BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
B. Konsep Pengembangan Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013
Pusat Kurikulum Kementrian Pendidikan Nasional menyarankan empat hal upaya pengembangan pendidikan karakter dalam kaitannya pengembangan
114 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013,
Tentang Implementasi Kurikulum: Pedoman Umum Pembelajaran, hlm. 29
169
diri, yaitu: (1) kegiatan rutin, merupakan kegiatan yang dilaksanakan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat, misalnya upacara bendera setiap hari senin, piket kelas, sholat berjama‟ah, berdo‟a sebelum dan setelah pelajaran. (2) kegiatan spontan bersifat spontan, saat itu juga, pada waktu keadaan tertentu, misalnya mengumpulkan sumbangan bagi korban bencana alam, mengunjungi teman sakit atau yang sedang tertimpa musibah. (3) keteladanan adalah timbulnya sikap dan perilaku peserta didik karena meniru perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan di sekolah, misalnya kerapian pakaian yang dikenakan, kedisiplinan, tertib dan teratur, saling peduli dan kasih sayang. (4) pengkondisian, menciptakan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kondisi tata ruang yang rapi, kondisi toilet yang bersih, disediakan tempat sampah, halaman sekolah yang rindang dan lain-lain.116
Dalam pengembangan penerapan pendidikan karakter di madrasah, bahwa segala sesuatu yang dilakukan guru harus mampu mempengauhi karakter peserta didik, seorang guru harus menunjukkan keteladanan. Guru merupakan figure center bagi peserta didiknya, maka segala hal tentang perilaku guru hendaknya menjadi contoh bagi peserta didik. Misalnya cara guru berbicara, berbusana, menyampaikan materi, cara guru bertoleransi dan berbagai hal lainnya. Tujuannya adalah untuk membentuk pribadi peserta didik agar menjadi manusia yang unggul dan berkarakter yang sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional.
Demikian untuk mencapai tujuan tersebut seperti paparan data yang sudah ditemukan pada bab sebelumnya tentang pengembangan penerapan pendidikan
116 Samani, Muchlas dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 145-146
170
karakter dalam Kurikulum 2013 melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islam kepanjen bahwa ada beberapa upaya yang dilakukan dalam rangka penerapan pendidikan karakter di madrasah ini yang sudah diterapkan. Sesuai yang dikemukakan oleh bapak Drs. M. Munir selaku guru mata pelajaran Akidah Akhlak di SMA Islam Kepanjen bahwa di madrasah ini memiliki konsep sendiri dalam upaya mengembangkan karakter peserta didik, yakni dengan membuat suasana di sekolah menjadi suasana yang bernuansa islami. Penerapan pendidikan karakter tidak hanya dilaksanakan di dalam kegiatan belajar mengajar saja, akan tetapi diluar jam pelajaran Pendidikan Agama Islam. Seperti halnya melakukan beberapa kegiatan positif di luar kegiatan belajar mengajar di kelas. Kegiatan tersebut tentunya merupakan kegiatan yang dapat mendorong peserta didik untuk dapat mengamalkan nilai-nilai karakter islami pada dirinya.
Dalam rangka mengembangkan karakter peserta didik ada budaya yang diterapkan di SMA Islam Kepanjen, yakni mengharuskan siswa-siswinya untuk rajin melaksanakan sholat dhuha, sholat dzuhur berjama‟ah, menghafalkan juz „amma, dan membaca al-Qur‟an setiap hari. Ada juga beberapa program khusus yang dilakukan, yakni khotmil Qur‟an dan istighotsah yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Pembiasaan ini tidak hanya diharuskan untuk peserta didik saja, akan tetapi guru-guru juga ikut serta di dalamnya. Selain itu pembiasaan karakter islami ditunjukkan oleh guru dalam keseharian di sekolah, seperti cara berbicara yang sopan, berbusana yang baik, bergaul dengan teman dan lain sebagainya.
Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan karakter di madrasah sangat penting bagi peserta didik maupun guru dan warga madrasah
171
yang ada di dalamnya. Bahwa dalam menjadikan peserta didik yang unggul dan berkarakter tidaklah mudah, banyak sekali upaya yang harus dilakukan. Semua komponen harus terlibat di dalamnya. Bahkan orang tua dan lingkungan juga dapat mempengaruhi karakter siswa. Oleh karena itu, semua komponen harus memiliki satu tujuan yang sama agar pembentukan karakter pada anak dapat dilaksanakan dengan maksimal.
Selaras dengan pembahasan hal ini, adapun dalam kerangka acuan pendidikan karakter Kemendiknas dipaparkan ada beberapa prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter untuk mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai milik peserta didik dan bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Berikut prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter:117
Pertama, berkelanjutan. Mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai karakter merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari satuan pendidikan.
Kedua, melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya satuan pendidikan. Mensyaratkan bahwa proses pengembangan karakter dilakukan melalui setiap mata pelajaran, dan dalam setiap kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler dan kokurikuler. Pengembangan nilai-nilai tersebut melalui
172
keempat jalur pengembangan karakter melalui berbagai mata pelajaran yang telah ditetapkan dalam standar isi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 5.1 Jalur Pengembangan Pendidikan Karakter di Sekolah
Ketiga, nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan melalui proses belajar. Mengandung makna bahwa materi nilai-nilai karakter bukanlah bahan ajar biasa. Tidak semata-mata dapat ditangkap sendiri atau diajarkan, tetapi lebih jauh diinternalisasikan melalui proses belajar. Konsekuensi dari prinsip ini bahwa nilai-nilai karakter tidak ditanyakan dalam ulangan ataupun ujian. Walaupun demikian, peserta didik perlu mengetahui pengertian dari suatu nilai yang sedang mereka tumbuhkan pada diri peserta didik. peserta didik tidak boleh tidak tahu dan tidak paham makna nilai tersebut.
Keempat, proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan karakter dilakukan oleh peserta didik bukan oleh pendidik. Pendidik menerapkan prinsip “tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukkan peserta didik.
Kegiatan Keseharian di Rumah Kegiatan Ekstra kurikuler Budaya Sekolah KBM di Kelas
173
Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses pendidikan dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang dan tidak indoktrinatif.
Maka hal ini berarti peserta didik diawali dengan perkenalan terhadap pengertian nilai yang dikembangkan, setelah itu guru menuntun peserta didik agar aktif. Hal ini dilakukan tanpa guru mengatakan kepada peserta didik bahwa mereka harus aktif, tapi guru merencanakan kegiatan belajar yang menyebabkan peserta didik aktif merumuskan pertanyaan, mencari sumber informasi, dan mengumpulkan informasi dari sumber, mengolah informasi yang sudah dimiliki, merekonstruksi data/ fakta/ nilai, menyajikan hasil rekonstruksi/ proses pengembangan nilai, menumbuhkan nilai-nilai budaya dan karakter pada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang terjadi di kelas, sekolah, dan tugas-tugas di luar sekolah agar penerapan pendidikan karakter berhasil dilakukan dengan baik.
C. Faktor pendukung dan Penghambat Penerapan Pendidikan Karakter dalam