ratifikasi Konvensi Internasional tahun 1990 tentang

Perlindungan Buruh Migran dan Keluarganya, Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan, hal. 315

51 International Convention on the Protecttion of the Right of All Migrant Workers and Members of Their Families: Adopted by General Assembly resolution 45/158 of 18 December 1990, Part I Scope and Definitions, Article 2 poin 1, diakses dalam

https://www.un.org/en/development/desa/population/migration/generalassembly/docs/globalcomp act/A_RES_45_158.pdf (2/7/2021,10:36)

52 Ibid, hal 5-6

40

3. Pekerja pelaut yang mencakup nelayan yaitu pekerja migran yang bekerja diatas kapal yang terdaftar di negara lain bukan tempat pelaut melakukan pekerjaannya.

4. Pekerja offshire installation adalah pekerja migran yang berada dibawah naungan yuridiksi suatu negara yang bukan merupakan warga negaranya.

5. Pekerja keliling mengacu pada pekerja migran yang melakukan pekerjaannya dengan berpergian ke negara satu ke negara lainnya dalam waktu singkat tergantung sifat pekerjaanya, biasanya bertempat tinggal di suatu negara.

6. Pekerja proyek digunakan untuk pekerja migran yang melakukan pekerjaanya di negara tujuan kerja dalam waktu tertentu dengan tujuan proyek tertentu tergantung pada majikannya.

7. Pekerja dengan pekerjaan tertentu ini dapat disandangkan pada pekerja migran yang dipekerjakan majikannya dalam jangka waktu tertentu untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan profesionalitas atau keahlian, komersial, teknis, maupun keahlian secara khusus dengan melakukan pekerjaan dalam jangka waktu dan bersifat sementara.

8. Pekerja mandiri mengacu pada pekerja migran yang bekerja dan melakukan aktivitas yang dibayar dengan tidak berada dibawah perjanjian kerja atau kontrak kerja, serta pekerja migran lainnya yang diakui berdasarkan perjanjian bilateral atau multilateral.

Dalam konvensi tersebut memuat prinsip-prinsip perlindungan pada seluruh pekerja migran. Standart-standart hak asasi manusia harus dijamin oleh semua

41

negara terlepas masuk dalam kualifikasi pekerja migran manapun. Konvensi ini telah di ratifikasi oleh 55 negara yang mayoritas nya adalah negara pengirim pekerja migran seperti Filiphina, Sri Lanka, Mali serta Indonesia yang meratifikasi pada 31 Mei 2012,53 kemudian Indonesia juga mengesahkan Konvensi Pekerja Migran dengan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2012.54 Kewajiban negara peratifikasi konvensi harus menjalankan semua isi dalam konvensi dan tidak dapat mengecualikan implementasi dari bagian manapun, atau mengecualikan klasifikasi pekerja migran tertentu dalam penerapan aturan perlindungan pekerja migran.55

Pendefinisian mengenai migrant workers juga diadopsi oleh International Labour Organization (ILO) dalam konvensi 143 tentang Pekerja Migran (Ketentuan Tambahan) tahun 1975 yang berarti:

“Orang yang bermigrasi atau yang telah bermigrasi dari satu negara ke negara lain dengan tujuan untuk bekerja selain sebagai wiraswasta dan mencakup siapa saja yang diijinkan masuk secara reguler sebagai pekerja migran.”56

Persoalan migrant workers atau pekerja migran sudah banyak konvensi yang mengatur, akan tetapi permasalahan yang berkaitan dengan buruh migran tidak sedikit. Penyelewengan hak perlindungan terhadap buruh migran seringkali terjadi

53 United Nations Treaty Collection Chapter IV Human Right Number 13, diakses dalam https://treaties.un.org/Pages/ViewDetails.aspx?src=TREATY&mtdsg_no=IV-13&chapter=4 (2/7/21, 23:47)

54 Undang-Undang Nomor 6 tahun 2012 tentang Pengesahan International Convention on the Protecttion of the Right of All Migrant Workers and Members of Their Families, diakses dalam https://www.bphn.go.id/data/documents/12uu006.pdf (2/7/21, 23:40)

55 International Convention on the Protecttion of the Right of All Migrant Workers and Members of Their Families: Adopted by General Assembly resolution 45/158 of 18 December 1990, Article 88. Op. Cit hal 53

56 K-143 Konvensi Pekerja Migran (Ketentuan Tambahan) tahun 1975, Bagian II Pasal 11 ayat 1, diakses dalam

https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo-jakarta/documents/legaldocument/wcms_145819.pdf (2/7/21, 22:32 WIB)

42

sehingga isu perlindungan terhadap pekerja migran menjadi fokus kajian internasional karena hal ini menyangkut hajat hidup seluruh manusia. Dalam permasalahan pekerja atau perburuhan, PBB memberikan wadah yang mengatur khusus berkaitan dengan perburuhan dunia yaitu International Labour Organization (ILO) yang berada dibawah naungan PBB.57

International Labour Organization (ILO) sebagai organisasi internasional yang fokus dalam isu perburuhan dengan mengatur hak buruh di tempat kerja agar terciptanya kerja layak demi kesejahteraan buruh. Dalam menentukan kebijakan atau peraturan yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi organisasi ini menggunakan badan tripatitte.58 Penyusunan kebijakan dan program ILO dilakukan dengan mengundang perwakilan pemerintah, pengusaha serta pekerja untuk bersama-sama menentukan standar-standar ketenagakerjaan Internasional.

Negara Indonesia memaknai pekerja migran Indonesia yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia yaitu, “Setiap warga negara Indonesia yang akan, sedang, atau telah melakukan pekerjaan dengan menerima upah dari luar wilayah Republik Indonesia.”59 Sedangkan menurut Kementrian Sosial, pekerja migran Indonesia di definisikan pada orang yang mencari pekerjaaan keluar dari daerah asalnya baik dalam negeri maupun lintas negara atau keluar negeri untuk bekerja dalam jangka

57 About the ILO, Op. Cit

58 Ibid

59 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, BAB I Pasal 1 ayat 2, diakses dalam

https://jdih.setkab.go.id/PUUdoc/175351/UU%20Nomor%2018%20Tahun%202017.pdf (2/7/21, 21:25 WIB)

43

waktu tertentu.60 Pendefinisian dari Kementrian Sosial ini dapat dimaknai secara luas yaitu meliputi pekerja migran laki-laki maupun perempuan, tidak dibedakan dalam sektor pekerjaan baik formal maupun informal, serta tidak dibedakan status hukum legal maupun pekerja migran undocumented.

Penelitian ini difokuskan pada perlindungan pekerja migran Indonesia yang ada di Malaysia. Sebagaimana data yang telah penulis paparkan di latar belakang bahwa pekerja migran Indonesia yang memberikan pengaduan permasalahan di tempat kerja paling banyak berada di Malaysia. Permasalahan pelanggaran hak pekerja migran ini turut ditangani oleh ILO sebagai organisasi internasional yang memiliki fungsi perlindungan terhadap buruh. Dengan demikian konsep Migrant Workers digunakan peneliti untuk mengetahui efektivitas organisasi internasional dalam memberikan perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia (PMI).

1.6 Metode Penelitian

Dokumen terkait