BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Konsep Dan Teori
3. Konsep Ombudsman Kota Makassar
Ombudsman adalah Lembaga Negara yang mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik, baik yang diselenggarakan penyelenggara negara maupun pemerintah. Termasuk pelayanan publik yang diselenggarakan Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Hukum Milik Negara, serta Badan Swasta atau perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah. Sebagai lembaga, Ombudsman bersifat independen dalam menjalankan tugas dan wewenangnya yang mengandung azas kebenaran, keadilan, non diskriminasi, tidak memihak, akuntabilitas, transparansi, keseimbangan dan kerahasiaan.
Ombudsman Kota Makassar didirikan sebagai salah satu upaya perbaikan dan pembaruan tata pemerintahan khususnya dalam kerangka memastikan adanya akses/control warga masyarakat terhadap pelayanan publik dari Pemerintah Kota Makassar, maka diperlukan adanya Lembaga Ombudsman yang mengemban amanat untuk memastikan bahwa hak masyarakat terutama hak ekonomi, sosial dan budaya dalam konteks hak asasi manusia dapat terlindungi dan terpenuhi. Selain itu, tujuan pembentukan Ombudsman Kota Makassar juga untuk mewujudkan pelayanan publik yang baik dan memastikan terlaksananya pemberdayaan pengawasan eksternal terhadap penyelenggaraan pelayanan umum dan swasta di Kota Makassar sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
a. Dasar Hukum Ombudsman
1.) UUD 1945 Pasal 18 Ayat 6 ―Pemerintah daerah berhak menerapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan‖.
2.) UU No. 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia (ORI)
3.) UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
4.) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 62/PUU-VIII/2010, yang membatalkan Pasal 46 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4899) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
5.) Peraturan Walikota No. 29 Tahun 2015 tentang Pelayanan Publik 6.) Peraturan Walikota No. 2 Tahun 2019 Pembentukan Ombudsman Kota
Makassar.
b. Asas Dan Tujuan 1. Asas
Ombudsman dibentuk dan bekerja berdasarkan asas:
a.) Kebenaran;
b.) Keadilan;
c.) Non-diskriminasi;
d.) Tidak memihak;
e.) Akuntabilitas;
f.) Keseimbangan;
g.) Transparansi.
2. Tujuan
Pembentukan Ombudsman bertujuan untuk:
a. Mendorong penyelenggaraan pemerintahan yang bersih di daerah sesuai dengan asas pemerintahan yang baik, berdasarkan asas-asas Negara hukum yang demokratis, akuntabel, transparan, dan bertanggungjawab;
b. Mendorong perilaku usaha yang beretika dan bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme;
c. Meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah dan swasta;
d. Meningkatkan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat agar memperoleh pelayanan umum, keadilan, dan kesejahteraan secar lebih baik;
e. Membantu menciptakan dan meningkatkan upaya untuk pemberantasan dan pencegahan praktek-praktek maladministrasi dan perilaku usaha yang tidak beretika;
f. Meningkatkan budaya pelayanan publik yang baik.
c. Kedudukan Ombudsman Kota Makassar
Ombudsman sebagai lembaga independen yang berkedudukan di Kota Makassar dengan wilayah kerja meliputi seluruh wilayah Kota Makassar.
d. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Ombudsman Kota Makassar
1.) Fungsi Ombudsman ialah mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah kota, swasta dan perorangan.
2.) Tugas Ombudsman yaitu:
a.) Menerima laporan, melayani dan menindaklanjuti keluhan dan/atau laporan masyarakat atas dugaan maladministrasi dan bisnis yang tidak beretika, dan bertentangan dengan hukum;
b.) Melakukan pemeriksaan atas laporan yang diterima;
c.) Melakukan langkah-langkah memidiasi pelapor dan terlapor;
d.) Melakukan rekomendasi untuk menyelesaikan maladministrasi dan perilaku usaha yang tidak beretika baik kasuistik maupun sistematik;
e.) Menyebarluaskan pemahaman mengenai hak dan kewajiban masyarakat terhadap pemerintah daerah dan pelaku usaha;
f.) Menyebarluaskan pemahaman mengenai kedudukan, fungsi, tugas, dan wewenang Ombudsman;
g.) Melakukan koordinasi dan membangun kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait atau pemerintah daerah baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional;
h.) Menyusun kode etik dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
3.) Wewenang Ombudsman yaitu:
a.) Meminta keterangan secara lisan dan/atau tertulis dari pelapor, terlapor, atau pihak lain yang terkait mengenai suatu laporan yang disampaikan;
b.) Memeriksa keputusan, surat menyurat, atau dokumen-dokumen lain baik yang ada pada pelapor atau terlapor untuk mendapatkan kebenaran laporan terhadap terlapor;
c.) Meminta klarifikasi dan/atau salinan atau fotokopi dokumen yang diperlukan dari instansi manapun juga untuk pemeriksaan laporan dari instansi terlapor;
d.) Membuat rekomendasi atau usul-usul mengenai penyelesaian laporan, termasuk rekomendasi untuk membayar ganti rugi dan/atau rehabilitasi kepada pihak yang dirugikan;
e.) Demi kepentingan umum, mengumumkan hasil temuan, kesimpulan, dan rekomendasi untuk diketahui secara luas;
f.) Menyampaikan saran kepada Pemerintah Kota guna perbaikan dan penyempurnaan organisasi dan/atau prosedur pelayanan aparatur pemerintahan kepada masyarakat;
g.) Menyampaikan saran kepada Pemerintah Kota agar terhadap peraturan dan/atau kebijakan daerah yang berlaku, diadakan perubahan dalam rangka mencegah tindakan maladministrasi dan perilaku usaha yang serupa terulang kembali.
4. Teori Pengaduan Pelayan Publik
Istilah ―Pengaduan‖, pada umumnya mempersepsikan kata tersebut dengan sesuatu yang buruk atau negative, bahkan ketika terdapat pengaduan dalam penyalanan public, pemerintah sering kali justru melakukan counter attack terhadap masyarakat yang mengadu, kata
pengaduan dalam pelayanan public merupakan suatu tindakan yang bersifat positif dan membangun. Pada Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Pengaduan, dalam Pasal 1 angka 8 dijelaskan bahwa Pengaduan adalah penyampaian keluhan yang disampaikan pengadu kepada pengelola pengaduan pelayanan public atas pelayanan pelaksana yang tidak sesuai dengan standar pelayanan, atau pengabaian kewajiban dan/atau pelanggaran larangan oleh penyelenggara. Masyarakat yang memiliki masalah terkait pelayanan publik yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dapat mengadukan keluhannya pada pihak yang memiliki wewenang dengan memenuhi prosedur atau tahapan yang sudah ditentukan. Selain itu pengaduan pelayanan publik dilakukan tidak sembarangan dan pihak pelapor harus jelas bentuk keluhannya agar dapat ditindaklanjuti dengan baik dan benar oleh penyelenggara pelayanan.
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pun secara tegas menyatakan bahwa salah satu tujuan didirikan Negara Republik Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan public dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Merujuk pada ketetapan MPR-RI No.
XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN); mengamanatkan agar aparatur Negara mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara professional, produksi, transparan, dan bebas dari KKN. Oleh karena itu,
upaya untuk meningkatkan kinerja aparatur dalam penyelenggaraan pelayanan publik terus dilakukan.
Ombudsman Western Australian (2010) menyebutkan bahwa, “A complaint is an “expression of dissatisfaction made to an organization, related to its products, or the complaints handling process itself, where a response or resolution is explicitly or implicitly expected” (Keluhan adalah ekspresi ketidakpuasan yang dibuat untuk suatu organisasi, terkait dengan produknya, atau proses penanganan keluhan itu sendiri, dimana tanggapan atau penyelesaian diharapkan secara eksplisit atau implisit). Penanganan pengaduan menurut Queensland Ombudsman (2006:1) adalah: “Handling complaints well presents an opportunity to show to the public that you are accountable to them. Complaints are an essential part of any accountability process and in fact are often the starling point. Any agency that claims to be accountable for its actions must take complaints seriously” (menangani pengaduan dengan baik memberikan peluang untuk menunjukkan kepaa publik bahwa Anda bertanggungjawab kepada mereka. keluhan adalah bagian penting dari proses pertanggungjawaban apapun dan pada kenyataannya sering kali menjadi titik pangkal. Setiap lembaga yang mengklaim bertanggungjawab atas tindakannya harus menanggapi keluhan dengan serius)‖. Berdasarkan teori pengaduan pelayanan public diperlukan prosedur penanganan pengaduan masyarakat terkait pelayanan public yaitu sebagai berikut:
a. Setiap orang yang menyampaikan pengaduan, baik secara tertulis maupun secara langsung kepada pejabat/petugas penerima pengaduan diberi surat/formulir tanda bukti pengaduan.Pada surat/formulir tanda bukti pengaduan disebutkan nama dan jabatan pejabat/petugas yang berwenang untuk menyelesaikan masalah/pengaduan tersebut dan jangka waktu penyelesaiannya.
b. Masukan masyarakat, baik berupa informasi, saran, pendapat, tanggapan, dan/atau pengaduan hendaknya ditindaklanjuti dengan langkah-langkah upaya perbaikan pelayanan oleh unit pelayanan instansi pemerintah yang bersangkutan.
c. Apabila dalam pengaduan terdapat masyarakat yang dirugikan, perlu dipertimbangkan pemberian kompensasi.
d. Pengaduan tertulis baik melalui surat maupun media elektronik oleh masyarakat harus disampaikan secara jelas dan bertanggungjawab dengan menyebutkan nama, alamat, dan indetitas yang sah (bukan
‗surat kaleng‘).
e. Apabila dalam pengaduan ternyata terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh petugas pelayanan, maka perlu diberikan sanksi kepada petugas yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Untuk memperoleh umpan balik dari masyarakat atas pelayanan yang diberikan aparatur pemerintah, perlu disediakan akses kepada masyarakat untuk memberikan informasi, saran/pendapat/tanggapan,
complaint/pengaduan dalam bentuk kotak pengaduan, kotak pos, atau satuan tugas penerima pengaduan yang berfungsi menerima dan menyelesaikan pengaduan masyarakat. Selain itu menurut Mohammad (2003), permasalahan utama pelayanan public pada dasarnya adalah berkaitan dengan peningkatan kualitas pelayanan itu sendiri. Pelayanan yang berkualitas sangat tergantung pada berbagai aspek, yaitu bagaimana pola penyelenggaraannya (tata laksana), dukungan sumber daya manusia, dan kelembangaan. Dilihat dari sisi pola penyelenggaraannya, pelayanan public masih memiliki berbagai kelemahan antara lain: kurang responsif, kurang informative, kurang accessible, kurang koordinsi, birokratis, kurang mau mendengar keluh/saran/aspirasi masyarakat, dan in-efisien.
Para pejabat birokrasi yang menemui mereka seringkali menganggap pengguna layanan menjadi powerless serta tidak memiliki banyak ruang dan kesempatan untuk merespon secara wajar perlakuan buruk yang diterimanya ketika berhubungan dengan para pejabat birokrasi. Karena itu tidaklah megherankan apabila banyak orang kemudian menjadi sangat frustasi ketika mengakses pelayanan public.
Masyarakat kerap kali mengeluhkan buruknya pelayanan publik, jalur untuk menyalurkan keluhan terkait pelayanan publik sebenarnya tersedia melalu Komisi Ombudsman Nasional yang kemudian diubah namanya menjadi Ombudsman RI berdasarkan UU No. 37 Tahun 2008.
Pelayanan Publik masih ditakan buruk, Ombudsman diminta mengoptimalkan perannya. Pada jalurOmbudsman belum dikatakan
efektif, kritikan Komisi II DPR ketika menggelar rapat dengan Ombudsman menilai hasil nyata kerja Ombudsman belum terlihat di masyarakat. Parahnya lagi rekomendasi yang dikeluarkan Ombudsman untuk instansi pemerintah pun cenderung tidak dianggap atau tidak ditindaklanjuti. Ombudsman seharusnya berada digarda terdepan dalam wewenang melakukan tindakan tegas demi perbaikan pelayanan publik.
Selain itu masyarakat juga menilai bahwa Ombudsman masih belum maksimal dalam membenahi masalah pelayanan publik. (Sam, 2010).
Lembaga pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik Ombudsman Kota Makassar masih banyak menerima pengaduan dan keluhan dari masyarakat umum di Makassar terkait buruknya pelayanan publik yang diberikan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Kota Makassar. Selain praktik pungutan liar (Pungli) yang dilakukan oleh oknum pegawai juga masuk dalam pengaduan terbanyak yang hampir setiap hri diterima Ombudsman Kota Makassar. Ombudsman Makassar juga menerima pengaduan atau laporan dari masyarakat pada pelayanan publik yang kebanyakan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Makassar serta dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Makassar, dimana dalam hal tersebut Ombudsman menerima laporan aduan diantaranya terkait minimnya pelayanan SKPD dari Pemkot Makassar yang kurang memperhatikan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan belum memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat, laporan aduan terkait E-KTP yang dinilai cukup lama dan sulit dalam pengurusan,
dan laporan aduan terkait pembelian buku pelajaran pada siswa yang pada akhirnya membebankan orangtua.
C. Kerangka Pikir
Penelitian ini dilakukan di kantor Ombudsman Kota Makassar untuk mengetahui peran Ombudsman dalam menyelesaikan pengaduan pelayanan publik masih dikatakan kurang baik. Selain itu kualitas pelayanan public di kantor Ombudsman terkhusus di Kota Makassar masih dipertanyakan dan nilai kurang baik bagi masyarakat dikarenakan para stakeholders selaku pemberi pelayanan yang memberikan pelayanan dianggap kurang memuaskan masyarakat.
Selain itu penelitian ini tentang bagaimana Peran Ombudsman dalam menyelesaikan masalah pengaduan pelayanan public di Kota Makassar ini akan disesuaikan dengan beberapa indikantor. Berdasarkan penjelasan diatas yang telah dikemukakan peneliti, maka lahirlah kerangka fikir penelitian pada gambar dibawah ini:
Tabel. Kerangka Fikir
Peran OMBUSMAN Dalam Menyelesaikan Pengaduan Pelayanan Publik Di Kota Makassar
Efektivitas Peran Ombudsman terhadap Pengajuan Pelayanan Publik Teori Peran Menurut (Soerjono Soekanto, 1981):
1. Konflik Peran (Role Conflict) 2. Ekspektasi Peran (Role Expectation)
3. Kinerja Peran (Role Performance) 4. Pengambilan Peran (Role Taking)
5. Kumpulan Peran (Role Set)
D. Fokus Penelitian
Berdasarkan yang sudah di jelaskan peneliti pada bahwa fokus peneliti yaitu Peran Ombusman dalam Penyelesaian Pengaduan Pelayanan Publik di Kota Makassar.
E. Deskripsi Foku Penelitian
Adapun beberapa indikator penilaian pelayanan public terkait peran Ombudsman Kota Makassar yaitu sebagai berikut:
1. Konflik Peran, yaitu dimana Ombudsman Kota Makassar berperan untuk menangani setiap konflik antar terlapor dengan pelapor, dalam penyelesaian pengaduan pelayanan public,
2. Ekspekstasi Peran, yaitu dimana ekspektasi peran Ombudsman Kota Makassar terkadang kurang memuaskan dalam penyelesaian pengaduan pelayanan public,
3. Kinerja Peran, yaitu dimana peran Ombudsman Kota Makassar akan dinilai dari kinerjanya dalam penyelesaian pengaduan pelayanan public, 4. Pengambilan Peran, yaitu dimana setiap staf/karyawan Ombudsman Kota Makassar akan mengatasi penyelesaian pengaduan pelayanan publik dengan bekerja sama dengan sub-sub bagian lainnya tanpa saling membedakan karena sudah menjadi tugas dan tanggungjawabnya sebagai lembaga independen yang memiliki fungsi, wewenang, tugas, serta tanggungjawab untuk memberikan mengatasi setiap masalah terkait laporan pengaduan pelayanan public, dan
5. Kumpulan Peran, yaitu dimana peran Ombudsman Kota Makassar mengatasi masalah laporan pengaduan pelayanan publik dengan mengumpulkan beberapa orang yang memiliki keterkaitan erat terhadap penyelesaian suatu laporan pengaduan pelayanan publik.
38 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan lokasi Penelitian
Waktu penelitian yang dilaksanakan dalam kurung waktu 2 (dua) bulan, dari bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober. Lokasi penelitian berada di Kantor Ombudsman Kota Makassar karena peneliti melihat bahwa masih banyak masyarakat yang mengeluhkan tentang kualitas pelayanan public di Kantor Ombudsman Kota Makassar. Selain itu juga peran Ombudsman Kota Makassar terkait penyelesaian pengaduan pelayanan public masih dipertanyakan sehubungan dengan masyarakat resah akan pelayanan public.
B. Jenis dan Tipe penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan alasan karena dimana peneliti menggunakan landasan teori untuk menjadi bahan referensi sebagai panduan agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan.
Adapun tipe penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif alasan peneliti menggunakan jenis penelitian ini karena dimana penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, dan menginterpretasikan kondisi yang terjadi di lokasi penelitian dengan fakta yang ada di lapangan.
C. Informan Penelitian
Adapun informan dalam penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Ombudsman:
a.) Wakil Komisioner Ombudsman Kota Makassar
b.) Staf bagian
2. DRPD Kota Makassar:
a.) Bagian Humas DPRD Kota Makassar
3. Masyarakat yang melakukan pengaduan secara online melalui WhatsApp dan/ E-mail di kantor Ombudsman Kota Makassar.
D. Teknik Pengambilan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, menggunakan: 1) Observasi; 2) Wawancara; 3) Studi dokumentasi: dan 4) Media review.
1. Observasi
Melakukan pengamatan langsung di lokasi penelitian secara berulang terhadap suatu objek pengamatan pada tempat yang sama ataupun berbeda. Observasi difokuskan pada pengamatan langsung terhadap kualitas pelayanan public di Kantor Ombudsman Kota Makassar selaku tempat untuk penyelesaian pengaduan pelayanan terhadap masyarakat yang menerima pelayanan public dan memiliki masalah terkait pelayanan yang didapatkan oleh para stakeholders yang memberikan pelayanan.
2. Wawancara
Dilakukan guna memperoleh data primer tentang bagaimana Peran Ombudsman RI perwakilan Sulawesi Selatan penyelesaian pengaduan pelayanan public (studi kasus peningkatan dan perbaikan pelayanan public di Kantor DPRD Kota Makassar), dimana data
tersebut sebagai informasi terkait bagaimana kualitas pelayanan public di Kantor Ombudsman Kota Makassar.
3. Studi dokumentasi
Dilakukan guna mendapatkan data sekunder dengan cara melakukan kajian terhadap data-data dokumen pribadi dan dokumen resmi, baik visual maupun berupa tulisan yang berkaitan dengan masalah penelitian berupa peningkatan dan perbaikan pelayanan public di Kantor Ombudsman Kota Makassar, selain itu berupa kualitas pelayanan public di Kantor DPRD Kota Makassar.
4. Media Review
Melakukan review terhadap pemberitaan, baik cetak maupun on-line yang berkaitan dengan kualitas pelayanan public yang ada di Indonesia terkhusus di Kota Makassar. Karena pelayanan public di nilai buruk dan masih dipertanyakan karena masih banyak masyarakat yang resah karena para stakeholders dimana yang memberikan pelayanan kurang baik. Peneliti juga perlu melakuka review agar data yang didapatkan itu bersifat real.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data interaktif dari Miles dan Huberman (1992:20), yaitu:
1) Reduksi data (data reduction), dengan merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan pola dari data; 2) Penyajian data (data display), menyajikan data yang
dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antarkategori, dan sebagainya; dan 3) Penarikan kesimpulan (verification), penarikan kesimpulan terhadap makna-makna yang muncul dari data.
F. Teknik Pengabsahan Data
Teknik pengabsahan data memuat teknik untuk pengabsahan data penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validasi internal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (obyektifitas). Sehubungan dengan penelitian ini teknik pengabsahan data dibutuhkan untuk memberikan informasi dengan data yang relevan dan disesuaikan dengan fakta yang dilapangan. Adapun teknik pengabsahan data yang lain yaitu teknik uji Triangulasi ialah teknikpemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan pada data yang didapatkan peneliti.
Data Reduction
Data Display Display
Conclusions:
Drawing/Verifying
42 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Kantor Ombudsman Kota Makassar 1. Profil Kantor Ombudsman Kota Makassar
Ombudsman Kota Makassar ditetapkan melalui Peraturan Walikota Makassar No. 02 Tahun 2019 tentang Pembentukan Ombudsman Kota Makassar sebagai lembaga independen yang memilik tugas, wewenang, dan tanggungjawab untuk memperbaiki dan/atau memperbaharui tata pemerintahan terhadap pelayanan publik di kota Makassar. Kantor Ombudsman Kota Makassar berlokasi di Jl. Sultan Alauddin No. 309, Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, lokasi tersebut sebelumnya merupakan Kantor Badan Diklat Kota Makassar dan diambil alih oleh Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Makassar dan sekarang telah menjadi Kantor Ombudsman Kota Makassar.
Dengan adanya Lembaga Ombudsman Kota Makassar dapat membantu masyarakat di Kota Makassar untuk mengatasi setiap keluhan yang dirasakan dan dialaminya terkait pelayanan publik, kebijakan Walikota Makassar dengan membentuk Lembaga Ombudsman Kota Makassar bermaksud untuk membantunya dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pengawas pelayanan publik di Kota Makassar. Ombudsman Kota Makassar didirikan sebagai salah satu
upaya perbaikan dan pembaharun tata pemerintahan khususnya dalam rangka memastikan adanya akses/control warga masyarakat terhadap pelayanan publik dari Pemerintah Kota Makassar, maka diperlukan adanya Lembaga Ombudsman yang mengemban amanat untuk memastikan bahwa hak masyarakat terutama hak ekonomi, sosial dan budaya dalam konteks hak azasi manusia dapat terlindungi dan terpenuhi. Selain itu, tujuan pembentukan Ombudsman Kota Makassar juga untuk mewujudkan pelayanan publik yang baik dan memastikan terlaksananya pemberdayaan pengawasan eksternal terhadap penyelenggaraan pelayanan umum dan swasta di Kota Makassar sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ombudsman disini sangat berperan penting dalam menuntaskan atau menyelesaikan setiap kasus laporan pengaduan pelayanan publik tanpa membeda-bedakan atau melakukan tindakan diskriminasi karena pelayanan publik menjadi sangat penting dan bahkan menjadi point pertama di Indonesia terkhususnya di Kota Makassar. Maka dari itu Ombudsman Kota Makassar menjalankan sebuah program pemerintah Walikota Makassar untuk menjadikan peleyanan publik sebagai pelayanan publik yang prima di Kota Makassar, agar Kota Makassar menjadi kota nomor satu dengan pelayanan publik yang terbaik di seluruh Indonesia.
2. Visi dan Misi Kantor Ombudsman Kota Makassar
Ombudsman Kota Makassar menjalankan tugasnya sebagai pengawasan pelayanan publik berdasarkan dengan visi dan misi sebagai berikut;
a. Visi Ombudsman Kota Makassar
Terwujudnya Ombudsman Kota Makassar sebagai pengawas penyelenggaraan pelayanan publik dari maladministrasi dan pelanggaran etika bisnis dalam pemenuhan hak-hak dasar masyarakat.
b. Misi Ombudsman Kota Makassar
1) Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan pemerintah daerah dan swasta, Pelayanan dan penyelesaian pengaduan masyarakat tentang perselisihan dalam pemenuhan hak-hak masyarakat, akibat dari maladministrasi dan pelanggaran etika bisnis,
2) Edukasi pada masyarakat tentang Ombudsman Kota Makassar dan pelayanan publik yang baik, dan
3) Membangun koordinasi dan kemitraan fungsional strategi dalam peningkatan pelayanan publik yang prima.
3. Struktur Organisasi Kantor Ombudsman Kota Makassar
Susunan struktur organisasi Kantor Ombudsman Kota Makassar dapat dilihat dari pada bagan dibawah ini yaitu sebagai berikut:
a. Ketua Komisioner Ombudsman Kota Makassar;
b. Kesekretariat;
1) Bendahara dan Staf Keuangan 2) Kepala Urusan Umum
3) Staf Administrasi dan Pelayanan 4) Staf Urusan Rumah Tangga c. Bidang Kemitraan Jaringan d. Bidang Penanganan Kasus
e. Bidang Pengendalian Mutu
Susunan struktur organisasi Kantor Ombudsman Kota Makassar diatas sebagaimana tercantum dalam Peraturan Walikota Makassar.
Dan untuk lebih mmperjelas dapat dilihat pada gambar struktur organisasi di bawah ini:
4. Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Pegawai Kantor Ombudsman Kota Makassar
Adapun kedudukan, tugas, dan fungsi dari petugas kantor Ombudsman Kota Makassar adalah sebagai berikut:
a. Ketua Komisioner Ombudsman Kota Makassar
a. Ketua Komisioner Ombudsman Kota Makassar