• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

C. Konsep Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses untuk memfasilitasi dan mendorong masyarakat agar mampu menempatkan diri secara proporsional dan menjadi pelaku utama dalam memanfaatkan lingkungan strategisnya untuk mencapai suatu keberlanjutan dalam jangka panjag, melalui pengembangan kemampuan masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, dan pengorganisasian masyarakat.

Giarci (2001) memandang pemberdayaan masyarakat sebagai suatu hal yang memiliki pusat perhatian dalam membantu masyarakat pada berbagal tingkatan umur untuk tumbuh dan berkembang melalui berbagai fasilitasi dan dukungan agar mereka mampu memutuskan, merencanakan dan mengambil tindakan untuk mengelola dan mengembangkan lingkungan fisiknya serta kesejahteraan sosialnya. Sulistiyani (2004:16) menjelaskan lebih rinci bahwa secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar "daya" yang berarti kekuatan atau kemampuan. Bertolak dari pengertian tersebut, maka pemberdayaan dimaknai sebagai proses untuk memperoleh daya, kekuatan atau kemampuan, dan atau proses pemberian daya, kekuatan atau kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.

Istilah pemberdayaan memiliki arti yang berbeda dalam konteks politik dan sosial kultural yang berbeda pula. Istilah ini meliputi kekuatan dari dalam diri,

kontrol, kekuasaan, kepercayaan diri, pilihan, martabat hidup terkait dengan nilai-nilai, kemampuan untuk memperjuangkan hak, kemandirian, pengambilan keputusan secara mandiri, bebas, terbangun, dan kapabalitas (Narayan, 2002:10). Pengertian ini melekat pada nilai-nilai lokal dan sistem kepercayaan.

Pemberdayaan sebagai sebuah intervensi merupakan suatu upaya untuk memperkuat asset masyarakat berdasarkan lembaga, dan mengubah peraturan institusional yang mengatur perilaku dan interaksi antarmanusia. Meningkatkan akses seperti informasi atau kredit dapat mengembangkan keberdayaan suatu masyarakat. Perubahan instusional dapat memberdayakan masyarakat dengan menciptakan seperangkat hak dan kewajiban yang baru, merubah sanksi dan insentif, dan mengurangi biaya ekonomi dan sosial dalam mengekspresikan pilihan yaitu, dapat menciptakan kesetaraan dalam meraih kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung ( World Bank, 2005 dalam Alsop dkk, 2006:12).

Narayan (2002:23) mendefenisikan pemberdayaan sebagai berikut

“ Empowerment is the expansion of assets and capabilities of poor people to participate in, negotiate with, influence, control, and hold accountable institutions that affect their lives.” (Pemberdayaan adalah perluasan aset dan kemampuan kaum miskin untuk berpartisipasi dalam, bernegosiasi dengan, mempengaruhi, memiliki kontrol, dan memiliki institusi yang akuntabel yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka).

Kegiatan pemberdayaan dengan prinsip “Self- Determination” (Bistek, dalam Adi 2002: 162) merupakan suatu prinsip dasar dalam bidang pekerjaan sosial maupun kesejahteraan sosial. Gagasan ini dapat diartikan sebagai dorongan yang

diberikan kepada komunitas sasaran untuk menentukan sendiri apa yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Secara lebih lanjut, gagasan ini bertujuan agar komunitas sasaran (klien) memiliki kesadaran dan kekuasaan penuh dalam membentuk masa depannya (Adi 2002: 163).

Pemberdayaan pada dasarnya adalah memberikan kekuatan kepada pihak yang kurang atau tidak berdaya (powerless) agar dapat memilliki kekuatan yang menjadi modal dasar aktualisasi diri. Aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia. Pemberdayaan yang dimaksud tidak hanya mengarah pada individu semata, tapi juga kolektif (Harry Hikmat, 2001: 46-48). Pengertian ini kurang-lebih sama dengan pendapat Payne dan Shardlowmengenai tujuan pemberdayaan. Menurut Payne, tujuan utama pemberdayaan adalah membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan, yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Sedangkan Shardlow menyimpulkan bahwa pemberdayaan menyangkut permasalahan bagaimana individu, kelompok ataupun masyarakat berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakanuntuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka.

(Rukminto Adi, 2002: 162-163) .

Berdasarkan beberapa konsep diatas, dalam penelitian ini, pengertian pemberdayaan dibatasi pada kemampuan komunitas sasaran untuk berdaya secara mandiri dan partisipatif yang nantinya dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

a. Penguatan Kelembagaan Petani

komsep lembaga atau kelembagaan (institusi) sejauh ini lebih terpaku pada organisasi, baik itu pada organisasi formal maupun organisasi nonformal. Konversi

Uphoff (1992) dan Fower (1992) menyatakan suatu lembaga dapat membentuk suatu lembaga dapat membentuk suatu organisasi seperti pada pemerintahan, bank, partai, perusahaan dan lain-lain. Institusi dapat juga berupa tata peraturan seperti hukum dana undang-undang, tata kesopanan, perpajakan dan adat istiadat dan lain-lain.

Dalam kontek kelembagaan pertanian, pemehaman etismenologi,”local“

diinterprestasikan sebagai suatu yang memiliki karakteristik tersendiri yang berkaitan dengan kondisi setempat. Terminoligi “local” meliputi dasar-dasar untuk melakukan tindakan kolektif, energy untuk melakukan konsesus, koordinasi dan tangung jawab;

serta menghimpun, menganalisis dan mengkaji informasi.

b. Pendidikan dan Pelatihan

Pendidikan dan pelatihan sama dengan pengembangan yaitu merupakan proses meningkatakan keterampilan kerja baik teknik maupun menejerial. Pendidikan berorientasi pada teori, dilakukan dalam kelas, berlangsung lama, dan biasanya menjawab why.latiahan berorientasi pada praktek,dilakukan di lapangan, berlangsung singkat, dan biasanya menjawab how.

Upaya pengembangan sumber daya manusia dalam organisasi melalui pendidikan dan peletihan merupakan salah satu hal yang harus dilakukan dan mendapatkan pelatihan yang serius dalam rangka menjawab berbagai tantangan dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat, sekaligue untuk meningkatkan kinerja organisasi. Menurut Mathis (2002) pelatiahan adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai kemempuan ketentuan ketertuan untuk membantu untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, proses ini terkait denganberbagai tujuan organisasi,,pelatihan dapat dipandang secara sempit, maupun luas. Secara terbatas,

pelatihan menyediakan dapat dipakai para pegawaidengan pengetahuan yang spesifik dan dapat diketahui serta keterampilan yang digunakan dalam pekerjaan mereka saat ini. Terkadang ada batasan yang ditarik antara pelatihan dengan pengembangan , dengan pengembangan yang bersifat lebihluas dalam cangkupan serta memfokuskan pada indifidu untuk mencapai kemampuan yang baru yang berguna bagi pekerjaan saat ini maupun di masa mendatang.

Sedangkan Simanjuntak, (2005) mendefinisikan sebagai dari investasi SDM (human investment) untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja, dan demikian untuk meningkatakan kinerja pengawai. Pelatihan biasanya dilakukan dengan kurikulum yang disesuaiakan dengan kebutuhan jabatan, diberikan pada waktu yang relative pendek, untuk membekali seseorang dengan keterampilan kerja.

c. Pembiayaan dan Permodalan

Pembiayaan merupakan keputusan bidang keuangan yang sangat penting bagi perusahaan. Rasio hutang jangka panjang terhadap modal sendiri (long time debt to equity ratio) menggambarkan struktur modal perusahaan dan rasio utang terhadap modal akan menentukan besarnya laverage keuangan yang digunakan perusahaan (Weston dan Copeland, 1992:22 dalam Pitaloka, 2009).

Weston dan Copeland (1992, dalam Pitaloka 2009) memberikan definisi struktur modal sebagai pembiayaan permanen yang terdiri dari utang jangka panjang, saham preferen,dan modal pemegang saham. Nilai buku dari modal pemegang saham terdiri dari saham biasa, modal disetor atau surplus modal dan akumulasi laba ditahan. Bila perusahaan memiliki saham preferen, maka saham tersebut akan

ditambahkan pada modal pemegang saham. Menurut Riyanto (1997) struktur modal adalah pembelanjaan permanen yang mencerminkan pertimbangan atau perbandingan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Struktur modal menunjukan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai investasinya, sehingga dengan mengetahui struktur modal investor dapat mengetahui keseimbangan antara risiko dan tingkat pengembalian investasinya.