A. Konsep Pelayanan Kesehatan
1. Konsep Pelayanan Antenatal Terpadu
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang professional untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu hamil beserta janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal yang dilakukan secara teratur dan komprehensif untuk dapat mendeteksi secara dini kelainan dan risiko yang mungkin timbul selama masa kehamilan, sehingga kelainan dan risiko tersebut dapat diatasi dengan cepat dan tepat.(10)
Konsep pelayanan antenatal terpadu ini dimana tenaga kesehatan harus dapat memastikan bahwa kehamilan berlangsung normal, mampu mendeteksi dini masalah dan penyakit yang dialami ibu hamil, serta dapat melakukan intervensi secara adekuat sehingga ibu hamil memiliki kesiapan dalam menjalani persalinan normal.(11)
Setiap kehamilan, dalam perkembangannya mempunyai risiko mengalami penyulit atau komplikasi. Jadi, pelayanan antenatal harus dilakukan secara rutin, terpadu dan sesuai dengan standar untuk mendapatkan pelayanan antenatal yang berkualitas.(11)
Pelayanan antenatal terpadu merupakan pelayanan kesehatan komprehensif dan berkualitas yang dilakukan melalui.(11) :
10 a. Pemberian pelayanan konseling kesehatan termasuk stimulasi dan gizi agar kehamilan berlangsung sehat dan janinnya lahir sehat dan cerdas.
b. Penyiapan persalinan yang bersih dan aman.
c. Perencanaan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi penyulit/komplikasi.
d. Penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat waktu bila diperlukan.
e. Melibatkan ibu hamil, suami dan keluarganya dalam menjaga kesehatan dan gizi ibu hamil, menyiapkan persalinan dan kesiagaan bila terjadi penyulit/komplikasi.
2. Jenis Pelayanan
Tenaga kesehatan yang kompeten seperti dokter, bidan dan perawat terlatih, memberikan pelayanan antenatal terpadu sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pelayanan antenatal terpadu terdiri dari.(11) :
a. Anamnesa
Dalam memberikan pelayanan antenatal terpadu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan anamnesa, yaitu :
1) Menanyakan keluhan atau masalah yang dirasakan oleh ibu saat ini.
11 2) Menanyakan tanda-tanda penting yang terkait dengan masalah kehamilan dan penyakit yang kemungkinan diderita ibu hamil. 3) Menanyakan status kunjungan (baru atau lama), riwayat
kehamilan yang sekarang, riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya dan riwayat penyakit yang diderita ibu hamil. 4) Menanyakan status imunisasi tetanus ibu hamil.
5) Menanyakan jumlah tablet tambah darah yang dikonsumsi ibu hamil
6) Menanyakan obat-obat yang dikonsumsi seperti: antihipertensi, diuretika, anti vomitis, antipiretika, antibiotika, obat TB dan sebagainya.
7) Di daerah endemis malaria, tanyakan gejala malaria dan riwayat pemakaian obat malaria.
8) Di daerah risiko tinggi IMS, tanyakan gejala IMS dan riwayat penyakit pada pasangannya. Informasi ini sangat penting sebagai langkah untuk penanggulangan penyakit menular seksual.
9) Menanyakan pola makan ibu selama hamil yang meliputi jumlah, frekuensi dan kualitas asupan makanan terkait dengan kandungan gizinya.
10) Menanyakan kesiapan menghadapi persalinan dan menyikapi kemungkinan terjadinya komplikasi dalam kehamilan.
12 Pemeriksaan dalam pelayanan antenatal terpadu, memiliki beberapa jenis pemeriksaan termasuk didalamnya untuk menilai keadaan umum (fisik) dan psikologis (kejiwaan) ibu hamil.
Tabel 2.1 Jenis pemeriksaan pelayanan Antenatal Terpadu No Jenis Pemeriksaan Trimester 1 Trimester II Trimester II
1 Keadaan umum ✓ ✓ ✓ 2 Suhu tubuh ✓ ✓ ✓ 3 Tekanan darah ✓ ✓ ✓ 4 Berat Badan ✓ ✓ ✓ 5 LiLA ✓ 6 TFU ✓ ✓ 7 Presentasi janin ✓ ✓ 8 DJJ ✓ ✓ 9 Pemeriksaan Hb ✓ ✓ 10 Golongan darah ✓ 11 Protein urin 12 Gula darah/reduksi ✓ 13 Darah malaria ✓ 14 BTA 15 IMS/Sifilis ✓ 16 Serologi HIV ✓ 17 Hepatitis B ✓ 18 USG
Sumber : Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. Kedua. 2018. 1–29 p.
Keterangan :
✓ : rutin : dilakukan pemeriksaan rutin
13 ✓ : pada daerah endemis akan menjadi pemeriksaan rutin ✓ : pada daerah epidemis meluas dan terkonsentrasi atau ibu
hamil dengan IMS dan TB akan menjadi pemeriksaan rutin. Pemeriksaan laboratorium/penunjang dikerjakan sesuai tabel diatas. Apabila di fasilitas tidak tersedia, maka tenaga kesehatan harus merujuk ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.(11)
3. Tujuan Pelayanan Antenatal Care
Pelayanan antenatal terpadu adalah pelayanan antenatal yang dilakukan secara komprehensif dan berkualitas yang diberikan kepada semua ibu hamil.(11)
Tujuan umum adalah :
Untuk memenuhi hak setiap ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan antenatal yang berkualitas sehingga dapat menjalani kehamilan yang sehat, bersalin dengan selamat dan melahirkan bayi yang sehat dan berkualitas.
Tujuan khusus adalah :
a. Menyediakan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif dan berkualitas, termasuk konseling kesehatan dan gizi ibu hamil, konseling KB dan pemberian ASI.
b. Menghilangkan “missed opportunity” pada ibu hamil dalam mendapatkan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif, dan berkualitas.
14 c. Mendeteksi secara dini kelainan/penyakit/gangguan yang
diderita pada ibu hamil.
d. Melakukan intervensi terhadap
kelainan/penyakit/gangguan yang diderita pada ibu hamil sedini mungkin.
e. Melakukan rujukan kasus ke fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan sistem rujukan yang ada.
4. Jadwal Pemeriksaan Antenatal Care
Adapun pemeriksaan kehamilan dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan. :
a. Satu kali pada usia kandungan sebelum 3 bulan. b. Satu kali pada usia kandungan 4-6 bulan. c. Dua kali pada usia kandungan 7-9 bulan.
Dengan indikator.(11) (12) : 1) Kunjungan pertama (K1)
K1 adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan komprehensif sesuai standar. Kontak pertama harus dilakukan sedini mungkin pada trimester pertama, sebaiknya sebelum minggu ke 8. 2) Kunjungan keempat (K4)
K4 adalah ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan yang
15 mempunyai kompetensi sesuai standar, minimal 4 kali selama kehamilannya dengan distribusi waktu: 1 kali pada trimester ke-1 (0-12 minggu), 1 kali pada trimester ke-2 (>12-24 minggu), dan 2 kali pada trimester ke-3 (>24 minggu sampai dengan kelahiran). Kunjungan antenatal bisa lebih dari 4 kali sesuai kebutuhan dan jika ada keluhan, penyakit atau gangguan kehamilan.
5. Standar Pelayanan Antenatal Care
Pelayanan ini dilakukan selama rentang usia kehamilan ibu yang jenis pelayanannya kemudian dikelompokkan sesuai dengan usia kehamilan yaitu trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikan harus memenuhi jenis pelayanan. Pastikan ibu hamil mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan yang meliputi (4)(12) :
a. Pengukuran tinggi badan cukup 1 kali dan penimbangan berat badan setiap kali periksa
Bila tinggi badan <145 cm, maka faktor risiko panggul sempit, kemungkinan sulit melahirkan secara normal. Sejak bulan keempat pertambahan BB paling sedikit 1kg/bulan. b. Pengukuran tekanan darah (tensi)
Tekanan darah normal 120/80 mmHg. Bila tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg, ada faktor risiko hipertensi (tekanan darah tinggi) dalam kehamilan.
16 c. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA)
Bila <23,5cm menunjukkan ibu hamil menderita kurang energi kronis (ibu hamil KEK) dan berisiko melahirkan berat badan lahir rendah (BBLR).
d. Pengukuran tinggi rahim (fundus uteri)
Pengukuran tinggi rahim berguna untuk melihat pertumbuhan janin apakah sesuai dengan usia kehamilan. e. Penentuan letak janin (presentasi janin) dan penghitungan
denyut jantung janin
Apabila trimester III bagian bawah janin bukan kepala atau kepala belum masuk panggul, kemungkinan ada kelainan letak atau ada masalah lain, bila denyut jantung janin kurang dari 120x/menit atau lebih dari 160x/menit ada tanda gawat janin, segera rujuk.
f. Penentuan status Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
Apabila petugas memerlukan untuk didaptkan suntukan tetanus toksoid maka diberikan sesuai anjuran petugas kesehatan untuk mencegah tetanus pada ibu dan bayi.
Tabel 2.2 Rentang waktu pemberian imunisasi TT dan lama perlindungannya
Imunisasi TT Selang Waktu
Minimal Lama Perlindungan
TT Langkah awal
pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit
17 Tetanus
TT 2 1 bulan setelah TT 1 3 tahun TT 3 6 bulan setelah TT 2 5 tahun TT 4 12 bulan setelah TT 3 10 tahun TT 5 12 bulan setelah TT 4 >25 tahun
Sumber : Kementrian Kesehatan RI. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI 2017; 2019. 1–3 p.
g. Pemberian tablet tambah darah
Ibu hamil sejak awal kehamilan minum 1 tablet tambah darah setiap hari minimal selama 90 hari. Tablet tambah darah diminum pada malam hari untuk mengurangi rasa mual.
h. Tes laboratorium :
1) Tes golongan darah, untuk mempersiapkan donor bagi ibu hamil bila diperlukan.
2) Tes hemoglobin untuk, mengetahui apakah ibu kekurangan darah (Anemia)
3) Tes pemeriksaan urin (air kencing)
4) Tes pemeriksaan darah lainnya, seperti HIV dan Sifilis, sementara pemeriksaan malaria dilakukan di daerah endemis.
i. Konseling dan penjelasan
Tenaga kesehatan memberi penjelasan mengenai perawatan kehamilan, pencegahan kelainan bawaan, persalinan
18 dan inisiasi menyusu dini (IMD), nifas, perawatan bayi baru lahir, ASI Ekslusif, Keluarga Berencana dan imunisasi pada bayi. Penjelasan ini diberikan secara bertahap pada saat kunjungan ibu hamil.
j. Tatalaksana atau mendapatkan pengobatan
Jika ibu mempunyai masalah kesehatan pada saat hamil. B. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan
Antenatal Care 1. Umur
Statistik menunjukkan bahwa usia yang paling menguntungkan bagi wanita untuk hamil adalah antara 20 tahun dan akan berakhir pada 35 tahun. Selama periode ini masalah muncul lebih sedikit dibandingkan dengan jika wanita hamil diusia belasan, akhir tiga puluh atau empat puluhan.(13)
Semakin cukup umur, tingkat kematangan seseorang akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya, jika kematangan usia seseorang cukup tinggi, maka pola berpikir seseorang akan lebih dewasa. Ibu yang berada pada usia produktif akan berpikir secara matang dan rasional tentang pentingnnya melakukan pemeriksaan kehamilan.(13)
2. Pendidikan Ibu
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia yang sangat penting untuk mengembangkan diri, umumnya semakin tinggi
19 pendidikan seseorang semakin baik pula tingkat pengetahuannya. Seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan berbeda tingkah lakunya dengan ibu yang berpendidikan rendah. Hal ini disebabkan ibu yang berpendidikan tinggi akan lebih banyak mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya menjaga kesehatan terutama dalam keadaan hamil yang merupakan kondisi berisiko.(14)
Peran ibu yang berpendidikan rendah lebih bersifat pasrah, menyerah pada keadaan tanpa ada dorongan untuk memperbaiki nasibnya. Mereka senantiasa mengabaikan tanda dan gejala yang penting dan dapat mengarah pada keadaan berbahaya, karena hal tersebut sudah dianggap biasa. Pada kunjungan pemeriksaan kehamilan, faktor pendidikan termasuk dalam faktor predisposisi.(14)
Pendidikan seseorang juga dapat dipengaruh oleh perilaku individu dalam mengambil keputusan dan sikap yang berpedoman pada apa yang mereka peroleh melalui proses belajar dan pengalaman yang didapatkannya. Ibu yang berpendidikan akan lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan perubahan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang proporsional karena manfaat pelayanan kesehatan akan mereka sadari sepenuhnya.(14)
Perubahan perilaku kesehatan yang diberikan melalui penyuluhan lebih mudah diterima pada kelompok orang yang berpendidikan rendah. Tingkat Pendidikan formal mempengaruhi
20 perbedaan pengetahuan dan keputusan. Pendidikan menentukan pola pikir dan wawasan seseorang.(15)
3. Paritas
Paritas adalah keadaan seorang yang melahirkan janin dari satu kali. Ibu dengan kehamilan pertamanya merupakan hal yang pertama kali didapatkan sehingga termotivasi dalam melakukan pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan. Sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari satu kali mempunyai anggapan bahwa ia sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk memeriksakan kehamilan.(14)
4. Jarak Kehamilan
Motivasi untuk melakukan pemeriksaan akan meningkat apabila ibu hamil mengetahui resiko tinggi terjadinya suatu komplikasi pada kehamilan. Jarak kehamilan yang dekat dapat meningkatkan resiko terjadinya komplikasi pada ibu hamil sehingga hal ini semakin meningkatkan frekuensi kunjungan antenatalnya.(16)
5. Pekerjaan Ibu
Menurut Labor Force Concepth, yang digolongkan bekerja adalah mereka yang melakukan pekerjaan untuk menghasilkan barang atau jasa dengan tujuan memperoleh penghasilan atau keuntungan, baik mereka bekerja penuh maupun tidak. Pekerjaan adalah suatu yang dilakukan untuk mencari atau mendapatkan nafkah, ibu hamil yang
21 bekerja akan memiliki sedikit waktu untuk memeriksakan kehamilannya karena sibuk dengan pekerjaannya.(17)
6. Jarak
Jarak adalah tempat masyarakat dengan puskesmas yang diukur dengan indikator waktu. Keterjangkauan pelayanan kesehatan mencakup jarak, waktu dan biaya. Berkurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan disebabtkan karena tempat pelayanan yang lokasinya tidak strategis atau sulit dicapai oleh pasien. Walaupun tersedianya pelayanan kesehatan telah memadai, namun penggunaannya tergantung dari aksesibilitas masyarakat terhadap informasi. Penduduk yang tinggal ditempat yang terpencil, umumnya di desa-desa yang masih terisolisir dan transportasi yang sulit terjangkau, sehingga untuk menempuh perjalanan ke tempat pelayanan kesehatan akan memerlukan waktu yang lama.(18)
7. Physical Distancing
Physical distancing yaitu tindakan menjaga jarak fisik dan mengisolasi diri jika sedang sakit. Dengan melakukan pembatasan fisik satu dengan yang lainnya untuk memastikan penyakit tidak menyebar tanpa terpisah secara sosial. Dalam situasi pandemi COVID-19 ini, banyak pembatasan hampir ke semua layanan rutin termasuk pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Ibu hamil menjadi enggan ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya karena takut
22 tertular, adanya anjuran untuk menunda pemeriksaan kehamilan dan kelas ibu hamil, serta adanya ketidaksiapan layanan baik dari segi tenaga maupun sarana prasarana termasuk Alat Pelindung Diri (APD).(8)
8. Sarana dan Prasarana
Pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir di masa pandemi COVID-19 diselenggarakan dengan mempertimbangkan pencegahan penularan virus corona baik bagi ibu, bayi maupun tenaga kesehatan. Pembatasan kunjungan pemeriksaan ANC dan Postnatal Care (PNC) diimbangi dengan telekomunikasi antara tenaga kesehatan dan ibu secara perorangan maupun dengan menyelenggarakan Kelas Ibu secara online. Karena akan menyebabkan kurangnya pengetahuan terhadap kondisi ibu hamil, maka tenaga kesehatan harus memperkuat kemampuan ibu dan keluarga untuk memahami Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) untuk mengenali tanda bahaya dan menerapkan perawatan selama kehamilan dan pasca persalinan dalam kehidupan sehari-hari.(8)