• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Konsep Pariwisata Pesisir

Menurut Hall (2001) menyatakan bahwa konsep pariwisata pesisir men- cakup rentang penuh pariwisata, hiburan, dan kegiatan yang berorientasi rekreasi yang terjadi di zona pantai dan perairan pantai. Di dalam pariwisata pesisir terma- suk pengembangan pariwisata pesisir seperti akomodasi, restoran, industri maka- nan, dan rumah kedua, dan infrastruktur pendukung pembangunan pesisir (misal- nya bisnis ritel, marina, dan aktivitas pemasok). Juga termasuk kegiatan pariwisa- ta seperti rekreasi berperahu, pantai dan laut berbasis ekowisata, kapal pesiar, be- renang, rekreasi memancing, snorkeling dan menyelam.

Selanjutnya konsep pariwisata pesisir berkelanjutan (sustainable coastal tourism) adalah pariwisata yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan maupun daerah tujuan wisata pada masa kini, sekaligus melindungi dan mendorong kesempatan serupa dimasa yang akan datang. Pariwisata berkelanjutan mengarah pada pengelolaan seluruh sumberdaya sedemikian rupa sehingga kebutuhan ekonomi, sosial, estetika dapat terpenuhi sekaligus memelihara integritas kultural,

proses ekologi essensial keanekaragaman hayati dan sistem pendukung kehidupan (WTO 1980).

Pengertian tersebut secara implisit menjelaskan bahwa dalam pendekatan pariwisata berkelanjutan bukan berarti hanya sektor pariwisata saja yang berkelanjutan tetapi berbagai aspek kehidupan dan sektor sosial ekonomi lainnya yang ada di suatu daerah (Butler 1980). Pariwisata pesisir yang berkelanjutan adalah pariwisata yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya.

Pengembangan pariwisata berkelanjutan mencakup upaya memaksimum kan net benefit dari pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan pemeliharaan jasa dan kualitas sumberdaya setiap waktu. Oleh sebab itu, pembangunan ekonomi tidak hanya mencakup peningkatan pendapatan per kapita riil, tetapi juga mencakup elemen-elemen lain dalam kesejahteraan sosial dan lingkungan. Selanjutnya Clark andDickson (2003) berpendapat bahwa walaupun isu-isu pariwisata berkelanjutan terkait dengan ilmu dan teknologi yang sesuai telah muncul sejak lama, namun kenyataan empiris membuktikan bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan terutama pentingnya integrasi keilmuan dan riset guna mewujudkan konsep operasional pariwisata pesisir berkelanjutan.

Lebih lanjut, Daly (1990) memberikan tiga kriteria dasar bagi keberlanjutan modal alam (natural capital) dan keberlanjutan ekologi (ecological sustainability) yaitu: (1). untuk sumberdaya alam terbarukan (renewable resources), laju pemanfaatannya tidak boleh melebihi laju regenerasinya (sustainable yield), (2). laju produksi limbah dari kegiatan pembangunan tidak boleh melebihi kemampuan asimilasi dari lingkungan (sustainable waste disposal), dan (3). untuk sumberdaya tidak terbarukan (non-renewable resources) laju deplesi sumberdaya harus mempertimbangkan pengembangan sumberdaya substitusi bagi sumberdaya tersebut.

Berdasarkan penelitian terdahulu pariwisata berkelanjutan menggunakan sistem dinamik semakin berkembang dan telah banyak dilakukan (Fedra. 1998, Skarstveit et al. 2003). Publikasi penelitian kewilayahan yang menggunakan pendekatan sistem dinamik sudah cukup banyak ditemukan, terutama dalam studi

dinamik dan perencanaan wilayah. Namun demikian penerapan sistem dinamik dalam perencanaan wilayah di Indonesia belum banyak dilakukan, padahal perencanaan wilayah memerlukan suatu metodologi sistem dalam proses pengembangan spasial.

Berbagai kegiatan yang dilakukan manusia maupun yang disebabkan oleh alam memiliki potensi mengancam ekosistem wilayah pesisir. Pemanfaatan di wilayah pesisir sesungguhnya dilakukan untuk menjawab tantangan pembangunan yang memerlukan rumusan perencanaan terpadu berkelanjutan. Banyaknya limbah domestik dan tingginya tingkat sedimentasi yang masuk dari wilayah pesisir, sehingga perlu dilakukan pengendalian, pencemaran limbah dan pengaturan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Hal ini merupakan masalah kritis, yang akan berdampak pada lingkungan wisata sehingga perlu dilakukan tindakan langsung baik secara hukum formal maupun hukum adat untuk menciptakan pengendalian terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat merusak lingkungan. Dalam rangka menangani masalah tersebut, maka perlu dirumuskan suatu penataan ruang, pengelolaan dan pengusahaan kawasan wilayah pesisir yang memiliki dimensi keterpaduan ekologis, sektoral, disiplin ilmu serta keterpaduan antar stakeholders, sehingga tujuan pembangunan berkelanjutan dapat tercapai yaitu pertumbuhan ekonomi, perbaikan kualitas lingkungan serta adanya kepedulian antar generasi.

Perkembangan pariwisata telah mampu memberikan keuntungan sosial, ekonomi dan ekologi/lingkungan pada berbagai wilayah pesisir. Kecendrungan wisatawan untuk menikmati wisata di wilayah pesisir telah mendorong pertumbuhan di wilayah tersebut, mengakibatkan pula semakin banyaknya masyarakat terlibat dalam kegiatan pariwisata seperti peningkatan fasilitas dan aksesibilitas (Zia 2006).

Konsep wisata alam di dasarkan pada keindahan panorama, keunikan alam, karateristik ekosistem, kekhasan seni budaya dan karateristik masyarakat sebagai kekuatan dasar yang dimiliki oleh masing-masing daerah, dan Steele (1993) menggambarkan kegiatan wisata alam sebagai proses ekonomi yang memasarkan ekosistem yang menarik dan langka. Pariwisata alam adalah seluruh bentuk pariwisata yang secara langsung tergantung pada sumberdaya alam yang

ada dan yang belum dikembangkan, termasuk pemandangan, topografi, perairan tumbuhan dan hewan liar. Dengan demikian pariwisata alam dapat meliputi bera- neka ragam kegiatan seperti piknik, berjalan-jalan, rekreasi, olah raga pantai, be- renang, berjemur, memancing. Lingkungan perairan yang dapat dipergunakan untuk wisata alam yang terdiri dari wisata pantai dan wisata bahari, sangat bera- nekaragam biasanya terbentuk oleh proses alam dan buatan, (Yulianda 2007) seperti yang disajikan pada Tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1 Kegiatan Wisata Alam yang dapat Dikembangkan

Wisata Pantai Wisata Bahari

1.Rekreasi pantai. 1.Rekreasi pantai dan laut.

2.Panorama. 2.Resort/peristirahatan. 3.Resort/peristirahatan. 3.Wisata selam (diving) , wisata snorkeling.

4.Berenang, berjemur. 4.Selancar, jet ski, banana boat, perahu kaca, kapal selam.

5.Olah raga pantai (volley pantai, jalan pantai, lempar cakram).

5.Wisata ekosistem lamun, wisata nelayan, wisata pulau, wisata .

6.Berperahu. 6.Pendidikan, wisata pancing.

7.Memancing.

Sumber: Yulianda 2007

Wong (1998) mendefinisikan pariwisata pesisir sebagai suatu kegiatan untuk menikmati pantai, pasir, laut, dan berjemur. Sementara itu Dahuri et al. (2001) mendefinisikan wisata pesisir sebagai kegiatan rekreasi yang dilakukan sekitar pantai seperti berenang, berselancar, berjemur, menyelam, snorkeling, berjalan-jalan atau berlari-lari di sepanjang pantai, menikmati keindahan suasana pesisir , dan bermediasi. Pariwisata semacam ini sering diasosiasikan dengan tiga ”S” yaitu Sun, Sea, Sand artinya jenis pariwisata yang menyediakan keindahan dan kenyamanan alami dari kombinasi cahaya matahari, laut dan pantai berpasir putih.

Kawasan pesisir yang berpotensi untuk pengembangan pariwisata pesisir adalah taman wisata alam, khususnya taman wisata alam perairan. Potensi yang ada di taman wisata alam antara lain adalah panorama alam dengan pasir putihnya, taman laut dengan keindahan ikan hias dan terumbu karang, gejala alam seperti goa, kekayaan alam flora dan fauna, nilai sejarah dan lain-lain.

Pantai dengan garis pantai merupakan areal yang sangat sesuai untuk wisa- ta alam. Namun kondisinya sangat rentan terhadap perubahan atau kemerosotan kualitas lingkungan yang terjadi di perairan dan di daratan, maka penetapan untuk wisata sangat berhati-hati. Penetapan daya dukung lingkungan pantai menjadi sangat penting dalam menentukan jumlah pengunjung. Daya dukung pantai ini berbeda-beda tergantung dari jenis pantai (muddy, sandy atau rocky beach).

Kebijakan secara nasional sesuai dengan Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1989 yang menetapkan lebar jalur sempadan pantai. Dalam keputusan ter- sebut dinyatakan bahwa: areal pantai di atas shoreline yaitu selebar 150-200 meter dari shoreline ke arah darat. Areal ini ditetapkan sebagai kawasan lindung yang berarti sebagai areal public beach yang melarang siapapun untuk membangun fa- silitas wisata. Kawasan lindung ini ditetapkan pemerintah untuk tujuan konservasi dan proteksi lingkungan.

Kemudian Yoeti (1996) menyatakan bahwa tujuan pengembangan pariwisata adalah: (1) dapat meningkatkan pendapatan devisa khususnya dan pendapatan negara pada umumnya, perluasan kesempatan serta lapangan kerja dan mendorong kegiatan industri; (2) memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan suatu negara; (3) meningkatkan persahabatan dan persaudaraan nasional dan internasional.

Dokumen terkait