• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KOMPETENSI SOSIAL KEPALA MADRASAH, PERAN SERTA

C. Mutu Pendidikan di Madrasah

1. Konsep Mutu Pendidikan di Madrasah

Mutu memiliki pengertian yang bervariasi. Istilah mutu sementara ini sama artinya dengan kualitas. Sehubungan dengan kualitas, telah diketaui bahwa :

1) Kualitas terdiri dan sejumlah keistimewaan produk, baik keistimewaan langsung maupun keistimewaan tak langsung yang memenuhi keinginan

pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan atas penggunaan produk itu;

2) Kualitas terdiri dari segala sesuatu yang bebas dari kekurangan atau kerusakan51

Namun secara umum, mutu mengandung makna derajat atau tingkat keunggulan suatu produk (hasil kerja/ upaya) baik berupa barang maupun jasa, baik yang tangible maupun yang intangible.52 Menurut Crosby mutu adalah sesuai yang disyaratkan atau distandarkan (conformance to requirement), yaitu sesuai dengan standar mutu yang telah ditentukan, baik inputnya, prosesnya maupun outputnya.53 Sedangkan Fiegenbaum mengartikan mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). Mutu sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumennya.

Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mengacu pada dua pengertian, yaitu mutu proses pendidikan dan mutu hasil pendidikan. Mutu dalam konteks “proses pendidikan” bukan hanya proses pembelajaran saja, tetapi melibatkan berbagai input pendidikan, seperti: (1) bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), (2) metodologi pembelajaran yang bervariasi sesuai kemampuan guru, (3) media pembelajaran yang tepat, (4) sumber belajar yang lengkap, (5) sistem penilaian dan evaluasi yang efektif, (6) dukungan administrasi madrasah, (7) dukungan sarana prasarana, (8) dukungan keuangan (biaya), (9) guru-guru yang disiplin dan berkualitas, (10) siswa yang rajin dan disiplin, (11) teamwork pengembangan mutu yang solid, (12) manajemen madrasah yang efektif, (13) manajemen kelas yang cerdas, (14) dukungan program intra kurikuler dan ekstra kurikuler, (15) penciptaan iklim dan suasana yang kondusif di madrasah, (16) kepala madrasah yang kompeten dan

51

Vincent Gaspersz, “Production Planning And Inventory Control”, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 5

52

Umaedi. Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah: Suatu Konsepsi Otonomi

Sekolah (paper kerja), (Jakarta: Depdikbud, 1999), hlm. 14

53

profesional dan (17) sumberdaya lainnya yang mendukung peningkatan mutu madrasah.

Pengertian mengenai mutu pendidikan pada setiap jenis dan jenjang sekolah, termasuk pendidikan di sekolah dasar, sampai saat ini belum digambarkan secara jelas. Untuk mendapatkan suatu konsep yang jelas tentang mutu pendidikan secara lengkap perlu mengkaji terlebih dahulu tentang pengertian dan komponen-komponen yang berpengaruh.Pengertian mutu pendidikan di sini bukan merupakan sesuatu yang statis, melainkan suatu konsep yang bisa berkembang (dinamis) seirama dengan tuntutan kebutuhan hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melekat pada wujud pengembangan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, mutu pendidikan di sekolah dasar adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efesien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma-norma atau standar yang berlaku.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah tersebut dalam rangka peningkatan mutu pendidikan antara lain siswa, guru, pembina/pengelola sekolah, sarana/prasarana, dan proses belajar mengajar. Secara sederhana, pengelolaan terhadap komponen dimaksud dapat memperlihatkan gambaran mutu pendidikan yang dapat dikenali melalui tanda-tanda operasional berupa:

1. Keluaran/lulusan sekolah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat; 2. Nilai akhir sebagai salah satu alat ukur terhadap prestasi belajar siswa; 3. Prosentase lulusan yang dicapai semaksimal mungkin oleh sekolah; 4. Penampilan kemampuan dalam semua komponen pendidikan.

Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2003 pasal 51 (ayat 1) bahwa pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar

pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah54. Merujuk pada undang-undang tersebut maka manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional bagi sekolah umum, maka hal serupa berlaku bagi madrasah juga diperlakukan, sebagai institusi penyelenggara pendidikan berciri khas Islam dibawah naungan Kementerian Agama.

Semenetara itu Hari Sudradjat55 menyampaikan bahwa “Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau kompotensi, baik kompetensi akademik maupun kompetensi kejuruan, yang dilandasi oleh kompetensi personal dan sosial, serta nilai-nilai akhlak mulia, yang keseluruhannya merupakan kecakapan hidup (life skill)”. Lebih lanjut Sudradjat megemukakan pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan manusia seutuhnya (manusia paripurna) atau manusia dengan pribadi yang integral (integrated personality) yaitu mereka yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal.

Mutu dalam konteks “hasil pendidikan” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh madrasah pada setiap kurun waktu tertentu, seperti tiap akhir semester, tiap akhir tahun pembelajaran, dua tahun, lima tahun atau setiap 10 tahun. Ada dua prestasi yang bisa dicapai, yakni prestasi akademik dan non akademik. Prestasi akademik adalah prestasi yang dicapai dari hasil pendidikan (student achievement) berupa hasil tes kemampuan akademis, hasil ulangan umum, ujian sekolah dan ujian nasional, misalnya juara I nilai tertinggi ujian nasional tingkat provinsi, atau tingkat kabupaten/kota. Prestasi non akademik berbentuk prestasi di bidang lain, seperti juara di bidang volley ball, basket ball, sepakbola dan sebagainya, juara tilawatil qur’an, seni suara, karya ilmiah remaja, kepramukaan dan keterampilan tambahan lainnya, misalnya: komputer, beragam jenis teknik, jasa dan lain-lain. Bahkan prestasi madrasah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, keindahan dan keteraturan dalam

54

Depdiknas, UUSPN, hlm. 25 55

Hari Suderadjat, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Peningkatan Mutu

lingkungan madrasah. Sedangkan mutu pendidikan dalam hal pelayanan pendidikan dapat diartikan sebagai "…jaminan bahwa proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan yang seharusnya terjadi dan sesuai pula dengan yang diharapkan. Agar mutu pendidikan itu sesuai dengan apa yang seharusnya dan apa yang diharapkan yang dijadikan patokan(benchmark)."

Dalam bidang pendidikan, yang menjadi pelanggan layanan jasa adalah siswa, orang tua/walisiswa, dan masyarakat. Oleh karena itu pelayanan pendidikan yang bermutu adalah pemberian layanan jasa pendidikan di madrasah yang dapat memberikan kepuasan kepada siswa di madrasah dan masyarakat atau orang tua/walisiswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Ikke Dewi Sartika56 yang mengemukakan bahwa "Kualitas pada dasarnya dapat berupa kemampuan, barang, dan pelayanan, kualitas pendidikan dapat menunjuk kepada kualitas proses dan kualitas hasil (produk). Suatu pendidikan dapat bermutu dari segi proses (yang sudah barang tentu amat dipengaruhi kualitas masukannya) jika proses belajar mengajar berlangsung secara efektif, dan, siswa mengalami proses pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) dan juga memperoleh pengetahuan yang berguna baik bagi dirinya maupun bagi orang lain (functional knowledge) yang ditunjang secara wajar oleh sumber daya (manusia, dana, sarana dan prasarana)”.57

Dari uraian di atas, untuk menuju proses madrasah bermutu kepala madrasah harus melakukan kegiatan sistematis sebagai berikut: (1) mengarahkan seluruh civitas madrasah supaya memiliki obsesi dan komitmen yang tinggi terhadap mutu, yaitu madrasah yang bermutu, (2) seluruh visi dan misi madrasah difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dan harapan para pelanggan madrasah, baik pelanggan internal, seperti guru dan staf, maupun pelanggan eksternal seperti siswa, orang tua siswa, masyarakat, pemerintah, pendidikan lanjut dan dunia usaha (3) adanya keterlibatan total seluruh civitas madrasah, (4) adanya ukuran baku mutu pendidikan, (5) memandang

56

Ike Dewi Sartika, Quality Service In Education. Edisi Khusus Untuk Kalangan Mahasiswa, (Bandung: Kantor Yayasan Potensia, 2002), hlm. 14

57

Ike Dewi Sartika, Quality .... Edisi Khusus Untuk Kalangan Mahasiswa, (Bandung: Kantor Yayasan Potensia, 2002), hlm. 8

pendidikan sebagai sistem, dan (6) mengadakan perbaikan mutu pendidikan terus menerus.