• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kerangka Teoritis

2. Konsep Model Pembelajaran Time Token

Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti tatap muka maupun tidak langsung seperti menggunakan berbagai media. Model pembelajaran merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan penyelenggaraan proses belajar

mengajar dari awal sampai akhir. Menurut Udin dalam Endang “Model

pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar yang akan diberikan untuk mencapai tujuan tertentu” (Udin dalam Endang, 2012: 227).

Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pembelajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar kompetensi akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan kompetensi sosial siswa. Sebagai seorang guru tentunya memiliki peranan yang sangat penting bagi pembelajaran yang terjadi dalam kelas. Terutama peran guru dalam model pembelajaran kooperatif yang mengajarkan keterampilan-keterampilan kelompok untuk bekerja sama secara kooperatif, seperti cara berinterksi satu dengan yang lainnya, cara bagaimana mengoordinasikan sumbangan-sumbangan

pemikiran dari anggota kelompok dan lainnya. Seorang guru juga bertugas untuk mengatur agar dalam kelompok tidak ditemukan lagi siswa yang mengerjakan tugasnya sendiri atau seorang siswa tidak mengerjakan tugasnya sendiri bahkan mungkin masih ada siswa yang lain hanya duduk saja. Guru juga mengatur semua siswa untuk dapat berbicara tanpa henti atau tanpa memberikan kesempatan kepada teman sekelompoknya sehingga diharapkan dalam pembelajaran kooperatif dapat tercapai dengan baik. Cara mengatasi hal tersebut, maka perlu dikembangkan suatu bentuk pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yang disebut dengan time token.

Model time token pertama kali diperkenalkan oleh Arends pada tahun 1998. Model ini merupakan salah satu jenis model pembelajaran aktif yang bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Time token itu sendiri berasal dari

kata “time” artinya waktu dan “token” artinya tanda. Time token merupakan

model belajar dengan ciri adanya tanda waktu atau batasan waktu. Batasan waktu disini bertujuan untuk memacu dan memotivasi siswa dalam mengeksploitasi kemampuan berfikir dan mengemukakan gagasannya. Model pembelajaran time token merupakan model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa aktif dalam berbicara. Dalam pembelajaran diskusi, time token digunakan agar siswa aktif bertanya dalam berdiskusi, yaitu dengan membatasi waktu berbicara misalnya 30 sampai 60 detik dan diharapkan siswa secara adil mendapatkan kesempatan untuk berbicara.

Kemampuan aktivitas siswa dapat mendukung kesuksesan hubungan sosial dan memungkinkan individu untuk bekerja sama dengan orang lain secara

17

efektif. Selain itu, agar cooperative learning bekerja, guru perlu mengajarkan berbagai keterampilan berbagi dan partisipasi untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar. Dalam keterampilan partisipasi guru dapat membantu mendistribusikan partisipasi siswa dengan lebih merata. Salah satunya adalah dengan model time token, yakni apabila sebagian siswa mendominasi kegiatan kelompok dan sebagian lainnya mungkin justru tidak mau atau tidak mampu berpartisipasi, maka masing-masing siswa dapat diberikan beberapa token yang berharga 30 atau 60 detik waktu bicara.

Pada model time token ini, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, tugas, dan tanggung jawab. Sehingga kemampuan siswa dalam pembelajaran pun turut diperhitungkan untuk meningkatkan aktivitas siswa. Kegiatan dengan pembelajaran model time token diciptakan dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengontruksikan konsep atau menyelesaikan persoalan dengan anggota kelompoknya. Setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa. Guru memberikan setiap siswa kupon berbicara dengan waktu 30 sampai 60 detik untuk satu kartu. Bila telah selesai bicara, kupon yang dipegang siswa diserahkan pada guru. Siswa yang sudah tidak memegang kupon tidak boleh bicara lagi dan siswa yang lain yang masih memegang kupon harus bicara sampai kuponnya habis. Semua siswa memiliki hak bicara yang sama sampai semua siswa berbicara (berpendapat). Guru dan siswa membuat kesimpulan hasil diskusi.

Menurut Zainal Aqib, “Model time token adalah model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa aktif berbicara. Selain itu, untuk

menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali”, Langkah-langkah dari model ini, sebagai berikut.

1. kondisikan siswa untuk melaksanakan diskusi (Cooperative Learning/CL).

2. tiap siswa diberi kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik. 3. tiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu keadaan.

4. jika telah selesai bicara, kupon yang dipegang siswa diserahkan. setiap berbicara satu kupon.

5. siswa yang telah habis kuponnya tidak boleh bicara lagi, sedangkan yang masih memegang kuponnya, harus bicara sampai kuponnya habis (Zainal Aqib, 2013: 33).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Suyatno, Langkah-langkah model pembelajaran ini meliputi :

1. kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi.

2. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit).

3. siswa berbicara (berpidato tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon.

4. setelah selesai kupon dikembalikan (Suyatno, 2009: 76).

Berbagai pendapat di atas, model pembelajaran time token mampu mengatasi masalah yang ada pada pembelajaran sejarah siswa kelas XA. Berikut langkah-langkah model pembelajaran time token :

1. siswa dikondisikan untuk melaksanakan diskusi kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa,

2. siswa akan mendapatkan kupon bicara dengan waktu sekitar 30 detik sampai 60 detik,

3. siswa mendapatkan giliran untuk menyampaikan pendapat, ide, gagasan kepada anggota kelompoknya maupun kelompok lainnya, 4. setiap kali siswa mendapat giliran berbicara, siswa menyerahkan

19

siswa tersebut telah memberikan sumbangan pemikiran terhadap kelompok,

5. masing-masing siswa diharapkan mengeluarkan pendapatnya dari diskusi kelompok,

6. siswa berbicara sampai kupon habis (bila waktu mendukung).

Model pembelajaran time token mampu mengatasi masalah yang ada dalam kegiatan pembelajaran sejarah. Masalah-masalah tersebut dapat terselesaikan karena adanya kegiatan berbagai informasi antar anggota kelompok. Model pembelajaran ini juga mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, kooperatif, dan kolaboratif.

Pada dasarnya setiap model pembelajaran kooperatif tentunya mempunyai kelemahan dan kelebihan, tidak ada model pembelajaran yang memiliki kelebihan saja dan tidak mempunyai kekurangan. Meskipun, ada kekurangan dalam model pembelajaran, sebisa mungkin seorang guru harus professional dalam menjalankan tugasnya. Jadi, pengajar harus mampu memaksimalkan penggunaan model pembelajaran yang ia pilih untuk mengajar dan meminimalisir kekurangan yang terjadi. Berikut kelebihan model pembelajaran time token menurut Sri Udin:

1. memotivasi siswa untuk belajar mandiri terhadap materi pembelajaran,

2. melatih rasa percaya diri siswa dengan terbiasa tampil saat kegiatan belajar,

3. meningkatkan kemampuan siswa berbicara di depan orang, serta mengemukakan ide,

4. melatih daya ingat siswa dan disiplin dalam memanfaatkan waktu, Kelemahan model pembelajaran time token menurut Sri Udin:

“Pembatasan waktu dalam aktivitas belajar dapat mengurangi kesempatan berfikir siswa untuk mengemukakan pendapatnya secara maksimal” (Sri Udin, 2012).

Pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif time token adalah model pembelajaran kooperatif yang menuntut partisipasi siswa dalam kelompok untuk berbicara (mengeluarkan ide atau gagasannya) dengan diberi kupon berbicara sehingga semua siswa harus berbicara, maka dari itu siswa tidak ada yang mendominasi dalam pelaksanaan diskusi.

Dokumen terkait