• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Konsep Pengembangan Karier

Peningkatan jenjang karier dalam pekerjaan adalah sesuatu yang diidamkan dan diperjuangkan oleh seorang pekerja, demikian juga bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bukan hanya karena faktor peningkatan pendapatan, namun juga sebagai bentuk ukuran profesionalisme dalam melaksanakan pekerjaan.

Menurut Mathis dan Jackson (2006:34) dan Robbins

Bab 2

(2007:370) karier adalah rangkaian posisi yang berkaitan dengan kerja yang ditempati seseorang sepanjang hidupnya. Sementara itu Triton (2005:128) mendefinisikan karier sebagai krononogi kegiatan-kegiatan dan periaku-perilaku yang terkait dengan kerja dan sikap, nilai dan aspirasi-aspirasi seseorang atas semua pekerjaan atau jabatan baik yang telah, maupun yang sedang dikerjakannya. Senada dengan pendapat di atas, Dessler dan Tan Chwee Huat (2009:258) menyatakan karier adalah rangkaian posisi pekerjaan yang dimiliki seseorang selama masa kerjanya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa karier adalah rangkaian pekerjaan atau jabatan pegawai mulai dari awal kerja hingga saat ini.

Konsep karier di atas kemudian dikaitkan dengan pengembangan karier. Handoko (2008:123) mendefinisikan pengembangan karier sebagai peningkatan-peningkatan pribadi yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu rencana karier. Sementara menurut Hasibuan, Malayu SP (2009:69) pengembangan karier adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan/jabatan melalui pendidikan dan latihan. Sebelumnya, Byars dan Rue (2006:200) mendefinisikan pengembangan karier sebagai hal yang terus menerus dan upaya formal dari organisasi yang berfokus pada pengembangan dan pemerkayaan sumber daya organisasi dalam memenuhi kebutuhan karyawan dan organisasi. sementara Dessler (2005:350) menyatakan bahwa pengembangan karier merupakan suatu proses di mana karyawan dapat memahami dan mengembangkan minat dan bakat kariernya dan menggunakannya dengan lebih efektif. Lebih spesifik lagi Trahant (2009) mengemukakan bahwa pengembangan karier merupakan kesempatan bagi karyawan untuk naik jabatan dalam jenjang organisasi. Pengembangan karier atau Career Development adalah suatu kondisi yang menunjukkan adanya peningkatan-peningkatan status seseorang dalam suatu organisasi dalam jalur karier yang telah ditetapkan dalam organisasi yang bersangkutan. Mentoring dan job rotation

Bab 2

merupakan contoh bentuk pengembangan karier. Mentoring merupakan suatu program di mana manajer senior membantu pekerja yang belum berpengalaman, sementara job rotation adalah memindahkan pekerja dalam rangkaian posisi pekerjaan untuk meningkatkan peranan karyawan dalam perusahaan.

Menurut Mondy (1993,p.362 dan 376), pengembangan karier (career development) meliputi aktivitas-aktivitas untuk mempersiapkan seorang individu pada kemajuan jalur karier yang direncanakan. Selanjutnya ada beberapa prinsip pengembangan karier yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Pekerjaan itu sendiri mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengembangan karier. Bila setiap hari pekerjaan menyajikan suatu tantangan yang berbeda, apa yang dipelajari di pekerjaan jauh lebih penting daripada aktivitas rencana pengembangan formal.

2. Bentuk pengembangan skill yang dibutuhkan ditentukan oleh permintaan pekerjaan yang spesifik. Skill yang dibutuhkan untuk menjadi supervisor akan berbeda dengan skill yang dibutuhkan untuk menjadi middle manager.

3. Pengembangan akan terjadi hanya jika seorang individu belum memperoleh skill yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan.

Jika tujuan tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh seorang individu maka individu yang telah memiliki skill yang dituntut pekerjaan akan menempati pekerjaan yang baru.

Waktu yang digunakan untuk pengembangan dapat direduksi/dikurangi dengan mengidentifikasi rangkaian penempatan pekerjaan individu yang rasional.

Simamora (2008:289) menjelaskan pengembangan karier meliputi manajemen karier dan perencanaan karier. Perencanaan karier adalah proses yang dilalui oleh individu karyawan untuk mengidentifikasikan dan mengambil langkah-langkah untuk mencapai tujuan kariernya. Perencanaan karier berfokus bagaimana pegawai merencanakan dan mewujudkan

tujuan-Bab 2

tujuan kariernya sendiri. Manajemen karier adalah proses yang dilakukan oleh organisasi untuk memilih, menilai, menugaskan, dan mengembangkan para karyawannya guna menyediakan suatu kumpulan orang-orang kompeten untuk memenuhi kebutuhan dimasa depan. Dengan demikian pengembangan karier berpusat pada organisasi dan individu. Perencanaan karier yang berpusat pada organisasi berfokus pada pekerjaan dan pengidentifikasian jalan karier yang memberikan kemajuan yang logis atas orang-orang di antara pekerjaan dalam organisasi. Perencanaan karier yang berpusat pada individu lebih berfokus pada karier individu daripada kebutuhan organisasional. Mathis dan Jackson (2006:342) menyatakan bahwa perencanaan karier yang efektif mempertimbangkan perpektif yang berpusat pada organisasi dan perspektif yang berpusat pada individu, seperti yang digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2.1 Perspektif perencanaan pengembangan karier (Sumber: Mathis R.L dan J.H Jackson, 2006, Human Resource Management)

Dessler dan Tan Chwee Huat (2009:259) pihak-menyebutkan pihak yang berperan dalam pengembangan karier adalah:

Bab 2

1. Individu

a. Bertanggung jawab pada karier sendiri

b. Mengetahui kemampuan, minat dan nilai pribadi c. Mencari sumber dan informasi karier

d. Membuat tujuan dan perencanaan karier e. Menggunakan kesempatan pengembangan f. Diskusi dengan manajer mengenai karier g. Perencanaan karier yang realistis

2. Manajer

a. Menyediakan umpan balik kinerja secara periodik

b. Menyediakan tugas untuk pengembangan dan memberi dukungan

c. Berpartisipasi dalam diskusi pengembangan karier d. Mendukung perencanaan karier pekerja

3. Organisasi

a. Mengkomunikasikan misi, peraturan dan prosedur b. Menyediakan peatihan dan kesempatan untuk

berkembang

c. Menyediakan informasi dan program karier d. Menawaran pilihan variasi karier

Handoko (dalam Rethorika Berthanila:2019) mengungkapkan tujuan dari pengembangan karier adalah: (a) Untuk mengembangkan para karyawan agar dapat dipromosikan;

(b) Untuk mengungkapkan potensi karyawan; (c) Untuk mendorong pertumbuhan; (d) Untuk mengurangi penimbunan; (e) Untuk memuaskan kebutuhan karyawan; (f) Untuk meningkatkan karier.

Bab 2

Menurut Siagian (2007:207), berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan karier adalah sebagai berikut:

1. Perlakuan yang adil dalam berkarier. Apabila kriteria promosi didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang objektif, rasional dan diketahui secara luas di kalangan pegawai;

2. Keperdulian para atasan langsung. Salah satu bentuk keperdulian itu adalah memberikan umpan balik kepada para pegawai tentang pelaksanaan tugas masing-masing sehingga para pegawai tersebut mengetahui potensi yang perlu diatasi;

3. Informasi tentang berbagai peluang promosi. Akses ini sangat penting terutama apabila lowongan yang tersedia diisi melalui proses seleksi internal yang sifatnya kompetitif . Jika akses demikian tidak ada atau sangat terbatas para pekerja akan mudah beranggapan bahwa prinsip keadilan dan kesamaan dan kesempatan untuk dipertimbangkan, untuk dipromosikan tidak diterapkan dalam organisai;

4. Minat untuk dipromosikan. Menumbuhkan minat para pekerja untuk pengembangan karier ialah pendekatan yang fleksibel dan proaktif. Artinya, minat untuk mengembangkan karier sangat individualistik sifatnya. Seorang pekerja memperhitungkan berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, jenis dan sifat pekerjaan sekarang. Pendidikan dan pelatihan yang ditempuh, jumlah tanggungan dan berbagai variabel lainnya. Berbagai faktor tersebut dapat berakibat pada besarnya minat sesorang mengembangkan kariernya;

5. Tingkat kepuasaan. Termasuk dalam meniti karier, ukuran keberhasilan yang digunakan memang berbeda-beda.

Perbedaan tersebut merupakan akibat tingkat kepuasaan dalam konteks terakhir tidak selalu berarti keberhasilan mencapai posisi yang tinggi dalam organisasi, melainkan

Bab 2

pula berarti bersedia menerima kenyataan bahwa, karena berbagai faktor pembatasan yang dihadapi oleh seseorang, pekerja ”puas” apabila ia dapat mencapai tingkat tertentu dalam karier nya meskipun tidak banyak anak tangga karier yang berhasil dinaikinya. Tegasnya, seseorang bisa puas karena mengetahui bahwa apa yang dicapainya itu sudah merupakan hasil yang maksimal dan berusaha mencapai anak tangga yang lebih tinggi akan merupakan usaha yang sia-sia karena mustahil untuk dicapai.

Pengembangan karier memiliki manfaat kepada pegawai dan instansi tempatnya bekerja. Menurut Siagian (2007:210) diantara sekian banyak manfaat yang ambil oleh organisasi, ada lima manfaat yang sering mendapat sorotan utama, sebagai berikut:

1. Pengembangan karier memberikan petunjuk tentang siapa diantara pekerja yang wajar dan pantas untuk dipromosikan dimasa depan;

2. Perhatian yang lebih besar dari bagian kepegawaian terhadap pengembangan karier para anggota organisasi menumbuhkan loyalitas yang lebih tinggi dan komitmen organisasional yang lebih besar di kalangan pegawai;

3. Telah umum dimaklumi bahwa dalam diri setiap orang masih terdapat reservoir kemampuan yang perlu dikembangkan agar merubah sifatnya dari potensi menjadi kekuatan nyata.

4. Perencanaan karier mendorong para pekerja untuk bertumbuh dan berkembang, tidak hanya secara mental intelektual, akan tetapi juga dalam arti professional.

5. Perencanaan karier dapat mencegah terjadinya penumpukan tenaga-tenaga yang terhalang pengembangan kariernya hanya karena atasan langsung mereka.

Byars dan Rue (2006:202-205) memaparkan empat langkah dasar dalam mengimplementasikan program pengembangan

Bab 2

Dokumen terkait